Disclaim
Semua Cast adalah milik tuhan, agensi, pair dan diri mereka sendiri.
Pair
TopGD and lil YunJae, KrisTao
Warn
BL, AU, hugar (humor garing), genderswitch for Jae
.
.
Chapter 2
"Sedang apa kalian berdua di sini?" sebuah suara yang sepertinya tak asing dari gendang telinga Jiyong dan Seungri. Keduanya menolehkan kepala dan melihat seorang namja berjulukan TOP anak Gyojangnim yang terkenal dengan tatapan menyeramkannya dan juga ketua klub Kendo yang di segani.
Jiyong terperangah, ia melihat berbulir keringat meluncur mulus dari kening, pipi dan tengkuk Seunghyun. Kebalikan dari Jiyong, Seungri malah mendekati Seunghyun dan mengelap keringat yang meluncur mulus. "Hyung-ah, keringatmu banyak sekali. Kalian berlatih sekeras apa?" ujarnya dengan senyum yang selalu terlihat.
Seunghyun diam saja saat namja manis itu mengelap keringatnya, bahkan namja bertatapan mata tajam itu tidak merasakan kehadiran Jiyong. "Gomawo, Seungri-ah… Tapi, sedang apa kau dengan Ji—yong-ah?" ia melirik kearah Jiyong, sepertinya ia menganggap namja itu ada lagi.
Namja berwajah yeoja itu terperangah menatap kedekatan Seungri dan Seunghyun, kenapa mereka bisa sedekat itu? "Ah, aniya…" ujarnya sadar di perhatikan oleh Seunghyun.
"Ha?" tanya Seunghyun tak mengerti, masih menatap namja berwajah yeoja itu.
"Ah! Ne, Hyung-ah!" suara Seungri mengalihkan perhatian Seunghyun. Namja bertatapan tajam itu sekarang mengalihkan pandangannya ke namja manis yang berada di dekatnya. Tatapannya seolah bertanya 'Waeyo?'. "Jiyong-hyung sepertinya mulai tertarik dengan klub Kendo, bagaimana jika Hyung mengajaknya melihat-lihat klub Kendo?" tanya Seungri menjelaskan.
Mengangguk mengerti, Seunghyun kemudian tersenyum. "Tertarik dengan klub Kendo? Ingin mencoba melihat-lihat? Mungkin saja kau akan semakin tertarik." Seunghyun tampak bersemangat sekarang, sepertinya dia senang sang murid baru tertarik dengan klubnya.
"E—eh? Tapi, aku… Seungri-ah?" Jiyong menoleh kearah Seungri, namun namja manis itu hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
Tidak hanya itu, namja itu juga tampak seperti sedang mendorong keduanya untuk pergi. "Kajja, nanti kelasnya keburu mulai~" ia kembali mendorong Seunghyun. "Ne, Hyung~? Hwaiting~!" kemudian ia mendorong Jiyong.
Menghela nafasnya, Seunghyun melangkahkan kaki-kaki jenjang miliknya. Jiyong namja manis itu menoleh kearah Seungri, namun namja selaku ketua kelasnya itu sudah tak terlihat dimanapun. Ia mengikuti –berusaha untuk mengimbangi– langkah kaki Seunghyun menuju ruang klub Kendo.
.
.
Otomen
Original Otomen by Aya Kanno
This Otomen by Shiki Frantomhive
.
.
"Omo~ Oppa, siapa yang kau bawa?" tanya suara halus tak jauh dari pintu ruang klub. Choi Jaejoong pemilik suara halus tersebut, sedang membawa satu keranjang penuh handuk kotor yang baru saja di gunakan oleh seluruh anggota. Baru saja ingin membawa keranjang itu menuju ruang cuci.
Seunghyun menolehkan kepalanya, buru-buru ia mendekati Jaejoong dan membantu yeodongsaengnya membawa keranjang itu. "Jangan paksakan dirimu, Joongie. Bukankah keranjang ini— Sangat berat!" ujar Seunghyun menyadari betapa beratnya keranjang yang tadi adiknya bawa.
Jaejoong tersenyum melihat orang yang tadi bersama Oppanya. Yeoja cantik itu malah mengambil kembali keranjang yang sedang di bawa oleh Seunghyun dan mendorong namja itu untuk menemani Jiyong. "Oppa, jangan membuat teman Oppa menunggu seperti itu…" ujarnya seraya kembali berjalan.
