Iris viridian-nya bertemu dengan iris onyx milik pemuda itu. Saling memandang satu sama lain. Tanpa mengetahui bahwa takdir telah bergeser.
.
Reverse Moon
SasuSaku Fic
Disclaimer : Naruto © by Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Supernatural, Hurt/Comfort
Warning : AU, Typo -.- (always), GaJe, ide pasaran, OOC (maybe)
.
Don't like, don't read
.
.
Enjoy Reading :D
Chapter 3 : Janji
Kembali ke beberapa jam sebelum pertemuan Sakura dengan Sasuke...
Sasuke POV
Aku tidak tahu jika kabar yang sedang beredar itu benar adanya. Aku pikir hal semacam itu tak pernah eksis di dunia ini.
Sepanjang hidupku, fenomena ini sangat jarang ada bahkan jika fenomena tersebeut ada, hal itu terjadi beberapa abad yang lalu, ketika leluhurku hidup dan memerintah dunia. Sebelum aku eksis di dunia ini.
Jika boleh jujur, aku cukup terkejut dengan informasi yang didapatkan oleh Hinata. Informasi gadis itu tidak mungkin salah, ia selalu mendapatkan informasi itu dari sumber terpercaya. Selain itu, kemampuannya untuk mengetahui mana yang benar dan yang salah, tak dapat diragukan lagi.
Namun, kali ini aku mau tidak mau harus percaya dengan semua ini. Fenomena ini tak boleh aku sia-siakan saja. Aku harus mampu mendapatkannya. Karena hanya dengan cara ini, aku mampu mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi hakku sejak awal.
Aku harus mendapatkannya. Bagaimanapun caranya.
Normal POV
Sebuah sinar membutakan mata pemuda itu sesaat, ketika ia memasuki sebuah gerbang kecil yang menghubungkan antara dunianya dengan dunia manusia. Dengan mantap, ia melangkahkan kaki jenjangnya ke dalam gerbang tersebut.
Seluruh tubuh Sasuke terselimuti sinar membutakan tersebut. Sesaat setelah Sasuke melangkahkan kakinya ke dalam gerbang tersebut, secara samar-samar ia mampu melihat siluet sebuah kota terbentang di hadapannya. Secara perlahan sinar membutakan tersebut menghilang.
Di hadapannya telah terbentang pemandangan sebuah kota besar yang berisikan ribuan nyawa manusia. Ia dapat melihat ramainya jalanan yang dilalui oleh para penduduk kota yang sedang melakukan aktivitas mereka.
Tanpa basa-basi, ia segera menyusuri jalanan kota tersebut. Sasuke melangkahkan kakinya tanpa arah. Hanya menggunakan instingnya saja, untuk menemukan hal yang ia ingin lihat. Satu persatu jalanan ia susuri.
Hingga ia merasakan sebuah aura gelap sedang mendekat ke wilayah tersebut. "Aura ini..." Dengan sigap ia melompat ke atas salah satu rumah penduduk dan melihat ke sekeliling dari atas.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia menangkap sebuah titik hitam bergerak menuju arah sebuah jalanan kecil di dekat jembatan. Sasuke dengan cekatan melompat dari satu atap rumah ke atap rumah lainnya. Melompat menuju arah titik hitam tersebut muncul.
Semakin mendekati titik hitam, semakin terasa aura gelap menguat. Dan ia menangkap beberapa bayangan gelap yang berkumpul menjadi titik hitam yang juga bermunculan di sekitar titik itu.
"Sepertinya, memang ada di sini," gumamnya. Ia melontarkan tubuhnya menuju atap bangunan lain, saat ia menangkap dua sosok manusia yang sedang berdiri di hadapan seekor makhluk raksasa. Salah satunya menunjukkan mimik wajah keterkejutan.
Terdengar suara raungan keras yang berasal dari makhluk raksasa itu. "RAWWR!"
"Sepertinya, kau benar-benar kelaparan, heh?" gumamnya. Ia melangkahkan kakinya kembali menuju atap rumah lainnya. Tanpa mengurangi kecepatannya, ia mengamati keadaan yang ada di hadapannya. Tanpa ia sadari kumpulan aura gelap itu semakin menyebar besar. Dan anehnya tak ada manusia yang merasakan hal itu. Keadaan para manusia yang berada tak jauh dari kumpulan aura tersebut tetap melakukan aktivitasnya secara normal.
Aura negatif itu makin menguat, geraman serta hentakan makhluk itu terasa hingga tempat Sasuke berdiri. Walaupun saat ini matahari tengah menerangi kota ini, namun hal itu tak menghalangi gerakan makhluk itu.
Hanya menyisakan beberapa langkah lagi, ia akan sampai pada tempat makhluk itu. Sesaat ia hendak melompat, ia mendapati sebuah teriakan seorang gadis.
"INO!"
