.


.

Sayap dan Pena

.

Naruto belongs to Masashi Kishimoto I take no profit of this and all the characters inside. All of the purpose for making this is just for fun and entertaining.

Uchiha Sasuke/Haruno Sakura (minor!Naruto/Hinata), T, Fantasy/Romance

© kazuka, may 2nd, 2013

.

.

"Pertemuan si miskin Uchiha Sasuke dan si peri Haruno Sakura, menandakan bahwa sebuah pertaruhan besar antara perasaan dan perbedaan dunia akan terjadi."


.

.

::::* * *::::

I have found the light. Thanks to your golden honey smile that combined by twin sparkling jades, my guardian.

::::* * *::::

"Sasuke-kun masih curang," cibir Sakura. Terhitung dua hari, Sasuke masih tidak mau memperlihatkan apa yang ia tulis pada seseorang yang telah memberinya fasilitas untuk mewujudkan ide-ide di otaknya itu.

"Kau akan tahu nanti," Sasuke dengan simpelnya memberi jawaban. Ia menindih kertasnya dengan lipatan kedua tangan, berikut kertas-kertas sebelumnya yang telah berisi tulisan juga di bawahnya.

"Mmmm, pelit!" Sakura melipat tangan, ia kemudian berbalik cepat—gaun selututnya terkibas sesaat dan mengenai ujung siku Sasuke.

Halus, lembut.

Namanya juga peri, ya tidak?

"Kau tidak makan?" Sasuke mengalihkan topik. Setelah kemarinnya membawa Sakura pulang—kemarin Sakura hanya tidur seharian ... dan sampai hari ini, ia tidak menemukan gadis itu memasukkan apapun ke dalam perutnya. Tidak menyuap apa-apa.

"Kami peri. Kami tidak perlu makanan~" Sakura tersenyum, seperti anak kecil. "Kami menyerap energi alam untuk bertahan hidup. Ah, alam itu membawa manfaat yang sangat besar untuk kami. Semoga saja manusia tidak berniat untuk merusaknya kelak. Sebab, dari situlah kami bisa hidup~"

Sasuke mengangguk satu-dua kali. Kemudian, menulis lagi. Ia biarkan Sakura mengelilingi rumahnya—entah apa sajakah yang dilakukan gadis itu. Sasuke tidak terlalu mengerti apa yang menarik dari rumah sempitnya—yang membuat Sakura seperti anak kecil saja menyentuh sudut-sudut seolah itu adalah hal baru yang belum pernah ia temui.

Sasuke tidak pernah merasa selega ini.

Sasuke tidak pernah merasa setenang ini.

Tulisan, sesuatu yang bisa memuaskan dahaganya selama ini. Sesuatu yang akhirnya bisa ia bebaskan selega-leganya setelah selama ini tertahan hanya karena ia tak punya apapun untuk mewujudkannya.

Matanya mengintip sebentar dari sudut pandangannya. Sakura tengah berhenti di bingkai jendela, tangannya menjulur-julur keluar. Mungkin ia memainkan tanaman yang dengan liar tumbuh di bawah jendela sana.

Gerakan tangannya sesekali berhenti—dan disaat itulah matanya akan bergerak mencari sosok peri berkulit bak pualam yang berkeliaran di dalam rumahnya.

Ia cinta pekerjaan ini.

.

.

xxx

.

Sakura mendelik ke beberapa arah ketika ia bangun pagi ini. Ke meja, ke bagian luar jendela, dan ia memastikan lagi dengan melongok ke dapur.

Sasuke sedang tidak ada. Mungkin sedang di kamar mandi atau entah melakukan apa diluar sana. Ia tersenyum jahil.

Beringsut dari dipan, ia lantas berjalan mendekati meja yang sekarang merangkap menjadi meja kerja sekaligus meja makan Sasuke.

Dengan gerakan pelan, ia balik tumpukan kertas yang selama beberapa hari ini terus disembunyikan Sasuke darinya. Bohong kalau ia tidak penasaran, 'kan? Melihat raut Sasuke yang begitu serius ketika menuliskannya, ia sangat ingin tahu apa saja yang tertera di sini.

