Disclaimer: masashi kishimoto-san
Gendre: drama/romance/supranatural
Pairing: Sasuhina/Nejihina
Rated: T semi eheM
Warning: OOC, AU, Typo bertebaran, ide pasaran, gaje, dll. Ini fic pertama saya, jadi mohon di maklumi. Don't like? Don't read!
Oia, untuk chap ini dan chap-chap selanjutnya, saya akan memasukkan OC yang punya peran penting di fic ini.
Hope you like this^^
…
Angel cry
"Good morning my students?"
"Morning sir…" suara sapaan serentak dari kelas 2-2 di mana seorang gadis bersurai indigo melakukan hal yang sama menggema di seluruh ruang kelas. Seperti sebelumnya, kelas pertama di hari senin di awali dengan pelajaran bahasa inggris. Pelajaran kesukaan Hinata.
"Ok, please open your books!" perintah sang guru berambut pirang.
"Loh," Hinata mengutak-atik isi tasnya mencari buku yang sejak semalam sudah di siapkannya. "Ke-kenapa tidak ada? Seingatku semalam sudah aku masukkan." Hinata masih sibuk mencari bukunya di dalam tas.
"Miss Hyuuga, what is wrong?" Hinata nyaris terlonjak saat guru bule itu menegurnya.
"Erm, so-sorry.. my book is_" untuk kedua kalinya Hinata dikejutkan, "Eh?" Hinata memandang lama sebuah buku yang di ulurkan ke arahnya, perlahan matanya beralih ke gadis pirang di sebelahnya.
"Ambil!" perintah gadis itu dingin.
"I-Ino-san?" ragu-ragu Hinata menerma pemberian dari teman sebangkunya itu. "Ini… ba-bagaimana bisa_"
"Aku menemukannya di tempat sampah. Walau ada bagian yang robek, tapi masih bisa di perbaiki." Ino kembali menatap papan tulis.
Hinata tidak perlu bertanya kenapa bukunya bisa ada di tempat sampah, sudah jelas ini ulah dari teman-temannya (yang lebih pantas di sebut penjahat) yang menjahilinya. "Arigatou." Bisiknya tulus. Hinata beruntung Ino menemukannya, dua hari yang lalu ia juga sempat mendapat hukuman karena tidak mengumpulkan tugas matematika. Bukan karena Hinata lupa mengerjakannya atau apa, tapi karena tugas yang seharusnya terkumpul malah menghilang dan akhirnya Hinata tak sengaja menemukan sisa kertas yang tak sempat terbakar di tempat pembuangan sampah.
"So, what's wrong with you two?" beberapa siswa tampak berbisik seolah tengah mentertawak Hinata.
"N-not at all." Hinata tersenyum hambar. Ironis memang, tapi Hinata tetap tak berkutik dan pasrah tanpa bisa melawan saat teman-temannya tak pernah berhenti untuk mengganggunya.
Hinata sedikit merasa bersyukur, setidaknya masih ada Ino bersamanya. Meski sering bersikap dingin dan seolah tak acuh, namun Ino sering kali membantu Hinata. Tak jarang gadis pirang itu membantunya dengan mengingatkan Hinata jika ia sedang di jebak teman-temannya walau secara tak langsung.
"Ano, Ino-san… b-boleh aku bertanya?" bisik Hinata agar tak di ketahui oleh guru yang tengah menjelaskan.
"Hm." Respon singkat Ino sudah membuat Hinata yakin jika Ino mau mendengarkannya.
"Kenapa kau ma-mau menolongku?"
"Menolong apa? Kapan aku melakukannya?" ucapan Ino terdengar melecehkan.
"Uhm, E-entahlah… menurutku Ino-san be-berbeda, saat semua orang mengganggu dan mengucilkanku. Ino-san s-sebaliknya, kau selalu membantuku, m-memberiku semangat..y-yah, meskipun tak secara langsung."
"Keh, jangan salah faham. aku hanya tidak suka melihat gadis lemah sepertimu, lagi pula.." Ino memainkan rambutnya, "Aku paling benci melihat orang cengeng I hadapanku." Sesekali Ino mencatat apa yang ada di papan tulis.
"O-oh… be-begitu ya?" Hinata menunduk sedih, ia sempat berfikir suatu hari nanti ia bisa beteman baik dengan Ino.
…
"Sasuke!"
Gadis berambut gelap dengan sepasang mata violet kebiruan berlari menghampiri cowok berpotongan rambut aneh di koridor. "Hn, Hikari." Gadis yang di panggil Hikari merengut kesal.
