Disclaimer: masashi kishimoto-san
Gendre: drama/romance/supranatural
Pairing: Sasuhina/Nejihina(tidak yakin*Plak*)
Rated: T(sepertinya akan ada peningkatan*blush*)
Warning: OOC, AU, Typo bertebaran, ide pasaran, gaje, dll. Ini fic pertama saya, jadi mohon di maklumi. Don't like? Don't read!
Hope you like this^^
….
Hinata menggeliat dalam tidurnya, refleks ia tersenyum kecil saat mencium aroma segar yang di tawarkan selimut hangat yang menutupi sebatas lehernya. Entah sudah berapa lama ia tidak menikmati tidur senyaman ini.
Suara dari gemericik air membuatnya memaksakan diri untuk membuka mata, dengan sedikit malas Hinata merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. "Uhmm…" geramnya dengan suara serak.
Hinata menelengkan kepalanya ke sumber suara, mata lavendernya menangkap sebuah pintu kaca yang tampak buram. Alisnya mengkerut, dengan perlahan ia mengubah posisinya menjadi duduk, ia masih belum bisa memproses apa yang tengah terjadi. Kemarin… apa yang terjadi?
.
XXXXX…..XXXXXX
.
FLASHBACK
Di antara deretan loker yang berjejer, tampak bayangan gelap Sasuke yang tengah menyudutkan tubuh mungil Hinata di pelukannya. Tangan kanannya mencengram lembut kepala gadis itu agar tetap mendongak, sedangkan tangan kirinya melingkari pinggang ramping Hinata.
Apa yang dilakukannya Hinata juga tak begitu mengerti, tubuhnya selah beku dan enggan untuk di gerakkan. Ia dapat merasakan desiran aneh dalam dirinya saat itu juga. Seolah-olah darah dalam dirinya mengalir menuju bagian nyeri di mana sesuatu yang hangat namun menyakitkan tengah berada di sekitar leher Hinata sekarang.
"Akh, i-ittai.." rengek Hinata kesakitan, tubuhnya begitu lemas dan terasa dingin. ia merasakan cairan kental mengalir dari pangkal lehernya hingga sampai kerah seragam yang baru di gantinya. "Sa-sasuke-saann…" desah Hinata lemah, ia menarik pelan rambut gelap Sasuke yang terlihat semakin gelap saja di matanya. Perlahan-lahan tatapannya memburam, hingga akhirnya seluruh kesadarannya hilang sepenuhnya.
Hal terahkir yang di lihatnya adalah wajah datar Sasuke yang menatapnya dingin dengan mata merah dan mulut berlumuran darah.
Darah?
END OF FLASHBACK
XXXXX…..XXXXX
Wajah Hinata mendadak pucat, masih belum sepenuhnya mengerti dengan kejadian yang ada Hinata menurunkan pandangannya ke arah bawah, ia menyingkap sepenuhnya selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, semoga yang di takutkannya tidak terjadi.
Ia memang masih mengenakan pakaian lengkap. Tapi, baju siapa ini? Dress biru muda kehijauan tanpa lengan dan hanya sehelai tali kecil yang mengikat di sekitar lehernya, terdapat aksen renda pada bagian bawah yang mempercantik penamilannya.
Belum sampai di situ kebingungan Hinata, punggungnya menegang saat pintu –yang Hinata yakini- kamar mandi terbuka dan memperlihatkan tubuh polos seorang pria yang hanya di tutupi celana jeans hitam dan handuk kecil di sekitar lehernya.
"Yo." Sapa cowok yang Hinata kenali bernama Uchiha Sasuke santai. Mulut Hinata serasa kering, perlahan panas menjalari seluruh wajahnya hingga mengubahnya menjadi semerah tomat. "Pagi?"
"P-pa-pagi.." baka, kenapa ia malah menjawab pertanyaan dari orang yang bahkan tak di kenalnya ini? "Ano, k-kenapa… uhh, aku ada di s-sini?"
"Kau tak ingat." Apa Sasuke sedang bertanya?
"Aku… takut u-untuk mengingatnya."
