KATEKYOU HITMAN REBORN

Author : Seiya Aya

Rating : T (cari aman)

Pair : entahlah (author x Tsuna gapapalah -ditangkap, dipenggal trus dibakar massa)

Type : humor (?), romance (?)

Warning : OOC, Ai-shounen, yaoi, EYD, geje, ambigu, typo tergeletak dimana-mana

Ciossu.

Chapter tiga ni minna…. *tebar-tebar dinamitnya Gokudera

Gomen banget untuk keterlambatan apdet yang sangat parah ini. Author bener-bener disibukkan dengan tugas-tugas penelitian yang kudu dikerjain. Kalau gak perlu sih mending kagak author garap lah… hohohohoho

Sekali lagi author bener-bener minta maaf atas kertelambatan ini. Sebelum ke cerita, author mau ngebales para readers yang udah berbaik hati mereview fanfic nista ini

.79 : hahaha... pairnya kayaknya masih belum terlalu keliatan ya. Makanya baca terus fanfic ini ya... awas kalo engga (siap parang) wkwkwkkw. Authornya cewek kok, eh, aq cewek apa cowok ya? Hahahaha. Panggil aja Aya, oke? Purinaku? Penjelasannya ada d chapter ini ko'. Sankyuu dukungannya ^^v

DeLoAniMan U-Know : ini uda dilanjut. Maaf atas keterlambatannya ya. Review lagi yaw ^^

LalaNur Aprilia : terima kasih , amiinn.. semoga tambah seru aja ni fanfic, hehehe :3. Hahahaha, kayaknya nanti bakal banyak pair bertebaran, ditunggu saja oke? Gomen...gomen... autho baru tau ada typo, padahal uda dibaca lagi tapi tetep aja ada typo. Terima kasih uda mengingatkan author. Keep review yaa X3

Ruu-Chan : hahaha, maaf uda bikin kamu menunggu lama Ruu chan, ini uda di apdet lagi kok, moga puas ya dengan chapter ini. Soal pair G27, ditunggu aja, pasti author masukin ko, secara author juga suka dengan pair mereka. Asik tu kalo ada kaichou sekeren dan semesum Mukuro. Soal Purinaku, penjelasannya ada di chapter ini kok. Huakakakakakakakaka. Makasih, terus review yaaa

.

.

Chapter sebelumnya

"perkenalkan, saya adalah Rukudo Mukuro, Ketua OSIS Namimori Gakuen" kata sang kaichou

"dan kamu, Sawada Tsunayoshi. Mulai hari ini kau menjadi 'PURINAKU'" lanjut Mukuro

"heeeee?…. Apa itu?" seru Tsuna

.

.

_Monggo_

"kufufufu… jadi kau belum tahu apa itu Purinaku?" tanya Mukuro

"um… aku sama sekali tidak tahu apa itu Purinaku, gomen ne" kata Tsuna sambil menundukkan kepalanya

Enma dan Fran hanya bisa menatap Tsuna tak percaya. Bagaimana tidak? Purinaku sangat terkenal di kota ini. Bahkan Purinaku itu merupakan item penting dari Namimori Gakuen

"kau benar-benar tidak tahu apa itu Purinaku?" tanya Byakuran dengan tatapan tak percaya

"gomen ne" jawab Tsuna yang menunduk semakin dalam sambil memejamkan matanya, takut kena hukuman

"ushishishishishi… menarik sekali" tanggap si pirang alias Belphegor

"um… aku baru saja pindah ke kota ini kemarin. Aku benar-benar masih belum mengenal kota ini. Aku bersekolah di Namimori Gakuen pun atas permintaan mendiang kedua orang tuaku. Aku benar-benar tidak tahu apa itu Purinaku. Maafkan aku… jangan hukum aku… hiks" jelas Tsuna yang tidak bisa menahan air mata ketakutannya

Mendengar penjelasan dari pemuda mungil di sebelahnya itu membuat Enma menjadi bersimpati. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Tsuna yang ia pikir periang karena selalu tersenyum ternyata menyimpan cerita seperti itu

"maafkan si rambut putih itu, Sawada Tsunayoshi. Tak apa, kalau begitu akan kami jelaskan apa itu Purinaku" kata Mukuro bijak. "Bel, kau yang menjelaskannya" lanjut ketua OSIS itu

"kenapa harus aku…" keluh pemuda pirang bertiara itu. "baiklah…baiklah…" lanjutnya karena mendapatkan death glare tajam dari Mukuro dan Byakuran

"seperti yang kau ketahui, Sawada Tsunayoshi, Namimori Gakuen adalah sekolah khusus pria. Karena itulah keberadaan wanita yang disebut sebagai 'pemanis pemandangan' di sekolah ini jarang, atau mungkin tidak ada. Dari siswa, guru sampai karyawan pun semuanya laki-laki. Karena itulah sekolah membuat kebijakan untuk memberikan 'pemanis pemandangan' agar sekolah ini tidak membosankan. Itulah dasar dari dibentuknya Purinaku di sekolah ini. Karena itulah-" jelas Belphegor

"jadi apa itu Purinaku?" potong Tsuna polos

Semua terdiam, hanya Tsuna yang masih terbengong-bengong karena memang masih tidak tahu apa maksud dari pembicaraan itu

"ushishishishishshi…kau suka memotong pembicaraan orang ya, Sawada Tsunayoshi" kata Belphegor sambil mengeluarkan pisaunya dan berjalan mendekati Tsuna

"hieeeeee…..maafkan aku…ampuunnnn…" teriak Tsuna yang panik melihat pisau di tangan Belphegor

"kalau kau masih sayang nyawamu, Sawada Tsunayoshi, jangan sekali-kali kau memotong pembicaraanku. Ingat itu" ancam Belphegor sambil menyeringai

