Disclaimer: masashi kishimoto-san

Gendre: drama/romance/supranatural

Pairing: Sasuhina/Nejihina

Rated: T semi eheM

Warning: OOC, AU, Typo bertebaran, ide pasaran, gaje, dll. Ini fic pertama saya, jadi mohon di maklumi. Don't like? Don't read!

Yaahhh saya telat update lagi^^, maaf kalo ada minna yang merasa kecewa dengan chap sebelum-sebelumnya dan di chap ini juga. Dan kalo kependekan saya juga minta maaf^^, ok dari pada membuang waktu minna selamat membaca!

Hope you like this^^

Blonde Vs indigo

Cahaya kekuningan memaksa masuk melalui sela-sela tirai sutra yang masih setengah tertutup, melalui celah itu tampak bayangan tipis seseorang yang masih terbaring di ranjang dengan damai. Rambut pirangnya tergerai memanjang hingga nyaris menyentuh lantai.

"Hmm…" gadis itu menggeram tertahan melawan silau cahaya pagi. Kilauan aquamarine yang terpancar di matanya memantulkan cahaya indah dari sang mentari, perlahan ia turun dari ranjangnya kemudian menyibakkan tirai jendela hingga cahaya silau membuatnya harus menyipitkan mata, "Ohayou.." gumamnya untuk seseorang yang mengisi hatinya saat ini.

"Apa ada lagi yang anda perlukan?"

Ino menggeleng lemah, dengan hati-hati ia mengusap ujung bibirnya menggunakan sapu tangan yang berada di samping mejanya. Ia mendongakkan kepalanya ke arah kursi yang berada beberapa meter di depannya, sebuah meja panjang dengan hidangan menu sarapan yang tak tersentuh.

"Dimana dia?" tanya Ino tiba-tiba.

"Eh? Jika.. maksud nona adalah tuan, beliau belum kembali. Sepertinya tuan masih berada di kantor_"

"Hm.. aku mengerti, tidak usah kau lanjutkan." Potong Ino cepat, ia berdiri dari kursinya dan segera menyambar tas sekolahnya. Pelayan yang sejak tadi setia berdiri di belakang gadis pirang itu mengikuti sang majikan sampai pintu depan.

"Jika dia pulang,…" Ino menggantungkan kalimatnya.

"Hmm.. nona, apa ada yang ingin anda sampaikan?"

"Tidak, tidak jadi.." Ino melangkah pergi menuju mobil yang telah menantinya.

"Uhg.."

Ino mengintip sedikit melalui celah kecil di dekat lokernya, tidak bermaksud untuk mengintip, ia hanya ingin tahu asal suara yang seolah tak asing di telinganya.

"Dengar ya… aku tidak suka kalau kamu sok mencari perhatian dengan Sasuke-kun!"

Ino menyipitkan matanya, berusaha memastikan kalau gadis yang di lihatnya benar-benar Hyuuga cengeng yang duduk di sebelahnya. Dan dugaannya benar, bersama tiga orang gadis –dari kelas lain- yang menyudutkan tubuh Hinata di deretan loker. Meski dari jauh, Ino dapat melihat tubuh Hinata yang gemetaran.

"Benar, orang sepertimu tak pantas untuk berada di dekat Sasuke-kun!" ujar gadis berkuncir dua.

"A-aku tidak b-bermaksud u-u-untuk berdekatan dengan_"

"Halah tidak usah pura-pura. Aku tau sebenarnya kamu ini mau merebut Sasuke-kun kan?" potong gadis berambut orange terang yang sejak tadi menuduh Hinata.

"Benar, bahkan ada siswa yang melihatmu di ruang musik bersama Sasuke-kun kemarin, kau pasti mau mencoba untuk merayunya kan?" tuduh gadis yang satunya lagi.

"A-aku.."

Plak!

Hinata baru akan membela diri, namun sebuah tamparan keras sudah terlebih dahulu melayang ke wajahnya. Cukup! Ino merasa geram, ini sudah keterlaluan namanya. Dengan tekad kuat, Ino hendak menghampiri mereka saat sebuah tangan menghentikannya. Ino menolehkan kepalanya, menatap heran seorang pria yang menjadi biang masalah Hinata saat ini.