"Hn." Sasuke diam sesaat seolah tengah merenungkan sesuatu, setelah itu dia melemparkan handuk yang di pegangnya ke arah Hinata hingga mengenai wajah gadis itu, "Mandilah, setelah itu temui aku di meja makan!" entah mengapa setiap perkataan yang keluar dari mulut pria berwajah rupawan itu, Hinata seolah tak memiliki wewenang untuk menolak, hingga yang dapat ia lakukan hanya mengangguk kecil.
XXXXX
XXXXX
XXXXX
Hinata POV
Aku menuruni tangga mencari tempat yang tadi di tunjukkan Sasuke. Mencari kata yang paling tepat karena aku sedikit bingung mengingat rumah ini tak bisa di bilang kecil. Koridornya saja sudah membuatku bingung karena terlalu banyak lorong mirip labirin.
Akhirnya setelah sedikit berputar-putar, aku menemukan juga orang yang ku cari sejak tadi. Dia, Uchiha Sasuke duduk di ujung meja utama sambil membaca –entah-apa-itu.
"Eto…" aku memainkan ujung dress hitam yang ku kenakan, jangan tanya dari mana aku mendapatkan pakaian ini. Karena setelah mandi tadi, pakaian ini sudah tertata rapi di atas ranjang Sasuke, entah dari mana datangnya tapi aku sangat yakin pakaian itu untukku.
Aku sengaja menciptakan jarak dengan Sasuke dengan berdiri kurang dari 3 meter darinya. "Hn. Kenapa? apa kau takut padaku?" aku menelan ludah, ia menyeringai iblis membuatku merasa terdesak.
"K-katakan, apa yang sebenarnya te-terjadi?"
"Kau belum menjawabku!" tuntut Sasuke tetap mempertahankan seringainya.
"A-aku…" aku hanya dapat menunduk, memandangi sepatu boots sewarna dengan gaun yang ku kenakan. "Ti-tidak tau." Jawabku seadanya.
Suara deritan yang di timbulkan kursi Sasuke membuatku refleks mendongakkan kepala. Dan secara misterius, Sasuke sudah berdiri di depanku. Sangat dekat sampai aku harus mendongak untuk menatap langsung ke wajahnya. Matanya… terasa tak asing.
"Kau tahu ini apa?" suaranya terdengar sedikit serak namun dalam seolah tengah menginstrupsi keadaan. Perlahan kurasakan tangan dingin Sasuke yang membelai pangkal leherku. Itu dia yang ingin ku tanyakan sejak awal, peristiwa sore itu kurasa ada kaitannya dengan dua lubang kecil yang memar.
"Ini… apakah kau..?" ku tolehkan kepalaku ke samping kanan, menghindari tatapan matanya yang tajam.
"Hn." Kurasakan nafas hangat Sasuke membelai tengkukku. "Seberapa besar keingin tahuanmu?" aku memundurkan langkahku sambil mendorong dadanya kuat-kuat. Tubuhku terdorong kebelakang dan menubruk tembok bercat cream yang terlihat baru.
Ku dekapkan kedua tanganku di depan dada, entah kenapa rasanya aku ingin menangis. "Be-berhentilah mempermainkanku!" ujarku setengah berteriak.
End of Hinata POV
"Dengar! Mulai sekarang, hidupmu ada di tanganku!" Sasuke kembali mendekati Hinata dan menyudutkan gadis itu pada tembok di belakangnya, perlahan Sasuke merendahkan tubuhnya. "Darahmu, jiwamu… tubuhmu." Tangan Sasuke berkeliaran membelai lekukan leher jenjang Hinata, mata Hinata membulat saat merasakan sesuatu yang tajam menusuk lehernya, ini sama sepeti kejadian di loker sore itu.
"Aw," pekik Hinata halus sambil menjambak rambut Sasuke. Kurang dari satu menit Sasuke sudah menjauhkan kembali bibirnya namun belum merubah posisinya, di tatapnya mata lavender Hinata dengan mata merah miliknya.
"Sia- tidak, lebih tepatnya apa sebenarnya k-kau ini?"
"Vampir, menurutmu?"
"Sulit di percaya."
"Mungkin." Mata Sasuke berubah sayu, "Aku sendiri tidak mengerti apa sebenarnya aku ini. Dalam kaumku, makhluk lemah sepertimu adalah mangsa yang menggiurkan."
