Kala siang itu, seorang pria tampan bersurai raven, tengah berjalan menyusuri pertokoan. Semua mata tertuju padanya. Bagaimana tidak, wajah tampan, tubuh tegap, berpakaian keren dan elegan, mengeluarkan aura menarik bagi para wanita. Yup, pria itu kita sebut saja Uchiha Sasuke.

"Dimana aku bisa menemukan ibu yang pantas untuk Itachi," gumam Sasuke pada dirinya sendiri.

Meski wajah datar tapi sebenarnya ia masih terus saja memikirkan anaknya. Sasuke, mencari seoang istri baik tidak segampang mencari barbie ditoko boneka ataupun binatang peliharaan ditoko binatang, atau pakaian diskon yang diobral beli 1 dapat 1.

Masih termenung dengan pikirannya sendiri. Ia dengan tanpa niat sedikitpun memasuki sebuah supermarket kecil yang ia sendiri tidak tahu ingin membeli apa. Ditelusurinya setiap sudut supermarket itu. sampai pandangannya tertuju pada seorang pemuda berambut pirang yang tubuhnya sedikit lebih pendek darinya itu tengah berjinjit-jinjit berusaha menggapai sesuatu di rak paling atas.

Namun tampaknya tinggi badanya tidak bisa membuatnya menggapai benda itu. Didekatinya pemuda pirang itu dan mengambilkan benda yang sejak tadi ingin diraihnya.

"Ah.. terima kasih," ucanya dengan suara yang entah mengapa terasa begitu merdu ditelinga Sasuke dengan tersenyum manis.

"Hn"

Setelahnya pemuda itu pergi meninggalkan Sasuke. Sebenarnya Sasuke sangat ingin tahu siapa pemuda pirang yang telah menarik perhatiannya itu.

Aku Mau Kau Jadi Ibuku!

Disclaimer : kalau punya aku, sudah kupastikan Naru diperebutkan banyak seme, sayang saja, kenyataannya milik Masashi Kishimoto.

Pairing : SasuNaru

Rate : T

Warning : AU, OOC, Typo, Alur kecepetan, Shounen-ai, dll.

Penjelasan umur:

Uchiha Sasuke 25 tahun

Uzumaki Naruto 21 tahun

Uchiha Itachi 5 tahun

m(_ _)m

Setelah memutuskan apa yang ingin ia beli, Sasuke pun berjalan menuju kasir. Dan disanalah ia, si pemuda pirang, tengah berdiri tepat didepannya dengan menenteng sebuah keranjang berisi belanjaannya. Kalau melihat isi keranjangannya, apa yang ia beli tampaknya cukup aneh untuk pemuda seumurannya.

Dikeranjang itu berisi berbagai macam snack untuk anak-anak dan salah satunya ada mainan anak-anak. Terlalu terpaku dengan isi belanjaan itu, Sasuke tidak menyadari hingga sudah gilirannya untuk membayar dikasir.

Sasuke pun merogoh isi kantungnya. Namun ia tidak merasakan adanya tanda-tanda uang disaku itu. Hendak mencari dompetnya namun ia teringat. Ia telah meninggalkan dompetnya diruang kerjanya.

'Sial,'

"Maaf, saya ti-"

"Berapa harga belanjaan pria ini, biar aku yang membayarnya," potong pemuda pirang tadi dan membayarkan apa yang Sasuke beli.

Tampaknya karena terlalu memikirkan Itachi ia sampai melupakan dompetnya sendiri.

Setelah membayar pada kasir, mereka pun keluar dari supermarket itu.

"Terima kasih," ucapa Sasuke.

"Tidak apa-apa, itu sebagai tanda terima kasih karena tadi telah menolongku," jawab pemuda itu dengan senyum hangatnya.

Entah mengapa dimata Sasuke, senyuman pemuda itu terasa begitu berbeda dari berbagai macam senyum yang pernah ia lihat. Rasanya ada sesutu yang begitu spesial dari pemuda pirang ini yang terus saja menarik perhatiannya.

"Aku akan mengganti uangmu," ucap Sasuke memutuskan.

"Tidak per-" ucapnya terputus karena Sasuke yang langsung menariknya.

Dan disinilah Sasuke dan pemuda pirang itu yang hanya terduduk sopan memperhatikan ruangan kerja Sasuke. Sedangkan Sasuke sibuk dengan membuka laci meja kerjanya untuk mengambil dompetnya.