Mendengar teriakan itu, ia segera mempercepat langkahnya, dan yang didapati di hadapannya adalah seorang gadis berambut soft pink berusaha mengangkat tubuhnya dari atas tanah, saat ia berada tepat di atas jalanan sempit itu.
Di sisi lain, makhluk raksasa tersebut semakin mendekat menuju gadis berkimono kuning pucat itu. Gadis itu dengan susah payah mengangkat kedua kakinya, agar ia dapat melarikan diri. Namun, bercak darah menunjukkan bahwa ia tak akan mampu melangkahkan kakinya terlalu jauh.
Sasuke hanya melihat pemandangan itu dari atas. Tak ada minat sama sekali untuk membantu. Mereka hanyalah manusia lemah, tak ada gunanya aku membantu mereka, gumamnya dalam hati. Pada awalnya, ia hanya penasaran dengan titik hitam yang muncul di tengah perkotaan. Namun, sama sekali tak terbersit di benaknya untuk menolong manusia.
Sesaat ia akan pergi dari tempat itu, sebuah suara terdengar jelas di indra pendengarannya. Kumohon, Kami-sama. Bantu aku.
Dua buah kalimat itu mampu menghentikan niat pemuda berambut gelap itu seketika. Ia merasa seakan kalimat itu menarik dirinya untuk tak bergeming dari tempatnya. Namun, ia masih belum mengetahui asal dari asal suara itu.
Sayup-sayup ia masih mampu mendengarkan kalimat itu di telinganya. Suara itu seakan menyuruhnya untuk melakukan sesuatu hal. Suatu hal yang tak akan pernah ia kehendaki. Yang secara tidak ia sadari, ia lakukan saat ini.
Seakan terhipnotis oleh suara itu, Sasuke membalikkan tubuhnya menuju arah jalanan kecil itu kembali. Ditengokkannya kepalanhya ke arah bawah. Dari atas ia dapat melihat makhluk tersebut akan mengibaskan cakar-cakar besarnya pada sosok gadis yang berada di bawahnya.
Dengan sebuah gerakan cepat, ia menjatuhkan dirinya di atas tanah. Ia memosisikan dirinya di belakang punggung makhluk itu. Diangkatnya salah satu tangannya yang bebas, mengarahkan telapak tangannya menuju arah mangsa di hadapannya. Hanya sebuah kata yang ia ucapkan, mampu menghancurkan tubuh makhluk raksasa itu.
"Musnah."
Bersamaan dengan satu kata itu, terjadilah sebuah ledakan besar. Tubuh makhluk raksasa itu hancur tak berbentuk. Secara perlahan, potongan-potongan tubuh itu berubah menjadi tumpukan abu. Abu-abu itu pun menghilang secara pelan, tertiup angin.
Dari balik abu-abu itulah, pemuda itu mampu melihat gadis berambut soft pink yang menatapnya dengan tatapan terkejut. Kedua iris hijaunya menatap langsung ke dalam iris gelapnya. Ia hanya berdiri mematung, karena dari dalam dasar hati kecilnya terdengar sebuah suara. Suara yang membuatnya sadar akan hal yang ia lakukan.
"Suara gadis itu. Ternyata suaranya yang membuatku melakukan hal ini," gumamnya. Ia baru saja menyadari bahwa suara gadis di hadapannya itulah yang membuatnya membunuh makhluk raksasa itu, yang tak lain adalah kaumnya sendiri.
Sekejap, ia dapat melihat gadis bersurai pink itu berjalan menjauhi dirinya, ia berusaha mendekat ke arah kawannya yang tergeletak tak berdaya di tanah. Sesekali ia dapat melihat gadis itu mencuri pandang ke arah dirinya berdiri.
Dan tanpa seizin dirinya, kedua kakinya bergerak, berjalan mendekati gadis itu.
Dari sudut ekor matanya, ia dapat menangkap beberapa siluet yang bergerak dengan cepat menuju tempat gadis itu dan temannya tersebut.
Menyadari kondisi itu, ia menghentikan ayunan kakinya. Sekarang di hadapannya terdapat tiga sosok pria yang berdiri dengan sikap protektif. Seakan menghalangi Sasuke untuk mendekat lebih jauh. Menghalangi? Seakan mereka melindungi sesuatu yang berharga.
"Siapa kau? Apa tujuanmu?" tanya salah satu pria bermasker yang berdiri paling depan. Pandangan matanya menunjukkan kecurigaan yang amat sangat.
Mendengar pertanyaan itu, Sasuke menyunggingkan senyum tipis di wajahnya. Ia berkacak pinggang. "Kurasa tanpa bertanyapun kau sudah tahu siapa aku, bukan?" Ia mengedikkan kepalanya arogan.
Pria bermasker itu hanya memicingkan matanya. Tak suka dengan jawaban lawan bicaranya.
"Hanya berjalan-jalan." Sasuke menjawab sekenanya. "Dan juga meninjau apakah 'ia' sudah siap atau belum." Terdengar suatu penekanan pada jawabannya.