"Selalu saja begitu. Tidak bisakah kau menghilangkan kebiasaan burukmu itu?" gadis hyperaktif yang sering mengekori langkah Sasuke itu menyerahkan sebuah buku tebal dengan kasar ke dada Sasuke. "Ini, si bodoh Naruto menitipkannya untukmu."
"Hn." Sasuke menerimanya lalu dengan santai ia kembali melangkah di ikuti oleh gadis yang memiliki sifat 180 derajat jauh berbeda dengannya.
"Oia, mama ingin kau pulang, dia bilang dia merindukanmu. Lagi pula, kenapa sih kau harus tinggal sendirian. Kan jadi aku yang harus repot menangani kekacauan yang di buat oleh mama." Hikari terus mengoceh tanpa berhenti meski ia sadar Sasuke tidak akan benar-benar mendengarkannya. Di tengah jalan, keduanya berpapasan dengan Hikari yang tampak terburu-buru, kelihatannya gadis itu baru keluar dari toilet.
Di jarak kurang dari 2 meter, keduanya berhenti. Wajah Hinata tampak terkejut dan memucat, sedangkan Sasuke memasang wajah datar namun tatapan matanya tajam. "Dia lagi." Gumam Hikari tidak suka.
"E-e… a-apa kabar?" Hinata membungkuk kikuk, "Ma-maaf aku harus p-pergi!" Hinata buru-buru melangkah melewati dua orang yang masih berdiri di tempat.
"Kenapa dengannya? Seolah sudah mengenal kita saja." Gerutu Hikari, "Hei, Sasuke… apa ada untungnya kita terus berdiri diam begini?"
Sasuke memegang dadanya dengan nafas memburu, "Kau duluan saja!" Sasuke memutar tubuhnya dan berjalan cepat ke arah berlawanan dari tujuan mereka sebelumnya.
"Oi, Sasuke… kau mau kemana?" bahkan teriakan Hikari sama sekali tak di responnya.
"Kembaranmu kenapa?" Hikari menoleh, di dekatnya sudah berdiri seorang cowok berambut mencolok. Memutar matanya malas, Hikari melanjutkan langkahnya ke tujuannya semula dengan tetap mengabaikan pertanyaan Naruto. "Hei, Hika-chan… kau belum menjawabku!"
"Apa gunanya?" jawab Hikari cuek.
"Oh ayolah, tidak bisakah kau bersikap manis sedikit saja di depanku?" rayu Naruto.
"Keh, jangan harap!"
"yaah, Hikari -chaaannn~" sepanjang perjalanan Hikari harus menutup telinga untuk mendengarkan ocehan tak jelas dari teman saudara kembarnya itu.
"S-s-Sasuke?" Hinata merapatkan diri pada dinding di belakangnya, wajahnya tampak ketakutan mirip domba kecil yang di hadang serigala kelaparan. Yeah… mungkin keadaan Hinata memang tak jauh berbeda, tatapan tajam Sasuke seolah siap menelannya hidup-hidup.
"Apa kau takut?" Sasuke memasang seringaian mengerikan, membuat Hinata berkali-kali menelan ludahnya. "Sudah seharusnya begitu, kau memang harus takut padaku!" tatapan dingin Sasuke terlihat seperti mentertawakan tingkah Hinata yang tiba-tiba merosot jatuh terduduk di tempatnya.
"A-pa yang…" Hinata menatap horor sesosok tubuh seorang gadis berseragam sama dengannya yang tergeletak tak berdaya di bawah kaki Sasuke. 'apa gadis itu sudah mati?' batin Hinata menjerit. Sasuke mencemooh dalam hati, masih sempat-sempatnya Hinata memikirkan orang lain di saat dirinya sendiri dalam keadaan terancam.
Tanpa Hinata sadari, dengan langkah perlahan, Sasuke mendekatinya. Kedua tangannya terselip nyaman di dalam saku celana, ruang musik yang tak begitu luas mempermudah Sasuke untuk mengurung Hinata dalam dunianya yang kelam.
"Be-berhenti di situ!" Hinata memberanikan diri untuk bersuara, buru-buru ia kembali berdiri, langkah Sasuke terhenti setelahnya, dengan keberanian yang tersisa Hinata menunjuk langsung ke wajah Sasuke. "a-atau aku akan_"
"Akan apa?"potong Sasuke. Sungguh, Hinata merasa ngeri melihat seringai tipis yang tak kunjung menghilang dari wajah rupawan Sasuke.
"A-aku… aku akan teriak!" suara Hinata meninggi satu okta.
"Oh ya? Coba kau lakukan, aku ingin tahu apa jadinya jika seekor domba meminta bantuan dengan domba lain." Kali ini Sasuke benar-benar mengurung Hinata di antara lengannya dan dinding bercat putih.
