A/N: Ini terinspirasi dari ff ItaHina yang baru saya baca. Dan untuk ke sekian kalinya, La Corda D'Oro punyanya Yuki Kure. Tapi OC, tetep punya saya.
Kini jam istirahat. Yuuki berjalan mengelilingi taman sekolahnya. Saat sedang menatap sekelilingnya dengan bosan, matanya menangkap gerombolan orang yang nampak bersembunyi di balik semak-semak. Ia berjalan menuju sana dan ikut berjongkok.
"Aku masih tak percaya kalau senpai-tachi mengintip Kei dan Shouko-chan." Yuuki sedikit bergumam lalu melirik ke sosok di sampingnya. "Terutuma kamu, Aoi-san."
Seluruh mantan peserta kompetisi musik ditambah Manami dan Nami sibuk memperhatikan kedua adik kelas mereka. Azuma tersenyum seperti biasanya. Kazuki terlihat menikmati pemandangan manis di hadapnya. Len dan Ryo, mereka terlihat bosan dan ingin sekali pergi. Sedangkan Manami, Nami, dan Kahoko terlihat sangat senang. Terutama Nami yang terus mengabadikan momen Keiichi dan Shouko.
"Kei-kun, boleh aku bertanya padamu?" Keiichi yang sedang menyantap rotinya mengangguk.
"Ci-ciuman itu seperti apa? Te-teman sekelasku sering menyakan apa aku pernah berciuman denganmu." Shouko memiringkan kepalanya saat ia mengingat-ingat apa kata teman sekelasnya.
Keiichi terdiam. Sama halnya dengan Keiichi, gerombolan orang yang mengintipi mereka ikut terdiam. Senyum Azuma semakin mengembang. Wajah Kazuki mulai memerah. Yuuki tetap datar, begitupun Aoi, Len, dan Ryo. Sisanya, mereka semakin bersemangat.
Keiichi menghela nafasnya. Ia memutar kepalanya menghadap Shouko. Matanya kini terbuka sepenuhnya.
"Kau benar-benar ingin tahu ciuman itu seperti apa?" tanya Keiichi.
Shouko mengangguk.
Keiichi tersenyum. Ia sentuh dagu Shouko, membuat gadis itu mengangkat wajahnya. Mengabaikan rona di pipi Shouko, Keiichi langsung menciumnya. Awalnya lembut, tapi lama kelamaan nafsu menggiring mereka ke ciuman yang lebih panas.
Bibir mereka berpisah. Keduanya merona dan kesulitan mengatur nafas mereka. Shouko menatap Keiichi.
"B-boleh... A-aku memintanya lagi lain kali?" dengan tatapan polos, ia bertanya.
Keiichi tersenyum.
"Tentu, tapi tidak di tempat umum seperti ini."
"Kenapa?" Shouko bingung.
"Karena aku akan kesulitan mengajarkan hal lain padamu." Keiichi memasang senyum yang berbeda dari biasanya. Dan ini, entah mengapa membuat Shouko merona semakin jadi.
Shouko mengangguk dan mengikuti Keiichi yang hendak pergi.
Yuuki orang yang paling terkejut mengenai apa yang telah di lihatnya barusan.
'Apa yang telah terjadi pada adik kembaranku? Kenapa dia jadi mesum?'
Sama halnya dengan Yuuki, Len dan Ryo mendadak pucat. Bahkan mereka yang umurnya di atas Keiichi tak pernah berani mencium pasangan mereka. Kazuki juga sama saja, ia nyaris pingsan karena melihat prilaku adik kelasnya. Azuma masih terus tersenyum. Ia sangat senang melihat, ehm, anak didiknya menggunakan ilmu yang ia berikan padanya.
"Astaga! Itu benar-benar tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Shimizu-kun ternyata pandai melakukannya!" Nami terlihat senang. Kahoko mengangguk setuju, begitu juga Manami.
"Yup, beda banget sama yang di sini." Manami melirik beberapa orang tertentu.
"Hei-hei Yuuki-chan, pasti kau yang mengajarkannya pada Shimizu-kun, kan?" Kahoko bertanya pada Yuuki yang masih syok.
"Fufufu, itu hal yang sangatlah tidak mungkin, Hino-san. Saat ia memberikan hadiah ulang tahunku saja, ia langsung berlari menuju kelasnya sambil merona." Aoi tertawa kecil.
Yuuki langsung mengingat kejadian dimana Aoi yang mendadak menciumnya saat ia ingin mencari Nami.
"I-itu k-karena kamu m-minta sesuatu yang a-aneh!" walau terbata-bata, Yuuki tetap memberanikan dirinnya untuk menatap tajam Aoi.
"Wah, Yuuki-chan malu-malu! Oh ya, aku belum pernah mengambil foto kalian saat berduaan." Ucap Nami.
"Maaf sekali, Amou-san. Aku tidak akan membiarkanmu mengganggu privasi kami." kata Aoi sambil tersenyum.
Yuuki menghela nafas lega. Ia tak yakin bisa menahan malu kalau fotonya dengan Aoi tersebar di seluruh sekolah. Apalagi kalau itu foto mereka sedang melakukan hal yang memalukan.
Kazuki melirik Azuma.
"Kurasa kau terlalu berlebihan mendidiknya, Yunoki."
"Kenapa, Hihara? Kau iri?" senyum Azuma masih terpasang di wajah cantiknya.
"T-tidak, terima kasih." Kazuki langsung menjaga jaraknya dengan Azuma.
Len dan Ryo yang terus diam hanya berharap, kapan mereka bisa berhenti terjebak di antara orang-orang yang ingin ikut campur seperti mereka.
Owari
