a/n: Shimizu Yuukihara memang OC saya, tapi kalau La Corda D'Oro beserta tokoh original-nya jelas-jelas bukan punya saya.

Yuuki duduk terdiam dengan plastik makanan yang tadi ia beli di kantin tadi. Sekarang masih istirahat. Yuuki memang selalu duduk di sini sendiri atau bersama beberepa temannya. Angin berhembus menyibakan rambut kuning ikalnya yang ia ikat ke belakang, model pigtail. Ia menutup matanya dan menghembuskan nafas lelah.

Semenjak beberapa hari yang lalu yuuki makin sering termenung. Sebuah perubahan yang cukup mengejutkannya mengenai kembarannya yang... err... mendadak mesum membuatnya tak bisa tenang.

- - -Kenapa bisa-bisanya Kei jadi seperti itu? Kenapa dia... d-dia jadi m-mesum begitu!

Wajah Yuuki masih datar dan senormal biasanya walaupun di dalam otaknya, ia masih stress memikirkan adik kembarannya.

Pintu yang menghubungkan gedung sekolah dengan atap terbuka. Sosok Kaji Aoi, yang notabenenya tunangan Yuuki, berjalan menuju tempat Yuuki duduk.

Tumben sekali Yuuki tak menyadari kehadiran seseorang. Biasanya, saat pintu terbuka atau menimbulkan sedikit suara, kepalanya langsung reflek menengok mencari dimana sumber suara itu berasa dan apa yang membuatnya ada. Tapi kali ini Yuuki tetap sibuk dengan pikirannya.

Aoi menepuk pundak Yuuki, pelan.

Yuuki terlihat sedikit terkejut. Beberapa saat kemudian ia baru menengok ke belakang melihat siapa yang menepuk pundaknya. Aoi tersenyum kecil.

"Tumben sekali kau kaget karena hanya ditepuk seperti tadi." Kata Aoi sambil duduk di samping Yuuki.

Yuuki hanya tersenyum malu-malu.

"Pikiran apa yang sampai-sampai membuatmu sebegitu seriusnya sampai tak sadar kalau ada yang datang, hm?" Aoi mengeluarkan dua kotak jus jeruk dari kantungnya. Yang satu ia berikan pada Yuuki dan satunya lagi untuk dirinya. Yuuki terlihat senang, mendapatkan minuman gratis. Apalagi dia memang sedang kehausan.

"E-eto... ini tentang Kei." katanya dengan gugup sambil memainkan ujung sedotan dengan jari-jari lentiknya.

"Shimizu-kun? Kalian bertengkar?" tanya Aoi dengan nada khawatir.

"Tidak.. tidak... kami gak bertengkar kok." Yuuki menggelengkan kepalanya.

"Lalu?" Aoi nampak tenang. Membuat dua anak kembar ini bertengkar adalah hal yang sangat buruk. Terakhir kali Yuuki dan Keiichi bertengkar membuat siswa-siswi Seiso bergidik ngeri. Hampir saja cap manis dan lucu yang disandang mereka berdua (Keiichi dan Yuuki) lepas.

"Mengenai dia dan Shouko-chan, Aoi-san pasti masih ingat tentang... um... kejadian beberapa hari yang lalu, kan?" Yuuki langsung merona mengingatnya.

"Oh, yang Shimizu-kun mencium Fuyumi-san."

"Ssstt... jangan keras-keras, kalau nanti ada yang dengar gimana?" Yuuki melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan keadaan aman dan tak ada yang menguping. Aoi tertawa pelan melihat tingkah laku Yuuki. Yuuki langsung menatap Aoi dengan sebal sambil menggembungkan pipinya.

"Memangnya apa yang salah? Bukankan itu sesuatu yang wajar dan tak perlu dibesar-besarkan?" Aoi berhenti tertawa.

"I-itu terlalu dewasa. K-kita kan masih sekolah. D-dan lagi... melakukannya di tempat umum seperti itu..." Yuuki menutup mukanya yang merah dengan kedua telapak tangannya.

"Yuuki," tangan Aoi menyentuh telapak tangan Yuuki yang menutupi wajahnya dan menurunkannya. Yuuki terlihat bingung dengan rona yang masih tersisa di pipinya yang pucat.

"Kau ini... memang masih anak-anak." Dikecupnya bibir ranum Yuuki. Yuuki membelalakan matanya karena terkejut. Ciuman kali ini berlangsung lebih lama dari yang sebelumnya. Terlalu lama sampai-sampai Yuuki pingsan karena tak tahan dengan degup jantungnya. Aoi langsung menyudahi ciuman mereka dan memeluk tubuh Yuuki agar tak terjatuh.

Aoi membiarkan kepala Yuuki tertidur di pangkuannya. Ia tersenyum puas sambil mengusap rambut Yuuki dengan lembut.

Sepertinya ia harus membolos dan menunggu Yuuki sampai terbangun. Dan sepertinya Yuuki akan mendapatkan ciuman ketiganya saat ia terbangun nanti.