"Tung— Joongie…" Seunghyun hanya melihat adiknya melewatinya begitu saja. Sepertinya ia baru sadar jika Jiyong masih berada di dekatnya, sesaat setelah Jaejoong keluar dari ruang klub. "Ah, ne… Jadi, bagaimana? Kau tertarik, Jiyong-ah?" tanya Seunghyun menata kembali raut wajahnya.
Jiyong menunjukkan senyumnya sejenak, "Yeoja yang manis, apa dia kekasihmu?" tanya Jiyong, sepertinya dia tak tahu jika Jaejoong adalah yeodongsaeng Seunghyun.
Namja bermata tajam itu melihat aneh kearah Jiyong, "Yeoja dengan tenaga berlebih itu? Mana mungkin…" Seunghyun mengibaskan tangannya. "Dia adikku, walau tak terlihat tetapi dia adik kandungku…" Seunghyun tersenyum memikirkan paras imut saat Jaejoong tersenyum.
Namja manis itu menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, sepertinya dia sudah salah paham dengan kedekatan Kakak-Adik itu. "Kalian memang tidak mirip, tetapi ada satu kemiripan dari kalian—" Jiyong berhenti sejenak, melihat wajah Seunghyun yang memperlihatkan wajah tanyanya. "Kalian sama-sama rupawan, kau tampan, adikmu cantik." Akhiri Jiyong dengan senyuman.
Seunghyun yang memang jarang di puji seperti hanya bisa tersenyum, "Thank you, akan ku katakan pada adikku jika kau memujinya. Dia pasti akan senang, walau seseorang nanti ada yang cemburu…" ucap Seunghyun dengan helaan nafas di akhir kata yang ia ucapkan.
Jiyong memiringkan kepalanya, "Apa adikmu sudah memiliki kekasih?" tanyanya, ia berkesimpulan demikian saat mendengar Seunghyun berkata 'Akan ada yang cemburu' di kalimatnya.
"Yeah, kau sudah tahu siapa orangnya…" Seunghyun mendudukkan dirinya di kursi panjang terbuat dari kayu yang berada di tengah-tengah ruangan.
Namja manis itu berdiri di depan Seunghyun, menyandarkan dirinya pada loker yang berjajar sepanjang dinding. "Hmm… Orang yang aku sudah tahu? Siapa ya?" ucapnya, ia tampak berpikir cukup lama.
"Jung Yunho…" ucap Seunghyun, tangannya menunjuk pada sebuah loker di belakang yang sedang digunakan Jiyong untuk bersandar.
Namja itu menunjukkan wajah polosnya, berdiri dengan benar dan menoleh ke belakang. Melihat sebuah papan nama terbuat dari plastik bertuliskan 'Jung Yunho' dengan hangul yang tertulis rapi. Kepala Jiyong kemudian mengangguk, tulisan rapi yang terlalu bagus untuk seorang namja. "Jadi, Yunho-ah pacar adikmu?" ucapnya memberi kesimpulan.
Dengan berat hati Seunghyun mengangguk, "Ne." namja bertatapan tajam itu berdiri, berjalan menuju loker miliknya dan berganti pakaian seragam sebelumnya ia mengelap tubuhnya dengan handuk agar tak ada keringat yang membasahi seragamnya.
"Wah, Seunghyun-ah! Tubuhmu bagus…" ucapnya mendekati Seunghyun, dan kemudian memegang lengan namja itu. "Kulitmu putih, aku yakin kau jarang melepas bajumu saat olahraga." Jiyong kembali menganalisis.
Seunghyun menatap Jiyong dengan tatapan yang dianggap teman-teman sekelasnya menyeramkan. Tidak, ia bukannya tak suka dengan Jiyong yang tiba-tiba memegangnya. Ia kagum dan sedikit syok, kenapa Jiyong bisa seberani ini, mereka saja baru kenal beberapa jam yang lalu, kan?
"Jiyong-ah? Kau sedang apa?" tanyanya masih menatap Jiyong yang dengan setia memegang lengan namja bermata tajam kita ini.
