-Silver Door-

Kise mulai melayang di udara. Sepertinya ia juga tidak mau kalah dengan Aomine. Perlahan cahaya keluar dari ujung jarinya. Makin lama cahaya itu makin terang, dan akhirnya membakar semua black shadow.

"Yes, aku berhasil ssu." Ucap Kise sambil tertawa senang.

Kise menapak lagi di tanah.

"Kau terlalu cepat senang Kise. Mereka mulai muncul lagi." Kata Aomine sambil menjitak Kise.

"Bukan salahku kalau mereka muncul lagi, Ahomine." Ujar Kise sambil cemberut.

"Cih beraninya kau mengejekku, dasar cowok cantik." Ejek Aomine (atau pujian?).

"Apasih dasar dim! Harusnya kau bergabung saja dengan mereka." Ucap Kise sambil menunjuk para black shadow.

Black shadow hanya menyaksikan pertarungan mereka. Jujur para black shadow merasa terkacangi dan akhirnya mereka memutuskan menunggu drama Aokise hingga selesai.

"Dasar bencong!" Bentak Aomine.

"Hidoi ssu." Kise membuang mukanya.

"Tapi aku suka padamu bodoh!" Ucap Aomine.

Hening mencekam disana. Tidak salahkah? Mungkin Aomine frustasi dengan semua ini dan menjadi gila. Atau mungkin malah Kise sendiri yang terkena ilusi.

"Aominecchi, apa kau sakit?" Tanya Kise sambil menatap heran.

"Kau yang sakit bodoh. Sudahlah percuma berbicara denganmu." Aomine menyadari kalau kartu yang diberikan Queen sudah berubah. Di bagian depannya ada gambar The Lovers.

Kartu itu berarti pilihan ,pengorbanan, ujian hubungan. Yang manakah yang akan terjadi?

"Kise sebaiknya kau membuat pelindung, kalau kau terluka aku tidak akan bertanggung jawab." Ujar Aomine sambil melesat kencang.

Para dark shadow mengikutinya. Aomine membuat fire wall. Perlahan fire wall itu berubah menjadi kotak yang mengurung para dark shadow. Makin lama kotak api itu makin kecil dan perlahan habis.

Blarr

Kotak itu meledak. Aomine hanya bisa menatap tidak percaya. Kemampuannya dikalahkan begitu saja.

Para black shadow mulai mengeluarkan tawanya. Tawa yang menyeramkan. Mereka mulai mengelilingi Aomine yang masih terdiam. Kise segera terbang menarik Aomine.

"Aominecchi, sadarlah! Kita masih belum kalah!" Ucap Kise sambil menepuk nepuk pipi Aomine.

Kise mulai membuat pelindung untuk Aomine.

"Sekarang kita yang akan bermain ssu." Ucap Kise sambil menyibakkan poninya.

Kise mulai menampakkan dirinya yang sebenarnya.

Kise membuat sebuah rantai dari cahaya.

"Jadi yang mana anak nakal yang ingin bermain denganku ssu." Kata Kise sambil menyeringai.

Rantai itu mulai bergerak sesuai dengan perintah Kise. Rantai itu mulai mengikat 1, 2, 3, 4.. 11 black shadow.

"Dimana 1 lagi?" Pikir Kise.

Kise melirik ke arah Aomine. Black shadow yang satu lagi ada disana. Tapi kenapa...

Kenapa mereka berdua malah main uno?!

"Aominecchi kita sedang perang ssu." Omel Kise sambil melempar batu.

"Oi Kise, bisakah bersikap lembut sedikit?" Tanya Aomine.

Sabar Kis, sabar...

Akibat dari kelamaan mereka, posisi kini berbalik. Maksud berbalik bukan berarti Kise ditindih Aomine ya~

Kise sudah berada di tengah gerombolan black shadow. Dari posisi sih mereka sedang me-rape Kise. Terbukti dengan baju Kise yang sobek. Kise terus meronta sekuat kuatnya. Para black shadow mulai mengambil kekuatannya.

"Oi, lawan kalian yang sebenarnya ada disini." Ucap Aomine.

Rupannya ia sudah reversal. Dan saatnya untuk menunjukkan kekuatan barunya.

Di depan Aomine muncul sebuah lubang. Lubang yang perlahan lahan membesar. Kekuatan barunya adalah Black Hole.

