Disclaim
Semua Cast adalah milik tuhan, agensi, pair dan diri mereka sendiri.

Pair
TopGD, YunJae, TaoRis

Warn
BL, AU, hugar (humor garing), genderswitch for Jae

.

.


Chapter 4

"Ah, Hyung-ah!" ucap suara itu.

Seunghyun kembali menatap namja di hadapannya. "Kau tidak akan mendapatkan apapun jika kau hanya berdiri di sini saja, Ri."

Seungri, pemuda dengan mata panda lucu itu tersenyum cerah melihat Seunghyun. "Ne~" ucapnya menyahuti sang Ketua Klub Kendo. "Tetapi aku tidak bisa maju ke tempat barang-barang diskon Hyungie-ah—" ia menundukkan kepalanya, terlihat sedih.

Pemuda dengan wajah tegas itu menatap Seungri sekilas dan kemudian menyerahkan keranjang yang ia bawa pada Jaejoong. "Biar aku yang membantumu."

Pemuda bermata panda lucu itu menatap Seunghyun dengan wajah yang senang, "Sungguh?" ia melihat Seunghyun mengangguk dan semakin melebarkan senyumannya. "Huwa~ gomawo yo Hyungie!" ucapnya dengan riang gembira.

Seunghyun mengangguk dan kemudian melangkahkan kakinya kembali ke kumpuluan Ibu-Ibu bringas. Dengan modal nekat dan ingin membantu, Seunghyun melipat lengan kemejanya. Sehingga memperlihatkan kulit putih bersih dengan otot lengan yang menonjol, siap menerjang kumpulan di depannya.

Jaejoong dengan senang hati memperhatikan jam tangan di lengannya, mengangkat sebelah lengannya, terlihat seperti sedang memberi aba-aba. "Siap—yak!" teriaknya sembari mengayunkan lengan yang tadi ia angkat lurus menjadi sejajar dengan pandangannya.

Bisa kita lihat Seunghyun saat ini berlari dan berusaha menyusup masuk di antara para monster gila diskon. Jaejoong dan Seungri asyik mengobrol sembari menunggu Seunghyun selesai berburu. Well, ini sedikit—aneh, sebenarnya.


.

.

Otomen

Original Otomen by Aya Kanno

This Otomen by Shiki Frantomhive

.

.


"Aigo, Seunghyun-Hyung. Betapa baiknya dirimu~" ucap Seungri cukup senang dengan apa yang di bawakan Seunghyun kepadanya.

Pemuda berparas tegas itu mengangguk, "Jangan sungkan-sungkan Ri, aku hanya ingin membantu temanku." Seunghyun kembali memperbaikin pakaiannya.

Seungri mengangguk, dan kemudian menggeleng. "Ani, Hyung benar-benar sudah membantuku. Kapan-kapan, datanglah kerumahku dan akan ku masakkan sesuatu yang istimewa untukmu Hyung~"

"Waa~ Seungri-Oppa baik sekali~" Jaejoong maju mendahului Seunghyun yang ingin menolak ajakan teman sekelasnya itu. "Aku dan Oppa pasti akan sangat senang sekali bisa makan malam di rumahmu lain kali~" ucapnya dengan senyum cerah.

Sang bermata Panda juga ikut tersenyum mendengarnya, "Jika kalian ingin mengundang yang lain ikut, tak masalah lho~" ucapnya dengan suka cita. "Ramai biar lebih seru~"

"Tentu, tentu~" tanggapi Jaejoong dengan anggukan.

Seunghyun mengangkat kantung plastiknya, "Sampai di sini saja, kami ke arah kiri. Sampai jumpa di sekolah, Seungri-ah."

"Jaa, Seungri-Oppa~" membungkuk dengan sebuah kantung plastik kecil di tangannya.

Seungri ikut membungkuk dan tersenyum sekali lagi. " Baiklah, sampai jumpa, Jaejoong dan Seunghyun-Hyung~" ia mengangkat tangannya dan mengibaskannya ke arah kedua kakak-adik yang masih berdiri di tempat mereka.

.

.


Sekali lagi pagi hari dan rutinitas sang pemilik julukan T.O.P itu menunjukkan batang hidungnya. Merapikan kebringasan adiknya saat menonton film bersamanya semalam. Tidak hanya merapikan, ia juga menyiapkan sarapan untuk dirinya dan sang adik tersayang.

