Disclaimer : semua karakter milik J.K. Rowling. I don't own here.
Pairing : Draco Malfoy / Hermione Granger
Rated : T
Summary : Sekuel dari You're Not a Murderer. Hogwarts kembali dibuka. Trio Gryffindor kembali untuk tahun ketujuh mereka. Apakah akhirnya kehidupan normal menanti mereka?
A/N : Terima kasih yang teramat sangat untuk semua readers yang masih setia membaca fic ini dan memberikan review-nya. Aku berusaha mempublish chapter tiga ini secepat yang aku bisa dan semoga chapter empat juga bisa dipublish secepatnya ya.
Akhir kata, happy reading and don't forget to review. ^^
.
Better Life
.
Entah sudah berapa kali Hermione berjalan mengelilingi rak-rak yang menjulang tinggi di perpustakaan, namun buku yang dicarinya tidak juga dia temukan. Sekali lagi Hermione menyusuri salah satu rak yang berisi buku-buku ramuan. Kedua matanya menyipit membaca judul-judul buku yang berjejer rapi—cukup sulit melakukannya, mengingat banyak judul buku yang sudah mengelupas.
Hermione berhenti melangkah dan menatap salah satu buku yang berada di deretan rak yang cukup tinggi. "Itu dia!" ujar Hermione pada dirinya sendiri.
Hermione mengangkat tangan kanannya ke atas untuk meraih buku itu. Karena terletak di deretan yang cukup tinggi, walaupun dia sudah berjinjit, namun Hermione tetap tidak bisa mengambil buku itu.
"Accio buku!"
Hermione terkejut ketika tiba-tiba buku yang hendak diraihnya terbang menjauhinya. Tidak hanya sampai disitu, keterkejutan Hermione bertambah ketika melihat buku itu mendarat di tangan seorang Draco Malfoy.
"Sebenarnya aku tidak ingin menanyakan hal ini, Granger, tapi—kau ini penyihir atau bukan?" tanya Draco dengan kedua alis terangkat sambil mengacungkan tongkat dan buku yang tadi di ambilnya menggunakan mantra panggil.
Hermione merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia sama sekali tidak memikirkan menggunakan mantra panggil untuk mengambil buku itu?
"Kenapa kau baru datang sekarang?" Hermione mengalihkan pembicaraan untuk menutupi rasa malunya.
Draco melirik ke arah jam yang terpajang di dinding perpustakaan. "Sepertinya bukan aku yang terlambat tetapi kau yang datang terlalu cepat, Granger."
"Baiklah, baiklah, lebih baik sekarang kita mulai bekerja," ujar Hermione sambil berbalik dan melangkah pergi diikuti oleh Draco.
"Ramuan apa yang akan kita buat?" tanya Hermione setelah dirinya dan Draco duduk berhadapan di salah satu meja perpustakaan. Agak aneh memang rasanya duduk berhadapan dengan seorang Draco Malfoy di dalam perpustakaan. Apalagi jika mengingat sebelumnya Hermione bahkan tidak pernah berani memikirkan akan duduk berhadapan dengan seorang Draco Malfoy.
"Ramuan apa yang ingin kau buat?" Draco balas bertanya. "Kita akan membuat ramuan apapun yang kau inginkan."
Hermione mengangkat alisnya pada Draco. Apa dia tidak salah dengar? Sejak kapan Draco mau mengikuti apa yang Hermione lakukan?
"Apakah kepalamu terbentur sebelum datang kesini, Malfoy?" tanya Hermione.
"Tidak. Kepalaku sehat-sehat saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkan kepalaku," jawab Draco sambil tersenyum miring yang lebih menyerupai seringai.
"Aku tidak akan melimpahkan tugas ini padamu sendirian, tenang saja—kalau itu yang kau khawatirkan. Aku akan tetap ikut bekerja," lanjut Draco ketika Hermione menatapnya dengan mata yang menyipit curiga.
"Baiklah kalau begitu," kata Hermione masih dengan nada yang sedikit sangsi.
Hermione mulai membuka bukunya halaman demi halaman. Matanya terfokus pada tiap lembar halaman yang dibukanya seolah tenggelam dalam kata demi kata yang tercetak disitu. Gadis itu bahkan tidak menyadari jika sejak tadi Draco Malfoy belum melepaskan pandangan darinya.
