Hehehe baru bisa update nih.
Abis bingung saia mau bikin cerita gimana. Plus lagi2 sibuk-sibuknya diriku.
Hahahaha. Tapi jangan kecewa ini dia update Asgardian berlibur ke Ancol..
Here we go!
Para Asgardian di Ancol!
Chapter 2
Para Asgardian juga Hilda-sama dan Freya-sama melakukan perjalanan menuju Indonesia, kampung halaman dari salah satu dari hakim bawah. Menggunakan pesawat yang disewa dari Kidou Group, dengan biaya penyewaan yang amit-amit mahalnya.
Dengan berbagai macam ekspresi ditunjukkan dari para Asgardian saat di dalam pesawat.
Teriakan para Asgardian hampir membuat Hilda harus mengganti rugi kaca pesawat yang hampir pecah.
Tiga jam yang menegangkan itu pun akhirnya berakhir.
"Aku pikir aku akan mati di dalam burng besi terbang raksasa itu," Mime menghela napas saat turun dari pesawat.
"Hei Mime yang paling bikin kami jantungan itu teriakanmu yang bagai petir, cetar membahana," celetuk Alberich terkekeh.
"Apanya yang cetar membahana? Kau tuh yang tidak bisa diam, mondar-mandir takut pesawat nyusruk di danau ya?"
"Apanya yang nyusruk? Kau itu yang ketakutan!"
"AHHHH! Hentikan!" Bud pun mencapai batasnya akhirnya meledak juga, "kalian sama-sama ketakutan, diamlah!"
Yang lainnya hanya bisa facepalm dan sweatdrop melihat kedua God Warrior ini bertengkar.
"Sudah-sudah, jangan bertengkar seperti itu," Hilda menasehati para God Warriornya. "Kita akan dijemput seseorang yang sudah tak asing dengan negeri ini," ucapnya dengan nada yang lembut.
"Seseorang?" Fenrir terlihat semakin bingung dengan ucapan Hilda.
"Siapa?" tanya sisa God Warrior lainnya.
Seorang dengan rambut hitam agak jabrik datang menghampiri, "yo! Lama tak jumpa ya, Hilda-sama," pria itu menyapa Hilda dengan suara yang lembut selembut kain ka- *belum diteruskan author dilempar ke tebing*
"HAH! DIA KAN?!" semua God Warrior membelalakan mata saat melihat seorang berambut hitam yang mereka kenal.
"Iya, Aiacos De Garuda. Ini tanah kelahirannya, dia tahu seluk beluk negeri ini," Hilda tersenyum.
Ternyata yang menjemput mereka di bandara adalah salah satu hakim dunia bawah, "nah. Bisa kita mulai turnya? Hilda-sama," dengan nada agak sedikit malas Aiacos buka suara.
'Orang ini benar-benar minta dijatuhkan dari air terjun Niagara ya?' pikir seluruh God Warrior dengan kesalnya.
Terlihat Aiacos terdiam memperhatikan para manusia primitif dari pedalaman Asgard, "yaah cukuplah masuk semua ke mobilku tanpa harus merusak mobilku seperti para Saints primitif itu," ucapnya lalu menggiring para God Warrior menuju parkiran dimana ia memarkirkan mobil kesayangannya.
"Apa ini?" tanya Siegfried memperhatikan mobil Aiacos yang belum pernah dilihatnya di Asgard.
Para God Warrior lainnya memperhatikan mobil Aiacos dengan seksama dan juga terkagum-kagum, 'ahh… ternyata sama-sama primitif, mudah-mudahan rumah dan mobil kesayanganku ini tidak diapa-apakan oleh orang-orang primitif ini,' pikir Aiacos agak was-was.
Seluruh God Warrior masuk ke mobil jelas di depan Hilda dan Aiacos sendiri yang menyetir, Freya, Hagen, Siegfried dan Alberich duduk dibangku tengah. Sedangkan sisanya Thor, Mime, Fenrir, Syd dan Bud duduk dibelakang berjumbal.
