Sorry, lama gak update. Lagi gak ada ide soalnya. Pas baru masuk sekolah malah baru dapat ide. Nah, langsung ke ceritanya ya... Oh, iya. Lupa bilang, Ivy sama Lilah gak sama banget, rambutnya panjangan Lilah. Dan thanks buat yang review.

Delilah's POV

"Nah, Lilah ini-" Evelyn memulai, tapi kupotong.

"Luna." Lanjutku.

"Wah, sejak kapan kamu tau ?" Tanya Evelyn.

"Hehe... Aku baca pikiranmu. Dan makhluk itu thestral kan ?" Tanyaku.

"Iya. Ini thestral. Kamu bisa melihatnya ?" Kata Luna.

"Aku pernah menyaksikan kematian. Waktu itu ada pembantaian besar-besaran di kotaku, tapi aku berhasil selamat karena..." Aku tidak tau bagaimana menjawabnya lagi.

"Ivy... Tolong lanjutkan." Kataku kepada Evelyn.

"Bagaima... Oh." Kata Evelyn yang awalnya tidak mengerti kenapa dia bisa mengetahui ceritaku, tapi dia tau kalau dia dapat membaca pikiranku.

"Ngg... Karena, sahabatnya menemukan tempat persembunyian yang cukup dengan makanan selama satu minggu. Tapi saat mereka akan masuk ke ruang perrsembunyian itu, sahabatnya tewas." Kata Evelyn.

"Paling tidak itu masa lalu." Kataku dengan tawa kecil.

"Nah, sekarang kamu mau memberi makan thestral tidak ? Kalian berdua ?" Tanya Luna.

Aku dan Evelyn berpandangan lalu... "Mau !" Jawab kami berdua.

Draco's POV

Aku sedang berjalan-jalan ke Forbidden Forest, lalu aku melihat 3 siswi Hogwarts. 2 diantaranya aku sudah tau. Delilah dan Evelyn. Satu lagi, anak Ravenclaw. Sepertinya aku tidak kenal. Sudahlah, aku kembali ke common room saja.

Di common room (Pastinya Slytherin Common Room)

Aku masuk ke common room dan, tidak ada orang di sana. Aku mengeluarkan nafas panjang dan duduk di salah satu sofa. Aku mengeluarkan surat yang dikirim ibuku beberapa hari lalu, sebelum aku kena prank dari Evelyn. Sekarang jam 3 PM. Mungkin aku harus membaca surat ibu lagi...

Draco,

Kamu harus menjauhkan Evelyn Hersley dari anak Gryffindor dan anak asrama lain, tapi terutama Gryffindor. Jadilah sahabat dia, dan juga kembarannya. Jangan mengkhianati mereka. Anggaplah mereka anak Slytherinn juga.

Ibu.

Lagi-lagi aku merasa aneh. Tapi isi surat dari ibu ini sangat jelas. Aku harus memisahkan Ivy dari Fred Weaselbee itu, dan anak Ravenclaw yang tadi. Tapi kenapa ? Ibu hanya bilang aku harus menjauhkan Ivy dari Weaselbee. Aku harus menjadi sahabatnya ? Tapi kenapa ? Kenapa ? Kenapa ? Dan aku juga harus menjadi sahabat Lilah. Masih sama pertanyaanku, kenapa ?

Lalu ada surat lagi di amplop yang sama. Aduh ! Kok aku gak lihat surat ini ya ? Setelah membacanya... Sekarang aku tau mengapa.

Evelyn's POV

Setelah memberi makan thestral, aku mengucapkan selamat tinggal kepada Luna dan berjalan menuju common room bersama Lilah. Tapi Malfoy menghalangiku dan Lilah. Malfoy ?!

"Apa Maumu Malfoy ?" Tanyaku dengan nada kesal.

"Aku HANYA ingin kamu menjauhi semua Weaselbee, Potter, dan mud- Granger." Katanya.

"Siapa kamu mengatur-ngatur aku dan Ivy ?" Kata Lilah.

"Lilah, percaya padaku. Ini yang terbaik untuk kalian." Kata Malfoy.

"Lilah, ayo kita pergi." Kataku sambil menarik tangan Lilah. Melewati Malfoy. Paling tidak Lilah melihatnya sekali ini dan sudah langsung membencinya. Aku tau ekspresi Lilah.

"Baiklah ! Tapi aku punya caraku untuk membuat anak-anak lain menjauhimu, terutama anak-anak Gryffindor. Aku punya rahasia yang bahkan kamu tidak tau ! Ini tentang kalian !" Teriak Malfoy dari belakang kami.

Aku berbalik dan melepaskan tangan Lilah.

"Dan apa itu, Malfoy ?" Kataku dengan nada yang masih kesal.

"Bukan saatnya memberi tau kalian, tapi suatu saat nanti kalian akan tau."

"HUH !" Aku berbalik dan berlari menuju common room, Lilah juga. Dan, rambut kami merah menyala, artinya Marah !

Common room

Rambutku sudah sedikit kembali. Fiuhh... Tapi rahasia apa yang kami tidak tau tapi Malfoy tau ? Apa itu ? Kalau aku memang tidak tau, aku tidak perlu memikirkannya.

Beberapa jam kemudian...

Jam 6 PM. Aku ke Great Hall bersama Lilah untuk makan, tentu saja.

Aku makan... Sup krim ayam. Lilah juga.

"Surat !" Teriak seorang anak Gryffindor. Ya, memang surat datang. Mengejutkan, ada surat untukku dan Lilah.

"Surat ? Tapi... Kan... Bagaimana bisa ?" Tanyaku dan Lilah bersamaan, dengan nada yang sama juga. Rambut kami hijau.

Di surat itu tertulis,

"Ibu kalian ingin kalian mengetahui bahwa ayah kalian bukanlah penyihir ataupun muggle. Tapi seseorang yang lain, mungkin bukan seseorang. Tapi ayah kalian bukanlah ayah yang kalian ketahui. Saat kalian berusia 16, kalung kalian akan bekerja, dan ayah kalian, bukan ayah yang kalian kenal. Hanya itu yang dapat aku katakan."

Aku... Sangat... Bingung...

A/N : Ada lagi satu, nanti pas aku bikin sequelnya, akan... Ngg... Gimana ya ? Gak yakin aku penggemar Harry Potter suka. Soalnya, kaya crossover, tapi beda. Nanti ada sequel buat sequelnya yang crossover. Aduh, kalau keberatan tinggal bilang. Jujur, aku juga masih bingung. Keberatan ? Sorry chapternya dikit.