Disclaimer : semua karakter milik J.K. Rowling. I don't own here.
Pairing : Draco Malfoy / Hermione Granger
Rated : T
Summary : Sekuel dari You're Not a Murderer. Hogwarts kembali dibuka. Trio Gryffindor kembali untuk tahun ketujuh mereka. Apakah akhirnya kehidupan normal menanti mereka?
.
Better Life
.
"Jadi?" Ginny Weasley langsung melontarkan pertanyaan tersebut begitu Hermione mengambil tempat duduk dihadapannya. Harry dan Ron yang duduk di sebelah kanan dan kiri Ginny juga ikut memandang Hermione dan membuat Hermione merasa bagaikan tersangka yang sedang disidang dibawah tatapan ketiga temannya.
"Apanya, Gin?" Hermione balas bertanya.
"Partner ketua muridmu," jawab Ginny dengan tidak sabar. "Benarkah dia Draco Malfoy?"
Suasana aula besar saat itu sangat ramai. Murid-murid tampaknya sibuk dengan obrolan masing-masing. Walaupun begitu, Hermione cukup yakin bahwa sebenarnya mereka membicarakan topik yang sama. Topik yang juga sedang disinggung oleh Ginny saat ini.
Hermione memijit pelan pelipisnya. Ginny adalah orang kesekian yang bertanya seperti itu padanya, padahal Hermione tahu berita bahwa Draco Malfoy adalah ketua murid laki-laki untuk tahun ini sudah tersebar bahkan sebelum mereka mencapai Hogwarts. Terlebih lagi Ron pastinya sudah menceritakan hal tersebut pada Harry dan Ginny.
"Ya," jawab singkat Hermione.
"Kau datang terlambat. Apakah tadi kau bersamanya?" Seperti biasanya, Ginny selalu menjadi orang yang penuh rasa ingin tahu. Hermione tahu Ginny tidak akan melepasnya hanya dengan satu-dua pertanyaan.
"Ya," Hermione menjawab pelan. "McGonagall memanggil kita untuk menegaskan kembali peraturan-peraturan tahun ini. Mereka akan memperketat jam malam dan tugas ketua murid adalah memastikan bahwa tidak akan ada seorang muridpun yang melanggarnya. Yah, kalian tahu sendiri kalau McGonagall tentunya akan lebih tegas dan disiplin daripada Dumbledore. Dia benar-benar tidak akan segan-segan memberikan hukuman bagi mereka yang melanggar peraturan."
"Kenapa para prefek tidak diminta untuk berpatroli juga?" Ron mulai menyuarakan protesnya.
"McGonagall berpendapat tidak efektif jika terlalu banyak yang berpatroli, jadi beliau hanya menugaskan tugas patroli pada ketua murid saja," jelas Hermione sambil melambaikan tangannya sebagai isyarat supaya mereka tidak berkata apa-apa lagi karena McGonagall akan segera memulai pidatonya.
"Aku masih tidak mengerti kenapa McGonagall bisa memilih ferret itu menjadi ketua murid!" Ron kembali membicarakan topik tersebut sambil menatap tajam Professor McGonagall yang sudah selesai berpidato. "Maksudku—astaga! Dia itu mantan pelahap maut!"
"Ron!" tegur Hermione. "Bisa tidak, kau tidak menyinggung soal itu lagi? Kita sedang dalam usaha perdamaian saat ini!"
"Yeah, tapi memangnya mereka bisa diajak berdamai?" Ron memandang sengit pada meja Slytherin. Hermione sedikit menoleh dan melihat Draco Malfoy duduk disana, di antara dua anak laki-laki yang dikenali Hermione sebagai Theodore Nott dan Blaise Zabini. Hermione menyadari bahwa sejak tadi beberapa anak juga banyak yang mencuri pandang ke arah meja Slytherin yang hanya terisi kurang dari separuh. Banyak anak-anak Slytherin yang memutuskan untuk tidak melanjutkan tahun ketujuh mereka di Hogwarts. Beberapa dari mereka bahkan mengikuti orangtuanya pindah ke luar negeri segera setelah kekalahan Voldemort. Hal seperti itu tentu membuat asrama Slytherin semakin dipandang rendah dan dicap sebagai pengecut oleh asrama lainnya.
