Disclaimer: saya Cuma minjem sama mbah Masashi-sensei*plak
Rate: T(+)
Pairing: sasuXhina(Sasuhina 4ever^^)
Gendre: romance/supranatural/drama
Ya ampuuunnn… saia benar-benar lelet dalam mengUpdate fic ini.(bungkuk-bungkuk) gomen nee minna, saiia benar-benar sibuk jadi ngak punya banyak waktu buat nulis penpik*halah*. Rencananya ini bakal jadi chap terakhir sebelum saya kembali hiatus \o.0/, untuk beberapa saat saia ingin memfokuskan diri buat sekolah *curcol*^^V.
Ok, dari pada kelamaan dengerin ocehan ngak jelas saia selamat membaca saja ya?
.
.
.
.
.
.
Angel crying
Masih belum ada tanda-tanda pagi menjelang saat seorang gadis duduk memeluk lututnya sambil menangis dalam diam, lingkaran hitam di bawah kantung matanya menandakan jika ia belum tidur dan menangis semalaman. Saat tangannya perlahan menarik selimut untuk merapatkan tubuh polosnya, mata lavendernya sekali lagi melirik orang yang masih terbaring di ranjang yang sama dengannya.
Air mata semakin membanjiri pipi mulusnya, saat ini perasaannya campur aduk antara sedih, malu, dan tak percaya. Ya, dia berharap semua kejadian yang di lihatnya saat ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Mimpi yangg hanya terjadi dalam tidurnya saja, dalam tidur…
Benarkah?
Flashback
"Hei kau sudah mendengar rumor yang beredar? Kabarnya Yamanaka-senpai menyukai Hyuuga-senpai, itu loh yang matanya seperti hantu..!"
"Hah, yang benar? Yamanaka Ino? t-tidak mungkin!"
"Sungguh, seisi sekolah juga sedang membicarakannya kok."
"Benarkah? Haa, sulit di percaya.."
…
Koridor ramai dengan siswa-siswi yang berkumpul membuat dada Hinata sesak, bukan karena pengap atau apapun tapi karena semua mata kini tertuju padanya. Ya, dialah orang yang tengah menjadi topik pembicaraan sepanjang pekan ini. Kejadian beberapa waktu lalu di lapangan basket tentu tak –akan pernah- terlupakan di memori otak Hinata, bagaimana Ino mengatakan jika ia me-nyukai-nya. Ugh… semoga apa yang Hinata –dan orang lain- pikirkan itu tidak benar.
Kurang dari 10 langkah Hinata sampai di kelasnya, ia berpapasan dengan orang yang menjadi daftar 'harus di hindarinya', Uchiha Sasuke. Bersama dengan saudari dan teman pirangnya yang Hinata tak tahu siapa namanya, Sasuke melangkah angkuh ke arah berlawanan dengannya. Semua orang selalu memberi jalan bagi pangeran tampan ini di manapun ia berada, dan Hinata semakin tersudut tatkala tatapan tajam itu mengarah kepadanya. Hinata buru-buru menundukkan kepalanya, berusaha menghindari tatapan tajam Sasuke.
"Jangan.. bersamanya saat kau sendirian."
"Ah?" Hinata menolahkan kepalanya dan tak menemukan Sasuke hingga ia menoleh ke belakang. 'apa barusan Sasuke mengatakan sesuatu padaku?', batin Hinata penasaran. 'atau mungkin… hanya perasaanku!'
…
Tak terasa hari berganti senja, sebagian siswa mulai mengemas barang-barang mereka saat bel pulang berdering nyaring. Hinata yang masih duduk di tempatnya tak melakukan apapun, ia bergerak-gerak gelisah di tempatnya dan sesekali melirik kearah teman sebangkunya. Sedangkan Ino, gadis itu hanya menopang dagu di atas meja sambil menuliskan sesuatu di atas bukunya seolah tak terjadi apapun.
