Disclaimer : Bleach bukan milik saya melainkan punya Tite Kubo sensei, saya hanya meminjam karakter-karakternya untuk kepentingan pembuatan fic ini. Setelah itu saya kembalikan ke pemilik asalnya.
Note : AU, maybe OOC, and rate T untuk bahasa kasar. (Rate sewaktu-waktu bisa berubah sesuai kondisi)
Pairing : UlquiHime, HitsuHina (jika waktunya tiba)
Okey, HMCS sudah di update! Semoga chapter kedua ini cukup memuaskan para pembaca sekalian. Selamat membaca ya! Don't Forget to Review!
#
Hold Me Closer, Sorcerer
~Petualangan yang menyangkut hidup-mati Sang Penyihir~
#
(Do you believe in magic?)
#
Story by Mayura Marie Sonozaki
#
#
Charm Two : And The Nightmare Arrive
~Nikmatilah mimpi buruk dan neraka penderitaanmu~
#
#
Ulquiorra melangkah keluar penginapan tanpa suara. Rasa kesal dan juga marah yang menggumpal di dadanya serasa nyaris meledak saat itu juga, dan pemuda penyihir berkulit pucat itu harus berusaha menahan dirinya agar tidak melampiaskannya dengan cara membakar atau menghancurkan sesuatu menggunakan kekuatannya. Alisnya saling bertaut. Bingung. Bagaimana caranya agar dia bisa menolong para penduduk kota dari fenomena aneh ini?
Ulquiorra paham betul kalau mereka terlalu takut untuk berbicara yang sebenarnya pada orang lain, tapi kalau begini justru membuatnya kesusahan. Ulquiorra pun menghela napas panjang. Berpikir keras. Berusaha mencerna perkataan Cirucci tadi pagi.
'Kota ini tadinya aman, damai, dan tentram. Para penduduknya pun kadang bersantai-santai di luar rumah tanpa perlu khawatir, karena kota ini agak jauh dari hutan lebat yang penuh dengan binatang buas. Para gelandangan dan pemabuk pun kadang bisa berada di setiap sudut kota tanpa terusik oleh rutinitas harian kami,' Cirucci berhenti sejenak dan mengatur napasnya sebelum kembali melanjutkan ceritanya. 'Mulanya kami merasa heran saat para gelandangan dan pemabuk yang biasanya berada di sudut kota menghilang saat malam tiba. Kami berpikir, mungkin mereka telah bosan dengan kota ini dan mencari kehidupan baru di kota lain. Namun saat kejadian itu semakin sering menimpa orang-orang yang berkeliaran di luar rumah kala malam tiba, mau tak mau hal itu membuat kami semakin takut dan tak heran kalau banyak di antara kami memilih untuk meninggalkan kota ini dan mencari kota lain yang lebih aman.'
'Sepertinya ini ada hubungannya dengan roh gentayangan yang waktu itu, ya?' gumam Ulquiorra tanpa sadar.
'Eh?!'
'Ah, tidak. Aku hanya berpikir mungkin ada dalang dari semua fenomena aneh ini. Apakah kau juga berpikir sama denganku, Cirucci-san?' tanya Ulquiorra pada Cirucci, berusaha mengalihkan Cirucci agar tidak bertanya lebih lanjut dengan apa yang dilihat olehnya semalam.
Wanita yang memakai jepit berbentuk matahari berwarna putih di sisi kiri kepalanya itu menggelengkan kepalanya perlahan dan berujar pada Ulquiorra, 'Entahlah. Kami tak pernah memikirkan sampai sejauh itu, Tuan Ulquiorra.'
Susah juga, ya? ucap Ulquiorra dalam hati.
'Tapi, jika kecurigaan kami selama ini benar... kemungkinan ada orang-orang yang sengaja menculik penduduk kota ini untuk kepentingan tertentu. Ada desas-desus beredar bahwa mereka dibawa ke laboratorium somatologi untuk dijadikan percobaan. Entah kabar itu benar atau tidak, kami tidak tahu. Yang jelas, kami tidak punya kekuatan untuk melawan penyebab semua ini,' kata Cirucci putus asa. Mata ungunya nampak meredup, seolah sinar kehidupan dan semangat yang ada di dalamnya sudah lenyap tak bersisa.
Ulquiorra termenung selama beberapa saat di tempatnya berdiri. Tak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menghibur wanita itu karena dirinya tak pandai menghibur seseorang. Akhirnya dia hanya bisa menepuk pundak Cirucci untuk menenangkannya.
Merasa Ulquiorra bersedia menolong mereka, Cirucci langsung meminta pemuda itu agar mencarikan jalan keluar bagi mereka. Mata Cirucci yang semula kehilangan harapan, mulai bersinar lagi. Diminta mendadak begitu oleh wanita yang lebih tua darinya membuat Ulquiorra bingung hendak menjawab apa.
Akhirnya ia memutuskan untuk menenangkan wanita itu kembali dan berkata, 'Aku usahakan untuk menolong kalian sebisaku. Aku pasti akan menemukan penduduk kota dan memulangkannya ke rumah masing-masing. Cirucci-san tenang saja.'
Mengingat semua itu membuat Ulquiorra menghela napas lagi. Oke, dia memang berjanji untuk menolong penduduk kota Menos ini dan memulangkannya ke rumah masing-masing. Tapi, laboratorium somatologi yang disebut-sebut oleh Cirucci itu letaknya di mana? Bodohnya, Ulquiorra tak sempat menanyakan hal itu pada wanita berambut ungu itu.
'Bagus, Ulquiorra! Gara-gara kau sesumbar di depan wanita itu, kini kau sendiri yang kesusahan. Benar-benar dungu,' makinya dalam hati.
Apanya yang tenang saja? Memangnya dengan mondar-mandir seperti sekarang ini akan ada hasilnya? Ulquiorra menggerutu pelan dalam hati. Kalau saja ayahnya masih hidup, tentunya ia akan ditertawakan habis-habisan karena ia terlalu ceroboh.
