Disclaimer: masashi kishimoto-san
Gendre: drama/romance/supranatural
Pairing: Sasuhina/Nejihina
Rated: T semi eheM
Warning: OOC, AU, Typo bertebaran, ide pasaran, gaje, dll. Ini fic pertama saya, jadi mohon di maklumi. Don't like? Don't read! Don't flame please..
Setelah sekian lama hibernasi, Hikari back *masang muka innocent#ditendang readers. Hehe, gomen update-nya luamaaaa banget.. maklum aja deh, hidup ngak Cuma di dunia maya aja(sok bijak*plak)
Ok, dari pada kebanyakan cuap-cuap, mending langsung aja^^
Hope you like this^^V
…
….
Who am i?
….
Hinata's POV
Aku menghirup nafas dalam-dalam, mengisi rongga paru-paruku dengan oksigen di pagi hari, memejamkan mata dan mencium aroma segar dari rumput hijau yang masih tertutupi embun. Kubuka mataku secara perlahan lalu tersenyum simpul kearah mentari. Benar juga, tak terasa ini sudah minggu kedua aku berada di Konoha-gakuen. Dan dalam waktu yang terasa singkat itu, rasanya banyak hal yang berubah dalam hidupku.
Mengingatnya aku jadi ingat sesuatu.
Kutolehkan kepalaku kebelakang, menatap seorang gadis bermata kelam dengan rambut yang terikat dua keatas tengah menikmati alunan musik –entah apapun itu, melalui earphone di kedua telinganya.
"H-Hikari-san…" Aku menghentikan langkahku, menunggunya yang masih berjalan jauh dibelakangku. Saat menyadari keberadaanku, Hikari menatapku tajam, bahkan tatapannya saat ini jauh lebih menakutkan dibanding milik Sasuke. Aku menelan ludah dengan paksa, berbalik memunggunginya dan kembali melangkah dengan tergesa-gesa bahkan nyaris berlari.
Ya, tadi kami memang pergi bersama menuju sekolah, atau lebih tepatnya aku yang menumpang satu mobil bersamanya. Semua berkat nyonya Uchiha yang memaksa putrinya untuk menemaniku dengan alasan keamanan. Iya benar, Uchiha Mikoto, ibu Uchiha Sasuke dan Uchiha Hikari, berkat beliau jugalah aku terpaksa menginap di kediaman Uchiha.
Aku ingat saat kaki pertamaku menapaki rumah Uchiha, rumah dengan pekarangan luas yang sangat kental dengan nuansa Jepang itu terasa hangat dan tak seperti rumah Sasuke yang dipenuhi aura-aura gelap seperti pemiliknya. Di rumah itu, kehangatan segera menyergapku saat seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah menyambutku di depan pintu.
….
flashback
"Hyuuga," ujar wanita cantik itu ceria sambil memeluk Hinata dengan sangat erat.
"Mama, bukan seperti itu sikap seorang Uchiha." Komentar Hikari yang merasa bahwa mama-nya bisa kapan saja merusak citra para Uchiha.
"Iya, iya mama tau.." ujar Mikoto mengibaskan tangannya, "Tapi," Mikoto memasang wajah sumringah. "Hyuuga tumbuh dengan cepat… dia jauh lebih manis dari sebelumnya," ujar Mikoto senang sambil mencubit kedua pipi Hinata.
Hinata yang tak mengerti maksud dari ucapan wanita cantik itu hanya pasrah saat wanita itu memperlakukannya selayaknya boneka dan terus menggandeng tangannya sambil mengoceh panjang lebar, Setelah melewati beberapa kamar, akhinya Mikoto membawa Hinata masuk pada sebuah kamar yang cukup luas.
"Dulunya ini kamar milik Sasuke. Pelayan sering membersihkan kamar ini, jadi Hinata-chan bisa menggunakannya selagi ada di sini."
"Ano, m-maaf bibi, tapi.. a-aku pu-pulang saja." ujar Hinata dengan suara pelan.
"Eh, kenapa? Hinata-chan kan baru sebentar ada di sini, apa Hinata-chan tidak betah?" tanya Mikoto kecewa.
"B-bukan begitu, tapi.. a-aku," dengan gugup gadis itu mempermainkan kedua telunjuknya dan mengintip melalui poni tebalnya.
"Sudahlah ma, jika si gagap ini tidak mau ya jangan di paksa." Ujar Hikari santai lalu pergi begitu saja. Bahkan ia tak mengindahkan teriakan ibunya yang menyebutnya tidak sopan pada Hinata.
"Maaf ya Hinata-chan, Hikari-chan orangnya memang begitu.. tapi sebenarnya dia itu anak yang manis kok."