Harum telur goreng yang ia buat dengan menambahkan keju yang dapat meleleh di atas sang telur, membuat aroma telur di pagi hari semakin memikat perut untuk menikmatinya. Beberapa sosis dan ham goreng sudah siap di atas piring dengan rapi, segelas susu rasa stroberi juga sudah tersaji di atas meja.

Melepaskan apron pink bermotif tengkorak berwarna pink tua dan meletakkannya pada gantungan, Seunghyun melangkahkan kedua kakinya mendekati kamar sang yeodongsaeng. Ia melihat kamar tersebut, tidak ada orang. Hm, tumben sekali sang adik sudah terbangun di jam yang masih pagi ini. Sepertinya nanti akan ada badai.

"Oppa~! Dimana pita berwarna hitam yang selalu ku gunakan di hari kamis?" ucapnya mendekati Seunghyun.

Penampilan Jaejoong masih sedikit berantakan. Dasi yang belum tertata rapi, kemudian rambut yang masih acak-acakan. Membuat penampilan Jaejoong sangat menggemaskan. Apa lagi kedua mata doe indahnya menatap Seunghyun dengan berkaca-kaca.

Suara helaan nafas terdengar dari arah Seunghyun. Sepertinya namja tampan kita satu ini mengetahui apa yang akan terjadi di pagi yang cerah ini, jadi ia sudah menyiapkan peralatan lengkap yang berupa sisir dan berbagai warna pita yang bisa di pilih oleh Jaejoong.

"Duduklah di kursi dan biar Oppa yang membantumu." Seunghyun memerintahkan, ia memperbaiki seragamnya selama Jaejoong berjalan menuju kursi dan menduduki kursi tersebut.

Kedua berlian hitam Seunghyun menatap surai lembut sang adik, menyisirnya dengan sangat cekatan dan terlihat berhati-hati. Mengikat helai demi helai rambut Jaejoong dengan sedemikian rupa dan cantiknya. Memberikan beberapa aksesoris yang cocok untuk rambut yang ia kepang miring tersebut.

"Sudah."

Tanpa basa-basi, Jaejoong kemudian mengambil kaca kecil di depannya dan melihat bagaimana rambutnya hari ini. "Kyaaa~ seperti biasa, Oppa~ aku suka tatanan rambut ini!" ucapnya dengan riang.

Yeoja cantik itu berdiri dan mengikuti sang Oppa yang sudah berjalan menuju dapur yang menjadi satu dengan ruang makan. Duduk di kursi yang sudah di siapkan dan memakan sarapan lezat penuh gizi.

"Ini benar-benar hebat Oppa~" pekik Jaejoong kembali memuji hasil buatan sang kakak tercinta.

Seunghyun di pojok hanya mengangguk dan kembali menyelesaikan kotak bekal untuknya dan Jaejoong. Membuat berbagai bentuk untuk lauk dan nasi yang akan menjadi bekal mereka. Dari sosis gurita hingga lauk yang berbentuk beruang dan panda yang imut. Kemudian menutup kotak bekal tersebut dengan kain yang sudah di siapkan, Seunghyun akhirnya mengikat dengan rapi kain motif panda yang ia gunakan.

"Cepat habiskan dan kita segera berangkat."

.

Keduanya saat ini berada di lorong menuju kelas, Jaejoong kemudian membungkuk pada sang Oppa karena sudah mengantarkannya dengan selamat dan sehat sentosa menuju kelas pertama. Beruntung belum ada guru yang mengajar.

Jika kalian berpikir dua bersaudara Choi ini berada di sekolah tepat waktu, itu salah besar. Lagi-lagi dan beruntungnya, mereka terlambat memanggil bus dan terpaksa memanggil taksi untuk sampai ke sekolah ini dengan aman. Well, kejadian ini bukan sekali ini, sudah berkali-kali mereka mengalami hal sial serupa.

Seunghyun melangkahkan kedua kakinya dengan tenang menuju kelas yang berada satu tingkat di atas kelas sang Adik. Beberapa anggota Klub Kendo yang berpapasan dengannya memberikan hormat atau mengangguk singkat, dan tentu saja sebagai Ketua yang baik ia membalas sapaan itu dengan sama hormatnya.

Ia menganggap anggota Klub juga salah satu dari anggota keluarganya, ia merasa tak nyaman jika ia harus sampai di takuti. Walau sebenarnya di takuti juga hal yang lumayan menguntungkan untuknya. Tapi tetap saja, ia tak nyaman.