'Tenang. Tenanglah, Ulquiorra Schiffer! Kau telah berjanji pada wanita itu untuk menolong penduduk kota ini, kan? Seorang pria sejati nggak boleh menarik kata-katanya, lho,' Ulquiorra berusaha menenangkan batinnya.
Ulquiorra mulai merangkai potongan demi potongan misteri yang ada di kota ini. Mulai dari rumor zombie, orang-orang yang menghilang kala malam tiba, roh gentayangan, laboratorium somatologi... Ah, kata kunci yang baru itu membuat alis pemuda bersurai ebony itu bertaut saking bingungnya. Bagaimana mungkin sebuah laboratorium yang fungsinya untuk meneliti sel itu menjadi alasan untuk tidak mengembalikan para penduduk kota, jika yang mereka butuhkan hanyalah sampel darah dari orang-orang itu? Apa mungkin mereka melakukan sesuatu yang lebih gawat dari mengambil sampel darah? Percobaan terlarang macam apa yang mereka lakukan di sana?
Saat sedang mencari jawaban dari semua teka-teki itu, telinga Ulquiorra yang sensitif menangkap adanya suara mencurigakan dari orang yang tengah mendekatinya. Tanpa basa-basi, pemuda bermanik hijau itu langsung mengayunkan tongkatnya dan berseru, "Rope Snake!"
Ular yang dimunculkan oleh Ulquiorra langsung mengikat orang asing tersebut dan membuat suara berdebam karena orang itu jatuh ke tanah yang keras. Bola mata Ulqui melebar saat melihat orang yang terikat sihirnya barusan adalah pria setengah baya berambut coklat gelap sebahu dan bertubuh sedikit lebih tinggi darinya. Pria itu menggerutu pelan karena tubuhnya tiba-tiba saja diikat dengan tali ular.
"Gomennasai*, Ojichan! Kukira Anda mau menyergapku, jadi..." ucap Ulqui panik seraya membantu lelaki itu untuk berdiri—setelah melepas sihir pengikatnya tentu.
"Tidak apa-apa. Salahku juga sudah mengagetkan Anda, Tuan Penyihir," kata lelaki bermanik abu-abu kebiruan itu santai.
Pemuda setinggi 169 cm itu membantu lelaki berambut agak ikal itu untuk membersihkan pakaiannya dari tanah yang menempel akibat terjatuh tadi. Pria setinggi 187 cm itu mengucapkan terima kasih pada Ulqui dan bertanya kenapa penyihir muda seperti Ulquiorra berkunjung ke kota Menos padahal situasinya sedang tidak aman untuk pendatang seperti Ulquiorra.
"Namaku Coyote Starrk," ucap lelaki bersurai coklat gelap itu di akhir pertanyaannya pada Ulquiorra. "Dan Anda berada dalam bahaya sekarang."
"Bahaya apa, Starrk-san?" tanya Ulquiorra tidak mengerti.
Starrk tidak segera menjawab, kedua bola matanya bergerak-gerak gelisah seakan ada yang menguping pembicaraannya dengan pemuda penyihir berkulit pucat yang sedang berada di hadapannya. Ulquiorra menaik-turunkan alisnya tak paham, dan tanpa peringatan sebelumnya... tangan Ulquiorra telah ditarik oleh Starrk menjauh dari tempat itu.
Setelah dirasa berada di tempat yang aman, Starrk berhenti dan melepas genggamannya dari tangan kurus Ulquiorra. Starrk meminta maaf pada pemuda kurus itu dengan panik. Ulqui memaklumi kepanikan Starrk dan bertanya pada pria separuh baya itu.
"Sebenarnya apa yang ingin Anda katakan, Starrk-san? Apakah ada hubungannya dengan para penduduk kota yang hilang?"
"Me, mereka itu setan! Iblis! Mereka ingin membuat kami jadi kelinci percobaan di tempat laknat itu! Mereka—"
"Tenanglah, Starrk-san. Bicaralah dengan jelas dan tidak terburu-buru. Kalau panik seperti ini, saya tidak paham dengan apa yang Anda katakan," kata Ulqui mencoba menenangkan pria berambut ikal itu.
Mata abu-abu kebiruan lelaki itu lagi-lagi bergerak liar. Khawatir akan ada yang mendengar pembicaraannya dengan Ulquiorra. Sementara itu penyihir berwajah melankolis itu kebingungan, tak paham dengan sikap paranoid Starrk yang tidak beralasan—ralat—sebenarnya cukup beralasan, mengingat situasi kota yang sangat berbahaya untuk saat ini.
Baru saja Starrk akan membuka mulut, tiba-tiba segerombolan gagak terbang melintasi tempat itu dengan panik, seolah menghindari sesuatu yang membahayakan bagi keberlangsungan hidup mereka. Indera Ulquiorra yang sensitif menangkap adanya aura aneh tengah mendekati mereka, dan hidungnya mencium bau busuk yang meruap di udara.
Pemuda penyihir itu meminta Starrk untuk berlindung di belakangnya. Sementara tangan kirinya tetap mengacungkan tongkat sihirnya lurus ke depan. Kedua matanya menatap waspada ke arah datangnya bau busuk tersebut, dan terbelalak kaget saat melihat segerombolan zombie tengah berjalan gontai ke arahnya.
Mata para zombie itu merah seperti darah, dan nampak sangat buas. Starrk menggenggam erat jubah hitam yang dikenakan oleh Ulquiorra dan gemetaran saking takutnya. Ulquiorra bergerak mundur perlahan, masih dengan tangan menghunuskan tongkatnya.
'Tolong!'
"Eh?" desis Ulquiorra kaget. Ia mencoba memastikan apakah barusan ia salah dengar? Tak mungkin mayat hidup itu berbicara padanya, kan?
'Tolong kami!'
'Sakit!'
'Sesak!'
'Panas!'
'Siapa pun kau, tolonglah kami!'