"iyaaa… tidak akan aku ulangi lagi, maafkan aku…" kata Tsuna yang panik sambil menyatukan tangannya ke depan, pertanda memohon

"sudahlah Bel, lebih baik kau lanjutkan saja penjelasanmu" sela Byakuran yang masih setia berada di sisi Mukuro

"kufufufufu…kau memang suka menggoda orang, Bel…menggoda dalam artian yang lain tentunya, kufufufufu… kembalilah menjelaskan apa yang kau tunda tadi" tegur Mukuro yang masih tenang di mejanya

Belphegor pun memasukkan kembali pisaunya ke dalam seragamnya, kemudian beranjak kembali ke sisi kiri Mukoro

Merasa hidupnya tak lagi terancam, Tsuna dengan takut-takut membuka matanya dan mencoba kembali menyimak apa yang akan di jelaskan oleh pemuda pirang itu

"karena kurangnya pemanis di sekolah ini, maka kepala sekolah saat ini mulai memberlakukan Purinaku dan OSIS diperintahkan menjalankan program Purinaku ini. OSIS diberi hak untuk mencari orang-orang tertentu untuk dijadikan 'pemanis' bagi sekolah ini. Singkatnya, Purinaku itu maskot yang akan mencerahkan kehidupan para penghuni yang haus akan pemandangan indah yang tak dapat mereka dapatkan karena berada di Namimori Gakuen ini." Jelas Belphegor

"bahkan, saking terkenalnya Purinaku itu, kebanyakan siswa yang mendaftar ke sekolah ini adalah para pengagum yang sengaja masuk ke sekolah ihi hanya untuk lebih dekat dengan Purinaku" kata Belphegor lagi

"karena itulah kau dipanggil ke sini, Sawada Tsunayoshi. Kau mulai hari ini akan menjadi anggota Purinaku bersama dengan dua orang yang ada di kanan dan kirimu itu" tambah Byakuran

Perlu beberapa saat bagi Tsuna untuk mencerna kalimat terakhir dari pemuda berambut putih itu. Setelah melihat ke Enma dan Fran yang menurut Tsuna masuk ke dalam kategori 'pemanis' baru otak lemotnya berjalan

"hee? Yang benar saja…kenapa harus akuu?" tolak Tsuna sambil menggelang-gelengkan kepalanya

"kenapa?" tanya Mukuro sambil beranjak dari singgasananya mendekati Tsuna

"tentu saja karena" kata Mukuro sambil menyentuh dagu Tsuna. "karena kau sangat sempurna untuk menjadi Purinaku, kufufu…" lanjut Mukuro sambil tersenyum

Tsuna yang diperlakukan begitu kontan saja membuat wajah manisnya langsung memerah. Sedangkan kedua anggota OSIS yang lain hanya bisa membiarkan ketua OSISnya berperilaku seperti itu, bahkan mereka terkesan tak peduli dengan tingkah mesum kaichou-nya itu

Kedua kandidat Purinaku yang lain? Tentu saja hanya bisa memandang Tsuna, bingung harus senang karena mendapatkan rekan baru atau bersimpati karena kejailan yang dilakukan ketua OSIS mereka kepada anak baru itu

"tung…tunggu dulu. Aku masih kurang mengerti dengan ini semua. Apa maksudnya Purinaku itu. Dan apa sebenarnya hal yang dilakukan oleh Purinaku itu. Dari penjelasan yang diberikan oleh Belphegor tadi aku masih kurang mengerti" tanya Tsuna dengan susah payah karena tatapan Mukuro yang dari tadi masih saja menatapnya sambil memegang dagunya

"seperti yang dijelaskan Bel tadi, Purinaku itu maskot, pemanis Namimori. Sudah pasti tugas Purinaku itu menghiasi kehidupan suram para siswa-siswa Namimori Gakuen ini. Kufufufufu" jelas Mukuro yang tangannya mulai bergerak ke wajah Tsuna sambil menujukkan wajah dan senyum mesumnya yang membuat ketiga kandidat Purinaku itu bergidik

Mendengar penjelasan dari etua OSIS itu benar-benar mebuat Tsuna ketakutan. Aku jadinya jika ia dijadikan mainan oleh seluruh siswa Namimori Gakuen ini. Dipukuli, diperas, dihajar dan serangkaian kejahatan-kejahatan lain yang bahkan membayangkannya saja membuat Tsuna ketakutan setengah mati. Ia jelas tidak mau nasibnya menjadi bulan-bulanan siswa Namimori Gakuen itu.

"tidaaaakkkk… aku tidak mau habis dipukuli. Aku tidak mau jadi bulan-bulanan. Pokoknya aku tidak mau" tolak Tsuna sambil mengeleng-gelengkan kepalanya yang membuat Mukuro terpaksa (?) harus melapas tangannya dari wajah Tsuna

"hah? Apa maksudmu?" tanya Mukuro heran

Semua orang yang ada di ruangan itu terheran-heran dengan pernyataan yang dilontarkan oleh pemuda beriris coklat itu. Tentu saja maksud dari hiburan itu bukan yang seperti dilontarkan Tsuna tadi.

"ushishishishishshishi…kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" tanya Belphegor tertarik

Mendengar tawa seperti itu mambuat Tsuna menatap ragu kearah si pemilik tawa itu.