"Bagaimana dengan ramuan penua?" Hermione mulai menanyakan pendapat Draco.
"Terlalu biasa," jawab Draco singkat.
"Ramuan pengempis?"
"Tidak menarik."
"Ramuan pelupa?"
"Terlalu mudah untuk level N.E.W.T."
"Bukankah tadi kau mengatakan kalau aku bebas memilih ramuan apapun yang aku mau?" ucap Hermione kesal karena Draco selalu menolak pilihannya.
"Tapi kau tidak memilih, Granger. Jelas-jelas kau menanyakan pendapatku, jadi aku menjawabnya," sahut Draco tenang. Tangannya masih sibuk memainkan pena bulunya.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi kalau begitu," ujar Hermione. Draco Malfoy masih tetap menyebalkan baginya walaupun—ini kemajuan—sudah tidak ada cibiran dan tatapan meremehkan yang terpancar dari wajah pucatnya.
"Ramuan ingatan. Aku tidak peduli kau setuju atau tidak. Kita akan mengerjakan ramuan ingatan," putus Hermione setelah beberapa menit membuka-buka halaman bukunya.
"Pilihan menarik, Granger," ucap Draco setuju. "Berapa lama prosesnya?"
Hermione mencermati bahan-bahan dan proses pembuatan ramuan ingatan dengan teliti. "Tidak lama. Hanya dua minggu. Tetapi banyak bahan-bahan yang harus dicari. Sepertinya kita justru akan memakan lebih banyak waktu untuk mencari bahan-bahannya dibandingkan membuatnya," sahut Hermione.
"Kapan kita akan mulai bekerja?" tanya Draco.
"Secepatnya," jawab Hermione sambil mengeluarkan pena bulu dan perkamennya untuk menyalin bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat ramuan ingatan.
Draco memperhatikan Hermione yang sudah menulis beberapa bahan yang dibutuhkan untuk membuat ramuan. Kedua alis laki-laki itu terangkat dan sudut bibirnya tertarik membentuk seringai kecil.
"Apakah kau lupa membawa tongkatmu, Granger?"
Hermione berhenti menulis ketika mendengar pertanyaan Draco. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum menyadari maksud dari kata-kata Draco. Tanpa bersuara, Hermione mengeluarkan tongkatnya dari dalam tas dan merapalkan mantra ke halaman tentang ramuan ingatan lalu menyalinnya ke perkamen yang dibawanya.
"Sepertinya ramuan ingatan memang sangat berguna untukmu, Granger. Jadi kau tidak akan melupakan fakta bahwa kau ini penyihir," ujar Draco dengan nada sarkastik-nya.
"Diam kau, Malfoy," balas Hermione pelan.
.
.
"Bagaimana pekerjaanmu, Mione?" tanya Harry sambil mengambil tempat duduk di sebelah Hermione yang sudah memulai makan malamnya.
"Aku tidak percaya kalau aku akan mengatakan ini, tetapi tidak ada masalah," jawab Hermione sambil menyuapkan sesendok sup ke dalam mulutnya.
"Apakah itu berarti Malfoy menjadi partner yang baik, eh?" tanya Harry lagi.
Hermione menjawab dengan mengangkat bahunya. "Bagaimana dengan Zabini?" Hermione balik bertanya.
"Well, terlepas dari ucapannya yang sering dikeluarkan tanpa berpikir terlebih dahulu, kurasa dia partner yang cukup bisa di ajak bekerja sama," sahut Harry sambil mengambil ayam goreng. "Kami sudah memutuskan ramuan apa yang akan kami buat dan sudah membagi tugas untuk mencari bahan-bahannya."
"Aku tidak percaya ini," sambung Ron. "Kalian berdua mendapatkan partner seorang Slytherin dan pekerjaan kalian terdengar jauh lebih baik dibandingkan dengan diriku. Aku bahkan belum menentukan akan membuat ramuan apa."
Harry dan Hermione sama-sama menoleh ke arah Ron dengan pandangan bingung. Ron balas menatap mereka dengan tatapan horror.
"Kalian tidak melupakan siapa partnerku kan?" bisik Ron.
Harry dan Hermione mendengus tertawa ketika mengingat siapa yang menjadi partner Ron. Laki-laki berambut merah itu kontan melotot pada kedua sahabatnya yang sedang menertawainya.
