Bleach © Tite Kubo
Sunset bukan punyaku. Aku Cuma minjem judulnya aja :)
Fic ini © Mitsuki Ota
.
.
.
Warning: standard applied
.
.
.
I hope you enjoy my story :)
.
.
.
"Ichigo, aku senang kau di sini. Menemaniku."
.
.
.
Senja telah kembali ke peraduannya. Warna jingga menyelimuti langit yang memang sudah suram. Langkah kaki Makie terhenti ketika matanya terkejut menatap sang ayah yang sudah tak berdaya di kursinya.
"Chiechieu!" pekiknya.
.
.
.
"Rukia," bisik lelaki tua tersebut kepada sosok di hadapannya. Entah itu nyata atau hanya ilusi belaka. Ia tak peduli. Baginya, sosok itu—yang entah semu atau hanya khayalannya—tetaplah Rukia-nya. Kurosaki Rukia istrinya yang tersayang. Ichigo—nama kakek tua itu—bahkan menitikan air matanya kala matanya yang tua menatap sosok istrinya. "Rukia," digumamkan lagi nama istrinya lagi.
Tangannya yang gemetar mencoba menjangkau wajah putih sang istri yang sudah lama tak pernah ia sentuh. Ia ingin merasakan bagaimana membelai wajah cantik pujaan hatinya, belahan jiwanya.
"Ichigo," sosok itu bersuara, lalu mendekap pria yang sudah renta tersebut. "Aku ingin bersamamu," katanya. Ichigo mengangguk dalam pelukan sang istri. Ya, ia juga ingin bersama sang istri yang sudah lama meninggalkannya dalam kepedihan.
"Aku merindukanmu, Rukia." Setetes air mata turun membasahi pipi Kurosaki Ichigo yang sudah keriput. Ia bahagia. Sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan kekasih hatinya, meskipun itu berarti ia harus meninggalkan dunia yang indah ini.
Tangan kecil Rukia bergerak untuk membelai punggung sang suami. Membelainya dengan mesra dan lembut.
"Aku kembali, Ichigo. Kita kembali."
.
.
.
Makie tak bisa menahan tangisnya lagi. Ia masih tak percaya kalau ayahnya telah tiada. Telah pulang dengan kedamaian. Mengapa harus secepet ini, batinnya disela-sela tangisnya yang memilukan hati. Kaien yang melihat istrinya berduka hanya bisa memeluk Makie dengan sayang. Berharap pelukannya dapat mengurangi beban yang dipikul sang istri. Kaien paham dengan kondisi Makie. Hanya ayahnya yang ia punya selama ini. Hanya ayahnya yang berada di samping istrinya sebelum bertemu dengan dirinya. Baginya, ayahnya adalah ayah sekaligus ibu.
Kaien sudah menidurkan anaknya, Sasaki. Sejak tadi putrinya sangat rewel karena tahu kalau kakeknya sudah meninggal dan dikebumikan. Ia begitu pilu melihat istri dan anaknya yang lebur dalam tangisan. Ichigo memang sosok yang baik, setidaknya itu menurut Kaien. Tak heran jika putrinya bisa menangis dan berteriak histeris begitu mengetahui kakeknya telah terbujur kaku dalam peti mantinya.
"Aku ingin sendiri, Kaien-kun," kata Makie pelan pada suaminya. Kaien mengangguk paham dengan keputusan istrinya yang ingin sendiri dulu saat ini. Jika itu bisa mengurangi kesedihan Makie, Kaien akan melakukannya.
"Aku pergi dulu, Makie." Makie mengangguk. "Maaf, Kaien-kun," katanya di sela tangisnya.
"Tak apa."
.
.
.
Dear, Rukia
Apa kabarmu, sayang? Apa kau baik-baik saja? Aku di sini merindukanmu. Maaf, selama ini aku telah menyakitimu. Maaf telah menyia-nyiakan kasih sayang yang selama ini kauberikan padaku. Andaikan aku menyadarinya lebih cepat aku pasti tak akan kehilanganmu. Kita pasti akan hidup bersama sampai ajal memisahkan kita. Kita akan bahagia bersama anak-anak kita kelak.
Rukia...
Aku mencintaimu...
...dengan segenap hatiku yang rapuh ini.
