Dentuman bola tenis berwarna hijau mengisi pagi hari yang cerah. Beberapa siswi perempuan mengelu-elukan nama kedua pemain yang kini saling melempar bola ke satu sama lain.
"Kaji-kun! Fight!" Tim cheers dadakan dari kelas 2-2 memberikan semangat pada Kaji Aoi yang kini sedang melawan Tsuchiura Ryotaro dari kelas 2-5. Ketika Aoi mendapatkan satu skor, ia melihat ke arah teman sekelasnya dan tersenyum begitu cerah yang maksudnya untuk mengucapkan terimakasih. Siswi kelas 2-2 langsung terhuyung-huyung, tak kuat menahan senyuman Aoi yang membuat mereka melayang.
"Tsuchiura-kun! Jangan mau kalah!" sangat kontras sekali tanggapan Ryotaro menganai adanya tim cheers dadakan ini. Dia merasa ditekan dan dipaksa untuk menang. Dia juga geli mendengar siswi kelasnya mengelu-elukan namanya atau menjerit.
Pertandingan pun kembali di mulai.
Seorang gadis berambut kuning yang ikal terbangun dari tidurnya di balik semak-semak tak jauh dari lapangan tenis. Masih pagi hari tapi Shimizu Yuukihara bolos pelajaran hanya untuk tidur. Iya membuka kacamata berframe persegi panjang berwarna birunya dan mengusap matanya. Ia pasang kembali kacamatanya dan menhela nafas. Jarang sekali ia terliha mengenakan kacamata, mungkin itu termasuk penyamarannya. Mungkin lho.
Yuuki berdiri dan merapihkan pakaiannya. Lalu matanya terarah ke lapangan tenis yang menjadi sumber kebisingan yang membuatnya terbangun. Ia menatap ke sana dengan bosan. Tapi sorot matanya berubah ketika melihat perawakan yang ia kenali.
- - -A-aoi-san...
Nafasnya menjadi tak karuan dan wajahnya memerah ketika menyadari Aoi tak jauh darinya. Yuuki masih terbayang-bayang dengan kejadian yang menimpanya kemarin. Ia langsung menepuk kedua pipinya sambil menggelengkan kepalanya.
- - -Aoi-san sedang pelajaran olahraga. Dia pasti gak akan ngeliat ke sini. Tenang... tenang...
Yuuki menarik nafas panjang.
"T-Tunggu... kalau begitu sekarang udah masuk dong? A-aku bolos lagi? Tidaaaak!" Yuuki langsung menjerit sambil berlari terbirit-birit. Ia lupa kalau Aoi berada tak jauh darinya dan tetap berlari sambil menggumam tak jelas.
Di lapangan tenis, pertandingan telah selesai dan dimenangkan oleh Aoi. Wajar, Ryotaro baru pertama kalinya bermain tenis. Kalau Aoi kan sudah sering ikut pertandingan tenis antar sekolah.
"Eh, kau mendengar suara jeritan barusan?" Nami bertanya pada Kahoko.
"Iya, suaranya familiar." Kahoko mengangguk.
"Fufufu... Mungkin itu Yuuki yang berteriak." Aoi tertawa ringan.
"Eh? Yuuki-chan?" Kahoko terlihat kaget.
"Ah, benar juga. Suaranya memang agak mirip sih." Ucap Ryotaro sambil mengelap keringatnya dnegan handuk kecil.
"Ngomong-ngomong soal Yuuki-chan," Nami tersenyum licik. Ia mendekat ke Aoi dan membisikan sesuatu, "Aku mendapatkan foto kalian kemarin lho, yang di atap sekolah."
"Amou-san, aku akan membelinya seperti biasa." Aoi tersenyum seperti biasanya.
"Sip, tapi yang kali ini harganya lebih mahal dikit. Hohoho..." Nami tertawa penuh kesenangan. Aoi memanglah pelanggan hasil jepretannya yang paling setia dan super menguntungkan.
"Tenang saja." Balas Aoi.
"Tsuchiura-kun, apa kau merasakan hawa-hawa tak enak?" Kahoko merinding karena melihat tingkah+tawa menyeramkan dari Aoi dan Nami.
"Hehe... mereka seperti melakukan transaksi gelap." Ryotaro tertawa hambar.
"Hachuuu!" Yuuki bersin ketika sampai di depan ruang mengusap hidungnya sebelum membuka pintu kelas.
Ketika Yuuki masuk ke dalam kelasnya. Tatapan sangar dari guru Bahasa Inggrisnya langsung menyambutnya. Seisi kelas langsung hening dan tidak melakukan gerakan sedikitpun daripada harus menerima hukuman dari guru yang terkenal akan kesangarannya itu.