"McGonagall pasti memiliki alasannya sendiri walaupun dia tidak memberitahumu, Ron!" balas Hermione.
"Kau tahu sendiri orang seperti apa para Slytherin itu, Hermione. Apa kau pikir mereka bisa berubah dalam waktu singkat? Tetap saja McGonagall gila menurutku karena sudah memilih ferret pengecut itu sebagai ketua murid," ucap Ron lagi dengan nada yang lebih santai karena makanan sudah memenuhi meja di depan mereka.
"Jangan menyebutnya seperti itu, Ron! Menurutku dia bukan pengecut jika dia punya nyali untuk kembali kesini dan menerima jabatan ketua murid itu. Aku yakin dia tidak kembali kesini untuk main-main, Ron," kata Hermione sambil mengernyitkan dahinya seperti biasa setiap kali dia melihat cara makan Ron.
"Bwaphi thedab swajha—"
"Bisakah kita makan dengan tenang?" potong Harry yang mulai terlihat kesal dengan perdebatan kedua sahabatnya itu. "Aku kembali kesini untuk menikmati tahun yang tenang yang tidak pernah kudapatkan. Jadi bisakah kalian hentikan perdebatan itu dan kita makan dengan tenang? Dan perlu kutambahkan, aku tidak masalah dan tidak peduli siapa yang menjadi ketua murid laki-laki. Aku hanya ingin menjadi murid normal, oke?"
"Bwoke Bwayi," jawab Ron disela-sela kegiatannya mengunyah ayam panggang.
"Telan dulu makananmu sebelum bicara, Ronald!" desis Hermione sebelum mengambil makanan.
.
.
Hermione berdiri dengan gugup di depan lukisan yang menjadi jalan masuk ke asrama ketua murid, padahal tadi dia berjalan dengan cukup tergesa-gesa. Menghadapi kenyataan bahwa dia akan tinggal satu asrama dengan seorang Draco Malfoy sudah cukup untuk membuatnya berdiri mematung seperti sekarang ini. Walaupun sudah berbaikan dengan Draco di akhir perang besar yang lalu, tetap saja Hermione merasa canggung. Dia merasa belum terlalu mengenal laki-laki itu dan, astaga! Mereka bahkan bermusuhan sebelum ini. Pikiran-pikiran itu terus mengganggu Hermione dan berhasil membuat gadis berambut cokelat itu hanya berdiri gelisah di depan jalan masuk asrama ketua murid selama hampir tiga puluh menit lamanya.
"Apakah kau akan masuk atau hanya akan memandangiku seperti itu, miss?" tanya lukisan di depan Hermione dengan sedikit sinis.
Hermione baru saja memantapkan hati dan melangkah mendekat untuk menyebutkan kata kuncinya ketika tiba-tiba saja lukisan dihadapannya mengayun terbuka dan menampilkan sosok Draco Malfoy dibelakangnya.
Hermione terkesiap kaget dan melotot menatap Draco. Kedua tangannya kembali saling meremas tanda bahwa rasa gugup kembali menyerang sang ketua murid perempuan. Hermione bahkan tidak yakin apa yang membuatnya bisa merasa gugup seperti ini hanya karena berhadapan dengan seorang Malfoy. Dia yakin tidak pernah merasa segugup ini sebelumnya, bahkan tidak ketika dia akan menerima hasil OWL-nya.
"Kenapa kau melihatku seperti melihat hantu begitu? Well, walaupun aku tidak yakin kau akan menampilkan ekspresi seperti itu bahkan jika kau berpapasan dengan Baron Berdarah," Draco memulai pembicaraan.