"Memangnya apa yang salah dengannya, Won-won?" goda Hermione.
Telinga Ron berubah menjadi semerah rambutnya mendengar panggilan yang diucapkan oleh Hermione.
"Jangan sebut-sebut nama itu, Hermione," gumam Ron degan sedikit gusar.
"Kurasa Lavender tidak seburuk itu, Ron," kata Harry sambil nyengir.
Ron hanya menggumamkan sesuatu yang tidak jelas dan memilih untuk mengisi piringnya dengan banyak makanan. Hermione hanya tersenyum geli melihat Ron namun tidak menyadari jika Harry memandangnya penuh arti.
.
.
Hari-hari berlalu dengan cepat. Sebulan telah berlalu tanpa disadari oleh Hermione. Akhir minggu ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua murid Hogwarts, yaitu kunjungan pertama ke Hogsmeade.
Hermione sudah berjanji dengan kedua sahabatnya untuk ikut menikmati akhir pekan bersama di Hogsmeade alih-alih menenggelamkan dirinya di antara tumpukan buku seperti biasanya. Sejujurnya, jika bukan karena Harry yang membujuknya untuk ikut, mungkin Hermione akan lebih memilih untuk memulai merebus ramuannya atau mencari bahan-bahan yang belum terkumpul.
"Ayolah, Hermione. Biarkan aku merasakan kehidupan sekolah yang normal hanya setahun ini saja, termasuk mengunjungi Hogsmeade." Dan dengan bujukan seperti itulah Harry berhasil mengajak Hermione untuk ikut.
Hermione turun dari asrama ketua muridnya. Lorong-lorong yang dilaluinya menuju aula depan penuh dipadati dengan murid-murid yang akan pergi mengunjungi Hogsmeade. Hermione bisa melihat bahwa antusiasme para murid kan kunjungan ini sangat tinggi.
Desa Hogsmeade yang mengalami kerusakan cukup parah ketika perang besar memang sudah dibangun kembali. Kabarnya desa itu sekarang tampak jauh lebih indah dan menarik. Maka dari itu Hermione sama sekali tidak heran kalau desa itu nanti akan padat dan sesak oleh pengunjung.
Sesampainya di aula depan, Hermione langsung mencari-cari dimana kedua sahabatnya itu berada. Hermione bahkan harus menjulurkan kepalanya ditengah keramaian anak-anak lain yang juga hendak keluar.
"Hermione! Disini!"
Hermione melihat Harry dan Ron melambai padanya dari arah pintu aula depan. Tanpa menunggu lagi, Hermione langsung menghampiri mereka.
"Kalian yakin akan pergi ke Hogsmeade? Di tengah keramaian seperti ini?" tanya Hermione dengan kedua alis terangkat.
"Well, kita sudah siap, jadi kenapa harus dibatalkan?" sahut Ron sambil mengangkat kedua bahunya.
Hermione baru akan mengeluarkan keluhannya ketika Harry terlebih dulu menyelanya. "Sudahlah Hermione. Kita nikmati saja. Lagipula bukankah sudah lama sekali kita bertiga tidak jalan-jalan bersama seperti ini?" ujar Harry.
Mereka bertiga kemudian mulai berjalan beriringan menuju Hogsmeade. Selama perjalanan itu mereka membicarakan berbagai hal. Mulai dari N.E.W.T—yang tentu saja dimulai oleh Hermione—sampai pertandingan quidditch pertama yang akan dilangsungkan minggu depan—yang tidak pernah membuat Hermione tertarik.
"Biar kutebak, kalian pasti berlatih gila-gilaan dalam beberapa hari ini?" kata Hermione pada Harry dan Ron.
"Tentu saja, Hermione," balas Harry bersemangat. Hermione tersenyum kecil. Sudah lama sekali rasanya sejak dia melihat Harry begitu bersemangat soal quidditch.
"Kita pasti bisa mengalahkan Slytherin!" sambung Ron yang tidak kalah semangatnya.
"Di pertandingan minggu depan, Gryffindor akan melawan Slytherin," jelas Harry ketika Hermione menaikkan alisnya bingung.
"Ah, begitu," Hermione mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Kudengar Zabini yang memperoleh jabatan ketua tim quidditch Slytherin tahun ini, Harry. Benarkah itu?" tanya Ron.