Suara itu terdengar makin jelas, namun anehnya hanya Ulquiorra saja yang bisa mendengarnya. Saat Ulquiorra menatap ke arah zombie-zombie itu, nampaklah bahwa roh mereka yang masih terikat dengan tubuh yang sudah mati itu menderita, dan meminta pertolongan. Ulquiorra geram dengan siapa pun yang berani mempergunakan sihir dengan seenaknya pada manusia dan memperlakukan mereka layaknya mainan. Ulquiorra bersumpah akan membuat perhitungan pada mereka yang telah membuat para penduduk kota Menos ini menderita.
"Aku tak berpikir bisa menolong kalian dalam keadaan menyedihkan seperti itu. Tapi jika kalian memang serius butuh bantuanku, aku akan menolong kalian," kata Ulquiorra dingin, masih dengan tongkat sihir teracung ke depan. Bersiap untuk menyerang para zombie yang haus darah. Tidak, mungkin lebih tepatnya zombie yang dikendalikan oleh seseorang untuk menyerang mereka.
Manik emerald Ulquiorra teralih pada Starrk yang ada di belakangnya, dan berkata, "Starrk-san, tetaplah di sini."
"Eh, tapi?"
"Tenang saja," ucap Ulquiorra datar.
Tangan kanannya meremukkan batu permata berwarna kuning dan berseru lantang, "Land Protector!"
Segera saja muncul perisai tipis berbentuk persegi di sekitar Starrk. Ulquiorra berbalik dan segera menghambur ke arah kawanan zombie itu.
"Frost Diver!" seru Ulquiorra seraya meluncurkan sinar biru dari ujung tongkatnya dan membekukan setiap zombie yang terkena serangannya.
Seluruh zombie itu terhenti gerakannya sementara waktu oleh jurus es milik Ulquiorra. Pemuda penyihir itu melompat tinggi ke udara dan mendarat tepat di tengah kawanan mayat hidup itu.
"Tidurlah kalian semua dalam keabadian, wahai orang mati. Semoga arwah kalian semua tenang di alam sana," ucap Ulquiorra tanpa ekspresi. "Extreme Vacuum."
Setelah Ulquiorra mengatakan demikian, muncullah tornado di udara dan menyerang semua zombie yang ada di area tersebut. Kawanan zombie yang masih terkurung dalam es itu pun hancur berantakan diterjang tornado yang diciptakan oleh Ulquiorra dengan sihirnya. Setelah badai reda, dari langit turunlah serpihan-serpihan kristal salju berwarna merah.
Ulquiorra menatap hampa kristal es itu. Sayup-sayup telinganya mendengar suara lembut yang mengucapkan terima kasih padanya.
"Tidak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya tak rela jika jiwa kalian dipermainkan seperti itu oleh orang keji yang bersembunyi seperti tikus kotor," ucap Ulquiorra getir.
Starrk yang masih terpaku dengan semua yang terjadi di depan matanya, masih terpesona dengan fenomena alam yang diciptakan oleh Ulquiorra. Setelah menghilangkan tabir pelindung yang menyelimuti Starrk, Ulquiorra mengulang pertanyaannya mengenai para penduduk kota yang menghilang serta kaitannya dengan zombie yang muncul barusan.
Starrk yang nampak lelah dengan semua yang dia alami selama ini, mengajak Ulquiorra untuk ikut bersamanya dan pemuda bersurai hitam itu mengikuti ke mana Starrk pergi. Mereka tidak menyadari bahwa ada beberapa pasang mata tengah mengintai mereka dari kejauhan.
"Jadi, begitu? Anda berhasil melarikan diri dari laboratorium itu sebelum mereka menjadikan Anda kelinci percobaan berikutnya?" tanya Ulquiorra sesaat setelah Starrk selesai bercerita dengan keringat dingin memenuhi dahinya.
"Benar, Tuan Ulquiorra. Mereka biadab sekali! Setelah mereka menculik kami, mereka mengurung kami dalam penjara kaca! Lalu kami dibiarkan di dalamnya selama berhari-hari, menyaksikan teman-teman kami dijadikan objek penelitian," Starrk berhenti sejenak, mengatur napas, dan kembali melanjutkan ceritanya. "Mereka mengambil sampel darah kami. Lalu mereka mengkulturkannya dengan alat-alat aneh yang kami tidak tahu namanya, dan mereka memasukkan serum darah tersebut ke tubuh kami. Bagi mereka yang bertahan, mereka akan dibawa ke suatu tempat yang jauh dari tempat kami disekap. Namun bagi kami yang tak mampu bertahan, maka tubuh kami akan berakhir di tempat pembuangan!"
Selagi bercerita, Ulquiorra memperhatikan bahwa tubuh Starrk gemetar hebat. Sejujurnya dia curiga, bagaimana bisa pria ini melarikan diri dari tempat gelap itu seorang diri sementara teman-temannya masih terkurung di dalam sana, dan menantikan pertolongan datang dengan harapan yang hampir musnah.
"Starrk-san, ada yang mau kutanyakan padamu. Bagaimana caramu melarikan diri dari laboratorium itu? Katamu tidak ada seorang pun yang bisa melarikan diri dari sana. Apa kau tidak menyembunyikan seseuatu dariku?" tanya Ulquiorra datar dengan aura dingin yang tajam menusuk menguar di udara. Membuat Starrk semakin ketakutan karenanya.
"Tidak, aku tak menyembunyikan apa pun dari Anda, Tuan Ulquiorra!" jawab Starrk dengan terbata.
"Benarkah?" cecar Ulquiorra menuntut kebenaran.
Starrk tak mampu menjawab dan hanya menundukkan kepalanya. Ketika Ulquiorra ingin mengorek keterangan lebih lanjut dari lelaki setengah baya itu, tiba-tiba ia merasakan kehadiran seseorang dan membuat pemuda itu memasang sikap waspada. Ulquiorra segera merapalkan mantera yang menurut Starrk terdengar cukup aneh.
