Disclaimer : Bleach bukan milik saya melainkan punya Tite Kubo sensei, saya hanya meminjam karakter-karakternya untuk kepentingan pembuatan fic ini. Setelah itu saya kembalikan ke pemilik asalnya.
Note : AU, maybe OOC, and sorry for language. (Rate sewaktu-waktu bisa berubah sesuai kondisi)
Pairing : UlquiHime, HitsuHina (jika waktunya tiba)
Okey, HMCS sudah di update! Semoga chapter pembuka ini cukup memuaskan para pembaca sekalian. Selamat membaca ya! Don't Forget to Review!
#
Hold Me Closer, Sorcerer
~Petualangan yang menyangkut hidup-mati Sang Penyihir~
#
(Do you believe in magic?)
#
Story by Mayura Marie Sonozaki
#
#
Charm One : Bat Country
~Selamat datang di kota dengan aroma kematian yang kental~
#
#
Apakah kamu pernah mendengar Legenda Batu Filosofi? Batu berwarna merah bagaikan darah dan berkilau bagaikan berlian saat ditimpa cahaya. Konon batu itu dibuat dengan ilmu alchemy—ilmu kuno yang mampu mentransmutasikan benda menjadi benda lain atau makhluk hidup menjadi makhluk hidup lain.
Para sesepuh di kota itu mengatakan bahwa batu filosofi mampu menjadikan seseorang hidup abadi. Entah benar atau tidak, yang jelas hampir seluruh manusia di dunia ini mengetahui legenda batu merah darah yang konon menyimpan suatu kengerian di balik pembuatannya…
Sore hari telah berlalu cukup lama dan kegelapan turun bak ribuan kunang-kunang yang menggerayangi hari. Pemuda bertudung hijau itu melangkah nyaris tak bersuara. Rambut sehitam malamnya yang halus lembut bak kain sutra ia sembunyikan rapat-rapat di balik tudung jubah panjang yang ia kenakan. Semua mata memandang aneh ke arah sang pemuda asing saat ia melewati orang-orang yang berjalan ke luar kota yang hendak pemuda asing itu masuki. Orang-orang itu menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, dan pemuda itu pun tak peduli dengan apa yang orang-orang itu bicarakan mengenai dirinya karena ia tahu jelas apa yang kira-kira orang itu bicarakan.
Belum pernah ada orang seaneh itu di kota mereka—sang pemuda asing tentunya yang mereka maksudkan. Pemuda itu memiliki mata yang berwarna hijau toska bagai permata zamrud. Kulit pemuda itu nampak sangat pucat, sehingga bila kau mampu melihatnya kau akan mengatakan bahwa pemuda itu sedang sakit walau sesungguhnya tidak demikian. Bibir tipisnya yang berwarna pink pucat itu kadang-kadang tersenyum sekilas, walau hal itu nampak aneh bagi pemuda berwajah datar tanpa ekspresi seperti dirinya.
Pemuda itu mengenakan cape atau semacam jubah pendek berwarna coklat yang menutupi pundaknya di balik jubah hijau panjangnya dan mengenakan baju tanpa lengan berwarna putih susu berbisban coklat tua. Kaki rampingnya dibalut dengan celana berwarna senada dengan bajunya dan memakai sepatu semi resmi bersol agak tebal. Kedua tangannya memakai sarung tangan berwarna coklat, dan salah satu tangannya menggenggam sebuah tongkat panjang yang ujungnya berbentuk aneh.
Wizard—begitulah orang-orang itu menyebut sang pemuda. Pengguna sihir yang kekuatannya didapat dari tome—kitab sihir, scroll, dan magic book. Selain itu para wizard juga belajar ilmu sihir dari medium-medium tersebut dan mampu menciptakan berbagai kombinasi sihir. Ciri khas dari para wizard adalah staff atau wand yang selalu mereka bawa-bawa ke mana pun mereka pergi. Satu hal yang tak seorang pun dari mereka tahu adalah… pemuda itu hanya menyamar sebagai wizard dan memiliki kekuatan sihir yang lebih besar dari pada penyihir kelas menengah itu.