Harry mengangguk mengiyakan. "Ya. Dan karena itu jugalah kami berdua sepakat tidak akan mengerjakan tugas ramuan kami sebelum pertandingan selesai. Kami tidak mau mengambil resiko tergoda untuk melukai satu sama lain," ujar Harry sambil mengeluarkan cengirannya.
"Malfoy juga akan kembali bermain sebagai seeker," lanjut Harry dan membuat kedua sahabatnya menoleh ke arahnya. "Zabini yang memberitahuku."
"Malfoy?" ulang Ron. "Draco Malfoy?"
"Berapa Malfoy yang kau kenal bersekolah di Hogwarts, Ron?" balas Harry.
"Dia akan kembali bermain? Oh, kau harus mengalahkannya, Harry!" seru Ron dengan semangat yang kembali berapi-api.
Hermione hanya memutar bola matanya sementara kedua sahabatnya terus mengoceh tentang pertandingan quidditch dan mendiskusikan berbagai taktik supaya mereka bisa menang melawan Slytherin. Hermione mendengus kesal. Kalau pada akhirnya Harry dan Ron sibuk dengan dunia quidditch mereka seperti itu, lalu apa gunanya mereka mengajak Hermione?
"Kalau kalian mengajakku ke Hogsmeade hanya supaya aku menjadi pendengar setia obrolan seru kalian, lebih baik aku kembali dan mulai merebus ramuanku sekarang." Hermione akhirnya meluapkan kekesalannya.
Mereka bertiga sudah duduk di Three Broomstick yang sudah dibangun ulang. Madam Rosmerta sepertinya sangat mencintai tampilan Three Broomstick yang dulu sehingga walaupun suda dibangun ulang, tempat ini masih terasa sama seperti sebelumnya.
Harry dan Ron menghentikan diskusi mereka dan menoleh bersamaan ke arah Hermione. Gadis berambut cokelat itu menatap mereka dengan kesal dan kedua tangan dilipat di depan dada.
"Maafkan kami, Mione. Kami terlalu terbawa suasana," kata Harry sambil nyengir.
"Kenapa sih kau tidak menyukai quidditch, Mione?" taya Ron dengan nada seolah tidak menyukai quidditch adalah sebuah dosa besar.
"Memangnya kenapa kalau aku tidak menyukainya?" tanya Hermione dengan kedua alis terangkat. "Sejak dulu aku menganggap olahraga itu berbahaya. Lihat saja Harry! Sudah berapa kali dia harus bermalam di rumah sakit karena olehraga itu?"
"Bicara soal bahaya, apakah kau sudah melihat Turbo 2007? Jauh lebih cepat daripada firebolt dan dilengkapi dengan sistem keamanan yang lebih hebat! Kau tidak akan terjatuh dari sapumu walaupun ada seratus dementor yang mengelilingimu!" Ron kembali mengoceh dengan heboh mengenai jenis sapu terbang yang baru keluar dan berapa kira-kira galleon yang harus dikeluarkan untuk sapu itu. Harry—sebagai orang yang memiliki kesukaan yang sama—tentu saja mendengarkan dengan tidak kalah bersemangatnya. Sekali lagi, Hermione memutar kedua bola matanya.
.
.
Malam ini Hermione kembali mengelilingi perpustakaan seperti malam-malam sebelumnya. Tidak pernah sekalipun Hermione merasa bosan berada di tempat itu, walaupun tentu saja Hermione sudah mengelilingi setiap sudut perpustakaan itu sejak tahun pertamanya di Hogwarts.
Besok pagi dia akan menghadapi ujian Herbologi dan Hermione memutuskan untuk belajar semalaman di perpustakaan. Sejak dulu Hermione memang lebih suka belajar di perpustakaan daripada di asramanya. Alasannya adalah, asrama Gryffindor memang bukan tempat yang cocok untuk menjadi tempat belajar bagi orang-orang seperti Hermione (terkadang Hermione merasa penasaran seperti apakah suasana asrama Ravenclaw). Hermione juga tidak ingin belajar di asrama ketua murid karena—entahlah, pokoknya Hermione lebih memilih perpustakaan sebagai tempat belajarnya.
Hermione membawa berbagai tumpukan buku Herbologi di tangannya. Tumpukan buku itu cukup tinggi sampai menghalangi pandangan Hermione dan membuat Hermione cukup kesulitan untuk berjalan maju. Hermione baru menghela napas lega ketika akhirnya semua bukunya sudah dia letakkan di salah satu meja.
