.
.
Sayap dan Pena
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto I take no profit of this and all the characters inside. All of the purpose for making this is just for fun and entertaining.
Uchiha Sasuke/Haruno Sakura (minor!Naruto/Hinata), T, Fantasy/Romance
© kazuka, may 16th, 2013
.
.
"Pertemuan si miskin Uchiha Sasuke dan si peri Haruno Sakura, menandakan bahwa sebuah pertaruhan besar antara perasaan dan perbedaan dunia akan terjadi."
.
.
Aku lepas dalam sebuah fana yang tak bisa kumenerka
Ada kamu, aku dan cinta
Sasuke berselonjor kaki pada sebuah padang rumput, mata bergerak mengikuti langkah-langkah peri yang sedang tidak mengembangkan sayapnya itu. Peri manis yang sedang menenteng tiga tangkai kosmos beserta empat tangkai aster, berjalan ke arah lain dan mungkin ia ingin mengambil beberapa lavender dari sisi lain padang rumput yang mereka diami ini.
Sasuke memegang sebuah pena dan kertas. Setelah melihat beberapa aktivitas Sakura, ia kembali mendapatkan ide. Kemudian, penanya menari lagi.
Dunia apa, tak tahu aku tak apa
Waktunya kapan, tak perlulah menjadi pertanyaan
Ada kamu, aku dan cinta—cukup. Aku bisa bahagia
Ini kita dan nuansa kita,
meski hening, hanya kau beserta bunga-bungamu dan aku dengan ide-ideku—ini kebahagiaan yang nyata
Melingkupi kita
Merasuk dan tersusun dalam indera
Sakura duduk di hadapan tangkai-tangkai lavender yang tertiup angin—angin yang juga dengan usilnya membuat tatanan rambut pendek merah jambunya berantakan. Beberapa bunga ungu itu ia ambil, dan ia satukan dengan aster serta kosmos di tangan satunya.
Untuk waktu yang sebentar, ia menoleh.
"Hehe~" cengiran seperti anak kecil itu muncul lagi. Memperlihatkan deretan gigi putih mutiaranya pada Sasuke.
Sasuke cuma menarik salah satu sudut bibirnya sedikit ke atas. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk mewujudkan 'rasa'nya atas apa yang ia lihat dari Sakura lebih suka pena miliknya yang berbicara, yang mengatakan semuanya dengan lebih baik daripada mulutnya sendiri.
Aku—
"Sasuke-kun!"
Sasuke mengerutkan kening.
"Hentikan! Tolong! Aku ingin tetap di sini! Tetap di sini saja!"
Kerutan di kening itu makin tajam. Tiba-tiba, tubuhnya serasa berkeringat, gelisah. Takut. Rasa khawatir yang datang tiba-tiba langsung menyeruak.
"A-apa tidak boleh—aku tetap di sini saja, beberapa hari lagiiii saja?!"
Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Keringat turun dari pelipis hingga pipinya. Visualisasi Sakura dan dirinya di tengah alam terbuka tadi langsung hilang. Sakura seakan tersamar menjadi sebuah hal yang tak bisa ia gapai, mengabur dan perlahan hilang.
"Tidak bisa! Kau itu peri! Kau punya tugas bersama kami! Ayo pulang, Sakura!"
"Aku ... ingin di sini saja ..."
"Kau mau menentang takdirmu? Kau ingin jadi seperti Ino—yang terjerat pada setan pucat tak berhati itu?!"
"Sasuke-kun bukan setan! Dia manusia! Dia baik dan—ugh ... tolonglah, aku ingin tinggal di sini lebih lama meski hanya beberapa hari saja ... setelahnya aku akan pulang ... aku berjanji."
"Beberapa hari itu hanya akan menambah perasaanmu padanya, Sakura. Kau harus pulang sekarang sebelum hatimu tambah kacau."
"Temari benar. Ikut kami sekarang sebelum dia bangun! Cepat—Tuan Ratu sudah menunggumu!"
"Tapi—"
"Haaaah—hah, hahh ..." Sasuke mendadak terbangun. Langsung duduk dengan tegak dan kemudian—pikirannya mencerna bahwa keributan yang tadi ia dengar adalah nyata, bukan bagian dari mimpi anehnya!