"bagaimana mungkin aku tidak berpikiran seperti itu. Sedangkan anggota OSIS sendiri menggunakan benda-benda berbahaya untuk dijadikan mainan. apalagi obyek mainan itu adalah manusia. Sudah pasti tugas Purinaku itu seperti itu bukan" jelas Tsuna yang teringat adegan lempar pisau Bel kepada Fran

"hahahahahaha…kau memang manarik. Benar-benar anak yang polos. Sayang aku sudah punya Enma, kalau tidak kau sudah habis di tanganku Sawada Tsunayoshi" kata Byakuran sambil mengeluarkan aura yang sedikit mesu-err berbeda, yang entah mengapa membuat Tsuna tiba-tiba bergidik

Enma yang mendengar itu tiba-tiba bermuka masam? Apa bermuka masam? Ya. Itu terlihat dari matanya yang menyipit dan bibirnya yang melengkung ke bawah. Sepertinya ia kurang suka dengan pernyataan Byakuran tadi. Sayangnya tak ada yang menyadari itu selain Mukuro yang berada dekat dengannya

"kufufu…jangan berkata seperti itu Byakuran. Kasihan Enma bila kau berkata seperti itu. Apa kau benar-benar ingin melepasnya?" tanya Mukuro yang kini menatap Byakuran jahil

Mendengar pertanyaan seperti itu membuat Byakuran sedikit kesal. Ia kemudian berjalan menghampiri Mukuro yang masih tetap setia berada di dekat ketiga Purinaku-nya itu

"sudah pasti aku tidak akan melepasnya begitu saja. Enma adalah milikku. Dan hanya aku yang boleh menyentuhnya" katanya sedikit keras sambil menatap tak suka ke arah ketua OSISnya itu

Melihat pemandangan aneh seperti itu jelas saja membuat Tsuna semakin tidak mengerti. Apa ia salah paham dengan pengertian dari Purinaku itu sendiri? Tapi, apalagi maksud hiburan untuk siswa Namimori kalau bukan sebagai bulan-bulanan. Apalagi ini adalah sekolah khusus pria bukan?

"wahwahwahwah… jangan begitu Byakuran. Jangan memonopoli Enma seenaknya. Bukankah dia adalah Purinaku, yang berarti ia adalah milik bersama, ushishishishi" saut Belphegor yang lagi-lagi mengeluarkan pisaunya dan mengelapnya

"sudahlah Byakuran. Susah kalau sudah berdebat denganmu." Kembali lagi menatap Tsuna, "sepertinya ada kesalahpahaman disini. Maksud kami bukan hiburan semacam itu" kata Mukuro lagi

Byakuran yang mendengar perkataan Mukuro hanya mengangkat dagunya dan beralih ke sisi Enma. Yang mana pemuda berambut merah itu kembali menunjukkan wajah datarnya walaupun ada sedikit rona merahdi pipinya

"kalau begitu hiburan macam apa yang dimaksud?" tanya Tsuna

"yah… seperti yang biasanya dilakukan maskot. Sebagai penyemangat bagi para siswa di Namimori Gakuen ini. Dan yang pasti mereka akan mengenakan pakaian khusus dalam menjalankan tugasnya sebagai penyemangat itu" jelas Mukuro sambil tersenyum

"apa maksudmu dengan pakaian khusus? Apa itu seragam khusus? Berarti harus mengeluarkan biaya lagi donk?" tanya Tsuna yang mulai menimbang hal itu karena seragam baru berarti ada uang lagi yang harus dikeluarkan dan perlu diketahui bahwa sejak kedua orang tuannya meninggal, kapasitas uangnya memang tidaklah banyak

Soal biaya untuk saat ini Tsuna memang tidak perlu terlalu memikirkannya. Sejak kedua orang tuanya meninggal seminggu yang lalu, Tsuna membiayai hidupnya dengan uang tabungan yang dimiliki oleh kedua orang tuanya. Sebenarnya ia tidak ingin sekolah, ia lebih memilih bekerja untuk membiayai hidupnya kemudian. Tetapi, atas desakan sahabat ayahnya, Tsuna harus sekolah, dengan jaminan biaya sekolahnya akan ditanggung oleh sahabat ayahnya itu.

Atas alasan itulah Tsuna bisa bersekolah di Namimori Gakuen. Karena, sahabat ayahnya itulah yang menyuruhnya untuk masuk ke sekolah ini. Tsuna yang sebenarnya sangat senang karena dapat bersekolah lagi merasa tak ingin merepotkan lebih jauh lauh orang yang mau menyusahkan dirinya untuk Tsuna. Ia sangat menghormati sosok sahabat ayahnya itu lebih daripada kerabatnya sendiri yang sejak kedua orang tuanya meninggal, mereka seperti tidak peduli dengan keadaan Tsuna

Oke, balik lagi ke perbincangan di ruang OSIS

"ushishishi… soal seragam khusus itu kau tak usah khawatir, semua dana keperluan Purinaku adalah OSIS yang menanggungnya. Hal itu sudah masuk ke dalam anggaran" jelas Belphegor yang sangat tidak disangka ternyata ia adalah bendahara OSIS

"aku masih bingung. Apa tepatnya yang dilakukan oleh Purinaku itu?" tanya Tsuna sambil menautkan alisnya

Mendengar itu Enma dan Fran hanya dapat mendesah pelan. Saking pelannya Tsuna tidak menyadari raut wajah kelelahan yang tampak pada wajah manis Enma dan wajah imut nan datar milik Fran

"bagaimana menjelaskannya ya… mungkin seperti Cheerleeder?" jawab Byakuran

Apaaaa? Bukankah itu kelompok anak perempuan yang menggunakan pompom dan berjoget-joget di hadapan umum itu? Yang benar saja… mana mungkin aku mau. Dan lagi, aku ini laki-laki. Mana mungkin melakukan hal sekonyol itu—batin Tsuna yang menolak tegas

"Cheerleeder? Yang pakai pompom terus rok mini kemana-mana itu?" akhirnya tanya Tsuna takut-takut. Sebenarnya takut ada pisau nyasar dari Bel yang masih saja mengelap pisau-pisaunya

"konsepnya seperti itu, mungkin pompom dan rok mininya bisa tidak dipakai" kata Byakuran tenang

"tidak… aku tidak mau. Bukankah hal yng seperti itu bisanya dilakukan oleh anak perempuan. Aku ini laki-laki. Jelas saja tidak mau pakai yang begituan" tolak Tsuna sambil menggelengkan kepalanya

Mendengar penolakan langsung dari Tsuna membuat ketiga pengurus OSIS itu saling bertatapan. Setelah memberi isyarat kepada Byakuran untuk meneluarkan sesuatu dari laci mejanya, Mukuro kembali memandang Tsuna yang kali ini balas memandangnya

"Purinaku itu adalah asset berharga bagi sekolah ini. Karena tugas-tugasnya yang seperti itu tentu saja ada imbalan khusus kepada para anggota Purinaku." Kata Mukuro sambil tersenyum. Mukuro lalu memanggil Byakuran yang telah mengambil lembaran kertas dari laci meja yang dimaksud Mukuro tadi.

