Bleach © Tite Kubo

Sunset bukan milik Ota

Warmness On The Soul © Avenged Sevenfold

Taxi © TVXQ

My immortal © Evanescence

A Walk To Remember © Nicholas spark

White Flag © Mitsuki Ota

.

.

.

Warning : alur membingungkan, OOC, AU, typo (s), ide pasaran, etc.

Don't like. Don't read.

.

.

.

I give my heart to you,

I give my heart cause nothing can compare in this world to you

Rukia menatap sendu Ichigo. Ini kah Ichigo-nya? Ichigo yang dulu selalu mengatakan cinta padanya? Ini kah Ichigo yang dulu berjanji akan selalu mencintainya? Benarkah ini Ichigo, pikir Rukia. Rukia menggigit bibir bagian bawahnya. Ia ingin menangis. Membiarkan air mata menguasai dirinya. Menciptakan kesedihan yang teramat dalam untuknya. Melihat Ichigo dengan wanita lain mematahkan hati Rukia. Tak ada artinya kah dirinya untuk pria berkepala jeruk itu? Berulang kali ia seperti ini. Patah hati karena si jeruk itu. Berulang kali ia harus menahan tangisnya. Berulang kali ia harus menyabarkan dirinya. Dan ini kah balasan dari semua kesabaran yang ia berikan pada Ichigo, suaminya?

I love you to the extent that it hurts,

"Riruka akan tinggal di sini. Bersikaplah baik padanya," ucap Ichigo cuek lalu meninggalkan Rukia dan mengandeng mesra Riruka. Rukia ingin berteriak, dianggap apa dia ini? Andai Rukia berani melakukannya, ia pasti sudah melakukannya. Tapi, lagi-lagi atas nama cinta-nya yang tulus pada Ichigo ia tak berani berkata seperti itu. Ia tak mau kehilangan Ichigo sekali lagi seperti tempo dulu. Sudah cukup ia kehilangan seperti waktu itu. Saat ia bertengkar hebat dengan Ichigo karena Ichigo ketahuan selingkuh. Ichigo tak pernah pulang setelah itu, dan Rukia tak ingin Ichigo pergi. Ia tak mampu. Ia tak mampu kehilangan orang yang ia cintai, ayah dari janin yang ada dalam kandungannya.

But your unconditional love was always on my mind

Rukia tak bias menahan lebih dari ini. Ia seperti terusr dari rumahnya sendiri. Melihat Ichigo bercumbu mesra dengan Riruka di dapur membuatnya sadar, ini bukan tempatnya. Ia harus pergi. Tapi, sanggup kah dia?

I'll never fell alone again with you by my side

"Ohayou,"

"Ohayou," Rukia mengecup pipi Ichigo. Ia tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Ia kira, semua ini adalah mimpi, nyatanya tidak. Ini kenyataan. Berada sedekat in dengan Ichigo, membuat jantungnya seperti ingin melompat. Ia tak bisa mengendalikan dirinya lebih dari ini. Saat tubuh mereka menjadi satu. Rukia tak bisa menolaknya. Ia merasa semua ini benar untuknya, dan Ichigo.

And we have gone through good and bad times

"Gugurkan kandungnmu,"

"Kau gila, Ichigo?"

"Tidak. Aku tidak masih waras,"

"Kenapa?"

"Aku masih muda, Rukia."

"Tapi, bagaimana dengan anak kita?"

"Sudah ku bilang, gugurkan kandunganmu itu,"

"Ichigo!"

"Rukia?" Momo begitu kaget melihat Rukia yang tiba-tiba muncul di depan pintunya.

"Momo…" dan wanita mungil itu tak bisa menahan rasa sakit di dada-nya. Ia menghambur ke pelukan sang sahabat.

I want to embrace you,

I want to embrace you tightly

Mungkin penyesalan dalam diri Rukia hanyalah mengapa ia lemah terhadap cintanya untuk Ichigo. Meskipun berkali-kali ia tak pernah menganggap Rukia, Rukia selalu menerimanya. Ia selalu mengalah terhadap pria itu. Membiarkan Ichigo melakukakan semua hal yang ia inginkan, karena Rukia yakin suatu hari nanti Ichigo pasti akan sadar dan kembali ke dalam pelukannya. Karena hanya Rukia lah tempat ia pulang. Karena dalam pelukan istrinya lah Ichigo merasa benar-benar damai. Rukia selalu bermimpi ketika ia terbangun Ichigo memeluknya dengan erat, dan selalu mengucapkan salam penuh cinta untuknya. Meskipun itu tak pernah sekalipun terwujud, Rukia sama sekali tak pernah merasa kecewa, karena ia yakin mimpinya itu akan menjadi kenyataan suatu hari nanti. Ya, suatu hari nanti. Entah itu kapan.

I become so lonely , sitting alone in my room

Listening to the distance rain drops

Rukia masih ingat. Saat itu, pertama kali ia bertemu dengan Ichigo. Di bawah hujan mereka bertemu, dan akhirnya Rukia jatuh cinta untuk pertama kalinya pada pemuda berambut nyentrik yang membawakannya payung.

