Title : When I Can't Sing Anymore
Author : Vivi 'Hyo Ra'
Cast :
Lee Sungmin
Cho Kyuhyun
Victoria Song
Jung Yunho
And the other cast
Genre : Angst / Romance
Annyeong chingu^^ Yuk langsung saja silakan di baca~
~~~0000~~~
CHAP 11
~~~0000~~~
'ting..toong..' bel rumah terdengar dari pintu utama kediaman Lee Sungmin.
"Hyu.. eh noona, itu ada tamu!" ucap Ryeowook yang saat itu masih berada di rumah sahabatnya itu.
"Ah... ne, itu pasti Yunho." Jawab Sungmin yang kini setengah berlari membukakan pintu untuk tamu yang di klaimnya adalah Yunho.
"Annyeong, Minnie.." benar dugaan Sungmin, orang yang menekan bel tadi adalah Yunho yang sudah dengan manisnya berdiri di depan pintu rumah Sungmin sambil membawa beberapa kantung plastik.
"Mari masuk.. di dalam ada Eunhyuk, Ryeowook, dan Yesung oppa." Ucap Sungmin mempersilakan dengan ramah.
"Jinjja? Ah.. apakah mereka sudah..."
"Ne, mereka bertiga sudah tau." Respon Sungmin seakan tau maksud dari jalan pembicaran Yunho tadi.
"Ah.. Yunho!" jawab Eunhyuk santai saat dilihatnya Yunho berjalan di belakang Sungmin.
"Apa itu, hyung?" jawab Ryeowook yang lebih fokus dengan barang yang di bawa Yunho.
"Ini, coklat. Kalian mau?"
"MAUUUU!" jawab Eunhyuk dan Ryeowook bersamaan yang langsung saja mencomot kantung yang di bawa Yunho dan membawanya ke dapur meninggalkan Yunho, Sungmin, dan Yesung di ruang tengah.
"Annyeonghaseyo, Yesung hyung." Sapa Yunho ramah pada Yesung yang kini tengah asik menonton televisi.
"Hm.. annyeonghaseyo." Jawab Yesung singkat. Entah kenapa sikap namja itu terkesan sangat dingin pada Yunho. Padahal biasanya ia terkenal dengan kegilaannya serta keramahannya pada orang lain.
"Ehm.. ada apa kau kemari, Yunho?" Sungmin mengawali pembicaraan dengan Yunho saat dilihatnya Yunho mulai 'canggung' dengan situasi saat itu.
"Aku hanya ingin menemuimu dan memantapkan hatimu untuk mendengarku." Jawab Yunho yang kini mengambil posisi duduk di antara Sungmin dan Yesung.
"Soal... kepergianku?"
"Ne.. ini demi kamu, Minnie-aah. Ka.. kalau kau tidak pergi, kau tidak akan sembuh!" ucap Yunho yang kini terlihat sangat meyakinkan Sungmin sementara Sungmin hanya menatap kosong ke arah lain dengan wajah yang sangat muram.
"Anni, Yunho. Tapi... mungkin saja diagnosa dokter itu salah. Kau tahu kan kalau aku rutin meminum obatnya, Yunho? Aku juga merasa tidak sakit. Kenapa aku harus pergi? Ak.. aku.." Sungmin mengoceh tak karuan. Spontan Yunho langsung memegang tangan Sungmin lembut dan menenangkannya.
"Ne, aku tahu. Kau mungkin hanya tak ingin meninggalkan impian dan sahabat-sahabatmu disini, Minnie."
"Ta.. tapi.." tak terasa beberapa tetesan air mata mengalir mulus di pipi Sungmin.
"Kau itu sedang sakit makanya sensitif seperti ini. Tenanglah, Minnie.. Kalau kau sudah sembuh kau bisa kembali lagi.." Kini Yunho memeluk Sungmin berusaha menenangkannya. Sementara orang lain di tempat yang sama hanya menyimak dan memasang tampang aneh di wajahnya.
Yah.. itu Yesung. Ia terlihat tengah memikirkan sesuatu hal yang menurutnya terdengar sedikit janggal.
.
.
-oo-
.
.