Hari-hariku terasa suram semenjak kau pergi. Aku tahu, masih ada Makie kita di sisiku, tapi aku tak bisa. Aku tetap merasa sedih dan sendiri. Kehadiran Makie membuatku makin terpuruk. Dia terlalu mirip denganmu, sayang. Mungkin aku tak akan sanggup menatapnya jika matanya sama denganmu, violet. Mata yang sangat aku rindukan sekaligus tak sanggup untuk kulihat. Memeluk Makie dalam dekapanku selalu membuatku merindukanmu. Melihat Makie tersenyum membuatku ingin menangis. Merasakan pedihnya hatiku karena aku telah menghapus senyum di wajahmu. Melihat Makie bersedih dan menangis membuatku ingin bunuh diri. Aku tak sanggup melihatnya. Aku tak sanggup melihat putri kita bersedih, apalagi sampai mengeluarkan air matanya yang berharga.
Makie sayang, maafkan chiechieu...
Chiechieu menyayangimu. Sangat menyayangimu...
Aku harap kau tak membenciku. Membenci chichieu yang telah membuatmu kehilangan kasih sayang dan cinta dari ibumu.
Menjadi ayah memang bukan kemauanku di usia muda, Rukia. Aku masih ingin bersenang-senang dan ingin bermain-main dengan wanita. Aku lelaki brengsek dan kau mau denganku. Dari awal aku memang hanya ingin bermain-main denganmu. Memberitahuku bahwa kau hamil itu adalah tindakan yang konyol, kau tahu. Mana mungkn aku akan bertanggung jawab padamu. Bertanggung jawab sama saja membuatku terkekang. Aku ingin bebas dan tak ingin berkomitmen dengan siapa pun. Aku, Kurosaki Ichigo hanyalah lelaki brengsek yang ingin menghabiskan hidupnya dengan bersenang-senang. Tak ada komitmen yang aku akan jalani.
Tapi...
...semua itu berubah saat aku bertemu dengamu.
Kita menjalani hidup dengan komitmen, meskipun aku tahu hanya tahu kau yang menganggap serius hubungan kita. Aku masih sama seperti saat dulu. Masih menjadi Ichgo yang brengsek. Yang suka mempermainkan hati wanita.
Sampa saat itu...
...Makie lahir dan kau meninggal.
Aku tak tahu mengapa aku menangis saat kau tersenyum di saat napas terakhirmu. Berkata dengan lirih bahwa kau mencintaiku. Aku bahkan tak bisa mennggambarkan bagaimana remuknya hatiku hari itu. Saat itu juga aku sadar bahwa kau telah membawa hatiku pergi bersama kematian abadimu. Aku tak bisa melakukan apapun. Aku hanya bisa memeluk putri kita dengan tangisku.
Hari-hari yang aku jalani sungguh membuatku frustasi. Bersama Makie membuatku selalu mengingatmu. Aku ingin menyalahkan Tuhan atas apa yang telah terjadi padaku, namun aku tak bisa. Karena aku sadar bahwa semua penderitaan yang aku alami adalah hasil dari perbuatanku sendiri.
Makie, jika kau melihat ini. Jangan maafkan chiechieu, sayang. Bencilah chiechieu yang telah membohongimu selama ini. Chiechieu telah menyia-nyiakanmu. Bencilah chiechieu.
17 Juli, dan aku menyayangi kalian berdua.
.
.
.
I was a fool to let you sleep away from me
I was lost in another world
Years have gone by and i still can't seem to shake it
In the feeling i miss having you around
(Stacy Lattisaw_That's The Reason Why I Love You)
.
.
.
The End
.
.
.
Aku tahu ini ending terngaco yang pernah aku buat. Setelah mengalami patah semangat dalam membuat fanfic, akhirnya aku menulis lagi. Maaf, jika aneh. Jujur saja, aku sempet lupa dengan cerita ini. Bahkan, nama anak Makie-pun aku lupa. Akhirnya aku nyontek deh, liat di fanfic #nyengir
Beribu ungkapan terima kasih aku ucapkan untuk readers yang sudah mampir, memberikan review, bahkan fave (?). Arigatou gozaimasu :)
Aku sudah lama gak menulis IchiRuki, agak kagok waktu menulisnya. Entah setan apa yang merasukiku hingga bisa menulis ini. Lalala~ Yosh, terima kasih untuk semua. I love you~#peyuk readers satu-satu XDD
Menulis fic ini malah membuatku kangen sama IchiRuki. Semoga saja aku bisa bikin lagi XDD
Terakhir, terima kasih dan sampai jumpa :)
Mitsuki Ota