'Aku tak mengerti, tapi aku ingin pemuda pirang itu lebih lama denganku!'

"Um.. ano, itu.."

"Sasuke, Uchiha Sasuke,"

"Uchiha?"

"Tampaknya aku tidak ada uang receh, lebih baik kau ikut aku ke cafe yang ada dilantai dasar kantorku ini," Ucap Sasuke lagi seenaknya memutuskan.

"Naruto,"

"Hn?"

"Naruto, Uzumaki Naruto, itu namaku," ucapnya tertawa kecil.

Tampaknya Uchiha kita yang satu ini mulai berniat untuk tidak akan membiarkan si pemuda pirang ini pulang dan akan mengurungnya hanya untuk dirinya sendiri. Dasar Uchiha.

Sekarang mereka tengah duduk berdua di sebuah cafe. Sang Uchiha hanya menatap fokus makhluk indah yang sekarang tengah dengan ceria bercerita.

"Kau tau, pagi ini aku sangat terkejut dengan ucapan seorang bocah laki-laki yang memutuskan bahwa aku harus menjadi Ibunya," ceritanya tertawa kecil bahagia.

"Kau menyukai anak-anak?" tanya Sasuke.

"Sangat! Aku sangat menyukai mereka. Sebenarnya aku sangat ingin mempunyai anak dan keluarga, tapi tampaknya tak bisa,"

Mendengar ucapan itu Sasuke terkejut. Dengan begitu cepat berbagai macam pertanyaan muncul dikepala Sasuke. Kenapa? Apakah dia tidak ingin menikah? Apakah dia itu mengidap suatu penyakit? Atau... jangan-jangan dia itu...

"Gay. Em.. kau mungkin terkejut. Tapi sebenarnya aku ini.. ... gay,"

Mungkin bila yang mengatakan kalimat itu adalah orang lain, dapat dipastikan Sasuke akan memutuskan hubungan pertemanan atau kerja sama atau apalah pada orang tersebut.

Namun, yang mengatakannya adalah pemuda pirang yang begitu indah didepannya ini. Dan Sasuke malah merasa sangat senang mendengarnya.

'Aku mau dia jadi pendamping hidupku!'

m(_ _)m

Pada malam harinya, dikediaman Uchiha. Tampak duo Uchiha tengah menyantap makan malamnya dengan tenang. Berusaha menikmati dengan baik waktu mereka makan itu.

Namun, sebenarnya sejak tadi Itachi memperhatikan ayahnya. Kalau dari wajahnya, Itachi dapat melihat bahwa ayahnya sudah tidak memikirkan masalah tadi pagi lagi.

'Mungkin ia lupa karena pekerjaannya,' pikir Itachi.

Sedangkan Sasuke, sebenarnya ia juga menyadari kalau semenjak tadi Itachi memperhatikan dirinya.

'Apa ia masih memikirkan masalah tadi pagi? Tenang saja Itachi, aku sudah menemukan yang pantas untukmu dan untukku,' pikir Sasuke.

Acara makan malampun selesai.

"Ayah/Itachi," ucap mereka serempak.

Terdiam. Mereka tidak menyangka kalau mereka bisa berkata secara bersamaan seperti itu.

'Apa ada yang ingin dibicarakan oleh Ayah/Itachi?' pikir mereka.

"Sebenarnya," ucap mereka bersamaan lagi.

Mereka pun terdiam sebentar.

"Silahkan Ayah duluan yang berbicara," ucap Itachi sopan.

"Hn, sebenarnya Itachi, ayah sudah menemukan orang yang tepat untukmu,"

Itachi terdiam. Semula ia akan menyangka Itachi akan senang menerima berita ini, tapi...

"Tidak mau. Aku sudah menemukan orang yang lebih tepat untuk jadi Ibuku," jawab Itachi santai.

Sasuke terkejut mendengar penuturan anaknya tersebut. Namun ia harus tetap tenang menanggapi masalah ini.

"Bagaimana kau tahu dia baik untuk jadi Ibumu? Ayah yakin kau baru bertemu dengannya hari ini kan?" tanya Sasuke.

"Ayah juga, aku yakin ayah baru bertemu orang itu hari ini juga kan?" tanya Itachi tak mau kalah.

"Tapi ayah tahu apa yang terbaik untukmu, Itachi," jelas Sasuke.