Hermione mengerjap dan menutup mulutnya yang rupanya terbuka tanpa dia sadari. "Mau kemana kau?" Hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulut Hermione.
"Aku akan mampir ke asramaku sebentar. Kau akan masuk atau tetap berdiri mematung seperti itu?" tanya Draco.
"Apa? Oh, tentu saja aku akan masuk. Aku hanya sedikit terkejut tadi," jawab Hermione sambil sedikit membela diri.
"Maaf mengagetkanmu kalau begitu, Granger," ujar Draco dengan senyum samar sebelum mengangguk pelan pada Hermione dan berbalik pergi.
Hermione masih berdiri menatap punggung Draco yang menjauh sambil kembali mengerjap-ngerjap bingung. Apakah tadi Draco Malfoy baru mengucapkan kata 'maaf' padanya? Sebelumnya Hermione malah tidak yakin kalau Draco mengetahui kata tersebut, tapi barusan Hermione mendengarnya langsung dengan kedua telinganya.
"Mungkin Malfoy memang sudah berubah seperti janjinya dulu," pikir Hermione sambil tersenyum.
.
.
"Bagaimana malam pertamamu dengan Draco Malfoy, Hermione?"
Hermione tersedak jus labunya mendengar pertanyaan Ginny. Gadis Weasley itu semakin memperlebar cengirannya melihat ekspresi Hermione yang memberikan tatapan 'jangan-bercanda-seperti-itu' padanya.
"Maksudku, bagaimana malam pertamamu satu asrama dengan Draco Malfoy?" Ginny sedikit meralat pertanyaannya tanpa mengurangi cengiran jahil diwajahnya. Untuk saat seperti ini, Ginny tampak sangat mirip dengan kakak kembarnya, Fred dan George.
"Tidak bagaimana-bagaimana, Gin," jawab Hermione cepat. "Dia keluar ketika aku baru akan masuk ke asrama dan aku tidak tahu apakah dia kembali ke asrama atau tidak setelah itu karena aku langsung pergi tidur."
"Jadi tidak ada pertengkaran atau duel mantra atau semacamnya?" tanya Ginny lagi.
"Ginevra Weasley!"
"Oke, oke," Ginny tertawa puas. Menggoda Hermione sudah menjadi salah satu kesukaan Ginny sejak beberapa tahun yang lalu. Biasanya Ginny baru akan berhenti menggoda Hermione ketika salah satu sahabat kakaknya itu akan menyebutkan nama lengkapnya dengan nada tegas seperti barusan.
"Baik-baik saja dengan Malfoy, Hermione?" Harry tiba-tiba muncul dan duduk di sebelah Ginny sementara Ron mengambil tempat disebelah Hermione. Wajah kedua pemuda tersebut masih terlihat ngantuk. Ron bahkan tidak segan menguap lebar-lebar yang tentu saja langsung dibalas dengan tatapan mencela oleh Hermione.
"Tidak ada masalah, Harry," jawab Hermione.
"Still ferret," gumam Ron dengan suara sangat pelan.
"Apa jadwal kita pagi ini?" Hermione bertanya pada Harry dan berpura-pura tidak mendengar kata-kata Ron tadi.
"Ramuan bersama Slughorn," jawab Harry setelah mengecek jadwalnya.
"Oh, baguslah. Aku yakin kau tidak akan menjadi anak kesayangannya kali ini, Harry. Tidak tanpa buku milik Professor Snape itu," Hermione berkata dengan penuh kemenangan pada Harry. Kenangan akan kesuksesan Harry yang menggesernya sebagai anak emas seorang guru ternyata masih sangat mengganggu dan menyebalkan bagi Hermione.
"Yah, sayang sekali kalau begitu. Aku mungkin hanya akan mendapat B tahun ini," jawab Harry sambil mengangkat bahu dengan raut wajah tidak peduli.
"Berusahalah lebih keras kalau begitu," kata Ginny sambil mengecup pipi Harry yang disambut keluhan keras dari Ron.