"A-ano…" suara lembut Hinata menghentikan kegiatan Ino, gadis pirang itu tak ayal menoleh ke arah Hinata yang terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu. Hinata melirik beberapa teman kelasnya yang masih ada di dalam kelas, terlihat mereka yang tengah berbisik-bisik sambil memandang ganjil kearah mereka berdua.
"Ada apa?" Hinata kembali menoleh kearah lawan bicaranya.
"S-soal ya-yang kemarin, m-maaf… k-kau tidak se-serius kan?"
"Aku serius." Jawab Ino enteng.
"Aa… ma-maksudmu, kau ingin a-aku dan kau.. ki-kita jadi teman ba_"
"Teman?" potong Ino cepat, "Bagaimana jika aku ingin lebih dari itu?" bisiknya tepat di dekat telinga Hinata, gadis penggugup itu menelan ludahnya paksa. "Kau.. tidak keberatan kan?" bisiknya dengan suara parau.
Hinata tertawa gugup, entah mengapa seolah ada sesuatu yang menggelitik membuatnya ingin tertawa meski terpaksa. "se-seperti apa co-contohnya?" sungguh, Hinata sangat penasaran dengan maksud dari ucapan Ino barusan namun ia juga takut di saat yang bersamaan. Kelas telah sepi dan hanya tersisa keduanya di sana, membuat alarm bahaya bekerja di otak Hinata.
"Ya.. kau tahu," Ino mendekatkan wajahnya, Hinata semakin memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menyentuh kaca jendela. "Kau bisa, menjadi…" tangan Ino bergerak memainkan rambut indigo di depannya.
"Hyuuga!"
Keduanya menoleh ke arah pintu di mana Sasuke bersandar di daun pintu dengan kedua tangan yang ia masukkan kedalam saku celananya. Ino menjauhkan tubuhnya sambil menatap tajam Sasuke yang juga menatapnya tajam, keduanya saling beradu deathglare untuk waktu yang lama. "Ada urusan apa seorang Uchiha datang kemari?" tanya Ino sinis.
"Hn." gumam Sasuke dingin sambil menatap Hinata seolah berkata 'ikut aku-atau-kau -mati' dan sepertinya hal itu dapat di tangkap Hinata sehingga ia buru-buru membereskan barang-barangnya dan menyusul Sasuke.
"A-aku duluan… Ino-san!" ujar Hinata sambil membungkukkan badannya sedikit lalu berlari menyusul Sasuke yang sudah lebih dulu melangkah.
…
"K-kita mau kemana?" tanya Hinata sekali lagi. Sejak tadi ia mengeluh dalam hati, kakinya mulai terasa pegal. Pekarangan sekolah sudah tak terlihat lagi tertutupi oleh pepohonan rindang, langkah Sasuke yang lebar membuat Hinata setengah berlari, bahkan Sasuke sama sekali tak mengeluarkan suaranya sementara ia terus menyeret Hinata entah kemana.
"S-Sasuke-san kita m-mau ke_Aw," pekik Hinata kesakitan saat Sasuke dengan tiba-tiba mendorong tubuhnya hingga kini Hinata berada di antara batang pohon dan tubuh Sasuke yang menghimpitnya. Kedua tangan Sasuke berada pada kedua sisi bahu gadis lavender itu untuk menahannya agar tidak kabur. "S-sa-Sasuke…" bisik Hinata ketakutan.
"Bukankah sudah ku peringatkan untuk tak bersamanya saat kau sendirian?" bisik Sasuke, kedua matanya tampak semakin menghitam saat menatap tajam Hinata membuat gadis pemalu itu memalingkan wajahnya.
"A-aku.." Hinata dapat merasakan dadanya yang berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Lihat aku!" perintah Sasuke dingin, "Aku bilang_".
"Kenapa denganmu?" Sasuke sedikit terkejut saat Hinata tiba-tiba mengkritiknya, "K-kenapa denganku? H-harusnya… aku harusnya t-takut padamu..!" Hinata menatap pantulan matahari tenggelam dari air sungai yang terlihat jernih. "harusnya.." mata Hinata mulai meredup, "Harusnya k-kau tak pe-perduli p-padaku..! I-iya kan?" Hinata mengerjapkan matanya berusaha menahan dirinya untuk tak menangis.