Hinata menelan ludahnya, "Ma-m-mangsa…?"
"Makanya," Sasuke menjilati sisa darah yang masih tertinggal di bibirnya mirip anak kecil yang menjilat eskrim di mulutnya. "Hanya aku, kau hanya akan membutuhkanku!" gumam Sasuke, matanya tak lepas dari paras Hinata yang tanpa pertahanan.
"Apa y-yang akan kau l-la-lakukan jika seandainya aku menolak?" tanya Hinata dengan suara lemah.
"Aku tidak memberimu pilihan!"
"I-itu tidak adil."
"Hn." Kembali Sasuke mengecap rasa darah gadis yang mulai kehilangan kesadarannya itu, dengan sekali sentak Sasuke menggenggam rambut Hinata kemudian menariknya kebawah hingga Hinata memperlihatkan leher jenjangnya yang memiliki bekas kemerahan.
Kenapa… kenapa harus aku?
"Tadaima…" sepi. Selalu seperti itu setiap hari, bahkan saat Hinata masih tinggal di Kyoto, kadang Hinata membayangkan seperti apa rasanya saat ia pulang dan di sambut oleh suara ramah dari paman atau sepupunya.
Tanpa menunggu lama, Hinata segera membuka sepatunya lalu berjalan masuk ke dalam rumah sederhana yang baru di tinggalinya. Di sudut ruangan masih terdapat kardus-kardus berisi perlengkapan rumah yang masih belum sempat Hinata bereskan.
Setelah berganti pakaian, Hinata melangkahkan kakinya menuju dapur dan memasak untuk kedua pria yang masih belum ada di rumah. Apron abu-abu yang di kenakannya membuatnya mirip seperti ibu rumah tangga dengan sebagian rambut terikat ke belakang.
Saat tengah memotong wortel pikiran Hinata kembali terngiang akan kejadian beberapa waktu lalu.
"Dengar! Mulai sekarang, hidupmu ada di tanganku!"
Hinata merinding membayangkan saat taring tajam Sasuke menusuk bagian urat nadi di lehernya, rasanya nyeri dan seolah seluruh cairan yang ada di tubuhmu terserap ke atas.
"Aduh," tanpa sadar Hinata mengiris jarinya sendiri. Memancing keluarnya cairan merah kental yang berkumpul di ujung jari tengahnya.
"Sudah aku bilang, jangan melamun kalau sedang bekerja!"
"Eh?" Hinata memekik kaget saat sebuah tangan besar meraih jarinya lalu membawanya menuju bibir merah yang siap menghisap seluruh cairan kental itu. "N-nii-san?"
"Hmmm…" gumam Neji saat tengah menggeluti kegiatannya seolah sangat menikmati darah yang keluar dari jari sepupunya. Hinata tak dapat berkata apapun, pikirannya melayang entah kemana, mata obsidiannya terus memperhatikan Neji yang menghisap jarinya.
"Apa darahku seenak itu?" gumam Hinata tanpa sadar. Sontak mata Neji membulat, dengan tampang gusar pria 21 tahun itu segera melepaskan jari Hinata.
"Apa yang kau katakan?" tanyanya dengan nada tenang.
"A-ah, t-tidak… tidak ada," Hinata menggenggam pergelangan tangan kanannya.
"Gunakan ini untuk menutup lukamu!" ujar Neji seraya menyerahkan selembar plester luka dari kotak obat yang tak jauh dari dapur.
"Hai'… S-sebaiknya Nii-san segera mengganti pakaian, aku akan menyiapkan makan malam!"
"Hn."
…
…
…
…
…
…
…
Tbc
Author note: uwaaaaahhhh… apa-apan chap ini?*jambakrambut* rasanya kok semakin gaje aja ya? Gomen ne, buat para Readers soal keterlambatan saya dalam mengUpdate fic ini, dan soal Sasuke yang 'menyerang' Hinata itu sudah saya jelaskan di sini.
Ok, mungkin ngak semuanya karena masih ada beberapa rahasia yang belum saya ungkap semuanya!
Wokeh, Saatnya bales review nih!^^
