Gelap... tidak ada cahaya sama sekali. Apakah aku sudah mati? Heh... kalau aku mati berarti sekarang hidupku sudah tidak mederita lagi. Tapi, aku sedih juga. Masa aku mati karena kelaparan. Aku tidak mau mati dengan tidak elit seperti ini. Tidak lucu 'kan bila tersebar di berita-berita televisi dan koran. 'seorang pemuda pirang bernama Uzumaki Naruto ditemukan tewas dikamar apartemennya karena kelaparan'. Kematian seperti itu sungguh tidak eliittt...
Aku jadi ingin hidup lagi. Biar nanti aku bisa lebih bagus lagi cara matinya. Tapi, apa aku memang sekarang beneran udah mati? Ehh... aku tidak mau!
"Naruto?"
EH! Apa tadi aku mendengar suara seseorang memanggilku. Jangan-jangan, itu suara malaikat pencabut nyawa. Penasaran juga ingin tahu siapa yang mamanggilku. Tapi... aku takut kalau ternyata yang memanggilku benar-benar malaikat pencabut nyawa. Tapi... penasaraann...
"Naruto-nii"
EH, suara itu!
"ITACHI-KUN!" teriakku membuka mata.
"Na, Naruto-nii?"
"Syukurlah, Itachi-kun, aku tidak jadi mati dengan cara yang tak elit :'D" ucapnya memeluk erat Itachi.
'Dasar Naruto/Naruto-nii '
Aku Mau Kau Jadi Ibuku!
Disclaimer : kalau milikku, pasti banyak adegan sasunaru (kyyaaa), tapi kenyataannya milik Masashi Kishimoto
Pairing : SasuNaru
Rate : T
Warning : AU, OOC, Typo, Alur kadang kecepetan, Shounen-ai, dll.
Penjelasan umur:
Uchiha Sasuke 25 tahun
Uzumaki Naruto 21 tahun
Uchiha Itachi 5 tahun
m(_ _)m
Setelah yang kita ketahui, Naruto pingsan karena kelaparan dan kemudian dia dibawa pergi oleh duo Uchiha itu 'kan? Dan sekarang ia...
"FHUUWAA... KENYANG!"
.. berteriak bahagia.
"Naruto-nii senang?"
"Ya," tersenyum lebar.
"Naruto-nii sudah kenyang?"
"Hahahaha... Sangat!" tertawa lebar.
"Dasar Dobe," ucap Sasuke sedangkan Naruto menatap sangar Sasuke.
"Ne, ne, Naruto-nii," ucap Itachi menarik-narik kecil baju Naruto.
"Iya," ucap Naruto kembali tersenyum hangat ke Itachi.
"Naruto-nii 'kan sudah menghabiskan makanan kami. Jadi Naruto-nii harus tinggal disini dan memasak untuk kami, ya," pinta Itachi.
Semula Naruto ingin langsung menjawab 'Tentu saja, apa sih yang tidak untuk Itachi-kun,' tapi ia teringat dengan kata-kata wanita pink itu. Ia akan membawa pengaruh buruk untuk Itachi. Dan ia pun mengurungkan jawaban semulanya itu.
"Em.. maaf Itachi-kun, aku tidak bisa," ucap Naruto berusaha tersenyum yang kenyataannya senyumnya itu terlihat sekali dipaksakannya.
"Kenapa?"
"Itu.."
"Apa karena wanita itu?"
"Hah?" Naruto heran melihat sifat Itachi yang sekarang berubah drastis.
"Iya, ini pasti karena wanita berambut pink itu 'kan?" tanya Itachi kesal memikirkan wanita itu.
"Pink? Maksudmu wanita itu (berusaha mengingat-ngingat), adalah Sakura-san?" tanyanya setelah berhasil ingat.
"Iya! Sudah, Naruto-nii jangan dengarkan ucapan wanita itu!"