"Noona.. ap.. apakah benar kau harus pergi?" tanya Ryeowook pada Sungmin yang kini duduk sambil terisak di dalam mobil yang Yesung kemudikan. Sungmin ikut balik ke dorm bersama Eunhyuk, Ryeowook dan Yesung untuk membereskan urusannya di sana.
"Kami ak.. akan kehilanganmu.. hiks.." Eunhyuk yang terkenal melankolis itu pun tak luput sedih saat mengetahui perihal niat kepergian sahabatnya itu. Air mata pun menghiasi pipi tirus namja itu.
"Mianheyo.. Aku.. aku harus pergi. Aku juga pasti merasa kehilangan.. hiks.." mobil itu pun berubah menjadi ajang tangis yang kini dilakukan oleh Eunhyuk, Ryeowook, dan Sungmin. Sementara Yesung yang mengemudi hanya menyimak saja.
"gajima, noonaa.. hiks.. hiks.." masih dengan tangisannya, Eunhyuk terus menghasut Sungmin agar membatalkan niatnya. Meskipun sepertinya tak akan berhasil, tapi apa salahnya mencoba kan?
"Minnie-aah, bukannya dokter di Korea juga banyak yang bagus? Kenapa harus ke USA segala?" kali ini Yesung mulai angkat bicara tanpa lupa berkonsentrasi dengan stir mobilnya.
"Tapi dokternya yang suruh aku pergi, oppa.."
"Jeongmalyo?" tanya Yesung lagi memastikan.
"Ne, oppa. Waeyo?"
"Ah.. anniyo. Aku rasa aneh saja sih." Yesung pun kembali konsen mengemudi sementara ketiga bocah cengeng di belakang jok mobilnya kembali melanjutkan tangisan mereka yang sempat terhenti sebentar.
.
.
-oo-
.
.
Sebuah mobil Audi hitam dengan laju kencang menembus kesunyian jalan. Seorang namja yang mengemudikan mobil itu nampak gelisah dan bingung. Sesekali ia melirik ke layar ponselnya entah dengan maksud apa. Pikiran namja itu melayang-layang dengan segala kegelisahan yang mendekam di benaknya.
Rasa bersalah dan panik mengguncang jiwanya. Namun, keinginannya untuk memiliki sesuatu yang ia inginkan jauh lebih besar dari semua itu. Sesuatu hal yang seharusnya bukan menjad miliknya.
FLASHBACK
'tok.. tok..' sebuah pintu rumah di salah satu perumahan real estate di ketuk oleh salah seorang namja berpostur tubuh tinggi dan berisi. Tak selang beberapa lama, seorang maid terlihat dari balik pintu membukakan pintu untuk namja yang ia tahu adalah saudara dari pemilik rumah itu dan mempersilakannya masuk.
"Annyeonghaseyo. Jae jin noona ada?" tanya namja itu ramah pada sang maid tadi.
"Ah, ne, Tuan. Nyonya Jae Jin sedang berada di ruang kerjanya."
"Ah arraseo. Kalau begitu saya langsung ke sana saja. Kamsahamnida." Tutur namja tadi sopan pada maid tadi dan melenggang pergi menuju ruang kerja sepupunya yang sudah ia hafal letaknya itu.
Saat ia sudah sampai di depan pintu, tanpa basa-basi ia langsung membukanya. Di dapatnya seorang yeoja tengah duduk manis di meja kerjanya sembari membaca beberapa buku yang terlihat sangat tidak menggoda karena ketebalan bukunya yang tak terkira itu.
"Noonaaaaaaa!" panggil namja tadi pada yeoja yang baru sadar kedatangan tamu di ruangannya itu.
"Ah, kau bocah tengil! Akhirnya kau datang juga!"
"Hm.. noona ku yang cantik, ada apa sih sampai kau memanggilku sepagi ini? Ini masih jam 7 tau.."
"Soalnya ini penting. Ini mengenai temanmu itu." Ucap yeoja itu sambil memandang namja di depannya sedikit serius.
"Eh? Waeyo? Apa ada yang salah dengannya? Apa keadaannya buruk?" namja itu seketika berubah panik. Entah kenapa kalau mengenai hal itu ia pasti sangat amat khawatir.