"Shimizu-san, kau bolos lagi ya?" Risa-sensei menyeringai, bermaksud meledek.
"Nggak kok Sensei, aku gak sengaja ketiduran di semak-semak." Tapi ledekannya Risa-sensei malah ditanggapi dengan serius oleh Yuuki. Dengan santainya Yuuki berjalan masuk mengabaikan tatapan seram dari gurunya.
"Siapa bilang kau boleh duduk." Risa-sensei membuat Yuuki menghentikan langkahnya.
"Tidak ada. Tapi, bukannya diperaturan sekolah tak ada larangan untuk tidak boleh duduk." Yuuki lanjut berjalan lagi dengan santainya. Risa-sensei mulai geram.
"Shimizu Yuukihara! Keluar dari kelas sekarang juga!" Risa-sensei memukul mejanya.
"Eh? Aku dibolehkan untuk membolos?" mata Yuuki terlihat berbinar-binar.
"KELUAR!" Risa-sensei langsung melempar penghapus ke arah Yuuki namun sayangnya meleset.
"Oke deh Sensei, aku keluar dulu." Yuuki berjalan keluar kelas dengan santainya.
Risa-sensei langsung melirik ke anak-anak kelas 1-2 yang lainnya.
"Kerjakan soal halaman 50 dalam waktu 10 menit, kalau kalian telat tambah dengan soal halaman 67." Risa-sensei duduk dikursinya kembali setelah memberikan tugas yang banyak sekali. Tugas di halaman 50 berjumlah 100 soal begitu juga dnegan soal halaman 67. Semoga saja murid-murid kelas 1-2 tidak memendam perasaan dendam ke Yuuki karena telah membuat keributan di kelas dan membuat guru mereka menjadi semakin kejam.
Yuuki berjalan di lorong kelas yang sepi. Ini masih jam pelajaran dan masih lama sekali menuju jam istirahat. Dia bingung mau kemana sekarang. Perpustakaan? Terakhir kali ke sana ia terbangun karena suara bising yang dibuat beberapa murid yang mengerjakan tugas atau berdebat mengenai pelajaran. Kalau di taman, nanti sama seperti tadi. Kalau di atap...
Wajah Yuuki langsung memanas ketika memikirkan kata 'atap'. Ia masih terbayang-bayang dengan kejadian kemarin. Dua kali dalam sehari. Itu porsi yang terlalu besar untuk Yuuki.
Yuuki langsung menggelengkan kepalanya dan mengusir jauh-jauh bayangan kejadian kemarin di atap.
"Yuuki-chan!" sebuah suara yang tinggi memanggilnya. Yuuki yang wajahnya masih merah memfokuskan penglihatannya ke depan.
Tak jauh dari tempatnya berdiri. Ada Kahoko, Nami, Ryotaro, dan Aoi yang sedang berjalan menghampirinya.
- - -Aoi-san! I-itu Aoi-san! A-aku harus bagaimana?
Wajah Yuuki semakin merah, detak jantungnya menjadi tak karuan, seluruh badannya bergetar, keringat-keringat mulai bercucuran seiring mendekatnya Aoi ketempatnya berdiri. Saat Aoi sampai di depannya, Yuuki langsung mematung.
"Yuuki, wajahmu merah sekali." Aoi menyentuh kening Yuuki dengan jarak yang begitu dekat. Yuuki hanya diam.
"Jangan-jangan Yuuki-chan demam karena tadi tidur di balik semak-semak." Ucap Kahoko.
"Memangnya bisa begitu ya? Shimizu cowok gak kenapa-kenapa, padahal dia lebih sering." Kata Ryotaro.
"Kau ini. Walaupun kembar, kekebalan tubuhnya pasti beda." Nami memukul punggung Ryotaro dengan kencang. Ryotaro meringis kesakitan.
"Yuuki?" Aoi masih berada di depan Yuuki. Kini tangannya beralih ke pipi kiri Yuuki, dapat ia rasakan kalau tubuh Yuuki tak hentinya bergetar. Yuuki masih terpaku.
- - -A-aoi-san begitu dekat! Terlalu dekat!
Pandangan Yuuki perlahan mengabur. Kaki yang dari tadi sudah berjuang keras menahan getaran tubuhnya mulai layu. dan Yuuki pun K.O.
-Kami-sama... apa yang terjadi padaku?
Well, mungkinkah itu Aoi syndrome?
Hanya UQ dan Kami-sama yang tahu...