"Dan aku juga tahu siapa yang cocok jadi Ibuku. Aku juga yakin ayah akan setuju bila ayah sudah melihat dia," jelas Itachi.

"Buktikan," ucap Sasuke.

Keesokan harinya, di TK Itachi...

"Sasuke-san, Itachi-kun, Selamat pagi," sapa Iruka-sensei.

"Iruka-sensei, apa Naruto-nii sudah datang?" tanya Itachi.

Mendengar nama itu meluncur dari mulut Itachi, Sasuke mulai berpikir.

'Tunggu! Naruto-nii? Jangan-jangan yang dimaksud Itachi adalah...'

"Itachi-kun? ada apa?" tanya sebuah suara yang begitu Sasuke kenal.

Sasuke pun menatap sosok itu.

"Naruto?"

"Sasuke-san?"

'Ayah! Jangan-jangan yang ayah maksud itu..' pikir Itachi ketika melihat reaksi Ayahnya saat bertemu dengan Naruto.

"Ternyata kita sama yah," ucap Itachi menatap ayahnya.

"Hn"

Naruto yang baru datang pun hanya menatap bingung duo Uchiha didepannya itu.

m(_ _)m

Setelah dua bulan berlalu, hubungan duo Uchiha dengan Uzumaki Naruto pun sudah semakin dekat. Sekarangpun mereka tengah berjalan-jalan disebuah taman bermain. Bagaikan keluarga.

Suasana ramai, canda-tawa, serta cuaca yang cerah. Entah mengapa memberikan kebahagiaan sendiri bagi Naruto. Ia merasa sangat senang dapat pergi bersama Itachi dan Sasuke. Ia merasa seperti ia memiliki keluarga sendiri.

Apalagi saat bersama dengan Itachi. Ia sangat menyukainya karena ia sendiri sebenarnya sudah menganggap Itachi sebagai anaknya sendiri. Suka dukanya Itachi adalah suka duka miliknya juga.

Pernah sebulan yang lalu, Sasuke tiba-tiba saja menelponnya dan mengabarkan Itachi mengalami demam tinggi. Dengan cepat Naruto berangkat menuju rumah Sasuke dan Itachi. Dirawatnya Itachi dengan penuh kasih sayang hingga Itachi pun sembuh dari demamnya.

Ia sendiri tidak menyangka kalau Sasuke tidak mengerti cara menangani anak demam. Dan sejak saat itu pula Sasuke sering kali meminta bantuan Naruto untuk mengurus Itachi. Bahkan terkadang ia memasakan makan malam untuk duo Uchiha tersebut.

Bagi Itachi sendiri, Naruto benar-benar sosok yang ideal. Apalagi sewaktu ia demam. Ia dapat mengingatnya dengan jelas sekali kasih sayang yang diberikan Naruto padanya. Itachi juga menyadari sekarang ini ayahnya sudah mulai sering menunjukkan wajah bahagianya dan tersenyum. Berbeda sekali sewaktu dengan wanita yang telah melahirkannya.

Itachi sudah sangat menyukai Naruto. Apapun caranya, Itachi ingin Naruto menjadi keluarganya juga.

Begitu pula Sasuke, semakin lama ia mulai bisa memahami Naruto. Sikap periangnya selalu memberikan warna dalam hidupnya. Kebaikan hatinya membuat Sasuke semakin menyayanginya. Ya, Uchiha Sasuke, telah jatuh cinta pada pemuda pirang manis bernama Uzumaki Naruto. Dan ia dapat mengetahui bahwa Naruto adalah hal yang terbaik yang pernah diberikan Tuhan untuknya.

Dan kembali dengan mereka yang kini berada ditaman bermain. Berbagai macam wahana sudah mereka naiki. Mulai dari yang ekstrim hingga yang lucu dan menyenangkan. Hari ini sungguh sangat menyenangkan bagi mereka. Andaikan hal seperti ini akan terus berlangsung.

Malam pun tiba. Sekarang mereka tengah menikmati indahnya suasana malam.

"Kau tahu, hari ini sangat menyengkan bagiku," ucap Naruto dengan menopang dagunya.

"Hn" ucap Sasuke singkat tak menyadari bahwa dirinya sendiri tengah tersenyum.