"Kau…"

"Biarkan saja." Ujar Sasuke dingin. Ino akan protes saat Sasuke kembali menambahkan, "Dia tidak akan menjadi kuat jika terus bergantung pada orang lain." Ino terdiam, ini Uchiha Sasuke? Cowok dingin yang nyaris tak pernah berbicara dan jarang bersosialisasi.

"Tapi.." Ino menatap iba kearah Hinata yang tengah menangis.

"Hn."

"Hik.. hiks…" Hinata menangis tanpa henti, rasanya perih bukan hanya di rasakan pada pipi kanannya namun hatinya pun terasa sakit. Benci, ia sangat benci keadaanya yang menyedihkan seperti sekarang, ia merasa lemah dan tak berguna.

"Aku bingung, apa sih bagusnya dirimu? Kau tidak cantik dan juga tidak seksi, kau cengeng dan lemah, tidak bisa berbicara lancar dan kau…" suara cempreng gadis orange itu terdengar seperti dengungan saat Hinata ikut bergumam.

"Aku m-memang tidak ca-cantik…" Hinata bangkit, di usapnya sisa air mata yang masih keluar di pelupuk matanya. "Aku juga tidak seksi," Hinata menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya erat. "T-tidak pa-pandai berbicara.." tetesan air mata mengalir kembali di kedua pipinya dan perlahan jatuh ke atas lantai, tubuhnya tampak bergetar. "Cengeng…"

"Lalu… a-apa ada yang salah dengan h-hal itu?" Hinata mengangkat kepalanya, bibirnya menyunggingkan senyum yang belum pernah ia tunjukkan pada siapapun. Senyum yang lebih pantas di sebut seringai menakutkan, membuat ketiga gadis yang semula berlaga berkuasa berubah ciut melihat tatapan tak berpupil Hinata. "Apa… yang kalian inginkan?" Hinata melangkah perlahan, ketiga gadis itu mundur perlahan pula.

Aura-aura mematikan menguar si setiap sudut ruangan, Hinata tidak main-main rupanya. Di sudut ruangan, Ino merasa takjub dengan perubahan sikap Hinata, sekarang ia mengerti maksud perkataan Sasuke padanya, Hinata yang tak selemah perkiraannya. Sedangkan Sasuke hanya mengulum seringainya.

"A-apa..?" gadis berambut orange semakin memundurkan langkahnya saat Hinata mendekatinya, tanpa sengaja ia tersandung hingga jatuh terduduk, ia masih berusaha menjauhkan diri dari Hinata hingga punggungnya menabrak loker di belakangnya.

Hinata merendahkan tubuhnya, di dekatkannya bibirnya ke arah telinga gadis yang membatu di tempatnya itu. "Kenapa? bukankah kalian ingin menyiksaku?" bisik Hinata dingin, "Cobalah… Bermain-main denganku, hm?"

Glek.

Gadis berambut orange itu menatap horor kearah Hinata yang kembali menyunggingkan senyuman menakutkannya. Mata gadis itu membulat saat merasakan tangan Hinata yang meremas bahunya dengan sangat erat.

"A- kyaaa…." Gadis itu mendorong tubuh Hinata sekuat mungkin membuat Hinata mundur dan jatuh terduduk dengan pandangan bingung. Ketiganya berlari tunggang-langgang meninggalkan Hinata yang masih duduk di sana.

Hinata terdiam, di pandanginya kedua tangannya yang bergetar. "Apa… a-apa yang terjadi p-padaku…?"

Hikari berbaring tengkurap di atas ranjangnya, kedua kakinya bergerak-gerak di udara, sesekali ia mengoreskan sesuatu di memo kecilnya lalu menggigit-gigit kepala pensil seolah tengah memikirkan sesuatu.

"Di mana Itachi?"

"Hm?" Hikari menoleh ke belakang, "A.. Sasuke, kau pulang?" wajah Hikari tampak berbinar-binar, dengan cepat ia mengubah posisinya menjadi duduk menghadap kembarannya yang tengah bersandar di daun pintu.

"Hn." Gumam Sasuke tetap dengan nada datar andalannya.

