Hinata dan Shion mengendap-endap perlahan menuju sebuah toko kelontong. Memang, belum ada zombie yang mereka temui selama perjalanan kesana, namun pistol yang dimiliki Shion tetap dalam keadaan siaga, siap menembak kepala manusia setengah zombie dan zombie sempurna apabila datang tiba-tiba.
Selama perjalanan ke sana, Shion sempat menjelaskan tentang zombie yang ada. Zombie yang pertama zombie sempurna dan zombie kedua manusia setengah zombie. Zombie sempurna memiliki tubuh seperti tengkorak yang dibungkus kulit dan gerakan yang cepat, rata-rata tidak ada manusia yang bertahan hidup apabila menemui zombie ini. Satu lagi, manusia setengah zombie, mereka sebenarnya mati tapi masih dapat berjalan, makan, dan bernapas, seperti Sasuke.
Lalu juga tentang gigitan mereka yang bisa membuatmu menjadi bagian dari makhluk itu, seperti film-film zombie yang pernah Hinata nonton bersama Sakura dan Ino. Mengingat nama-nama mereka, raut wajah Hinata meredup.
"Cepat ambil makanan sebanyak yang kau bisa Hinata, aku menunggu di sini, melihat keadaan," kata Shion.
Dengan segera Hinata masuk ke toko kelontong itu. Mengambil apa saja yang dilihatnya. Cokelat, buah kalengan, soda, mie instan, pasta, air mineral, dan apapun yang ia lihat serta dapatkan. Semua makanan itu Hinata masukan pada sebuah kantung besar yang dibawa Shion dari tempat perlindungan mereka.
"Cepat!"
Hinata melihat beberapa marshmallow di bawah meja, ia berusaha menjangkaunya, tapi tangan Hinata terlalu pendek untuk meraih marshmallow tersebut.
"Cepat, Hinata! Seorang manusia setengah zombie mendekat!" Shion sudah berteriak pada Hinata, tapi gadis itu masih tetap saja berusaha mengambil marshmallow.
'Sedikit lagi...'
"S-sedikit l-lagi..."
Dan... dapat!
"Ikuti aku!" Teriak Shion. Hinata buru-buru bangkit setelah sebelumnya, mengikuti Shion yang berada di depannya, dan berlari diantara tumpukan barang-barang. Jantung Hinata memompa cepat, ia takut ia akan berhenti ditengah-tengah larinya dan menjadi santapan zombie kelaparan itu. Hinata takut ia akan membuat Shion mati karena dirinya yang begitu lambat. Hinata takut...
Tiga zombie lagi mereka temui di ujung jalan, sementara zombie yang sebelumnya tidak tampak lagi di belakang sana. Ketiga zombie itu dengan langkah yang cukup besar dan sedikit berlari menuju Shion dan Hinata yang ada di seberang zombie-zombie itu.
Shion melirik Hinata sekilas, kontras sekali bahwa gadis itu tengah ketakutan. Hinata membalas menatap Shion, menyuruhnya untuk memuntahkan peluru dari pistol di genggaman. Tapi Shion menggeleng dan tersenyum misterius, "Peluru ini sangat berharga."
Gadis berambut blonde itu bergerak ke pinggir, sebuah balok kayu besar diambil Shion. Kali ini Shion berjalan cepat dengan kedua tangan yang mengenggam balok kayu. Pistol yang sebelumnya Shion pegang telah dimasukkan ke dalam saku jeans belakangnya.
Perlahan tapi pasti, Shion mendekati para mayat berjalan itu. Tangannya berayun, balok kayu menghantam seorang zombie, menghancurkan serta meremukan kepala mereka. Shion kembali mengayunkan tangannya hingga mengenai zombie yang lainnya. Darah bercipratan dari kepala-kepala itu, tetapi Shion tidak gentar. Hinata saja yang hanya menjadi penonton dapat merasakan bulu kuduknya meremang.
Oh ayolah, siapa yang tidak merasa ngeri saat melihat adegan pembunuhan di depanmu walau orang yang dibunuh itu memang telah 'mati' sebelumnya?
Manusia setengah zombie itu tergeletak tak berdaya beberapa saat kemudian. Shion yang beberapa meter di depan Hinata berteriak ke arahnya, "Ayo."
Hinata berlari, menyusul Shion yang telah masuk ke dalam semak-semak dan ikut tenggelam di dalamnya.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Make Me Alive
.
-Survive-
.