"I-iya.. tidak apa-apa.." cicit Hinata seraya tersenyum manis, kemudian gadis itu kembali membuka suaranya. "Ja-jadi… sebaiknya s-saya pulang sa_"
"No way," sela Mikoto menyilangkan kedua tangannya. "ini sudah sangat larut, sangat berbahaya jika kau pulang semalam ini," Mikoto lalu mendekatkan bibirnya kearah telinga Hinata, "Diluar banyak yang seperti Sasuke loh, bahkan mungin lebih ganas~" bisiknya pelan lalu meniup telinga Hinata kecil.
Fuu~
Mendengarnya membuat Hinata bergidik ngeri, kulitnya yang pucat terlihat kian memucat saat nafas hangat Mikoto menyentuh daun telinganya. Diam-diam Mikoto terkikik senang karena berhasil mempengaruhi gadis polos yang tidak tahu jika Mikoto hanya ingin menakutinya.
"A-ano…" Hinata menunduk sambil memainkan bibir bawahnya, "ji-jika tidak m-merepotkan, i-izinkan saya menginap di- s-sini untuk semalam sa-saja."
"Ohoh, tentu saja.." Mikoto mengatupkan kedua tangannya, "berhari-hari juga tidak masalah.." ujarnya penuh semangat.
"Uhh.. a-arigatou bibi," ujar Hinata dengan senyum paksa.
Dan selama Hinata berada di dalam kamar orang itu, ia jadi tidak bisa tidur. Bukan karena ia merasa takut karena harus tidur sendirian diruangan yang benar-benar asing untuknya, tapi karena aroma maskulin yang memenuhi kamar itu sama persis dengan aroma yang ada di kamar milik Sasuke yang juga pernah ia tempati.
Gadis itu berbaring terlentang, kedua tangannya digunakan untuk menarik selimut hingga menutupi dadanya. Mata violet pucatnya menatap hampa pada langit-langit kamar, Hinata mengernyit, entah sejak kapan ia jadi merasa seperti gadis yang bisa dengan santainya tidur di ranjang seorang pria bahkan sampai bersama pemiliknya.
Hinata tersentak, buru-buru ia duduk terbangun diatas futon yang menyelimutinya. Ia menggeleng-geleng dengan wajah memerah. 't-tidak.. aku ini bukan gadis yang seperti itu. Lagi pula bukan aku yang menginginkan ini semua terjadi.' Batinnya membela diri.
Hinata mengangguk-anggukkan kepalanya pasti, setelah yakin jika yang ada dipikirannya salah besar, ia kembali berbaring dalam posisi memiring, "Sasuke…" desahnya pelan tanpa ia sadari saat wajah orang itu melintas di benaknya. lalu perlahan-lahan ia memejamkan matanya saat kantuk mulai menyerangnya untuk selanjutnya menyambut dunia mimpi.
…
….
….
….
Angin berhembus lembut menyambut kedatangan sesosok gadis yang mengenakan sutra berwarna putih gading bersama seekor kuda berbulu gelap dan bertubuh kekar di sampingnya. Langkahnya yang ringan nyaris sampai pada batas gerbang rumah megah yang di tinggalinya saat sebuah benda bulat menggelinding dan berhenti tepat di bawah kakinya.
Setelah menenangkan sejenak kuda milinya, gadis itu lalu memungut bola lusuh di depannya, sebuah bola yang hanya sebesar genggaman tangan orang dewasa.
"Itu milik kami..!"
Perhatian gadis itu teralihkan kearah sudut dinding besar yang menjadi pembatas wilayah Hyuuga. Dua orang anak kecil dengan pakaian lusuh tengah berdiri memandangnya. Seorang gadis berambut pendek dan seorang anak laki-laki yang terlihat lebih tua dari gadis yang tadi berseru padanya.
Anak laki-laki itu kemudian menarik adiknya kebelakang tubuhnya, lalu dengan takut-takut ia mengangkat wajahnya menatap gadis yang tetap tak bergerak dari posisinya.
"Maafkan atas kelancangan kami yang mulia.. kami hanya ingin meminta bola kami kembali," ujar anak laki-laki itu.
"…tentu." Ujarnya lamat-lamat lalu melemparkan bola itu kearah si anak laki-laki tadi. Dengan tanggap anak lelaki tadi menangkapnya dengan cepat.
"Yang mulia, bolanya_" anak lelaki tadi tak melanjutkan ucapannya.
"Kakak, putri memberikan bola baru untuk kita?!" tanya sang adik antusias.
"…" sang kakak tak menjawab. Ia menjatuhkan bola di tangannya dan dengan wajah ketakutan, ia buru-buru menarik adiknya menjauh dari tempat itu.
….
Dahulu kala, pada sebuah masa di mana manusia masih sangat mempercayai hal-hal mistis yang sulit di jelaskan oleh akal sehat. Zaman dimana legenda dan dongeng bukanlah sekedar isapan jempol semata.