"Woah~ lihat kawan-kawan, Seunghyun sudah kembali~!" ucap salah seorang teman sekelasnya saat Seunghyun sampai di kelasnya tepat waktu.

Pemuda tampan itu menatap teman-temannya yang langsung berkumpul bagai anak semut yang bertemu dengan ibunya yang membawa makanan. "Ada apa? Memang aku habis darimana sampai kalian bilang aku kembali?"

Salah satu dari mereka tertawa pelan menatap Seunghyun, "Hehehe~ hanya sedikit mendramatisir tak masalah, kan?"

"Oh, bagaimana dengan yang akan maju ke pertandingan? Tiap sekolah hanya boleh membawa lima atletnya, kan?" tanya salah satu dari sekian orang yang berkumpul. Ternyata mereka ingin tahu tentang bocoran siapa saja yang akan ikut maju kedalam pertandingan.

Ah, Seunghyun hampir saja lupa dengan kandidat yang sudah ia siapkan. Ia kemudian menyeringai, "Lihat saja nanti di kegiatan Klub." ucapnya dengan nada berbahaya dan kemudian guru memasuki kelas mereka. Dengan sangat terpaksa kumpulan murid itu membubarkan diri mereka.

.

.


"Dengar Jae. Oppa akan memberi tahumu sekali, mengerti?" ia menatap sang Adik sekilas dan kemudian menatap apa yang ada di depannya lagi. Ia bisa merasakan sang Adik mengangguk.

Suasana begitu tegang, seperti akan ada peperangan setelah ini. Well, bisa di katakan seperti itu. Yah, bagaimana lagi jika bukan karena Jaejoong meminta Seunghyun membantunya memasak di kelas dapur Praktek Rumah Tangga sekolah mereka.

Dengan gesit Seunghyun mengajarkan sebuah olahan yang mungkin mudah bagi Jaejoong, Risotto. Ia memasukkan beras kedalam sauce pan dan potongan bawang bombay beserta cairan kaldu untuk membut Risottonya. Menunggu Risotto matang, Seunghyun kemudian mengajari Jaejoong membuat tortilla beserta pelengkap yang enak untuk sang Risotto.

Beef blackpapper beserta mixed vegies. Ia memarinade daging sapi yang ia slice tipis, setelah ia kira sang Daging sapi sudah cukup meresap bumbunya kemudian ia menumis bersama sayuran pelengkap dan menambahkan sauce blackpapper yang sudah di siaplkan. Ia juga sudah mengajari cara membuat tortila dan menghias tortila tersbut dengan sayuran.

Jaejoong terlihat amazed dengan kecekatan sang Oppa saat membungkus Risotto bersama beef blackpapper dengan tortila yang ia buat tadi, memang sedikit gosong, tetapi harum Risotto dan Beefnya membuat Jaejoong dengan sangat terpaksa menenggak salivanya. 'Awesome!'

Namja tampan itu memotong tortila risotto di bagian tengah dan menatanya di atas piring bersama pelengkap dan saus blackpapper yang tersisa. Semakin ngilerlah Jaejoong di buatnya. Harumnya benar-benar hebat dan membuat gemuruh kecil di perut Jaejoong.

Ratle!

Keduanya melihat kearah suara, dan terbelalaklah dua pasang mata yang berada di depan sebuah kompor yang telah mereka gunakan.

Seorang pemuda manis dengan surai pirang yang juga ikut membulatkan matanya sedari tadi. Ya, sedari tadi dia sudah berada di tempatnya dan nampak cukup syok saat melihat apa yang ia lihat di hadapannya.

"Ji—"

"—Yongie?!"

Teriakan Jaejoong membuat Jiyong sadar dan menatap keduanya dengan pandangan yang tiba-tiba berbinar. "Hebat!" ucapnya kemudian berlari mendekati Seunghyun.

"Magnificent! Kakkoi!" kembali ia berucap namun dua bersaudara Choi hanya saling pandang tak mengerti.

"Ji—Jiyong?"

Jiyong memegang kedua tangan besar Seunghyun dengan kedua tangannya yang lebih kecil. "Aku tak tahu jika Ketua Klub bisa memasak dengan begitu indah dan dengan wangi yang begitu hebat—" pemuda manis itu mendekati piring hasil masakan Seunghyun dan dengan senang hati Jaejoong memberikan satu potong untuknya.