Lembar demi lembar ia buka. Ia tersenyum kecil, kadang pula terkekeh ketika membacanya.

"Sedang apa kau?!"

Sekejap setelah kalimat itu dilontarkan, sebundel kertas dari tangan Sakura langsung direbut dengan paksa, gadis itu terkejut.

"Siapa yang menyuruhmu membacanya?!"

Sakura diam sejenak. Ekspresi terkejut belum beranjak dari wajahnya. Sementara, Sasuke menatapnya tajam dan seolah memojokkan Sakura.

"Hihihihi~"

Hah?

Gadis itu bisa-bisanya tertawa ditengah kemarahan Sasuke. Padahal kalau orang lain—mungkin dengan tatapan yang seperti Sasuke berikan sekarang, mereka akan merasa diambang kematian. Sakura? Dia malah tertawa. dengan renyahnya.

Dengan manisnya.

Sasuke yang marah malah jadi bingung sendiri.

"Kau sedang jatuh cinta, ya?" selidik Sakura sambil menunjuk hidungnya, mengerling sambil tersenyum jahil.

" ...Hng?"

"Tuh, kelihatan sekali dari kalimat-kalimatmu. Sepertinya sedang ada perempuan yang kau puja. Hayo, kenapa tidak kau bawa kesini saja? Siapa tahu aku bisa membantumu, atau malah menyihirnya agar dia bisa juga menyukaimu?"

Sasuke menyingkir dari hadapan Sakura, kembali duduk di kursi dengna keadaan memunggungi gadis ini.

"Aku tidak mau cinta yang ada karena sulap atau sihir begitu."

" ... Heee?"

"Cinta itu sakral."

Sakura memiringkan kepalanya. Sasuke tak kunjung melanjutkan jawaban yang ia cari, hingga ia duduk kembali di dipan—barulah Sasuke buka mulut kembali.

"Cinta itu perasaan yang tumbuh dengan sendirinya, yang akan menjadi perasaan indah yang bertahan lama. Bukan datang dengan instan dan pergi dengan instan pula. Itu datang dari hati."

Sakura tertegun. Lantas, senyum yang berarti lain dari sebelumnya, muncul di wajahnya.

"Cinta itu tidak segampang sulap. Cinta bisa saja tidak memandang siapa yang ia tuju, karenanya cinta itu kadang buta."

Senyum Sakura getir. Ia memandang lantai dengan miris, seolah ada yang dikenangnya ketika ia menggoyang-goyangkan kakinya sambil menelaah apa yang dikatakan Sasuke barusan.

"Buta, ya ..."

Sasuke diam saja. Pena bulu putih miliknyalah yang sedang berbicara sekarang—menuangkan kata-kata secara bisu ke atas kertas putih yang baru.

.

.

.

xxx

.

Hari berubah malam kembali. Sasuke meregangkan diri di kursi, merentangkan kedua tangannya ke depan dan menggerak-gerakkannya. Tak terasa, ia telah duduk di situ hampir setengah hari lebih.

Dan dari suasana yang hening, ia pikir Sakura telah tidur. Ia lupa menanyakan tentang luka gadis itu—yah, sekedar perhatian sederhana bukan sesuatu yang salah, ya? Lagipula ... sepanjang hari mereka hanya diam-diaman. Apalagi setelah apa yang terjadi tadi pagi menjelang siang, Sakura kedapatan membaca apa yang Sasuke tulis dan rahasiakan selama ini.

Oh, belum ternyata.

"Sudah selesai, ya?" rupanya keduanya kontak mata secara bersamaan. Sakura sedang bertopang dagu di jendela—sambil memainkan serbuk-serbuk berkilau yang melayang di udara.

"Hn."

"Kau menulis puisi cinta untuknya lagi?"

"Untuk ... siapa?"

"Itu," Sakura terkekeh, "Seseorang yang kau cintai. Tuh, dari puisi dan sajak-sajakmu, kau begitu memujinya. Aku yakin dia wanita yang paling beruntung di dunia."

"Beruntung?"

