Tap tap tap

Akashi berjalan menyusuri lorong istana.

"Ck, Queen memang menganggu tea timeku. Mana tadi malah minum m*rjan. Apa Satsuki tidak sadar kalau vampire murni itu hanya minum darah." Umpat Akashi dalam hati.

Yah bad day buat Akashi. Dia pengen gak usah pergi ke istana, tapi bisa dibilang Queen itu lebih menyeramkan saat marah. Jadi mau bagaimana lagi.

Bruk

Akashi menatap orang yang ditabraknya. Ia menatap orang itu dengan tatapan dingin.

"Bukankah kau seharusnya meminta maaf, Akashi-kun." Ujar orang itu.

"Ck, siapa kau berani memerintahku! Mau meminta maaf atau tidak itu urusanku! Lagipula apa kau tidak tau kalau aku ini pure blood?! Vampire tingkat bawah sepertimu tidak seharusnya memanggilku begitu!" Bentak Akashi sambil membersihkan bahunya dari debu.

Hawa dingin keluar dari tubuh orang yang ditabrak Akashi. Orang itu mengangkat kepalanya, iris matanya mulai menatap tajam Akashi.

"Aku Kuroko Tetsuya. Dan aku juga pure blood Akashi-kun." Kata Kuroko sambil berdiri. Kuroko berjalan mendekati Akashi. Jalan yang ia injak mulai terselimuti oleh es tipis.

"Mau bertarung ya." Ucap Akashi sambil mengeluarkan evil smilenya.

Settt.. Brakk

Kuroko jatuh menimpa Akashi. Jika kalian tanya kenapa mereka seperti itu, jawabannya adalah karena Midorima. Ia salah tempat waktu berteleport dan datang dengan menyenggol Kuroko.

"Gawat, salah tempat nanodayo." Ucap Midorima sambil berteleport lagi.

Sepertinya makhluk hijau satu itu tidak mengerti akibat dari ulahnya.

Alhasil karena posisi mereka, Akashi dan Kuroko pun berciuman. Entah mereka memang masih belum sadar, atau menikmatinya~

"Manis, tidak kusangka ada rasa yang lebih enak dari darah." Ucap Akashi sambil menyesap bibir Kuroko.

Akashi mulai kehilangan pengendalian dirinya, ia mulai mencium Kuroko dengan panas. Kuroko hanya bisa diam, tapi perlahan ia mulai membalas ciuman Akashi. Mereka berciuman cukup lama, tapi setelah keduanya sadar apa yang mereka lakukan..

"Apa apaan kau?! Beraninya menciumku." Ucap Akashi sambil menghapus jejak bibir Kuroko di bibirnya (nanti bakal nyesel tuh~ XD)

Kuroko hanya bisa diam dengan mukanya yang memerah. Jujur itu ciuman pertamanya. Ia memutuskan untuk segera ke ruangan Queen. Akashi yang melihat itu menarik tangan Kuroko (halah ribet amat)

"Kau mau pulang lagi? Ruangan Queen ada disana bodoh." Kata Akashi sambil menunjuk pintu diujung lorong.

Ups, Kuroko hanya bisa memasang wajah datar walaupun dalam hatinya ia malu sekali.

"Sudahlah ayo cepat." Sikap Akashi mulai melunak pada Kuroko. Akashi menarik (read: menggandeng) Kuroko menuju ruang Queen.

Sepertinya ada yang terkena virus love at first sight.

-Other Side-

Kise melayang menuju ruang Queen. Penampakannya sudah persis seperti hantu. Bedanya ia terlalu modis untuk golongan hantu. Saat sedang melayang, entah ulah usil siapa atau memang kebetulan. Ada seekor cacing tanah tepat di tangannya. Alhasil sang model berambut kuning itu panik. Berusaha menyingkirkan cacing tanah dari tangannya. Kise melayang dengan tidak terkontrol. Dan tanpa sadar ia memeluk seorang beruang /salah /ditabok Aomine/. Kise memeluk Aomine saking takutnya.

"Oii.. Apa apaan ini?." Tanya Aomine yang mendapat serangan tiba-tiba. Ia merasakan dada kise menempel di mukanya.