Pemuda mungil nan manis itu mencomot sedikit makanan itu, seketika kedua matanya membulat akan kenikmatan masakan Seunghyun yang tiada banding. Bahkan Chef terkenal di dunia mungkin akan beranggapan sama dengan dirinya saat memakan masakan Seunghyun. "—dan rasa yang begitu nikmat! Aku sukaaa~!"

"Te—Terima kasih—"

Jaejoong melihat ini sebagai peluang dan membawa makanan yang memang di peruntukan baginya. "Baiklah, Oppa~ Joongie pergi dulu! Dan, Hyunnie-Oppa, Joongie mau daging untuk makan malam~ Jaa~" ucap sang Yeoja cantik bersurai coklat itu melangkahkan kedua kakinya meninggalkan dua orang yang berada di dapur.

"Yah! Kau bisa gendut makan daging terus, Jae!" teriak Seunghyun membalas sang Adik. Untuk beberapa saat ia melupakan Jiyong di depannya lagi-lagi menampakkan wajah tertariknya.

"Hyung, kau bisa masak?"

Kalimat retoris memang, tetapi ia hanya ingin meyakinkan. Bisa saja ia salah lihat tadi. Bisa saja yang memasak adalah Jaejoong dan Seunghyun hanya melihat, tapi sepertinya apa yang ia lihat memang kenyataan. Sang Ketua Klub Kendo yang di elu-elukan sebagai seorang Namja paling hebat, sangar, maco dan idola bagi murid yeoja bahkan namja ini, ternyata bisa masak.

Sekali lagi kutegaskan, DIA BISA MASAK! DAN MASAKANNYA SO FUCKING AWESOME!

.

Keduanya saat ini duduk di meja, dan tentu saja mereka masih berada di dapur. Sebenarnya Jiyong sudah menawarkan untuk pindah ke kelas, tetapi Seunghyun dengan sangat cepat menolak ajakan itu secara halus. Well, ia tak mau jika teman sekelasnya yang lain mengetahui ia memiliki hobi seperti wanita.

"Jadi, bagaimana caranya kau bisa memasak seperti itu, Hyung? Kau tahu, ini sangat hebat!" ucapnya memuji, masih dengan mengunyah masakan yang di buat Seunghyun. "Pantas saja daritadi aku tak melihatmu di kelas."

Namja berparas tampan itu menatap Jiyong, sebelah alisnya ia angkat. "Makan dulu baru berbicara." singkatnya.

"Baiklah—mengunyah dan telan—jadi, boleh aku tahu sekarang?" ia menatap Seunghyun, kembali dengan tatapan amazed miliknya.

Dan tentu tatapan seperti itu susah untuk di tolak oleh Seunghyun, ayolah, ia tak ingin membuat wajah manis itu bersedih. Tetapi ia juga tak mau si pemilik wajah manis itu mengetahui rahasia yang ingin ia pendam selamanya, walau ia yakin itu mustahil.

"Kau ingin tahu tentang apa?" tanya sang Ketua Klub.

Sang Manajer hanya menggelengkan kepalanya, "Kau masih muda tetapi sudah pikun, Hyung~" ucapnya dengan santai dan menerima dengusan kesal dari Seunghyun.

Mengerucutkan bibirnya saat Seunghyun benar-benar tak membuka mulutnya untuk berbicara. "Kau pelit sekali sih. Baiklah, Hyung, aku ingin tahu kau belajar masak dari siapa?"

Hening sejenak dan Seunghyun menatap arah lain, "Seseorang yang kuhormati, namun orang itu telah pergi dari hidupku" jawabnya. Menambah kebingungan pada Jiyong.

"Maksudnya?" tanyanya lagi dan mendapat hadiah usapan atau bisa di katakan sebagai mengacak pada kepalanya dari Seunghyun. "Hyuuung~!" pekiknya pelan. Ah, rambutnya berantakan.

"Kau lebih manis dengan gaya rambut seperti itu." Pemuda tampan itu berdiri dan bergegas keluar dari dapur. "Aku harus pergi ke ruang Klub, mereka pasti sedang menungguku. Kau juga, cepatlah makan." kemudian ia berjalan pergi meninggalkan Jiyong di dapur sendirian.

Pemuda manis itu menatap sekelilingnya, sepi. "Tunggu!"

.

.


"Baiklah! Pengumuman siapa saja yang akan bertanding akan di umumkan oleh Ketua~! Beri salam padanya!" teriakan dari seorang Wu Yi Fan membuat tatapan mata kemudian beralih ke arah Seunghyun.