Di sebuah desa kecil, terlahir sebuah clan bernama Hyuuga di mana pada satu dari generasi mereka akan lahir keturunan perempuan dengan aura magis yang membuat mereka memiliki kemampuan untuk menggunakan sihir, baik dari pikiran ataupun benda-benda yang ada di sekitar mereka.
Bukan penyihir seperti yang sering ada dalam cerita dongeng anak-anak di mana mereka akan berperan sebagai tokoh antagonis yang menyeramkan. Sejak dilahirkan, Hyuuga yang terpilih sebagai penyihir akan dianugrahkan fisik yang nyaris sempurna. Oleh sebab itu, para penduduk akan berusaha keras menjauhkan putra mereka dari penyihir tersebut agar mereka tak terhipnotis oleh kecantikan yang dimiki sang penyihir.
"Aaarrhh..!"
Prangg…
"Hyuuga-sama~"
Para pelayan mansion berlarian menuju ruang pribadi milik majikan mereka yang tiba-tiba gaduh. Saat membuka pintu, betapa terkejutnya mereka saat melihat hampir seluruh benda-benda yang ada di kamar itu melayang dengan sendirinya. Itu memang bukan hal yang aneh, karena mereka tahu jika sang tuan putri adalah seorang penyihir, hanya saja.. dia hampir tak pernah menunjukkan kekuatannya pada siapapun secara langsung.
"H-hyuu-hyuuga-sama.."
"Pergi!" perintah sang tuan putri murka. Tanpa berpikir panjang, ia mengarahkan benda-benda yang masih terpengaruh kekuatan sihirnya kearah para pelayan hingga nyaris melukai mereka.
"Ada apa ini?" suara dingin dari Heiress mengejutkan seluruh pelayan begitupun tuan putri.
"Hyuuga-sama… Tuan putri_"
"Kalian pergi saja." Perintah pria paruh baya yang adalah ayah putri Hyuuga tersebut. Tanpa perlu di perintah dua kali, mereka semua segera menyingkir dan menyisakan kedua anak-ayah dalam diam.
…
"Ada apa?"
Kali ini keadaan lebih tenang, penyihir ini tak lagi menggunakan kekuatannya dan hanya duduk memeluk lututnya di sudut kamar(Pundung?).
"Kenapa aku harus terlahir seperti ini?" tanyanya lirih.
"Apa maksudmu?"
"Tidak usah berpura-pura tidak tahu, setiap orang yang melihatku akan lari ketakutan begitu tahu siapa diriku yang sebenarnya. Ini sangat tidak adil.. rasanya aku ingin mati saja." Ujarnya sambil menangis tersedu-sedu.
"Kau tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan jika kau tak menjalani hidupmu dengan bersungguh-sungguh." Ujar sang ayah tenang.
"Berhentilah mencerahamiku!" teriaknya frustasi, "Kau tak tahu apa-apa karena kau tak merasakan apa yang kurasakan. Sikapmu selalu seperti itu seolah tak terjadi apa-apa." Ia menyembunyikan wajahnya dalam lipatan kakiknya.
"Penyihir itu jahat, penyihir itu akan memakan hatimu untuk membuatnya awet mudah.. mereka selalu menuduhku seperti itu. Aku hanya ingin hidup normal seperti mereka.. Kau tak pernah mau menjelaskan itu pada mereka dan tetap membiarkan mereka terus-menerus takut padaku. Kau bukanlah ayah yang baik, kau tahu itu?" ujarnya dingin, ia lalu berdiri dan berlari meninggalkan ruangan berantakan itu tanpa menghiraukan teriakan ayahnya.
"Hinata, tunggu!"
Ia benar-benar tak perduli lagi, bersama kuda yang di tungganginya ia perlahan meninggalkan mansion. Kecepatan laju kuda yang diatas maksimum itu perlahan menyadarkannya.
"Apa yang terjadi? Siapa aku ini?"
"Hinata-sama."
….
….
…
End of flashback~
….
….
Hinata melangkah gelisah saat melewati koridor yang penuh dengan siswa, ia terus-menerus menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sambil merutuk dalam hati.
Salahkan tubuh Uchiha Hikari yang terbilang mungil jika dibandingkan dengan tubuhnnya. Salahkan juga Mikoto yang memaksanya untuk mengenakan seragam putrinya yang jelas-jelas seukuran lebih kecil dibandingkan milik Hinata. Atau salahkan dirinya juga yang tak langsung mengenakan seragamnya saat berada di rumah Sasuke dan malah berkeliaran dengan kemeja milik lelaki itu. Well, tidak penting siapa yang salah, yang jelas sekarang ini Hinata merasa sesak nafas karena seragam yang menempel ketat di tubuhnya, belum lagi ujung rok pendeknya yang hanya sebatas pertengahan paha. Membuatnya tak pelik dari tatapan para siswa.