Tanpa sadar, Sakura memutarkan kepalanya ke arah Sasuke. Kedua bola matanya membelalak kaget setelah ia mendengarkan perkataan pemuda yang telah menolongnya tadi. Apa yang ia ketahui? Dan siapa dia sebenarnya? pertanyaan itu terngiang di otaknya. Sedangkan pemuda itu memicingkan matanya, seakan mengejek.
Geraman terdengar jelas di indra pendengaran Sakura. Pria yang sekarang berdiri memunggunginya, terlihat kesal. Sepertinya tak begitu suka dengan perkataan 'penolong'nya.
Sasuke mendecih kesal. "Karena sepertinya ada yang keberatan dengan kehadiranku kali ini, lebih baik aku pergi dari sini." Ia membalikkan badannya, memunggungi ketiga orang yang sekarang bersikap defensif. "Selain itu, aku mendapatkan sebuah kepastian yang bagus," tambahnya. Ia menyunggingkan sebuah senyuman misterius.
Dengan sengaja, ia menatap lurus ke arah pandangan Sakura. Kedua iris berbeda warna itupun saling bertemu pandang. "Tunggulah hingga waktu yang tepat, Koi."
Perkataan itu membuat Sakura membelalakkan matanya lebar sekaligus sukses membuat wajahnya merona.
'Koi? Eh? Apa yang barusan ia katakan? Kenapa tiba-tiba ia mengatakan hal itu?' pikiran itu menguasai otaknya sejenak. Raut wajahnya terlihat bingung.
"Apa-apaan yang kau katakan, jerk? Kau jangan macam-macam dengan Hime-sama. Berani-beraninya kau berkata seperti itu!" Salah satu pemuda berambut hitam dengan coreng segitiga merah di pipinya terlihat tak terima. Deretan gigi putihnya terlihat jelas, ia menggeram keras.
Sasuke memiringkan kepalanya dan memicingkan sebelah matanya. Ditatapnya ketiga sosok pria yang berdiri di depan Sakura yang terduduk dengan wajah menunduk.
"Terserah apapun yang kau katakan. Yang pasti kedatanganku kali ini hanya meninjau saja. Tak ada maksud lain, jadi jangan khawatirkan hal lainnya," ucapnya seraya membalikkan badan. "Kali ini hanya sebagai perkenalan saja." Dengan santainya ia berjalan menjauh. "Tunggu saja kedatanganku." Ia melambaikan sebelah tangannya ke atas, tanpa menoleh ke belakang lagi.
"Tunggu—"
Sebuah tepukan mendarat halus di bahu Kiba—pemuda yang sedari tadi menahan emosinya akibat perkataan tak sopan Sasuke—mencegahnya untuk bertindak lebih jauh. "Hentikan, Kiba. Biarkan saja. Yang terpenting saat ini keselamatan Hime-sama."
Kiba mengarahkan kepalanya menuju asal suara yang mencegahnya mengejar pemuda itu. Ditatapnya iris kelabu sang pemilik suara, lalu ia membuang pandangannya. "Cih." Dari tempat itu sudah tak tampang sosok pemuda itu lagi.
Kakashi mendesah pelan. Ia berjalan menghampiri Sakura yang terduduk dengan memegangi bungkusan dan kakinya yang terluka.
"Anda tak apa-apa, Hime-sama?" tanya Kakashi. Sakura mendongakkan kepalanya dan tersenyum kecil. Ia mengangguk pelan.
"Aku tak apa-apa, Kakashi-san. Hanya luka di bagian kaki saja, jangan khawatir, nanti akan aku obati sendiri, yang lebih mengkhawatirkan adalah—" ia mengarahkan pandangannya ke arah Ino yang tak sadarkan diri.
Kakashi mengulurkan sebelah tangannya ke arah Sakura. Sakura menyambut uluran tersebut, membantunya bangkit berdiri. "Lebih baik kita segera kembali ke kediaman, Hime-sama. Sebelum Orochi-sama dan Tsunade-sama khawatir."
Sakura mengangguk. Sebelum ia menyadarinya, ia telah berada dalam dekapan Kakashi. Dalam sekali gerakan, Kakashi menggendong Sakura dengan bridal style. Sakura pasrah dengan tindakan Kakashi, karena ia tahu bahwa ia tak mungkin kuat untuk berjalan pulang.
Dalam dekapan Kakashi, sesekali ia melirik ke belakang, melewati bahu Kakashi, melihat kondisi Ino yang masih tak sadarkan diri. Ino sendiri dibawa oleh Shikamaru seorang diri. Shikamaru mendapati beberapa kali tatapan khawatir di mata Sakura.
"Jangan khawatir, Sakura-sama. Ino pasti baik-baik saja," ucapnya dengan pelan.
Sakura menatapnya tertegun. "Eh? Ah, i-iya, tentu saja," balasnya. Ia mengulas senyum kecil di wajahnya.
