Disclaimer: masashi kishimoto-san
Gendre: drama/romance/supranatural
Pairing: Sasuhina/Nejihina
Rated: T semi eheM
Warning: OOC, AU, Typo bertebaran, ide pasaran, gaje, dll. Ini fic pertama saya, jadi mohon di maklumi. Don't like? Don't read!
Setelah sekian lama hibernasi, Hikari back *masang muka innocent#ditendang readers. Hehe, gomen update-nya luamaaaa banget.. maklum aja deh, hidup ngak Cuma di dunia maya aja(sok bijak*plak)
Ok, dari pada kebanyakan cuap-cuap, mending langsung aja^^
Hope you like this^^V
…
Everything is canged…
…
Neji mengumpat berkali-kali saat panggilan telfonnya tak juga di jawab oleh Hinata, dalam hati ia terus merapalkan doa semoga tak terjadi hal buruk pada gadis yang telah mengisi ruang kosong di hatinya sejak kedatangannya 10 tahun lalu.
Ya, Neji tak dapat membohongi dirinya sendiri jika ia memang mencintai gadis pemalu itu. Begitu mencintainya hingga ia rela jika suatu hari nanti ia harus menukarkan nyawanya, apapun asal Hinata baik-baik saja dan tetap bisa tersenyum.
Entah mengapa perasaannya tidak enak akhir-akhir ini, ia mulai merasa ada perubahan pada diri Hinata sehingga membuatnya khawatir setiap saat, apalagi Hinata sering mengungkit-ungkit masalah vampir.
"Mereka…" desis Neji tajam, ia yakin hilangnya Hinata ada kaitannya dengan makhluk berdarah dingin yang sering di anggap tabu oleh sebagian orang itu. Tanpa membuang waktu, dengan cepat Neji membanting stir menuju arah yang berlawanan untuk menemui seseorang.
"Yo… Neji.." sapa seorang lelaki saat ia baru keluar dari dalam mobilnya. Sepasang taring tajam terlihat mengkilap saat pria bertato segitiga terbalik itu tersenyum lebar. "Lama tak berkunjung," Kiba- nama lelaki itu merangkul pundaknya.
"Aku tidak ingin basa-basi…" ujar Neji dingin dan segera memasuki rumah sang pemilik tanpa permisi.
"Seperti biasa, eh?" sindir Kiba sinis yang hanya di anggap angin lalu oleh temannya itu.
"Aku ingin kau menemukan Hinata."
Kiba mengangkat alis, mengingat-ingat seseorang bernama Hinata. Saat sebuah gambaran wajah terlintas di otaknya, barulah ia menjawab. "Aa.. sepupumu yang manis itu?" ujar Kiba innocent dengan cengiran khasnya, tapi Kiba segera memudarkan cengirannya saat tatapan tajam Neji mengarah padanya. "Ehem.. ada apa memangnya? Bukankah penciumanmu cukup untuk menemukan adikmu itu… aromanya sangat mudah di temukan kan?"
"Tidak, aku tak bisa merasakan keberadaannya saat ini. Aku yakin bau tubuhnya di segel oleh sesuatu."
"Hn.. menarik," Kiba lalu berjalan kearah sebuah bangunan yang terlihat seperti gudang. "Jadi kau mau aku menemukan keberadaan adikmu itu?"
"Hn." Gumam Neji tetap setia mengikuti temannya.
"Baiklah… Aku rasa, Akamaru cocok dengan tugas ini. Lagi pula sudah lama aku tak mengajaknya jalan-jalan." Ujar Kiba santai. Neji ingat Akamaru, anjing kecil yang dulu sering di bawa Kiba kemanapun ia pergi dalam jaketnya.
Setelah sampai di depan pintu, dengan perlahan Kiba memutar kunci yang tergantung di lubang key hingga meninggalkan bunyi klik- pelan. Isi dalam gudang tak begitu jelas di karenakan minimnya cahaya, membuat Neji menyipitkan mata dan mencari-cari sesuatu yang ingin di tunjukkan Kiba padanya.
"Kau pasti tak percaya, sekarang Akamaru tumbuh sedikit lebih besar.." ujar Kiba antusias, cengiran tak ayal terus melekat di wajahnya yang terlihat lumayan tampan jika seandainya ia tak terlalu Hyperaktif. Neji hanya diam mendengarkan ocehan temannya yang sering dipanggilnya 'idiot'. Merasa tak mendapatkan respon berarti dari si muka beku, akhinya Kiba menghela nafas dan segera memasuki ruangan gelap itu untuk mencari anjingnya.