"Ya!" angguk Sakura cepat. "Disukai, dipuji dan disayangi oleh laki-laki tampan sepertimu, hihihi~"

Sasuke tidak bersedia mengedipkan matanya untuk tawa yang terakhir barusan. Seakan ia akan kehilangan momen paling berharga di hidupnya.

Apa ini salah?

"Lukamu sudah sembuh?" Sasuke lagi-lagi mengalihkan pembicaraan. Senjata andalannya kalau sedang terpojok dalam sebuah dialog. Sebuah kebiasaan.

"Hmmm~" Sakura bergumam pelan, kemudian ia memunculkan sayapnya kembali. Ia perhatikan salah satu sudutnya yang terlihat masih berbeda warna. Masih kemerahan.

"Belum sembuh," Sakura dengan pelan menyentuhkan ujung jarinya pada bagian tersebut, dan meringis. "Darahnya masih ada sedikit, sih. Tapi ini sudah perlahan menutup lagi, sudah lebih baik dari sebelumnya."

"Perlu kucarikan obat? Ada tanaman obat yang bisa menyembuhkan luka."

"Tidak, tidak perlu~" Sakura mengibaskan tangannya di udara. "Kalau sayap yang terluka, obatnya hanya perlu beristirahat selama beberapa hari sampai lukanya sembuh. Sudah kubilang, sayap ini adalah bagian yang khusus dari tubuh kami. Jadi—kalau ada apa-apa juga pasti perlu perlakuan yang tidak biasa. Tidak ada obatnya kalau terluka."

Sasuke mendudukkan diri di samping Sakura. "Kau tidak dicari?"

"Hn? Dicari teman-temanku maksudnya?"

"Aa."

"Mungkin iya, mungkin tidak."

"Kenapa?"

"Yang bertugas di kota ini cuma berdua. Dulunya sih bertiga—tapi temanku itu pergi. Kami terbiasa bertugas menjaga berhari-hari tanpa pulang kepada Tuan Ratu. Setelah beberapa waktu, kami harus kembali untuk melapor. Jadi mereka mungkin berpikir kalau aku sedang bertugas sekarang."

"Tugas kalian ... sebenarnya apa?"

"Hmmmm~~ kami menjaga kota. Kadang kami menolong para binatang, atau tumbuhan. Yang menjadi tuan yang mempekerjakan kami adalah seorang yang punya kekuatan magis—seorang yang dulunya pertapa dan kami panggil Tuan Ratu."

Sasuke tak terlalu mengerti hal yang berbau fantasi begitu. Itu adalah sesuatu yang ia kira tak ada—namun ternyata ia dengar dan bahkan lihat secara langsung. Pada akhirnya ia pilih untuk mengangguk satu-dua kali tanda mengerti saja. Itu bukanlah hal untuk diperdebatkan.

Hening, kemudian. Sasuke juga bingung harus melakukan atau membicarakan apa.

"Sasuke-kun ..." panggil Sakura, pelan.

"Hn?"

Sasuke lihat Sakura agak berbeda kali ini. Tatapannya kosong ke depan, dan ia tidak bisa mengartikan apapun dari wajah gadis itu. Tampak ambigu. Ia terlihat sedang bimbang.

Kemudian, dia bangkit berdiri, menuju arah lain dari ruang tersebut. Ke jendela yang dekat dengan pintu keluar. Ia berdiri di sana, bertopang dagu dan menatap pada bagian luar yang ditampilkan jendela—yang hanya terbuka separuhnya.

"Tadi—Sasuke-kun bilang kalau cinta itu buta. Benar, ya?"

Sasuke merapatkan kesepuluh jarinya dalam satu jalinan yang rapi. "Bisa dibilang begitu."

"Pantas saja. Akhirnya aku mengerti."

"Kau mencintai seseorang?" tembak Sasuke tiba-tiba, tanpa ba-bi-bu.

"Bukan, bukan itu maksudku," Sakura menggeleng lemah. "Temanku. Dia ... jatuh cinta dengan setan."

" ... Apa?"