Matanya menatap horor ketika mendapati dua orang peri lain—berpakaian sutra dengan kedua sayap yang terbentang lebar, yang satu berambut cokelat terikat dan yang satu pirang terurai.
"Siapa ... kalian?"
Dan Sasuke tidak bisa lagi melanjutkan cercaan pertanyaan yang menghambur di kepalanya ketika ia melihat di balik mereka—Sakura sedang menatapnya sendu dengan dua anak sungai kecil yang jatuh dari kedua pelupuk matanya. "Sakura ..."
"Maaf—aku tidak tahu siapa kau sebenarnya, tapi Sakura harus pulang. Ini perintah atasan. Kami tidak boleh lama-lama berinteraksi dengan manusia. Sakura, pulang!" yang pirang memberikan titah tanpa ampun, ia mengambil pergelangan tangan Sakura dan mulai memaksa gadis itu untuk berdiri.
"Temari—"
"Sayapmu sudah sembuh—kau tidak punya alasan lagi untuk berlama-lama tinggal di sini. Pulang!" yang berambut cokelat juga ikut memberi perintah.
"Sasuke ... kun ..."
Sasuke bangkit dari kursi, beradu cepat dengan waktu untuk merebut tangan Sakura dari kedua peri itu—
—sayang, terlambat.
Kedua peri itu sepersekian detik lebih cepat dari gerakannya.
Flap, flap, flap.
Sayap kedua teman Sakura itu pun mulai membawa tubuh mereka untuk melayang. Yang berambut cokelat keluar duluan dari jendela—dengan tangan Sakura masih dicengkeram erat olehnya. Disusul tubuh Sakura yang dibawa terbang—dan sahabat berambut pirangnya terakhir keluar dari jendela yang tak seberapa besar itu. Yang juga ikut menggenggam kuat tangan Sakura.
"Sasuke-kun ..." Sakura masih menitikkan air mata. Tangannya seolah minta digapai oleh Sasuke. Namun sayang, sosoknya perlahan memudar, seolah tertelan sinar matahari pagi ... Dan tak lama melenyap menjadi kekosongan.
Yang ada hanya sisa bulir air mata yang melayang, diikuti kilau-kilau yang kecil dan mengarah menuju Sasuke. Ganjil, seakan tak terpengaruh gravitasi.
Sasuke menangkap tetesan air itu. Digenggamnya untuk beberapa lama, dan kemudian ia buka tangannya.
Menghilang.
Air mata itu hilang. Entah bagaimana caranya, tapi tak tersisa sedikit pun di telapak tangan Sasuke, tak berbekas.
Semua berakhir.
::::* * *::::
The beautiful rose has withered, but the torns remain still. It hurts.
::::* * *::::
Sasuke melewati tempat itu lagi. Mengulang memori beberapa hari lalu yang membuatnya berhenti melangkah.
Ia sangat 'kosong', ia hanya berjalan-jalan tanpa arah sore ini. Bayang-bayang malam mulai merayapi tanah, seiring matahari yang mulai enggan mengisi hari—yang beringsut pelan di sebelah barat sana.
Ia memasukkan kedua tangan di saku celana hitam longgarnya, dan kembali lagi—ia tatap tanah kosong yang terlihat menyedihkan baginya itu. Tanah dimana beberapa hari yang lalu, ia menemukan seorang peri yang kemudian membuatnya segila ini.
Dia pergi, kok, benar-benar pergi. Tidak bohong dan tidak pula rekayasa sebuah sulap.
Andaikan saja kedatangan peri itu hanyalah sebuah sulap baginya—tidak apa, mungkin ia tak akan begitu sedih dan terpuruk begini. Sayangnya ... dia nyata. Tanpa rekayasa. Benar-benar datang dan menghipnotis Sasuke dalam setiap gerak yang ia lakukan di depan mata Sasuke.
Sayangnya lagi—di muka bumi ini yang bertahan paling solid dan kokoh hanyalah status 'sementara'. Tidak ada yang namanya selamanya. Semuanya berstatus sementara. Hanya masalah waktu.