Malam telah menyebar di langit sejak beberapa menit yang lalu. Pemuda penyihir itu berada di perempatan jalanan yang hening, yang kiri-kanannya hanya diapit deretan lampu jalanan. Deretan itu rapi, namun tidak demikian halnya dengan rumput serta bunga liar yang tumbuh di sepanjang trotoar yang retak.
Beberapa lampu mobil menyorot terang, lalu kembali menggelap saat menghilang di balik tikungan. Burung hantu-burung hantu mengepakkan sayapnya dan terbang tanpa suara di sela cabang pohon mencari tikus yang bisa dimakannya. Pemuda penyihir itu sejenak menikmati simfoni alam yang menghiasi kesunyian malam, lalu setelah dirasa cukup ia kembali melanjutkan langkahnya.
Nama pemuda itu Ulquiorra Schiffer dan Ulquiorra atau Ulqui—mungkin sebaiknya kita panggil demikian—menatap sekeliling kota yang hendak dimasuki olehnya saat ini—Kota Menos. Ulqui tak mengenali kota ini. Kota yang baru baginya, salah satu dari seribu kota asing yang dimasuki dalam perjalanannya. Malam terasa murung, mungkin karena hujan hendak bocor melalui pori-pori langit.
"Ah, mungkin aku harus cepat-cepat mencari tempat untuk bermalam sebelum hujan turun," gumam Ulqui pelan. Sama sekali tak ada ekspresi dalam nada suaranya. Dingin dan datar seperti halnya robot yang belum diprogram ulang.
Ulqui melangkah cepat dalam gelap tanpa merasa kesulitan sedikit pun. Sepertinya mata zamrudnya itu telah dilatih sedemikian rupa agar terbiasa melihat dalam cahaya minim. Sesekali telinganya menangkap gumaman-gumaman tak jelas dari orang-orang yang berpapasan dengannya.
'Zombie? Orang-orang yang menghilang kala malam tiba? Apakah itu mungkin?' batin Ulquiorra heran.
Secara alami, tak mungkin manusia biasa menghilang dalam sekejap. Begitulah yang dikatakan oleh logika Ulqui. Manusia pun tak bisa berubah menjadi zombie, kecuali… Ulquiorra berhenti berpikir saat menyadari bahwa dirinya telah berada di depan bangunan kuno beraksen Belanda. Bibir pink tipisnya menguakkan senyum tipis dan kaki rampingnya ia langkahkan masuk ke bangunan tersebut. Ia tak menyadari bahwa di luar sana ada beberapa pasang mata telah mengintainya dan menjilat bibir dengan penuh nafsu.
"Sepertinya kita dapat mangsa yang menarik!" gumam sosok itu dengan gembira. Ada kilat licik terpantul di matanya. Entah apa yang akan mereka lakukan pada penyihir muda berambut sehitam malam dan bermata giok itu.
Café Niflheim. Sungguh nama yang aneh untuk sebuah café bergaya Belanda ini. Tapi kalau melihat tata ruang, perabot, dan elemen-elemen pendukung lain di dalamnya, rasanya Ulquiorra cukup paham kenapa café itu diberi nama alam kematian dalam Legenda Norse kuno. Ruangan itu cukup dingin, dan kabut tipis menyelimuti tempat itu, membuat pandangan terhalang dan sulit melihat apa yang ada di dalam ruangan itu. Ornamen ular raksasa Nidhogg dengan lukisan mata air Hvergermell. Lalu ada patung Dewi Hel terpajang apik di salah satu sudut ruangan café.
Café itu memang tidak terlalu ramai, tidak juga terlalu sepi. Untuk ukuran café mungil yang antik, kondisi ini terbilang cukup lumayan lah. Ulquiorra merasa nyaman—ralat—sedikit nyaman saat duduk di meja konter dan memesan minuman.
"Hvergermell Tonic," ucap Ulquiorra singkat. Satu sisi bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis.
Bartender berambut sebahu berwarna coklat kemerahan dan berkacamata itu menanggapi pesanan Ulquiorra dengan baik dan mulai meracik minuman legendaris itu. Selagi menunggu si bartender itu meracik minumannya, Ulqui terpekur di bangkunya. Mencoba mencari definisi yang tepat untuk apa yang ia dengar sebelum datang ke café ini.
