Bleach © Tite Kubo

Sunset © Not Mine

A Walk To Remember © Nicholas Spark

Warning: Typo(s), EyD berantakan, OoC, AU, etc.

.

.

.

Happy reading!

.

.

.

"Hei, Rukia!"

"Hmm...?"

"Mengapa kau menyukaiku?"

"..."

"Apa kau tak menyukaiku, Rukia?"

"Bagiku, kau seperti matahari yang terbenam. Yang selalu nampak indah di petang saat aku memandangnya. Kau bersinar apa adanya. Itulah dirimu. Aku menyukaimutidak, tapi ... aku mencintaimu."

"Maaf."

"Untuk apa?"

"Menyakitimu."

"..."

"Rukia?"

"Hm?"

"Kau marah?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Aku senang kau mencintaiku, Ichi."

######

Kupandangi langit-langit kamarku. Aku baru saja bermimpi tentang Rukia. Kami duduk di atas pasir putih sambil memandangi matahari yang terbenam. Senyum tak henti-hentinya terlukis di wajah ayunya. Sebuah senyum yang lama tak kulihat. Aku ingat, Rukia sangat menyukai matahari tenggelam. Mungkin, karena itu aku memimpikannya. Aku seperti kembali ke masa lalu. Saat aku dan Rukia berkencan di pantai untuk pertama kalinya. Ah, betapa menyenangkannya waktu itu. Saat-saat bersama Istriku adalah waktu terindah yang pernah ada dalam hidupku. Rukia ... entah mengapa aku merasa sesak saat menyebut namamu. Hatiku terasa sakit dan aku merasa hampa.

Rukia...

Andai kau ada di sampingku sekarang.

Aku merindukanmu. Tempatku tidur ini terasa begitu dingin. Tak ada kehangatan. Aku membutuhkanmu untuk memelukku. Mendekapku dengan kehangatan yang kau miliki. Maafkan aku karena baru menyadarinya sekarang. Dan maafkan aku yang tak bisa mencintaimu seperti kau yang mencintaiku dengan tulus. Jika aku punya kesempatan untuk kembali ke masa itu, aku janji aku tak akan menyia-nyiakanmu. Aku akan mencintaimu dengan semua cinta yang kumiliki sekarang.

"Rukia..."

Lagi-lagi aku menangis. Semua tentang istriku memang akan selalu membuatku menangis. Aku tak bisa untuk menghapusnya dari pikiranku karena Rukia sudah mengendalikan semuanya. Hidupku, jiwaku.

############

Pagi itu adalah saat pertama aku mengambil hasil belajar Makie selama setahun ini bersekolah. Makie terlihat murung, membuatku bertanya-tanya "apa ada yang salah denganku". Makie selalu memandangi teman-temanya. Wajahnya telihat begitu sendu. Aku menelan ludahku dengan susah. Aku benci ini. Makie sedih.

"Makie-chan, ada apa?" tanyaku lembut sambil berjongkok. Menatap maniknya yang memang sama persis dengan milikku. Cokelat, seperti musim gugur.

Makie terlihat menunduk saat aku menatapnya. Apa dia takut denganku, chiechieu-nya sendiri? Rukia, seberat inikah hukuman yang harus kutanggung? Aku akui aku bersalah atas semua ini, tapi aku tak sanggup. Sudah cukup dengan aku yang kehilangan dirimu.

"Chiechieu...," Makie berkata lirih. Ia masih menundukkan kepalanya.

"Ada apa?" tanyaku khawatir. Aku tak ingin fantasiku menjadi nyata. Jadi, untuk menguatkan hatiku aku tetap tersenyum di hadapan putri kecilku yang malang ini.

Makie terlihat mengadah untuk menatapku. Matanya yang bulat bergerak resah dan sedih?

"Doushite atashi no haha de ikemasen, chiechieu?" satu pertanyaan Makie yang langsung membuatku tertohok. Hatiku tersayat begitu dalam. Haha katanya? Andai ini bukan tempat umum, mungkin aku akan menangis di sini sekarang. Tapi, aku tak bisa. Aku tak bisa menangis dihadapan putriku yang amat kucintai.

"Makie-chan punya Haha," kataku sambil tersenyum lalu mengacak pelan rambut hitam anakku.

"Tapi, kenapa Haha tidak ada di sini? Aku ingin seperti itu," tunjuk Makie pada salah satu ibu yang ada di sana. Yang sedang menggendong putrinya di punggungnya dengan nyaman. Aku tersenyum miris. Andai Rukia masih di sini dia pasti akan menggendong Makie layaknya ibu itu. Dia akan tersenyum mendapati putrinya yang bermanja dengannya. Tapi, istriku sudah meninggal. Maaf, Makie, chiechieu tak bisa mengabulkan permintaanmu, sayang.

"Aku ingin Haha." Makie menangis membuatku hancur dalam sekejap. Maaf, Makie sayang. Maafkan Chiechieu.