"sebagai anggota Purinaku, mereka mendapatkan hak-hak khusus dalam sekolah ini. Antara lain bebas menggunakan kamar mandi khusus yang ada di gedung pusat, bebas mengikuti atau tidak mengikuti pelajaran di kelas, tugas atau pekerjaan rumah ditiadakan, makan siang gratis dan seabrek fasilitas dan keuntungan lain yang akan kalian dapatkan" jelas Byakuran sambil membaca kertas yang diambilnya dari laci

Mendengar itu Tsuna-seperti yang bisa di duga Mukuro, tercengang. Tsuna beranggagapan tugas macam apa yang akan dilakukan sebagai Purinaku apabila imbalannya semenggiurkan itu. Terutama bagian tugas dan makan siangnya. Dengan bebasnya mengerjakan tugas sekolah itu tentu saja meringankan beban otaknya yang memang kurang bisa tanggap. Sedangkan makan siang, sudah tentu untuk menghemat pengeluaran kerena saat ini ia hidup sebatang kara.

Tidak tidak tidak, jangan terpengaruh Tsuna, carilah alasan untuk keluar dari situasi ini-batin Tsuna

"bagaimana Sawada Tsunayoshi? Masih banyak keuntungan lain yang akan kau dapatkan apabila kau menjadi anggota Purinaku" kata Mukuro sambil tersenyum

"tidaaaaakk… aku tidak mau, lagipula, seperti yang aku katakana sebelumnya, aku ini laki-laki. DAN laki-laki TIDAK MUNGKIN pantas menjadi mascot sepeti itu" elak Tsuna dengan penekanan yang kuat

"ushishishishsishihsi… teori siapa yang bilang kalau laki-laki itu tidak pantas? Lihat ini!" kta Bel tiba-tiba sambil mengeluarkan handphone-nya dan menunjukkan foto yang terpampang di layar handphone-nya itu

Dengan menyipitkan mata, Tsuna melihat ke foto yang ditunjukkan oleh pemuda berambut pirang yang berdiri cukup jauh darinya itu. Walaupun jauh, gambarnya sangat jelas, bahkan semua anggota tertarik untuk melihat apa yang ada di dalam foto itu

Kemudian semua menjadi diam, mereka seakan terpana dengan foto yang ditunjukkan oleh Belphegor yang sambil menunjukkan seringaiannya

Kemudian,

"uwaaa… apa itu, kawaii" teriak Tsuna histeris

"iya, bener, manis banget" sahut Enma mengiyakan

"kufufu… ternyata kau mesum juga rupanya" kata Mukuro sambil menyunggingkan senyum mesumnya

"boleh juga idemu tu Bel, lain kali aku akan coba idemu itu" ucap Byakuran sambil memikirkan sesuatu entah apa sambil sesekali menatap Enma dan mengangguk

Di saat yang sama, Enma merasakan sesuatu yang dingin menjalari tubuhnya yang membuatnya merasakan bulu kuduknya meremang, pertanda firasat yang tidak baik

Sebenarnya apa sih foto yang ditunjukkan oleh Bel sampai membuat manusia-manusia di ruangan itu bertingkah begini

Ternyata, sosok yang ada di dalam handphone itu adalah Fran yang tengah berpose manis sambil duduk seperti kucing dengan salah satu tangannya menggenggam di samping pipi layaknya kucing. Baju yang dipakainya hanyalah singlet hitam tanpa lengan yang agak gombrong sehingga salah satu bagian atasnya agak melorot dari bahunya yang terekspos jelas ditambah hanya memakai celana pendek berwarna putih yang semakin mengekspos kaki mungilnya. Akan tetapi yang membuat semua lebih tercengang bukan itu. Melainkan wajah manis Fran yang biasanya datar menjadi memerah dengan mata yang sedikit tertutup dan bibirnya juga sedikit terbuka, sepertinya- menurut Tsuna- mengeong. Kepalanya yang sedikit dimiringkan membuat Fran terlihat sangat manis, imut dan ehem, menggoda.

Semua terpana dengan pemandangan wah yang dihadirkan oleh Bel, sedangkan pemilik handphone hanya menunjukkan seringai khasnya.

"Bel senpai.. kenapa bisa ada fotoku yang seperti itu di handphone senpai. Ditambah lagi aku tidak ingat berpose seperti itu di hadapan senpai. Pasti Bel senpai mengedit foto itu kan" sanggah Fran yang bertahan dengan wajah dan suara datarnya walaupun kurang berhasil menutupi kekegetannya

"ushishishishi, kau tidak ingat? Bukankah waktu itu kau yang datang seenakknya ke kamarku untuk membaca manga lalu menghabiskan seluruh minuman sodaku yang kemudian menyebabkan kau sampai err mabuk begini. Aku tidak menyangka, kalau kau tidak kuat minum soda" ucap Bel tersenyum puas

Mendengar itu seluruh penghuni ruangan itu terperangah dengan penjelasan Bel. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau Fran si kepala kodok bermuka datar itu tak tahan dengan soda

"kufufu… kalau begitu mulai sekarang berhati-hatilah kau Fran. Bisa saja kami ini memasukkan soda ke dalam minumanmu" goda Mukuro dengan senyum mesu ehem jailnya