"Ini cewek dadanya kok kayak triplek ya." Kata Aomine dalam hati.

"T..tadi ada cacing di tanganku ssu. Tolong singkirkan." Ucap Kise dengan mata berkaca kaca.

"Singkirkan saja sendiri." Kata Aomine dengan nada malas.

"Hidoi ssu.." Kata Kise sambil terisak.

Melihat Kise yang seperti itu, Aomine malah tersenyum melihatnya.

"Kalau dilihat lihat sepertinya gadis ini manis juga." Ujar Aomine dalam hati. Sepertinya ia masih salah tanggap.

"Baik baik, akan kusingkirkan." Aomine pun menyingkirkan cacing dari tangan Kise.

"Jadi sampi kapan kau akan terus memelukku?" Goda Aomine.

Kise pun mulai melepaskan pelukannya.

"G..gomen." Kata Kise dengan muka yang memerah.

"Oh iya. Kau vampire juga kan? Pure blood?" Tanya Aomine.

"Iya, memangnya kenapa ssu?" Ucap Kise.

"Seharusnya kau lebih seksi sedikit. Memalukan nama pure blood saja. Baru kali ini aku bertempu dengan vampire wanita yang mempunyai dada serata ini." Kata Aomine sambil mengamati badan Kise.

"Aku ini laki-laki ssu!" Teriak Kise.

"Kisechin, Minechin. Kalian sudah ditunggu Queen. Jadi jangan bertengkar dijalan." Kata Murasakibara yang lewat dengan setumpuk snack.

"Temanmu?" Tanya mereka berdua bersamaan.

"Aku gak kenal ssu." Ucap Kise sambil menggelengkan kepalanya.

"Lalu kenapa dia kenal kita?" Tanya Aomine.

Murasakibara hanya bisa menyeringai mendengar percakapan mereka berdua.

-Queen's Room-

"Yaa terus maju! Ah siall! Kenapa pakai nabrak sih! Cih stiknya gak bisa dipake nih." Teriakan Queen menggema di ruangan.

Seorang Queen bermain PS3? Oh ayolah seseorang pasti akan butuh refreshing. Apalagi jika mereka sibuk dengan urusan negara.

"Queen, mereka sudah datang. Sebaiknya anda segera berganti pakaian." Ucap Hyuga dengan sopan.

"Hee ganti sekarang? Aku sedang main, bilang pada mereka untuk menunggu 1 jam lagi." Kata Queen.

"Queen, cepatlah atau tidak ada cemilan untukmu." Ancam Hyuga.

"Huh aku kan seorang Queen. Butler mana boleh berkata seperti itu." Ujar Queen sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.

"Queen!" Bentak Hyuga, aura devil miliknya mulai keluar.

"Baik baik" Queen pun berjalan menuju ruang ganti ditemani dengan belasan maid.

-Other side-

"Jadi ini tempat Queen? Kenapa berantakan sekali ssu." Ujar Kise sambil berjalan menuju sofa.

"Ruangan ini luas sekali, ah enak sekali Queen. Kalau aku yang terpilih pasti tempat ini akan kubuat dengan banyak maid oppai." Ucap Aomine sambil membayangkan dirinya dikelilingi banyak maid seksi.

"Kenapa ada pure blood yang mesum sepertimu?" Kata Akashi sambil menatap tajam Aomine.

"Memangnya salah hah? Daripada sepertimu. Terlalu aneh, apa kau pikir kau tuan muda bangsawan?" Kata Aomine sambil tersenyum mengejek.

"Aku memang tuan muda, Aomine Daiki. Aku dari keluarga Akashi, salah satu keluarga bangsawan." Ucap Akashi dengan tatapan mata yang dingin.

Aomine berusaha mengabaikan Akashi, toh dia gak kenal ini. Mau bangsawan atau bukan, bukan masalah buat dia.

"Salah apa aku hingga harus bersama makhluk seperti ini nanodayo." Keluh Midorima dalam hati. Daripada ikut terlibat, ia lebih memilih diam dan melihat semuanya.