"Ah, akhirnya kau mengerti penderitaanku juga ya? Kau akan tinggal di sini lagi kan? Baguslah, di sini aku sangat kerepotan menghadapi ulah mama. Kalau ada kau aku jadi lebih lega, kau kan juga… loh, Sasuke..?" Hikari celingak-celinguk mencari kembarannya yang sudah hilang entah kemana.

Sasuke menyusuri koridor khas jepang yang menjadi rumah utama keluarganya, memang selama ini dia hidup terpisah dari keluarganya sejak masih menginjak usia 15 tahun. Ia dapat melihat seorang wanita setengah baya dengan menggunakan apron biru tua tengah memotong wortel.

"Kemana perginya pelayanmu?"

"Ah, Sa-sasuke-kun? Kau pulang?" anak dan ibu, sama saja. batin Sasuke malas.

"Hn." Hanya itu yang keluar dari mulut Sasuke.

"Kyaa.. mama sangat merindukanmu!" Mikoto siap melompat memeluk putranya saat dengan mudah Sasuke menyingkir menghindari pelukan ibunya. "Uh tidak berubah.. Sasue-kun, mama kan rindu padamu!" gumam Mikoto sambil merengut.

"Jangan kekanak-kanakan!" Sasuke mengamati sekelilingnya, "mana Itachi?"

"Sasuke-kun, tidak sopan memanggil kakakmu hanya namanya. Kau harusnya memanggil Itachi nii-san!"

"Iya, iya aku tahu." Sasuke mengusap-usap kepalanya, "Sekarang di mana I-tachi-nii-san?" ujar Sasuke memberi tekanan pada nama kakaknya.

"Oh, kalau Itachi-kun biasanya ada di halaman belakang_ loh, Sasuke?" tak jauh berbeda dengan Hikari, Sasuke meninggalkan ibunya begitu saja sebelum sang ibu kembali mengoceh.

"Okaeri.." tanpa melihat wajah Itachi pun, Sasuke sudah dapat menebak jika sekarang kakaknya sedang memasang senyum innocent. Di depan mereka terbentang kolam ikan Koi yang cukup luas, Sasuke berdiri satu meter di belakang kakaknya yang tengah memberi makan ikan. "Katakan, seperti apa dia?"

"…"

"Apa ada yang berbeda darinya?" tanya Itachi sekali lagi, ia sangat mengenal adiknya yang satu ini. Sasuke tidak akan pulang jika bukan karena ingin membicarakan hal penting padanya ataupun ayahnya, dan kali ini menurut cerita Hikari Sasuke terlihat tertarik pada seorang gadis yang menjadi anak baru di sekolah mereka. Itachi berbalik menatap adiknya, wajahnya tampak tenang dan terkendali.

"Aku rasa.. begitu." Sasuke menghentikan sejenak ucapannya, "Hyuuga Hinata." Ujar Sasuke sambil memejamkan mata, mengingat bagaimana wajah gadis bermata lavender tersebut.

"Seorang Hyuuga?" wajah Itachi berubah serius, "Heh, aku kira clan itu sudah punah?"

"Hn." Gumam Sasuke.

"Sebaiknya rahasiakan ini dari ayah…" Sasuke menatap kakaknya tak mengerti, "Dan jangan terlalu dekat dengan Hyuuga, Akan sangat merepotkan jika dia tahu ada seorang putri Hyuuga yang masih hidup."

"Apa maksudmu?"

"Akan aku katakan saat adik kembarmu itu tak mengintip kita lagi!"

Di balik tembok, tampak Hikari yang tengah mengintip dan diam-diam mendengarkan pembicaraan kakak dan saudara kembarnya. "Ah, sejak kapan kalian menyadariku?" Hikari keluar dari persembunyiannya.

"Ini bukan urusan manusia, kembali ke kamarmu!" perintah Itachi.

"Kenapa? Meski aku tak seperti kalian, tapi aku juga punya hak untuk tahu masalah keluarga!" bela Hikari.

"Jangan keras kepala dan turuti kata Itachi!" perintah Sasuke, kali ini Hikari menurut dan langsung masuk kedalam rumahnya.