Fran yang mendengar itu tetap menunjukkan ekspresi datarnya walaupun Tsuna tahu Fran sebenarnya khawatir jika itu terjadi

"sudah, sekarang kita kembali ke topik."kata Byakuran yang telah kembali kepada pekerjaannya sebagai Sekretaris OSIS. "nah, Tsuna, kau telah lihat sendiri bukti yang menunjukkan bahwa laki-laki bisa terlihat begitu- ehem seperti tadi bukan. Apa kau mau menghindar lagi" lanjut pemuda berambut putih itu

Kali ini Tsuna benar-benar terpojok. Ia merasa tidak bisa membantah ucapan Byakuran karena foto Fran yang ditunjukkan tadi benar-benar menepis argumennya. Harga dirinya sebagai laki-lakilah yang membuatnya tetap bersikeras tidak mau mengikuti permintaan untuk menjadi Purinaku

"tapi..tapi…" elak Tsuna sambil memainkan ujung kemejanya "tidak bisa. Maaf, ada hal yang lebih penting yang harus kulakukan. Aku berencana untuk mencari kerja sambilan untuk mencukupi hidup. Jadi maafkan aku, aku menolak menjadi Purinaku" kata Tsuna memantapkan diri

Mendengar jawaban Tsuna ketiga anggota OSIS itu langsung berpandangan. Sementara Enma hanya memandang iba ke Tsuna dan Fran yang masih berwajah datar juga menatap pemuda berambut coklat itu

"baiklah jika itu keinginanmu" kata Mukuro kemudian yang membuat Tsuna sedikit lega karena mengira ketua OSISnya itu mengerti "tapi sebelum kau benar-benar memutuskannya Tsuna, sebaiknya kau mendengar apa yang akan dikatakan oleh Belphegor ini. Mungkin hal ini akan membantu juga dalam kehidupanmu" lanjut pemuda tampan itu sambil melirik ke pemuda pirang di sampingnya yang langsung mengangguk mengerti

"perlu untuk kau ketahui Tsuna, kami tentu saja tidak membiarkan mascot kebanggaan sekolah ini begitu saja. Dengan tugas yang sangat berbeda itu kami tentu saja memberikan imbalan khusus atas pekerjaan yang dilakukan oleh Purinaku itu. Bahkan, sekolah telah memberikan anggaran khusus untuk keperluan Purinaku yang jumlahnya tidaklah sedikit. Karena itu, jika kau menjadi anggota Purinaku kau akan mendapatkan imbalan sebesar 10.000 yen tiap minggunya. Itu belum dengan bonus apabila pekerjaanmu memuaskan. Hal itu juga belum termasuk dengan liburan-liburan ditambah uang saku yang akan kau dapatkan apabila menjadi mascot kami." Jelas Belphegor

Diam 1 detik

Diam 2 detik

Whatttt?

Gilaaa… benar-benar gila. Itu hampir sama dengan gaji seorang guru, bahkan jauh lebih besar daripada gaji penjaga rental CD yang kuincar di koran tadi pagi. Belum lagi bonus yang akan aku terima. Belum yang lain-lain. Tapi, mengapa harus menjadi maskot… aku benar-benar tidak mau bertingkah memalukan, apalagi bersorak-sorak seperti pemegang pom-pom itu. Aku laki-laki, ingat! Tapi imbalan itu benar-benar aku butuhkan untuk keperluan hidupku ini, aduhhhh- begitulah gejolak batin yang dialami Tsuna

Ketiga anggota OSIS itu hanya bisa tersenyum, melihat tingkah laku Tsuna yang sedang kebingungan sambil mengacak-acak rambut coklatnya. Enma menatap simpati dan Fran tetap dengan wajah datarnya seperti biasa

Tidak Tsuna, kamu itu laki-laki, ingat Tsuna LAKI-LAKI. Jangan biarkan tawaran menggiurkan itu mengubah pendirianmu- batin Tsuna yang terus berkecamuk

"tidak tidak tidak, aku menol-" belum sempat Tsuna menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba muncul asap putih entah dari mana. Asap putih itu tidak terlalu banyak tapi cukup pekat sehingga membuat penghuni ruangan itu tidak dapat melihat jelas dan terbatuk-batuk

"Uhuk-uhuk...asap apa ini..uhuk" kata Tsuna terbatuk-batuk

"kau tidak bisa seenaknya memutuskan seperti itu, heh Dame-Tsuna" tiba-tiba terdengar suara dari arah meja kaichou yang masih tertutup oleh pekatnya asap putih

Tsuna yang sepertinya mengenal suara itu langsung panik. Bagaimana tidak, itu adalah suara orang yang selama ini membantunya saat kedua orang tuanya pergi meninggalkannya untuk selamanya

Asap putih yang memenuhi ruangan itu sedikit demi sedikit mulai menghilang. Lalu, tampaklah dua sosok di balik meja kaichou, yang satu duduk di bangku kaichou dengan meletakkan kedua kakinya di atas meja dengan pose dan tatapan yang angkuh, dan sosok satunya berdiri di sampingnya sambil memegang sesuatu yang nampaknnya seperti notes

"Seperti yang kubilang tadi Dame-Tsuna, kau tidak bisa memutuskan untuk menolaknya begitu saja. Lebih tepatnya kau tidak kuijinkan untuk menolak" kata orang yang duduk di bangku itu sambil membenarkan letak topi fedoranya yang ada di kepalanya

"ke..kenapa harus begitu Pa...Paman Reborn" cicit Tsuna yang mulai ciut pendiriannya karena kedatangan seseorang yang ia sebut Paman Reborn itu

"kau sudah dengar apa yang kukatakan bukan, kau tidak boleh menolak, kau harus menerimanya" kata Reborn tenang