Sakua mengangguk lagi. Kali ini lebih cepat. "Dia tak sengaja bertemu dengan seorang setan saat sedang bertugas di kota ini. Waktu itu ia nyaris dibunuh oleh setan yang lain. Ternyata, setan yang itu datang menyelamatkannya. Mereka saling jatuh cinta tanpa peduli status. Dia peri yang bertugas sebagai penolong, dan lelaki setan itu adalah musuh kami, pengganggu manusia. Hubungan mereka ditentang oleh kami dan Tuan Ratu. Tapi dia tetap teguh dengan cintanya. Akhirnya dia memutuskan berhenti menjadi peri dan rela dibawa ke dunia bawah tanah sana—tempat para setan dan tuan mereka, iblis."

Cerita magis lain lagi yang membuat Sasuke termangu. Hidupnya mulai diarahkan ke hal-hal yang tidak logis, ke sebuah gerbang menuju sisi lain dari kehidupan dunia dibukakan padanya.

"Memang benar buta, ya? Dia tidak peduli sekeliling, dia tidak bisa melihat apapun dan pegangannya hanya yang ia cintai itu. Padahal dia sahabatku. Sahabatku dari kecil. Sejak pertama kali dibawa oleh Tuan Ratu—dia yang pertama menyambutku dan banyak membantuku setelahnya."

"Ya, itu buta. Buta pada sekeliling. Bahkan kalau kau mencintai ... mungkin kau hanya akan bisa melihat cahaya dari orang yang kau cintai saja."

Sakura menoleh, memandang Sasuke. "Berarti ... cinta itu jahat, ya?"

Sasuke tetap menjaga ekspresi dinginnya. "Tapi kau hanya bisa merasakan kenyamanan dari orang yang kau cintai saja. Dia sumber rasa tenang—karenanya, temanmu itu lebih memilih orang yang dia cintai."

Sakura menghela nafas, cukup panjang—dan ia hembuskan dengan nada berat.

"Kurasa ... aku mengerti."

Sasuke membiarkan kata-kata Sakura menguap di udara, lepas tanpa ia beri tanggapan yang berarti selain balasan pandangan pada wanita tersebut.

Sekarang, ia perlahan merasakan bahwa kata-katanya itu bagai bumerang. Ia lontarkan untuk orang lain namun ... pada akhirnya hanya 'menusuk' dirinya sendiri. Kena, tepat pada sasaran yang tak lain adalah dirinya juga.

Sasuke menyadarkan dirinya yang melamun. Ah, berdiam diri dengan tatapan kosong begitu bukan sesuatu yang baik.

Tapi ... ketika ia kembali pada kesadarannya, yang ia lihat hanyalah sebuah senyum yang ditujukan tepat untuknya. Hanya untuknya. Dari bibir Sakura yang tipis kemerahan. Plus sepasang emerald kembar yang khusus mengarah padanya.

Ia tidak pernah merasa bahagia selayaknya kali ini—hanya karena sebuah hal sesederhana ini.

::::* * *::::

I don't want to be a star because I'll see you only at the night. I don't want to be a sun either—we can just meet at the day. I want to be your sky, humbly embracing you all the time.

::::* * *::::

Sasuke tumbuh dengan cinta. Cinta orang tuanya. Namun—hanya bertahan tak lebih dari separuh usia dirinya sekarang. Semuanya hilang saat ia kecil.

Ia lanjut tumbuh dengan cinta kakaknya. Tapi—semua juga harus berakhir tak lama kemudian ketika kakaknya harus mendahuluinya karena sakit yang tak Sasuke ketahui namanya apa.

Kadang ia bertanya, kenapa ia harus terus hidup dengan menyedihkan, meneruskan langkahnya tanpa tujuan yang pasti? Tanpa arah yang jelas, tanpa orang-orang yang melingkupinya dengan kasih sayang.

Ia terus mempertanyakannya.

Tapi saat ini—ia perlahan bisa menyimpulkan.

Ia bisa menyimpulkan segalanya saat ia berdiri sekarang. Ia menemukan jawabannya dengan sendirinya, saat ia menatap makhluk asing yang sedang tertidur di dipannya—yang nyenyak dan dengkuran halus nan teratur terdengar dari bibirnya yang setengah terbuka.