Dan waktu yang digoreskan untuk Sasuke bersama gadis itu ... terlalu sebentar. Ia tidak siap dengan kesementaraan yang terlalu singkat itu.
Ha. Ia sudah mengubur rasa cintanya pada orang-orang jauh sebelum ini—sesudah kakaknya pergi dan ia berpikir itulah bagian terakhir hidupnya yang ia titipi cinta.
Tidak.
Nyatanya, ia melabuhkannya lagi. Secara tak sengaja, jangkarnya mengikat pada sebuah sosok yang bukan jenisnya, yang mungkin bukan takdirnya, bukan jalan hidupnya, bukanlah masa depan yang seharusnya ia jelang didepan sana.
Sasuke memejamkan mata, seolah wangi bunga musim semi masih bisa ia hirup dengan leluasa. Entah itu bau yang memang menguar di udara dengan ajaibnya—atau sebatas halusinasi semata, ia tidak peduli sama sekali. Yang penting, masih ada sisa eksistensi Sakura yang bisa ia raba meski bukan dengan indera penglihat.
Sasuke ingin kembali menemukan Sakura di sini.
Ingin kembali mengulang gulungan waktu yang sayangnya sudah terlewat kepada masa yang baru, masa yang tanpa Sakura lagi.
Tanah kosong itu kembali menjadi sasaran pandangan mata Sasuke. Seorang Uchiha Sasuke yang sedang mabuk.
Angin berdesir, ia tak bergerak. Enggan. Masih betah berlama-lama.
... Tapi, kemudian—ia merogoh sakunya. Dua benda tersimpan di sana.
Pena bulu putih yang masih terlihat baru, dan beberapa lembar kertas polos yang tergulung.
Ia tidak punya pilihan lagi untuk membaikkan dirinya sendiri, bukan? Hanya ada satu cara.
Cara yang ia dapatkan dengan bantuan penuh seorang peri bernama Haruno Sakura.
—Ah, Sasuke berandai-andai jikalau suatu saat ia bisa menyebutnya dengan Uchiha Sakura.
Sayang, pengandaian itu hanya terwujud di atas kertas.
Fly me to your space, to your room of heart.
"Lalu, lalu? Dia bagaimana bu? Apa yang terjadi dengan Uchiha Sasuke?"
Hinata tersenyum lembut. "Dia terus menulis sampai akhir hayatnya."
"Apa dia mati bunuh diri karena ditinggalkan peri itu? Perinya tidak pernah kembali, 'kan, bu?"
Hinata mengangguk. "Tapi, dia tidak mati bunuh diri, Shina-chan. Dia meninggal diusianya yang kelima puluh sembilan, karena sakit."
"Jadi, apa yang dia lakukan setelah ditinggalkan Haruno Sakura? Apa dia tetap miskin? Apa dia menulis saja, tidak bekerja apa-apa?"
"Dia menulis buku yang kau pegang sekarang. Lihat, buku itu tebal sekali, 'kan? Isinya hampir lima ratus puisi. Dia menjual kopi buku itu pada sang raja yang ternyata sangat menyukai isi buku itu. Raja membayarnya dengan harga sangat tinggi—Uchiha Sasuke jadi kaya karena itu. Namun dia tetap menghabiskan waktunya untuk menulis."
"Wow ..." Kushina mengangguk-angguk. "Dia sangat menyukai hobinya, ya?"
"Benar," angguk Hinata. "Setelahnya, dia menulis banyak buku. Mungkin beberapa diantaranya masih dijual di toko-toko buku tua."
Kushina pun mulai membuka-buka buku yang bersampul biru tua yang sudah usang warnanya itu—membaca sekilas isinya. "Puisi dan sajak semua ya, isinya?"
"Iya. Hihi, semuanya tentang cinta, sayang. Tentang orang yang jatuh cinta. Kamu masih kecil, kamu mungkin belum terlalu mengerti tentang itu semua~" Hinata menyentuh ujung hidung putrinya.
Kushina nampak mengerucutkan bibir. "Yah ..."