Tak memakan waktu lama perjalanan kembali ke kediaman Sakura, jika melihat dari kecepatan mereka berjalan.
Sekumpulan orang yang melihat kehadiran mereka sesaat menginjak halaman utama, terkejut dengan apa yang mereka lihat. Kondisi Sakura yang digendong oleh Kakashi, dan juga Ino yang tak sadarkan diri, membuat panik. Bertanya apa yang terjadi, apa Sakura baik-baik saja dan sebagainya. Hingga Tsunade dan Orochimaru turun tangan untuk melihat sendiri kondisi Sakura. Sedangkan Sakura hanya tersenyum simpul dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki terdengar menggema di sepanjang lorong penghubung dua menara di mansion itu. Suara gemerisik ataupun gumaman tak jelas juga terdengar dalam lorong itu. Namun, sosok yang berjalan menyusuri lorong tak menghiraukan hal-hal di sekitarnya. Tatapannya terfokus pada satu tujuan, ia hanya ingin kembali ke dalam ruangannya saja. Hanya itu.
Di persimpangan jalan, langkah kakinya dihentikan oleh sebuah suara yang memanggil namanya.
"Jadi, apa saja yang kau lakukan di dunia manusia, Sasuke-sama?" terdengar sebuah penekanan pada akhir pertanyaan itu.
Sasuke berhenti dan mengarahkan kepalanya kepada sosok yang berdiri bersandar di pinggiran persimpangan lorong. Sasuke menatap sosok itu dengan dingin. "Itu bukan urusanmu," jawabnya dengan singkat.
"Benarkah?" Sosok itu perlahan mendekat ke arah Sasuke. Di bawah sinar lilin, terlihat dengan jelas, wajahnya yang tersenyum dengan licik ke arah Sasuke. "Kurasa semua yang kau lakukan harus kaulaporkan padaku, bukan? Sasuke-sama..."
Sasuke tak menunjukkan ketertarikan untuk menjawab pertanyaan itu. Wajahnya terlihat datar, tatapannya juga dingin. Ia benci dengan keadaannya saat ini.
"Bukan urusanmu." Tanpa melihat ke arah si penanya, ia berjalan kembali. Namun, rupanya sang penanya masih bersikukuh untuk mengikuti Sasuke.
"Oh, ayolah, Sasuke-sama. Kurasa bantulah meringankan sedikit tugasku kali ini. Kalau tidak aku nanti—"
BRAK.
Gebrakan tangan Sasuke di dinding menghentikan langkah dan ocehan pemuda yang mengikuti dirinya. Kedua iris hijaunya membelalak terkejut.
"Sudah aku bilang, itu bukan urusanmu, Deidara. Lebih baik kau tak mencampuri urusanku lagi." Sasuke menggeser kepalanya menghadap lawan bicaranya. Tatapannya sangatlah dingin. Aura membunuh terasa dari setiap inci tubuh Sasuke. Ia membenci orang yang suka mencampuri urusannya.
Melihat tatapan mematikan sang Uchiha, Deidara hanya tersenyum miring. Ia menutup kedua matanya, mengangkat kedua tangannya ke arah depan. "Wakatta. Wakatta, Sasuke. Jangan menatapku seperti itu, dan juga santaikan sedikit dirimu. Aku masih menyayangi nyawaku," kilahnya.
Deidara mengambil beberapa langkah ke belakang. "Baiklah, kalau kau memang tak mau menceritakannya juga tak masalah. Aku akan membuat laporan seperti biasanya saja. Okay?" Ia tersenyum tipis.
Tatapan Sasuke sedikit melembut mendengar perkataan pemuda berambut pirang panjang itu. "Terserah saja," balasnya singkat. Ia memasukkan kembali tangannya ke dalam saku celananya.
Deidara membalikkan tubuhnya dan berjalan berlawanan arah dengan Sasuke, menuju tempat awalnya ia bertemu dengan Sasuke. "Tapi ingat saja," sebuah kalimat meluncur dengan pelan dari bibirnya, "kau masih berada di bawah pengawasanku, Sasuke. Karena ini adalah permintaannya."
Mendengar perkataan Deidara, tubuh Sasuke menegang. Kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celana, terasa kebas. Pikirannya kembali melayang menuju kondisinya saat ini.
Ia benar-benar membenci kondisinya saat ini. Kondisi yang menyebabkan ia terlihat lemah di hadapan orang lain. Egonya terlalu sulit untuk menerima hal itu.
"Cih!" gumamnya pelan, sebelum akhirnya ia melanjutkan kembali perjalanannya menuju ruangan pribadinya.
Sakura duduk termenung di atas futon-nya. Sesekali ia mengusap-usap kedua lututnya yang terluka. Pikirannya menerawang kembali ke kejadian yang ia alami tadi siang.
"Tunggulah hingga waktu yang tepat, Koi."