Let me stay awake and await
searching the blanket of space where the moon hides
Lunarcry, lunarcry
So if you feel tired
You can rest your eyes right now
Lay down on your bed and blow the candle
I will stay here for you
For you 'till the night's leaving
"Anoo, Tuan Ulquiorra, Anda sedang apa?" tanya Starrk heran.
Ulquiorra tak segera menjawab, dia malah membuka pintu ruangan tersebut dan menemukan pria berambut pirang dan wanita berambut hijau yang berdiri mematung di depan pintu rumah tempat ia dan Starrk berbincang-bincang. Pemuda stoic itu menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan dan berkata.
"Rupanya kita kedatangan tamu, ya? Rope Snake!"
Dalam sekejap, ular tali yang diciptakan oleh Ulquiorra langsung mengikat para tamu. Kini pria yang mengaku bernama Mabashi dan wanita yang mengaku bernama Yoshi itu terikat di kursi. Raut wajah mereka nampak kecut karena gagal menyergap Ulquiorra secara diam-diam.
"Nah," Ulquiorra membuka percakapan setelah terdiam cukup lama. "Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan pada kalian, dan harus dijawab jujur karena ini menyangkut hidup-mati kalian."
Mabashi menggerutu pelan dan berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan ular Ulquiorra. Ulquiorra kembali menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata.
"Percuma saja. Semakin kau berusaha melepaskan diri, belitannya akan semakin kencang. Lagi pula kalian saat ini masih dalam pengaruh mantera 'Poem of the Netherworld'-ku. Tak ada pilihan lain kecuali duduk manis dan menjawab pertanyaanku."
"Cih, jangan mimpi kau f***er wizard! Apa pun yang akan kau tanyakan, tak akan kami jawab!" balas Mabashi tajam dengan tatapan penuh kebencian.
Ulquiorra tak menunjukkan ekspresi apa pun di wajahnya. Dia mendekati pria bermanik biru itu dan tanpa aba-aba langsung menampar keras pipi Mabashi. Yoshi yang terikat di sebelah Mabashi terperangah kaget. Ia tak menduga kalau sang penyihir yang terlihat lembut itu bisa bersikap demikian. Ulquiorra menyadari ekspresi kekagetan Yoshi dan berkata dengan getir.
"Aku tak pernah melakukan hal itu pada siapa pun, karena itu bertentangan dengan prinsipku untuk selalu bersikap tenang. Tapi sikap rekanmu yang lebih rendah dari budak ini membuatku kehilangan rasa kasihan. Jika kalian tidak ingin mati, sebaiknya jawab saja pertanyaanku," Ulquiorra berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. "Apa yang kalian lakukan dengan penduduk kota ini? Kenapa kalian tak mau mengembalikan mereka ke rumahnya masing-masing?"
"Bukan urusanmu, b***h!" sergah Mabashi yang langsung disambut tendangan gratis dari Ulquiorra tepat di wajahnya.
"Bicaralah dengan bahasa yang sopan. Bagaimana kalau ada anak kecil yang mendengar? Kau ini tak tahu etika, ya?" Ulquiorra memperingatkan dengan tegas pada pemuda yang mengenakan choker merah di lehernya itu.
Mabashi meludahkan darah di mulutnya dan kembali menggerutu. Ulquiorra membuang napas cepat dan menoleh pada Starrk seraya berkata, "Starrk-san, sepertinya percuma saja menginterogasi dua orang ini. Mereka sama sekali tidak mau membuka mulut soal penduduk kota yang hilang."
"La, lalu apa yang harus kita lakukan, Tuan Ulquiorra?" Starrk meringis. Dia tak tahu apa yang harus diperbuatnya sekarang untuk menebus kesalahannya.
Ulquiorra memejamkan kedua bola matanya perlahan, menggenggam erat tongkat sihirnya, dan tanpa berkata apa-apa, dia langsung bergegas meninggalkan ruangan itu.
"Tu, Tuan Ulquiorra!"
"Jangan khawatir, Starrk-san. Aku pasti akan menemukan mereka semua dan mengembalikannya ke keluarga masing-masing," ujar Ulquiorra datar. Emerald-nya teralih pada Starrk dan melanjutkan ucapannya, "Mengenai mereka, Anda juga tak perlu khawatir. Ikatan Rope Snake sulit untuk dilepas, dan kalau pun mereka berhasil membebaskan diri... aku sudah memasang segel sihir di sekitarnya agar mereka tak bisa kabur."
'Se, seram!' batin Starrk ketakutan.
Ulquiorra melangkahkan kakinya keluar rumah Starrk. Dia sudah memantapkan hatinya untuk mencari segala informasi yang berkaitan dengan penduduk kota Menos yang menghilang.
Ulquiorra memeriksa setiap jengkal kota Menos yang nampak damai dan masih penuh dengan berbagai rumput yang indah dan juga pohon-pohon yang rindang. Pemuda penyihir itu juga mengunjungi pusat perbelanjaan, rumah-rumah penduduk lainnya, dan bahkan ke taman-taman kecil.
Namun semua usahanya itu nihil. Penduduk kota yang ditemuinya saat sedang mencari info, enggan memberikan penjelasan mengenai lokasi laboratorium somatologi. Sepertinya nama tempat itu tabu untuk diucapkan di kota ini. Tapi, Ulquiorra bukanlah tipe pemuda yang gampang patah arang. Dia berusaha untuk mencari lokasi tempat percobaan terlarang itu.
Penyihir bertubuh ramping itu menghela napas sejenak, lalu memejamkan matanya perlahan seraya berucap, "Dryad* dari pohon akasia, datanglah. Aku, Ulquiorra, memanggilmu…"
Tiba–tiba salah satu semak di sebelahnya bersinar keperakkan. Lalu seorang wanita cantik yang tubuhnya dibalut gaun yang terbuat dari dedaunan, keluar dari dalamnya dengan langkah yang anggun, dan lalu membungkuk hormat pada Ulquiorra. Ulquiorra membalas salam wanita berambut hijau gelap panjang itu, dan berujar padanya.