"Kenapa sih aku harus terlahir sebagai perempuan?" gumam Hikari tidak suka. Dalam clan Uchiha, hanya keturunan Uchiha bergendre laki-laki sajalah yang mempunyai darah vampir. Dan Hikari yang notabene adalah perempuan secara otomatis terlahir dengan garis keturunan sebagai manusia biasa yang hidup di tengah-tengah mahluk penghisap darah itu.

Aku melangkahkan kaki telanjangku menyusuri koridor gelap mengikuti arah satu-satunya cahaya yang dapat ku lihat, samar-samar aku dapat mendengar suara dari musik classic. Hingga aku sampai di sebuah ruangan bercat cream dengan gaya victorian bernuansa hangat dengan perapian yang masih menyala, suara alunan lembut dari musik balerina terdengar menggema di setiap sudut ruangan remang-remang dan seorang wanita berparas cantik dengan perut membesar yang bergerak kesana kesini menikmati alunan musik sambil mengusap-usap perutnya.

Pakaian Lolytha yang di kenakannya tampak selaras dengan rambut indigo yang menjuntai kebawah sepanjang pinggangnya. Aku terus mengamati wanita itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun, meski tak begitu jelas namun aku merasa familiar dengan wajah wanita itu.

"Kau tahu.." aku setengah terkejut saat tiba-tiba wanita itu berbicara. "Aku tak sabar menanti kelahirannya.." pandangan wanita itu beralih padaku yang berdiri di ambang pintu, lalu wanita aneh itu tersenyum tipis,

"Ini tak akan berakhir dengan mudah… tapi aku yakin, kau pasti bisa melewatinya!" ujanya kemudian berjalan mendekat lalu memelukku dengan hangat. "Berjanjilah, kau akan terus bertahan." Bisiknya lembut sambil mengusap perlahan rambut indigoku, aku hanya mengangguk kecil tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Aku memejamkan mataku merasakan setiap sentuhannya di rambutku, rasanya..

Begitu nyaman.

Normal POV

Hinata membuka matanya perlahan, beberapa kali ia mengerjap untuk menormalkan penglihatannya. Ia menggunakan kedua tangannya untuk mengubah posisinya menjadi duduk, di luar sana hari masih larut, kamarnyapun hanya di terangi cahaya lemah dari bulan. Beberapa hari ini ia sering bermimpi aneh, dimana ia akan berada di tempat yang bahkan tak di kenalinya lalu ia akan bertemu dengan wanita yang mirip dengannya.

Hinata tak begitu ingat dengan wajah ibunya, namun entah mengapa ia merasa yakin jika wanita itu adalah ibunya. "Ibu…" bisiknya lemah, "Aku akan berusaha!" ujarnya yakin. Ia bangun dari posisinya lalu berjalan kearah jendela kamarnya, menikmati angin malam yang berhenbus lembut menerpa wajahnya dan menengadah menikmati pemandangan bulan purnama di atasnya. Hinata mulai bersenandung kecil,

"Wo takaku noboru hikari..

Wakitachi ta ryo mo hi

Mamoru beki ryuu no michi yo

Shi na hasha tsu sora o aogi

Suna, kaze, ara koto mo

Sagi hokoru kowo no hi yo hana_"

"Kenapa tidak tidur?" Hinata terlonjak saat Neji menegurnya dari arah pintu.

"Ni-nii-san?" Hinata berbalik buru-buru, ia menunduk menutupi wajahnya yang memerah malu. "Ni-nii-san ju-juga belum t-tidur?" tanya Hinata balik.

"Aku baru saja menyelesaikan laporanku, saat kudengar seseorang bersenandung." Neji ikut berdiri di dekat jendela tepat di sebelah Hinata, "Suaramu indah. Tadi awalnya aku pikir ada malaikat di rumah ini." Goda Neji membuat Hinata semakin merona.

"Ni-nii-san..!" pekik Hinata malu.

"Hei," Neji berbalik menandang Hinata, tubuhnya ia sandarkan pada bingkai jendela. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa belum tidur?"

"Aku bermimpi." Kali ini Hinata mulai bisa mengontrol ekspresinya.