Rona merah muda terlihat jelas menghiasi kedua pipinya. Wajahnya terasa panas ketika mengingat-ingat kalimat itu.
Tidak, tidak. Apa yang kau pikirkan, Baka-Sakura? runtuknya dalam hati. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, berusaha menghapus pikiran aneh yang terngiang di dalam otaknya saat ini. Ia menepuk-nepuk kedua pipinya yang merona tanpa seizin dirinya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" sebuah suara menghentikan gerakan tangan Sakura sejenak. Bagai robot, ia memutar kepalanya menuju asal suara tersebut. Di dekat shōji ruangannya, berdiri sesosok pemuda yang bersedekap dengan tatapan bertanya di kedua matanya.
Sakura tersenyum kecil. "Hehe. T-tidak sedang apa-apa kok, Nii-sama," jawabnya dengan tergagap. Ia menurunkan kedua tangannya yang berada di Ia menurunkan kedua tangannya yang terdiam sejenak tadi. Gaara menatap heran tingkah Imouto-nya itu.
Sakura mebenahi posisi dirinya, duduk dengan manis di atas futon-nya. Aniki-nya duduk di sampingnya, dekat dengan pintu shoji ruangannya.
"Bagaimana keadaanmu?"
Sakura mengarahkan kepalanya menuju Gaara. Ia tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja, Nii-sama. Keadaanku masih seratus persen sehat-sehat saja," ucapnya seraya mengusap pelan lututnya, "luka ini hanya luka kecil saja, nanti juga sembuh sendiri. Jangan terlalu dikhawatirkan, Nii-sama."
Sakura menyentuh lembut tangan Gaara yang tersampir di sampingnya, lalu ia tersenyum kembali. Memberikan ketenangan kepada Gaara.
Mau tidak mau, Gaara ikut tersenyum. Senyuman Sakura terkadang mampu mempengaruhinya untuk melakukan hal yang jarang ia lakukan, seperti halnya sebuah senyuman tipis yang etrukir di wajahnya saat ini.
"Jadi," tanya Sakura secara tiba-tiba, "ada apa Nii-sama mendatangiku malam-malam begini?" Ia menelengkan kepalanya sedikit, memperlihatkan tatapan bertanya pada Gaara.
"Hanya untuk mengecek keadaanmu saja," jawab Gaara singkat.
"Begitukah? Hanya itu?" tanya Sakura sekali lagi, seakan ia tak puas dengan jawaban pemuda di sampingnya tersebut.
"Tentu saja, Imouto-ku yang paling cerewet." Gaara mencubit pelan kedua pipi Sakura dengan kedua tangannya. "Apa aku terlihat berbohong padamu?" Ia memain-mainkan pipi Sakura.
"H-hahit, Hii-hama!" sebuah teriakan kecil tak jelas meluncur dari mulut Sakura. ia berusaha melepaskan kedua tangan Aniki-nya dari kedua pipinya yang mulus itu. Namun sepertinya Gaara juga tak mau kalah dengan Sakura, ia masih bersikukuh untuk memainkan kedua gumpalan kenyal di tangannya itu.
"Hahit!" teriak Sakura dengan cukup lantang seraya mencubit keras lengan Gaara.
Merasakan sengatan di lengannya, Gaara secara otomatis melepaskan kedua 'korban'nya dari cengkeramannya. "Auw." Ia mengusap pelan lengannya yang tersakiti oleh Sakura.
Sedangkan Sakura mengusap-usap kedua 'korban' kejahilan Gaara dengan pelan, merasa prihatin dengan kondisi kedua pipinya yang sekarang memerah akibat cubitan Gaara. "Sakit..." gumamnya.
"Sama denganku." Gaara mengelus pelan lengannya.
Sakura menoleh cepat ke arah Gaara, ia menyipitkan matanya. "Lihat saja pembalasanku nanti, Nii-sama," ucapnya.
Melihat tingkah sang adik, Gaara mengulum senyum tipis. Imouto-ku ternyata masih kecil, gumamnya.
"Apa—" perkataan Sakura memancing perhatian Gaara kembali, ia menatap ke arah saudara kecilnya, "apa keadaan Ino baik-baik saja?" tanyanya.
"Hn. Dia baik-baik saja. Luka seperti itu tak akan membunuhnya," jawab pemuda berambut merah itu.
Sakura menghela napas pendek. "Ya, tentu saja, ia tak akan mudah terbunuh dengan luka semacam itu," ucapnya, "tak akan membunuhnya."
Raut wajah Sakura tak bisa menyembunyikan rasa khawatir juga sesalnya. Ia berulang kali merutuki dirinya sendiri karena tidak mampu membantu Ino. Ia hanya mampu berteriak, berlari, tanpa memberi bantuan pada Ino saat melawan makhluk itu.
Jika saja... Jika saja tadi aku—
Sebuah tepukan pelan mendarat di puncak surai indahnya, membuyarkan konsentrasinya. Ia menatap tangan yang sekarang berada di kepalanya, lalu melihat ke arah pemuda di sampingnya. Senyuman terlihat jelas terukir di wajah Gaara.