…
…
….
…
Pantulan lemah cahaya obor di sepanjang koridor adalah hal pertama yang di lihat Hinata, entah apa yang telah mempengaruhinya namun ia melangkah perlahan melewati koridor sepi yang juga gelap itu.
Langkah kakinya yang tenang menuntunnya pada ruang utama yang seolah tak asing di ingatannya. Ia tahu tempat ini, tapi ia tidak ingat kapan ia pernah ada di tempat yang sama seperti saat ini. Mengacuhkan pemikirannya, gadis itu terhenyak pada apa yang di lihatnya.
Di ruangan yang dipenuhi lilin itu tak hanya ada dirinya. Sebuah lingkaran besar yang mengelilingi altar di mana seorang wanita terbaring di atasnya telah di kelilingi banyak orang dengan berpakaian serba putih dengan menggunakan tudung sehingga wajah mereka tak terlihat.
"Ini… m-mimpi?"
Hinata ingat wanita itu sebagai wanita yang sama yang selalu hadir dalam mimpinya, meski tak melihat wajahnya dengan jelas Hinata dapat mengenali warna rambutnya yang menjuntai kebawah nyaris menyentuh lantai. Kedua tangan wanita itu telah di ikat dan mulutnya juga di sumpal hingga hanya terdengar geraman samar yang keluar dari mulutnya.
Tak seberapa lama muncul seseorang dari arah lain yang kemudian berdiri menghadap perut wanita itu, kemudian di susul dengan kehadiran seorang wanita tua yang juga berdiri tak jauh menghadap selangk*ngan wanita malang tersebut.
"Eengrr…" erang wanita itu kesakitan saat pria misterius yang baru muncul tadi menekan perutnya yang masih berisi janin, sedang si wanita tua membantu persalinan untuk mengeluarkan sang jabang bayi.
Hinata yang melihatnnya mulai terlihat panik, dirinya yang bediri tak jauh dari sana melihat kepala wanita itu yang menggeleng kekiri dan kanan seolah ingin melepaskan diri. Terlebih orang-orang yang mengelilingi altar tampak sedang melakukan ritual dengan mengeluarkan energi tertentu dalam diri mereka kearah wanita tersebut.
Pria di sebelah wanita tersebut semakin menekan perut wanita itu, dan disaat itulah Hinata merasakan sakit luar biasa pada perutnya. Seolah apa yang dirasakan wanita itu juga tengah Hinata rasakan, begitu menyakitkan hingga membuat Hinata rasanya ingin mati.
"I-ittai.. hentikan, kumohon HENTIKAN…!" pekik Hinata sambil tertatih-tatih, ingin menghentikan ritual yang mereka lakukan. Namun usahanya sia-sia sebab tak seorangpun mau mendengarkannya, dengan sisa tenaga yang dimilikinya Hinata melangkahkan kakinya susah payah menuju altar.
Tepat pada langkah ketiga, tiba-tiba suara tangisan bayi menggema disepanjang ruangan bersamaan dengan wanita itu yang semakin mendongakkan kepalanya. Sepasang lavender sayu yang mengeluarkan genangan air mata menatap Hinata memelas.
Refleks manik lavender milik Hinata membulat, ia memundurkan langkahnya saat melihat wajah wanita itu dengan jelas.
"T-tidak mungkin." Ia menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya, "wajahnya…", wajahnya begitu mirip dengan Hinata, sangat mirip seolah mereka dua orang yang sama di tempat yang berbeda.
"Bayinya perempuan." Ujar wanita tua itu datar sambil menggendong bayi yang sebelumnya telah ia bersihkan. Pandangannya beralih pada wanita yang mirip dengan Hinata, "Kita sudah tidak membutuhkannya." Ujarnya dingin memberi isyarat pada pria masih berdiri di samping altar.
"Cepat selesaikan!" ujar wanita tua itu pada pria yang berdiri di sebelah wanita yang masih terbaring lemah itu, pandangan pria setengah baya itu terlihat sedih dan menyesal.
"Maafkan ayah, Maafkan aku Haruka~"
Deg.
Wanita itu menggeleng dan terus menggeliat ingin melepaskan diri, lalu pria tadi mengusap lembut rambutnya .
"A-ayah? Haruka?" bisik Hinata pelan, tak percaya dengan apa yang barusaja dilihat dan didengarnya. 'ini hanya mimpi… aku hanya sedang bermimpi!' batin Hinata berteriak.