Seperti yang di katakan oleh Wu Yi Fan atau Kris ini, seluruh anggota klub lantas membungkukkan badan mereka—tentu Seunghyun membalas bungkukkan mereka—dan kembali tegak dan hening saat suara dehaman dari sang Ketua terdengar.

"Terima kasih, Kris, tak perlu menggunakan penghormatan juga tak masalah." Mulainya dengan tenang. "Aku akan mengumumkan siapa saja yang akan bertanding dalam pertandingan minggu depan. Dan aku berharap lebih kepada yang terpilih serta yang tak terpilih, jangan berkecil hati." Jaejoong maju dengan sebuah kertas yang di lipat sedemikian rupa.

"Yang pertama, Jung Yunho dari kelas 2, aku mengharapkanmu pada laga kali ini. Kemudian, Gong Ji Hyun dari kelas 1…" lanjutnya dengan mengucapkan beberapa nama dan ia berhenti di nama terakhir. "Dan yang terkhir adalah diriku sendiri dari kelas 2. Siswa yang telah di bacakan namanya setelah selesai latihan di harap berkumpul di ruang meeting. Sekian."

"Terima kasih, Ketua!" serempak anggotanya membungkuk kembali dan menatap Seunghyun yang kembali berdiri dengan peralatan latihannya.

Salah satu anggota klub berbisik kepada temannya, "Lihat, ketua akan berlatih."

"Siapa yang akan melawannya?" tanya yang lainnya.

"Oh! Lihat dia—" anggota yang lain menunjuk pemuda bersurai pirang yang mendekati Seunghyun

"—Kris-sshi akan melawan Ketua!" sorak yang lainnya.

Kris melirik sekilas kepada anggota klub yang lain dan tersenyum pelan. Dengan sangat percaya diri ia mengibaskan tangannya dan mendapat lemparan handuk basah akibat keringat. "Yah!"

"Kau mau apa, Kris?" tanya Seunghyun saat ia melihat Kris mendekatinya, kembali bermeditasi.

Pemuda dengan surai pirang nyengir melihat Seunghyun tak tertarik berlatih melawannya. "Ayolah, Hyun~ sudah lama aku absen dari latihan ini~ aku bisa gila jika tak bergerak lebih lama dari ini. Bahkan kau tak mencantumkan namaku dalam perlombaan itu."

"Karena kau belum pulih."

"Aku sudah pulih seratus persen! Percayalah!"

"Aku tak bisa menarik apa yang sudah ku putuskan," Seunghyun mengikatkan handuk kering di keningnya, menjaga agar rambut bagian depannya tak mengganggu mata dan juga sebagai penahan helm.

"Uuuh, aku tahu sifatmu itu. Tapi jika aku tak ikut yang kali ini, aku harus menunggu setengah tahun yang artinya aku harus menunggu hingga kelas 3 baru bisa kembali."

Menangkat sebelah alisnya, Seunghyun menatap Kris. "Oh, salah siapa yang tak mendengarkan perkataan orang dan tetap nekat hingga terluka?" suara Seunghyun terdengar lebih dalam.

Kris hanya terkekeh, aih, sepertinya ia tak akan bisa menang jika sudah seperti ini. "Baiklah, baiklah~ itu salahku Ketua, mianhaeee~" ia mengangkat kedua tangannya untuk meminta maaf. "Jadi, Ketua~ bolehkah aku melawanmu, sekali saja?" tanyanya dengan cengiran menyebalkan miliknya.

Melirik kearah Kris sebentar Seunghyun kemudian mengangguk, "Kenakan perlengkapanmu jika kau tak ingin terluka dan semakin parah."

Suara Seunghyun membuat bulu kuduk Kris meremang, benar-benar mengintimidasi sekali. Tetapi ia mematuhi apa yang di katakan oleh sang Ketua. Walau seperti itu, ia adalah anggota klub Kendo juga.

Sementara itu di pojok ruang latihan klub Kendo, Jaejoong, Yunho dan Jiyong tengah memperhatikan kedua pemuda yang akan memulai pertandingan mereka. Jaejoong dan Yunho yang terlihat khawatir, sedangkan Jiyong hanya menatap mereka dengan tidak mengerti.

"Sebenarnya—ada apa dengan Kris-sshi?" ia bertanya pada akhirnya. Daripada rasa penasaran yang terus menghantuinya?