Dengan sangat salah tingkahnya, namja manis itu melepas lengan Seunghyun. "A—ng, mianhae…" Jiyong membungkukkan kepalanya, merasa sedikit bersalah dan sangat banyak malu. "Mianhae, mianhae…" kembali namja manis itu membuka suara.
"Arra, arra… tidak usah sampai seperti itu," Seunghyun menghentikan kepala Jiyong masih setia menatap lantai yang sepertinya sudah menggaet hatinya. "Jiyong-ah? Kau tertarik dengan klub kami atau lantai ruang klub kami?" namja tampan itu merunduk, karena sedari tadi Jiyong sama sekali tidak menengadahkan kepalanya.
"Ah, ne… mian, Seunghyun-ah. Boleh aku melihat-lihat lagi?" Jiyong tersenyum, ia terlihat sangat manis di mata Seunghyun. Namja tampan dengan mata menakutkan itu menolehkan kapalanya. Mencoba agar ia tak terpanah akan senyuman manis namja yang ada di hadapannya ini.
"A-Arra, ayo kita ke ruang latihan… karena sudah waktunya masuk kelas, mereka mungkin sudah tidak ada lagi di gedung olahraga." Seunghyun menyelesaikan acara mengganti pakaian dengan cepat. Merapikan seragamnya dan menuntun Jiyong menuju gedung olahraga yang cukup dekat dengan ruang ganti klub Kendo.
.
.
Sebuah gedung olahraga yang cukup besar, tidak, tidak ini sangat besar. Bahkan dua lapangan basket, dua lapangan volley dan sebuah panggung di ujung gedung muat dalam satu gedung. Di dalam gedung olahraga itu juga terdapat beberapa pintu, salah satunya adalah pintu menuju ruang latihan klub Kendo.
Disinilah mereka, berdiri di dalam ruangan berlantai kayu yang terlihat licin. Seperti setiap saat di poles agar tak kusam. Seunghyun berhenti agak jauh dari pintu agar Jiyong bisa memasuki ruangan tersebut.
Ruangan yang tak terlalu hebat, tapi cukup rapi untuk sebuah ruang latihan. "Aku tak menyangka di dalam gedung olahraga ada tempat seperti ini? Luas sekali…" ujarnya terlihat kagum.
Fasilitas yang di berikan Gyojangnim sepertinya tidak tanggung-tanggung. Lihatlah lemari kaca penyimpanan jubah pelindung yang ada di ujung? Bingkainya terbuat dari kayu tidak mudah lapuk yang dapat bertahan selama puluhan tahun. Bahkan rak gantung untuk menyimpan pedang bambu di susun bagai tangga agar dapat digunakan kapan saja.
"Maaf jika tempatnya sedikit berantakan…" ucap Seunghyun, namja tampan itu melipat kedua tangannya di depan dada, berdiri bersandarkan dinding yang terbuat dari kayu.
Jiyong tersenyum, namja manis itu menggelengkan kepalanya. "Tempat ini bahkan lebih rapi daripada rumahku," ujarnya sedikit bercanda, kembali sibuk memperhatikan sekeliling ruang latihan.
"Bagaimana? Kau tertarik dengan klub ini?" Seunghyun kembali menawarkan kepada Jiyong.
Namja manis itu mengangguk, "Tentu, aku sangat tertarik dengan tempat ini…" ucapnya dengan pandangan mata berbinar. Ia saat ini mendekati lemari kaca yang menyimpan jubah pelindung di ujung ruangan.
Seunghyun mengangguk, "Baiklah… kalau begitu mulai nanti sepulang sekolah kau membantu adikku, menjadi manajer… Gomawo sudah mau bergabung…"
Jiyong terdiam sejenak, kepalanya menoleh melirik Seunghyun yang masih berdiri di dekat pintu. "Tunggu sebentar…" namja manis itu berjalan mendekati Seunghyun. "Maksudmu aku akan menjadi manajer? Bukannya anggota?" tanya Jiyong memastikan, ia takut terjadi kesalahan pada telinganya.
"Klub kami sedang mencari manajer baru untuk membantu manajer lama. Jadi, tidak terpikirkan untuk mencari anggota baru…" Seunghyun berucap dengan mantap, seperti tak menginginkan penolakan. Sebenarnya ia berharap jika Jiyong tidak akan menolak menjadi manajer.
