Angin sejuk bertiup pelan menerpa wajahku. Langit hari ini terlihat tinggi dan cerah. Tinggi... langit tinggi seperti sesuatu yang tak mungkin bisa kugapai. Mengingatkanku pada harapanku yang sepertinya... tak akan pernah terkabul.
Kuangkat kedua tanganku tinggi-tinggi. Terus berusaha untuk dapat meraihnya. Berharap bisa kugapai. Namun, hanya kekosongan yang kudapati. Angin berubah menjadi dingin dan menyelimuti diriku. Apakah berharap memiliki sebuah keluarga yang bahagia adalah suatu hal yang mustahil? Apakah Tuhan begitu sulit hanya untuk mengabulkan satu permintaanku itu saja? ataukah memang aku sudah ditakdirkan untuk hidup sendiri? tidak adakah sedikit kebahagiaan untukku?
Kuturunkan kedua tanganku yang kini tengah memeluk diriku sendiri dengan erat. Bahkan, aku sekarang tidak ingat kapan terakhir kali seseorang memelukku dengan hangat. Yah.. itu hal yang mustahil. Karena tak ada orang yang mau memelukku. Menyedihkan.
Pandanganku tertuju pada sebuah bingkai foto. Foto itu adalah foto saat aku pergi bersama mereka. Aku sangat bahagia karena aku menganggap mereka sebagai keluarga hangatku. Karena kebahagiaan itu, aku jadi lupa diri. Aku melupakan diriku yang tak berhak untuk bahagia. Aku tahu, aku tak pantas untuk bahagia seperti kata wanita itu. Tapi, setidaknya, aku pernah mengalaminya. Dengan mereka, aku merasa memiliki keluarga. Itachi-kun, Sasuke-san, terima kasih. Tapi... sekarang semua itu menjadi mimpi kembali. Yah... hanya mimpi...
Aku Mau Kau Jadi Ibuku!
Disclaimer : sayangnya bukan milikku T^T tapi milik Masashi Kishimoto
Pairing : SasuNaru
Rate : T
Warning : AU, OOC, Typo, Alur kadang kecepetan, Shounen-ai, dll.
Penjelasan umur:
Uchiha Sasuke 25 tahun
Uzumaki Naruto 21 tahun
Uchiha Itachi 5 tahun
m(_ _)m
Minggu ini entah mengapa terasa begitu dingin. Saat kutanya orang lain, mereka hanya berkata kalau ini seperti cuaca biasanya. Tapi, kenapa bagiku ini begitu berbeda. Terasa sepi dan dingin. Aku tak tahu kenapa. Padahal aku memang lebih suka tempat nyaman dan sepi. Tapi kenapa rasa sepi ini begitu tak menyenangkan. Mungkin, apa karena hari ini Naruto-nii tidak ada?
Naruto-nii, kau kemana? Hari-hariku berubah saat kau masuk dalam kehidupanku. Hari-hari yang biasa saja, terasa menjadi luar biasa saat bersamamu. Kau memandikanku dengan senyum dan kebahagianmu. Dan kau tahu, sekarang aku merasa sepi. Aku memang biasa menyukai tempat sepi. Tapi rasa sepi karena tak ada Naruto-nii, terasa sangat tidak nyaman. Aku ingin bertemu. Aku ingin mendengar suaramu. Naruto-nii...
Kulihat Iruka-sensei sedang berjalan. Bila kupikirkan lagi, mungkin saja Iruka-sensei tahu Naruto-nii kenapa. Karena hal itu, kuhampiri Iruka-sensei dan menarik bajunya pelan.
"Iruka-sensei, apakah Iruka-sensei tidak tahu Naruto-nii ada dimana?" tanyaku.
"Um... sebenarnya, Naruto sudah berhenti bekerja disini," jawab Iruka yang kemudian berjongkok dan menatapku.
"Dia juga meminta tolong untuk menyampaikan salam untukmu, Itachi-kun,"
"Apa? Naruto-nii berkata apa?" tanyaku antusias.
"Katanya setelah Naruto pergi Itachi-kun tidak boleh nakal dan harus menjaga kesehatannya,"
"Kenapa ia berkata seperti itu?"
Kulihat Iruka-sensei kembali berdiri dan menghela nafas lelah.
"Aku juga tidak mengerti dengannya. Terakhir kulihat dia masih senyum-senyum sendiri. Tapi, setelah pergi dengan wanita itu, ia kembali dengan wajah muram dan besoknya ia mengundurkan diri. Aku sungguh mengkhawatirkannya, tapi ia selalu berkata kalau ia tak apa-apa, tapi jelas dari wajahnya kalau ia sedang bersedih," ucap Iruka yang wajahnya menunjukan kekhawatiran.