"Sebenarnya kemana perginya tongkatmu, Granger?"
Hermione menoleh ketika mendengar nada suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya. Hermione menemukan Draco Malfoy sedang duduk di seberang meja tempat dia baru saja meletakkan buku-bukunya. Draco sama sekali tidak menatap Hermione melainkan tetap membaca buku di depannya. Bola matanya bergulir dari kanan ke kiri, ke kanan dan ke kiri lagi yang menunjukkan bahwa pemuda pirang itu benar-benar membaca buku itu.
"Apa yang kau lakukan disini, Malfoy?" tanya Hermione bingung. Draco Malfoy di perpustakaan? Sangat tidak masuk akal. Perpustakaan jelas tidak akan masuk ke dalam daftar tempat dimana Draco ingin menghabiskan waktunya.
"Apa yang kau lakukan disini, Granger?" Draco mengulang pertanyaan Hermione.
"Belajar, tentu saja," jawab Hermione cepat.
"Nah, bukankah kau sudah menjawabnya?" kata Draco santai dan tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.
Hermione mendengus kesal. Dimanapun tempatnya, Draco Malfoy memang selalu bisa membuatnya kesal, sekalipun itu di tempat kesukaan Hermione.
"Apa yang kau baca?" Hermione menyipitkan matanya heran ke arah buku yang sedang dibaca oleh Draco. Gadis itu benar-benar penasaran, buku apa yang bisa membuat seorang Malfoy membacanya sampai terlarut.
"Kau akan menjalani ujian apa besok, Granger?" Hermione mengangkat alisnya mendengar pertanyaan Draco. Apakah laki-laki itu tidak bisa tidak menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan?
"Herbologi," sahut Hermione.
"Jadi untuk apa kau bertanya lagi?"
Baiklah. Hermione memutuskan untuk tidak akan berbasa-basi lagi dengan Malfoy muda di hadapannya itu.
Masih dengan sedikit perasaan kesal, Hermione mulai duduk dan membaca buku pertamanya tanpa melihat lagi ke arah Draco.
Selama belasan menit berikutnya, hanya ada suasana hening yang meliputi sepasang ketua murid itu. Mereka berdua tampaknya sudah sama-sama terlarut dalam buku bacaan masing-masing.
"Apa yang kau baca, Granger?" Draco tiba-tiba kembali mengeluarkan pertanyaan untuk Hermione.
Hermione tidak langsung menjawab pertanyaan pemuda itu bahkan tidak juga menoleh menatapnya. Hermione hanya meliriknya sekilas dan melihat bahwa Draco sudah selesai dengan buku yang dibacanya. Partner ketua muridnya itu sekarang sedang menatapnya dengan ekspresi datar seperti biasanya dan kedua tangan yang dilipat di atas meja.
"Kau akan menjalani ujian apa besok, Malfoy?" Hermione mengulang pertanyaan jawaban Draco tadi.
Draco mengeluarkan seringai-nya dan terkekeh pelan mendengar Hermione membalasnya dengan mengutip kata-katanya. "Herbologi," jawab Draco.
"Jadi untuk apa kau bertanya lagi?" Sekali lagi Hermione berhasil menirukan ucapan Draco lengkap dengan nada sarkastik khas Malfoy.
"Apa kau tahu kalau aku tidak suka diganggu ketika sedang membaca, Granger?" tanya Draco.
"Well, yang aku tahu adalah sekarang kau sedang mengganggu kegiatan membacaku, Mr. Malfoy," balas Hermione yang masih tetap membaca bukunya walaupun semakin sedikit informasi yang bisa di olahnya di otak.
"Jadi kau juga tidak suka kalau ada yang mengganggumu saat membaca, Granger?" Draco masih bertahan dengan seringainya.
"Tutup mulutmu sekarang juga atau aku akan benar-benar menggunakan tongkatku kali ini, Malfoy," ancam Hermione yang kali ini benar-benar pecah konsenterasinya sehingga dia harus mengulang membaca satu halaman dari awal.