#########

Hal yang tak pernah dibayangkan Ichigo sebelumnya adalah kehilangan istrinya. Seraut wajah cantik namun terkesan lelah itu tersenyum bahagia saat memandangnya. Bibirnya yang memucat membisikkan sesuatu yang membuat pria yang sudah menyia-nyiakan isrinya itu tak bisa membendung lagi air matanya. Untuk pertama kalinya Ichigo menangisi istrinya.

"Terima kasih," bisik wanita yang baru saja melahirkan putrinya.

Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Aku mencintaimu, Rukia, jerit Ichigo dalam hati. Air matanya meleleh begitu deras, hingga membuat bajunya basah. Hatinya sakit. Ia terluka. Ini lebih sakit saat ia kehilangan ibunya dulu.

Terlambat. Rukia sudah pergi dengan kedamaian yang baru pertama kali ia rasakan.

"Rukia…" bisiknya penuh kepiluan. Ia genggam dengan erat tangan yang terasa dingin dalam genggaman tangannya.

"Aishiteru…"

##########

Ichigo memandangi Makie—buah cintanya bersama Rukia. Bayi titipan dari Rukia untuknya. Putri kecilnya. Kulitnya masih memerah karena beberapa jam yang lalu baru dilahirkan. Senyum pahit terukir dalam bibir Ichigo. Inikah hukuman baginya? Ichigo menangis. Ia kecup pipi putrinya dengan kasih dan menahan sakit di dadanya.

"Aku akan menjagamu, Makie," bisik Ichigo pada putri kecilnya.

##########

Langit bewarna jingga ketika pria duda itu menjejalkan kakinya di pasir putih. Suara ombak bergulung-gulung terdengar sangat klasik dalam telinganya, seolah-olah bersorak menyambut kedatangannya petang itu. Kakinya yang telanjang tak terbungkuskan alas sepatu mulai mendekat ke tepi pantai. Burung-burung nampak kembali ke sarang mereka masing-masing. Tempat mereka berteduh dan istirahat. Mungkin diantara mereka kembali karena sudah ditunggu oleh keluarganya.

Ichigo, pria berambut jingga tersebut menghirup udara di sekitarnya. Bau asin memenuhi indera penciumannya.

Kurosaki Ichigo merindukan tempat ini. Tempat di mana ia bisa menggenggam erat jemari kekasih hatinya. Isterinya yang sudah setahun meninggalkan dirinya. Ichigo bahkan tak bisa menggambarkan betapa sakit dan terluka dirinya saat itu. Ia membutuhkan Rukia. Ia membutuhkan kasih sayang dan cinta dari isterinya. Dan putrinya juga. Bagaimana bisa ia membesarkan putrinya jika tak ada Rukia di sampingnya?

"Rukia..." bisiknya penuh kepiluan. Rasa rindu yang membuncah dalam dadanya tak bisa bisa ia bendung lagi. Ia menangis. Menangisi Kurosaki Rukia.

"...maafkan aku."

Dan langit senja kali ini menjadi saksi bisu Kurosaki Ichigo yang menangisi kepergian belahan jiwanya.

#########

Ichigo ingat. Ia pernah bermimpi bertemu ibunya di senja hari. Ia duduk bersama di bangku taman tempatnya bermain ketika ia masih kecil. Ia dan Kaa-san-nya memandangi matahari terbenam. Raut wajah ibunya masih sama seperti terakhir kali Ichigo melihatnya. Cantik. Ibunya tersenyum manis, hingga membuanya merasa heran.

"Apa kabarmu, Ichigo?" tanya sang ibu—Kurosaki Misaki kepada putranya.

"Aku baik Kaa-san."

"Kaa-san dengar sekarang kau sudah menikah. Apa itu benar?" Pria berkepala jeruk itu menatap ibunya dengan heran. Bagaimana ibu bisa tahu, tanyanya dalam hati. Ia tertawa kecil, menggaruk leher bagian belakangnya lalu mengangguk ragu. Dadanya berkecamuk. Menikah? Rukia?

"Boleh Kaa-san bercerita padamu, Ichigo?" Ichigo tampak bingung dengan sikap ibunya yang menurutnya aneh. Tanpa berpikir lagi, pria itu mengangguk setuju.

"Ini cerita lama, tapi sampai kapan pun Kaa-san akan selalu mengingatnya." Kurosaki Misaki menutup matanya. Hatinya bergejolak. Semilir angin tampak membuatnya merasa lebih baik. Wanita yang sudah dikaruniai seorang putra itu menerawang jauh ke masa lalunya. Ia tampak mengambil napasnya sebelum bercerita pada putranya.

"Kaa-san tidak merasa bahagia ketika ayahmu menikahi Kaa-san," Satu kalimat yang membuat Ichigo menahan napasnya. Benarkah ini? Bukankah mereka terlihat begitu bahagia dan saling mencintai satu sama lain? Jadi, semua ini bohong? Astaga!