Mungkin ... ia diizinkan untuk hidup lama ... agar bisa menemukan cinta lain yang lebih indah?

Perasaan ini mengendalikannya. Mengendalikan tubuhnya untuk lebih mendekat ke dipan, kemudian menjulurkan tangannya. Perlahan, tapi pasti.

Ah, tidak, tidak.

Ia pun berhenti karena interupsi pikirannya sendiri.

Dia tidak boleh menyentuhnya. Dirinya adalah manusia.

Sakura? Sakura adalah sosok yang tak seharusnya bersatu dengannya. Bukan jenisnya. Mereka berbeda dunia, mereka berlainan takdir dan sekiranya itu adalah sebuah hal absolut. Hal mutlak yang tak dapat ia ubah. Sakura bukan apa yang seharusnya ia miliki.

Tapi ... hatinya menolak kesimpulan barusan. Ia ingin menyentuhnya. Sekadar meyakinkan dirinya sendiri bahwa Sakura adalah nyata. Bahwa ia tidak berhalusinasi. Bahwa ia tidak berkhayal menemukan makhluk seindah ini.

Akhirnya tangannya bergerak lagi, mengikuti rasa hatinya yang semakin meluap-luap saja.

Ia sampai.

Halus, halus sekali. Lebih halus dari kain sutra yang membalut tubuhnya. Dia putih—hampir sama dengan tangan Sasuke sendiri—tapi lebih berkilau dan bercahaya. Sasuke sendiri lebih pucat.

Pipi itu terus ditelusuri Sasuke. Seperti batu pualam yang digosok sempurna, benar-benar lembut.

Sasuke hanya menyentuhnya dengan ujung-ujung jarinya—seakan takut bahwa jika ia menyentuh dengan lebih keras lagi, ia akan menghancurkan Sakura.

Dia lembut seperti kelopak sakura, dengan wangi persis seperti bunga itu. Satu-dua helai rambut merah jambunya menjuntai ke bagian pipi itu, perlahan disingkirkan Sasuke. Wanita ini benar-benar beraroma, terlihat dan berwujud seperti bunga sakura di hadapan Sasuke sekarang. Cantik, simbolisasi sempurna dari bunga perlambang musim semi—perlambang kebahagiaan yang menjelang.

Bolehkah ia ...

... Grep.

Sasuke tersentak. Tangan putih lain menghentikan gerakan tangannya—yang sedang berada tepat pada tengah-tengah pipi itu, menggenggamnya.

Kedua kelopak yang tadi tertutup, sekarang terbuka dan sinar cerah mata Sakura langsung tertuju padanya.

"Selamat pagi, Sasuke-kun."

Sasuke ingin menarik tangannya ... tapi sudah terlanjur. Terlanjur digenggam Sakura dengan erat dan ia langsung jadi enggan untuk menariknya.

" ... Selamat pagi."

Paginya seindah hari pertama musim semi.

.

.

xxx

.

Triiing~ tring~

Sasuke berhenti menulis, namun tidak menoleh pada asal suara.

Triiing~~~

Terdengar satu kali lagi.

Tring~

Akhirnya, setelah yang tadi, Sasuke menoleh ke sumber. Rupanya dari sudut ruangan—di dekat dipannya, di dekat pintu tua yang menghubungkan ruang ini dengan paur kecil.

"Sedang apa kau?"

"Hehehehe~ tidak apa 'kan kalau aku menanam satu bunga di sini? Supaya rumahmu segar. Kau 'kan senang berada di rumah, kau juga bekerja di rumah—jadi supaya tidak terlalu pengap," Sakura mengangkat sebuah pot kecil dengan tanaman hijau segar yang berukuran sedang. Oh, rupanya tadi ia sedang menyihir itu, ya?

"Aku membawa bijinya. Tak sengaja kutemukan di sakuku—ternyata aku masih menyimpannya, hihi. Seharusnya ini kutanam di sudut kota saat bertugas."

Sasuke meletakkan penanya."Hn."

"Kau tidak marah, 'kan?" Sakura memastikan sambil kembali meletakkan pot tersebut.

"Tidak."

