Title : When I Can't Sing Anymore
Author : Vivi 'Hyo Ra'
Cast :
Lee Sungmin
Cho Kyuhyun
Victoria Song
Jung Yunho
And the other cast
Genre : Hurt / Romance
Wohooo chingudeul! Annyeonghaseyo^^ benar-benar rindu rasanya menulis ff. Kesibukan author kali ini benar-benar sangat menyita waktu! Mian atas kebiasaan 'siluman' author yang tak kunjung dapat dihilangkan. Sekali lagi, mian.. Tanpa basa-basi, yuk silakan di baca~~^^
-oOOOo-
"Vic, aku ingin bicara serius denganmu."
"Hm? Apa itu, Kyunnie? Bicaralah.."
"Hm.. Vic," "ak.. aku. Aku akan.. hm.."
"Kenapa Kyu? Kau akan apa?"
~~~ooo~~~
CHAPTER 13
~~~ooo~~~
"A.. aku.. aku akan mengikuti apa yang telah direncanakan Lee Soo Man sonsaengnim untuk kita. Aku akan menyetujui konferensi pers itu." Ucap Kyuhyun dengan segala ragu yang masih bermunculan di hatinya. Dia kini sedang melakukan perang batin dengan dirinya sendiri. Di satu pihak ia tak ingin melakukan hal itu, tapi di lain sisi ia sangat ingin membalas rasa sakit yang ia rasa saat dicampakkan oleh kekasihnya—Sungmin.
"Ah? Jinjja? Kau benar-benar menyetujuinya?" ucap yeoja pirang yang berada dihadapannya itu meyakinkan kembali ucapan Kyuhyun.
"Ne.."
"Omona.. aku tak pernah berfikir bahwa kita benar-benar akan menjadi pasangan. Aku sangat bahagia, Kyu!" yeoja pirang bernama Victoria itu pun bergerak mendekati Kyuhyun, duduk manis di sampingnya kemudian menggandeng erat lengan Kyuhyun yang sudah pasrah saat itu. Kyuhyun hanya bisa diam diperlakukan demikian oleh Victoria. Ia sendiri masih bingung dengan keputusan yang ia ambil itu. Tanpa henti ia memohon di dalam hatinya agar pilihannya tersebut tak keliru.
.
.
-oo-
.
.
*Sungmin POV*
Dua hari lagi. Yah, sisa dua hari lagi aku berada di Seoul. Tiket keberangkatanku ke U.S.A. juga sudah di tangan, itu berarti sisa dua hari lagi aku bisa menikmati hari-hari terakhirku ini di sini. Aku pasti akan merindukan keluargaku, teman-temanku, ELF, para member, staf SM, dan tentu saja... Kyuhyun. Aku mungkin tak akan atau bahkan tak bisa menemuinya lagi di kemudian hari. Memang berat, tapi itulah jalan yang aku pilih. Aku tak ingin membuat Kyuhyun semakin menderita. Aku terlalu mencintainya.
Di hari-hari terakhir seperti ini, daripada aku hanya merenung sendiri di rumah lebih baik kalau aku menghabiskan waktu berjalan-jalan. Mumpung juga aku sudah bebas tugas seperti sekarang ini.
Dengan sweeter garis-garis hitam putih, celana jeans, topi dan masker, akhirnya aku putuskan untuk sekadar berjalan-jalan hingga tiba di sebuah taman yang kiranya tak jauh dari rumahku. Taman ini.. bukan sekadar taman biasa. Di taman ini, kurang lebih 2 tahun yang lalu, sebuah memori manis sempat terekam di dalam ingatanku. Memori indah ber
FLASHBACK
Semilir angin mulai menusuk-nusuk kulitku yang cukup sensitif. Hari ini adalah musim dingin, dan aku berada di sebuah taman kota dengan pakaian perform yang baru saja ku kenakan beberapa jam yang lalu di salah satu stasiun televisi Korea. Gila bukan? Semua ini terjadi gara-gara...
"Ya! Kyuuuu! Kenapa kau membawaku ke sini sih?" protesku pada namja bertopi di sebelahku yang sukses membawaku ke tempat ini. Yah, dia adalah Cho Kyuhyun. Kyuhyun yang selama 2 tahun ini menjadi kekasihku.
"Bukannya kau bilang ingin menikmati udara malam hari?" meskipun wajahnya tertutup masker dan topi, tapi mata obsidiannya yang tajam sangat jelas menatap ke arahku. Benar-benar membuatku melted.
"Iya sih. Tapi kan yang aku maksud itu di pantai, Kyu. Aku ingin menikmati udara malam sambil mendengar deburan ombak di pantai!" ucapku terkesan memberontak, padahal sebenarnya aku sedang berusaha menahan debaran jantungku yang tak menentu. Manik-manik mata Kyuhyun benar-benar ajaib.
