KATEKYOU HITMAN REBORN

Author : Seiya Aya

Rating : T (cari aman)

Pair : entahlah (author x Tsuna gapapalah -ditangkap, dipenggal trus dibakar massa)

Type : humor (?), romance (?)

Warning : OOC, Ai-shounen, yaoi, EYD, geje, ambigu, typo tergeletak dimana-mana

Ciossu.

Hahahaha, uda nyampe chapter dua ni. Sebenernya aq masih belum tau mau nyampe berapa. padahal niatnya pengen cuma satu chapter aja. Tapi jadinya malah kayak gini. Hahahahah *ditapuk reborn

Author buntu ide ni, hahahahahah (dibakar reborn lagi). Habisnya sibuk di dunia sana, jadi yang di dunia sini tebengkalai. Hehehehehe. Maafkan saya minna… (nyembah-nyembah)

Makasih yaa yang udah sempet2nya repiu ni fanfic geje, hahahaha

Meilina Putri 79: hehehe, salam kenal juga ja ^^, tenang aja, kalo Yamamoto ama Gokudera pasti ada, mereka kan sudah pasangan abadi *plakkkk soal Hibari ya.. masih aman di lemari kacaku kok *author dibacok readers, tenang saja, pasti muncul, sabar yaa :3. Meilina juga punya pikiran sama yaa… Tsuna emang uke sejati, hohohohoho

DarkLidyaNuvuola Del Cielo : iya… saya newbie.. mohon bantuan ya.. heheheh ^^ *maen2 bunga. Sankyuu… hehehe *author kebanyakan ketawa ni… gomen.. untuk judulnya akan segera saya ubah, soal typo maklum author gak sempat (baca: males) ngecek jadinya berserakan deh, untuk pairnya, ditunggu yaa :3

Ruu-Chan : hehehe, sankyuu ne ^^, iya. Tsuna emang uke banget tuh, padahal aslinya pengen jadi seme juga tuh (author sok tau banget) untuk pair itu, oke, nanti aku pasangkan deh, hehehehe, kebetulan author juga suka banget ama pair itu

.

Terima kasih banyak minna yang udah mau repiu ni fanfic, waktu bacanya author ampe ketawa2 ndiri saking senengnya, untuk ke depannya author usahakan apdetnya lebih cepet yak, tapi mengingta kesibukan author (sok sibuk) mungkin gak bisa kilat

Oke deh, daripada author kebanyakan bacot, jika para reader semua tidak keberatan ijinkan author melanjutkan fanfic nista ini

Buat para readers sekalian, repiunya masih author tunggu terus ya…. Maklum, buat semangat nggarap fanfic ini

.

_Monggo_

.

Teng…teng…teng…

Akhirnya waktu istirahat selesai juga. Dengan langkah malas para siswa kembali ke kelas masing-masing. Lain halnya dengan kelas Tsuna. Sesudah istirahat ini adalah pelajaran yang paling ditakuti oleh seluruh siswa. Bagaimana tidak? Pelajaran ini dipegang oleh guru yang terkenal akan kesadisannya, kegarangannya dan serangkaian keburukan-keburukan lain. *author di hajar massa

Tak lama setelah bel masuk, seluruh murid telah siap di tempatnya masing-masing. Takut akan kemurkaan dari guru 'kejam' yang sebentar lagi akan menghantui kelas ini

Tsuna yang hanya bisa tengok kanan-kiri mengikuti dan sedikit tidak nyaman dengan atmosfir di dalam kelasnya sendiri. Bahkan Gokudera yang biasanya berisik menjadi tenang. Sedangkan Yamamoto yang biasanya bertingkah macam-macam seperti mengelap tongkat baseballnya kali ini kedua tangannya tetap berada di atas meja.

Tak berapa lama terasa aura aneh yang membuat suhu udara yang hangat menjadi lebih dingin. Tsuna bahkan merasa kalau badannya mulai menggigil kedinginan. Ia masih saja tengok kanan dan tengok kiri yang mendapati bahwa tidak hanya dia saja yang merasa menggigil. Hampir semua di kelas itu menggigil, sedangkan yang lain ada yang berkeringat dingin dan ada pula yang berusaha menahan ketakutannya yang membuat wajahnya menjadi merah.