"Maaf telah lama menunggu! Ini pesanan Anda, Tuan! Selamat menikmati!" kata bartender berkacamata itu ramah seraya meletakkan mug berisi pesanan Ulqui di depannya. Menyentakkan Ulqui dari lamunannya.
"Aaah, terima kasih… ng?"
"Kibune. Makoto Kibune," jawab bartender itu pelan tanpa meninggalkan nada ramah dan sopan dalam suaranya.
"Ya! Terima kasih banyak, Kibune-san!" balas Ulquiorra masih tanpa ekspresi dalam nada suaranya. Hal itu membuat Kibune tak paham, sebenarnya Ulqui sedang berterima kasih padanya ataukah sebaliknya? Namun Kibune tak mau berburuk sangka. Karena itu, dia membalas ucapan terima kasih Ulqui dengan senyuman termanis yang ia punya.
"Anoo, Kibune-san… boleh aku tanya sesuatu? Kota ini aneh. Kenapa ada larangan keluar dari rumah saat malam tiba? Kenapa juga ada gosip yang mengatakan bahwa saat malam tiba, orang-orang menghilang tanpa jejak dan tak bisa ditemukan di mana pun?" tanya Ulquiorra tanpa basa-basi.
"Kenapa Anda bertanya seperti itu, Tuan?" Kibune malah berbalik bertanya.
"Sebab dari kota ini… tercium aroma kematian yang sangat kental. Aku bisa merasakannya karena hawa kehidupan di kota ini begitu tipis. Bisa kau beritahu alasannya kenapa?" kejar Ulquiorra tanpa mampu membendung rasa penasarannya.
Kibune menghela napas pendek, dia membetulkan letak kacamatanya. Alih-alih menjawab pertanyaan Ulquiorra, Kibune malah berkata, "Kusarankan agar Anda segera meminum pesanan Anda, Tuan. Kalau kelamaan, rasanya nanti menjadi tidak enak."
Ulquiorra mengernyitkan alisnya tak paham. "Hei, kau bercanda? Minuman ini masih sangat panas, kau tahu? Tak mungkin aku bisa langsung meminumnya!"
Namun Kibune sepertinya tidak memperhatikan protes Ulquiorra dan kembali bekerja. Ulqui membuang napas cepat. Pemuda setinggi 169 cm itu mengetukkan jarinya 3 kali ke mug minumannya. Secara ajaib, muncul bunga es yang menjalar pelan di permukaan mug itu dan mendinginkan minuman itu dengan sempurna. Ulquiorra menghela napas lega dan menyesap minuman itu sedikit demi sedikit tanpa menyadari tatapan kagum dari seorang gadis cilik berambut light green pendek dan bermata light pink yang tertuju padanya.
"Uwaaa, Nii-san*! Nii-san ini Jokul Frosti*, ya?" tanya gadis kecil itu polos, masih dengan mata berbinar-binar.
Ulqui meletakkan mugnya di meja dan sedikit membungkuk agar bisa menyamai tinggi gadis cilik itu. Satu tangannya terulur dan membelai lembut surai light green di kepala gadis kecil itu.
"Nona kecil, aku ini bukan Jokul Frosti. Namaku Ulquiorra Schiffer!" jawab Ulquiorra pelan.
"Eeeh, Tapi, Nii-san... kamu ini menarik sekali, ya! Namaku Lilynette Gingerback, senang berkenalan denganmu!" sahut gadis kecil yang mengaku bernama Lilynette itu dengan riangnya.
Ulqui tersenyum tipis penuh arti, pemuda penyihir bermanik hijau itu menoleh ke arah Kibune dan berkata, "Kibune-san, boleh pesan Apple Juice untuk gadis kecil ini?"
Kibune mengangkat jempolnya dan mulai meracik pesanan Ulqui. Ulqui mempersilakan Lilynette untuk duduk di kursi kosong yang ada di sebelahnya. Lilynette segera duduk di sebelah Ulqui sambil bersenandung riang.
Ulqui menatap aneh Lilynette dan bertanya pada gadis kecil itu, "Lily, kenapa kau bisa keluyuran dengan bebas malam-malam begini? Dan... ke mana orang tuamu?"
Baru saja Lilynette akan membuka mulutnya, Kibune sudah meletakkan gelas besar di depan Lilynette dan berseru, "Ini pesanannya!"