"Hm, mimpi buruk?" tanya Neji, Hinata menggeleng lemah. Ia tersenyum tipis, matanya menatap langsung kearah mata putih kakak sepupunya.

"Kurasa aku mimpi indah…" senyum Hinata semakin mengembang. "Aku bertemu ibuku." Meski tak mau mengakuinya, Neji merasa cahaya yang terpancar dari mata Hinata jauh lebih indah dari pada cahaya bulan di luar sana.

"Tidurlah, besok kau harus sekolah!" ujar Neji menepuk ujung kepala Hinata sebelum memberikan kecupan ringan pada puncak kepala gadis itu, membuat Hinata merona hebat. "Selamat malam!"

"Se-selamat m-ma-malam.." ujar Hinata terbata-bata membuat Neji tersenyum senang kemudian keluar dari kamar adiknya.

Seperti hari biasanya, Hinata memulai hari-harinya dengan bersekolah, dengan wajah menunduk gadis pemalu itu melangkah di antara beberapa siswa lainnya. Gerbang sekolah sudah terlihat di depan mata saat Hinata menangkap sosok yang tak asing lagi baginya, "Eh, i-itukan Ino-san dengan…Sasuke?" kata terakhirnya terdengar seperti bisikan.

Kenapa mereka bisa bersama?

Hinata menggelengkan kepalanya keras. Memang apa urusannya dengannya, apapun yang ingin mereka lakukan itu sama sekali tak ada hubungannya dengan Hinata kan? Tapi, kenapa Hinata terus mengikuti keduanya hingga ke sini?

Hinata menyembunyikan tubuh mungilnya di antara tangga yang tak jauh dari tempat Ino dan Sasuke berbicara, sesekali ia mengintip untuk melihat apa yang mereka lakukan di koridor sepi seperti ini. Hinata berusaha menajamkan pendengarannya karena tak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bahas. Sasuke yang bersandar di tembok sambil melipat kedua tangannya terlihat sangat keren, mungkin kalau saja dia 'bukan' vampir Hinata juga akan menyukainya.

Deg.

Hinata memegangi jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang, 'apa yang sedang ku pikirkan?' batin Hinata berkecamuk.

"Aku… Sasuke," itu suara Ino, suaranya terdengar bergetar. Hinata mengintip sekali lagi, keduanya begitu dekat, sebenarnya apa yang mereka bicarakan?

"Ino," suara rendah Sasuke membuat kaki Hinata serasa berubah menjadi jelly, hingga ia tak dapat lagi menahan tubuhnya untuk tak merosot duduk, di pegangnya dadanya yang terasa sesak.

Perasaan apa ini?

Hinata merasa sangat ingin menangis saat itu juga, ia buru-buru pergi dengan tetap hati-hati agar tak di ketahui oleh keduanya.

"Eh, Sasuke ada apa?" tanya Ino saat tiba-tiba perhatian Sasuke tertuju pada tangga.

"Hn."

Dua hari setelah kejadian itu di kelas Hinata jadi tidak konsen, bahkan ia mendapat teguran dari guru karena ketahuan sering melamun. Hari ini Ino tak masuk saat jam pertama, Hinata yakin itu karena dia sedang bersama Sasuke.

Tentu saja Sasuke lebih memilih Ino, gadis itu tak hanya cantik dan kaya. Tapi ia juga pintar dan di sukai banyak orang, bahkan guru sama sekali tak mempermasalahkannya saat gadis berdarah inggis itu sedang tak ada di kelas. Bahkan Hinata akui jika keduanya memang cocok.

Ugh, kenapa Hinata harus mengingat mereka lagi? Ayolah Hinata fokus, fokus! Hinata kembali memegangi dadanya, 'disini.. kenapa rasanya sakit sekali jika mengingat mereka berdua?' batin Hinata mengeluh pada dirinya sendiri.

Di balkon.

"Soal gadis Hyuuga itu," Ino bersandar di dinding dengan kedua tangan yang ia lipat ke belakang. "maaf," pipi Ino tampak sedikit merona "aku.. sepertinya ini akan menjadi persaingan.."

Sasuke menatap Ino tak percaya, "Jangan katakan jika kau…"

"Akan ku katakan pada gadis itu sekarang!"