"Tapi, suatu saat kau pasti mengerti. Suatu waktu kau akan paham seberapa dalam cinta Uchiha Sasuke pada Haruno Sakura—meski mereka hanya bertemu sebentar dan mereka berbeda dunia."
"Cinta itu bisa begitu, ya, bu?"
"Ya," Hinata mengiyakan. "Cinta itu adalah hal yang tak terduga. Kau nanti pasti mengerti, saat kau sudah besar."
"Hooo~~ oke, oke! Aku akan sangat menantikan saat itu!"
Hinata kembali mengukirkan senyum lewat bibir tipis merahnya yang sedikit berkilau. "Kau tahu suatu hal diakhir hidup Sasuke, Kushina? Hal yang benar-benar luar biasa."
"Apa itu? Apa itu?"
"Dia tidak pernah menikah sampai akhir hidupnya. Dia menutup hatinya untuk wanita manapun ... sebab di dalamnya sudah ada Sakura. Hanya Sakura bagi hatinya."
Mulut Kushina sedikit terbuka—terperangah kagum. "Whoa—dia sangat setia pada Sakura! Hebat!"
"Begitulah, sayang. Kisah yang sangat menarik, bukan?"
Kushina mengiyakan dengan anggukan cepat lagi dari kepalanya—rambut merahnya yang terikat tinggi bergoyang-goyang karenanya. "Keren!"
.
.
.
xxx
.
Meski ibunya bilang bahwa ia mungkin belum terlalu mengerti isinya, Kushina tetap iseng membaca-baca isinya malam ini, sesaat sebelum ia beranjak tidur.
Aku lepas dalam sebuah fana yang tak bisa kumenerka
Ada kamu, aku dan cinta
Dunia apa, tak tahu aku tak apa
Waktunya kapan, tak perlulah menjadi pertanyaan
Ada kamu, aku dan cinta—cukup. Aku bisa bahagia
Ini kita dan nuansa kita,
meski hening, hanya kau beserta bunga-bungamu dan aku dengan ide-ideku—ini kebahagiaan yang nyata
Melingkupi kita
Merasuk dan tersusun dalam indera
Aku—menyusun ini dari mimpi, mimpiku yang bertaut denganmu dan ternyata masa nyata bangunkanku
Sungguh, aku tak mau bangun. Lagi. Jikalau itu berarti melepasmu.
Kushina terdiam sejenak. Ia ingat cerita ibunya tadi ... Sasuke sempat bermimpi sedang berada di sebuah padang rumput—menulis beberapa bait dan ada Sakura ... sebelum ia terbangun dan gadis itu dijemput oleh dua temannya.
Oh, berarti—Sasuke menuliskan kembali apa yang dapatkan di mimpi itu dan menambahkan beberapa kalimat lanjutan.
Kushina membalik lembaran buku itu dengan asal. Ia tidak berniat membaca semuanya malam ini, ia hanya ingin menemukan sajak lain dengan cara acak.
Sayang, langit tidak lagi memaparkan senjanya secantik dulu
Sayang sekali.
Sayang, hujan tak lagi seromantis dulu—kini dia hanya seperti runtuhan dari keping-keping berduri yang menghujam sembari dikawal rasa beku
Sayang sekali.
Sayang sekali, aku tidak punya pilihan.
Selain membiarkan sayangku jauh pergi dariku
Mengubah semua kesan senja dan hujan yang kusukai, biarkannya semua jadi petaka, biarkan semuanya membuatku terhimpit
Sayang, padakukah matamu sekarang? Dari wadahmu yang tak teraih oleh tanganku, namun tercapai oleh rasaku
Lihatkah kamu pada senjaku, yang sekarang tak lagi berkilau
Pada hujanku yang sudah jadi momen ngeri tanpamu
Sayang, aku hanya sendiri di sini, sayang sekali.
Kushina berdecak. Ia jadi membayangkan bagaimana wajah Sasuke ketika menulis ini. Apakah dia menangis? Tulisan yang ini pasti dibuat setelah kepergian Sakura.
Ia balik lagi ke beberapa halaman sebelumnya. Mungkin ia bisa menemukan puisi saat Sasuke masih bersama Sakura—masih mengaguminya dan mereka tinggal satu rumah.