Namja di hadapannya tertegun sebentar hingga pada akhirnya mengangguk affirmatif. "Baiklah, tak ada salahnya mencoba menjadi manajer," ucapnya dengan sebuah senyuman. "Sepertinya akan sangat menyenangkan bekerja sama dengan yeodongsaengmu." Tambahnya dengan sebuah senyum yang terlihat sangat imut.
Dengan dehaman lemah Seunghyun menolehkan parasnya, menatap dinding di ujung ruangan yang sepertinya telah menarik perhatiannya. "Baiklah, agar lebih mudah mungkin kau harus banyak bertanya pada Jaejoong. Mungkin saat ini ia ada di ruang laundry," namja tampan bersurai hitam itu berjalan menjauhi sosok Jiyong, membuka pintu dengan pelan dan menunjukkan jalan menuju ruang laundry.
Ruang laundry sejatinya tidak begitu jauh dari tempat mereka sekarang. Hanya berbeda beberapa pintu saja di dalam gedung olahraga itu.
.
.
"Ini ruang laundry jika—" kedua bola mata namja bersurai hitam pekat itu terbelalak, menatap sesosok namja dan yeoja yang sangat ia kenal. "—sedang apa kalian di sini, Choi Jaejoong dan Jung Yunho-sshi?" ucapnya dengan suara sarkas.
Kedua sosok manusia itu hampir saja melompat dari tempat mereka masing-masing di kala mendengar suara tinggi bernada sarkasme yang di lancarkan oleh Choi Seunghyun. Jiyong di belakang Seunghyun menunjukkan raut wajah memerah, malu memergoki seseorang yang sedang memadu kasih di tempat tertutup dan sesempit ini.
"O-Oppa, ini tidak seperti yang—"
"Cukup Choi Jaejoong, oppa tak pernah menyuruhmu melakukan hal mesum di tempat seperti ini, kan?" tanya namja bersurai hitam itu. Surai yang sudah agak panjang itu terlihat masih sedikit basah akibat keringat.
"Seunghyun-ah, aku bisa menjelaskan—"
"Aku tak berbicara denganmu wahai Jung Yunho…" Seunghyun menatap tajam pada namja bermata musang di hadapannya.
Paras tampan bersurai brunet itu menggaruk pelipisnya yang bahkan tak terasa gatal saat ini. Ia lantas mengancingkan beberapa kancing kemejanya yang berantakan. Oh, hei, mereka bahkan baru memulainya. Bahkan permainan yang sesungguhnya masih jauh dari jangkauan mereka saat ini.
"Jadi, apa kesaksianmu saat ini Choi Jaejoong?" sebuah cambuk tanya dengan nada yang terdengar dingin itu menerpa pendengaran Jaejoong.
Yeoja dengan paras rupawan yang mampu membius seluruh namja itu menundukkan parasnya. Menutup paras rupawan itu dengan surai coklat madunya yang panjang bergelombang.
Jiyong menatap dua sosok di hadapannya, walau ia baru saja bertemu dengan Seunghyun hari ini, ia bisa merasakan betapa bahayanya jika ia membuat sosok bersurai hitam itu murka. "Seunghyun-sshi…" ucapnya pelan dengan nada ragu.
Mendengar namanya terucap dengan lirih, namja bersurai hitam itu melirikkan matanya pada sosok Jiyong di belakang. "Wae?" tanyanya dengan nada yang sedikit ia ubah.
"Mu-Mungkin aku terlihat sangat ikut campur… yeah, I know. Tapi, jebal, dengarkan dulu penjelasan dari Jaejoong-sshi." Jiyong menggenggam erat lengan Seunghyun yang entah sejak kapan telah terangkat beberapa senti dari sisi tubuhnya.
"Oppa…" suara merdu dengan tekanan lirih itu terucap. Tatapan sendu dengan kilat ketakutan itu di layangkan oleh kedua mata Jaejoong. Tatapan yang mungkin saja bisa meluluhkan hati Seunghyun.
Tatapan mata itu melunak, tangan Seunghyun yang semula terangkat menurun dengan pasti. Menatap atensi adiknya yang sedikit bergetar menatap dirinya. "Arrasseo, aku akan mendengar kesaksianmu di rumah. Berharap Omoni masih di luar kota. Dan untukmu, Jung Yunho… kita bertemu di latihan selanjutnya nanti." Seunghyun mengacungkan tangannya pada Yunho, menatap atensi namja itu dengan tajam.