Sinyal berbahaya berdering di otak Hinata, meneriaki si pemilik untuk segera pergi atau setidaknya meminta bantuan pada siapa saja. Hinata memejamkan matanya erat, menunduk lalu di tangkupkannya kedua tangannya di depan dada sambil berdoa, Kami-sama…. Tolong!
"Aku tidak mengerti kenapa kau memiliki aroma berbeda." Bisik Sasuke di kulit leher Hinata, nafasnya yang teratur memukul-mukul permukaan kulit Hinata membuat sang pemilik merasakan sensasi aneh.
"Me-menjauh dariku!" suara Hinata terdengar mencicit di telinga Sasuke, ia semakin merapatkan dekapan tangannya hingga buku-buku jarinya memucat. Tubuh gemetar dan detak jantungnya yang memacu dengan cepat bahkan dapat di rasakan oleh Sasuke.
"Katakan, alasan apa yang membuatku harus menjauhimu?"
Hinata takut, ia takut Sasuke akan melakukan hal yang sama padanya seperti beberapa hari yang lalu. Terlebih saat Sasuke mulai menyapukan bibirnya di sekitar area leher gadis yang identik dengan warna indigo itu.
Hinata membuka matanya cepat saat merasakan sebuah benda lunak dan basah menggerayangi lehernya, dengan sekuat tenaga ia mendorong dada Sasuke menjauh. "No~" pekiknya panik. Walau berhasil menjauhkan tubuh Sasuke selangkah, namun Hinata sama sekali tak merasa lega saat tatapan Sasuke semakin menajam, serta mata kelam Sasuke terlihat semakin menghitam dengan kilatan mengerikan.
"Dari semua hal yang kubenci, ada satu yang paling tidak aku sukai." Sasuke mencengram rahang gadis yang mulai berkaca-kaca, "Aku tidak suka penolakan." Ujarnya dingin. setitik air mata mengalir membasahi pipi Hinata, kemudian perlahan-lahan berubah menjadi isak tangis.
"Ck." Decak Sasuke kesal, ia mulai melonggarkan cengkramannya. "Stop!" Hinata sama sekali tak menghiraukan perintah Sasuke, Ia justru semakin mengeraskan isakannya.
"Cukup." Desis Sasuke, dengan sekali sentakan, Sasuke membungkam bibir Hinata yang bergetar.
"Hmpp.." Hinata kembali berontak, namun pelukan Sasuke pada pinggang dan cengkramannya pada belakang kepala gadis itu membuatnya tak dapat bergerak sedikitpun. Sasuke memiringkan kepalanya agar mempermudah menekan dan melumat bibir Hinata, ciuman Sasuke terasa memaksa namun lembut. "Urgg_" erangan tertahan meluncur keluar dari bibir Hinata saat Sasuke memaksa untuk membuka mulutnya, pasrah Hinata memberikan jalan untuk lidah Sasuke bereksplorasi menjelajahi setiap sudut di dalam rongga mulutnya. Terlalu lembut sampai Hinata nyaris terbawa suasa, tapi saat mengingat siapa yang telah menciumnya, akal sehatnya kembali bekerja.
"Umh…" suara lemah dari arah belakang membuat Sasuke tersadar jika ia sudah melupakan sesuatu.
"Shit." Memaki pelan, Sasuke mengakhiri ciumannya lalu meninggalkan Hinata yang masih syok begitu saja. Hinata merasa kakinya lemas seperti jelly, hingga sedetik kemudian ia jatuh terduduk dengan nafas memburu. Hinata menyentuh bibirnya sendiri, 'c-ciuman pertamaku… dengan,'
"Hei, kau…" Hinata mengangkat wajahnya, tepatnya kearah gadis yang tadi Hinata pikir sudah tewas.
"I… i-Ino-san?" pekik Hinata tak percaya, gadis yang mencoba berdiri terhuyung-huyung dengan berpegangan pada meja di sebelahnya itu tak menjawab. Ia hanya memegangi kepalanya yang terasa pening luar biasa.
"Kepalaku sakit sekali… apa yang terjadi?" gumam Ino mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi padanya. Hinata takjub saat melihat dengan jelas bekas gigitan Sasuke di sekitar leher Ino pelahan memudah lalu menghilang begitu saja. 'bagaimana bisa?' batinnya tak percaya.
Saat Ino nyaris limbung kebelakang, Hinata buru-buru menghampirinya dan menahan tubuh Ino agar tidak jatuh. "Kau baik-baik saja?" tanya Hinata khawatir.