"Minnie chagiyya.. kau tau kan saat ini kita sedang sibuk promo? Maaf kalau aku hanya bisa mengajakmu ke sini."
"Tapi Kyu.. aku kan ingin ke pantai." Aku pun memasang wajah murung. Bibirku tak lupa pula ku kerucutkan—entah kenapa itu menjadi sebuah kebiasaanku kalau sedang badmood.
"Aku janji, lain kali aku pasti akan mengajakmu ke pantai . Oke?"
"Janji?" tanyaku memastikan.
"Aku janji, chagi. Tapi kau harus bersabar, ne?" Kyuhyun menyodorkan jari kelingkingnya ke arahku yang langsung ku sambut menautnya dengan jari kelingkingku juga. Senyum manis terkembang di bibirku. Tak sadar sebuah lengan mendekap tubuhku erat, membuatku sedikit merasa hangat.
"Oh ya, kau ingin ke pantai mana sih?" tanya Kyuhyun penasaran sambil terus mendekap tubuhku sembari mengelus-elus kepalaku lembut.
"Hm... Gwanganri?"
"Ah... di Busan ya? Baiklah. Aku janji. Aku Cho Kyuhyun kekasihmu yang tampan ini akan membawamu ke Gwanganri." Dengan sedikit menarik maskernya, Kyuhyun memamerkan smirk andalannya kepadaku.
"Terserah kamu deh, tuan Cho."
"Oh ya. Hm... nanti liburan kita ke Gwanganri sekalian bulan madu, ne? Hihihi"
"Huuuu dasar mesum!"
FLASHBACK END
"Ini sudah lewat dua tahun, Kyu. Kau bohong.. Kau bohong.." suaraku semakin bergetar menatap sebuah bangku taman yang kosong saat itu. Bayangan Kyuhyun yang mendekapku erat pada malam itu terlihat samar di anganku. Di selingi suara hembusan angin pada malam ini, air mataku pun mulai menetes membasahi masker yang aku kenakan.
"K.. kau.. kau tak pernah menepati janjimu, Kyu.. Kau jaha..at! Kau... hiks.." Lututku mulai melemah. Tak terasa aku pun sudah jatuh terduduk di rerumputan taman. Rasanya cukup sakit, tapi jauh lebih terasa sakit di hatiku. "kau bodoh, Kyu.. Kau bodoh! Tapi, aku lebih bodoh. Aku lebih bodoh karena begitu mencintaimu.. hiks.. jeongmal saranghaeyo, Kyu. Mianheyo.."
*Sungmin POV end*
.
.
-oo-
.
.
*Yunho POV*
"NOMOR YANG ANDA TUJU TIDAK DAPAT DIHUBUNGI. COBALAH BEBERAPA SAAT LAGI." ocehan operator itu sudah yang kesekian kalinya ku dengar saat mencoba menelfon Sungmin sedari tadi. Tadi aku ke rumahnya dan kata eommanya ia sedang keluar mencari udara segar. Giliran di telfon eh nomernya tidak bisa di hubungi. Kemana sih dia? Apa dia mau kabur? Atau.. jangan-jangan ia mau.. ah anniya anniya! Sungmin tidak mungkin melakukan hal nekat seperti itu.
Mobil Audi milikku ini sudah sejam lebih berputar-putar mengelilingi sekitaran rumah Sungmin, tapi tak kunjung ku dapati jejak Sungmin di sekitar sini. Kemana anak itu? Kenapa dia senang sekali membuatku khawatir sih?
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi Sungmin belum juga ku temukan. Mobil melaju perlahan, mataku mulai mencari-cari ke sana kemari hingga tertuju ke arah taman yang berada di tepi jalan. Apa Sungmin ada di sana? Tanpa berfikir panjang akhirnya aku putuskan untuk memarkirkan mobilku di taman itu. Entah kenapa perasaanku berkata Sungmin berada tak jauh dari sini. Saat hendak turun dari mobil, tiba-tiba sesosok tubuh pendek dan gendut keluar dari arah taman dengan langkah gontai. Celananya penuh noda tanah dan beberapa rumput kering yang menempel. Dari sweater, topi dan masker yang ia gunakan, bisa ku simpulkan bahwa sesosok manusia yang ku lihat itu tak lain dan tak bukan adalah Sungmin.
"Minniee!" teriakku saat bergegas turun dari mobil dan melangkah cepat menuju ke arah orang yang ku maksud. Orang itu menoleh ke arahku dan seketika memanggil namaku.
"Yunho oppa.." aku pun langsung mendekap erat tubuhnya. Rasanya dingin. Apa ia baik-baik saja?