'Oh, holy crap…' batin Yunho menatap pandangan membunuh itu. Sudah pasti hidupnya berada di tangan namja dengan tatapan menyeramkan itu.
Seunghyun melangkahkan kakinya beberapa langkah kebelakang hingga ia melihat Jiyong yang masih menatapnya. "Benar… aku hampir lupa. Jaejoong, ini Jiyong—" namja itu menarik Jiyong untuk berdiri di sebelahnya, memperkenalkan kedua atensi itu.
"Choi Jaejoong… eum, Onni?" ucap Jaejoong dengan sebuah senyum yang terlihat sangat imut. Tanpa melihat atensi di hadapannya menatapnya dengan raut wajah, err— menakutkan.
"Kwon Jiyong imnida, dan aku namja. Jangan memanggilku, onni" ia menatap Jaejoong dengan tatapan ambigu.
Yeoja cantik itu menutup mulutnya, dan ia sedikit membungkukkan badannya di hadapan Jiyong. "Mianhae Oppa… kukira Oppa seorang Yeoja." Ucapan itu hanya di terima Jiyong dengan helaan nafas.
"Sudahlah Jaejoong-sshi, daripada itu… mungkin ada baiknya jika kau membantuku memberitahu apa tugasku selama membantumu menjadi manajer." Jiyong mendekati Jaejoong, keduanya sibuk berbicara dan meninggalkan Seunghyun beserta Yunho yang berada di luar.
"Jadi, Jung Yunho. Kau sadar akan konsekuensi yang kau dapat setelah ini, kan?" tanya namja bermata tajam itu kepada Yunho. Namja bermata musang itu hanya menenggak salivanya dengan kasar, sepertinya dalam tubuhnya menerima sinyal tanda bahaya yang di keluarkan namja di hadapannya.
Dengan sebuah seringai ambigu Seunghyun layangkan. Menatap kekalutan di dalam diri namja bermata musang di hadapannya. Hei, sudah lama ia ingin menghajar namja di depannya ini. Jadi, jangan salahkan dirinya jika ia memergoki namja sialan di hadapannya sedang bermesraan di ruang tertutup dan melakukan hal cabul kepada adik perempuannya.
Yunho menatap namja di hadapannya ini dengan kalut, sepertinya jauh di lubuk hatinya ia sedang berdoa semoga ia dapat melihat hari esok.
.
.
"Jadi, kalian sedang apa?" sebuah layangan pertanyaan di berikan seorang namja blonde keturunan China-Canada di hadapan mereka berdua. Namja dengan tinggi menjulang itu menatap dua sahabatnya dengan pandangan tanya.
"Memberi pelajaran tentang dasar ilmu beladiri kepada murid baruku…" ucap dengan nada santai oleh Seunghyun. Kedua tangannya tampak sibuk melayangkan beberapa pukulan yang sangat cepat kearah Yunho, dan tentu saja tidak dengan tangan kosong melainkan dengan sebuah pedang bambu yang selalu ia gunakan.
Yunho tampak kewalahan dalam menangkis serangan-serangan yang cepat dan kuat dari sosok di hadapannya. "Bukan pelajaran, ini percobaan pembunuhan!" ucapnya dengan nada bermain-main.
Kris sosok dengan rambut blonde itu hanya menatap heran kepada kedua namja di hadapannya. "Ah… jika kalian butuh aku, terutama kau Yunho. Aku berada di ruang latihan klub Wushu." Ucapnya dengan nada –sangat– tidak tertariknya.
Seunghyun sepertinya tak terlalu memikirkan Kris yang selalu saja menghilang ke klub Wushu. Sepertinya namja itu kerap sekali mendapati Kris menghilang di tengah-tengah latihan. Namun jangan di sangka Kris tidak memiliki pengetahuan apapun tentang Kendo. Malah sebaliknya, ia disebut sebagai salah satu pilar di sekolahnya. Salah seorang harapan dalam pertandingan Kendo.