Baiklah, Hinata tidak boleh berlama-lama di koridor, ia harus segera menuju lokernya untuk mengambil blazer beserta buku-buku miliknya. Ia jelas tak ingin membiarkan cowok-cowok mesum itu berlama-lama menatap aneh kearahnya.
…
Gadis itu berdiri mematung memandang lokernya, rencana yang telah ia susun sedemikian rupa musnah sudah saat ia selesai membuka pintu loker bernomor seri 277 yang tak lagi seperti terakhir kali ia melihatnya.
Buku-buku yang kemarin lusa sudah ia susun rapi kini hanya teronggok nanar dengan sobekan dan coretan di sana-sini, bahkan blazer miliknya yang sengaja ia simpan saat jam makan siang telah raub. Hinata menggigit bibir bawahnya saat ia tak mampu lagi menahan tangisnya, ia seolah mendengar gelak tawa mengejek dan mengatainya dengan kata-kata cemooh yang di tulis menggunakan spidol merah dalam lokernya.
Kenapa?
Hinata menangis tertunduk, kedua tangannya ia kepalkan erat sambil menggeretakkan giginya, menahan emosi yang seolah ingin meledak. Ia memejamkan matanya erat, meluapkan kekesalannya dengan suara isakan keras, ia bahkan tidak perduli dengan tatapan dari siswa lain. Toh mereka juga tak ada yang mau memperdulikannya. Perasaan kesepian itu membuat Hinata semakin sedih, tangis yang sebelumnya kesal karena lokernya dirusak, kini berubah menjadi tangisan yang lain, tangisan yang mewakili betapa ia merasa sendiri dan tak ada yang bersedia membela ataupun menolongnya.
Kenapa aku?
Buk..
Hinata melupakan tangisnya sejekan saat penglihatannya menggelap karena sesuatu yang menutupi kepalanya. Sebuah blazer yang jelas-jelas bukan blazer miliknya, 'Apa mungkin…?' batin gadis itu bingung.
"Apa kau hanya akan memandangnya?"
Hinata segera membalik badan saat suara bariton itu terdengar, dan benar saja, hanya berjarak beberapa langkah darinya Sasuke berdiri menyandar pada loker sambil memasukkan kedua tangannya dalam saku celana.
"A-aku…" Hinata menunduk, ia tidak ingin Sasuke melihatnya dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini. Sasuke menegakkan punggungnya, melangkah mendekat kearah Hinata, dadanya nyaris menyentuh hidung Hinata saat dengan santainya ia mendekati loker gadis.
"Hn," Sasuke menyentuhkan jari-jari panjangnya pada loker milik Hinata, "dasar hama.." gumamnya dingin. Hinata tak bergeming, sekuat tenaga ia menahan airmata yang mengancam ingin tumpah.
"Sasuke…" Hinata memanggil dengan suara serak dan nyaris tak terdengar. "Sebenarnya.. aku ini salah apa?" tanya-nya yang seolah di tujukan untuk dirinya sendiri. Sasuke tak menjawab, ia mengambil jarak pendek lalu meraih blazer yang tadi deberikannya kemudian mengenakannya pada Hinata.
Kini tubuh Hinata tertutupi dengan sempurna berkat blazer kebesaran yang dikenakannya. Bahkan ia seperti tenggelam dalam blazer itu.
"Heh, coba lihat dirimu sekarang." Ujar Sasuke dengan seringai, Sasuke takjub pada dirinya yang berusaha keras untuk tidak 'menyerang' Hinata yang sekarang dalam balutan blazer miliknya.
"U-uhh… arigatou.." ujar Hinata sambil menarik-narik ujung lengan blazer yang mencapai jari-jarinya. Jarak mereka yang hanya beberapa cm membuat Hinata dapat merasakan nafas hangat Sasuke yang menyentuh puncak kepalanya, Hinata mendongak, ekspresinya sedikit terkejut saat wajah Sasuke ternyata semakin mendekati wajahnya.
Entah sadar atau tidak, Hinata terpaku saat menatap wajah dingin Sasuke yang begitu dekat. Matanya terus berkeliaran meneliti tiap inci wajah tampan milik Sasuke, seolah mencari kekurangan apa yang bisa ia temukan dari pemuda itu. Kulitnya yang putih bersih, mata kelamnya, bulu matanya yang panjang dan lebat, hidungnya, rahangnya, bibirnya.. Hinata terpaku menatap bibir tipis Sasuke yang kian mendekat, perlahan ia memejamkan mata, menanti bibir Sasuke.
Dan saat jarak diantara bibir keduanya nyaris tak ada, gangguanpun datang.
Suara nyaring dari bel pertanda jam pelajaran akan segera dimulai menyadarkan Hinata ke dalam dunia nyata, dengan paniknya ia mendorong dada Sasuke sekuat tenaga dan malah membuat dirinya yang terdorong kebelakang hingga punggungnya membentur jejeran loker.
"G-go-gomen, a-a-aku.."