Jaejoong tersenyum maklum, sesaat ia menatap Jiyong dan kemudian menatap pertandingan di hadapannya. Menekuk lututnya dan memeluk kedua kakinya itu. "Kris-Oppa beberapa bulan yang lalu mengalami kecelakaan, dan harus di operasi." Ia memulai.

"Kata Dokter, Kris-Oppa tidak di perbolehkan lagi untuk bermain olahraga apapun yang menggunakan tangan, dan salah satunya adalah Kendo." Jaejoong semakin menenggelamkan wajahnya kedalam lututnya.

Jiyong tetap tidak mengerti namun berusaha untuk mendengarkan, hingga suara Seunghyun mengagetkan dirinya dan yang lainnya. "Kau sudah tak pantas untuk bermain Kendo lagi, Wu YiFan-sshi. Dengan tangan itu, percuma kau menggu hingga setengah tahun. Aku harap kau sadar diri dan mengundurkan diri dari klub ini."

Suara kegaduhan dari anggota lainnya menyadarkan Jiyong dari lamunan sesaatnya. Ia bisa melihat Kris tengah terduduk lemah sambil memegang tangan kanannya.

Tangan kanan tersebut terlihat tak baik, jika di lihat baik-baik, tangan itu tengah bergetar dan bahkan sepertinya sudah tidak bisa di gunakan untuk menggenggam pedang bambu. Tentu saja wajah kesakitan Kris terlihat sangat miris di mata anggota klub.

"Bawa Kris ke ruang kesehatan!" teriak beberapa orang yang mungkin telah tersadar dan berlari menuju pemuda pirang itu.

Sebagai manajer yang membantu Jaejoong, ia ikut menemani Jaejoong yang juga membantu beberapa anggota lainnya menuju ruang kesehatan. "Oppa, Kris-Oppa! Kumohon, tetaplah sadar! Aku akan memanggil Dokter!"

Sebelum Jiyong benar-benar pergi dari ruang latihan, ia melihat kearah Seunghyun. Kedua bola mata pemuda tampan itu terus menatap Kris dengan kesedihan. Apakah Seunghyun menyayangkan dirinya melawan Kris?

"Seunghyun. Ini bukan salahmu." Yunho mendekati pemuda tampan itu. Ia menepuk pundak kawannya untuk menenangkan.

Kepala Seunghyun tertunduk, ia merasa bersalah kali ini. "Yunho-ah, aku bukan Ketua Klub yang baik."

Yunho mendengus mendengar ucapan Seunghyun, "Semua orang tahu jika ini bukan salahmu. Berhentilah menyalahkan diri sendiri, Choi Seunghyun."

Seulas senyum terlihat dari pemuda itu. Andai ia sendiri saat ini, mungkin ia sudah menangis tersedu dan mengurung dirinya di kamar. Menanti seseorang yang akan menyalahkannya secara langsung.

Tidak, sebenarnya ini semua memang bukan salahnya. Kecelakaan Kris memang bukan salahnya. Tetapi sebagai Ketua Klub, ia merasa bertanggung jawab dengan keselamatan dan kesehatan anggotanya. Ia tak pernah lupa untuk mengingatkan anggotanya untuk beristirahat, atau bahkan makan secara teratur dengan makanan yang sehat.

Bahkan jika musim seperti ini—musim pertandingan, ia akan terus bahkan memberi pesan singkat kepada seluruh anggotanya. Jadi, jika kalian menerima pesan singkat dari Seunghyun, itu bukanlah hal yang langka. Karena ia sangat gemar mengingatkan anggotanya jika ia sedang tidak ada atau bahkan sedang sibuk dengan hal lain.

Ah, sungguh tipikal seorang ketua. Semangat, Seunghyun-Taichou!

.


.

To be continue?

.


A.N.

Muehehehe~ halo, saya balik dengan chapter baru. Ada apa dengan Kris? Kenapa tiba-tiba bersambung dengan clifhanger yang aneh?
saya beritahu, itu semua karena saya akan bercerita tentang Kris di chapter mendatang. Dan kenapa Seunghyun bersalah? Itu mah di sini sudah di kasih hint, jika kalian bisa menebak, berarti kalian hebat!
Last but not Least, terima kasih untuk review yang kalian berikan. Membuat ku sangat bersemangat untuk terus menulis.
Salam, Shiki.

Thanks To

ajib4ff | Li Chylee | Miharu Koyama | Mrs Panda | Mrs Kim siFujoshi | HyukmilikHae | 13ginger | Augesteca | cheonsa sha | hatakehanahungry

May, 12 2013. 2:04 AM