Kenapa denganku?
"Aku.. aku ti-tidak bisa u-untuk tak m-memikirkanmu d-dalam sekejap. Aku se-selalu takut jika ke-kelak aku tak bisa melihatmu." Sekarang, ucapan Hinata mulai tergesa-gesa, "A-aku tidak tahu apa- apa yang se-sebenarnya terjadi p-padaku?" Hinata mulai terlihat panik dan gelisah, ia menekan dadanya sendiri. "Di sini.. a-aku selalu merasa s-sakit saat me-melihatmu bersama orang lain.." tatapan Hinata kian meredup, "Katakan Sasuke.. kenapa denganku?" tanyanya menatap Sasuke seolah tengah menuntutnya dengan mata berkaca-kaca.
Seulas senyum tipis menghiasi bibir pria berdarah vampir itu, perlahan ia menumpukan keningnya di bahu kanan Hinata, menghirup dalam-dalam aroma yang selalu di sukainya. "Jangan pernah berhenti memikirkanku..! Kau, harus takut jika aku menghilang..! dan di sini," Sasuke menghangatkan tangan Hinata dengan tangannya yang besar dan membimbingnya menuju dadanya sendiri, "Kau akan tau apa yang sedang kau rasakan." pipi Hinata memerah, ia dapat merasakan dada Sasuke yang berdetak cepat namun menenangkan.
Perlahan nafas Sasuke kian memburu, tenggorokannya terasa sangat kering. Hal yang selalu terjadi saat ia berada di jarak yang sangat dekat dengan Hyuuga manis yang tengah di kurungnya ini, Hinata yang merasakan perubahan dari Sasuke mendorong dada Sasuke perlahan, menumpukan kedua tangannya di kedua pipi Sasuke.
"S-Sasuke… kau, kenapa?" tanya Hinata khawatir.
"Hnhh… pe-pergilah…!" nafas Sasuke semakin tersengal, dadanya terasa sesak.
"Sa_"
"Pergi!" perintah Sasuke sambil menarik Hinata menjauh darinya, Hinata semakin kebingungan. Ia merasa takut jika harus meninggalkan Sasuke dalam keadaan begini, maka ia kembali mendekati Sasuke berusaha menanyakan apa yang tengah terjadi padanya.
"S-Sasuke, kau ke-kenapa?" ulang Hinata.
"Kena-pa kau hnn.. masih di si-ni?" Sasuke berusaha mati-matian menahan hasratnya sendiri, Hinata menggelengkan kepalanya lemah sambil bergumam tak jelas, dengan lembut gadis itu membantu menopang lengan atas Sasuke untuk berdiri.
"A-aku akan membantu s-sebisaku." Ujarnya tulus, perlahan tangan Sasuke memegang lengan Hinata. Sangat erat hingga tanpa sadar gadis itu meringis kesakitan. Sasuke semakin menundukkan kepalanya, bibirnya yang terbuka memperlihatkan taringnya yang semakin memanjang, sekarang Hinata tahu apa yang akan terjadi padanya selanjutnya.
Karena seperti dugaannya, rasa sakit yang sama seperti sebelumnya kembali menghantui tubuh Hinata, saat Sasuke semakin menancapkan gigi taringnya dengan erat Hinata mencengkram bahu kemeja Sasuke. Seketika tubuh Hinata dan Sasuke perlahan merosot duduk saat Hinata tak mampu lagi menahan kakinya yang terasa lemas. Hinata berusaha menahan rasa sakitnya, dan pada saat itu barulah Hinata melembutkan sentuhannya, perlahan ia menggerakkan kedua tangannya memeluk kepala Sasuke sembari mendongak.