"Hn." Sasuke kembali stay cool, ia lalu melemparkan sebuah kunci pada Hinata. "Itu kunci lokerku, kau bisa menggunakan buku milikku hari ini." Ujarnya lalu melangkah hendak meninggalkan Hinata.
"Eh, l-lalu bagaimana de-denganmu?"
"Jika kau berada di kelas yang sama dengan Sasuke, kau akan melihatnya belajar tanpa perlu banyak menggunakan buku dimejanya." Ujar Hikari tiba-tiba muncul dari arah yang berbeda.
Wajah Hinata memerah, apa tadi Hikari melihat apa yang ia dan Sasuke akan lakukan? "Eh, Hi-hikari-san… sejak k-kapan..?"
"Kau pikir hanya kau saja yang ingin mengambil barangmu di loker?"
"Ah, bu-bukan begitu maksudku_" Hinata terkejut saat sebuah paper bag yang Hikari ambil dari lokernya ia serahkan pada Hinata.
"Pakailah dan jangan banyak tanya, dan sebaiknya segera kembalikan blazer saudaraku!" ujar Hikari ketus lalu berlalu menyusul Sasuke dengan berlari-lari kecil. Hinata tak bisa lebih bersyukur lagi saat tahu ternyata bungkusan tersebut berisi seragam yang ukurannya lebih ideal untuknya, tanpa banyak membuang waktu ia segera menuju toilet wanita lalu kembali ke loker Sasuke untuk mengambil buku yang diperlukannya. Dalam hati ia berdoa semoga ia tidak terlambat di jam pertamanya hari ini.
"Hei, Neji… apa kau tidak punya snack yang bisa di makan?"
Neji mendecak kesal, ia menyesal sudah mau 'menampung' Kiba beserta anjing peliharaannya yang menarik perhatian para tetangga berkat ukuran tak biasanya itu. Dan sekarang, dengan seenaknya pemilik tato segitiga terbalik itu membongkar isi kulkas tanpa permisi terlebih dulu pada sang pemilik.
"Hei, Hei! Ice cream itu aku belikan untuk Hinata, kau tak boleh memakannya!" bentak Neji sambil merebut sekotak ice cream vanilla dari tangan Kiba.
"Kau pelit sekali, lagi pula ice cream itu kelihatannya sudah lama berada di kulkas. Rasanya pasti juga sudah berubah." Ujar Kiba sambil cemberut. Neji terdiam memandang kotak ice cream di tangannya, ice cream itu memang sudah hampir seminggu yang lalu ia beli. Dan Hinata sama sekali tak menyentuhnya padahal Neji sangat tahu jika sepupu pemalunya itu sangat suka ice cream vanilla.
"Jadi.. apa boleh ice cream itu untukku saja?" tanya Kiba kali ini dengan tatapan memelas yang sering ia tiru dari Akamaru. Neji hanya menghela nafas, dengan sembarangan ia melemparkan kotak ice cream itu kearah Kiba.
"Terserah kau saja," ujarnya tak mau ambil pusing lalu melenggang pergi menuju sofa depan televisi. Ia sedikit bersyukur karena hari ini ia bisa bebas menghabiskan waktu seharian tanpa memikirkan kuliahnya.
Kiba ikut menghempaskan tubuhnya diatas sofa berbahan beludru berwarna coklat tua bersama Neji. Beberapa menit kemudian setelah ice cream di pangkuannya habis tak tersisa, ia menguap bosan lalu memandang hampa layar TV yang menayangkan berita pagi. Merasa tak ada hal menarik yang bisa ia lakukan, Kiba mencoba mengajak si muka batu _Neji, untuk mengobrol.
Oh ya, ia jadi ingat sesuatu yang sejak semalam ingin ia tanyakan.
"Hei, sebenarnya ada hubungan apa antara Hyuuga dan Uchiha? Antara Hikata dan Sasuke? Dan, siapa rubah bodoh yang semalam itu?" dalam sekali tarikan nafas, Kiba segera melontarkan rentetap pertanyaan kearah Neji.
Dengan tenang, Neji melirik kearah Kiba sekilas.
Lalu, "Pertama… aku tidak tahu pasti tentang hubungan Hyuuga dan Uchiha, yang aku tahu Uchiha memiliki ketertarikan pada darah yang dimiliki keturunan murni Hyuuga."
"Hmm…" Kiba mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengusap dagunya bak seorang detektif.
"Kedua… namanya Hinata bukan Hikata," koreksi Neji. Dan hanya di respon 'aa~' panjang oleh Kiba.
"Hinata sebelumnya tak pernah menceritakan hubungannya dengan si Uchiha bangs*t itu, aku bahkan tidak menyangka jika vampir yang pernah ditanyakan olehnya itu adalah Uchiha Sasuke." ujar Neji dengan gigi bergemeretak.