Mari kita kembali kepada pasangan SeungYun di dalam ruang latihan klub Kendo. Jika kita melihat dengan sangat cermat, keduanya tampak kelelahan dalam kegiatan Serang dan Tahan mereka. Bahkan keringat deras bercucuran di raga keduanya.
"Seunghyun-ah! Ada apa? Sepertinya kau sudah kelelahan, eoh?" ucap Yunho dengan sebuah seringai ambigu.
Dengan tatapan tajam yang seperti biasa, atensi Seunghyun tertuju pada Yunho di hadapannya. "Jangan sembarangan, frase itu seharusnya ku katakan padamu. Jangan katakan padaku jika seorang Jung Yunho yang menjadi salah satu pilar harpan di sekolah ini melemah…" ucapnya mengatur nafas.
Nafas keduanya terlihat menderu. Keringat semakin membanjir, bahkan jika di lihat secara baik-baik gerakan keduanya semakin melambat.
"Oppa~ waktunya istirahat! Aku tak ingin melihat kalian berdua cidera~!" teriakan lembut dari Jaejoong sukses membuat keduanya menurunkan kedua tangan mereka. Tidak hanya kedua tangan mungkin, bahkan pedang bambu mereka terjatuh begitu saja.
"Oi, Seunghyun… kali ini kita draw, mungkin lain kali akulah yang akan menang." Frase dengan nada lemah di layangkan Yunho.
Seunghyun menyeringai ambigu, "Apa kau tak salah Jung Yunho… kau yang akan menang? Heh, lain kali tidak ada yang akan menghentikan kita…" Seunghyun mengakhiri pertarungan mereka. Namja itu mendudukkan dirinya di kursi kayu panjang yang tersedia. Mengolah aliran udara yang sejak dari pertarungannya menjadi berat.
"Minumlah…" seseorang menyodorkan sebotol air mineral kearah Seunghyun dan di terima namja tampan itu dengan senang hati.
Tanpa ragu namja tampan itu menenggak hampir setengah isi dalam botol tersebut. Sepertinya akibat aktifitasnya sedari tadi, kerongkongannya terasa kering. "Gomawo, Jiyong-sshi."
"Cheonmaneyo…" ucap lawannya. Namja itu mendudukkan dirinya di samping Seunghyun dan menyerahkan sebuah handuk kering untuk menyeka keringat. "Kau terlihat sangat… hebat saat melawan Yunho. Sayang sekali jika kau melakukannya hanya untuk membalas perbuatannya…" ucapnya dengan lirih.
Seunghyun mengalihkan pandangannya pada Jiyong. Menatap sosok itu dengan keheranan yang sangat tinggi. "Terima kasih, dan untuk masalah melakukan untuk membalas itu bukan urusanmu…"
Jiyong mengerucutkan bibirnya, terlihat sangat imut namun tidak dapat mengurangi persepsi Seunghyun jika namja di sebelahnya ini aneh. Yah, seaneh-anehnya pandangan Seunghyun pada Jiyong, tak ada yang tahu jauh di lubuk hati terdalamnya, kan?
.
.
Bersambung…
A/N: yah… panjang dan, sangat membosankan. Apa lagi kebiasaan otomen Seunghyun belum ku perlihatkan, hueee… baiklah, mungkin next chap akan lebih di perlihatkan seperti apa Seunghyun saat di rumah, sho~ phueles to be patien for the next chap and, would u mind to giving me a review?
Pojok Review :
Choi Kyo Joon: ne, mianhae kalo ga suka… yah, mungkin di fanfic yg lain? Kalo mau sih, gak juga ga masalah, makasih reviewnya ^^
JennyChan: ne, Ji masuk klub kendo… :) coba deh bayangin mereka ngosh-ngoshan sambil keringetan deh~
: ini udah di lanjut :) dan, Se7Ri? Hmm, aku belum ada gambaran, tapi akan ku coba jika bisa… :) makasih udah di fave, juga reviewnya~ ^^
SashaCloude: kkk~ ya udah, Oppa kamu di ubah kayak TOP aje ' 'd pasangin poster wajah TOP, jadi deh~ /eh /gagitu
Dan terima kasih juga untuk:
Lee Jinwu | Yunjae | Sora Hwang | Augesteca | MJ | All Silent Reader /mangada? /diada2inaja
29/11/2012