"Anni.. malah aku ingin mengklarifikasi sesuatu."
"Sesuatu? Maksudnya?
"Begini.. pertama-tama aku harus meminta maaf padamu dan temanmu itu. Kemarin aku salah memberikan diagnosis. Diagnosis yang kemarin aku berikan itu milik pasien lain yang kebetulan mengidap penyakit yang sama dengan temanmu itu. Jeongmal josonghamnida.. Bisa kan kau memberitahu temanmu itu? Soalnya sebentar siang aku akan pergi ke salah satu seminar di Jepang. "
"Jadi? Temanku baik-baik saja, noona? Penyakitnya sudah tak ada? Ne.. pasti aku akan memberitahunya." ujar namja itu dengan wajah yang terlihat sumringah.
"Tidak juga sih. Penyakitnya itu masih ada, tapi dalam taraf yang normal. Herannya bibit penyakit di tubuhnya itu tak berkembang sedikitpun menurut hasil diagnosisnya kemarin. Mungkin dengan sedikit pengobatan lagi ia akan sembuh total."
"Jeongmal? Ah.. sepupuku ini memang dokter yang hebaaat!" namja tadi pun spontan mendekat ke sebelah yeoja yang masih duduk manis di kursi kerjanya dan memeluk sepupunya itu erat sangking bahagianya.
"Ish! Kau ini.. ini bukan karena aku kok. Keinginan temanmu untuk sembuh sepertinya sangat kuat. Mungkin ada sesuatu dari dalam dirinya yang mendorongnya untuk cepat sembuh. Oh ya, mengenai kepergian temanmu ke luar negeri sepertinya bisa dibatalkan. Aku bisa kok menangani penyakitnya di sini."
Namja tadi entah kenapa terlihat berfikir. Wajahnya yang sangat berseri-seri tadi spontan berubah datar. Tak tahu kenapa ia berubah seperti itu, namun sepertinya ada yang sedang mengganggu pikirannya.
"Jadi.. ia tak jadi pergi?"
"Ne.."
"Ta.. tapi, noona, temanku itu bilang padaku bahwa di.. dia ingin berobat ke luar negeri. Kat.. katanya ia ingin semuanya tuntas saat ia kembali ke Korea." Tutur namja tadi sedikit gugup.
"Oh benarkah?"
"Ne.."
"Hm.. arraseo. Kalau seperti itu keinginannya sih aku tak bisa berbuat apa-apa juga. Kalau begitu saat kembali dari seminar nanti, akan ku berikan surat rujukan itu padanya."
"Ne, noona. Saya harap bisa selesai secepatnya."
FLASHBACK END
'Apa yang aku lakukan ini sudah benar? Apa aku.. benar bisa memiliki Sungmin dengan kebohongan ini?'
.
.
-oo-
.
.
Delapan kepala—minus Kyuhyun yang masih berada di kantor SM dan Siwon yang sedang ada jadwal syuting drama— saat ini sudah terkumpul di ruang tengah dorm lantai 11. Wajah mereka terlihat sangat serius. Beberapa diantara mereka sibuk dengan tisu untuk membasuh air mata sementara sisanya hanya memandang nanar pada seseorang diantara mereka.
"Mianheyo, oppa-deul, saengie.." ucap salah seorang diantara mereka yang dari awal tadi menjadi pusat pembicaraan di dalam ruangan itu.
"Jadi.. selama bertahun-tahun ini kau membohongi kami semua, Sungmin-ssi?" ucap Heechul dengan wajah serius miliknya. Yang di tanyai hanya bisa diam mendengar penuturan keseluruhan member di hadapannya. Ia tahu ini lah risikonya selama ini menyembunyikan identitasnya.
"Pantas kau terlihat lebih cantik dibandingkan Heechul hyung! Hahahaha" canda Shindong yang langsung di balas jitakan tepat di kepala dari Heechul yang terkenal kasar itu.
"Sungmin-ssi, jadi.. kau akan meninggalkan kami?" tanya sang leader, Leeteuk, dengan wajah yang tak bisa di deskripsikan itu. Dalam hati ia sangat terpukul melihat kenyataan salah satu dongsaengnya yang akan pergi, tapi ia juga tak tahu harus berbuat apa setelah mendengar penuturan Sungmin mengenai kesehatannya. Jujur ia benar-benar sedih.
