-Gold Door-

"Disini gelap." Ujar Akashi sambil melihat ke sekeliling.

"Kau benar Akashi-kun. Kira-kira disini ada penerangan gak ya." Ucap Kuroko sambil meraba dinding. Berharap menemukan saklar disana.

"Jangan terpisah dariku Tetsuya. Sudahlah lebih baik kita jalan terus saja." Kata Akashi sambil menggandeng Kuroko.

-Silver Door-

"Silau banget disini." Kata Kise sambil menyipitkan matanya.

"Oi Kise. Apa kau memakai kekuatanmu?" Tanya Aomine.

"Tidak ssu. Aku belum memakai kekuatanku. Tapi apa kau merasa ada yang aneh disini? Kenapa badanku makin lama makin lemas ya." Ujar Kise.

"Hah mungkin cuma perasaanmu Kise. Sudahlah jangan manja begitu." Aomine mulai berjalan duluan. Queen sedang mempermainkan mereka rupanya. Aomine sudah merasakannya sejak ia dan Kise di depan pintu. Tapi dia lebih memilih diam saja.

"Jangan tinggalkan aku ssu." Kise mengejar Aomine.

-Bronze Door-

"Disini tidak ada apa apa Midochin." Ucap Murasakibara sambil melihat ke kanan kiri.

Mereka berdua berjalan menyusuri ruangan itu. Sepanjang jalan hanya terdengar suara nyam nyam krauk krauk kress. Midorima berusaha mengabaikan suara suara itu. Yah walaupun gak sepenuhnya berhasil.

"Apa kau bisa berhenti makan nanodayo." Protes Midorima.

"Tidak, karena makan adalah rutinitas yang tidak bisa ditinggalkan Midochin." Kata Murasakibara sambil memakan pockynya.

Midorima hanya bisa face palm mendengar jawaban dari makhluk ungu satu itu.

(Warning! Mulai dari sini cerita akan dilanjutkan dari masing masing door. Ini dilakukan biar pada gak pusing bacanya)

-Gold Door-

Mereka berdua berjalan lurus. Akashi terus menggenggam tangan Kuroko. Jujur dia takut dikegelapan seperti ini. Karena saat gelap kau tidak dapat memprediksi apa yang akan muncul di depanmu.

"Akashi-kun. Tanganmu berkeringat." Ujar Kuroko dengan wajah datarnya.

"Hawa disini panas Tetsuya." Ucap Akashi yang berusaha memberi alasan normal.

"Tapi Akashi-kun, tanganku kan sedingin es." Kata Kuroko sambil menatap Akashi.

Hening...

"Sial, bisa bisanya aku lupa dengan kekuatannya." Pikir Akashi.

"Sudahlah lupakan saja soal tanganku Tetsu.." Kata-kata Akashi belum selesai tapi orang yang dia genggam tangannya sudah hilang bagai ditelan kegelapan.

"Tetsuya! Jika kau menggunakan kekuatanmu saat aku berbicara, kau akan kuberi hukuman." Teriak Akashi dengan lantang. Tapi ia tidak mendapat jawaban apapun.

Dukk dukk

Akashi menoleh ke sumber suara. Ia berjalan mendekatinya. Di depannya ada sebuah dinding kristal yang menutupi jalan.

"Kristal? Kenapa ada disini?" Tanya Akashi dalam hati.

Akashi baru sadar kalau lantai yang diinjaknya sudah tergenang air. Jangan jangan...

Akashi menengok ke dalam kristal. Disana ada Kuroko yang berusaha mengeluarkan kekuatannya. Tapi hal yang dilakukan Kuroko tidak membuahkan hasil apapun.

"Tetsuya! Bekukan airnya!" Perintah Akashi.

Kuroko hanya bisa menggeleng lemah. Akashi sadar bahwa air di dalam kristal bukan air biasa. Akashi mencoba mengeluarkan kemampuannya. Ia harus bisa mengubah kemampuannya.

"Sialan kau Queen. Kau menjebak kami." Teriak Akashi sambil terus mengeluarkan kekuatannya.