"Whoa~, kau kelihatannya tidak suka dengan Uchiha Sasuke? kenapa? Bukankah kau cukup akrab dengan kakaknya?" tanya Kiba tak mengerti, "Aa.. atau jangan-jangan kau cemburu karena kedekatannya dengan sepupumu? Apa kau menyukai Hinata?"
"Berhentilah bertanya." Ujar Neji dingin sambil mengganti channel karena ia sendiri bosan dengan isi berita yang memuat berita itu-itu saja,
Hening sesaat.
"Tapi… Rubah_"
"Namikaze Uzumaki Naruto," potong Neji. "lebih tepatnya Uzumaki Naruto, di dalam tubuhnya ada Kyuubi berekor sembilan, dia tak ubahnya seekor rubah yang bermutasi menjadi monster seperti anjingmu itu." ujar Neji santai sambil mengedikkan dagunya kearah luar dimana ada Akamaru yang tengah bermain-main dengan ekornya. (bayangin apa jadinya halaman rumahmu kalo ada seekor anjing raksasa yang lagi ngejar ekornya sendiri.._)
"Hei, kau tak boleh menyamakan Akamaru dengan monster jelek seperti rubah yang semalam. Jika Akamaru mendengarnya, mungkin dia akan sangat tersinggung." Tolak Kiba bersulut-sulut.
"Hn. Berhentilah bicara dan biarkan aku menonton dengan tenang." Kiba lebih memilih menurut kali ini, keduanya kembali berpusat pada layar tv.
….
….
…
"Uzumaki Hikari?" Hikari memuta bola matanya bosan membaca tulisan yang berasal dari kertas yang tadi dilemparkan seseorang dari arah belakang. Hikari memutar tubuhnya kebelakang, dimana seseorang dengan rambut mencolok tengah memasang cengiran khasnya yang secerah matahari.
"Apa kau tak pernah bosan?"
"Never…" cengirnya bangga, "bukankah Uzumaki sangat sesuai menjadi margamu?" tanyanya dengan antusias.
Hikari hanya mengangkat alis dengan senyum sinis sesaat, kemudian ia menarik kelopak bawah matanya lalu menjulurkan lidahnya. "Never," ujarnya setengah berbisik, membuat cengiran Naruto hilang tak tersisa.
"Kenapa kita harus selalu sekelas dengannya?" Tanyanya pada Sasuke setelah kembali pada posisi semula. Sasuke hanya menanggapi pertanyaan Hikari dengan seringai tipis dan tetap fokus pada penjelasan guru mengenai limit trigonometri yang sebenarnya sudah sangat ia kuasai.
Drrtt… drrtt..
Sasuke segera mengeluarkan ponsel yang bergetar di saku celananya, memeberi tekanan kecil pada layar touchscreen hingga muncul pesan yang baru saja masuk. Sasuke mengulum senyumnya saat membaca pesan dari seseorang yang saat ini ia tebak pasti tengah merona di saat menuliskan balasan e-mail yang ia kirimkan.
…
Di lain tempat,
Kembali ke 15 menit yang lalu.. Seperti dugaan Sasuke, pelajaran mengenai reproduksi hampir sama sekali tak mampu Hinata serap sementara ia tengah menahan rona merah di wajahnya yang seperti ingin meledak saat ia menerima pesan singkat dari Sasuke.
Hanya pesan singkat yang bertuliskan, "Apa semalam tidurmu nyenyak?" namun, pesan itu sudah mampu membuat mulut Hinata mengering dengan kedua pipi yang merah merona. Hinata hampir tak percaya saat mengetahui jika si pengirim pesan adalah Uchiha Sasuke, jika saja tak ada nama pengirim di kotak pesannya.
"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" gumamnya pelan. Ia lalu melirik kedepan kelas, takut jika guru mengetahui kegiatannya. Merasa semua masih aman, ia kembali menatap layar ponsel flip-nya. Setelah sekian menit berfikir, ia mulai memainkan jari-jarinya diatas keypad.
Aku bahkan tidak ingat apa semalam aku tidur atau tidak.. kenapa tiba-tiba bertanya?
Sent to U. Sasuke
Hinata menghela nafas, ia takut jika pertanyaannya tadi bisa menyinggung perasaan Sasuke yang ingin berniat baik menanyakan kabarnya. 'semoga ia tidak marah..' doanya dalam hati.
Drtt…
Dengan buru-buru Hinata melihat ponselnya saat kembali bergetar. Sasuke membalas pesannya.
From U. Sasuke
Jawaban macam apa itu?
"…" Hinata setengah menggerutu dalam hati.
To U. Sasuke
Kalau begitu aku tidak akan menjawab ataupun bertanya. Berhentilah menggangguku, aku tidak bisa berkonsentrasi kalau begini.
From U. Sasuke
Hn? apa kau sedang berlatih marah padaku?