Mendengar cerita itu, aku mulai berpikir. Dan sekelebat ingatan terbesit dipikiranku. aku ingat! aku melihat wanita itu!
"Wanita? Iruka-sensei, apa wanita itu berambut pink?"
"Darimana kau tahu, Itachi-kun?" tanya Iruka heran.
'Jadi benar. wanita itu..'
"Sial!" ucap Itachi yang segera berlari.
"Hei, Itachi-kun, kau mau kemana?"
"Kekantor ayah," teriak Itachi yang terus berlari. Menghiraukan teriakan Iruka yang terus memanggilnya.
'Wanita itu! dia memang selalu membawa masalah,' pikir Itachi kesal.
Sementara itu...
Beberapa hari ini, Itachi tampak murung. Aku juga sudah tidak melihat Naruto lagi. Kemana perginya dia? Aku tidak mengerti. Tapi... hari-hari tanpa dia rasanya begitu kosong dan selalu ada yang kurang meski aku tak mengerti apa yang kurang. Apakah tanpa kusadari kehadirannya sudah menjadi suatu kebutuhan bagi hidupku.
Memang tak dapat kupungkiri. Senyum cerah manisnya, kulit tan eksotisnya, iris biru langit cerah itu. entah mengapa tidak melihatnya bebarapa hari saja sudah membuatku seperti tidak melihatnya bebarapa tahun. Rasanya begitu rindu...
"Ayah!"
Bahkan sekarang aku seperti sedang mendengar suara Itachi. Apa mungkin aku terlalu merindukan mereka berdua. Tapi setiap hari kan aku bertemu Itachi karena ia anakku. Tapi kenapa...
"Ayah!"
Oh... mungkinkah aku sedang kelelahan. Mungkin sebaiknya aku mengambil beberapa hari untuk cuti dan mengistirahatkan tubuhku.
"Ayah!"
BRUUUKKK
"ADUH!" teriakku tak elit.
"Ayah! Gawat, wanita itu.." ucap Itachi setelah menendang kaki ayahnya dengan nafas yang tak teratur akibat berlari.
Ternyata bukan khayalanku. Tapi karena memang Itachi benar-benar ada dihadapanku.
"I, Itachi? Kenapa kau.."
"Wanita itu! karenanya Naruto-nii pergi. Naruto-nii sudah tidak bekerja lagi. Naruto-nii menyembunyikan dirinya dari kita. Wanita itu sepertinya mengatakan sesuatu yang membuat Naruto-nii jadi menjauhi kita. Aku tak mengerti apa, tapi aku yakin. Wanita itulah penyababnya. Dan kita sekarang harus mencari Naruto-nii, aku khawatir dengannya. Aku juga ingin bertemu dengannya. Aku rindu dengannya. Pokoknya sekarang kita harus mencarinya. Kita har-"
"Stop, stop, stop. Tenang Ita-"
"Ta-"
"Tolong tenang!" ucapku yang kemudian Itachi berhenti bicara dan mulai mengatur nafasnya kembali.
Aku tidak mengerti. Ini pertama kalinya aku melihat anakku seperti ini. Dia sangat keluar dari karakter aslinya. Ia tidak pernah seperti ini. Bicara begitu banyak dan begitu cepat. Seperti sedang dikejar-kejar sesuatu yang menyeramkan. Dan sekarang lihat, dia terlihat kacau dan sedih.
"Sekarang, ceritakan pada ayah kenapa dan sedang apa kau dikantor ayah?" tanyaku pelan sepelan mungkin agar ia lebih tenang lagi.
"Naruto-nii, ayah, wanita itu membuat Naruto-nii pergi dari kita," ucap Itachi pelan.
Wanita itu. mungkinkah yang ia maksud Sakura. Hah... kenapa ia selalu membuat masalah denganku. Dan sekarang Naruto, tentu saja ia tidak mungkin menjauh begitu saja tanpa alasan jika bukan karena wanita itu.
"Kalau begitu sekarang kita cari Naruto," ucapku.
"Pekerjaan ayah?"
"Akan kuserahkan pada bawahanku,"
"Kalau begitu pertama kita kerumah Naruto-nii,"
'Tunggu, darimana ia tahu rumah Naru-'
"Aku pernah diam-diam mengambil dompet Naruto-nii dan melihat alamat dia tinggal. Tentu saja, aku langsung hafal," ucapnya bangga dan menarikku menuju mobil.
'Dia memang anakku,'
m(_ _)m
"Hah..." kuhela nafasku lelah.
Malam sudah tiba. Angin dingin tetap setia menemaniku. Kutatap langit malam. Begitu kelam. Tidak ada bintang yang bersinar. Bulan pun enggan menampakkan dirinya padaku. Beribu pikiran terus kupikirkan. Kenapa?
