Red Song

Dia itu muda. Umur mereka berjarak satu tahun, tapi kahoko tidak bisa dengan mudah mengerti isi otak lelaki itu, begitu pun pertumubuhan badannya. Bayangkan, setahun yang lalu dia berada di bawahmu, sekitar lima senti. Setiap kali berbicara, Kahoko menunduk dan rambut kuning terang yang lembut tersaji di depan matanya. Dan sekarang, Kahoko yang mendongak kalau berbicara. Merasa lehernya sakit atau harus mundur beberapa langkah agar mereka bisa saling berbalas pandangan.

Sifatnya pun berbeda. Dia semakin dewasa, semakin pintar merangkai kata, dan tak sepolos seperti sedia kala. Dia sudah berkembang menjadi pria dewasa dalam waktu setahun. Kahoko ayal dengan beberapa premis dalam otaknya tentang hal apa yang membuat Shimizu Keiichi berubah demikian. Maksudnya, itu terlalu cepat.

Dan kini mereka berjalan. Bersebelahan dengan tangan yang masing-masing di samping pinggang. Senyum samar terpasang di wajah mereka. Tidak ada yang bersuara, hanya menikmati nyanyian gagak hitam di bawah langit kemerahan. Tiba-tiba Kahoko mengangkat kepalanya, melirik ke samping kanannya, dan berkata "Shimizu-kun benar-benar berubah ya" sambil tertawa geli.

Yang disebut langsung menunduk dan tersenyum. Kahoko kembali menatap ke depan dan berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya. Senyum bak malaikat itu selalu menggetarkan hatinya, menimbulkan rona, dan merasa seperti ada Lili dalam perutnya. Kahoko kembali bergumam, "Pasti enak ya yang jadi kekasihmu, kelak" lagi-lagi diiringi tawa. Keiichi tidak merespon, ia tahu seniornya masih ingin berkata lebih.

"Nilai-nilaimu juga bagus. Kalau dari segi penampilan, kudengar kamu banyak penggemarnya.," Yang terakhir itu info dari Amou Nami, gadis yang selalu update.

"Kamu ahli memainkan cello dan dengar-dengar kamu suka membuat lagu. Aku bisa membayangkan bagaimana jadi dia. Pasti seperti putri raja yang begitu makmur." Kahoko menutup kedua mulutnya, meredam tawanya. Dia tidak bercanda, dia tertawa untuk mengurangi rasa canggungnya.

"Kaho-senpai mau?" bibir yang sedari tadi hanya melengkungkan senyuman kini terbuka dan melantunkan suara lembut yang khas.

"Dibuatkan lagu? Oh, benarkah tidak merepotkan?" Kahoko kembali mendongak ke samping kanannya.

"Ya, itu tidak masalah. Jadi, Kaho-senpai mau?" ditanya sekali lagi.

"Mau kok." Senyum senang tampak di wajahnya.

"Hm, berarti mulai sekarang aku panggil Kahoko." Keiichi tersenyum, masih senyum sama seperti biasanya.

Kahoko terdiam, mulutnya bungkam, langkahnya tertahan. Keiichi berhenti melangkah, dia menundukan kepala dan menatap senironya lekat-lekat. Rambutnya begitu merah, bibirnya jugalah merah, dan kulit wajahnya yang putih pun ikut memerah.

Bunyi gagak, cahaya kemerahan. Ini Red Song, bukan lagu seram ataupun marah. Ini tentang sepasang muda-mudi. Berdiri di sore hari, menatap satu samalain. Yang satu ragu, yang satu yakin. Yang satu malu, yang satu serius bukan main. Ini lagu tentang mereka. Tentang Shimizu Keiichi dan Hino Kahoko. Tentang awal mula mereka bersama.

A/n:

Anggaplah mereka pulang kencan (bagi Keiichi). Semoga gak begitu OOC dan saya gak berlebihan ngebuat betapa polosnya Kahoko. Di akhir dia sadar soal semuanya kok. Alasan kenapa bisa cepet tinggi, terus hari itu sebenernya mereka kencan, dan modus Keiichi buat ngedeketin dia. Buat yang rekues, semoga sesuai selera.