"Cyan Sung Sun, teman lamaku. Aku ingin meminta tolong padamu untuk mencari bangunan yang disebut-sebut oleh Starrk-san dan Cirucci-san sebagai 'Laboratorium Somatologi'. Jika kau sudah dapat hasilnya, segera berikan kabar padaku."
Gadis dryad yang dipanggil Sung Sun itu menganggukkan kepalanya perlahan dan segera bergegas untuk melaksanakan tugas dari Ulquiorra. Ulquiorra menantikan kembalinya dryad bermata merah muda itu sambil tetap waspada dengan sekitarnya, kalau-kalau ada yang bermaksud menyergapnya seperti beberapa hari yang lalu.
Ulquiorra tak mau dirinya ikut menjadi kelinci percobaan ilmuwan-ilmuwan sialan itu di laboratorium laknat itu. Karena itu, dia tak akan membiarkan dirinya ditangkap semudah itu oleh pesuruh seseorang yang berada di balik semua peristiwa ini. Namun, di sudut hatinya dia beranggapan bahwa orang yang berada di balik semua peristiwa aneh yang terjadi di kota Menos ini masih ada hubungan dengan orang yang dicarinya.
Ulquiorra masih ingat dengan jelas bahwa penyihir kejam yang ia cari-cari itu memiliki ciri berambut shaggy warna coklat gelap, bermata turquoise yang di sekelilingnya terdapat tanda berwarna ungu yang berbentuk seperti tsuba* dan selalu mengenakan jubah putih dengan kerah bulu. Pemuda setinggi 169 cm itu mengatupkan rahangnya keras dan menggeram pelan. Nampaknya ia sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh orang itu. Tangan kanannya mencengkeram erat dada kirinya, dan meringis pelan. Nampaknya ia tengah menahan rasa sakit yang amat sangat dari sana.
'Gawat! Kenapa di saat seperti ini?' gerutunya dalam hati. 'Waktuku tidak banyak tersisa, ya? Sampai kapan aku harus mengalami ini?'
"Tuan Ulquiorra," suara lembut wanita mengejutkan Ulquiorra dan membuat pemuda itu langsung menoleh ke arahnya. "Anda nampak tidak sehat? Apakah Anda baik-baik saja?" tanya wanita bersurai hijau gelap itu cemas.
Ulquiorra segera memasang tampang stoic-nya yang biasa dan berkata pelan, "Aku baik-baik saja, Sung Sun. Kau tak perlu khawatir."
"Benarkah?"
"Sungguh," ucap Ulquiorra mencoba meyakinkan dryad bermanik merah muda yang ada di depannya. "Dari pada itu, aku ingin kau melaporkan hasil penyelidikanmu padaku, Sung Sun," perintahnya masih dengan nada datar.
"Baik," Sung Sun menganggukkan kepalanya perlahan dan mulai menjelaskan apa yang ia lihat dan apa yang ia temukan dalam penyelidikannya.
Selagi mendengarkan, tangan Ulquiorra menggenggam erat tongkat sihir yang ada di tangannya. Mencoba menenangkan dirinya dari perasaan marah dan benci yang makin lama makin membuncah. Ia harus melupakan sejenak dendamnya dan harus fokus pada misinya kali ini di kota Menos.
"Berhati-hatilah saat Tuan memasuki laboratorium itu. Salah langkah, maka nasib Tuan akan sama seperti orang-orang malang itu," Sung Sun memperingatkan Ulquiorra di akhir penjelasannya.
"Terima kasih atas perhatianmu, Sung Sun. Akan aku ingat," kata Ulquiorra.
"Satu lagi, Tuan Ulquiorra…" Sung Sun menambahkan sebelum ia kembali ke dalam pohon akasia. "Ruangan itu dipasangi rapalan anti magis, semua serangan sihir Tuan tak akan berpengaruh pada peralatan percobaan yang ada di ruangan itu."
"Aku mengerti Sung Sun. Tenang saja, aku akan segera membuat sesuatu yang bisa mengatasi perangkap anti magis itu," sahut Ulquiorra tetap tenang.
"Kudoakan semoga Tuan berhasil," itulah ucapan yang Ulquiorra terakhir dengar dari gadis peri pohon itu sebelum masuk ke dalam pohon akasia.
Ulquiorra masih terdiam di tempatnya selama beberapa saat, sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu dan kembali ke penginapan untuk mempersiapkan apa-apa yang diperlukannya saat memasuki laboratorium somatologi. Ia berdoa dalam hati semoga usahanya dalam menyelamatkan penduduk kota berhasil dengan baik.
"Nii-san kemana saja dalam 4 hari ini?! Aku dan Cirucci-basan* khawatir sekali tahu!" omelan Lilynette menyambut Ulquiorra saat ia berada di depan pintu masuk penginapan.
"Maaf," ucap Ulquiorra tanpa ekspresi. "Ada beberapa hal yang harus kukerjakan di luar sana, makanya aku pulang terlambat."
"Ya, sudah kalau begitu," Lilynette menghela napas. "Maaf juga sudah memarahi Nii-san, padahal Nii-san baru saja pulang."
"Tak apa, aku paham kok, Lily," sahut Ulqui santai.
Ulquiorra segera begegas menuju kamarnya dan mengganti pakaian serba hitamnya dengan seragam wizard-nya. Seragam yang seharusnya tak ia kenakan, karena dirinya bukanlah seorang wizard. Tapi demi menyembunyikan identitas aslinya, ia harus tetap mengenakannya. Setelah selesai berpakaian, ia menyiapkan beberapa ramuan dan juga senjata tajam untuk berjaga-jaga.
Saat membuka pintu kamarnya, Ulquiorra kembali dikejutkan oleh Lily dan Cirucci yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah cemas.
"Lily? Cirucci-san? Kenapa kalian berdua di sini?" tanya Ulquiorra heran.
"Apakah Nii-san akan kembali mengembara? Kenapa Nii-san tidak tinggal saja di kota ini?" tanya Lilynette sedih saat dilihatnya penampilan Ulquiorra yang nampak seperti orang hendak bertualang lagi.