Terinspirasi dari filem zombie dengan judul Warm Bodies yang ada siganteng R dan si cantik Julie #plak
Warning : zombie fic, typos, OOC, alur kecepatan, aneh, gaje, dan sobat-sobatnya.
.
"Bagaimana Hinata-chan?" Ucap Naruto begitu Hinata dan Shion pulang. Wajahnya terlihat cemas dan er... excited.
"B-berhasil," Hinata mengucapkan itu disela-sela napasnya yang terengah karena berlari tadi. "Kalau berhemat, mungkin bisa untuk persediaankita selama... tiga hari, atau bahkan empat hari."
Tanpa sadar, Naruto maju untuk memeluk Hinata. Mungkin tindakan itu adalah hal yang sering dilakukan oleh Shion dan Naruto, namun tidak dengan Hinata dan Sasuke. Hinata membeku disana, sementara Sasuke yang berada di sudut ruangan menatap dengan mata yang lebih terbuka daripada sebelumnya.
Dada Sasuke terasa sedikit lebih sesak daripada sebelumnya. Dan ia tidak tahu mengapa.
Perlahan, Naruto melepas pelukannya dengan tetap tersenyum, seperti biasa. Mendadak, raut wajah Naruto berubah melihat wajah Hinata yang seperti... terkejut, "Ah! Maaf, aku kelepasan."
Hinata tersenyum maklum dengan wajah merona tentunya, "T-tidak apa."
Gadis selain Hinata, Shion terkekeh, "Setelah ini, kau harus siap dengan pelukan dasyat Naruto dan adegan berdarah seperti tadi, Hinata-chan."
Naruto tersentak, "Tadi kalian ketemu zombie?"
"Ya, empat. Tidak terlalu merepotkan, dan untungnya kami selamat."
"Baguslah, Hinata-chan, Shion-chan."
Sekali lagi, Hinata memerah dan untuk kesekian kalinya, pemuda setengah zombie itu tidak suka.
Tapi tunggu, apakah manusia yang sudah mati dapat merasakan perasaan 'manusia'?
Sasuke beranjak, gramophone tua di sudut ruangan menjadi tujuannya. Setelah piringan hitam terpasang, Sasuke kembali beranjak duduk di sofa favoritnya diiringi dengan lagu blues yang mengalun lembut.
Hinata seketika mendongak mendengar lagu yang dibunyikan gramophone, ia terasa familiar, "Ini lagu..."
"Rock me baby... B.B King," ucap Sasuke dengan suara yang lambat.
Hinata mengerjap. Ah, ia lupa judul lagu itu, padahal teman-temannya di sekolah sering memainkan itu. Setelah meletakkan kantung makanan yang Hinata dan Shion jarah di atas meja, Hinata memilih untuk duduk di sebelah Sasuke. Gadis itu merasa kalau ia perlu untuk berterima kasih kepada Sasuke karena telah menyelamatkannya, mungkin perbincangan kecil tidak apa.
Tapi tunggu.
Untuk apa Hinata berterima kasih pada Sasuke padahal zombie itu telah memakan Sakura? Atau mungkin Ino dan Asuma-ji, sang supir?
Arah jalan Hinata yang semula lurus menuju sofa berpindah haluan ke kursi kayu yang letaknya paling jauh dari posisi duduk Sasuke, duduk dan mengamati percakapan Shion dan Naruto yang mengisi ruangan serta lagu Rock Me Baby milik B.B King.
'Rock me baby, rock me all night long~'
"Kau bau Na―"
"Kau lebih bau, Shion."
"Ini bau darah busuk tol―"
"Aku tahu, aku tahu."
"Kalau sudah tahu kenapa―"
'Rock me baby, honey, rock me all night long~'
Ya, itulah yang kira-kira sudah Hinata dengar selama beberapa menit ini. Ia sedikit tersenyum melihat perdebatan diantara Naruto dan Shion. Tanpa menyadari Sasuke yang hanya menatap Hinata.
.
.
Saat pertama kali Sasuke membuka mata, yang dilihatnya hanyalah manusia-manusia aneh yang memakan orang-orang. Mencakar, menggigit, mengunyah, dan melukai. Suara ketakutan dan teriakan memenuhi indera pendengarannya. Ia melihat itu. Sasuke rasa manusia aneh itu melakukan kejahatan dan alarm hati nurani Sasuke berbunyi untuk menyelamatkan orang-orang normal.