"Baiklaaah~ akan kutanam satu lagi di dekat jendela sini, ya? Oh, satu untuk di dapur juga! Aku masih punya dua biji!"

Sasuke biarkan saja. Kemudian kembali menulis pada kertas baru.

... Hari-hari seperti ini—boleh terus berlanjut, tidak?

.

.

xxx

.

"Hnnggg~~"

SRAAAKK—

"Siapa yang menyuruh kau untuk melihatnya?" hardik Sasuke tegas ketika lagi-lagi ia dapati Sakura melongok dari balik bahunya untuk mengintip apa yang Sasuke tulis."

"Aku 'kan mau lihat~" Sakura beralasan, tanpa mengubah posisinya sedikit pun.

"Bukannya kau sudah pernah lihat? Buat apa lihat lagi?"

"Itu yang lama. Sekarang kau banyak menulis yang baru lagi, 'kan? Aku mau tahu~"

"Apa untungnya kalau kau tahu?" Sasuke mengajak berdebat, rupanya.

"Huh," Sakura mendengus, mencibir. "Curang. Aku mau tahu~~ Puisi dan sajakmu bagus-bagus. Kata-katanya manis! Aku suka membacanya. Kelihatan sekali kalau kau adalah orang yang jatuh cinta, tuh, hihi. Aku suka, kok!"

"Sudah lihat sekali, apa tidak cukup?"

"Kau ini tidak mengerti, ya? Aku suka puisimu, makanya aku mau lihat lagi~"

"Tidak," titah Sasuke tanpa ampun.

"Boleh."

"Tidak boleh."

"Boleh."

"Tidak."

"Booo~~leh~!"

"Ti. Dak."

Sakura berdiri tegak, lantas melipat tangannya dan mengerucutkan bibir. "Aku penasaran, tahu."

"Penasaran tentang apa?"

"Penasaran saja~ siapa tahu dengan membaca puisi-puisimu yang lain, aku bisa tahu."

"Tahu apa?"

"Tahu tentang seseorang yang menjadi inspirasimu," Sakura kemudian tersenyum kecil. "Menulis itu aktivitas yang terjadi karena inspirasi, bukan? Aku lihat kau menulis terus, berarti kau punya inspirasi yang hebat, ya? Aku ingin tahu siapa orangnya."

"Bukan hal yang penting untukmu."

"Aaa~ tapi aku mau tahu~ serius, aku mau tahu!"

"Tidak penting."

"Huh," Sakura kembali mengerucutkan bibirnya. "Memangnya salah, ya? Aku 'kan—"

Kalimat Sakura terputus.

Sasuke menarik tangan Sakura dengan cepat, membawa wajah yang sedang terkejut itu ke hadapannya dengan lekas pula—dan membawa bibir itu tepat ke atas bibirnya.

Sasuke memejamkan mata, menanamkan sebuah kecupan lembut yang menyapu pelan bibir merah gadis itu.

Sakura terbelalak—sebuah bualan jika dikata ia tidak kaget. Namun—perlahan tubuhnya menerima itu, hatinya bersedia untuk diperlakukan demikian. Pelan-pelan, ia pejamkan pula matanya dan mengikuti permainan yang disuguhkan Sasuke padanya.

Sang pemuda masih dalam posisi duduk, dan Sakura berdiri setengah membungkuk. Keduanya beradu dalam sebuah lakon romansa dimana Sasuke yang mengajak duluan, tetapi Sakura bersedia menjadi lawan main yang menyambut skenario perasaan yang ditunjukkan secara bisu oleh Sasuke.

"Semuanya ..." Sasuke bergumam di tengah ciumannya.

" ... Sasuke-kun," Sakura melafalkan nama itu dengan bisikan, ketika Sasuke mendorong tengkuknya untuk lebih mendekat pada lelaki itu.

" ... Tentang ..." Sasuke melanjutkannya lagi, sebentar membuka mata untuk memastikan bagaimana ekspresi Sakura. Ada rasa takut kalau-kalau gadis itu terluka karena hal ini.