Ulquiorra menghela napas dan berjongkok sedikit agar tingginya menyamai gadis kecil itu. Tangan kirinya membelai lembut rambut gadis bermata merah muda terang itu dan berkata, "Karena aku harus mencari seseorang yang memberiku kutukan ini. Sampai saatnya tiba, aku harus membunuhnya." Mendengar itu tentu saja membuat Lilynette semakin khawatir, Ulquiorra tersenyum tipis. "Tenang saja, aku hanya pergi sebentar untuk menolong penduduk kota ini. Aku tidak akan pergi kemana-mana."
Lilynette sebenarnya masih khawatir dengan keselamatan Ulquiorra, tapi karena pemuda berbibir tipis itu sudah berkata demikian… Lilynette merasa sedikit lega.
Ulquiorra mengencangkan pengikat cape-nya, dan mengenakan sarung tangannya. Mata zamrudnya teralih pada Lilynette dan Cirucci yang masih membatu di tempatnya.
"Aku pasti kembali dengan selamat. Tenang saja," ucap Ulquiorra mencoba meyakinkan kedua wanita yang berbeda usia itu.
Setelah berkata demikian, Ulquiorra berangkat menuju tempat terkutuk yang disebut-sebut sebagai laboratorium somatologi...
Perlahan, penyihir berwajah melankolis itu melangkahkan kakinya ke laboratorium terlarang yang sebelumnya sudah ditunjukkan oleh Sung Sun. Ia menggenggam erat tongkat sihir di tangannya, dan tetap waspada. Tentunya ia tak mau mengambil resiko tertangkap oleh anak buah ilmuwan-ilmuwan sinting yang konon katanya mengadakan percobaan tidak manusiawi di dalam lab sialan ini, kan?
Mengingat hal itu, Ulquiorra menghela napas panjang. Ia tak paham alasan para ilmuwan sakit jiwa itu melakukan tindakan sadis macam mengumpulkan sampel darah para pengembara yang tersesat di kota Menos dan penduduk kota yang berkeliaran di malam hari. Mengumpulkan DNA mereka, menguji ketahanan tubuh mereka dengan serum darah yang sebelumnya dikulturkan oleh ilmuwan sarap itu, dan lain sebagainya.
Namun ada sesuatu yang penyihir muda itu tidak ketahui. Sung Sun sengaja tidak memberitahukannya agar Ulquiorra melihatnya sendiri. Itu adalah… ada percobaan lain yang tak kalah gila tengah berlangsung di dalam laboratorium itu. Pembuatan batu filosofi.
Sunyi.
Ulquiorra mengedarkan pandangannya ke sekeliling lab itu, dan tak menemukan siapa pun di sana. Namun Ulqui pantang menyerah, dia terus mencari ke dalam lab itu.
"Ayah, berilah anakmu ini kekuatan," gumamnya pelan.
Ulquiorra berusaha keras agar keberadaannya tidak diketahui para ilmuwan di lab ini. Dan, keberuntungannya habis, ketika seorang penjaga memergokinya tengah mengendap-endap di laboratorium terlarang ini.
"Kau, sedang apa?"
"Mencari temanku, Pak," ucap Ulqui berbohong. Padahal sudah jelas di lab ini tak ada satu pun yang ia kenal. Pria penjaga tersebut memilin janggutnya dan tersenyum, namun terlihat bahwa ada yang salah dengan senyumnya.
"Ikutlah denganku. Aku tahu di mana mereka."
Pemuda penyihir itu membuntuti penjaga tersebut dan melewati beberapa ruangan. Di antara ruangan yang dilewati Ulqui dan sang penjaga, Ulquiorra melihat para pengembara dan juga penduduk kota tengah menjerit-jerit memohon pertolongan. Ulquiorra sempat bergidik ngeri melihatnya. Membayangkan dirinya menjadi salah satu dari mereka, membuatnya meringis dalam hati.
'Tenanglah Ulquiorra Schiffer!' Ulquiorra berusaha menenangkan dirinya sendiri. 'Bukankah kau sendiri yang memutuskan untuk memasuki tempat ini? Tabahlah dan berpura-pura tidak tahu dengan apa yang kau lihat saat ini!'
Setelah mereka berputar-putar mengelilingi lantai satu, sang penjaga membawa pemuda albino ini ke lantai dua. Beberapa ilmuwan sibuk mencatat sesuatu yang tidak Ulquiorra mengerti di atas papan jalan mereka. Terkadang, ilmuwan-ilmuwan tersebut melayangkan pandangan mereka kepada Ulquiorra. Ulquiorra berpura-pura tidak melihat apa yang para ilmuwan itu kerjakan.
"Kita sudah sampai. Nah, di sanalah teman-temanmu."
Ulquiorra segera menghampiri sebuah ruangan kaca yang cukup luas. Dengan jelas ia mampu melihat sesosok gadis berambut orange kecoklatan yang mengenakan pakaian biarawati tengah terduduk sambil terisak, dan seorang gadis berambut pendek yang terlihat lelah untuk menenangkan sang Cleric*. Di sebelah gadis-gadis itu, ada sepasang suami-istri yang masih tampak muda tengah berpelukan. Sang suami yang berambut pirang panjang mencoba menenangkan sang istri yang berambut hitam berkuncir dua yang masih menangis ketakutan dalam pelukannya.
Khawatir hal buruk akan terjadi pada mereka semua, Ulquiorra memegang dinding kaca itu dan berkata,
"Tenanglah! Aku datang kemari untuk menolong kalian semua."
Ulquiorra berusaha keras untuk membuka gerendel yang mengunci pintu ruang kaca tersebut, namun tidak ada hasilnya.
"Kau takkan bisa membukanya, anak muda."
"Sial!"
Ulquiorra mencoba menggunakan sihirnya untuk membuka gerendelnya. Percobaannya berhasil, dan ia membuka pintu ruangan kaca itu. Bermaksud untuk mengeluarkan mereka semua dari laboratorium laknat ini.