Naruto benar-benar bingung bagaimana menanggapi permintaan Itachi yang memaksa ini. Ia pun akhirnya hanya menghela nafas panjang.
"Tapi apa yang dikatakan Sakura-san itu benar Itachi-kun. Aku... hanya akan membawa pengaruh buruk," ucap Naruto berusaha tersenyum meski ia tidak bisa. Sungguh, ia sangat ingin mengabulkan permintaan Itachi.
Mendengar penuturan Naruto, Itachi semakin tidak mengerti. Kenapa Naruto bisa membawa pengaruh buruk? Padahal menurut Itachi ia adalah sosok 'Ibu' yang sempurna.
"Bagaimana bisa?" tanya Itachi pada akhirnya.
"Karena, bukan hanya membawa pengaruh buruk untukmu. Tapi aku juga bisa membuat malu ayahmu. Aku tidak mau ayahmu menjadi kesulitan karen-"
"Apa maksudmu aku akan kesulitan, hn?" potong Sasuke setelah terus diam mendengarkan Itachi dan Naruto berbicara.
"Kau sendiri tau kalau aku ini ga-"
"Lantas kenapa?"
"Aku, aku pasti ak-"
"Kau pikir orang jenius sepertiku akan merasa kesulitan hanya karena seorang Dobe berkeliaran didekatku, Dobe?" tanya Sasuke meremehkan.
BLLETAAKKK
"CUKUP! AKU INI BUKAN DOBE, TEME!" teriak Naruto setelah puas menjitak rambut pantat ayam itu.
Tentu saja Naruto kesal. Sudah bicaranya dipotong terus, dikatain Dobe pula.
"Ne, jadi Naruto-nii mau tinggal bersama kami?" tanya Itachi.
"Aku..."
"Kalau menolak maka kau itu Dobe tingkat tinggi,"
"Arggh... Ok, aku akan tinggal disini! Puas kau, Teme!"
Dari jawaban itu, Itachi sangatlah senang. Yup, rencana pertamanya berhasil. Rencana untuk membuat Naruto tinggal dirumahnya berhasil dengan sangat lancar. Meski kemunculan wanita itu tidak ada dalam perhitungan Itachi, tapi siapa sangka, justru membuat rencananya itu semakin mulus.
Sekarang ia tinggal melaksanakan rencana-rencana selanjutnya yang akan berakhir dengan Naruto menjadi ibunya. Nah, Naruto, sekarang kau tidak menyangka bahwa kau sudah menjadi incaran seorang Uchiha yang cerdas, bukan?
Dan bila dilihat dari percakapan sebelumnya. Itachi bisa mendapati ternyata Naruto adalah gay. Wah... semakin mudah saja untuk rencana kedepannya. Kalau soal ayahnya tidak perlu dipikirkan. Toh, ayahnya sendiri juga tertarik dengan Naruto.
Naruto... pesonamu memang hebat. Bisa mengikat kedua Uchiha menjadi begitu tertarik padamu seperti ini.
m(_ _)m
Seiring berjalannya waktu, Naruto mulai terbiasa tinggal dirumah mewah ini. Memang pada mulanya ia sering (sangat sering malah) tersesat dirumah ini. Terlalu luas. Dan anehnya, Sasuke hanya mempekerjakan beberapa pembantu hanya untuk sekedar bersih-bersih. Pembantu-pembantu itu pun tidak tinggal begitu lama dan langsung pulang.
Pantas saja Itachi merasa kesepian bila hingga dewasa ia tinggal dalam situasi seperti ini.
Tapi tidak dapat dipungkiri oleh Sasuke kalau kedatangan Naruto benar-benar membawa perubahan besar dalam kehidupannya. Rumah yang dulu terasa begitu hampa ini. Sekarang terasa sangat nyaman dan hangat. Sambutan selamat datang selalu dijumpainya saat ia baru saja pulang kerja. Ia pun sudah tidak begitu khawatir dengan Itachi karena sudah ada Naruto yang menjaganya.