Para black shadow tersedot ke dalamnya. Sebelum mereka benar benar tersedot. Mereka meluncurkan kutukan pada Kise. Tubuh Kise terpelanting keras.

"Sialan!" Amuk Aomine. Black Hole mulai tertutup dan akhirnya menghilang.

Aomine berlari mendekati Kise. Kise tersenyum melihat Aomine mendekatinya. Aomine melihat darah Kise dimana mana. Perut Kise pun sudah terkoyak.

"Kise minumlah darahku." Tawar Aomine.

Kise tidak mendengarkan ucapan Aomine. Apa mungkin dia sudah...

-Gold Door-

Air mata Akashi mulai menetes. Baru kali ini ia menangis.

"Sial!" Ucap Akashi sambil menggebrak kristal itu.

Kartu yang diberikan Queen melayang dan diam tepat di depan wajah Akashi. The Hermit.

Akashi tertegun, berusaha mencerna semuanya. Ia sadar kalau ia harus tenang dan bertindak cepat. Kartu itu mulai berubah lagi, kali ini menjadi The Magician.

Ia tersentak. Akashi mengetahui satu jawaban. Ia mulai menganalisis dalam waktu singkat. Menggabungkan hipotesis yang ada. Kekuatan Queen, ia mempunyai salah satu dari kekuatan Queen. Tapi apa?

Keluarganya dan keluarga kerajaan memang masih ada hubungan darah. Di keluarganya memang ada yang memperoleh beberapa kekuatan yang bisa dibilang langka. Tapi kekuatan apa yang ia akan dapatkan?

Akashi melihat ke arah Kuroko, ia tahu kalau Kuroko sudah pada batasnya. Ia juga sedang berusaha menyelamatkan Kuroko. Ia butuh kekuatan, yang bisa menghancurkan kristal tapi tidak melukai Kuroko.

The Magician dalam kartu bergerak dan mengeluarkan sehelai kelopak mawar.

"Mawar? Kekuatanku?" Akashi membelalakan matanya. Ia tahu apa kekuatan barunya.

Ia bangun dan mengambil jarak pada kristal yang mengurung Kuroko.

Fokus..

Akashi mengulurkan tangannya. Ribuan kelopak mawar keluar dari sana. Seperti ilusi.

Kekuatan yang tepat untuknya. Flower Dance.

Keterangan tentang Flower Dance : Kekuatan yang berdasar dari kelembutan. Kelopak bunga yang bisa berubah menjadi setajam pedang. Membutuhkan fokus tingkat tinggi untuk menggunakannya. Sampai saat ini hanya Queen dan Akashi yang dapat menggunakannya.

"Kenapa cuma retak? Harusnya ini akan pecah berkeping keping." Kata Akashi sambil tertegun.

"Apa mungkin kekuatan ini berhubungan?"

Akashi mulai memejamkan matanya sebentar. Ketika ia membuka matanya, ia mengaktifkan Emperor Eye miliknya.

"Go" Akashi mengulurkan tangannya lagi.

Kali ini kekuatannya benar benar bekerja. Kristal itu pecah berkeping keping dan Kuroko juga selamat. Akashi segera berjalan menghampiri Kuroko.

"Tetsuya, sadarlah." Ucap Akashi sambil menepuk pelan pipi Kuroko.

-Bronze Door-

Himuro berlari mendekati Murasakibara. Sepertinya pistol di tangannya sudah siap untuk menembak.

"Murochin kau sedang dikendalikan ya." Kata Murasakibara sambil berjalan mundur.

Di sisi lain pun Midorima sedang bertarung dengan Takao.

Jarak diantara Midorima dan Takao pun semakin tipis. Pedang Takao mulai menggores pipi Midorima. Jarak pedangnya semakin dekat dengan lehernya.

"Takao, berhenti nanodayo!" Midorima segera mundur.

Kartu yang tadi diberikan kini telah berubah. Depannya tidak lagi kosong, di depannya ada gambar Temperance.

Kerja sama, itu yang Midorima dan Murasakibara butuhkan.

-Continue-

Maafkan daku yang menulis chapter ini pendek banget -_- Apalagi yang Bronze Door. Soalnya buat chapter selanjutnya Bronze Door bakal panjang lebar '-' Akhir kata, review please *wink*