Draco terkekeh pelan. Pemuda itu kemudian mengambil buku yang tadi dibacanya dan beranjak pergi. Selama beberapa saat Hermione mengira kalau Draco sudah pergi meninggalkan perpustakaan, tetapi gadis itu kemudian mengangkat kedua alisnya dengan heran ketika melihat Draco kembali dengan membawa dua buku lain. Ketua murid laki-laki itu kembali duduk di tempat dia duduk sebelumnya dan mulai membaca buku pertama tanpa berkata apa-apa.
Perhatian Hermione kini tidak lagi tertuju pada buku yang belum selesai dibacanya melainkan pada Draco. Kedua alis Hermione saling bertautan ketika dia memandang Draco yang sedang sibuk dengan bukunya.
"Aku tidak pernah tahu kalau kau suka membaca, Malfoy," kata Hermione.
"Kau sudah lupa tentang apa yang aku katakan tadi, Granger?" sahut Draco.
Hermione mengerucutkan bibirnya dengan sebal. Draco Malfoy tetaplah Draco Malfoy, seorang pemuda yang selalu punya cara untuk membuatnya kesal.
"Aku juga tidak pernah tahu kalau kau suka belajar, Malfoy," lanjut Hermione yang tidak lagi peduli dengan apa yang dikatakan oleh Draco.
"Memang tidak," balas Draco.
"Lalu?" Hermione mengernyit bingung. "Apa yang kau lakukan disini? Belajar kan?"
"Kalau aku tidak suka belajar, bukan berarti aku tidak mau belajar kan?" sahut Draco.
"Kenapa kau tiba-tiba menjadi rajin belajar? Sepertinya dulu kau tidak peduli dengan nilaimu," tanya Hermione dengan sedikit takut kalau-kalau dia menyinggung Draco.
"McGonnagal sudah begitu baik memperbolehkanku kembali kesini, jadi aku tidak mungkin mengecewakannya kan?" ucap Draco.
Hermione terpana mendengar kata-kata Draco. Dia sama sekali tidak menyangka jika seorang Draco Malfoy akan mempunyai pikiran seperti itu.
"Kau benar-benar punya pikiran seperti itu, Malfoy?"
Draco akhirnya mengalihkan pandangannya dari buku ke arah Hermione. Ekspresi wajahnya tetap tidak terbaca seperti biasanya.
"Memangnya kenapa?" tanyanya pada Hermione. "Kau takut jika aku berhasil mengalahkan nilaimu, Granger?"
"Jangan bermimpi, Malfoy," dengus Hermione.
Draco menyeringai, "Kenapa tidak? Kau tidak pernah tahu kan berapa nilai yang bisa aku peroleh jika aku belajar dengan giat?"
Hermione menyipitkan matanya menatap Draco. Dia tahu kalau pemuda itu serius dengan kata-katanya. Hermione juga tahu kalau Draco memang bisa menjadi saingan terberatnya jika pemuda itu giat belajar. Satu tahun pengalaman pemuda itu untuk memperbaiki lemari pelenyap dan meyelundupkan pelahap maut ke dalam Hogwarts tanpa bisa terdeteksi di tahun keenamnya setidaknya membuktikan bahwa dia memang punya otak.
"Tidak ada yang bisa kulakukan saat ini selain belajar, Granger. Setelah aku lulus nanti, aku akan melanjutkan perusahaan ayahku. Setidaknya aku harus lulus dengan nilai yang memuaskan, jadi tidak akan ada yang berani meragukan kemampuanku," lanjut Draco tanpa meninggalkan nada angkuh khas Malfoy-nya.
Malfoy corp—terima kasih pada Harry—berhasil melewati masa kritisnya dan bangkit kembali. Dalam diri seorang Lucius Malfoy memang sesungguhnya adalah seorang pengusaha yang hebat. Ditambah dengan kepercayaan yang diberikan Harry pada keluarga Malfoy, masyarakat dunia sihir-pun perlahan bisa menerima keluarga Malfoy, walaupun tidak sedikit juga yang masih mencela perbuatan mereka di masa lalu.
"Keluargaku sangat bergantung padaku, Granger," Draco masih melanjutkan kata-katanya. "Jadi aku akan sangat berterima kasih sekali jika kau mau mengalah dan menyerahkan posisi juara pertama padaku, Granger."
Draco menarik sudut bibirnya membentuk seringai andalannya ketika melihat Hermione melotot padanya.
"Bermimpi saja sana, Malfoy," desis Hermione sambil kembali membaca bukunya, begitu pula dengan Draco.
.
.
To Be Continue