"Ne, oppa.. Mianheyo.."
"Jangan memanggilku oppa. Terdengar aneh. Panggil saja hyung seperti biasanya. Kau akan tetap menjadi dongsaengku apapun yang terjadi."
"Aku juga! Sepertinya semua orang disini aneh mendengar kau memanggil seperti itu. Panggil hyung saja seperti biasa, arra?" sambung Heechul menimpali perkataan Leeteuk barusan.
"Gomawo, hy.. hyung.. Jujur ak.. aku.. aku tak ingin kehilangan kalian.. Ak.. aku.." Sungmin yang berusaha tegar sekali pun tak kuat membendung kesedihannya. Suaranya kian bergetar. Ia menggigit bibir bawahnya menahan keinginannya untuk menangis, tapi.. gagal. Air mata berhasil menembus sela-sela matanya dan meluncur deras di pipi yeoja berkulit putih mulus itu.
"Jangan menangis, Sungmin hyung.. eh noona.. eh terserah lah apapun itu. Kalau kau menangis kami juga ingin menangis.." tutur Donghae sambil mendekati Sungmin. Ia menenangkan Sungmin dan memeluknya erat. Eunhyuk dan Ryeowook pun mengikuti jejak Donghae memeluk Sungmin. Mereka berempat kembali tenggelam ke dalam situasi yang sangat melankolis sementara yang lain hanya bisa melihat tingkah mereka yang aneh itu dengan tatapan penuh kesedihan juga. Tak bisa dipungkiri kebersamaan mereka selama bertahun-tahun sejak mereka masih menjadi trainee sampai menjadi 'orang' seperti sekarang tidak lah mudah untuk di lupakan begitu saja. Dan kini mereka dihadapi dengan kenyataan harus kehilangan satu member lagi untuk kesekian kali.
"Oh ya.. hm.. hyung, saeng, boleh aku meminta satu permintaan?" ucap Sungmin tiba-tiba pada saat itu membuat ketiga namja yang memeluknya juga kaget dan menghentikan sejenak kegiatan mereka tadi. Mereka mulai menyimak apa yang akan dikatakan Sungmin.
"Ada apa?" tanya Leeteuk sedikit penasaran.
"Tolong hal ini jangan diberitahu pada Kyuhyun sampai aku pergi nanti. Ak.. aku tak rela melihatnya sedih. Aku juga tak mau dia kepikiran terus mengenai hal ini. Jebal.." pinta Sungmin dengan wajah memelasnya. Dalam hati ia sangat berat harus meninggalkan Kyuhyun. Bayangan Kyuhyun yang akan menahannya sekuat mungkin kalau mengetahui hal ini juga terus menghantuinya. Ia tak mungkin meninggalkan Kyuhyun dengan keadaan seperti itu.
"Arraseo. Kami akan merahasiakannya untuk mu, Minnie."
"Gomawo hyuuung.. aku menyayangi kaliaaaan.." Sungmin pun kembali meneteskan air matanya yang kali ini tak berusaha ia tahan lagi. Ia dengan puas memeluk keseluruh member—mungkin—untuk terakhir kalinya.
"Kapan kau akan pergi, Minnie?"
.
.
-oo-
.
.
*Kyuhyun POV*
Sungmin. Victoria. Sungmin. Victoria. Sungmin.
Hanya dua nama orang yang saling bertolak belakang itu yang terus menerus meneror otakku yang sudah letih di pacu untuk terus berfikir. Kalau disuruh pilih jelas saja gampang, aku akan memilih Sungmin yang notabene adalah yeojachinguku. Tapi.. semua tak semudah itu.
Pertama, Sungmin marah padaku. Yah.. dia marah dan sepertinya sangat amat benci padaku. Sudah terlihat jelas dari sorot matanya.
Kedua, Yunho. Si namja dekil yang sangat licik itu terus menerus menjadi bayangan Sungmin. Kemana pun Sungmin pergi, di situ pasti ada namja jelek itu. Entahlah.. mungkin otak Sungmin sudah di cuci sama namja terjelek dari yang paling jelek itu. Shit!