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Percayalah. Dan juga—" Gaara mengelus puncak kepala Sakura dengan perlahan, "kejadian tadi siang bukan salahmu juga, itu hanya kecelakaan. Jangan salahkan dirimu terus menerus. Wajahmu tak cocok jika terlihat cemberut seperti itu." Untuk terakhir kalinya, ia mencubit pipi kiri Sakura.
Mendengar perkataan Aniki-nya, Sakura merasakan setitik perasaan lega, walau masih belum mampu menghilangkan rasa sesalnya. Setidaknya mampu membuatnya merasakan sebuah kelegaan.
Sakura menganggukkan kepalanya pelan. "Ehm. Arigatou nee, Nii-sama." Ia tersenyum lebar.
Gaara hanya menatap Sakura dengan tatapan sendu. "Itu lebih baik untukmu."
Memang Sakura lebih cocok untuk tersenyum, senyum yang mampu melelehkan hati yang beku, selayaknya bunga sakura yang bermekaran di musim semi. Itu yang dipercayai oleh Gaara hingga kini.
.
.
"Ungh—"
Sebuah suara erangan terdengar meluncur dari bibir seorang gadis yang tengah berbaring di dalam futon-nya. Ia menarik naik selimut, untuk menutupi dirinya dari paparan sinar matahari yang masuk menembus pintu ruangannya.
Tak lama setelahnya, terdengar derap langkah seseorang yang berjalan menuju ruangan itu. Langkah itu berhenti tepat di depan shōji ruangan tersebut.
"Sakura-sama. Hari telah pagi, Anda harus bangun. Sarapan juga telah siap, Sakura-sama," ucap sosok di balik shoji.
Sakura yang mendengar hal itu hanya bergelung di dalam futon-nya. Ia tidak mau bangun, ia hanya ingin berbaring saja di dalam futon-nya yang nyaman selama beberapa saat lagi.
"Sakura-sama..." ulangnya lagi.
"Tinggalkan aku sendiri, Taneru. Aku akan bersiap nanti." Sakura membalas panggilan pelayannya dengan cukup kesal.
Terdengar keheningan cukup lama.
"Baiklah, Sakura-sama. Hamba mohon diri dahulu," ucap Taneru, lalu ia berjalan meninggalkan ruangan Sakura.
Dan sekarang Sakura melanjutkan aktivitasnya kembali. Walau hanya untuk waktu yang singkat.
Setelah sekitar dua jam ia terlelap lagi, akhirnya gadis berambut pink itu memilih untuk bangun. Tubuhnya menjerit kesakitan, hanya karena ia terlambat bangun dari rutinitasnya sehari-hari.
"Ungh— sakit," ucapnya. Ia memegangi pinggangnya yang terasa ngilu.
"Siapa yang menyuruhmu untuk terlambat bangun lebih dari dua jam, eh?" sebuah suara bernada tinggi tertangkap indra pendengaran Sakura.
Ia melihat ke arah asal suara itu. Di pojokan ruangannya, terlihat sosok seorang gadis berambut blonde duduk dengan tangan dan kaki terlipat ke depan. Matanya menunjukkan kejahilan. Ia memiringkan kepalanya saat Sakura menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Kenapa?" tanyanya. Ia melihat ke arah tubuhnya sendiri lalu kembali ke arah Sakura yang masih menatapnya dengan tatapan antara bingung, kaget, atau lega.
Sakura sendiri menatap sosok yang duduk di hadapannya dari atas kepalanya hingga bawah. Berulang kali. Seperti tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
"Apa kau pikir aku ini hantu?" tanya gadis itu, terusik dengan pandangan Sakura.
Sakura secara reflek menggelengkan kepalanya. "Tidak," balasnya pelan.
"Lalu?"
"Hanya lega saja, kalau kondisimu baik-baik saja, Ino." Ia tersenyum tipis.
Ino menghela napas kecil. "Kau itu. Memang kau pikir aku akan mati dengan mudah hanya karena luka semacam itu?"
Sakura menggeleng pelan. "Hanya—" ia mengusap pelan kedua lengannya, "khawatir saja. Aku hanya mengkhawatirkan sahabatku."
Ino membelalakkan matanya sejenak, mendengarkan Sakura menyebutnya 'sahabat' setelah selama ini kata-kata itu tak pernah ia dengar lagi. "Eh?"
"Kenapa?" tanya Sakura dengan tatapan heran.
Ino menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak-tidak. Tidak ada apa-apa." Ia bangkit berdiri dari posisi duduknya. "Kurasa saatnya kau bangun sekarang, Sakura. Orang tuamu ingin bertemu denganmu," ucapnya.
Sakura mendesah mendengar perkataan gadis berekor kuda yang sekarang berada di depan ruangannya. "Mereka akan melakukan hal itu lagi," gumamnya.