Ulquiorra menahan diri untuk tidak marah pada Kibune yang seenak jidatnya saja mengganggu pembicaraanya dengan Lilynette. Pemuda penyihir setinggi 169 cm itu menarik napas perlahan dan mengembuskannya cepat, lalu bertanya pada bartender berambut coklat kemerahan dan berkacamata itu.
"Kibune-san, apa kau kenal dengan gadis kecil ini?"
Kibune memejamkan matanya sejenak dan menjawab pertanyaan Ulquiorra, "Tentu saja aku kenal. Dia ini kan menginap di café ini."
"Lho, jadi café ini penginapan juga, ya?" respon Ulquiorra agak terkejut. "Kalau begitu, kuulangi pertanyaanku tadi. Kibune-san, kau tahu ke mana orang tuanya Lily?" tanya Ulqui dengan wajah serius.
"Tidak, kenapa Anda bertanya seperti itu Tuan Ulquiorra?" elak Kibune dengan wajah memucat seolah tengah menyembunyikan sesuatu.
Ulquiorra tentu saja bukanlah orang yang gampang dibohongi. Dia paham benar kalau bartender yang ada di depannya sekarang ini tahu segala sesuatu tentang hal aneh yang terjadi di kota ini. Karena itu, Ulquiorra pun mencecarnya dengan pertanyaan yang mendesak agar Kibune mau menceritakan hal yang sebenarnya.
Namun Kibune tetap bersikeras untuk menutup mulutnya rapat-rapat dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya daripada meladeni pembicaraan Ulquiorra yang seolah menyelidiki sesuatu di kota tempat tinggalnya. Walau pun begitu, sebenarnya Kibune ingin meminta bantuan Ulquiorra. Hanya saja ia tak bisa mempercayai orang asing yang baru ia temui.
Ulquiorra pun ingin segera menyelidiki kota Menos yang aneh ini, namun ia tak mau terburu-buru dan tak ingin bertindak gegabah karena itu bisa berakibat fatal baginya. Akhirnya pemuda penyihir berambut sehitam malam itu pun mengalah. Ia tak lagi banyak bertanya pada Kibune dan langsung menenggak minumannya serta bergegas meninggalkan konter. Kibune menatap ke arah perginya Ulquiorra dengan perasan sedikit menyesal.
Ulquiorra berjalan di koridor yang menghubungkan antara café dengan penginapan, mencari kamar yang kosong yang bisa ia inapi barang dua atau tiga malam. Sementara itu, Lilynette mengikutinya dari belakang dan menarik-narik cape yang dikenakan oleh Ulquiorra.
"Ulquiorra nii-san, maaf ya kalau Kibune-jichan* ketus sama Nii-san," ucap Lilynette dengan nada penuh sesal.
"Tak apa. Toh aku juga tak memaksanya untuk bercerita, kok!" sahut Ulquiorra tanpa ekspresi. Lilynette masih menatap cemas pemuda penyihir itu, sebab Ulquiorra berkata, "Mungkin sebaiknya aku mencari tahu saja dari penduduk kota ini, sebab aku merasakan aroma kejahatan dan kematian yang begitu kuat di kota ini. Udaranya benar-benar menyesakkan dada dan membuatku sedikit sulit bernapas."
Selagi berkata begitu, raut wajah Ulqui yang semula datar tanpa ekspresi tampak menegang. Tangannya mengepal erat. Kelihatan sekali kalau penyihir itu tidak suka dengan kondisi aneh kota Menos ini. Apalagi inderanya yang sensitif merasakan hawa keberadaan roh dan makhluk halus. Segera tangan Ulqui menarik tangan Lilynette dan memberinya isyarat agar tidak jauh-jauh darinya.
Tangan kiri Ulqui mengayunkan tongkat sihirnya dan berucap, "Sight!" Seketika mata Ulqui dan Lily mampu melihat roh-roh penasaran yang berkeliaran di kota itu.
"KYAAAA!" Lilynette menjerit ketakutan saat melihat kondisi mengerikan dari para roh. Ia tahu sekali bahwa roh-roh itu tengah kesakitan dan menderita, meski ia tak tahu menderita karena apa.