"Di tempat Queen ternyata banyak cemilan ya." Ucap Murasakibara sambil berjalan menuju tempat para pure blood berkumpul.

"Whoa kau orang yang tadi ssu." Ucap Kise sambil menunjuk Murasakibara.

"Oh iya kenapa tadi kau tau nama kami?" Tanya Aomine. Ia sedikit tertarik dengan kemampuan Murasakibara.

"Ternyata kau benar-benar bodoh, Daiki. Apa kau tidak pernah membaca sejarah?" Kata Akashi.

"Whatever dengan sejarah. Memangnya kau tau apa kemampuannya?" Ujar Aomine sambil menyenderkan badannya di sofa.

"Tentu saja aku tau. Masing masing dari pure blood mempunyai 3 kemampuan. Berbeda dengan vampire biasa. Kau adalah Murasakibara Atsushi, kemampuan utamamu adalah Mind Read." Ucap Akashi sambil menunjuk Murasakibara.

"Kau Kise Ryouta, kemampuanmu utamamu Light. Kau, Ahomine Daiki. Kemampuan utama Fire. Dan Midorima Shintarou, kemampuan utamanya adalah Teleportation." Jelas Akashi.

"Hei kau tidak menyebutkan dia." Protes Aomine sambil menunjuk Kuroko.

"Aku Kuroko Tetsuya. Kemampuan utama Invisible." Ucap Kuroko.

"Bagaimana denganmu Akashi? Apa kemampuanmu?" Tanya Midorima sambil membetulkan letak kacamatanya.

"Akashi Seijuurou, kemampuan Emperor Eye." Kata Akashi dengan tatapan angkuh.

"Ternyata kalian sudah saling mengenal satu sama lain." Ucap seseorang sambil berjalan mendekat ke arah mereka.

"Queen.." Sontak mereka berenam bangun dari tempat duduk dan memberi hormat.

"Terlalu formal seperti biasa ya~" Ucap Queen sambil tersenyum.

"Itu karena ada dia." Bisik Aomine sambil menunjuk Hyuga.

"Dia memang cerewet ya. Seperti nenek nenek." Bisik Queen.

"Kok kau bisa betah dengannya ssu?" Tanya Kise.

"Mungkin itu keajaiban alam." Kata Queen.

"Sudah sudah hentikan acara menggosipnya. Dan Queen jagalah wibawamu." Ucap Hyuga yang sudah kesal.

"Tuh kan.." Ujar Queen dan Kise bersamaan. Mereka berdua tersenyum seperti anak kecil.

Hyuga hanya bisa pundung dipojok sambil meratapi nasibnya.

"Salah apa ya sampai bisa punya Queen kayak gitu. Kayaknya malem jumat kemaren sajennya kurang. Mungkin harus diganti kembang 13 rupa." Pikir Hyuga ditengah tengah kegiatan barunya.

Yah mari kita tinggalkan Hyuga yang sibuk memikirkan sajen~

"Jadi kenapa kau memanggil kami kesini Queen?" Tanya Akashi.

"Sei-chan dari kecil sampai sekarang selalu berbicara to the point ya." Kata Queen sambil tersenyum.

"Sei-chan? Pffftttt." Tawa Aomine mulai terdengar.

"Kau.." Akashi mulai menatap Aomine. Dia mulai menggunakan kekuatannya.

"Stop, Sei-chan. Sesama pure blood tidak boleh menyakiti." Queen mematahkan kekuatan Akashi. Jika kekuatannya tidak dipatahkan, Aomine pasti akan mati.

Queen berjalan menuju single sofa. Ia duduk disana. Dari wajahnya dia sudah menunjukan wajah serius.

"Riko, tolong ambilkan minuman untuk kami." Perintah Queen pada maidnya.

"Baik Queen." Riko membungkuk dan segera mengambil minum. Dalam hitungan detik ia sudah kembali dengan 7 gelas yang berisi cairan berwarna merah di dalamya.

"Silahkan dinikmati." Ucap Riko usai menaruh semuanya di meja. Ia segera pergi keluar ruangan setelah membungkukan badannya.

"Ayo diminum." Kata Queen sambil tersenyum.