"Sungminnie, kau dari mana saja, eoh? Kau membuatku khawatir! Kenapa kau pergi? Dan kenapa penampilanmu terlihat kacau begini?" berbagai pertanyaan terluncur dari bibirku tanpa sedikitpun melonggarkan pelukanku dari tubuhnya, tapi tak ada respon darinya. Dia semakin membuatku khawatir. Akhirnya ku tuntun tubuhnya yang terasa sedikit lemas itu ke dalam mobil Audi milikku dan segera menyalakan penghangat suhu agar tubuhnya yang terasa dingin tadi agak lebih baikan.
"Gwaenchana, Min?" tanyaku penuh khawatir. Ku genggam tangannya yang terasa dingin itu dengan tangan kiriku, sementara tanganku yang lain mencoba membuka topi dan masker yang menutupi wajahnya. Dan.. betapa kagetnya aku mendapati wajahnya Sungmin yang terlihat pucat dengan bibir yang membiru dan mata yang sangat bengkak. Tak lama kemudian air mata meluncur mulus dari matanya yang sudah membengkak itu membuat penampilannya terlihat semakin tragis.
Omo. Apa sebegitu terlukanya kah Sungmin menghadapi masalah yang menghampirinya? Apa aku sangat jahat menuntunnya menuju kehancuran seperti ini?
*Yunho POV end*
.
.
-oo-
.
.
*Kyuhyun POV*
Selamat pagi, dunia.
Matahari kini sudah muncul dari ufuk timur, tapi mataku belum juga terpejam sejak semalam. Entah kenapa perasaanku sangat tak enak. Semalaman rasanya aku terus menerus gelisah dan tak dapat berfikir jernih. Apakah ini karena conference press yang akan di adakan besok? Entahlah.. namun hanya itu yang dapat ku lakukan sekarang. Menatap nanar ke arah tempat tidur yang selalu rapi dalam beberapa hari ini—karena sang empu tempat tidur itu memang sudah tak menempatinya lagi—, merenung, serta mengatasi segala perasaan gelisah yang kurasakan. Benar-benar menyusahkan.
"Kyuhyun-aah.." terdengar sebuah panggilan dari luar kamar dormku. Dari suaranya yang khas sepertinya itu panggilan dari Leeteuk hyung.
"Ne.." aku pun meninggalkan kegiatanku tadi dan bergegas keluar dari kamarku yang letaknya lumayan tersembunyi ini.
Di ruang tengah kulihat Leeteuk hyung dan Eunhyuk hyung sedang bercengkrama, sementara di dapur terlihat bibi yang biasa memasak di dorm kami sedang dibantu oleh Ryeowook menyiapkan sarapan pagi.
"Ada apa, hyung?" tanyaku to the point pada kedua namja yang kini terlihat menghentikan percakapan mereka dan langsung mengalihkan perhatiannya padaku.
"Ah, Kyu. Kemarilah.. aku ingin berbicara." Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku pun duduk di samping Eunhyuk hyung yang berada di hadapan Leeteuk hyung.
"Kyu, kau baik-baik saja kan?" tanya Leeteuk hyung padaku. Apa maksudnya sih? Tumben ia menanyaiku seperti itu, apalagi dalam keadaan tiba-tiba seperti ini.
"Ne, gwaenchanayo, hyung. Waeyo?"
"Anniya. Aku hanya ingin menanyai kabarmu saja. Kau jangan sedih terus, ne? Kau harus bersemangat. Demi kelangsungan grup kita yang... ah.." Leeteuk hyung menghela nafasnya panjang. Tunggu. Grup kami? Super Junior maksudnya? Kenapa dengan grup kami? Kenapa ia terlihat sangat sedih seperti itu?
"Grup kita yang apa, hyung? Ada apa dengan Super Junior?"
"Anniya, Kyu. Anniya. Omonganku tadi hanya ngelantur. Oh ya, bagaimana dengan hubunganmu bersama Victoria? Apakah berjalan lancar? Persiapan conference press kalian bagaimana?"
"Conference press? Jadi, conference press itu benar-benar akan diadakan? Kau sudah menerimanya, Kyu?" ujar Eunhyuk hyung tiba-tiba. Terlihat jelas di wajahnya bahwa ia sangat terkejut. Mungkin ia tak menyangka bahwa aku akan menyetujuinya. Yah, jangankan Eunhyuk hyung, aku saja masih tak menyangka akan hal yang kuputuskan yang ku buat sendiri. Aku benar-benar ceroboh.
"Ne, hyung. Aku sudah menyetujuinya."