Dan kalau soal makanan. Naruto sekarang bertanggung jawab atas semua hal itu. Sasuke hanya perlu memberikan uang belanja pada Naruto dan walah! Makanan bergizi selalu tersedia untuk Itachi dan dirinya setiap hari.
Bila dipikir-pikir, Sasuke seperti merasa memiliki seorang istri. Biasanya ia bisa membuat dirinya sendiri tenggelam dengan pekerjaannya. Tapi sekarang tidak bisa, ia selalu berpikir untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan agar bisa pulang bertemu dengan anaknya dan sosok hangat itu.
Dan hari minggu ini, Sasuke bisa menghabiskan waktunya seharian dirumah bersama keluarganya. Ya, dengan Itachi dan Naruto tentunya.
"Naruto-nii, ayo bermain denganku," pinta Itachi.
"Iya. Sasuke, kau mau ikut bermain?" tanya Naruto.
"Aku hanya akan melihat saja," jawab Sasuke. Tentu, dengan melihat Itachi dan Naruto bermain saja itu sudah membuatnya sangat bahagia.
Itachi tampak sangat bahagia saat bersama dengan Naruto. Ia bisa tertawa begitu lepas. Berbeda sekali bila dihadapan orang lain, ia selalu memasang wajah ala Uchiha. Sifat kekanakannya juga hanya keluar bila bermain dengan Naruto. Itachi memang sangat menyukai Naruto rupanya.
Selagi bermain, semua tampak biasa-biasa saja. Tapi, entah karena apa, sebuah perkataan Itachi mengejutkan Naruto dan Sasuke.
"Aku ingin mencium Naruto-nii,"
Yah, ucapan itulah yang membuat Sasuke membatu. Karena berpikir Itachi hanyalah anak kecil biasa, tentu saja Naruto menyetujui permintaan itu. sedangkan Sasuke, ia tahu apa maksud dari anaknya itu.
"Kenapa kau meminta hal itu, Itachi?" tanya Sasuke.
"Aku menonton ditelevisi, katanya kita akan mencium orang yang kita cintai, dan aku mencintai Naruto-nii," jawab Itachi berusaha terlihat polos. Sedangkan Naruto terlihat sangat senang mendengar ucapan itu.
"Ah... Itachi-kun, aku juga mencintaimu,"
"Jadi aku boleh menciummu?"
"Tentu," ucap Naruto menyerahkan pipinya. Terlihat Sasuke menghela nafas lega.
'Kalau dipipi tak apa, tapi kalau di bibi-'
Chuup...
Ternyata Itachi mencium bibir Naruto kawan-kawan.
'ITACHI!'
"Wah.. bibir Naruto-nii manis," ucap Itachi senang bisa melihat wajah ayahnya yang kesal + cemburu. Dan Naruto, wajahnya memerah malu.
"Itachi, kau..." ucap Sasuke berusaha tampak tenang.
"Ayah tahu, bibir Naruto-nii itu lembut, hangat, dan manis. Naruto-nii boleh kucium lagi," ucap Itachi dengan wajah memohon.
Sedangkan Naruto, wajahnya masihlah merah padam.
"Itachi," Sasuke pun memanggil Itachi, membuat anaknya itu melihat kearahnya yang kini tengah berjalan ketempat Itachi dan Naruto berada.
Kiss...
"Dia ini milikku, kau hanya boleh mencium pipinya, mengerti," titah Sasuke dengan Naruto dipelukannya yang wajahnya sangat merah. Tentu, siapa yang tak merah wajahnya bila dicium oleh seorang Uchiha Sasuke.
"Hm, dan kau benar Itachi, rasanya manis,"
Naruto pun pingsan.
Tamat?
Bersambung?
Please review... terima kasih bagi yang sudah membaca dan mereview
Mohon kritik dan saran yang membangun
Dan maaf karena updatenya lama :(