"Aku harap, nantinya aku akan terus merasakan kebahagiaan ini, mempunyai keluarga hangat yang mencintai dan menyayangiku apa adanya. Aku pun akan melakukan apa pun untuk mereka. Sasuke, aku senang bisa bertemu denganmu dan Itachi. Terima kasih," ucap Naruto.

Ya, dia sangat mengharapkan hal itu.

m(_ _)m

Dua hari telah berlalu sejak mereka pergi ke taman bermain. Dan Naruto masih saja tersenyum bahagia membayangkan hari itu. sungguh kenangan yang indah dan harus dijaganya baik-baik hari itu. Saat itu entah mengapa ia merasakan harapannya selama ini terkabulkan pada hari itu. Kebahagiaan dan keluarga yang hangat.

Tiba-tiba seorang wanita cantik menghampiri Naruto. Namun, Naruto sendiri tidak menyadari kehadiran wanita itu karena terlalu terlena dengan pikirannya tersebut.

"Uzumaki Naruto?" tanya wanita itu.

Mendengar seseorang memanggilnya. Naruto pun tersadar dari lamunannya.

"Iya, ada yang bisa saya bantu?" ucapnya tak lepas dengan senyum yang menghiasi wajah tan manisnya itu.

"Boleh kita bicara sebentar," ucap wanita itu.

Sekarang, mereka tengah duduk berdua disebuah cafe yang tidak jauh dari TK tempat Naruto bekerja. Naruto sungguh tidak tahu siapa wanita bersurai pink ini. Tapi satu hal yang Naruto tahu pasti, wanita dihadapannya ini tidak menyukai dirinya.

Wanita itu pun mengambil nafas yang dalam dan kemudian berkata,

"Kenalkan aku, Sakura, istri Sasuke,"

Mendengar kalimat itu, Naruto tersadar dari khayalan bahagianya selama dua hari ini. Ia lupa bila Sasuke sudah memiliki anak dan dengan itu dapat dipastikan juga kalau Sasuke mempunyai istri.

"Istri Sasuke?" tanya Naruto dengan wajah tak secerah tadi.

"Mantan istri lebih tepatnya. Tapi walaupun begitu aku tidak menyukai dirimu yang tengah mendekati Sasuke," ucap Sakura dengan nada yang meninggi.

"Mendekati?" tanya Naruto.

"Benar. kau ini sedang mencoba mendekati Sasuke dan jangan kira aku tidak mengetahui seluk beluk dirimu. Kau ini gay kan?" tanya Sakura dengan nada sedikit menunjukan rasa jijiknya.

"Memangnya kenapa kalau aku gay? Apa aku mengganggumu? Kurasa tidak," bantah Naruto berusaha setenang mungkin.

"Memang, tapi aku peduli dengan Itachi!" Sakura mulai menunjukan amarahnya.

"Peduli? Dengan cara meninggalkan Sasuke, mengabaikan Itachi dan pergi dengan pria lain seperti wanita murahan?"

PLLAKK

"Diam! Kau sangka kau tak membawa pengaruh buruk untuk Itachi. Kau itu gay, menjijikan, tak punya moral. Apa kau mau membuat Itachi juga menjadi hal yang menjijikan seperti dirimu. Dasar tidak tahu diri. Tidak hanya Itachi, bahkan Sasuke juga akan malu bila bersamamu. Dia akan dihina meski dirimu itu lebih hina dari hinaan itu. dan aku yakin orang tua pun pasti membuang dirimu. Tidak akan ada yang peduli padamu. Kau, menjijikan!"

Sakura pergi, meninggalkan Naruto yang tengah duduk menunduk dengan pipi memerah akibat tamparan itu. Naruto mengabaikan tatapan orang-orang yang memperhatikannya. Ia tidak peduli.

Dan hari itu berubah menjadi mendung, hujan pun turun membasahi hari itu. Seakan langitpun ikut menangis.

Semenjak itu, Naruto tak pernah muncul dihadapan Itachi dan Sasuke.

Bersambung...

aku sengaja update sekarang soalnya minggu depan udah sibuk lagi =.=a

Maafkan aku bila cerita gaje ini malah semakin gaje D':

Bila cerita ini makin aneh... aku tak tahu lagi..

Maafkan aku yang tidak berbakat ini :'(

Soalnya aku orangnya kurang percaya diri *menunduk

Jika boleh, mohon review... :)

Terima kasih sudah membaca dan mereview

Mohon kritik dan saran yang membangun :) *menunduk