CTAK
Kontan, mereka semua dapat mendengar suara jentikan jari seseorang. Lebih tepatnya, suara jentikan jari yang dihasilkan oleh sang penjaga. Para ilmuwan gila yang berdiri di belakang pria berjanggut tersebut segera menatap Ulquiorra, si gadis Cleric, gadis berambut hitam pendek di sebelahnya, pria pirang itu, dan wanita berkuncir dengan tatapan liar.
"Percobaan baru…"
"Pasti menyenangkan…"
"Tuan Kariya dan Tuan Juha Bach akan menyukainya…"
Desis semacam ini dapat didengar jelas oleh Ulquiorra.
"Begitu? Kalian… Akan menjadikan kami percobaan selanjutnya?" tanya Ulquiorra dengan nada sedikit menantang. "Kutegaskan saja, kalian takkan bisa," ucap Ulquiorra tanpa ekspresi. Ia mengacungkan tongkat miliknya dan melancarkan sihir esnya, Frost Wave.
Secara cepat, sebuah dinding tipis berwarna biru mengelilingi para ilmuwan.
"Barrier?"
Serangan yang dilancarkan oleh Ulquiorra tentu saja tidak mampu untuk menembus dinding pelindung tersebut. Salah seorang ilmuwan gila menekan tombol berwarna merah yang tengah ia genggam, dan sejurus kemudian ruangan kaca yang ditempati oleh keempat orang itu terbuka.
Ulquiorra masih tidak mau menyerah, ia mengeluarkan pisau belatinya, dan kembali melawan para ilmuwan dan penjaga gila ini dari rasa haus mereka akan penelitian yang tidak manusiawi.
"Jangan sampai kalah, Tuan Penyihir!" si gadis Cleric menyemangati Ulquiorra. Pria tersebut mendengar dukungan dari sang gadis, dan tersenyum untuknya.
Ulquiorra menyerang para ilmuwan dan sang penjaga dengan bertubi-tubi, namun gagal. Ketika telah lelah, dengan mudahnya sang penjaga mendorongnya, memasuki ruangan kaca yang dingin ini.
Tawa para ilmuwan membahana ke seantero lantai.
"Mereka semua sakit jiwa! Apa mereka pikir kita ini binatang, bisa diperlakukan seenaknya?!" teriak pria berambut pirang panjang—yang memperkenalkan dirinya pada Ulquiorra sebagai Yylfordt Granz—marah. Tak terima jika dia, istrinya—yang bernama Loly, dan teman-temannya jadi korban.
"Kita harus bisa lari dari sini sebelum kita semua dijadikan percobaan," ucap Loly dengan bibir bergetar menahan amarah yang hendak membuncah.
"Bagaimana kalian bisa berada di tempat ini?" tanya Ulquiorra.
"Ulquiorra-san… Mereka membawa kami dengan paksa ke laboratorium ini… Aku sungguh takut… Bahkan, Tatsuki dan Yylfordt-sama pun tidak mampu mengalahkan ilmuwan-ilmuwan tersebut untuk mengeluarkanku dan Loly-san dari ruangan kaca ini…" jawab si gadis Cleric—Orihime Inoue, di sela-sela isak tangisnya yang terdengar memilukan.
Ulquiora ingin menghentikan tangisan Orihime, namun ia sadar dirinya tak pandai menghibur. Pemuda dingin itu memberikan saputangannya pada gadis Cleric itu dan berkata.
"Hapus air matamu, Onna*. Menangis pun tak ada gunanya. Kita akan pikirkan cara untuk bisa keluar dari tempat ini."
Masih dengan wajah yang kusut, Orihime menatap Ulquiorra. Lelaki itu menepuk-nepuk pundak gadis bermanik abu itu untuk menenangkannya. Wanita itu tersentak, namun berusaha untuk menikmatinya seraya berterimakasih kepada Ulquiorra. Loly, Tatsuki, dan Yylfordt yang semula putus harapan, menjadi tegar dan mereka semua berusaha untuk mencari cara agar bisa keluar dari tempat terkutuk itu.
"Gagal! Tubuh itu tidak bisa dipakai untuk dijadikan batu filosofi! Buang tubuh tak berguna itu!"
"Tatsuki!"
Dengan satu tarikan, tubuh Tatsuki telah menghilang ke tempat pembuangan akhir. Orihime hanya berteriak, berusaha untuk mencegah Tatsuki dari lembah kematian yang telah menautkan diri pada gadis tomboy tersebut.
"Kurang ajar!"
Yylfordt berusaha untuk menyerang sang ilmuwan gila yang telah menjadikan Tatsuki kelinci percobaannya. Dan, Tatsuki gagal dalam percobaan tersebut.
Ketika akan menghunuskan pedangnya, benda besi tersebut telah tiada. Kontan, pria itu teringat. Seluruh senjata berperang mereka telah dibuang dari seluruh tubuh, ketika seorang ilmuwan yang lain hendak memindahkan mereka ke ruang filtrasi.
"Orihime…"
Loly memeluk Cleric wanita yang kerap memberi kebahagiaan kepada mereka. Kini, hanya ada isak tangis yang meluncur dari sela-sela bibirnya. Loly sangat mengerti akan perasaan Orihime.
Karena, dua hari sebelum tubuh Tatsuki berakhir di tempat pembuangan, tubuh saudaranya—Menoly— telah menjadi korbannya. Waktu itu ia menjerit dan menangis histeris saat melihat tubuh Menoly yang telah hancur, jatuh ke dalam tempat pembuangan yang gelap tersebut.
Sekarang ia harus menjadi tegar. Toh, saat ini ada Yylfordt yang setia menemaninya dan tak kenal lelah menghiburnya.
"Kau, yang disana," seorang ilmuwan tua yang menyebalkan, memberi isyarat kepada anak buah ilmuwannya yang lebih muda beberapa puluh tahun darinya untuk menjadikan Ulquiorra sebagai kelinci manisnya.
"Tidak… Ulquiorra-san!"