Thor yang duduk agak berlipat karena badannya yang besar melebihi mobil Aiacos, Mime yang agak sedikit repot takut harpa kesayangannya kedudukan oleh yang lainnya, berusaha mati-matian melindungi harpa tercintanya. Fenrir sendiri agak menghela napas karena beruntung ia tak membawa serigala-serigalanya, kalau tidak mobil Aiacos akan terbelah lagi. Sedangkan Syd dan Bud duduk dengan tenang walaupun badan mereka juga sedikit terjepit karena duduk diantara Mime dan Thor, tapi mereka terlihat tenang.
"Sudah siap?" tanya Aiacos ia mulai menyalakan mesin mobilnya.
Mobil Aiacos berjalan tiba-tiba membuat para God Warrior agak sedikit berteriak begitu juga dengan Freya yang baru ini merasakan naik mobil selama berada di Asgard ia sama sekali berlum pernah merasakan mobil, kuda dan kuda setiap waktu.
Satu jam menegangkan untuk para God Warrior dan juga mobil Aiacos *lha
Jelas untuk mobil Aiacos juga karena jika para God Warrior itu benar-benar ketakutan karena Aiacos yang berniat ngebut, maka mobilnya pun akan menjadi barang rongsokan yang terbelah, kemungkinan malah hancur berkeping-keping.
Mereka pun sampai di rumah Aiacos yang cukup megah, "nah, para manusia primitif, inilah rumahku," Aiacos memperkenalkan rumahnya kepada para God Warrior.
"Kupikir kau tinggal di sarang burung," celetuk Alberich agak kesal dipanggil manusia primitif oleh hakim dunia bawah yang satu ini.
"Hah?! Sarang burung kau bilang?!" tanda siku-siku muncul dikening sang hakim bertanda ia mulai kesal atas perilaku God Warrior primitif yang satu ini.
Yang lainnya hanya bisa facepalm menonton tontonan gratis dari aksi dua orang ini.
"ah, sudahlah Aiacos-san, Alberich… jangan memperburuk suasana. Kita sudah jauh-jauh datang ke Indonesia ini untuk berlibur jadi gunakanlah waktu disini untuk beristirahat," Siegfried menasehati keduanya yang masih bersitegang.
"Kau benar Siegfried," ucap Alberich lalu tenang.
"ya perkataanmu ada benarnya juga ya, naga kepala dua," cemooh Aiacos sambil terkekeh.
Siegfried facepalm tiga sudut siku-siku muncul dikening sang God Warrior naga yang abadi ini.
Bud, Syd dan Thor harus bersusah payah menenangkan Siegfried yang sudah diambang batas kesabarannya karena sang hakim dunia bawah yang mulutnya bagaikan ular berbisa ini. (bukan lagunya Hello ya yang ular berbisa) *author digilas
Semenit yang menegangkan kalau saja Siegfried tidak ditahan mereka jamin sang hakim akan berakhir di air terjun Niagara. (maklum lagi seneng sama air terjun) *author diinjak
Mereka memasuki rumah Aiacos yang megah dan mewah bahkan dua kali lipat rumah Kidou yang megah.
"wah rumahmu bagus sekali ya, Aiacos-san," Freya memuji Aiacos juga mengagumi rumah sang hakim. Maklumlah gaji dari Hades tiga kali lipat gaji dari para junjungan lainnya.
"ah, ini biasa saja Freya-sama. Ini tidak lebih besar dari istana Hades-sama di dunia bawah sana," Aiacos terlihat merendah namun juga terlihat bangga akan rumahnya yang bak istana.
Setelah menggiring para God Warrior ke kamar masing-masing (Asgardian: hoy! Author! Memangnya kami ini sapi pake digiring segala!) *author dilempar kejurang* Aiacos melempar tubuhnya ke sofa di depan televisi barunya dan menyalakannya dengan kedua tangannya menyanggah kepalanya yang hendak beristirahat.
Tiba-tiba…
"AAAAAAAKKKKKHHH!" suara teriakan yang sudah tak asing lagi, juga suara sesuatu yang rusak. Aiacos sudah bisa menduga salah satu barang-barang dirumahnya bisa dipastikan rusak.
Dan jelas saja, keran air di dalam kamar hancur karena ditinju Mime, "kau! Kau apakan keran airku?!" Aiacos meratapi nasib sang keran air. *lho
"Aku tak tahu, tiba-tiba benda itu mengeluarkan air saat aku memutarnya," Mime berusaha membela diri, karena suda menewaskan keran air sang hakim dunia bawah.