"Aku harus pergi dulu. Kelasku masuk 10 menit lebih awal pagi ini. Bye all, " ujar Ginny sambil berdiri setelah memeluk singkat Harry.
"Aku rasa aku juga akan pergi ke kelas lebih dulu," kata Hermione sambil membereskan buku-buku yang tadi dia baca selama sarapan.
"Apa? Kelas kita baru akan dimulai 15 menit lagi, Hermione. Kenapa terburu-buru begitu?" tanya Ron.
Hermione mengangkat bahu tanpa berkata apa-apa selain, "Sampai jumpa dikelas nanti," dan berjalan keluar Aula Besar.
.
.
Hermione tidak butuh alasan untuk berada di dalam kelas lebih awal daripada teman-temannya. Dan nyatanya dia memang selalu datang lebih dulu daripada teman-temannya yang lain. Dia lebih suka datang terlebih dahulu, memilih tempat duduk yang strategis untuk mengikuti pelajaran dan menunggu pelajaran dimulai sambil membaca apa yang kira-kira akan mereka pelajari hari itu.
Pagi itu rupanya bukan hanya Hermione saja yang punya pemikiran seperti itu. Ketika gadis itu sampai di kelas ramuan yang sekarang berada di lantai tiga, dia melihat sudah ada seseorang yang duduk di dalam kelas. Hermione berjalan masuk sambil meyakinkan matanya bahwa yang sekarang dia lihat sedang duduk di bangku di basik ketiga sebelah kanan kelas adalah Draco Malfoy.
Hermione masih belum melepas matanya dari Draco ketika dia mencapai tempat duduknya yang berjarak dua meja di sebelah kiri meja Draco. Laki-laki itu tampak serius membaca buku ramuannya. Bukan rahasia lagi jika Draco tertarik pada ramuan, terlebih lagi dengan Snape sebagai gurunya selama lima tahun bersekolah di Hogwarts.
Tiba-tiba saja Draco menoleh ke arah Hermione dan menangkap basah gadis yang masih menatapnya itu. Hermione sedikit terkesiap kaget ketika bertatapan langsung dengan Draco. Ketua murid perempuan itu segera memalingkan wajahnya yang mulai dijalari rona merah dan duduk di bangkunya.
"Kaget melihatku disini, Granger?" Hermione sama sekali tidak menyangka jika Draco akan mengajaknya bicara. Perlahan Hermione menoleh dan melihat Draco masih menatapnya dengan seulas senyum yang sangat tipis menempel di wajahnya.
"Tumben kau datang sepagi ini, Malfoy," balas Hermione.
"Aku akan menjadi anak yang rajin tahun ini. Kau siap-siap saja nilaimu akan tersaingi olehku," jawab Draco sambil mengeluarkan seringai khasnya.
Hermione mendengus. "Jangan bermimpi, Malfoy."
"Kau hanya belum tahu bagaimana kalau aku serius, Granger," kata Draco masih dengan seringai Slytherin-nya.
Hermione kembali menoleh ke arah Draco dan membalas tatapan laki-laki itu. Hermione tahu bahwa memang sangat mungkin bagi Draco untuk menyaingi nilai-nilainya. Bahkan ketika laki-laki itu banyak bermain-main di lima tahun pertama mereka bersekolah dulu, nilai Draco selalu tidak pernah jauh dari nilai Hermione. Jika Draco benar-benar serius dalam pelajaran sekarang, tampaknya Hermione memang harus berusaha keras untuk mempertahankan posisinya sebagai peringkat pertama.
"Kau menantangku, Malfoy?" Jiwa Gryffindor Hermione mulai berkobar.
"Tidak. Aku tidak pernah mengatakan seperti itu, Granger. Aku hanya mengingatkanmu supaya kau jangan lengah," sahut Draco, kali ini dia kembali mengubah seringainya menjadi senyum tipis.