"tunggu sebentar, apa maksudnya ini Reborn-sama? Apa Anda mengenal Sawada Tsunayoshi ini sebelumnya?" tanya sang kaichou dengan sopan yang tampaknya sedikit terkejut dengan kehadiran sosok ini

"tentu saja aku mengenalnya. Saat ini akulah yang memegang ke-walian dari bocah berambut coklat jabrik di sana itu" kata Reborn sambil menatap angkuh ke arah Tsuna yang tak berani menatap walinya itu

Mendengar penuturan itu, semua penghuni ruangan itu kecuali Reborn-dan orang disampingnya- serta Tsuna, hanya bisa ber-oo ria sambil mengangguk-anggukan kepalanya

"maaf Reborn-san, anda ada rapat dengan komite 10 menit lagi. Jika urusan ini sudah selesai, sebaiknya anda segera menuju ke ruangan rapat itu" kata sosok berambut hitam panjang yang dikepang dengan pakaian cina bewarna merah kepada Reborn

"baiklah..baiklah.. seperti biasa kau selalu mengingatkan aku tentang rapat, Fon" jawab Reborn sambil menghela nafas dan melirik sosok berbaju merah yang dipanggilnya Fon itu.

"sudah menjadi tugas saya untuk mengatur dan mengingatkan anda Reborn-san" kata Fon sambil tersenyum

"aku tau...aku tau.." kata Reborn yang kemudian menurunkan kedua kakinya dari meja ketua OSIS. "kalau begitu waktuku tidak banyak, heh Dame-Tsuna" panggil Reborn ke pemuda mungil yang masih menciut di pojokan sofa

"ha..haikk.. Paman Reborn" jawab pemuda beriris karamel itu terbata

"kau kuperintahkan untuk menjadi anggota Purinaku, Tsuna. Dan apabila kau menolak, maka kau akan dikeluarkan dari sekolah ini dan akan aku akan memutuskan perwalianku dari kau heh Dame-Tsuna" kata Reborn tegas

"apaa... kenapa begitu paman. Kejam, Paman tega sekali sama aku. Lagi pula...lagi pula... apa hak Paman sampai-sampai menyuruhku mengikuti kegiatan aneh seperti Purinaku ini" tolak Tsuna yang kali ini benar-benar keberatan karena terus didesak untuk menjadi anggota Purinaku

"tentu saja aku punya hak. Apa kau tidak tahu bahwa akulah kepala sekolah dan pemilik Namimori Gakuen ini" jawab Reborn tenang sambil tersenyum—err lebih tepatnya menyeringai kejam ke Tsuna

Gleek, Tsuna hanya bisa menelan ludah. Ia benar-benar tak bisa lari lagi dari keputusan mutlak dari wali serta kepala sekolahnya itu

Melihat kondisi itu, ketiga anggota OSIS tersenyum penuh kemenangan karena tahu bahwa sosok Tsuna yang sempurna sebagai maskot itu sebentar lagi akan menjadi anggota Purinaku

'Kami-sama.. apa salahku hingga harus terjebak dalam situasi ini' keluh Tsuna dalam hati

"aku belum mendengar jawabanmu Dame-Tsuna. Apa kau akan menjadi anggota Purinaku atau tidak dan membantah perintahku ini Sawada Tsunayoshi" kata Reborn lagi yang kali ini sambil tersenyum misterius dan mengeluarkan aura hitam pekat yang sengaja ditujukan untuk membuat pemuda manis bernama Tsuna itu menyerah dan menuruti perintahnya itu

'haduhhh...apa aku benar-benar harus mengalami ini semua, Kami-sama' batin Tsuna sambil menatap para anggota Purinaku yang ada di kanan dan kirinya. Yang ditatap hanya dapat membalas dengan tatapan sudah-menyerah-saja-daripada-urusannya-mati-ditang an-kepala-sekolah

"aku belum mendengar jawabanmu Sawada Tsunayoshi" ulang Reborn yang masih memancarkan aura mengitimidasi yang kali ini lebih pekat dan ditujukan lagi ke Tsuna yang malang

"haikk haikk Paman Reborn. Baiklah, aku akan menjadi anggota Purinaku" kata Tsuna yang akhirnya menyerah karena memang hanya itu satu-satunya jalan keluar dari intimidasi Reborn yang mengerikan

"oke. Beres sudah urusan di sini" kata Reborn senang dan seketika aura mematikan itu lenyap tak bersisa. "nah, mulai dari sini aku serahkan sepenuhnya urusan ini ke OSIS. Mukuro, aku mengandalkanmu" lanjutnya lagi

"baik, Reborn-sama. Saya tak akan mengecewakan anda" jawab Mukuro dengan sangat sopan kepada pria bertopi fedora itu

"hmm..hmm.." jawab Reborn yang hanya mengangguk-angguk lalu beralih ke Fon lagi, " nah Fon, kita bisa pergi sekarang" lanjutnya

"baik, Reborn-san" jawab Fon

Tak lama setelah Fon berkata seperti itu, ruangan OSIS tiba-tiba kembali dipenuhi asap putih yang membuat semua penghuni yang ada di ruangan itu terbatuk-batik. Tak lama kemudia asap pun menghilang dan sosok Reborn serta Fon pun menghilang juga dari ruangan itu

"haduh..haduh.. Kepala sekolah kita benar-benar selalu mengejutkan kita ya" Byakuranlah yang pertama kali berbicara

"ushishishishishishishi... benar-benar tak terduga" lanjut Bel yang membuat Tsuna heran masih mengelap pisau-pisau peraknya

"yang penting sekarang" kata Mukuro sambil memejamkan matanya. "mulai hari ini Sawada Tsunayoshi telah resmi menjadi anggota Purinaku" tambahnya sambil membuka matanya yang berbeda warna itu sambil tersenyum senang

"selamat datang anggota baru" kata Enma yang terlihat sangat senang mendapatkan anggota baru, apalagi yang manis seperti Tsuna ini