Ulquiorra segera melepaskan genggaman tangannya dari Lilynette agar gadis kecil itu tak lagi bisa melihat roh-roh itu. Kening Ulquiorra seketika mengernyit. 'Bukankah itu penduduk kota ini? Kenapa mereka bisa jadi roh gentayangan?' batin Ulqui heran.
Sementara mata gioknya mengamati roh-roh itu, telinganya menangkap jerit kesakitan dari para roh. Mati penasaran, begitulah kesimpulan yang ditarik Ulqui saat melihatnya. Dan sebelum keadaan menjadi lebih kacau karena roh gentayangan itu berubah menjadi Sluagh*, Ulquiorra membuka mulutnya dan melantunkan lagu yang sangat indah.
hoshi ni yuki ni kioku ni
kimi no ashiato sagasu
doka towa no yasuragi
koko wa yume no tochuu de
osanai tsubasa de sakamichi kaketeku
michi kara hagurete kono me wo tojiteku
hoshi ni yuki ni kioku ni
kimi no ashiato sagasu
doka towa no yasuragi
koko wa yume no tochuu de*
Mendengar lagu itu, roh-roh yang tadinya histeris menjadi tenang saat Ulquiorra menggunakan jurus Circle of Nature's Sound-nya. Salah satu dari roh itu menghampiri Ulquiorra dan berkata,
"Arigatou gozaimashita, mahoutsukai*..." ucap roh yang berwujud lelaki tua itu dengan linangan air mata bahagia.
"Tak perlu berterima kasih, Ojichan. Kudoakan semoga rohmu bahagia di alam sana," balas Ulquiorra lembut dengan senyum tipis di bibirnya.
Roh itu pun membalas senyum Ulqui dan perlahan tubuh roh itu menghilang dan menjadi serpihan kecil yang melayang menuju ke langit tempat surga berada. Sepeninggal roh itu, Ulquiorra menggeram marah. Ia mengutuk orang-orang yang menyebabkan penduduk kota ini menderita. Memangnya mereka salah apa sampai dibunuh massal seperti itu?
"Ulquiorra nii-san? Doushite*?" tanya Lilynette penasaran. Sesaat Ulqui terkejut, nampaknya ia lupa kalau saat ini ia sedang bersama Lilynette.
"Iie," jawab Ulquiorra seraya memejamkan kedua bola matanya sejenak sebelum membukanya kembali dan melanjutkan ucapannya. "Iie nandemo arimasen...*"
Esok paginya, Ulqui telah selesai mengenakan pakaian santai hitam-hitamnya dan bersiap untuk sarapan di ruangan utama café yang dikelola oleh Cirucci Sanderwicci yang juga merupakan teman dari Kibune. Saat Ulquiorra membuka pintu untuk keluar dari kamarnya...
"Ohayou*, Ulquiorra nii-san!" Lilynette telah menyambutnya di luar pintu dengan ceria.
"Ohayou, Lily!" balas Ulquiorra seraya membelai lembut rambut hijau muda Lilynette.
Saat sedang berjalan bersama Ulquiorra menuju ruangan utama café, mata pink terang Lilynette menilik pakaian yang dikenakan Ulquiorra dan bertanya, "Kok hari ini Nii-san tidak memakai seragam wizard? Biasanya kan para penyihir tak pernah absen untuk mengenakan seragam itu."
"A ha ha, tak mungkin kan aku terus-menerus mengenakan seragam itu. Nanti malah dikira aneh," jawab Ulquiorra dibarengi tawanya. Tapi karena nada suara Ulquiorra datar, suara tertawanya malah terdengar aneh di telinga Lilynette.
"Oh ya, kemarin aku kepikiran dengan sesuatu dan tak sempat menanyakannya pada Nii-san, boleh aku menanyakannya sekarang?" kata Lilynete dengan nada penuh keraguan.
"Mengenai apa?" Ulqui malah berbalik tanya.
"Orang tua Ulquiorra Nii-san... mereka ada di mana? Kenapa Nii-san mengembara? Apa yang sebenarnya Nii-san cari dari pengembaraan Nii-san?" Jantung Ulquiorra serasa berhenti berdetak saat mendengar pertanyaan itu. Pemuda penyihir bermata hijau itu terdiam cukup lama dan tak segera menjawab pertanyaan Lily.
"Nii-san? Aku salah bicara?" tanya Lilynette ragu karena ia merasa Ulquiorra tersinggung dengan pertanyaannya.