Kutinggalkan jendela yang sejak tadi kududuki. Memasuki kamar yang cukup berantakan. Kulangkahkan kakiku dan membuka lemari es. Persedian ramenku sudah habis. Dan tabunganku tidak cukup untuk membiayai diriku untuk beberapa hari kedepan.
Kututup lemari es itu dan berjalan menuju tempat tidur. Membaringkan tubuhku sejenak di kasur menatap langit-langit kamar yang kusam.
'Apa aku akan mati karena terbengkalai seperti ini? Sendirian? Rasanya aku ingin mengakhiri hidup ini. Apakah mati itu akan lebih bahagia untukku?' pikirku tersenyum miris. Aku sudah putus asa.
m(_ _)m
Kulaju mobilku dengan cepat namun tetap berhati-hati. Perhatianku terfokus pada jalanan dan setiap perkataan Itachi yang memberi petunjuk menuju rumahnya. Semakin lama aku merasa semakin gelisah. Perasaan aneh terus menyelimuti. Karenanya aku semakin khawatir dengan Naruto. Semoga saja ia tak apa-apa. Aku semakin ingin segera menemuinya.
Karena terlalu tenggelam pada pikirannya. Sasuke tidak menyadari bahwa sejak tadi Itachi memperhatikannya. Sebenarnya ia juga sama khawatirnya dengan ayahnya. Mendengar cerita Iruka-sensei, ia semakin tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Naruto.
"Ayah, aku merasakan firasat buruk. Naruto-nii akan baik-baik saja 'kan?" tanya Itachi khawatir.
"Hn, dia pasti baik-baik saja,"
Heningpun kembali pada dua Uchiha itu.
"Semoga..." lirih Itachi pelan, tak terdengar siapa pun. Ia sangat khawatir.
Bersambung...
*PLLAAKKK bercanda kok, ini masih lanjut, hehe
Untuk sampai kerumah Naruto tidak memerlukan waktu lama. Tapi bagi mereka, entah mengapa rasanya begitu lama. Setiap detiknya terasa seperti sehari lamanya. Ketika sampai, dilihat oleh mereka, sebuah apartemen kecil dan kusam, minim cahaya, dan terlihat akan segera roboh bila terguncang gempa sedikit saja. Berbeda sekali dengan rumah yang mereka tempati selama ini. Ternyata Naruto pun menjalani kehidupan yang sulit.
Mereka pun segera menuju kamar Naruto yang berada dilantai dua. Setiap anak tangga yang mereka injak seperti bisa patah kapan saja. Mungkin tangga ini bisa langsung patah bila orang gendut yang menaikinya.
Meski hari sudah malam, mereka tetap bersikeras untuk mendatangi Naruto. Dan terlihat disana. Sebuah pintu kusam berpapan namakan Uzumaki. Merasa yakin itulah kamar yang tepat. mereka pun segera mengetuk pintu tersebut. Berhharap disambut oleh senyuman hangat Naruto.
TOK TOK TOK
Berharap ada jawaban, namun sunyi yang menyambut. Sekali lagi mereka mengetuk pintu itu, namun tak ada tanggapan juga. Mereka pun mulai mengetuknya berkali-kali namun tetap berusaha untuk mengganggu tentangga. Tetap saja tidak ada jawaban.
Berbagai pikiran menyelimuti mereka. Apakah Naruto sedang pergi keluar? Ataukah sudah tidur? Atau terjadi sesuatu?
CKLEK..
Sasuke terkejut mendengar suara pintu terbuka. Dikira Naruto yang membuka pintu, ternyata Itachi yang membuka pintu tersebut.
"Tidak dikunci," gumam Itachi.
Dengan cepat mereka segera masuk. Dicarinya oleh mereka sosok hangat itu, dilihatnya setiap ruangan yang ada. Tapi ruangan-ruangan ini terlihat... kacau.
Banyak pecahan kaca dilantai. Benda-benda yang berserakan dimana-mana. Ruangan yang gelap tanpa penerangan sedikitpun. Jendela yang terbuka dengan angin dingin yang berhembus masuk. Tapi... ada yang aneh. Dari semua benda yang berserakan, ada suatu benda yang terletak dengan rapih diatas meja. Secarik kertas putih berisi tulisan tangan.
"Surat ini..."
"Itu tulisan tangan Naruto-nii," jelas Itachi.
Sasuke membaca surat itu, sedangkan Itachi pergi keruangan lain. Dibacanya surat itu perlahan dan secara perlahan pula wajah Sasuke berubah. semakin pucat.
Untuk siapapun yang membaca surat ini,
Hm... aku tidak tahu harus menulis apa. Tapi setalah membaca surat ini, mungkin kalian akan kehilanganku. Heh, itu tidak mungkin ya. karena tidak ada yang peduli denganku kan? Ternyata aku memang terlalu berharap banyak.