"um, selamat datang Sawada-san" ucap Fran yang kali ini sedikit menunjukkan ekspresinya yang dapat dilihat dari bibirnya yang sedikit-ingat sangat sedikit- terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman

'Kami-sama, semoga tidak terjadi apa-apa terhadapku' batin Tsuna sambil menghela nafas

"JUUDAIMEEE..." terdengar teriakan yang sangat keras begitu Tsuna dan Enma membuka pintu kelasnya

"Gok...Gokudera-kun" ucap Tsuna yang kaget dengan sambutan yang diterimanya ketika kembali dari ruangan OSIS

"Hayato, saat ini masih dalam pelajaranku. Jika kau masih mau memperdengarkan suara berisikmu itu sebaiknya berkoarlah sepuasnya di depan sekolah saja daripada menggangu pelajaranku" kata Xanxus-sensei yang nampak marah dengan tingkah Gokudera

Gokudera yang mendengar itu langsung saja terdiam. Benar-benar tak mau ambil resiko mendapatkan hukuman yang lebih berat dari senseinya itu. Gokudera hanya bisa menatap sahabat barunya itu dengan tatapan kau-tidak-apa-apa-kan-juudaime?

"dan kalian berdua, sampai kapan mau berdiri di depan pintu seperti itu. Cepat kembali ke tempat duduk kalian" perintah sang sensei

"ha..haik sensei" jawab Tsuna sambil menundukkan kepalanya

"haik" jawab Enma yang langsung kembali ke tempat duduknya masing-masing

Disaat dua makhluk manis itu berjalan ke tempat duduknya masing-masing. Tatapan ingin tahu ditunjukkan olah seluruh penghuni kelas atas pemanggilan anak baru itu ke ruangan OSIS. Bahkan seorang Xanxus-sensei yang notabene-nya adalah guru terganas seantero Namimori Gakuen inipun tak luput menunjukkan tatapan penasaran kepada dua pemuda yang kini telah duduk di bangkunya masing-masing.

"bssst...Juudaime. ada apa OSIS memanggil kalian? Sejak Juudaime keluar dari kelas aku benar-benar khawatir. Jangan-jangan OSIS melakukan hal yang buruk terhadap Juudaime" bisik Gokudera setelah Tsuna mengenyakkan diri di bangkunya

'perkiraannya benar, mereka melakukan hal yang buruk terhadapku' batin Tsuna

Melihat raut wajah Tsuna yang tiba-tiba berubah menjadi terpuruk membuat Gokudera tambah khawatir. Jangan-jangan apa yang dikatakannya benar

"sebaiknya diceritakan saja Juudaime. Mungkin akan sedikit meringankan beban Juudaime." Kata Gokudera sambil tersenyum menenangkan

"iya Tsuna, kau bisa cerita ke kami jika itu membuatmu lebih baik. Siapa tahu kami bisa meringankan kesulitan yang kau alami" tiba-tiba Yamamoto ikut berbisik, sepertinya dari tadi mengikuti perbincangan antara dua sejol- uhuk, dua kawan itu

Melihat perhatian yang diberikan oleh kedua teman barunya itu membuat Tsuna terharu. Saking terharunya bahkan membuat iris karamelnya berkaca-kaca.

"terima kasih minna, nanti akan aku ceritakan semuanya kepada kalian. Sekali lagi terima kasih" kata Tsuna sambil tersenyum tulus kepada kedua sahabat barunya itu

Mendengar tuturan Tsuna kedua makhluk yang berambut putih dan hitam itu hanya bisa membalas senyum tulus Tsuna dengan senyuman yan tak kalah tulus. Berharap beban yang diderita Tsuna dapat dibagi sehingga tidak memberatkan pemuda manis yang kini sedang menangis tertahan dalam diam karena masih sayang nyawa melihat Xanxus-sensei masih memberikan pelajarannya

Di sudut lain terlihat pemuda bersurai merah yang sedari tadi tak lepas menatap pemuda berambut coklat yang mencuat ke atas secara tak wajar. Sambil menghela nafas pemuda itu kembali memainkan pensilnya dan memandang ke luar jendela tanpa mempedulikan koaran Xanxus di depan kelas

"apa? Juudaime menjadi anggota Purinaku?" teriak Gokudera setelah Xanxus-sensei menyelesaikan jamnya

"husshh.. Gokudera, jangan keras-keras, aku malu ni" kata Tsuna yang merona karena teriakan Gokudera bisa memicu tatapan ingin tahu dari teman-teman sekelasnya

"maaf. Tapi apa benar Juudaime menjadi anggota Purinaku?" tanya Gokudera memastikan

"mau bagaimana lagi, aku tidak bisa menolak permintaan kepala sekolah langsung" jawab Tsuna sambil tertunduk lesu

"maa...maa... jadi kepala sekolah meminta mu langsung menjadi anggota Purinaku?" tanya Yamamoto yang ikut berdiskusi dari bangkunya yang ada di belakang Tsuna

"diam kau Yakyuu baka. Dan kenapa kau ikut dalam perbincanganku dengan Juudaime ini hah?" kata Gokudera yang merasa tidak rela jika Yamammoto ikut dalam diskusinya ini dengan sahabat barunya itu

"sudahlah Gokudera. Aku tidak keberatan kok" kata Tsuna menengahi.