"Hng ..." Sakura mundur sedikit—nafasnya mulai tidak teratur. Matanya terbuka perlahan, beradu dengan Sasuke—bersamaan mereka saling pandang tanpa aba-aba.. Namun mata hitam yang begitu dalam dan tak berdasar itu lagi-lagi membuatnya hanyut—ia majukan kembali tubuhnya untuk menerima ciuman lagi dari Sasuke.

"Kau ..." sebut Sasuke dengan hati-hati, kata-katanya tersamarkan sebab Sakura sekarang melingkarkan kedua tangannya di leher dirinya untuk menunjukkan bahwa ia serius untuk ini. Untuk pernyataan Sasuke, untuk suatu hal yang masih belum ia mengerti sepenuhnya namun ia bisa tahu ... bahwa ia damai ketika bersama Sasuke. Ia tenang ketika jarak mereka sedekat ini—jarak fisik maupun jarak hati.

Sakura tidak ingin sore ini berakhir.

.

.

xxx

.

Malam tadi terasa benar-benar panjang untuk Sakura. Ia tidur terlalu cepat kemarin. Baru saja peralihan dari petang menuju malam, ia sudah terlelap.

Namun, senyum terukir pada bibirnya ketika mengingat apa yang sore kemarin terjadi antara dua makhluk di ruangan kecil ini—yang satu di kursi dan yang satu berdiri setengah membungkuk.

Rasa yang hangat masih menjalari tubuhnya, membuatnya tersenyum kecil yang kemudian berubah menjadi kekehan pelan dengan pipi yang memerah. Apa yang Sasuke berikan pada bibirnya, rasa manis yang masih ia rasakan sampai pagi ini.

Pemuda itu masih tertidur, kali ini ia tidur duduk lagi dengan kepala bertopang di atas meja dan kertas-kertas yang berserakan ada di sekitar wajahnya. Dia pasti menulis sampai larut malam.

Sakura memandang tumpukan kertas-kertas itu. Sasuke bilang, ketika sudah terkumpul sampai seratus lima puluh lembar, ia akan merapikannya dan mencoba membawanya ke istana—siapa tahu saja raja berniat membelinya dengan harga mahal dan ia tak perlu lagi hidup bersusah-payah seperti sekarang.

Sakura cuma bisa ikut mendoakan agar harapan itu segera terkabul. Ah, dari pemandangan berantakan yang memenuhi meja sekarang, Sakura yakin jumlah puisi-puisi itu telah mendekati seratus lembar. Sasuke hanya perlu berusaha sedikit lagi—dan ia akan kaya!

... Dan ...

Apakah ... dirinya masih berada di sisi Sasuke saat itu?

Batin Sakura mendadak ngilu ketika memikirkannya. Berdenyut sakit dan ia benar-benar benci akan perasaan itu.

Apa ini?

"Ah ..." Sakura meringis, menggigiti bibirnya sendiri karena kegelisahan yang tiba-tiba melanda.

Lantas, ia memejamkan mata. Sayapnya melebar setelah muncul dari punggungnya, dan ia perhatikan dengan seksama bagian yang sebelumnya terluka.

Putih.

Putih sempurna. Tidak ada lagi bekas kemerahan yang sebelumnya menggurat panjang dan terasa perih. Bagian itu telah terganti dengan tumbuhnya bulu-bulu kecil yang baru, daerah yang cedera sudah mulai meregenerasi dengan sendirinya.

Ia coba mengepakkan kedua sayap tersebut. Harap-harap cemas.

Tubuhnya terasa ringan—dan perlahan terangkat seperti biasa, serta tidak ada lagi rasa sakit seperti terakhir kali ia mencoba menggerakkannya.

Sakura menatap sedih, Sakura meringis lagi.

::::* * *::::

Fetch my broken pieces of heart, place it at your bottom of heart as greatest treasure.

::::* * *::::

.

.

| t b c |

.


A/N: maaf ya review2 di chapter kemaren belum bisa kebales di chapter ini D: lagi rada buru-buru, nih, hehehe. tapi thanks banget buat semua feedback dan kepercayaannya bahkan sampe nge-follow fic ini, ya! I'm really thankful! love ya all! :Dd