"Entahlah, kepalaku sakit… aku tak mengingat apapun kecuali saat aku hendak keluar dari kelas ini tadi." Ujar Ino dengan suara lemah, Hinata diam. Ia memang tak melihat Ino setelah pelajaran musik usai, awalnya ia berfikir bahwa gadis itu sudah lebih dulu masuk kelas, sedangkan Hinata kembali untuk mengambil alat tulisnya yang tertinggal.
Kenyataannya Hinata malah melihat dengan mata kepalanya Sasuke yang –Hinata sangat yakin- menghisap darah seorang gadis berambut pirang –yang ternyata Ino- hingga jatuh pingsan.
"Sampai kapan kau melamun?"
"Eh, gomen… A-ayo, aku akan mengantarmu ke UKS!" ujar Hinata kikuk lalu membantu Ino berjalan dengan meletakkan lengan kanan Ino di bahunya.
….
….
"Be-benar, kau sama sekali tidak me-mengingat apapun sebelum kau pingsan?" tanya Hinata untuk yang ketiga kalinya. Ino mendengus kesal, ia bosan juga terus menerus menjawab pertanyaan Hinata yang jawabannya tidak akan berubah itu.
"Sudahlah, jika aku bilang tidak. Ya tidak!" ujar Ino tegas.
"Ya sudah kalau begitu." Hinata menghela nafas lega, entah mengapa ia merasa bersyukur karena Ino sama sekali tak mengingat apapun tentang kejadian tadi. Setidaknya dengan begitu, baik Ino maupun Sasuke tidak akan mendapat masalah kan?
Eh, tunggu dulu.
Memangnya kenapa ia harus memikirkan Sasuke juga? Jika ia menghawatirkan Ino, itu hal yang wajar. Tapi Sasuke….?
Tanpa sadar Hinata menggelengkan kepalanya berulang-ulang sambil mencubit pipinya sendiri, kejadian saat Sasuke tiba-tiba menciumnya muncul kembali ke memory otaknya mirip kaset rusak.
"Hei, kenapa dengan wajahmu?" tanya Ino penuh curiga.
"E-eh, wajahku kenapa?"
"Tingkahmu ini aneh sekali…" Ino mengedikkan dagunya, "Wajahmu memerah, kau demam?"
"Ah, be-benarkah?" Hinata buru-buru menuju cermin kecil yang terpasang di dekat kotak P3K. "Benar…"gumamnya, inilah kebiasaan sejak dulu. Suka merona sendiri jika sedang malu.
"Keh, dasar bodoh." Gumam Ino saat melihat tingkah panik Hinata. Tanpa sadar Ino tersenyum, menurutnya keluguan dan kepolosan yang di miliki oleh gadis bermata lavender ini membuatnya terlihat sangat bodoh dan konyol saja, mungkin karena itu juga banyak teman-temannya menjadikannya sasaran bully. Ino menundukkan kepalanya.
"Eh, Ino-san, ada apa?"
"Masuklah.." ujar Ino tetap menunduk.
"Ma-masuk?"
"Kau masuk kelas saja, sebentar lagi bel akan berbunyi. Aku sudah tidak apa-apa."
"Tapi…" Hinata tidak tega bila ia meninggalkan Ino sendirian, lagi pula hari ini petugas UKS sedang tidak ada, jika Ino membutuhkan sesuatu bagaiman?
"Sudah aku bilang aku tidak apa-apa!" bentak Ino, membuat Hinata tersentak kaget dan buru-buru pergi dengan raut ketakutan.
From Hinata:
Maaf, mungkin nanti aku akan pulang terlambat jadi tidak sempat membuatkan makan malam. Di kulkas ada sup miso sisa tadi pagi, Nii-san bisa memanaskannya jika ingin makan.
Neji menghela nafas, penjelasan dari dosen sama sekali tak di perhatikannya. Kini ia lebih fokus pada ponsel di genggamannya.
To Hinata:
Jam berapa kau pulang? Aku akan menjemputmu!
Sesekali ia melirik ke depan untuk memastikan jika dosen itu tak memperhatikannya. Untuk ukuran seorang genius, Neji memang jarang mendapatkan teguran karena sekalipun ia tak memperhatikan ia masih dapat menangkap apa yang telah di jelaskan. Cukup lama Neji menatap hampa kedepan, hingga perhatiannya kembali pada ponsel yang bergetar.
From Hinata:
Tidak apa-apa aku bisa sendiri.
Neji menghela nafas.
To Hinata:
Jangan keras kepala, jangan pulang dulu sebelum aku datang!