Brakkk

Tiba-tiba pintu terbuka dengan keras. Masuklah sesosok makh- uhuk guru yang menjadi penyebab munculnya aura dingin misterius yang sedari tadi dirasakan oleh hampir seluruh murid di kelas itu. Sekedar info, di kelas yang dilewati guru itu sebenarnya juga mengalami hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Tsuna.

Sosok itu kemudian berjalan mendekati meja guru yang terletak di paling depan dan menaruh buku-buku yang terlihat sama menyeramkan dan misterius seperti sosok yang membawanya.

Belum lama guru itu memasuki kelas, tiba-tiba

Ting…tong…ting…teng…

"bagi yang namanya disebut berikut ini harap segera datang ke Ruang OSIS" tiba-tiba sebuah pengumuman terdengar dari speaker masing-masing kelas yang berada tepat di atas papan tulis masing-masing kelas.

Mendengar itu kontan saja si-guru-super-duper-sadis-bin-menyeramkan-yang-per nah-dimiliki-Namimori-Gakuen mengamuk

"siapa yang berani mengganggu pelajaranku" bantak guru itu yang di wajahnya memiliki bekas luka kehitaman yang berada di sebelah kanan.

"ano…Xanxus-sensei, ada pengumuman dari OSIS" kata seorang anak-tidak-beruntung-yang-bakal-menjadi-korban-keg anasan-guru-gila-itu yang ternyata merupakan ketua kelas Tsuna sekarang

"dan siapa KAU yang berani-beraninya menjawabku, HAH?" raung Xanxus lagi sambil menatap (baca: melotot) murid yang entah sengaja atau karena apes berada tepat di hadapannya itu

Murid yang sebenarnya ketakutan dari tadi sudah ketakutan itu kini menjadi lebih ketakutan. Hal itu terlihat dari wajahnya yang menjadi pucat serta tubuhnya terlihat bergetar. Hal ini sungguh membuat semua penghuni kelas merasa iba (tentu saja selain guru itu) melihat keapesan ketua kelasnya itu

"kepada Fran dari kelas X-B, Kozato Enma dan Sawada Tsunayoshi dari kelas X-C harap segera ke ruangan Osis secepatnya" lanjut suara pengumuman itu yang sedari tadi terabaikan

Mendengar itu Tsuna langsung saja kebingungan. Bagaimana tidak? Baru sehari ia bersekolah disini—bahkan belum juga pelajaran usai ia sudah dipanggil oleh OSIS. Keringat dinginnya mulai meluncur turun dari pelipisnya. Masih belum cukup, keadaan Tsuna diperparah dengan lirikan, bahkan tatapan dari seluruh penghuni kelas kepadanya.

Ada apa ini? Seingatku aku tidak berbuat suatu kesalahan, apa yang membuatku dipanggil OSIS. Haduhhh.. masa di hari pertama sekolah sudah kayak gini sih—batin Tsuna sambil mengacak rambutnya

"kelas X-C" tiba-tiba terdengar suara horror yang berasal dari depan. " bukankah itu kelas ini? Siapa diantara kalian yang namanya disebutkan tadi? Berdiri!" perintah Xanxus-sensei keras yang membuat seisi kelas semakin bergetar ketakutan

Tiba-tiba sosok berambut merah yang seradi tadi menampakkan raut wajah yang tenang, berdiri. Sosoknya yang tenang itu berbanding terbalik dengan atmosfer ruangan yang terkesan seperti atmosfer neraka

Melihat baru satu orang yang berdiri membuat ibli—uhuk guru itu mengamuk lagi

"bukankah tadi ada 2 orang? Mana yang satu lagi" raung Xenxes sensei yang kelihatannya memiliki kapasitas suara yang besar kerena suaranya tidak habis-habis setelah berteriak-teriak terus dari tadi

Kontan saja seluruh pasang mata langsung memandang Tsuna. Tak terkecuali dengan Enma yang masih tetap pada sikap tenangnya. Tsuna yang merasa ditatap banyak mata itu langsung berkeringat dingin. Ia benar-benar bingung dengan keadaan seperti ini.

"juu…juudaime, sebaiknya berdiri saja. Daripada gak selamet" saran Gokudera yang melihat aura mengerikan kembali menyeruak dari Xanxus-sensei yang mulai tak sabar

"iya Tsuna. Wah…wah…wah… kau melakukan apa sampai dipanggil OSIS segala" kata Yamamoto dengan senyum khasnya

"diam kau. Juudaime tidak berbuat apa-apa yang salah. Pasti ada hal lain." Kata Gokudera sambil melirik sebal ke arah Yamamoto. "sudahlah Juudaime, berdiri saja" lanjutnya kembali ke sosok kebingungan yang ada di sebelahnya itu

Dengan menelan ludah dan keringat dingin yang semakin banyak, Tsuna perlahan-lahan berdiri. Wajahnya yang sedang kebingungan itu terlihat sangat manis. Bahkan Xanxus-sensei sempat terpesona dengan kemanisan yang dimiliki pemuda beriris coklat caramel itu

"jadi kalian yang berani mengganggu pelajaranku. Dasar anak-anak sialan. Cepat pergi!" bentak guru killer itu setelah lepas dari pesona Tsuna

Masih dengan tenang Enma melangkah ringan ke luar kelas yang juga diikuti oleh Tsuna yang masih saja kebingungan. Tanpa mereka sadari, semua mata terus mengikuti kedua sosok itu sampai menghilang di balik pintu yang baru ditutup dari luar oleh Tsuna. Setelah benar-benar dipastikan pintu tertutup dan terdengar suara langkah kaki yang menjauh baru kelas itu mulai rebut

"pasti 'itu' ya"

"sudah kuduga pastinya"

"kalau begitu jadi milik bersama ni"

"aku benar-benar tidak sabar"

"seandainya bisa jadi milikku seorang"

"kalian semua berisik! Ini kelas saya. Jika saya mendengar ada yang ribut sedikit saja akan saya gantung di atap sekolah dengan kepala dibawah sampai sekolah usai" ancam Xanxus sambil kembali mengeluarkan aura kesadisannya

Kontan saja semua penghuni kelas itu langsung diam. Tak ada yang berani mencoba menantang guru di depan itu. Mereka masih sayang nyawa karena apa yang diucapkannya itu pasti dilakukannya. Benar-benar sebutan guru sadis sangat cocok untuknya

"semoga juudaime baik-baik saja" batin Gokudera

'aku masih tidak mengerti kenapa harus aku yang dipanggil. Apa yang kulakukan? Perasaan hari ini aq tidak melakukan kesalahan yang membuatku harus berurusan dengan OSIS. Apa ini salam tradisi sekolah ini ya? Tapi kalau memang begitu mengapa Enma juga dipanggil? Ahh… aku bener-bener gak ngerti'—batin Tsuna sambil mengacak rambut coklatnya

'Enma terlihat tenang. Apa ia tahu mengapa kita dipanggil oleh OSIS? Apa perlu langsung kutanyakan? tanya engga tanya engga tanya…- batin Tsuna lagi sambil menghitung kancingnya

"ano..eto…Enma-kun"

"hn? Nani?" kata sosok berambut merah sambil membalikkan tubuhnya menghadap si pemilik iris caramel sedari tadi berjalan di belakangnya

"um…sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa…kenapa kita dipanggil ke ruang OSIS?" akhirya keluar juga pertanyaan itu dari Tsuna

Melihat kegelisahan yang sangat tertera di wajah dan tubuh Tsuna membuat Enma sedikit kasihan. Tapi apa daya, dia juga tidak tahu mengapa mereka dipanggil ke ruang OSIS. Walaupun ia punya tebakan alasannya, tapi bukan berarti tebakannya itu benar. Bagaimana kalau salah?

"kau akan tahu nanti Tsuna-kun" akhirnya hanya itu jawab Enma sambil menghadiahkan Tsuna senyum manis yang sempat membuat Tsuna mem-blushing terpana

Tsuna yang tidak sadar akan perubahan warna wajahnya itu hanya bisa terdiam. Enma yang ternyata memiliki sepercik kelemotan yang dimiliki Tsuna bingung dengan keadaan Tsuna yang terdiam dengan wajah merah sambil menundukkan kepalanya

"ada apa Tsuna-kun? Apa ada yang salah?" tanyanya khawatir

"umm…tidak apa-apa kok Enma-kun" jawab Tsuna sambil memainkan ujung kemejanya menjadi salah tingkah dengan keadaan ini

"tapi wajahmu memerah. Apa kau demam?" Tanya Enma lagi yang kini benar-benar terlihat khawatir dengan keadaan Tsuna

"aku..aku tidak demam kok. Aku sehat" kata Tsuna dengan usaha lebih mencoba menatap Enma dan menyunggingkan angelic smilenya kepada pemuda berambut merah itu

Sekarang gantian Enma yang terdiam karena senyuman maut milik Tsuna. Memang sih, siapa yang kuat kalau sudah dihadapkan dengan jurus maut milik pemuda mungil ini

"oh ya, bukankah kita harus segera ke ruangan OSIS?" ajak Tsuna masih dengan wajah merahnya

"un..oh…um..ya… baiklah jika kau tidak apa-apa." Kata Enma setelah sadar dari alam khayalannya akibat jurus maut pemuda di hadapannya ini

Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka ke ruangan OSIS. Walaupun saat istirahat tadi Tsuna telah diajak berkeliling sekolah (yang membuatnya capek karena Gokudera meyeretnya kesana kemari) ia masih belum bisa menghapal ruangan yang ada di sekolah ini. Maklum saja, sekolah ini saja memiliki 4 tingkat dengan luas bangunan yang mencapai dua kali luas Tokyo Dome.

Benar-benar sekolah yang besar—batin Tsuna

Mereka melalui lorong-lorong kelas yang sepi karena saat ini memang masih jam pelajaran. Tsuna terus mengikuti Enma yang kini berjalan di sebelahnya, melewati jalan yang menghubungkan gedung kelas dengan gedung OSIS. Memang di Namimori Gakuen ruangan-ruang staf dan ruang kelas dipisah dan disatukan dengan gedung masing-masing sesuai dengan kategorinya. Ruangan OSIS ternyata berada di gedung tengah yang ternyata merupakan pusat dari gedung-gedung Namimori Gakuen yang mengitarinya.

Tsuna yang memang masih terpesona dengan gedung sekolanya itu tak sadar bahwa mereka telah sampai di ruangan yang menjadi tujuannya itu. Ruang OSIS ternyata berada di lantai 3 dari gedung pusat. Keseluruhan lantai itu merupakan milik OSIS. Masih mengikuti Enma, Tsuna dibimbing untuk menuju ke arah sebuah ruangan yang memiliki pintu yang sangat berbeda dengan pintu yang lain yang pernah Tsuna lihat di sekolah itu.

Kenapa pintu ini berbeda ya? Apa yang ada di dalam sana? Eh.. mengapa kita berhenti di depan pintu ini? Apa kita akan masuk ke pintu ini?—batin Tsuna yang kini tak bisa menahan kegugupannya yang sedari tadi ditahannya selama perjalanan ke sini

"Enma-kun, apa kita masuk ke dalam ruangan ini? Ini ruang OSIS?" Tanya Tsuna pelan

"sebenarnya semua ruangan yang ada di lantai ini adalah ruang OSIS. Tetapi yang di dalam ini adalah ruang ketua OSIS. Ya…kita akan masuk ke dalamnya" jawab Enma sambil tersenyum

Tsuna yang mendengar itu hanya bisa menelan ludah. Sebenarnya ia penasaran dengan apa yang ada di balik pintu yang didesain mewah dengan banyak ukiran di sana-sini yang menambah kesan misterius di dalamnya. Tsuna bahkan melihat ada kamera CCTV yang dipasang di atas pintu itu. Hal ini mebuat Tsuna berpikiran macam-macam yang menambah ketakukannya untuk masuk ke ruangan itu

"Enma-kun.. apa kau yakin kita harus masuk ke ruangan ini?" tanya Tsuna yang kini ketakutan dan kekhawatiran sangat tertera di wajahnya yang manis itu

"memang kita harus masuk ke dalam kan Tsuna. Sudahlah jangan khawatir, mereka tidak akan berbuat yang aneh-aneh kepadamu kok" kata Enma yang mencoba menenangkan Tsuna yang benar-benar terlihat khawatir

'semoga saja mereka mampu menahan dirinya karena kamu memang benar-benar manis' batin Enma

Dengan menghembuskan nafas pertanda ia siap, Enma mengetuk pintu yang ada di depannya itu. Tsuna saat ini benar-benar pasrah dan berharap semoga tidak ada hal buruk yang akan menimpanya

"masuk" terdengar suara dari dalam ruangan

"ayo Tsuna" ajak Enma

Dengan perlahan Enma membuka pintu itu. Tsuna yang berada di belakangnya mengiktinya masuk ke dalam ruangan itu. Kesan pertama yang didapat Tsuna begitu masuk adalah ruangan itu mewah. Dengan berbagai perabotan yang tampak mahal menghiasi ruangan yang luasnya itu sama dengan ruang kelasnya.

Kesan kedua yang didapat Tsuna adalah pemandangan yang disuguhkan di depannya membuatnya hanya bisa menahan teriakan dengan menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya.

Bagaimana tidak? Di salah satu tembok terlihat seorang pemuda dengan rambut hijau toscanya yang memakai um.. topi kodok? sedang dilempari pisau tepat di topi kodoknya oleh seorang pemuda berambut pirang yang memakai tiara di kepalanya. Tsuna tidak bisa melihat jelas bagaimana rupa si pelempar pisau karena sosok itu membelakangi Tsuna dan tampak sedang asik melempar pisau

Tsuna yang ketakutan melihat adegan itu akhirnya tidak bisa menahan teriakannya saat si pirang melempar pisau yang nyaris saja mengenai telinga di topi kodok. Yang membuat Tsuna tak habis pikir. Si topi kodok tidak menyiratkan ketakutan di wajahnya. Wajahnya terlihat datar walaupun dilempar pisau seperti itu

"hiiieee…. Enma-kun. Tempat apa ini?" tanya Tsuna ketakutan sambil menarik tangan Enma

"sudah biasa ini Tsuna. Aku lupa memberitahumu, maafkan aku" kata Enma

Sudah biasa? Yang benar saja?—batin Tsuna

"kufufufu… kalian berdua sudah datang rupanya. Silahkan duduk" kata seseorang di balik meja (yang tampaknya ketua OSIS) yang dari tadi tidak di perhatikan Tsuna karena terlalu terpaku dengan pemandangan mengerikan di depannya itu

Enma pun mengajak Tsuna untuk duduk di sofa yang terlihat elegan dan setelah diduduki Tsuna ternyata sangat nyaman.

"kalian pasti bertanya-tanya mengapa dipanggil ke ruangan ini bukan? Terutama kau Tsunayoshi Sawada."kata orang yang memiliki rambut ungu dengan model mirip-umm nanas? Yang duduk di belakang meja bertuliskan kaichou

Pemuda yang dipanggil namanya itu hanya bisa mengangguk. Ternyata Tsuna masih ketakutan karena ia tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah si pirang masih bermain dengan pisaunya itu

"tak usah kau khawatirkan itu Sawada Tsunayoshi, Bel sangat handal dengan pisau, tak akan ada yang terjadi, kecuali jika ia sengaja melukainya, kufufufufu" kata sang kaichou yang ternyata tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda mungil yang ada di hadapannya itu

"bagaimana kau tahu apa yang sedang aku pikirkan….jangan-jangan kau bisa membaca pikiran?" tanya Tsuna dengan hebohnya

"kufufufu…" hanya tawa aneh itu yang keluar dari bibir sang kaichou. Ia berjalan mendekati sosok mungil nan manis yang kini sedang menatapnya penasaran. Melihat tatapan polos pemuda berambut coklat itu mebuat kaichou ingin menggodanya.

"berani juga kau, kufufufu… apa kau tahu? Aku bisa saja memasuki pikiranmu dan bermain-main dengan pikiranmu. Apa kau ingin mencobanya?" bisiknya tepat di telinga Tsuna yang mana pemuda berambut coklat itu kini menjadi bergidik dan membuat wajahnya yang manis semakin terlihat manis dengan warna merah yang sangat dominan di wajahnya

"hiiiiiiee…. Ampun… bukan maksudku untuk berbicara lancang seperti itu" teriak Tsuna ketakutan sambil menutup telinga kiringa yang tadi menjadi sasaran dari kaichou-sama itu

Enma yang tak tega melihat teman sekelasnya itu digoda seperti itu oleh sang ketua akhirnya memberanikan diri untuk menegahi.

"Mukuro-sama, Tsuna baru saja pindah hari ini. Jadi tolong maklumi kelakuan dirinya. Mungkin Tsuna masih belum dapat beradaptasi dengan lingkungan yang baru ini." Bela Enma

"sudahlah Mukuro, jangan menggoda terus anak baru itu. Paling tidak setelah pertemuan ini selesai kau boleh menggodanya sepuas hatimu" tiba-tiba muncul seorang pemuda berambut putih yang memiliki tato di bawah mata kanan dari luar membawa setumpuk kertas

"kufufu…bagaimana aku tidak menggodanya kalau dia semanis ini" kata sang kaichou yang dipanggil Mukuro itu

"kalau begitu, peling tidak tunggulah sampai pertemuan selesai" kata pemuda berambut putih itu sambil meletakkan kertas yang dipegangnya di meja Mukuro. Dilihat dari raut wajahnya tampaknya ia mulai kesal dengan tingkah ketuanya itu

"sudahlah Byakuran…jangan marah begitu. Apa kau ingin aku menggodamu juga?" tawar Mukuro yang mendapatkan tatapan maut dari Byakuran

"tidak sudi, lebih baik aku main-main dengan Enma saja" katanya saraya mendekati dan memeluk Enma dari belakang. Sedangkan yang dipeluk tetap tenang, seakan hal ini sudah biasanya baginya

Tsuna yang sedari tadi melihat adegan seperti itu mau nggak mau menjadi bingung. Apa yang sebenarnya terjadi di sini!?- teriak Tsuna dalam hati

"kufufufu…kau selalu saja begitu. Baiklah, kalau begitu cepat kita selesaikan pertemuan ini." Beralih ke Bephegor yang masih asik melempar pisau ke arah korbannya yang masih saja memasang muka datar "Bel, sudah cukup main-mainya, kita rapat" lanjut sang ketua

"cih, padahal lagi asik" pemuda pirang yang dipanggil Belphegor itu hanya berdecih ria

Sang topi kodok-yang-masih-dengan-wajah-datarnya berjalan untuk duduk di sofa, tepat disebelah kanan Tsuna yang kini berada di antara Enma (yang masih dipeluk dari belakang oleh Byakuran) dan si topi kodok.

"ehm… Byakuran, pergi dari situ, kita akan rapat" perintah Mukuro

"padahal lebih menyenangkan sambil memeluk Enma" keluh Byakuran

Tsuna tak habis pikir dengan kelakuan orang-orang yang ada di ruangan ini. Ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Di sisi lain ini masih belum mengerti mengapa ia harus dipanggil ke sini di hari pertamanya masuk.

"baiklah, jika semua sudah siap, dan melihat ada salah satu wajah yang dari tadi kebingungan sebaiknya kita mulai saja, kufufufu…"kata Mukuro

"perkenalkan, saya adalah Rukudo Mukuro, Ketua OSIS Namimori Gakuen" kata sang kaichou

"dan kamu, Sawada Tsunayoshi. Mulai hari ini kau menjadi 'PURINAKU'" lanjut Mukuro

"heeeee?…. Apa itu?" seru Tsuna

.

.

.

.

TBC

.

.

Hhahahaha….. selesai juga chapter kedua ini, pendek ya… maklum diriku lagi buntet ide. Banyak tugas tergeletak dimana-mana dan yang bikin stress, belum pada selesai aku kerjakan…

Hohoohohohohoohoho

.

*author menjadi sableng

Oke, untuk chapter selanjutnya aku usahakan lebih cepat mengapdet tapi tetep, author gak janji ya… hehehehehe

Dan tak lupa, saya mohon masukannya teman-teman… untuk request pair juga diterima, repiu diterima dalam bentuk apapun kok, makanya jangan ragu buat repiu ya….

.

Pokoknya kudu repiu, repiu, repiu, repiuuuuuuuuuuu…

Ditunggu yaaa

.

.

.

Jaa ne (~^,^)~_ ~(^,^~)