-Bronze Door-

Takao terus menyerang dengan pedangnya. Midorima hanya bisa menghindar dari serangan Takao. Kali ia bersyukur punya kekuatan teleportation.

Tapi ia tidak akan selamanya menghindar. Untuk bekerja sama dengan Murasakibara yang notabene adalah orang yang baru dikenalnya. Bagaimana caranya?

Srett

Lagi lagi pedang Takao nyaris mengenai lehernya.

"Takao, apa kau mengerti apa yang kau lakukan nanodayo!" Ucap Midorima.

"Percuma saja Midochin. Mereka sedang dikendalikan. Satu satunya cara adalah mengalahkan mereka." Ucap Murasakibara.

"Lalu bagaimana cara mengalahkan mereka nanodayo?" Tanya Midorima sambil terus berteleportasi.

Ia tidak tahu kalau kemampuan Takao sehebat ini. Oh ayolah siapa menyangka manusia yang selalu memanggilnya 'Shin-chan' dan mengikutinya kemana-mana ternyata adalah pengguna pedang yang hebat.

Tunggu. Jika dia hebat, kenapa dia bisa tertangkap dengan mudahnya? Ah, pada akhirnya yang bodoh tetaplah bodoh.

"Lawan aku, Shin-chan." Ucap Takao.

"Urusai Bakao! Aku tidak akan melawanmu!" Kata Midorima.

"Oh bahkan jika aku melakukan ini?" Ujar Takao sambil mengarahkan pedangnya menuju lehernya sendiri. Tatapan matanya terlihat dingin.

Midorima mulai berkeringat dingin. Jika kepala Takao terpenggal, Takao akan menghilang. Dengan kata lain jika ia hanya diam, nyawa Takao yang jadi taruhannya.

"Baiklah" Midorima mulai mengambil posisi.

Sret

Takao sudah berada di sebelah Midorima.

"Terlalu lambat, Shin-chan." Takao kembali menghunuskan pedangnya.

Lagi lagi Midorima hanya bisa menghindar. Takao ternyata bisa mengimbangi pergerakannya. Mungkin ia akan kalah.

"Aku bosan Shin-chan. Bagaimana kalau kubuat sedikit menarik?" Ucap Takao. Takao mulai merobek baju Midorima. Mengelus pedangnya yang dingin pada kulit Midorima yang halus.

Midorima hanya bisa bergidik ngeri. Takao serius kali ini. Pedang Takao mulai menggores perutnya. Perlahan Takao mulai menancapkan pedangnya.

"Takao hentikan!" Teriak Midorima.

Hening...

Semuanya berhenti, bahkan pergerakan Takao pun juga berhenti. Apa ini kekuatan barunya?

Midorima segera bangun dari posisinya. Ia meringis karena merasakan nyeri di perutnya.

Midorima mendekati Takao. Ia melihat dengan seksama. Kenapa Takao bisa dikendalikan? Pasti ada sesuatu yang bisa jadi petunjuk.

Midorima mulai meraba pakaian Takao. Mendadak terngiang suara Takao.

"Shin-chan pervert"

"Urusai! Aku tidak pervert nanodayo." Ucap Midorima dengan muka memerah.

"Pervert tetap saja pervert"

"Tidak aku tidak pervert Bakao!" Kata Midorima dengan wajah semerah udang rebus.

"Tapi Takao, mungkin aku memang sedikit pervert." Ujar Midorima. Ia kemudian mencium bibir Takao.

Cukup lama ia mencium bibir Takao. Kemana sifat tsunnya? Yah karena waktu sedang berhenti kenapa derenya saja yang keluar.

"Midochin, apa yang kau lakukan?" Tanya Murasakibara.

Sontak Midorima langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara. Jujur dia kaget adegan terlarangnya(?) dilihat oleh orang lain.

"Aku tidak melakukan apa apa nanodayo." Kata Midorima. Sifat tsunnya sudah balik ternyata.

"Aku melihat kau mencium Takaochin, Midochin." Ujar Murasakibara sambil menunjuk Takao.

"Kenapa kau bisa bergerak nanodayo?"

(Oke tsun mulai ngeles -_-)

"Aku bisa mengendalikan pikiranku sendiri. Jadi tidak akan mempan." Kata Murasakibara.

"Lalu aku menemukan ini, Midochin." Murasakibara menunjukkan sebuah batu permata berwarna hitam.

Midorima segera melihat permata itu.

"Jangan jangan mereka dikendalikan dengan ini nanodayo." Kata Midorima sambil mengernyitkan dahinya.

Ia merogoh saku Takao dan..

Bingo!

Di dalam saku Takao pun juga ada batu permata. Bedanya yang ada di saku Takao berwarna hijau. Apa itu emerald?

"Queen" Gumam Murasakibara.

"Queen?" Midorima mulai mengingat ingat apa saja kekuatan Queen. Semakin dia ingat, semakin dia takut untuk mengatakannya.

Tapi kenapa Queen melakukan hal ini?

-Silver Door-

"Oi Kise, sadarlah.." Suara Aomine terdengar khawatir.

Kise mulai menggeliat, perlahan ia membuka matanya. Mulutnya mulai bergerak hendak mengatakan sesuatu.

"Aominecchi..." Ucap Kise lemah.

"Ya, Kise?" Tanya Aomine. Aomine khawatir pada keadaan Kise.

"Kau tahu, aku berhasil membohongimu ssu." Kata Kise sambil tertawa.

Aomine butuh waktu untuk mencerna kata kata Kise. Dan walaupun telat dia pun marah.

"Kise.. Jadi ini cuma bercanda?" Aomine mulai mengeluarkan aura devilnya.

Dan pertengkaran mereka mulai lagi~ Jadi mari kita tinggalkan uhukpasanganuhuk itu.

-Gold Door-

Kuroko mengerjapkan matanya. Ia melihat ke sampingnya. Akashi ada di sebelahnya, memeluknya.

"Akashi-kun, arigatou." Ucap Kuroko sambil tersenyum.

"Douita Tetsuya. Apa kau tidak apa apa?" Tanya Akashi.

"Aku tidak apa apa Akashi-kun." Kata Kuroko dengan ekspresi datarnya.

"Oh iya Tetsuya. Kenapa kau tidak bisa membekukan airnya?" Tanya Akashi sambil mengelus rambut Kuroko.

"Di dalam airnya ada serbuk perak Akashi-kun. Jadi aku tidak bisa membekukannya." Ucap Kuroko.

"Ternyata begitu" Gumam Akashi.

"Akashi-kun, kau mendapat kekuatan baru?"

"Bisa dibilang begitu Tetsuya."

-Queen's Room-

"Hyuga siapkan baju perangku." Titah Queen.

"Baik Queen." Hyuga pun segera menyiapkannya.

"Semuanya baru akan dimulai." Ucap Queen sambil menyeringai.

-Secret Room-

"Kenapa kita semua ada disini ssu?" Tanya Kise sambil melihat ke arah yang lain."

"Padahal lagi berduaan sama Tetsuya." Ucap Akashi dalam hati.

"Murochin sudah sadar? Mau momogi?" Kata Murasakibara.

"Aku lelah" Keluh Aomine.

"Kau berisik nanodayo" Kata Midorima.

"Akashi-kun kenapa kita ada disini?" Tanya Kuroko.

-To be continue-

Saya kurang dapet wangsit pas nulis ini -_- Ditambah sedang sibuk mos OTL Oh iya jika ada kritik atau saran mohon diutarakan minna :) Akhir kata review please~