Ini memang hanya kayu, tapi suasana tak akan menjadi layu
Ini memang dingin ketika malam, tapi aku serasa dimanja oleh hangat perapian—tidak lagi mencekam
Ini karena langkahmu yang terus-menerus mengelilingi gubukku
Ini karena sosokmu yang tidak lelah melepas bahagia di sekelilingku
Kushina dapat menebak jelas ini tentang apa. Ia tersenyum kecil.
"Hoaaammm—" kantuk menyergapnya tiba-tiba saat ia baru saja akan lanjut membaca sambungan dari kalimat-kalimat barusan. Menyerah, akhirnya Kushina letakkan buku itu di meja dekat tempat tidurnya, lantas segera berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Isi buku itu yang begitu manis membuat Kushina mengukir senyum sebelum benar-benar terlelap dan hanyut dibawa kantuk.
.
.
.
xxx
.
Jendela kamar Kushina perlahan terbuka—dengan beberapa serbuk yang melayang dan berkilau. Tapi ia tidak sadar, ia masih dalam tidurnya yang nyenyak.
Sepasang tangan putih terjulur. Meraih buku tersebut dan kemudian memeluknya dalam dekapan eratnya.
Lantas, jendela tertutup kembali.
.
.
Tanah kosong itu tidak berubah meski hampir seratus tahun waktu berlalu. Tidak ada yang menempati, meski sekelilingnya telah didirikan beberapa rumah kecil—maklum, ini termasuk salah satu bagian sudut kota.
Sebuah hembusan nafas yang cukup panjang terdengar samar ... Dari seseorang yang melayang dan memeluk buku tua bersampul biru gelap.
"Sasuke-kun ..." buku itu tambah erat digenggam oleh yang bersuara tersebut.
"Sudah hampir seratus tahun, ya—kau menemukanku di tempat ini?" ia bermonolog.
Senyumnya pahit.
"Aku membiarkan anak itu menemukan bukumu di perpustakaan sekolahnya. Agar ada satu orang lagi yang tahu ... Di muka bumi ini ada satu cinta yang sangat besar dan setia seperti apa yang kau punya."
Rambut merah muda panjang itu tertiup angin malam yang liar. Dia tidak mau repot-repot membereskannya—ia sibuk menahan perasaan sakit di hatinya yang meluap bebas sekarang.
"Terima kasih, Sasuke-kun ..."
Tubuhnya melayang sedikit ke depan, menghampiri sebuah batu dengan warna putih yang pudar—yang tertancap di tanah tersebut. Yang sudah terkikis dan dihiasi sedikit lumut.
Di bawahnya, ada seseorang yang telah sekian tahun berdiam. Membiarkan dirinya terkalang tanah—yang sebelumnya menjadi tempat ia pertama kali menemukan cinta sejati hidupnya.
Sang peri merah muda menyandarkan buku yang ia peluk pada batu tersebut.
Ia berharap akan ada lagi orang yang menemukannya, dan menyadari betapa bahwa cinta manusia bisa seindah itu—sekuat itu dan begitu menyentuh. Meski tak memiliki, selalu ada jalan untuk mensyukuri cinta itu.
Seperti apa yang coba dilukiskan oleh sang penulisnya.
.
.
.
| e n d |
.
A/N: definitely bukan happy ending! hehehe maaf ya. aku keseringan bikin yang fluff, sekali-kali dong bikin yang gak bahagia biar gak bosen, hihi. sekalian ngasah kemampuan juga.
buat yang tanya ukuran sakura (?) itu seperti apa—dia seukuran manusia biasa kok. nggak kecil kayak tinker bell, hehehe~
dan, maaf sekali ya nggak bisa jawab review lagi kali ini T_T aku lagi diburu-buru tugas T_T tapi, aku baca kok semua review kalian dan tentunya aku sangat senang. senaaaang banget! senang kalau ternyata disukai. makasih banyak ya buat dukungannya di mini-series ini. semoga kalian senang dan puas :3 /pelukkecupmuahmuah/
sampai jumpa di fanfic lain! XDb