Ino mengangguk. "Sepertinya begitu. Mereka tak ingin hal buruk menimpamu, Sakura."
Dengan malas, Sakura memaksakan kedua kakinya untuk berdiri. Namun, luka yang ia derita akibat kejadian kemarin, membuatnya kehilangan keseimbangan. Dalam sekejap, ia limbung dan beruntungnya Ino memegangi salah satu tangan Sakura, menjaga keseimbangannya kembali. "Hati-hati."
"Ehm. Arigatou, Ino." Ia membenahi futon-nya, lalu bergerak ke arah pintu geser di dalam ruangannya. Ia hendak bersiap sebelum bertemu dengan kedua orang tuanya.
Setelah ia siap, ia keluar dari ruangannya, dan berjalan menuju kediaman utama diiringi oleh Ino yang mengikutinya di belakang.
"Kau tahu, Ino. Aku sungguh lega kau baik-baik saja," ujar Sakura.
"Tentu. Tentu," balas Ino sedapatnya.
"Gomennasai." Secara tiba-tiba kata-kata itu meluncur dari bibir Sakura.
Ino tersenyum kecil. "Jangan khawatir, Sakura. Itu bukan hal yang besar. Lagipula itu juga kecerobohanku, bukan salahmu." Ia menepuk pelan punggung Sakura.
Merasakan sebuah tepukan, Sakura secara otomatis tersenyum. "Ehm."
Setelah berjalan selama beberapa saat, Sakura berada di depan ruangan utama di kediaman utama. Dengan perlahan, ia menggeser shōji di hadapannya. Dilihatnya kedua orang tuanya duduk, terlihat telah menunggu kehadiran Sakura.
Sakura membungkukkan badannya sedikit. "Ohayou gozaimasu, Tou-sama, Kaa-sama," ucapnya. Lalu ia berjalan ke tengah ruangan, menuju bantal dudukan yang telah disediakan.
Ino juga melakukan hal yang sama, ia membungkukkan badannya kecil, lalu berjalan di belakang Sakura, menuju arah bantal dudukan yang ada di pojok ruangan.
"Maafkan keterlambatan Sakura menghadap Tou-sama dan Kaa-sama." Sakura membungkukkan badannya dalam. Terlihat dari sudut matanya, di dalam ruangan itu tak hanya ada kedua orang tuanya saja yang menunggu, namun juga ada beberapa orang lain, di antaranya Kakashi, pria bermasker yang duduk di seberangnya, dan seorang wanita berambut pendek yang duduk di samping Kakashi.
Sakura meluruskan kembali arah pandangnya menuju kedua sosok yang berada di hadapannya. Dilihatnya wanita yang dipanggilnya Kaa-sama terlihat gelisah, ia beberapa kali terlihat melirik ke arah pria di sampingnya.
"Tidak masalah, Sakura," ucap Orochimaru. Ia berdeham kecil. "Lagipula kau baru saja mengalami kejadian itu kemarin, Tou-sama rasa kau masih merasa lelah. Jadi bukan masalah yang besar, Sakura." Ia mengangkat kepalanya, dan menatap Sakura dengan intens.
Sakura terkesiap dengan pandangan sang ayah. Ia menelan napasnya dengan berat. "H-hai', Tou-sama."
"Melihat kejadian kemarin, kami memutuskan untuk tidak membiarkan kau keluar ke kota lagi. Tanpa adanya pengawalan ataupun perlindungan." Tanpa basa-basi Orochimaru mengatakan tujuannya secara langsung.
Sakura mengangguk kecil. Ia mengetahui posisinya sekarang, tak akan ada jalan kembali lagi. Tak akan ada kesepakatan untuk meminta Tou-sama-nya menarik perkataannya. Terlalu terlambat untuk menarik perkataan itu.
Bagaikan harga mati, Sakura hanya mampu menuruti perintah dari sang ayah. Ia menunduk lesu. Ino yang berada tak jauh dari tempatnya duduk, hanya mampu menatap Sakura bersimpati. Ia tahu kondisi ini amat sangat tidak menyenangkan, tapi apa boleh buat ini semua demi kebaikan Sakura.
"Ino." Sebuah suara memecah pikiran Ino sekejap.
"H-hai', Taichou?" balasnya. Ia mengarahkan pandangannya menuju pria bermasker yang duduk di seberangnya.
Kakashi melipat kedua tangannya ke dadanya. "Setelah ini pastikan Hime-sama selalu menggunakan talismannya, dan juga kekkai yang berada di sekitar Hime-sama cukup kuat."
"Wakarimashita, Taichou," ucap Ino. Ia membungkukkan badannya sedikit.
Sakura mendengarkan pembicaraan Ino dengan Kakashi secara seksama. Sesuai dengan dugaannya, keadaannya akan semakin sulit saat ini.