"Kalian ini…" Aiacos terdiam saat melihat Thor membawa laptop, "kalian punya laptop?" tanya sang hakim agak heran.
"Iya!" jawab para God Warrior serempak.
Aiacos langsung jawsdrop, dan terdiam, 'bagaimana bisa orang primitif yang ga tau mobil dan keran air tapi tau soal laptop?' Aiacos bertanya-tanya didalam batinnya.
"Ada apa Aiacos-san?" tanya Freya khawatir dengan sang hakim dunia bawah ini.
"Ah, tidak… orang-orang ini… sedikit aneh primitif… tapi mengerti soal laptop yang sama-sama teknologi dan bahkan…" tak mampu melanjutkan Aiacos hanya terdiam dan berbalik badan menjatuhkan dirinya di sofa empuk miliknya.
"Ada-ada saja, membawa laptop keperadapan maju seperti ini tapi tidak tau soal mobil bahkan keran air? Aneh sekali…" gumam Aiacos "aku harap mereka tidak merusak lebih jauh lagi."
Tapi dugaan Aiacos meleset, hanya selang beberapa menit Aiacos juga mendengar teriakan dan juga sesuatu yang pecah.
Aiacos dengan gontai dan malas berjalan menuju sumber suara, dan dengan segera ia menepuk jidatnya dengan lumayan keras saat melihat kolam aquarium kura-kura kesayangannya pecah, karena Fenrir yang bermain dengan sang kura-kura tanpa menahan kekuatannya dan meninju dengan keras si aquarium, "mati aku! Kura-kura mahalku yang kubeli dengan mengumpulkan gaji tiga tahun ini!" Aiacos meratapi aquarium kura-kura dan juga hewan peliharaannya itu yang terjungkal di sisinya banyak kepingan pecahan kaca.
Hilda dan Freya hanya bisa facepalm ikut meratapi nasib sang kura-kura juga aquariumnya.
Aiacos dengan segera membersihkan sisa pecahan kaca setelah memindahkan sang kura-kura ke kolam yang lebih besar dan lebih aman dari jangkauan para God Warrior primitif ini.
'Sampai kapan mereka puas merusak di rumahku?' tanya batin Aiacos dengan sangat lirih dan memperihatinkan, ia merebahkan tubuhnya lagi dengan malasnya di sofa empuk kesayangannya.
Seharian ini hanya, Alberich, Syd dan Bud yang tidak berulah dirumah sang hakim dunia bawah. Dikarenakan mereka menahan diri untuk tidak berulah dan memperburuk masalah dengan sang hakim.
Aiacos terdiam dan tertidur di sofa empuknya, nyaman sekali tanpa teriakan-teriakan yang akan membuat jantungnya copot karenanya.
Tapi…
"Pranggg!" suara sesuatu yang pecah terdengar lagi, Aiacos menghela napas panjang sebelum dia beranjak dan berjalan menuju sumber suara.
Mata Aiacos terbelalak lebar saat melihat vas bunga kesayangan pecah karena Thor yang tak sengaja menyenggolnya, lemas sudah Aiacos meratapi nasib barang-barang kesayangannya hancur berkeping-keping.
"Vasku…" ucapnya lirih saat menatap nasib malang sang vas bunga kesayangannya.
"a…ah… Aiacos-san… istirahatlah biar saya yang membersihkannya," Freya menawarkan diri untuk membersihkan pecahan vas bunga akibat ulah sang God Warrior pemilik robe Phecda Gamma ini.
"Tidak perlu, kalian semua istirahatlah… biar aku saja yang membersihkan… aku tak mau jika ada yang rusak lagi," ujar Aiacos lemas.
Akhirnya atas permintaan sang hakim para God Warrior kembali ke kamar masing-masing, besok mereka akan touring ke Ancol, tujuan mereka semua.
T.B.C
Akhirnya update juga
Maaf ya agak ngagaje sedikit
Disini saia libatkan Aiacos sedikit
Aiacos: apanya yang sedikit Thor? Ane berkorban banyak tau!
Author: jangan panggil gue Thor aja ngapa, kayak lu manggil si Thor!
Aiacos: masa bodoh! Rumah gue hancur sudah *hiks