Sasuke menghampiri manusia aneh berpakaian satpam dan wanita cantik yang tangannya sudah digigit oleh manusia aneh itu. Tapi entah mengapa, ia ikut-ikutan memakan si wanita cantik. Sasuke memakan dengan lahap dan ganasnya, seakan-akan ia telah tidak makan selama bertahun-tahun.
Sasuke mencoba mengingat kembali apa yang terjadi pada dirinya, tetapi hasilnya nol, nihil. Ia tidak mengingat apapun. Yang ada di otak Sasuke hanyalah 'makan, makan, dan makan', tidak ada yang lain, walaupun Sasuke sudah berusaha untuk memerintahkan otaknya berhenti.
Tangan Sasuke kini meraih isi tengkorak orang yang sudah mati itu, meraih otak. Sasuke memakannya...
Sebuah padang bunga tulip yang luas terlihat dengan sebuah kincirangin yang bergerak lambat. Di tengahnya, berdiri seorang gadis danpemuda berwajah oriental, mereka tersenyum. "Aku mencintaimu, Kei," Sang pemuda ikut tersenyum lebar, "Aku lebih, lebih, lebih dan lebih mencintaimu, Kyoko."
Lalu mereka berciuman dengan lembut, berharap orang yang mereka ciumi dapat merasakan perasaan mereka yang tulus.
...Sasuke bisa melihat memori wanita ini.
Sasuke bingung. Apa yang terjadi pada dirinya?
Pemandangan berubah dengan sangat cepat secara abstrak. Sepasang manusia yang sebelumnya Sasuke lihat masih di sana, tapi tidak di tengah padang tulip kuning yang bergerak dan kincir angin. Melainkan mereka berdiri di depan altar, membelakangi tamu-tamu dan melemparkan sebuket bunga mawar merah yang tentu saja disambut antusias oleh tamu tersebut.
Mereka tertawa setelah melemparkan bunga.
"Terima kasih," ucap mereka bersamaan, lalu tertawa lagi. Raut wajah bahagia begitu terpancar dari wajah pasangan itu.
Pemandangan itu terasa begitu... nyata. Sasuke tidak menolaknya. Ini merupakan suatu penemuan yang baru dan langka! Hei, Sasuke bisa melihat kenangan orang lain! Tangan Sasuke mengepal tanpa disadarinya dan Sasuke melihatnya.
Tangan Sasuke tidak memancarkan rona kemerahan lagi, ia hanya melihat sebuah tangan pucat dengan urat biru yang begitu kontras dan dingin. Sasuke juga dapat melihat telapak kedua tangannya yang bernoda darah.
Sasuke terus berjalan dengan tetap melihat kedua tangannya yang aneh dan berhenti di sebuah cermin besar.
Pemuda itu dapat benar-benar melihat apa yang terjadi padanya. Kulit pucat seperti mayat, mulut penuh darah, pupil yang mengecil, dan bibir biru. Sasuke melihatnya dan ia tidak percaya.
Apakah benar pemuda seperti mayat itu adalah dirinya? Sasuke? Kenapa ia tidak bisa mengingat apapun kecuali namanya?
Sasuke menoleh, memperhatikan sekitarnya. Rasa lapar itu kembali datang dan Sasuke hanya memasrahkan apa yang terjadi pada hati dan napsunya.
.
.
Angin berhembus pelan, menggoyangkan rambut Hinata dan dedaunan yang menutupi rumah itu. Hinata berada di atas, duduk di atap yang menampilkan sedikit bagian dari kota Sunagakure. Dari sini, Hinata dapat melihat mayat-mayat hidup itu berjalan, memasuki bekas rumah sakit, kantor polisi, dan pusat perbelanjaan yang kecil. Rumah yang Hinata tempati bersama Naruto, Shion dan Sasuke, memang terletak di dataran yang lebih tinggi daripada rumah-rumah lainnya.
Suara atap yang diinjak membuat Hinata refleks untuk menoleh. Zombie itu, Sasuke duduk di sebelahnya, tanpa bicara apa-apa. Hinata yang semula tegang kembali santai, tapi tidak saat ia mengingat Sakura dan Ino, sahabatnya.
Jarak antara Sasuke dan Hinata yang sebelumnya dekat, kini begitu lebar dan Hinatalah menyebabnya.
"Kenapa kau ada disini, S-Sasuke?" Tanya Hinata dengan sedikit bergetar. Bagaimana kalau Sasuke tiba-tiba menyantapnya dan, dan...
"... Duduk," Ucap Sasuke tanpa memperhatikan Hinata, "Maaf."