"Ini bukan sirup m*rjan kan?" Tanya Akashi yang ternyata masih trauma dengan kejadian sebelumnya.

"Wanginya enak ssu." Ucap Kise sambil menghirup aromanya.

"Ini kental sekali nanodayo." Kata Midorima sambil menggoyangkan gelasnya.

"Hei Queen. Ini bukan darah manusia kan." Ujar Aomine.

"Queen apa ini darah hewan?" Tanya Murasakibara.

Kuroko tidak ikut berkomentar. Ia berpikir kenapa minuman ini berbau menyengat? Apa sesuatu dimasukan dalam minuman ini?

"Akan kujawab pertanyaan kalian" Queen mengambil gelasnya sendiri.

"Ini darah unicorn. Aku tau kalian belum pernah meminumnya." Ucap Queen sambil meminumnya.

"Darah unicorn?!" Teriak mereka berenam dalam hati.

"Apa ini akan baik baik saja?" Tanya Akashi dalam hati sambil melihat gelasnya.

"Ya, itu akan baik baik saja Sei-chan. Karena untuk kali ini aku yakin kalian akan membutuhkannya." Ujar Queen.

Mereka berenam mulai minum darah unicorn. Rasanya pahit. Mereka kompak menaruh gelasnya.

"Rasanya tidak seenak aromanya ssu." Ucap Kise.

Queen hanya menyeringai. Sebenarnya sih dia ingin tertawa. Tapi ia sedikit tidak tega~

"Tugas yang berat ya Queen." Ucap Murasakibara.

Queen melihat Murasakibara. Ternyata sudah ada yang mengerti maksud semua ini.

"Ini akan jadi semakin menarik." Pikir Queen.

"Tugas? Bukankah kau akan memberitahu ramalan nanodayo?" Tanya Midorima yang sedikit terkejut.

"Tenang Shin-chan. Kau akan menemukan ramalanmu dalam tugas ini." Kata Queen dengan santai.

"Jadi apa kau bisa menjelaskan pada kami tentang tugas ini?" Tanya Kuroko.

"Tentu. Tugas kalian lumayan berat. Kalian pergilah ke ruang bawah tanah istana. Disitu ada 3 pintu. Kalian akan kubagi menjadi 3 kelompok. Kalian harus pergi ke cermin kebenaran. Di dalam ruang bawah tanah ada jebakan. Jadi berhati-hatilah. Kelompok pertama adalah Akashi dan Kuroko. Kelompok kedua adalah Aomine dan Kise. Kelompok ketiga adalah Midorima dan Murasakibara." Jelas Queen.

Queen mengeluarkan tiga lembar kartu. Ia memberi kartu itu pada Akashi, Aomine dan Midorima.

"Jika kartu ini sudah berubah. Tandanya kalian dalam bahaya." Ucap Queen.

Mereka bertiga membalik kartu itu. Kosong. Itu hanya selembar kartu tarot tanpa ramalan yang jelas di depan.

"Apa maksudnya ini?" Tanya Akashi.

"Aku sudah menjelaskannya tadi, jadi aku tidak akan menjelaskannya lagi." Ujar Queen dengan tatapan dingin.

"Kuperintahkan kalian segera melakukan tugas kalian." Perintah Queen. Ia menjentikan jarinya dan seketika mereka berenam pindah ke depan ruang bawah tanah.

Disitu ada 3 pintu gold, silver dan bronze.

"Aku akan masuk pintu gold. Ayo Tetsuya." Ucap Akashi sambil menarik tangan Kuroko.

"Jadi aku akan masuk pintu silver." Ucap Aomine malas malasan.

"Bronze ya." Ucap Midorima.

-Continue-

Preview chapter:

"Apa apaan ini!" Teriak Aomine.

"Sialan kau Queen. Kau menjebak kami." Teriak Akashi sambil terus mengeluarkan kekuatannya.

"Takao!" Ucap Midorima sambil memukul tabung yang menyimpan tubuh Takao.

Hoo jadi bagaimana dengan chapter ini? Baguskah atau aneh? Oh iya genre berubah sesuai alur cerita ya~ Akhir kata review please *smile*