Ketiga, Lee Soo Man. Entah kenapa.. otak si bos besarku itu sudah error sepertinya mendengar segala rumor yang berkembang di masyarakat, sehingga secara sepihak memutuskanku untuk mengadakan konferensi pers. Bukan sekadar konferensi pers biasa... tapi konferensi pers mengenai hubunganku dengan Victoria yang akan diresmikan secara publik! Apa itu tak termasuk kebohongan publik? Menyebalkan bukan?
Keempat, Victoria. Betapa senangnya ia saat ini mendengar penuturan Lee Soo Man sonsaengnim mengenai perihal konferensi pers tadi. Victoria juga kini dengan berani mengancamku agar menyetujui keputusan bos besarku tadi. Bukan sekadar ancaman biasa. Ia memakai foto Sungmin sebagai ancaman. Entah bagaimana ceritanya foto Sungmin yang sedang mengganti pakaian sudah berada di tangannya. Saya juga tak tahu bagaimana bisa ia mengetahui identitas Sungmin. Biarpun aku tak terlalu percaya ucapannya, tapi jujur aku juga khawatir kalau ia nekat membocorkan semuanya di hadapan media. Bagaimana dengan Sungmin? Bagaimana dengan masa depannya? Masa iya hanya karena aku impian Sungmin harus di korbankan?
"Aaaaaaaargh!" aku berteriak sendiri di dalam mobil. Rambutku pun tak luput menjadi sasaran kebingunganku saat ini. Ottohke?
Dengan malas ku setir mobil Hyundai hitam milikku ini menuju dorm. Tak tahu kemana lagi tujuanku saat ini. Aku hilang arah. Pikiranku juga sudah sangat amat lelah. Istirahat kuharap bisa membantu.
Tak beberapa lama aku sampai juga di parkiran apartemen kami. Dengan langkah gontai aku meninggalkan mobil kesayanganku itu di parkiran dan berjalan menuju ke lantai 11 yang menjadi istana sekaligus neraka bagiku.
"Annyeonghaseyo.. aku pulang.." ucapku saat masuk ke dalam dorm.
"Eh kau, Kyu. Sudah pulang? Dari mana saja? Hm.. makanlah dulu." Ujar Ryeowook dengan celemek yang bertengger di badannya. Dia terlihat aneh dan sedikit... kusut. Tumben! Eh tunggu, kenapa dengan matanya? Kenapa terlihat bengkak?
"Wookie-aah. Kenapa dengan matamu itu? Penampilanmu juga terlihat kocar-kacir. Ada apa sih?"
"Ah? Hm.. anu.."
"Anu apaa?"
"Aku baru bangun tidur jadi seperti ini. Ayo cepat makan!" Ryeowook terlihat salah tingkah. Aneh bukan? Kenapa menjawab pertanyaanku saja harus salah tingkah seperti itu? Ia juga menghindar kontak langsung dengan mataku. Apa jangan-jangan... Ryeowook menyukaiku? Kkk~
"Sebentar. Aku ingin mengganti pakaian dulu." Dengan malas pun aku melangkah menuju kamarku yang letaknya sedikit tersembunyi di dalam dorm itu. Jelas saja aku malas. Aku tak bisa melihat...
'Deg.' Aku mendapati seseorang tengah duduk manis di dalam kamar itu. Itu... Sungmin? Aku tidak mimpi? Bukannya selama 2 hari ini Sungmin menghilang? Benarkah itu Sungmin? Atau...
"Eh, Kyu.." ucapnya santai sambil menampakkan senyuman termanisnya padaku saat di dapatinya aku muncul dari balik pintu. Jebal.. jangan tersenyum seperti itu padaku. Itu membuatku makin merasa bersalah. Jebal, hukum saja aku. Jangan perlakukan aku seperti ini!
"kau baru pulang?" sambungnya kali ini saat di dapatinya aku masih tertegun mematung melihat kehadirannya. Tak bisa tertahan lagi.. aku merindukannya. Tubuhnya seakan memanggilku. Tanpa sadar kini aku sudah berjalan kearahnya dan memeluknya. Memeluk tubuh gempal miliknya itu erat. Tapi..