Wanita yang terbaring disana berusaha mati-matian melepaskan diri, ia ingin mengambil bayinya, bayi yang baru dilahirkannya. Hinata mematung ditempatnya, tubuhnya gemetar ketakutan.
kilauan belati tajam yang diangkat tinggi-tinggi oleh pria itu menyadarkan Hinata dari lamunannya, belati itu berada tepat diatas wanita malang tadi.
Kami-sama…
"T-tidak.." belati itu dengan cepat ditarik gravitasi saat orang itu menurunkan tangannya menuju jantung sang wanita yang menangis memohon, "Jangan!" Hinata merasakan tubuhnya tertarik oleh seseorang.
"Hinata!"
…
Sasuke…
Tak ada apapun yang dapat Hinata lihat selain cahaya putih yang begitu silau hingga membuatnya harus menyipitkan mata dan, Sasuke… Hinata yakin jika ia mengenal tatapan itu.
..;;;-
..;;;-
..;;;-
..;;;-
Pemilik surai indigo yang tergeletak pasrah di ranjang sama sejak beberapa waktu lalu mulai menunjukkan tanda-tanda akan sadarkan diri, wajah damainya berubah saat ia mengerutkan kening sebelum akhirnya membuka kelopak matanya perlahan-lahan.
mulutnya menggeram lemah saat merasakan nyeri luar biasa di kepalanya, bangkit dari tidurnya, Hinata mengamati setiap inci ruangan yang menjadi tempatnya berpijak.
Masih sama.
Ranjang yang sama, sofa yang sama, ruangan yang sama, orang yang sama..
"Kau sudah sadar?" gadis muda itu menolehkan kepalanya kesamping, mendapati wajah datar Sasuke yang berdiri angkuh di tempatnya. Hinata menggigit bibir bawahnya, rasa sakit yang tadi sempat menyerang perutnya seolah berpindah di kepalanya.
"Katakan…" bibir Hinata bergetar, "A-apa kau mengenalku se-sebelumnya?"
"…"
"Aku tak memiliki i-ingatan apapun tentang o-orang tuaku… se-selama ini hanya wajah Hanabi yang da-dapat aku ingat." Hinata kembali terisak, "aku mengenal ayah dan ibuku dari paman Hizashi… tapi kenapa_" Hinata merangkak menuju Sasuke, mengabaikan rasa sakit dikepalanya.
"Kenapa semua terasa berbeda?" Hinata menangis di perut Sasuke, tatapannya menerawang berusaha mengingat seperti apa wajah kedua orangtuanya. Tanpa suara, ia meremas ujung kemeja Sasuke yang berdiri di sisi ranjang dengan tanpa ekspresi di wajahnya.
…
Tetesan air kran cuci piring yang sedikit bocor menjadi pengisi keheningan setelah sebelumnya digunakan Sasuke untuk mengisi penuh gelas di tangannya. Menghampiri Hinata yang duduk diam di dekat meja dapur, pria Uchiha itu kemudian meletakkan gelasnya diatas meja.
"Minumlah… kau akan merasa lebih baik." Ujar Sasuke datar. Sedang Hinata hanya diam mengabaikan perintah dari Sasuke, ia bahkan tak menyentuh gelas itu sedikitpun dan hanya duduk temenung dengan tatapan kosong.
Menghela nafas, Sasuke mengusap wajahnya gusar, frustasi menghadapi tingkah Hinata yang masih dalam kebingungan. "Aku akan_"
"Aku ingin pulang…" potong Hinata tiba-tiba. "A-ku ingin be-bertemu Neji-nii!" tambahnya, meski nada suaranya pelan namun intonasi suaranya dengan jelas membuktikan jika ia sungguh-sungguh.
"Kau tidak bisa pulang." Ujar Sasuke datar.
"Aku ingin pulang!"
"HINATA!"
Teriakan Sasuke sukses membungkam mulut Hinata, gadis itu menunduk dengan isakan kecil yang keluar dari bibirnya. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakannya karena takut membuat Sasuke kembali murka, dengan tangan gemetaran Hinata meremas gaun putih yang diberikan Sasuke padanya.
"Kenapa kau tak pernah mau mendengarku?"
"Hiks.."
"Tch," Sasuke mengacak rambutnya frustasi. "Aku perlu udara segar." Lalu pria berkulit pucat itu melangkah dengan cepat meninggalkan Hinata sendirian, mengabaikan suara tangisannya yang tak kunjung reda.