Kau tahu, terkadang saat membaca buku-buku dongeng. Rasanya hidup itu indah sekali. Tapi kenyataannya, hidup itu sulit. Apalagi bila hidup didalam derita dan kesepian. Sepi...
Setiap kali pulang kerumah, aku selalu mengaharapkan ada yang menyambutku, memelukku, dan tersenyum hangat padaku. Makan malam bersama keluarga dengan bahagia. Bertemu dengan orang yang dicintai dan hidup bahagia.
Tapi itu semua hanya mimpi. Mimpi yang akan hilang saat aku tersadar. Aku hanyalah seorang diri. Aku ingin merasakan kebahagian seperti itu. bukan hidup yang selalu dihina dan tak dianggap. Rasanya begitu sakit saat menerima pandangan benci dari orang-orang itu. meskipun aku selalu tersenyum, sebenarnya didalam sini sudah begitu hancur.
Aku selalu bertindak bodoh untuk menarik perhatian mereka. Namun, tetap saja dimata mereka aku ini sampah, menjijikan dan hina. Mulanya aku sangat senang saat bertemu dengan Sasuke dan Itachi.
Terlalu senang hingga lupa diri. Aku tak pantas menerima kebahagiaan. Seperti kata wanita itu, aku yang seorang gay menjijikan ini memang tak pantas bahagia. Aku akan selalu membawa hal buruk dan kesialan. Tapi tidak bisakah aku mengharapkan kebahagiaan. Tidak bolehkah aku berharap kasih sayang?
Dipeluk, dicintai, dan diberi kasih sayang. Meski hanya sedikit saja...
"AYAH!"
Mendengar teriakan itu, Sasuke segera berlari.
'Naruto.. tidak mungkin kau, kau tidak akan semudah itu putus asa kan? Kau tidak boleh mati!'
"Ayah! Naruto-nii, Naruto-nii..."
"NARUTO!" dipeluknya Naruto dengan erat.
Tubuh Naruto dingin, wajahnya memucat. Naruto, tidak mungkin ia mati kan? Masih banyak yang ingin ia sampaikan. Naruto..
"Ayah..."
"Naruto.." lirih Sasuke pelan.
"Ayah..."
"Itachi, panggil ambulans!" Sasuke tak melepaskan tatapannya dari wajah Naruto.
"Tap-"
"Sudah, cepat panggil ambulans!"
"AYAH!" teriak Itachi.
Ia tidak pernah melihat ayahnya seperti ini. Ayahnya yang lepas kendali seperti ini. Dipegangnya kuat lengan Sasuke.
"Ayah.. Naruto-nii.. ia.."
"Jangan katakan,"
"Tapi, Naruto-nii..."
"Kumohon,"
'Ayahku, Uchiha Sasuke, memohon!'
"Tapi ayah, dengark-"
"Dia akan selamat, Itachi," ucapnya mempererat pelukannya.
"Tap-"
"Dia pasti sela-"
"NARUTO-NII HANYA PINGSAN!" teriak Itachi frustasi. Tentu saja, siapa yang tidak frustasi bila bicaramu tak dipotong terus.
"Aku tahu! Naruto tidak mati! Dia ping-"
Dan Sasuke dengan wajah yang tidak Uchiha banget, segera menatap anaknya yang menatap dirinya aneh.
"Pingsan? Apa maksudmu Itachi?" tanya Sasuke setelah berusaha membuat wajahnya kembali seperti biasa.
"Naruto-nii ayah, dia hanya pingsan. Apa ayah tak mendengarnya?" tanya Itachi dengan melipat kedua tangannya didepan dada.
"Mendengar?"
Sasuke segera memfokuskan pendengarannya. Suara itu!
"Ya, itu suara perut Naruto-nii. Dia pingsan kelaparan. Ayo kita bawa ia kerumah dan memberinya makan," ucap Itachi melenggang pergi.
"Dariman-"
"Tadi selagi ayah membaca surat, aku memeriksa dapur dan melihat tidak ada makanan. Dan bila melihat Naruto-nii yang terbaring dengan perut yang terus berbunyi seperti itu. tentu saja, aku menyimpulkan kalau ia itu kelaparan," jelas Itachi yang disambut wajah biasa Sasuke meski aslinya ia cukup terkejut mendengarnya.
'Memang anakku!'
Mereka pun mengangkut Naruto masuk kedalam mobil dan menuju kerumah duo Uchiha itu.
Naruto... kau mengejutkan saja.
Bersambung...
Maaf update cukup lama*pllaakk nggak ada yang peduli, abis tugas baru pada selesai nih.. hehehe
Maaf bila disini masih ada kesalahan-kesalahan, tapi aku udah berusaha XD
Please review...
Terima kasih sudah bersedia membaca dan mereview ^^
Mohon kritik dan saran yang membangun C:
