Hai hai, ketemu lagi sama minrin /bow/ qiqiqi. Aku mau kasih chapter ke dua lanjutnya yang kemarin ya. Maaf chapter ke satu nggak nyambung, terlalu biasa. Atau bahkan mungkin chapter ke duanya ini masih jelek juga? Entahlah, kan aku udah bilang daridulu, MINRIN SUKA BIKIN FF NGGAK JELAS. Yaudahlah, yuk langsung aja baca chapter ke-2 nya^^

Cast:

Ryeowook

Yesung

Sungmin

Dan pemain lain sesuai cerita ya hehe

Pair:

Yewook

WARNING!

Typo(s), and Genderswitch. Masih nggak tega bikin cerita yang YAOI soalnya hehe-_-v

DON'T LIKE DON'T READ, ok?

Summary:

Truth or dare? Apa itu? / Setiap pagi kau harus mengucapkan selamat pagi padaku / Dua bulan ini kau harus menjauhiku, ayolah, hanya dua bulan, Yesung… / Dia mencintaimu / Yesung, Ryeowook, dan pemain lain sesuai jalan cerita^^ / Yewook / Reviews=TBC. Noreviews=DEL.

Note:

Judul sama Summary nggak nyambung sama cerita. Abis nggak jago bikin Summary sama Title. Wkwk.

.

Let's Read!

.

.

.

-Ryeowook POV-

"Hallo!" ucapku saat Yesung mulai menjawab telpon dariku.

"Hallo Wookie, kau baik-baik saja kan? Suaramu terdengar sangat lemas…" ujar Yesung saat ia menjawab sapaanku.

"Baik. Good morning Yesung, jangan lupa mandi dan sarapan ya!"

"Apa kau yakin? Istirahat lah dulu, masih ada waktu. Kira-kira dua jam lagi aku menjemputmu. Ah, terimakasih Wookie, aku menyayangimu!"

"Aku tidak." Dan aku langsung menutup pembicaraanku dengan Yesung. Yesung memang kadang sering berlebihan. Dan aku sudah memahaminya.

Satu minggu sudah aku rutin mengucapkan good morning untuk Yesung. Ku fikir ia akan bosan dan menyuruhku untuk tidak menelponnya lagi, ternyata ia malah senang setiap paginya aku telpon. Anak itu benar-benar.

Ah iya, sampai saat ini aku belum memikirkan sama sekali tentang tantangan yang akan ku berikan pada Yesung. Hm, aku bingung, jujur saja aku tak tega memberi tantangan yang berat padanya. Tapi bagaimanapun juga aku harus memberi tantangan padanya.

Kalau aku menyuruhnya untuk mengucapkan good morning setiap pagi sama seperti tantangannya, itu hanya membuat tidurku jadi terganggu. Hm, apa ya tantangan yang pas untuknya?

"Arghh…." Tiba-tiba aku merasa sangat pusing pada bagian kepalaku. Pandanganku mulai terlihat buram. Aku merasa kalau kepala ini dipukul oleh beribu-ribu palu. Rasanya pusing.

Lalu setelah itu aku tak merasakan apapun terjadi. Hal yang terakhir aku lihat adalah langit-langit kamarku.

-Ryeowook POV end-

- Yesung POV-

"Wookie! Ryeowook! Wookie!" teriakku di depan rumah kecil Ryeowook. Yap, Ryeowook tinggal sendirian di rumah ini. Bagiku ia adalah gadis yang sangat dewasa. Orang tua Ryeowook tinggal di Busan. Sedangkan Ryeowook sendiri tinggal di Seoul hanya karena ia ingin mendapatkan pendidikan yang lebih bagus. Ya, menurutku itu keputusan yang benar.

Oh iya, jujur saja, sejak tadi malam aku mempunyai pikiran yang tidak enak. Aku selalu menunggu telepon dari Ryeowook. Bahkan sampai-sampai tidurku tadi malam tidak nyenyak. Aku merasakan sesuatu yang ganjal. "Apa Ryeowook baik-baik saja?" gumamku yang hampir tak terdengar.

Sudah kira-kira sepuluh menit aku ada di depan rumah Ryeowook. Namun tak ada jawaban apapun darinya. Apa mungkin ia belum bangun? Yah, ini memang salahku, aku menjemputnya terlalu cepat. Tapi masa mungkin ia belum bangun dari tidurnya? Apa lebih baik aku masuk ke dalam rumahnya saja? Kebetulan aku punya kunci cadangan rumahnya ini. Ya, lebih baik aku masuk ke dalam rumahnya saja.

Aku melihat seluruh sudut rumah ini. Terasa sepi. Kemana Ryeowook? Lebih baik aku menelponnya saja. Nada sambung berbunyi.

Uriga mannage doen narul chugboghanun ee bamun, hanulen dari pyo-igo byuldurun misojijyo. Gudeui misoga jiwojiji anhgil baleyo, onjena haengbokhan nalduri gyesog doegil bilmyo. Aku mendengar suara ringtone handphone Ryeowook. Ya, aku hafal dengan ringtone-nya. Aku berjalan mendekati sumber bunyi tersebut. "Ryeowook?!" ucapku dengan volume yang cukup keras.

Aku melihat tubuhnya tengah terbaring di samping ranjang tempat tidurnya dan disampingnya terdapat handphonenya yang masih bergetar. Aku baru sadar kalau handphoneku masih mengubunginya, dengan segera aku mematikan nada sambungku.

Aku menggendongnya dan membawanya ke ranjang tidur. Aku mencoba menelpon uisa langgananku.

.

.

.

"Apa gejala yang ia rasakan?" ucap seorang uisa setelah ia memeriksa Ryeowook yang masih belum sadarkan diri.

Aku menggeleng. "Entahlah uisanim, Ryeowook tak pernah ceritakan apapun padaku. Tadi pagi aku melihatnya sudah tergeletak di samping tempat tidurnya. Memangnya ia kenapa uisa?" tanyaku pada uisa. Jujur saja aku sangat cemas pada Ryeowook. Akhir-akhir ini kondisinya memang terlihat tidak sehat. Ia sering terlihat lemas dan letih. Aku tak tau dia kenapa.

"Saya belum yakin dengan penyakitnya kalau tidak ada gejala-gejala yang Ryeowook beritahukan pada saya. Sejauh yang saya tahu, kemungkinan ia hanya kelelahan." Ucap uisa itu. Terlihat sekali kharismanya itu.

Ya, memang akhir-akhir ini Ryeowook terlihat sangat sibuk dengan tugas-tugas di sekolahnya. Ryeowook sering menyuruhku untuk pulang lebih dulu karena ia harus menyelesaikan tugasnya di perpustakaan sekolah. Namun karena aku adalah teman yang baik, akupun menunggu dan membantu tugasnya itu agar selesai. Aku kan bukan orang yang terlalu bodoh dalam pelajaran.

"Baiklah uisanim, gamsahamnida sudah membantu teman saya.." ucapku seraya sedikit membungkukkan tubuhku saat sang uisa hendak pergi meninggalkan rumah ini.

"Ne, cheonma Yesung-sshi. Ini memang tugas saya sebagai uisa," Jawabnya dengan membungkukkan badannya juga. "Apa kau tidak sekolah?" tanyanya saat melihatku menggunakan seragam namun tidak berangkat ke sekolah.

"Sepertinya tidak uisa, aku akan menjaga Ryeowook sampai ia sadar.."

"Kau memang teman yang setia. Baiklah kalau begitu tolong ingatkan pada Ryeowook agar tidak lupa membeli dan meminum vitamin yang tadi saya berikan resepnya, ne?" ucap sang uisa lagi sebelum akhirnya ia berjabat tangan denganku dan meninggalkan rumah Ryeowook.

"Baiklah uisa, sekali lagi gamsahamnida ne.."

"Cheonma Yesung-sshi.. Saya pamit pulang dulu ne."

Setelah uisa meninggalkan rumah Ryeowook, aku memutuskan untuk menunggu Ryeowook sampai sadar dari pingsannya itu. Sembari menunggu, aku memutuskan untuk menelpon Sungmin, sahabat Ryeowook di kelasnya.

"Hallo." Sapanya.

"Hallo, Sungmin?"

"Ne benar, ada apa, Yesung? Eh, Ryeowook tidak masuk sekolah?" pertanyaan itu yang pertama kali terlontarkan dari mulut Sungmin.

"Maka dari itu aku menelponmu, Min… Tadi Ryeowook pingsan saat aku menjemputnya. Aku sudah berkonsultasi pada uisa. Dan sampai saat ini ia belum sadarkan diri. Jadi sepertinya hari ini Ryeowook dan aku tidak masuk. Apa aku bisa meminta tolong kau untuk mengabari pada seonsaengnim?"

"Ah, sakit apa dia? Baiklah-baiklah, aku akan mengatakannya pada seon. Tolong jaga Ryeowook ya Sung… Nanti saat pulang sekolah aku akan menjenguknya."

"Dia hanya kelelahan, Min.. Tak usah khawatir. Baiklah, gomawo ne,"

"Ne, cheonma. Baiklah bell sudah berbunyi, sampai bertemu nanti!"

"Ne.." ucap terakhirku sampai akhirnya aku menutup pembicaraan dengan Sungmin.

Karena aku merasakan suntuk yang luar biasa, akhirnya aku memutuskan untuk membuat sarapan untuk Ryeowook dan aku. Aku sangat merasa lapar sekali.

Memang aku tidak terlalu jago dalam hal memasak. Namun aku juga tidak sebodoh itu yang tidak dapat memasak ramyun.

"Tadaaa! Ramyun buatan Yesung-sshi… Hmmm, enaknya…" ucapku saat ramyun tersebut matang.

Aku segera memasuki kamar Ryeowook. Aku masih melihatnya tidur lemas disana. Wajahnya tampak pucat pasi. Ah, aku sungguh tak tega saat melihatnya seperti ini. Aku tidak yakin kalau ia hanya kelelahan. Tidak. Bukannya aku berharap yang tidak-tidak. Namun aku merasa seperti ada yang mengganjal.

Akhir-akhir ini pun ia sering mengeluh pusing padaku. Apa dia terkena penyakit yang parah? Ah tidak-tidak. Aku tidak boleh berpikiran yang macam-macam. Ryeowook akan baik-baik saja.

Saat aku duduk di samping ranjang tempat tidur Ryeowook, handphoneku berbunyi. Sehingga membuatku untuk pergi ke luar kamar Ryeowook. "Hallo?"

"Hallo, Yesung-sshi?"

"Apa ini Sungjong uisanim?"

"Ne, Yesung-sshi… Maaf sebelumnya, resep obat yang tadi saya catatkan itu salah. Obat yang seharusnya bukan vitamin biasa.." ujar Sungjong uisanim.

Bukan vitamin biasa? Maksudnya? "Bukan vitamin biasa, memangnya Ryeowook sakit apa, uisanim?"

"Iya, bukan vitamin biasa yang ia butuhkan, tapi…"

-Yesung POV end-

~TBC~

.

.

.

Kalian nggak nyambung sama chapter ke-dua ya? Hehehe maaf, hehe… Tunggu chapter selanjutnya yaaaa… Semoga kalian puas sama ceritaku!
Reviews bisa dong? Wkwk!

TBC or Delete?

Wkwkwk! Maap maksa, abis kalo nggak ada reviews aku nggak tau gimana minat kalian sama ff aku, hehe….

Nah sekarang aku mau balesin reviews dulu aja kali ya….

Freaky Virus:

Wkwkwk, sebelumnya, makasih ya reviews-nya. Ini udah lanjut ke chapter ke-2 kok. Terus baca yaaaa^^

:

Hehehe, sebelumnya makasih reviewsnya. Iya ini udah chapter ke dua kok, semoga senang dengan chapter ke-2^^

hideyatsutinielf:

Ne, maaf bikin bingung,hehe… Sebelumnya makasih udah mau reviews. Ini udah chapter yg ke-dua kok. Enjoy^^

Yurako Koizumi:

Maaf bikin bingung wkwk.. Sebelumnya makasih sama reviewsnya ya, ini chapter ke-duanya! Enjoy ya^^

Heldamagnae:

Done! Ini chapter ke-2 nya. Semoga memuaskan! Anyway, thanks ya sama reviewsnya^^

meyy:

Thanks ya penyemangatannya, wkwk. Thanks juga sama reviewsnya. Ini udah dilanjut kok^^

Anik0405:

Hahahah, Yesung emang aneh, wkwk. Anyway, thanks ya reviewsnya^^

Yuzuki Chaeri:

Enggak kok, disini Yesung nggak kena penyakit wkwk. Tapi ini ff hurt/comfort. Jadi silahkan tebak-tebak aja endingnya kaya gimana hahaha.. Thanks yaaaa,anyway thanks riviewsnya^^

93424:

Annyeong!^^ Aku jadi bingung nih mau panggil kamu apa, hehehe. Iya ini udah lanjut kok.. Hahaha, aku emang kalo bikin ff yewook sukanya kalo mereka itu berawal dari sahabatan, hwhw. Hahahaha, silahkan kamu tebak endingnya kaya gimana yaaaa….. anw thanks reviewsnya^^

Oke, segitu dulu ya. Semoga kalian minat buat baca terus, wkwkwk. Jangan lupa buat reviews juga ya! Maaf kalo ceritanya kali ini gak jelas, wkwk. Okedeh, see you! /bow/