"Hyuuga monster!"

"Benar kan, dia itu memang aneh… lihat saja warna matanya! Saara-chan sampai ketakutan padanya, dasar menyeramkan!"

Rasanya Hinata ingin kembali membalas mereka seperti waktu lalu dengan meneriaki mereka semua menggunakan kata-kata kutukan saat tiba-tiba segerombol siswi menghadangnya setelah jam olahraga, namun Hinata merasa tak bertenaga, ia sudah merasa lelah dengan kejadian yang tak-ingin-di ingatnya lagi. Ia bahkan tak perduli lagi saat gadis-gadis berpenampilan girlies itu membentuk lingkaran dan menyudutkannya dengan kata-kata hinaan.

"Kalian!" gadis-gadis itu segera menyingkir saat seorang gadis berambut pirang mendekat dengan ekspresi tidak suka. "Ini sekolah, buka tempat untuk para berandalan seperti kalian!" kalimat tersebut sukses membungkam mulut gadis-gadis itu.

Lapangan basket yang masih lumayan ramai membuat suara mereka setengah teredam, "Tunggu apa lagi? Pergi sana?" usir Ino dan langsung di turuti oleh mereka.

"Jangan bertindak lemah begitu jika mereka_"

"Tidak.." potong Hinata pelan, "terima k-kasih, kau su-sudah menolongku_"

"Hyuuga," kini giliran Ino yang memotong. "Ada yang perlu aku katakan.." Hinata menatap mata aqua milik Ino sebelum akhirnya kembal menunduk menyembunyika ekspresi kecewanya.

"J-jika kau ingin membicarakan se-seseorang kepadaku… ku-pikir aku t-tidak bisa me-membantu.."

"Bukan itu," Ino menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya, namun tingginya yang melebihi Hinata membuat gadis indigo itu dapat dengan mudah menatap wajah merona Ino.

"Aku.. tidak bisa menyimpannya lebih lama lagi,"

"Eh?" Hinata menatap bingung ke arah Ino, "A-apa ada yang salah?" lapangan sudah berubah sepi dan hanya tertinggal mereka berdua.

"Hmm… mungkin akan terdengar aneh, tapi kurasa selama ini aku mulai menyukaimu." Ujar Ino tenang.

"Ah?" Hinata masih belum sepenuhnya memroses ucapan Ino.

1 detik

2 detik

"Ha?_ HAA?"

Di sisi lain, Sasuke duduk di atas balkon sambil memijit pelipisnya. Matanya terpejam rapat, ia yakin gadis Hyuuga itu akan sangat syok mendengar penuturan Yamanaka yang terdengar gila.

"Sasuke lihat, bukankah itu Hyuuga yang kau bicarakan bersama Nii-san kemarin? sepertinya mereka sedang bertengkar!" tunjuk Hikari pada dua gadis berambut pirang dan indigo di bawah mereka, tanpa tahu jika yang terjadi jauh berbeda dengan apa yang ia ucapkan.

Tbc

u-uhuk-uhuk…(Keselek sendok*?*)

heh? Ino SUKA Hinata?

Bhhpp-bwahahaha….*Plak*, uh-oh, saya ini memang sudah gila!*redesr: baru nyadar toh?*

Hehe, iya..iya.. saya tau. Tenang, di sini ngak bakal ada unsur yuri apalagi yaoi! Mungkin hanya sedikit bumbu-bumbunya saja*doubleplak*, mungkin di sini perasaannya Ino hanya sepihak pan Hinata cewek normal.

Ino: jadi maksud lo gue ngak normal gitu?

Hikari: b-bukan begitu…*garuk-garuk kepala*^^

Oh iya, soal identitas Hinata dan clannya saya jelasin di chap depan aja ya? Dan soal romance… hyaaaa… itu memang menjadi kekurangan saya yang lainnya, jadi yang mau romance tunggu sampai otak saya kasih ide ya?*plakplakplak*

Satu lagi, gomen ngak bisa bales review sekarang dan mungkin Cuma bisa bales lewat pm doang!^^

Akhir kata, minna review please..(biar saya semangat update!)