"Tidak, tidak apa-apa," jawab Ulqui pelan seraya memejamkan matanya dan menarik napas. "Ayahku sudah lama meninggal sejak aku masih kecil, dan aku tak pernah lagi bertemu ibuku saat aku berusia 7 tahun. Jadi bisa dibilang, saat ini aku seperti anak yatim-piatu. Karena selama 8 tahun ini, aku tak pernah merasakan kasih sayang orang tua," lanjut Ulquiorra tanpa ekspresi.
"Ma, maaf! Maafkan aku, Nii-san! Aku tidak bermaksud..."
"Untuk apa meminta maaf, Lily? Kau kan tidak berbuat salah. Lagipula aku tidak ambil pusing dengan keadaanku sekarang, kok! Tenang saja!" tukas Ulquiorra mencoba menenangkan gadis kecil itu.
"Tapi… apa Nii-san tidak kesepian?" tanya Lily.
Ulquiorra nampak terkejut dengan ucapan Lilynette itu, namun ia segera menutupi perasaannya dan menjawab bahwa ia sama sekali tidak kesepian. Sang penyihir segera beranjak dari tempatnya dan bergegas mengambil sarapan di ruang utama penginapan, meninggalkan Lilynette yang masih terdiam di tempatnya.
Saat tengah menyantap sarapannya, sang pemilik café—Cirucci Sanderwicci—menghampiri Ulquiorra dan bertanya, "Tuan Ulquiorra, apakah benar Anda ini seorang penyihir seperti yang didesas-desuskan oleh pengunjung café? "
"Orang-orang selalu menyebutku demikian, apakah ada sesuatu yang membuat mereka terganggu begitu tahu bahwa aku ini seorang penyihir?" Ulquiorra malah berbalik tanya pada Cirucci. Sementara itu raut wajahnya sedikit berkedut sejenak sebelum kembali datar dan tanpa ekspresi seperti biasa. Nampak sekali bahwa pemuda bermata hijau itu terganggu dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Cirucci.
"Bukan, bukan maksudku menyinggung perasaanmu, Tuan Ulquiorra!" elak Cirucci seraya mengibaskan kedua tangannya.
"Lalu, mengenai apa?" cecar Ulqui dengan tatapan penuh intimidasi.
Cirucci nampak sangat gugup dan mata ungunya bergerak liar ke sana-ke mari seolah-olah ada orang lain yang akan menguping pembicaraannya dengan Ulquiorra. Ulquiorra menghela napas panjang dan berkata, "Setelah aku selesaikan sarapanku, tolong carikan ruangan tertutup yang menurutmu aman. Jadi, kita bebas berbicara apa pun di sana. Namun satu hal yang perlu kau ingat, aku tidak bisa membantumu kalau permasalahannya adalah soal percintaan."
Cirucci terhenyak saat mendengar penuturan penyihir muda itu dan membelalakkan matanya. 'Lagi pula siapa juga yang mau curhat soal cinta sama kamu? Dasar Ge-eR!' rutuk Cirucci dalam hati.
Setelah Ulquiorra menyelesaikan sarapannya, penyihir muda itu segera mengikuti Cirucci ke suatu tempat. Ulquiorra meringis pelan saat tahu bahwa tempat yang dipilih oleh wanita berambut ungu bergelombang itu adalah ruangan yang cukup gelap dan pengap, karena hanya memiliki satu jendela kecil dan cahaya matahari yang masuk tidak cukup menerangi tempat itu.
"Call Agni!" ucap Ulqui seraya mengayunkan tongkat sihirnya dan segera muncul 3 makhluk kerdil yang seluruh tubuhnya diselimuti oleh api. Penyihir berambut sehitam malam itu segera memerintahkan ketiga makhluk api mungilnya untuk berdiri di setiap sudut ruangan agar kamar itu menjadi lebih terang dari pada sebelumnya.
"Kau memang hebat seperti yang kubayangkan, Tuan Ulquiorra!" puji Cirucci penuh kekaguman.
"Jangan banyak basa-basi, Cirucci-san! Sebaiknya katakan saja keperluanmu denganku!" sergah Ulquiorra tak sabar.