Gokudera yang masih tak rela dengan keberadaan Yamamoto dalam kegiatannya dengan Tsuna itu pun sedikit mendengus kesal ke Yamamoto yang dibalas dengan senyuman khasnya yang membuat Gokudera semakin kesal tapi tak membantah permintaan Tsuna untuk membiarkan Yamamoto berada di situ

"begitulah Yamamoto, habisnya kepala sekolah itu ternyata adalah waliku, ya beginilah akhirnya" kata Tsuna

"begitu ya. Emang kepala sekolah kita itu terkenal dengan perintahnya yang tidak bisa ditolak. Berani membantah ucapannya saja bisa berakibat skors selama seminggu" ucap Yamamoto

"emang kepala sekolah sialan. Berani-beraninya membuat Juudaime-ku kesulitan." Dengus Gokudera tidak terima

Melihat tanggapan dari Gokudera, Tsuna hanya dapat tersenyum kecil dan Yamamoto yang juga hanya dapat mengangkat bahu

"tapi juudaime, apa kau tahu apa saja pekerjaan Purinaku itu?" tanya Gokudera

"tidak sepenuhnya tahu. Tadi di ruang OSIS aku diberitahu gambarannya saja. Semacam maskot atao penyemangat begitu kan?" kata Tsuna sambil menghela nafas

"yaa.. memang bisa dikatakan seperti itu. Tapi apa kau tahu kegiatan apa saja yang akan kau lakukan saat menjadi Purinaku Tsuna?" kali giliran Yamamoto yang bertanya, entah engapa sedikit antusias

"umm... sepertinya belum tahu. Tadi aku hanya di suruh menandatangani kertas anggota Purinaku saja. Kalau rincian kegiatannya sepertinya memang belum diberitahu" kata Tsuna setelah mencoba mengngat apa yang dikatakan tadi di ruang OSIS

"begitu ya? Aku jadi tidak sabar menunggu aksi perdanamu menjadi Purinaku Tsuna" kata Yamamoto tersenyum sambil mengangkat kedua tangangnya dan menyilangkannya di belakang kepalanya

"apa maksudmu, Yakyuu baka?" teriak Gokudera yang menjadi naik darah mendegar ucapan Yamamoto sedangkan yang diomongkan hanya bisa sweet drop

"maa...maa... akui saja Hayato. Kau juga menunggunya kan?" goda Yamamoto

"en..enak saja, tidak seperti itu. Dan sejak kapan kau memanggilku dengan nama kecilku? Kau tak kuijinkan memanggilku dengan nama itu" seru Gokudera

"hahahahaha, tapi benar kan kalau kau juga ingin melihat penampilan perdananya Tsuna, Hayato" goda Yamamoto sambil tersenyum menyebalkan ke arah Gokudera

"SUDAH KUBILANG JANGAN MEMANGGILKU DENGAN NAMA KECILKU." Teriak Gokudera sambil berwajah merah, entah marah atau malu karena dipanggil dengan nama kecilnya

"sudahlah Yamamoto, kasian Gokudera jika kau goda terus" saran Tsuna yang tak tega melihat sahabatnya digoda terus. "anoo.. Gokudera-kun, apa benar yang dikatakan Yamamoto itu, kalau kau menunggu,...itu..." kata Tsuna yang ternyata kepikiran dengan omongan Yamamoto

"huaaaa... bukan begitu Juudaime. Jangan dengarkan omongan Yakyuu Baka itu. Walau emang sebenarnya aku menunggu penampilan Juudaime, tapi tidak ada maksud lain kok" loh? Malah jujur ki bocah kepala gurita iki

"gitu ya..." kata Tsuna lirih sambil menundukkan kepalanya

"maafkan aku Juudaime. Tapi tetap saja, aku akan melindungi Juudaime dari orang-orang yang membuat masalah dengan Juudaime" deklar Gokudera yang tak tega melihat keterpurukan sahabatnya itu

"terima kasih Gokudera" jawab Tsuna lirih sambil tersenyum lemah ke Gokudera

'senyum itu, ingin ku monopoli sendiri...' batin Gokudera

"tenang saja Tsuna, aku juga akan membantu Hayato. Bagaimana?" tawar Yamamoto santai

"yakyuu baka, aku tidak membutuhkan bantuanmu" senggah Gokudera sambil melotot

Tak mempedulikan penolakan Gokudera, Tsuna juga mengucapkan terima kasih ke Yamamoto. Kemudian meletakkan kepalanya ke meja. Entah mengapa, Tsuna merasa kepalanya sakit dan pening akibat kejadian yang menimpanya hari ini

Masih di sudut ruangan yang lain. Enma melirik Tsuna yang nampaknya tertidur di mejanya dan membuka handphonenya yang nampaknya ada pesan yang ditujukan kepadanya.

'hari ini sepulang sekolah semua anggota Purinaku berkumpul di ruang OSIS'

'NB : untuk Enma, beritahu Tsuna untuk datang, karena OSIS tidak tahu alamat emailnya'

Melihat isi pesan itu Enma hanya dapat menghela nafas panjang. Sambil menutup handphone-nya, Enma kembali melirik ke pemuda berambut coklat yang tertidur di antara perang mulut pemuda berambut putih dengan pemuda berrambut cepak.

Kembali menyibukkan diri dengan membuka buku dan membaca lagi buku yang ada di tangannya, tiba-tiba Enma mendongak melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 12.45, yang mana pertemuan OSIS akan berlangsung sekitar 2 jam-an lagi.

"tampaknya besok akan dimulai pekerjaan yang sangat melelahkan" ujarnya lirih sambil menghela nafas dan kembali membaca buku yang ada di tangannya itu.

.

.

.

TBC

.

.

IHIRRRR... selesei juga chapter tiga ini. Bener-bener lama bener ngepublish ni chapter. Uda ada hampir 2 ato 3 bulan. Sekali lagi maafkan author gila ini ya minna.

Author janji, untuk chapter depan gak akan lama-lama apdetnya. Kerena itu mohon doa yang kutukannya untuk membuat author semangat melanjutkan fic ini

Ahe... ^~^v

.

Yang tak lupa untuk author minta...

...

...

Review minna... author tunggu-tunggu kritik dan sarannya.

Ohohohohohoho...ohokk..!

Sampai jumpa...

Jaa ne (~^,^)~_ ~(^,^~)