Orihime kembali meraung-raung. Dengan satu percobaan terakhir, gadis Cleric itu mencoba untuk menghentikan Ulquiorra dari percobaan maut yang diadakan oleh laboratorium somatologi ini.
"Angel Light!"
PRAK
Bola mata Orihime membola melihat serangannya gagal. Terhuyung, ia terjatuh. Ruangan ini telah dilengkapi dengan rapalan anti magis. Yang berarti, serangan magis dari Orihime atau pun Ulquiorra akan lumpuh.
"Jangan cemas, Onna! Aku… Tak akan mati semudah itu," ucap Ulquiorra tanpa ekspresi.
"Ulquiorra! Ada apa denganmu? Memberontaklah! Kau jauh lebih kuat dari aku!" seru Yylfordt pada Ulquiorra dengan tatapan tak percaya. Dia tak mengira kalau wizard itu pasrah tubuhnya dijadikan percobaan oleh ilmuwan-ilmuwan gila itu.
Ulquiorra menundukkan kepalanya, dan menutup matanya sebelum sebuah alat yang misterius menyuntiknya dengan sebuah cairan pekat. Ulquiorra meringis pelan. Rasa panas dan nyeri mulai menyebar dari tempat ia disuntik tadi. Namun, setelah itu tak ada perubahan yang berarti pada kondisi pemuda penyihir itu.
Ilmuwan tua itu berdecak pelan, dan memerintahkan pada ilmuwan yang lebih muda darinya untuk mempersiapkan cairan obat yang mengandung serum hasil kultur dengan dosis tinggi. Namun, para ilmuwan itu tidak menyadari bahwa sebelumnya pemuda penyihir itu telah memperhitungkan semuanya. Mereka pun tak tahu bahwa pemuda itu bukanlah wizard yang harus selalu bergantung pada tongkat sihir.
Tepat saat ilmuwan-ilmuwan itu hendak menyuntiknya lagi dengan cairan pekat berdosis tinggi, Ulquiorra berseru lantang.
"Bind, Murcielago!"
Seketika tongkat sihir yang sebelumnya diletakkan oleh para ilmuwan-ilmuwan itu di dalam lemari besi yang berada tak jauh dari ruangan percobaan itu, berubah bentuk menjadi seekor kelelawar bermata kuning dengan corak hijau pada sayapnya. Penyihir bersurai hitam malam itu menikmati ekspresi kaget dari para ilmuwan gila di depannya dan menjentikkan jarinya. Seolah paham dengan bahasa isyarat sang penyihir, kelelawar bernama Murcielago itu segera mengeluarkan gelombang ultrasonic-nya untuk menghancurkan peralatan di ruangan itu.
Para ilmuwan yang panik menekan tombol hitam dan membebaskan para zombie untuk menyerang Ulquiorra dan yang lainnya.
"Astagaaa, apa kalian ini tidak bosan berhadapan terus denganku? Sudah bosan hidup, yaa?" keluh sang penyihir pada sekelompok zombie di depannya. Tangan kanannya terulur ke depan, bersiap menggumamkan mantera untuk menghancurkan kawanan zombie itu. "Majulah kalian semua, dan rasakanlah keputusasaan yang terdalam. Kalian akan menyesal sudah berbuat semena-mena pada orang-orang yang tak berdosa, Sampah."
Detik berikutnya… Hawa dingin mulai menyelimuti area tersebut dan para ilmuwan gila itu tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini pada mereka
$%^&* Bersambung*&^%$
A/N: *speechless* Se, sepertinya makin ke sini kok makin aneh dan susah dimengerti, ya? Memang sih, ini cerita AU. Tapi, saya berusaha agar karakter di sini tetap IC. Maaf sebelumnya telat update. Habis mau bagaimana lagi, saya ketik ulang cerita ini gara-gara sebelumnya keformat sama otoutoku yang ampuun, deeh! Udah gitu hape saya berubah fungsi jadi ulekan (?), dan tab saya berubah menjadi nampan gelas. Jadi tak bisa dipakai untuk update fic... T_T
Oke readers, bagaimana pendapat kalian untuk Chapter 2 ini? Anehkah? Mohon pendapatnya dan berikan saran kalian lewat Review. *nunduk dalem-dalem*
KETERANGAN * :
1. Gomennasai : Maaf
2. Dryad : kaum nymph/peri yang hidup dalam tumbuh-tumbuhan. Biasanya tinggal di dalam pepohonan dan dryad selalu bergantung dengan keberadaan pohon di dekatnya.
3. Tsuba : pelindung tangan dari tebasan lawan yang terdapat pada bagian gagang atau pegangan pedang.
4. Basan / Obasan : Tante atau Bibi
5. Cleric : penyihir yang memiliki kemampuan serangan fisik dan penyembuhan. Mereka sangat setia kepada ajaran suci dan hidup dengan melayani Tuhan.
6. Onna : Perempuan
Charm Three : (Don't Fear) the Reaper
"Jadi, hanya karena alasan itu kalian berbuat keji seperti ini? Kalian anggap manusia itu apa?" tanya Ulquiorra dingin pada lelaki bersurai putih di depannya dengan tatapan penuh kebencian terpancar di mata hijaunya.
.
"Sihir ada bukan untuk menyakiti dan menindas orang lain! Melainkan untuk melindungi makhluk yang lemah!" tukas gadis Cleric berambut orange kecoklatan itu dengan tegas pada alchemist bertampang seram yang ada di hadapannya.
.
"Ulqui-chan? Aku boleh bertanya padamu? Kenapa kau bersikeras mencari penyembuhan atas kutukanmu sampai harus mengembara seperti ini?" tanya gadis bermanik abu itu pada sang penyihir dengan nada prihatin.
"Bukan urusanmu, Onna," jawab Ulquiorra dingin. Sebelah tangannya masih memegangi dada kirinya. Ada rasa sakit yang teramat sangat menjalar dari sana.
(Yang paling menakutkan adalah… hati manusia. Di sanalah kebencian yang terdalam dan kesunyian yang terpekat bersembunyi)