Pertanyaan macam apa itu? Tanpa harus melihatnya pun, Hinata tahu jika saat ini Sasuke pasti tengah memasang seringai andalannya. Hinata bergidik, orang ini benar-benar mengerikan.
"Hyuuga," Hinata nyaris terlonjak saat namanya tiba-tiba disebut. Tubuhnya bergetar karena takut kalau-kalau Iruka-sensei mengetahui kegiatan apa yang ia lakukan sejak tadi. Atau jika Iruka-sensei bertanya tentang apa yang ia ketahui mengenai pembahasan yang dibawakannya.
"Y-ya… Sensei," cicit Hinata lemah, saat ini seisi kelas tertuju padanya.
"Sejak tadi aku lihat kau tidak fokus pada pelajaranmu, apa kau ada masalah?"
"A-aku.." Hinata bingung harus menjawab apa, ia merasa bersalah sudah mengabaikan pelajarannya. Pada saat itu, tiba-tiba Ino mengangkat tangannya.
"Ya, Yamanaka-san?"
"Maaf sensei," Ino mulai membuka suaranya. Hinata keringat dingin, ia lupa jika di sebelahnya ada Ino. pasti ia tahu apa yang tadi Hinata lakukan saat seharusnya ia memperhatikan penjelasan guru. Ino melirik Hinata yang menunduk.
"Sepertinya Hyuuga sakit, sejak tadi wajahnya memerah.. jika di ijinkan, aku ingin mengantarnya ke UKS." Ucap Ino santai.
Kali ini Iruka mendekat dan mengecek apakah yang dikatakan Ino benar atau tidak. Ia lalu meletakkan telapak tangannya pada kening Hinata, membuat wajah Hinata kian memerah. "Hmm… panas.. Yamanaka, kau boleh mengantarkan Hyuuga. Tapi setelah itu kau harus segera kembali ke kelas."
"Baik Sensei.."
"Ino-san, a-aku baik-baik saja.." bisik Hinata pelan saat Ino memegangi kedua bahunya untuk membuatnya berdiri.
"Kau tidak akan berani berkata demikian jika Iruka-sensei tahu yang sebenarnya, sebaiknya kau menuruti saranku saja." bisik Ino tepat di dekat telinga Hinata. Hinata merasa kesulitan saat ia meneguk ludahnya sendiri, kelihatannya ia tak punya pilihan lain selain menuruti saran dari teman sebangkunya ini.
…
…
…
…
Hening..
Hinata menghela nafas berkali-kali, bukankah Ino seharusnya segera kembali ke kelas atau Iruka-sensei akan marah padanya?. Hinata juga tak mengerti, kenapa UKS selalu sepi, kemana para petugas UKS? Bahkan sejak pertama kali ia datang ke sini, ruangan ini selalu kosong.
"Umm.. Ino-san, apa tidak s-sebaiknya kau kembali ke k-kelas saja?"
"Memangnya kenapa?"
"I-itu… aku tidak ingin gara-gara aku, kau j-jadi kena marah oleh Iruka-sensei."
"Heh, itu bukan masalah besar bagiku."
"Tapi,-"
"Diamlah… dulu kau sudah pernah menungguku di UKS, anggap saja ini balas budi."
"B-baiklah.." ujar Hinata akhirnya memilih untuk mengalah.
…
Drrttt….
Ponsel Hinata kembali berdering, dan lagi-lagi itu pesan dari Sasuke.
From U. Sasuke
Temui aku setelah bel istirahat nanti…
Hinata belum menyelesakan dalam membaca pesan dari Sasuke, namun Ino dengan cepet meraih ponsel flip itu dari tangannya.
"I-Ino-san… kembalikan..!" pinta Hinata sambil turun dari ranjang untuk mengambil ponselnya yang telah berpindah tangan.
"Jadi, ini yang membuat Hyuuga-sama jatuh sakit?" tanya Ino dengan tatapan sinis. "Uchiha Sasuke lagi?" tambahnya sambil menghindari tangan Hinata yang berusaha mengambil ponselnya kembali. UKS yang tadinya sepi, kini terdengar berisik dari luar karena ulah kedua gadis remaja itu.
Seperti anak-anak, mereka berdua saling berkejaran di dalam ruang UKS yang tak begitu luas. Hinata terus berusaha menangkap ponselnya sementara Ino terus-terusan menghindar dengan menggunakan peralatan yang dapat ia gunakan untuk menghalangi Hinata.
Disaat Hinata nyaris menangkapnya, Ino buru-buru naik keatas ranjang dan berdiri di sana sambil menggantungkan ponsel Hinata dengan tangannya diatas kepalanya.
"Ino-san, kumohon kembalikan.."
"Ambil saja kalau bisa," ujar Ino sambil menjulurkan lidahnya. Merasa kesal Hinata menarik dengan kuat kaki kanan Ino hingga gadis blonde itu terjatuh diatas ranjang, namun ia dengan keras kepalanya tetap tak ingin menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya.