'Sasuke..' batin Hinata berulang-ulang, sekuat tenaganya menahan agar dirinya tetap terjaga saat segalanya mulai terlihat buram. 'mungkinkah… aku menyukaimu?,' akunya dalam hati ketika mata merah itu memandangnya dengan lembut.
"Maaf…"
Hinata hanya tersenyum tipis, ia yang berada dalam pelukan Sasuke tak sadar saat pria itu mendekatkan wajahnya hingga mengecup bibirnya dengan –sangat- lembut. Rasa anyir dari darah yang masih tertinggal di mulut Sasuke dapat dengan mudah di kecap oleh indra perasanya saat lidah lunak itu menyeruak memaksa masuk ke dalam mulut Hinata. Hinata tertegun sejenak, tak lama kemudian ia ikut memejamkan mata dan mengikuti arah yang di tunjukkan Sasuke hingga sisa nafasnya hampir habis bersamaan dengan kesadarannya yang ikut menghilang.
End of flashback
Selain kejadian antara dirinya dan Sasuke saat sepulang sekolah, tidak ada lagi ingatan yang tertinggal di otak Hinata saat ini. Dirinya yang baru tersadar tau-tau sudah ada di sebuah kamar gelap yang seolah tak asing bersama dengan seorang laki-laki yang memeluknya dengan tanpa-busana dan hanya ada selembar selimut yang menutupi tubuh polos mereka. Jadi, salahkah jika Hinata mulai berfikiran negatif?, karena memang seperti itulah kenyataannya.
Hinata melirik seragam sekolahnya yang tergelatak di sofa tunggal tak jauh dari ranjang, perlahan ia merangkak meraih blazernya dan merogoh saku untuk mengambil ponselnya.
Sudah Hinata duga, lebih dari 30 panggilan tak terjawab masuk dalam kotak panggilannya dan semua panggilan itu berasal dari Neji, sepupunya. Hinata kembali menangis, ia yakin saat ini pasti kakak dan pamannya itu sangat mencemaskannya.
"Nii-san.. g-gomen ne," gumamnya sambil mendekap ponsel di genggamannya.
Saat mendengar erangan halus dari Sasuke, Hinata memposisikan tubuhnya menyudut di sisi ranjang. Selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya semakin ia rapatnya hingga leher. Onyx perlahan terlihat saat kelopak berbulu-mata lebat terbuka, keduanya saling berpandangan dalam diam.
Tatapan Hinata seolah mengatakan –kenapa-kau-melakukan-ini-padaku?-, sedangkan Sasuke.. entahlah, bahkan Uchiha bungsu itu dapat dengan mudah menyembunyikan ekspresi yang ada di matanya.
Hinata kembali menangis, "Ke-kenapa..?" bisiknya parau, Sasuke tetap tak bergeming. Hinata ingin membenci pria ini, namun entah mengapa rasanya sangat sulit. "A-apa yang te-telah t-ter-terjadi?" Hinata meremas selimutnya, ia tak memperdulikan tubuhnya yang kepanasan di dalam selimut.
"Menurutmu?" ujar Sasuke datar, ekspresinya tetap tak berubah, dingin.
"Bagaimana jika aku bilang semalaman kita menghabiskan waktu di atas ranjang dengan_"
Plak.
Hinata menangkupkan kedua tangannya di depan dada, tubuhnya bergetar hebat dengan air mata yang terus membanjiri kedua sisi wajahnya. "H-harusnya aku tahu jika perasaan ini s-sangat salah…" ujar Hinata parau.
Matanya berubah sendu, "Sempat terbesit di pikiranku untuk mencoba mencintaimu dan berharap j-jika pe-perasaanku kelak a-akan terbalas." Hinata tersenyum hambar, "Sekarang aku mengerti.. mencintai orang sepertimu sama saja dengan tidak menghargai diriku sendiri." Hinata akan turun dari ranjang itu saat jari-jari Sasuke menarik lengannya paksa dan dalam satu hentakan, tubuh Hinata sudah berada dalam pelukan Sasuke.