"Baiklah," Cirucci mengambil tempat duduk dan mulai menceritakan segalanya. Tentang kenapa di kota Menos ada larangan keluar dari rumah setelah malam tiba, tentang kenapa banyak orang yang menghilang tanpa jejak, dan ketakutan yang menyelubungi kota yang nampak asri dengan rerumputan segar dan pohon-pohon rindang di setiap sudutnya itu. Ulquiorra mendengarkan cerita Cirucci dengan seksama, dan selagi ia mendengarkan... ia menggenggam erat tongkat sihir yang di tangannya.
Nun jauh dari tempat Ulqui menginap, di suatu sudut kota Menos...
"Jadi, ada orang asing yang datang ke kota ini dan mencoba untuk menguak rahasianya, ya?" kata seorang pria berambut putih bermata semerah ruby dengan seringai licik terpampang di bibirnya.
"Benar, Tuan. Dan dia mencoba untuk menyelidiki misteri hilangnya orang-orang di kota ini," jawab wanita berambut hijau yang mengenakan cheongsam* ungu yang tengah berlutut dan memberi laporan pada pria berambut putih itu.
"Menarik! Persiapkan segala sesuatu untuk menyambutnya! Kita akan sedikit bermain-main dengannya!" tukas seorang pria tinggi besar yang berdiri di sebelah pria yang pertama. Dia memiliki wajah panjang dengan dagu yang sedikit lebar serta tulang pipi menonjol, rambut hitam yang memanjang sampai ke punggung bawah, dan mata coklat kemerahan dengan alis tipis. Pria itu menyeringai lebar seolah menemukan sesuatu yang menarik minatnya.
"Kalau begitu..."
"KITA SAMBUT DAN JAMU DIA! KITA BERIKAN PERTUNJUKAN YANG TERBAIK UNTUKNYA!"
$%^&* Bersambung*&^%$
A/N: *speechless* Well, ceritanya kini telah dimulai dan agak nyeleneh untuk sebuah pembukaan. Untuk yang meminta romance UlquiHime jangan khawatir karena saya akan menghadirkannya di dalam fic ini. Oke readers, bagaimana pendapat kalian untuk Chapter 1 ini? Anehkah? Mohon pendapatnya dan berikan saran kalian lewat Review. *nunduk dalem-dalem*
KETERANGAN * :
1. Nii-san : Kakak (untuk laki-laki)
2. Jokul Frosti : nama lain dari Jack Frost, sang roh musim dingin.
3. Jichan / Ojichan : Paman
4. Sluagh : roh penasaran yang kematiannya tak termaafkan, atau mereka melakukan dosa besar.
5. Arigatou gozaimashita, mahoutsukai : terima kasih, penyihir
6. Lagu Raggs Requiem yang dinyanyikan oleh Noria
7. Doushite : kenapa?
8. Iie nandemo arimasen : tidak ada apa-apa
9. Ohayou : Selamat pagi!
10. cheongsam : pakaian wanita khas China
Jikan Hold Me Closer, Sorcerer :
Charm Two : …And The Nightmare Arrive
"Aku tak berpikir bisa menolong kalian dalam keadaan menyedihkan seperti itu. Tapi jika kalian memang serius butuh bantuanku, aku akan menolong kalian," kata Ulquiorra dingin seraya mengacungkan tongkat sihirnya. Bersiap untuk menyerang para zombie yang haus darah.
.
"Apakah Nii-san akan kembali mengembara? Kenapa Nii-san tidak tinggal saja di kota ini?" tanya Lilynette sedih saat dilihatnya Ulqui hendak pergi dari penginapan itu.
"Karena aku harus mencari seseorang yang memberiku kutukan ini. Sampai saatnya tiba, aku harus membunuhnya!" jawab Ulquiorra dingin tanpa ekspresi. "Jangan khawatir, aku hanya ingin menolong penduduk kota ini. Aku tidak pergi kemana-mana, kok!" sambungnya dengan senyum tipis di bibir pink-nya
.
"Astagaaa, apa kalian ini tidak bosan berhadapan terus denganku? Sudah bosan hidup, yaa?" keluh sang penyihir pada sekelompok zombie di depannya.
(Tak ada gunanya jika kau memiliki kekuatan, tapi tak mempergunakannya dengan semestinya...)