"Ni-niisan…" lirih Hinata sambil meremas matanya hingga kedua alisnya saling bertautan.
Di lain tempat, Sasuke berdiri memandang cahaya redup bulan purnama yang terhalang oleh awan hitam. Mata kelamnya menajam menatap benda langit berbentuk bulat yang mulai menerang setelah awan hitam yang menghalanginya perlahan menyingkir tertiup angin.
"Bukankah bulan terlihat indah malam ini?"
Sasuke tak terkejut, ia tetap berdiri di dekat kolam ikan yang memantulkan cahaya bulan dengan ekspresi datar meski sang kakak _Itachi, tiba-tiba muncul di dekatnya.
"Kabut tak lagi menghalanginya, hn?"
"Setelah sekian lama, entah mengapa aku kembali merasa takut." Sasuke memejamkan matanya, menghirup udara dalam-dalam bersamaan dengan cahaya bulan yang bersinar terang menerpa wajah rupawannya.
Itachi terdiam, memandang adiknya sejenak kemudian ikut menengadah menyaksikan sang penunggu malam.
"Kau tahu," jeda beberapa saat menimbulkan hening yang hanya diisi percikan air kolam akibat riakan ikan hias. "kabut tak selamanya menyembunyikan bulan." Itachi memandang adiknya, "begitupun dengan kebenarannya."
Sasuke membuka kelopak matanya, memperlihatkan bola mata berwarna merah darah dengan tiga titik koma disekelilingnya.
"Mereka menemukan kita."
"Hn."
Lalu keduanya melesat dengan sangat cepat hingga benar-benar menghilang tanpa jejak.
..;;;-
..;;;-
..;;;-
..;;;-
Hinata berjalan lunglai memasuki kamar yang sering digunakannya di rumah besar milik Sasuke ini, sambil mengusap jejak air mata yang masih tertinggal dimatanya, gadis 17 tahun itu berjalan menuju ranjang ber-seprei biru gelap yang terlihat mewah.
Ia nyaris duduk di atas ranjang, saat bayangan helaian rambut yang tertiup angin tampak di sudut jendela.
"Akh~" pekik Hinata terkejut.
"Kau payah sekali.." perlahan bayangan sosok gadis yang tak terlihat karena kurangnya pencahayaan mendekat kearah Hinata yang masih terlihat ketakutan.
"H-Hikari-san? S-sejak kapan_"
"Hm," senyuman sinis yang tak jauh berbeda dengan milik Sasuke terukir di bibir tipis gadis yang masih mengenakan seragamnya ini. "Itachi-nii ingin aku membawamu pergi dari sini."
"Ta-tapi…"
"Sebaiknya cepat, aku malas jika harus terlibat dengan urusan para penghisap darah." Tanpa menunggu persetujuan Hinata, gadis berambut gelap ini segera menarik pergelangan Hinata menuju arah jendela besar yang terbuka.
"Tu-tunggu dulu, k-kamar ini'kan l-lantai dua!" pekik Hinata panik,
"Hei, kau pikir kau lebih tau dariku, eh?!"
"Bukan begi_ UWAAaa~" Hinata tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya setelah Hikari menariknya untuk melompati jendela karena ia memejamkan matanya begitu erat. Ia sedikit merasa aneh saat desiran angin yang terus menerpa wajahnya, dan tubuhnya yang tak kunjung membentur tanah.
Merasa sudah cukup lama tak menapak tanah, Hinata memberanikan diri untuk membuka kelopak matanya. "Uwah~" Hinata takjub saat melihat bulan yang tampak jauh lebih besar seolah berada tepat di dekatnya dan semakin takjub saat menyadari jika mereka sedang berada di udara. Hinata mendongakkan kepalanya, menatap lekat-lekat benda yang mirip layangan raksasa berwarna merah-hitam.
"Selain Sasuke, kau adalah satu-satunya orang yang pernah kuajak mengendarai paralayangku ini!" kata-kata Hikari sukses mengalihkan perhatian Hinata kembali.
"Hm- a-arigatou, tapi.. se-sebenarnya apa yang t-terjadi?" mata Hinata tampak sayu, Hikari daat merasakan tangan Hinata bergetar saat meremas pegangannya.
"Haa.. ibu selalu mengatakan padaku untuk tidak ikut campur pada urusan saudara-saudaraku. Tapi aku pernah mendengar percakapan Sasuke dan Nii-san tentangmu, aku rasa.."