Di tempat lain, seorang gadis yang tengah duduk di perpustakaan tampak menghela nafas. Semua tak sesuai dengan rencananya, ia tahu Neji bukan seseorang yang terlalu memperlihatkan keperdulian pada dirinya, jadi pasti ada alasan kenapa hari ini Neji ingin menjemputnya.
'apa Nii-san mengingatnya ya?'
Tiga jam kemudian…
"Apa aku terlalu lama?"
Hinata menolehkan kepalanya ke samping, di paksakannya sebuah senyum untuk pria yang berdiri tak jauh darinya dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Tidak j-juga."
"Tadi di jalan aku melihat karangan bunga yang cantik, jadi aku belikan ini." Neji menunjukkan buket bunga lily putih yang di rangkai dengan bunga lainnya sedemikian rupa.
"Jadi benar, Nii-san ingat hari apa ini?" Hinata kembali tersenyum sedih.
"Hm, ini bunga kesukaan ibumu. Sebaiknya kita pergi sekarang sebelum hari gelap." Hinata mengangguk lemah lalu berjalan beriringan dengan Neji dalam diam menuju stasiun kereta.
...
"Okaa-san..," inilah penyebab kenapa ia tidak ingin membuat Neji tahu kemana tujuannya. Ia tidak ingin terlihat lemah di mata Neji setiap mereka mengunjungi makam keluarga Hinata. Meski telah 11 tahun berlalu, namun Hinata tetap saja tidak dapat mempercayai kenyataan bahwa orang-orang yang di cintainya pergi untuk selamanya.
Dengan perlahan Hinata membelai nisan ibunya dan adiknya Hanabi, di sebelah makam Hanabi juga terdapat sebuah nisan berukirkan Hyuuga Hiashi, ayahnya. Tanpa sadar, Hinata menangis tersedu-sedu.
Neji menepuk pundak Hinata pelan, "Tidak apa-apa…" Neji sengaja menjeda kata-katanya untuk memberi ketenangan pada adik sepupunya ini. "semuanya akan baik-baik saja." Ujar Neji selembut mungkin, cahaya kejinggaan menyinari keduanya dalam diam. Hanya ada angin lembut yang berhembus menerbangkan helaian rambut mereka.
Hinata berdiri perlahan lalu menghapus jejak air mata di kedua pipinya, ia memandang pemandangan yang tersaji di atas bukit tempat makam ketiga keluarganya. Di sana, Hinata dapat melihat matahari tenggelam bak kobaran api yang menyala-nyala namun memberikan kehangatan yang cukup.
"Kita pulang?" Hinata menolah ke belakang, tersenyum lalu mengangguk mantap.
"Hmm."
Hari berubah gelap saat Neji dan Hinata berjalan bersama orang-orang yang ikut berlalu-lalang memadati jalanan kota Tokyo. Dengan bantuan syal cream yang di pinjamkan Neji memberikan kehangatan ekstra untuk Hinata dalam menghadapi dinginnya cuaca musim gugur.
"Nii-san," Hinata mencari perhatian Neji yang terus diam.
"Hn?"
"Apa… kau percaya adanya vampir?" Neji diam, mata pucatnya menerawang jauh.
"Jangan terlalu sering menonton film, bisa memberikan dampak buruk." Langkah Neji semakin lama semakin cepat membuat Hinata harus setengah berlari untuk mengejarnya. "Aku lapar, sebaiknya kita mampir ke kedai ramen itu dulu!" tunjuk Neji pada sebuah kedai kecil di pinggir jalan.
Hinata tak berkata apapun dan menuruti kakaknya untuk makan malam dengan menu ramen di malam dingin seperti ini sepertinya tidak buruk.
Hay, minna.. Hikari kembali^^
Ok, saya harap readers jangan protes dulu sama nama OC yang Hika buat. Hehe, bukan maksud untuk menyamakan namanya dengan author dodol ini loh.
Hanya saja menurut saya nama itu paling pas buat karakter yang jadi kembarannya sasu yang punya watak cerah beda sama Sasu. Buat yang mau tau ciri-ciri Hikari lebih jelas bisa lihat fotonya di Fb saya, udah pada tau kan?*plak*
Kalau buat Karakternya si Hikari, ya kira-kira seperti ini'nih: pertama diaagak Hyperaktif tapi ngak bego kayak Naru *Di-rasengan Naru*, sinis, ngak suka kalau ada yang dekat-dekat sama kembarannya. Dan satu satu bocoran lagi, di sini Hikari manusia biasa dan bukan vampir seperti saudaranya.
Ok deh sekian dulu, buat bales review mending saya balas lewat PM aja kali ya?*bilang aja males ngetik!* hehe, gomen…^^V
Akhir kata review please…!