Kekuatan Akashi pun tidak bisa memecahkan kristal itu. Untuk mendapat kemampuan baru memang mustahil sekarang.

"Tetsuya, apa yang harus kulakukan?" Tanya Akashi frustasi. Ia hanya bisa terdiam sambil memegang kristal itu.

-Silver Door-

"Aominecchi, apa kau mendengar ada suara langkah yang mendekat?" Tanya Kise sambil berjalan disamping Aomine.

"Haa? Mungkin cuma perasaanmu saja Kise." Ucap Aomine dengan malas.

"Yang penting bukan hantu ini." Pikir Aomine.

Kise berhenti mendadak. Aomine yang melihatnya cuma keheranan.

"Oi Kise, kau kenapa? Apa kau kebelet ke kamar mandi?" Tanya Aomine.

"A..Aominecchi itu black shadow." Tunjuk Kise sambil berjalan mundur.

Aomine terbelalak. Bagaimana bisa ada makhluk mengerikan semacam ini disini. Ada 1, 2, 3... 12. Makhluk ini ada 12. Melawan satu saja sudah membuatnya kelelahan. Jika 12 apa mereka sanggup?

Aomine maju duluan. Ia menggunakan kekuatan apinya. Membakar 3 black shadow. Awalnya itu memang berhasil, tapi beberapa detik kemudian black shadow yang terkena serangan pulih kembali. Para black shadow mulai menyeringai. Mereka senang menghisap kekuatan para vampire, apalagi ini pure blood.

"Apa apaan ini!" Teriak Aomine.

"Aominecchi, apa kita bisa selamat?" Tanya Kise sambil tersenyum pedih.

"Semoga saja bisa." Ucap Aomine.

-Bronze Door-

Jika di door lain sedang ricuh, di bronze door keadaan masih sama saja. Cuma terdengar suara kunyahan Murasakibara.

"Apa yang lain semudah ini nanodayo?" Pikir Midorima.

"Midochin, di depan ada pintu. Dan sepertinya itu memakai kartu yang diberi Queen." Ucap Murasakibara.

"Aku tau itu nanodayo." Kata Midorima.

Midorima berjalan menuju pintu. Ia menempelkan kartu itu di tempat yang disediakan. Pintu itu pun terbuka, terlihat ruangan berwarna ungu.

"Apa ini ruang eksperimen? Kenapa banyak peralatan operasi disini?" Ucap Midorima sambil memegang beberapa benda disana.

"Murochin..." Ujar Murasakibara sambil berjalan ke tengah ruangan.

"Muro?" Midorima menengok ke arah Atsushi.

Di tengah ruangan terdapat dua tabung besar, yang sepertinya berisi. Midorima mendekati tabung itu. Rasanya ia mengenali sesuatu.

"Takao!" Ucap Midorima sambil memukul tabung yang menyimpan tubuh Takao.

"Kenapa? Kenapa Takao bisa ada disini?" Pikir Midorima.

"Midochin apa kau bisa menyelamatkan Murochin?" Tanya Murasakibara.

"Aku tidak yakin, tapi aku akan mencobanya." Midorima mulai berkutat dengan berbagai kode disana.

Berhasil, tabung itu terbuka. Takao dan Himuro berjalan keluar dari tabung.

"Murochin~" Ucap Murasakibara sambil tersenyum.

"Bakao, kenapa kau ada disini?" Tanya Midorima, sisi tsunnya keluar lagi.

Takao dan Himuro bukannya berjalan ke arah Midorima dan Murasakibara tapi mereka berjalan ke arah pojok ruangan. Takao mengambil pedang, sedangkan Himuro mengambil sebuah pistol. Keduanya mengarahkan senjata itu ke arah Midorima dan Murasakibara. Pintu ruangan pun tertutup.

"Ternyata ini maksud Queen." Ucap Murasakibara. Warna matanya mulai berubah.

-Continue-

Ceritanya kenapa jadi begini... /plak

Maafkan saya minna, niatnya sih pengen bikin yang so sweet. Tapi imajinasi saya belum mengijinkan /halah/

Jadi gimana dengan chapter ini? Review please~