Dan selama perjalanan singkat mereka di udara, Hikari berbicara banyak, menceritakan tentang semua yang ia dengar pada saat menguping pembicaraan Sasuke dan kakaknya.
..;;;-
..;;;-
..;;;-
..;;;-
"Wah, wah.. tidak biasanya kita kedatangan tamu penting seperti clan berdarah murni. Selamat datang di kediaman kami yang sederhana ini.." ujar Itachi bertepuk tangan pelan sambil memasang senyum palsu. Dibelakangnya, Sasuke berdiri tenang sambil memasang wajah tanpa ekspresi seperti biasanya.
"Tch, Vampir.." gumam Neji melecehkan.
"Hei, bukankah tidak sopan berkunjung dikediaman orang lain tanpa menyapa tuan rumah terlebih dulu?"
Disebelahnya, Kiba memperhatikan setiap sudut ruangan sambil mengendus-endus. Ia lalu menepuk-nepuk benda berbulu disebelahnya yang adalah anjing peliharaannya, Akamaru. "Ada bekas jejak adikmu disini." Bisik Kiba pelan.
"Ehm.. Kami tidak keberatan dengan kunjungan ini, tapi jujur kami tidak suka pada mahluk berbulu dan juga pria segitiga ini, kau tahu?" tunjuk Itachi tepat didepan hidung Kiba.
"Ap- baiklah, cukup basa-basinya.. Hyiaatt~" kiba maju dengan menyiapkan tinjunya kearah wajah Itachi yang tetap tenang ditempatnya.
"Yo!"
Ciieett….
Sisa 1 cm lagi pukulah telak yang diarahkan Kiba mengenai wajah Itachi saat suara cempreng yang datang dari arah atap menginstrupsi mereka. Secara bersamaan keempatnya mendongak keatas, Kiba memandang kesal orang yang sudah merusak 'kesenangannya' untuk menghajar vampir berkulit pucat ini. Itachi hanya memasang seringai tipis, sedangkan Sasuke dan Neji sama-sama memasang wajah datar.(perasaan keduanya sejak tadi kayak patung.)
Tepat ditengah puncak genteng rumah Sasuke, sesosok mahluk berjongkok sambil menatap kebawah, tepatnya kearah keempatnya berada. Ekor sembilan berwarna orange menyala tampak bergerak kesana kemari terbawa angin.
"Apa aku baru saja melewatkan sesuatu?"
"Hei, turun dari sana! Kau bisa merusak properti orang lain." Ujar Itachi sinis. Merengut kesal, sosok itu melompat turun dan berhasil menginjak tanah tanpa luka sedikitpun.
"Reuni macam apa ini?" tak ada yang mau menjawab pertanyaan si rubah, hanya Akamaru yang menyalak sekali dengan ekspresi senang lalu menjilat wajah Naruto dengan lendir yang tertinggal disana. "Hei, jauhkan anjing berlendirmu itu dariku!" perintah Naruto kesal sambil menjauhkan lidah Akamaru yang ingin kembali menjilatnya.
Neji menghela nafas, "baiklah, katakan jika ini semua dilakukan untuk mengalihkan perhatian kami selagi kalian membawa Hinata pergi." Tebak Neji.
Sasuke menyeringai, disusul Itachi.
"That is righ. Apa ada yang mau minum teh?" tawar Itachi ramah.
..;;;-
..;;;-
..;;;-
..;;;-
TBC
Hufs… chap enam check
Huaaaa…(treak pake toa) ini chap PALING gaje yang pernah ku buat X(
Gomen klu selama ini updatenya ngeret banget.. yang udah review,
ARIGATOU GOZENMASU… semangat kalian bikin author dodol ini makin semangat, yosh gomen buat yang gak login ngak bisa bales reviewnya^^
Buat Naw d Blume, hasegawa Nanaho, KumbangBimbang, angelovender, moe-chan, mamoka, hime, n, asatsuyu AH, Suzu Aizawa Kim, Beauty Melody, Deshitiachan, Guest, , , Koi, Sasuhina-caem, rqm3490, sugar princess71, nona fergie, fishy, neka-neko miaw, moku-chan, cherry kuchiki, yuina noe-chan, RK-hime, lavender hime-chan, saruwatari Yumi, Hime no rika, Shizukayuki Rosecchi.
Pokoknnya arigatou deh^^
Akhir kata,
review please^^