Sasuke mengeratkan pelukannya, menenggelamkan jari-jarinya di dalam helaian rambut indigo Hinata. Hinata berusaha berontak dengan mendorong dada telanjang Sasuke, namun hasilnya selalu nihil.
"S-Sasuke.. lepas_"
"Jangan pernah mencoba lari dariku." Potong Sasuke dingin, seolah tak memperdulikan Hinata yang mulai merasa sesak.
"Ak-u… ben..ci… k..a..mu..!" ujar Hinata di sela-sela nafasnya, sekuat tenaga berusaha mendorong dada Sasuke. Tanpa Hinata sadari, ucapannya barusan semakin menyulut kemarahan Uchiha yang seolah tak terkontrol.
"Kenapa kau tidak pernah mendengarkanku?" ujar Sasuke semakin mengeratkan pelukannya.
"S-se-seshak.. Sa-sukhe..!" pekik Hinata, menyadarkan Sasuke atas apa yang ia lakukan. Setelah pegangan –atau lebih tepat di sebut pelukan Sasuke terlepas, perlahan penglihatan Hinata semakin memburam dan akhirnya tak sadarkan diri dan jatuh pingsan.
"Kenapa? Keh, memang apa yang sudah ku lakukan?" bisik Sasuke kearah Hinata yang tengah jatuh pingsan. Perlahan Sasuke menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya yang masih mengenakan celana jins hitam.
"Apa ada yang salah?" Hyuuga Hizashi mendekati putranya yang berdiri di dekat jendela, cahaya minim yang berasal dari sinar bulan purnama menerpa wajah kedua ayah-anak ini.
"Belum ada kabar dari Hinata." Neji memandang bulan bulat di atas sana, ekspresi khawatir tak dapat di sembunyikan dari wajah yang biasanya dingin. "Pasti sudah terjadi sesuatu padanya," Neji melangkah meraih jaket putihnya sebelum suara Hizashi kembali menggema.
"Kau mau kemana?"
"Mancarinya, apalagi memangnya?"
"Tidak perlu, Hinata bisa menjaga dirinya sendiri. Dia bukan anak kecil lagi sekarang!"
"Dan dia juga masih belum dewasa," ujar Neji penuh penekanan sebelum akhirnya menutup pintu dengan suara debaman keras. Hizashi memijit pelipisnya, sikap overprotective yang sering di tunjukkan Neji terhadap sepupunya itu sering membuat Hizashi berfikir jika putra satu-satunya itu memiliki perasaan lebih pada gadis pemalu yang sudah di asuhnya sejak masih kanak-kanak.
Tidak, bagaimanapun caranya putranya tak boleh memiliki perasaan sekecil apapun pada Hinata kecuali perasaan terhadap seorang kakak pada adiknya dan begitupun sebaliknya. Hizashi harus mencari cara agar Neji dapat menghilangkan rasa cintanya pada sang adik jika seandainya hal itu benar-benar terjadi atau akan ada masalah besar terjadi.
"Haruskah aku meminta bantuan para Uchiha?" gumam Hizashi entah pada siapa.
Curcol ngak penting dari author yang -ngak kalah- NGAK penting-nya: yeeyy chap 5 update(meski lelet sangat*plak).
Ok, gomen buat yang itu. saia memang agak drop karena jumlah review yang –ehem- kurang ba~yak, tapi… hiks ngak apa-apa lah, yang penting ada yang review(buat yang itu saya sangat berterimakasih^^) jujur, saia mulai berfikir buat hiatus dalam waktu lamaaa banget… tapi, tapi, tapi.. kalo kayak gitu kesannya saia jadi ngak bertanggung jawab ya?. Makanya Saia harap chap ini bisa sedikit memberi refrensi buat readers ngasih sumbangan, suerrr… review sangat berpengaruh buat para author kacangan seperti saya ini^^"
Apakah menurut readers saia banyak menuntut?
Mohon beritahu saia di REVIEW/-\