"Hm... mianheyo, Kyu. Sepertinya aku harus mengatakan sesuatu padamu." Sungmin melepas pelukanku. Ia menghindariku. Apa ia masih membenciku? Tapi kenapa tadi ia bersikap manis padaku? Dan sekarang, apa yang ingin ia katakan? Kenapa perasaanku berubah tak enak? Ada apa ini?
*Kyuhyun POV end*
.
.
-oo-
.
.
"Hm... mianheyo, Kyu. Sepertinya aku harus mengatakan sesuatu padamu." Wajah Kyuhyun spontan berubah heran. Ia heran melihat tingkah yeojachingunya yang sedikit membuatnya bingung.
"Waeyo, Min? Ada apa? Apa.. kau masih marah padaku? Mianheyo, Minnie. Saranghaeyo. Tentang hal itu.." ujar Kyuhyun berusaha mengklarifikasi namun dipotong oleh Sungmin.
"Sudah, Kyu. Aku sudah tak memikirkan hal itu lagi kok. Semuanya. Bahkan semua yang menyakitkan hatiku sudah aku kubur dalam-dalam." Ucap Sungmin memutus pembicaraan Kyuhyun. Ia terlihat berusaha menahan segala perasaan yang berkemelut di hatinya. Semua perasaannya yang kini tengah saling beradu di dalam hatinya berusaha ingin keluar namun terpaksa di tahan. Sekali lagi... Sungmin harus bersikap sabar. Dan..
"Sebaiknya kita akhiri hubungan kita, Kyu. Aku sudah tak mencintaimu. Mianheyo.. Lupakan aku."
"MWO?"
.
.
To be continue
Wah akhirnya author punya kesempatan ngelanjut ff ini! Hum.. fix author hanya bisa menulis ff sekali seminggu. Mianhe author ga punya waktu lebih-_- tapi author hadir kembali dengan ff baru "ANGEL IN THE EVIL'S HOUSE" yang kali ini dengan tema YAOI. Semoga kalian suka yaa^^
~~00~~
hyuknie : jangan sedih chingu^^ kasian kyu dong kalo mingnya disuruh mati aja :)
won2 : iyaaa sip deh, chingu^^
lalalala : iya tuh kejam banget mereka. Siapa sih authornyaa? *kaburrrrrr...*
mayasiwonest . everlastingfriends : Kamsahamnida chingu^^ jangan timpuk panci dong.. ember aja *eh?
Kim ryokie : huaaaa maafin authoooooorrrr XO *lari sama vic*
BbuingBbuing137 : nih dilanjut^^
iinx . artie1 : omo.. kejam nian engkau pada author yang masih lugu tak berdosa ini~~ hiks :'(
Cho Kyuri Mappanyukki : Amin... #prayforkyumin
namikazeuzumaki . kushina : semua pertanyaan chingu udah kejawab di chap-chap sebelumnya^^
KyuLoveMin : Annyeong chinguuuu^^ Banyak bener ya yang bilang begitu. Entah katro atau apa author belum pernah nonton drama itu lho hihihi :p
adinda . sungmin : Kamsahamnida chingu udah mampir ke ff ini^^ waaaah.. sepertinya peran vic di ff ini benar-benar dapet ya feelnya sampai semuanya bilang seperti itu hihihi terus review ya chingu^^
sitara1083 : pertanyaan chingu terjawab di chap ini kok!^^
cherrizka980826 : hihihi sabar chingu^^ salah siapa hayo yang bikin mereka kejam banget di ff ini? :p *kabur duluan*
Shofiy Nurlatief : Mian.. sekali lagi mian.. kamsahamnida udh memberi kritikan buat author^^
rositakyuhyun : Belum kepikiran, chingu. Mungkin chap 13 atau 14~
youngie poppo : apanya yang kebongkar, chingu? hehee
pikapika : Oke deh chingu^^
~~00~~
Kamsahamnida buat semuaaa yang udah bersedia meninggalkan jejaknya di sini.
Akhir kata... review please *bow*