"Dengar." Suara Orochimaru memecah konsentrasi Sakura. Sakura kembali melihat ke arah pria separuh baya di hadapannya.
"Dengar, Sakura. Kami tahu, mungkin bagimu kondisi ini amat sangat tak menyenangkan, namun ini adalah satu-satunya jalan agar kau selamat," jelas Orochimaru, "kau sendiri harus mengetahui posisi dirimu. Siapa kau dan apa tugasmu. Semua ini kami lakukan hanya untuk kebaikanmu sendiri."
"Ya, Tou-sama. Sakura mengerti." Jawaban Sakura terdengar pasrah. Ditundukkan lagi kepalanya, tak mau melihat ke arah kedua orang tuanya lagi.
Tsunade yang sedari tadi menahan diri, akhirnya dengan pelan ia bergeser ke arah Sakura duduk. Ia mengusap pelan puncak kepala putrinya. "Maafkan kami, Sakura. ini—"
"Tak apa-apa, Kaa-sama. Sakura mengerti, jangan khawatir seperti itu." Sakura mengulum senyum tipis. "Sakura mengetahui posisi Sakura saat ini, apalagi sejak mimpi aneh itu muncul." Terdengar helaan napas keluar dari bibir kecilnya. "Tapi Sakura hanya masih sulit menerimanya, kenapa hal ini harus secepat itu terjadi." Sakura terdiam sesaat, berkutat dengan pikirannya sendiri.
Tsunade menatap Sakura dengan iba, ia mengelus pelan puncak kepala putrinya. Naluri keibuannya menangkap perasaan Sakura dengan jelas. Ia seharusnya mampu membantu Sakura, walau sedikit juga tak masalah, namun ini adalah tugas yang harus ia emban. Ia tak dapat menolaknya.
"Sakura—"
Tanpa sepengetahuan Tsunade, Sakura menggenggam lengan Tsunade dengan lembut. "Jangan khawatir, Kaa-sama. Sakura akan baik-baik saja." Kali ini Sakura tersenyum dengan tulus.
"Baguslah kalau begitu." Ucapan Orochimaru menghentikan percakapan singkat antara ibu dan anak itu. "Tou-sama tahu kau akan mengerti dengan baik kondisi ini." Orochimaru tersenyum dengan puas. Dalam suaranya juga terdengar kelegaan.
Sakura mengangguk mantap. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, sehingga ia merubah cara berpikirnya dengan cepat. Ia memandang berputar ke sekelilingnya. Di dalam kedua iris viridian-nya, terlihat jelas kemantapan luar biasa. Ino sendiri terkejut dengan perubahan mood Sakura yang sangat cepat.
"Ya, Tou-sama. Sakura mengerti dengan baik. Karena Sakura harus menjalankan tugas ini dengan baik," ucap Sakura dengan mantap. Kilatan kepercayaan diri terpancar dari kedua matanya.
"Karena...," Sakura meneguk air liurnya, "karena Sakura adalah seorang miko. Miko yang memiliki tugas untuk menjaga keseimbangan kedua dunia. Dunia kita dengan dunia mereka."
Mendengar perkataan Sakura, Orochimaru tersenyum puas, sedangkan Tsunade memberikan senyuman menyemangati.
Sakura memandangi kedua orang tuanya dengan penuh percaya diri.
Karena hanya ini, hanya ini yang mampu kulakukan saat ini. Aku harus membuat diriku kuat. Kuat dan tegar, janjinya pada dirinya sendiri.
Berusaha untuk menghadapi jalinan takdir yang telah digariskan. Digariskan hanya untuknya. Untuk seorang Haruno Sakura.
.
.
To Be Continued
.
Author's Room :
Yo, minna.. Akhirnya Fai-chii balik lagi dengan chapter 3 ini. Gomen yang sebesar-besarnya ya " karena Fai-chii tidak bisa menepati janji untuk update kilat T.T
Banyak masalah yang terjadi selama penulisan chapter ini, sehingga baru hari ini bisa dipost u,u Maafin Fai-chii sekali lagi *bows*
Apa chapter ini memuaskan atau membosankan? Silakan dinilai di kotak review dan juga apakah teka-tekinya sudah terungkap? Ada sedikit hint bukan? :D
Oh iya, Fai-chii minta izin untuk tidak update kilat setelah ini, karena ada banyak tugas yang menunggu untuk dikerjakan, tapi akan Fai-chii usahain untuk update :D
Terima kasih banyak buat yang sudah menyempatkan waktu buat baca dan review. Dan juga untuk yang fave dan follow :D
Thanks to :
Fishy ELF, Yuna21, Tsurugi De Lelouch, karikazuka, Trancy Anafeloz, Ajisai Rie, Lucifionne, fuchaoife, Rei Jo, poetri-chan, sasusakuforeverever, akasuna no ei-chan, ArrumShafaMU
Fai-chii ga bisa balas review satu-satu hehe
Akhir kata,
Mind to RnR? :D