"Jadi.. hubunganmu dengan Sung—"
"Husst... jangan bahas hal itu lagi, Hyuk-aah. Kajja kita makan. Tuh makanan sudah siap." Leeteuk segera memotong ucapan terakhir Eunhyuk itu. Ada apa sebenarnya? Kenapa Leeteuk hyung dengan sengaja melarang Eunhyuk hyung menyebut nama Sungmin di depanku? Apa ia tak ingin aku sedih? Atau kah ia sengaja ingin aku melupakan Sungmin? Aku tak mengerti..
"A.. arraseo, hyung." Jawab Eunhyuk hyung patuh pada Leeteuk hyung dan segera berjalan mengikutinya ke meja makan. Sumpah, aku makin tak mengerti. Ada apa ini? Kenapa semua orang sebegitu tertutupnya padaku? Apa aku telah membuat kesalahan?
*Kyuhyun POV end*
.
.
-oo-
.
.
"Yeobseo." seorang namja terlihat tengah menghubungi seseorang dari ponselnya sembari berbaring santai di kamarnya yang sudah terkenal sangat rapi itu.
"Yeobseo, Eunhyuk-aah. Waeyo?" ucap seseorang dari seberang sana dengan suaranya yang terdengar sangat manis dan lembut.
"Sungmin noona, apa kabar? Bogoshippeo, noona.." ternyata namja bernama Eunhyuk itu sedang menghubungi Sungmin, sahabatnya. Eunhyuk sangat merindukan Sungmin. Jelas saja, Sungmin kan sahabat setianya di dorm. Ia benar-benar kehilangan dengan kepergian Sungmin.
"Gwaenchana, Hyuk-aah. Bagaimana denganmu? Nado bogoshippeo.."
"Aku juga baik-baik saja, noona, tiap hari Donghae menyuapiku makanan. Oh ya, apa benar kau harus pergi besok, noona?" tanya Eunhyuk dengan segenap perasaan yang berkecamuk di hatinya. Meskipun ia menyelingi ucapannya itu dengan candaan, tapi tak bisa di tutupi seberapa sedihnya ia saat ini.
"Hahahaha kau ini. Ne, Eunhyuk-aah. Kenapa? Kau mau mengantar kepergianku besok?"
"Mianhe, noona. Besok aku ada recording Strong Heart. Mianhe.. jeongmal mianhe. Padahal aku sangat ingin mengantarmu. Hiks.."
"Aish.. jangan menangis, Hyuk-aah. Aku akan segera pulang kok. Jangan khawatir, ne?"
"Janji ya, noona, kau akan segera kembali?"
"Ne, aku janji."
"Oh ya, noona. Besok jangan menonton televisi, eoh? Noona juga jangan membuka internet!" ucap Eunhyuk tiba-tiba.
"Eh? Kenapa tak boleh?" Sungmin terlihat penasaran. 'Kenapa Eunhyuk tiba-tiba melarangku menonton televisi? Kenapa juga ia melarangku membuka internet. Ada apa sebenarnya?' Batin Sungmin dengan perasaan was-wasnya.
"Hm.. itu.. Eh anu, si Kyuhyun. Kyuhyun akan mengadakan conference pressnya besok. Kumohon, noona jangan melihatnya. Aku tak mau—"
"Sudahlah, Eunhyuk-ah. Gwaenchana.. Kan aku yang menginginkannya melakukan semua itu. Aku bahagia kok, Eunhyuk-ah. Aku bahagia." Entah kenapa ucapan Sungmin itu terdengar ganjal. Mungkin ucapan itu sangat mudah keluar dari bibir plum miliknya, namun sungguh sangat sulit dengan hatinya yang seakan-akan ingin memberontak menuntut haknya untuk memilih. Namun sekali lagi ia harus berperang melawan hati kecilnya sendiri. Yah.. demi kebaikan namja yang ia cintai. Namja bernama Cho Kyuhyun.
"Tapi, noona.."
"Sudahlah, Eunhyuk-aah. Aku sudah ikhlas kok. Aku bersungguh-sungguh.."
.
.
To be continue
-oOOOo-
Sudah kurang lebih sebulan author hiatus dari ff 'WICSA' ini. Sekali lagi maaf yang sebesar-besarnya. Author benar-benar sangat bersemangat melanjutkannya kali ini karena review-review kalian semua. Semua review author terima sebagai masukan. Semoga kalian akan terus memberikan support pada author~~^^ Kamsahamnida chingudeul.
Oh ya, author juga nerima saran untuk ending ff ini demi memuaskan keinginan para pembaca^^ karena... ff ini akan segera berakhir! Yup, maksimal 3 chapter lagi ff ini akan berakhir. Jadi... cepat kirim sarannya ya lewat review~~^^
Akhir kata... reviewnya lagi please^^