"Pakailah,"

"Terima kasih, umm…"

"Ichigo. Namakau Kurosaki Ichigo," dan Rukia tak bisa membohongi dirinya kalau ia benar-benar telah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Rukia tersenyum miris. Lewat jendela kamarnya ia bisa melihat dengan jelas sepasang kekasih yang tengah berjalan bersama. Mereka memakai payung agar tubuh mereka tak kebasahan. Dan jangan lupakan, mereka saling berpegangan tangan. Menciptakan momen keromantisan di antara mereka berdua. Diam-diam Rukia merasa iri pada pasangan tersebut. Mengapa ia tak bisa sebahagia itu? Seperti pasangan kekasih itu. Rukia tak ingin melihat pasangan itu lagi, itu membuatnya merasa patah hati. Dengan pelan, ia menutup jendela kamarnya dan membiarkan hujan di luar sana menari-nari, mambasahi permukaan bumi. Dan tanpa seorang pun mengetahuinya, Rukia menangis semalaman.

Memories always too sad

Bagi Rukia, kenangan bersama Ichigo adalah saat termanis yang pernahia alami selama ia berada di sisi Ichigo. Tak masalah pria itu tak pernah menganggapnya. Tak pernah memperdulikannya sekali pun, itu bukan masalah bagi Rukia. Baginya, bersama Ichigo itu sudah membuatnya bahagia. Tapi, ada saat bagian dari kenangan itu yang membuatnya merasa sedih. Saat dimana Ichigo menolak janin yang ada di rahimnya kala itu. Hati Rukia tercabik-tercabik. Bagaimana mungkin Ichigo tega melakukan itu padanya.

This pain is just too real

"Kenapa kau masih mempertahankan janin itu?"

"Aku ingin,"

"Tapi, aku tak ingin anak itu,"

"Ichigo!"

"Kalau kau masih ingin aku ada di sampingmu, gugurkan anak itu."

"Aku tidak akan pernah menggugurkannya,"

"Baiklah. Kita akhiri saja hubungan yang memuakkan ini."

Rukia's PoV

Mungkin kesalahanku adalah mencintaimu. Tapi, apa salahnya dengan kata cinta itu? Semua orang berhak mendapatkannya, termasuk diriku. Tak ada yang salah dengan cinta, begitu juga denganmu. Aku mencintaimu lebih dari kau mencintaiku. Tak apa. Aku bisa menerimanya, karena aku yakin cintamu bahkan jauh lebih besar dibandingkan cintaku padamu.

Pagi ini, aku melihatnya lagi. Kadang, aku lelah untuk berada terus di sampingmu. Aku lelah menunggumu untuk berubah. Tapi, demi anak kita, aku rela menunggumu. Sampai kapan pun itu. Jangan menganggapku bodoh karena ini, karena semua ini akibat dari ulahmu. Karena kau membuatku jatuh dan cinta kepadamu. Haruskah membuktikannya lebih dari ini? Aku tak yakin ku bisa, tapi akan aku coba.

Aku merindukanmu, Ichi. Aku merindukan sentuhanmu, kecupanmu, pelukanmu, semua yang ada pada dirimu. Berada di kamar yang gelap gulita seperti ini membuatku takut. Bukan karena ada hantu, monster atau apa pun itu. Aku takut aku tak bisa melihat wajahmu lagi, karena kau semakin sibuk dengan wanitamu.

The sun casts sad colors as it sinks into the ocean

Just let me stay here alone forever

"Aku tidak suka wanita jalang itu berada di sini,"

"Biarkan saja dia ada di sini, Riruka."

"Tapi, aku tidak suka."

"Dia tidak menganggumu kan?"

"Tetap saja aku tidak menyukainya. Kenapa kau tidak menyuruhnya pergi sih? Kau mencintainya?"

"Aku akan menyuruhnya pergi kalau dia sudah melahirkan anaknya,"

"Kau janji?"

"Ya."

Tanpa mereka ketahui, ada sosok wanita yang mendengar percakapan mereka dan sudah mengenggam erat koper yang ia pegang. Ia menagis. Yang ia inginkan adalah berada di samping Ichigo. Tapi, jika si empunya tak menginginkannya, Rukia mengalah saja. Ia akan pergi dari kehidupan Ichigo. Selamanya.

.

.

.

+TBC+

.

.

.

Terima kasih untuk review yang kalian berikan untuk Ota.

Reiji Mitsurugi : oh, betul sekali. Ota lupa siapa yang nulis, makanya gak Ota cantumin. Ingetnya Cuma Nicholas aja#plak. Berkembang? Kaya'a sama aja deh ma yang kemarin-kemarin. Sankyuu^^

Chan : ini udah lanjut. Sankyuu^^

Luna Dragnel : ini udah chap 2 #plak

Sankyuu^^

Nenk Rukiakate : ini udah lanjut, Nenk. Hehehe… masalah itu, tar juga ke jawab juga nanti. Sankyuu^^

Ruki Yagami : judulnya romantis? Ota malah gak kepikiran tuh, hehehe..

Sankyuu^^

Beladelante : #peluk cium buat mami. Makasih udah sudi buat mampir dan koreksinya. Love you mam!

Hato Shiro : hehehe…. Sebenernya Ota juga gak tau, genre angst udah pas ato gak ma fic ini. Mohon koreksinya. Sankyuu^^

Terakhir dari Ota,

REVIEW PLEASE!