Tak sabar, Hinata ikut naik keatas ranjang yang sebenarnya hanya cukup untuk satu orang. Ia kemudian mengurung Ino dibawah tubuhnya agar tak membuat gadis itu melarikan diri lagi.
"Ino-san…"
"Hinata.."
Mereka terus berebut diatas ranjang, mengabaikan seragam dan rambut mereka yang sudah acak-acakan. Saking asiknya mereka tak sadar saat seseorang membuka pintu ruangan. "Kenapa ribut sekali sih…?"
Keduanya menoleh kebelakang, disaat masih dalam posisi sama. Di ambang pintu, petugas UKS yang tengah mengunyah sandwich langsung menghentikan kegiatannya tatkala matanya disuguhkan pemandangan dua orang gadis SMA yang sama-sama berada di atas ranjang dengan posisi H-O-T. seperti baru saja mendapatkan lotre, pria yang masih lajang di usia yang terbilang matang itu bersorak ria dalam hati saat menatap dua pasang paha mulus yang tak ditutupi rok pendek yang mereka kenakan.
Hinata buru-buru mengubah posisinya saat sadar dengan apa yang sedang terjadi.
"Ano… Sensei, i-ini tak seperti yang kau bayangkan," ucap Hinata seolah tahu apa yang dipikirkan oleh guru itu.
…
Hinata menggosok punggung tangannya dalam gestur gugup, tatapan mengintimidasi dari Sasuke membuatnya tak berani untuk menatap balik lelaki berkulit pucat itu.
"Jadi?"
Gadis itu meneguk paksa ludahnya, keringat dingin mengalir membasahi pelipisnya yang pucat. Bagaimana Sasuke bisa tahu tentang insiden di UKS masih misteri, saat ia baru keluar dari ruang kesehatan pemuda itu sudah berdiri menyandar di dekat pintu masuk dengan ekspresi datar.
"S-sejak kapan?"
"Hn. Kau tidak menjawabku." Sasuke masih mendesak, bagaimanapun sangat aneh bagimu jika mengetahui gadis yang selama ini dekat denganmu tiba-tiba menjadi 'liar' bersama gadis yang jelas-jelas mengatakan jika ia menyukai gadis itu.
"Aku… ini tidak s-seperti yang kau kira," Hinata menggigit bibir bawahnya. "ini semua hanya s-salah paham..!" tegas gadis itu.
Sasuke tak merespon, ia hanya menggumam tak jelas sambil melangkahkan kakinya mendekati Hinata sedikit demi sedikit tanpa gadis yang tengah menunduk itu sadari. "se-selama di sini aku tak pernah memiliki teman.. jadi, j-jadi kupikir aku bisa b-berteman dengan Ino-san.."
"Hn." Sasuke mengangkat dagu gadis pemalu itu. "Dengarkan aku," bisik Sasuke dekat –sangat dekat dengan telinga Hinata membuat empunya bergidik.
"Tak perduli dengan siapapun itu, aku tak akan membiarkan siapapun mengambilmu dariku. Sampai kapanpun, tak perduli di masa lalu, masa depan bahkan di dunia tanpa waktu, kau… adalah milikku." Ujar Sasuke menyeringai.
"I-itu sangat egois.. a-aku ini bukan barang!" tegas Hinata.
"Tidak, Kau ini bagian dari propertiku.. mulai detik ini kau… adalah barangku!" ujar Sasuke seduktif lalu tanpa pemberitahuan dengan paksa ia menarik lengan Hinata paksa mendekat padanya.
Entah apa yang tengah terjadi saat ini, tapi Hinata berharap ada seseorang yang tak sengaja melihatnya bersama Sasuke di gudang yang tak terpakai ini.
Kumohon, siapapun… tolong aku..!
…
…
…
TBC
..
..
Author note: Nah lo… Sasu mau ngapain lagi tuh? (Otak mesum mode on) XD
Apa chap ini kepanjangan? Sekarang pada tau kan dari mana sifat psiko-nya Hinata yang kadang-kadang muncul itu? *tertawanista*
Etoo…. G-go-go-gomen atas keterlambatan fic ini *dimutilasi* akhir-akhir ini author terlalu _malas_ untuk kembali berkecimpung(halah) di dunia per-fanfiction-an. Tapi tenang, fic ini akan tetap lanjut kok*gaknanya(pundung)*
Sebelumnya, saya ingin mengucapkan banyaaaaaaaakkkkkkk terima kasih kepada para reader yang udah baca, review(yang gak bisa saya sebutkan satu-satu), fav, dll terhadap fic ini. Tanpa kalian, saya bukanlah siapa-siapa* *sob*
Oke, gak mau banya cuap.. kritik dan saran sangat di butuhkan, Hontou arigatou nee..
Salam, Hikari-chan
*bow*