"Terima kasih untuk peringatanmu, Malfoy. Jangan khawatir, aku tidak bisa dikalahkan semudah itu," balas Hermione sambil tersenyum.
"Aku tahu kalau kau memang tidak mudah dikalahkan, Granger, tapi aku akan berusaha," ucap Malfoy sebelum kembali menekuni bukunya.
Hermione sedikit membuka mulutnya. Draco Malfoy sudah mulai kembali menjadi seorang Malfoy yang menyebalkan baginya. Hermione mungkin saja akan kembali membalas kata-kata Draco jika saja siswa-siswa lain tidak mulai berhamburan masuk termasuk Harry dan Ron.
Tidak lama setelah itu, Slughorn berjalan memasuki ruangan kelas dengan gayanya yang biasa. Hanya sepuluh menit setelah kelas dimulai, Hermione sudah menyadari bahwa Harry tetap menjadi anak kesayangan Slughorn, bahkan tanpa buku ramuan milik Snape!
Menjelang sepuluh menit terakhir, Slughorn memberikan tugas pada murid-muridnya. Setiap murid akan dibagi dalam kelompok-kelompok berisi dua orang tidap satu kelompok. Mereka diminta untuk memilih dan membuat salah satu ramuan tingkat N.E.W.T. Tugas ini akan dikerjakan dalam waktu tiga bulan, mengingat ada beberapa ramuan yang membutuhkan waktu lama untuk diselesaikan.
"Nah, aku akan membagi kalian ke dalam kelompok-kelompok sekarang," kata Slughorn yang disambut dengan keluhan dari beberapa anak. Beberapa anak tentunya lebih suka jika mereka sendiri yang membentuk kelompok alih-alih gurunya.
"Mr. Nott, kau bisa berpasangan dengan Miss Patil disana," Slughorn menunjuk ke arah Parvati di salah satu sudut ruangan. "Mr. Goldstein, kau dengan Miss Grengrass."
"Miss Brown, kau—" Slughorn ganti menunjuk Lavender, "kau berpasangan dengan Mr. Weasley. Mr. Potter kau dengan Mr. Zabini."
Hermione bisa melihat Ron sedikit melotot pada Slughorn dan menatap Harry seolah meminta sahabatnya itu mengatakan sesuatu pada Slughorn. Sayangnya Harry hanya mengangkat bahunya sambil nyengir pada Ron. Hermione hanya memutar bola matanya melihat kedua sahabatnya, namun dengan segera menggantinya dengan pelototan yang sama dengan Ron setelah menengar kata-kata Slughorn berikutnya.
"Miss Granger dengan Mr. Malfoy."
Hampir seluruh anak yang ada di kelas menoleh menatap Hermione dan Draco dengan pandangan kaget. Beberapa anak malah terang-terangan menatap mereka dengan mulut terbuka menunjukkan kekagetannya, termasuk Ron.
Hermione sendiri seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Slughorn. Dia harus berpasangan dengan Malfoy? Setelah si Slytherin itu secara tidak langsung mendeklarasikan perang dengannya? Yang benar saja! Oke, mungkin Draco memang tidak menantang Hermione, namun tetap saja Hermione merasa tertantang dengan kata-kata Draco.
Slughorn tampaknya tidak peduli dengan perubahan atmosfir kelas setelah dia menyebut Draco dan Hermione sebagai satu kelompok. Atau memang Slughorn tidak peka terhadap situasi. Guru bertubuh tambun itu tetap santai membagi sisa muridnya ke dalam kelompok.
Hermione melirik ke arah Draco dan melihat laki-laki itu sedang menunduk sibuk dengan bukunya. Anehnya, Draco tampak tenang, seolah berpasangan dengan Hermione sama sekali bukan hal yang harus dipermasalahkannya.
"Kau setuju berpasangan dengan si ferret itu?" tanya Ron setengah berbisik dari belakang Hermione.
"Apakah aku punya pilihan?" jawab Hermione tepat ketika Slughorn membubarkan kelas.
.
.
To Be Continue