"Kami berdua dijodohkan. Dan karena alasan itulah Kaa-san menerima ayahmu. Tapi, Kaa-san jugatahu kalau ayahmu mencintai Kaa-san." suara ibu Ichigo tiba-tiba mengecil. Raut wajahnya terlihat sendu. Membuat putranya merasa bingung dengan sikap aneh yang baru pertama kali ia lihat dari ibunya.

"Kaa-san—"

"Setiap hari yang kami lalui terasa begitu menyiksa. Kaa-san tak pernah menjadi istri yang baik untuk ayahmu. Tak ada kemesraan dalam hubungan kami. Jikapun ada, itu hanya untuk membuat suasanya di sekitar kami tidak terlalu tegang dan itu hanya sebuah kepura-puraan belaka. Bahkan, sampai Kaa-san mengandungmu untuk pertama kalinya. Semua terasa hambar. Meskipun begitu Kaa-san sangat bahagia karena mengandungmu, Ichigo," wanita itu tersenyum, "hubungan kami agak lebih terasa menghangat ketika kau lahir. Ayahmu begitu senang saat mendengar Kaa-san sudah melahirkan.

"Tapi, meskipun Kaa-san sudah mempunyai anak, hubungan kami tetap tak berjalan mulus. Kami selalu bertengkar. Kaa-san bahkan heran ayahmu bisa menghadapi sifat Kaa-san yang agak tidak , sesuatu terjadi pada rumah tangga kami. Saat itu Kaa-san melihat ayahmu dengan wanita lain. Kaa-san marah, tentu saja. Kaa-san pikir ayahmu mengkhianati Kaa-san. Tapi, semua tak berlangsung lama ketika Kaa-san menemukan buku pribadi ayahmu." Wanita yang sudah meninggal itu menarik napasnya sebelum cairan bening menetes dari kelopak matanya. Ia kemudian menangis. Ichigo dengan sigap memeluk ibunya. Menenangkannya.

"Dia mengidap menyakit kanker, Ichigo..." Misaki tak bisa membendung air matanya lagi. Semuanya tumpah.

"Kaa-san sangat menyesal baru mengetahuinya. Dan ketika itu juga Kaa-san sadar kalau Kaa-san mencintai ayahmu. Kaa-san membutuhkan ayahmu untuk melanjutkan hidup Kaa-san. Hiks ... Jadi, Ichigo, jangan pernah menyia-nyiakan orang yang mencintaimu seperti yang Kaa-san lakukan terhadap ayahmu."

Ichigo terbangun dari mimpinya.

"Kaa-san?" Ichigo mengusap keningnya. Sesuatu dalam dirinya merasakan firasat yang buruk ketika bermimpi dengan ibunya.

Jadi, Ichigo, jangan pernah menyia-nyiakan orang yang mencintaimu seperti yang Kaa-san lakukan terhadap ayahmu.

"Apa maksudmu, Kaa-san?" Ichigo sama sekali tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh ibunya. Menyia-nyiakan orang yang mencintaiku, batinnya. Siapa?

Ponsel pria berambut nyentrik itu berbunyi, memaksa sang pemilik ponsel bangun dari lamunannya.

"Moshi-moshi."

"Ichigo, Rukia ... Rukia kecelakaan." Ponsel Ichigo jatuh. Sekarang ia paham dengan perkataan ibunya sekarang.

+TBC+

Maaf ya, minna. Udah pendek, update-nya lama, sekali update malah mengecewakan begini =w="

Sebenernya chap ini melenceng jauh dari perkiraan awal. Tapi, berhubung ide yang muncul ini doang, aku buat deh. Gomenasai.

Ah, aku gak tau mesti ngomong apa lagi. Terima kasih karena sudah mau mampir dan maaf karena belum bisa membalas review kalian. Itu salah satu semangatku buat bisa nerusin fic ini :)

Dan aku masih punya utang buat nerusin White Flag. Do'akan saja aku punya waktu buat ngetik. Aku sekarang sibuk dan aku dimarahin ibuku mulu tiap berkutat di depan kompi ==" dan sekarang aku juga dilanda kestressan (?) memikirkan nasib prakerinku. Udah hampir seminggu tapi belum dikonfirmasi sama pihak bank-nya. Padahal semua temanku udah dikonfirmasi T_T Oh, that's really hurts (?). Dan maaf karena curhatan gak penting dariku ini. Aku tahu ini sama sekali gak penting, tapi aku merasa ini penting untuk dikabarkan. Oh, ya, dari awal aku mau membuat fic ini sampai 5 chap aja. Tapi, aku sering dilanda kebingungan antara 4 chap ato 5 chap. Mau pilih yang mana, minna? Saya ngikut aja :P tapi, lebih pendek lebih baik. Hohoho XDD

Selamat IchiRuki Days~ :D

Terakhir, mind to give me some review?