Hinata tersentak dari duduknya. Bagaimana bisa 'semakhluk' zombie mengucapkan kata maaf untuknya! Setelah menenangkan diri dan memastikan bahwa yang diucapkan Sasuke adalah 'maaf', Hinata menatapnya, "M-maaf untuk apa?"
"Temanmu... pink."
Otak Hinata memproses.
Berarti Sasuke minta maaf karena telah membunuh Sakura?
Sekali lagi, Hinata memperhatikan mimik wajah Sasuke. Setidaknya ia dapat menemukan satu titik rasa bersalah, tapi ia tidak melihat rasa bersalah itu pada Sasuke. Hinata jadi ragu, apakah sebaiknya ia memaafkan zombie itu?
"Err... Baiklah."
Sasuke tidak membalas, ia hanya menoleh Hinata sekilas lalu kembali memandang Sunagakure. Hinata membiarkan keadaan hening, hingga ia sadar akan sesuatu, "Apa kau t-tahu cara untuk keluar dari kota ini?"
Pemuda zombie menggelengkan kepala, dengan menatap Hinata. Jawaban yang diberikan Sasuke membuat Hinata mendesah.
"Apa kau ingat keluargamu? Apa mereka tahu kalau k-kau adalah se-seorang err... zombie?"
Untuk kedua kalinya, Sasuke menggeleng.
"Kalau aku menjadi z-zombie, apakah r-rasanya sakit?"
Dan kini, Hinata mendapat perhatian penuh dari Sasuke, "J-jangan kau coba."
Kali ini Hinata mengangguk, mengerti, "Apa kau ini sudah m-mati Sasuke?"
"Aku... tidak tahu."
"Lalu k-kau ini apa?"
"Entah...lah."
Keheningan kembali menduduki posisi sebagai raja. Sasuke tidak mau membuka percakapan, sedangkan Hinata memikirkan bagaimana caranya agar ia selamat dari sini dengan aman dan tetap 'hidup', sementara petunjuk yang bisa membantu Hinata sangat sedikit. Sudah tiga hari Hinata di Sunagakure dan ia sama sekali belum ada menyentuh ponsel yang biasanya Hinata letak di tas tangan dan tas itu berada di mobil minibus yang berada di dekat pintu masuk kota, lalu―
Tunggu.
Adakah Hinata menyebut kata ponsel, tas, dan mobil minibus?
"Sial," Hinata mengumpat. Ia segera masuk kembali ke dalam rumah diikuti Sasuke yang mengikut tanpa diundang. Hinata menuruni tangga, dan meraih pintu keluar.
Bagaimana bisa Hinata melupakan ponsel kesayangannya!
Namun Naruto datang, mencegah Hinata untuk keluar dari rumah, "Hinata-chan? Kau mau kemana?"
"Aku mau ke tempat mobil yang membawaku."
"Kau yakin? Bukankah itu berada di dekat pintu kota Suna?"
Hinata mengangguk semangat, "Ya. Kalau tidak salah, disana ada beberapa kaleng coke, mungkin saja ada kaleng bir yang diam-diam dibawa oleh... Sakura." ―dan ponselku, lanjut Hinata di dalam hati.
Seperti biasa, wajah Hinata kembali murung kalau ia mengingat temannya.
Naruto menyadari itu, "Uh, aku akan menemanimu sampai sana. Lagipula sudah lama aku tidak minum bir. Kau jangan sedih lagi ya," tentu saja di setiap kata yang Naruto ucapkan disertai cengiran.
Hinata mulai berjalan keluar, diikuti Naruto... dan Sasuke yang berada di belakang. Naruto maju, mensejajarkan dirinya dengan Hinata, lalu merangkul gadis itu. Hinata pun memerah dan itu dapat dilihat dengan jelas oleh Sasuke yang mengikuti mereka diam-diam.
Ah ya, semoga Hinata dapat menemukan ponselnya dan keluar dari kota penuh mayat berjalan itu, dengan tetap 'hangat'.
.
-TBC-
.
P/N : akhirnya update~
Fanfic ini enggak jadi saya discontinued-kan, karena berbagai sebab dan bla dan bla dan blabla serta melihat teman saya yang kurang suka sama fandom ini mau melirik Make Me Alive.
Terima kasih kepada yang sudah membaca, mereview, memfollow, dan memfavorite, serta kamu. Terima kasih juga kepada yang sudah meninggalkan jejak : Riyuu Kashima | Anne Garbo|Bonbon 0330 | Dewi Natalia | Indiyoshi Kishame | GoldWins | widhyie shelawase | nurul wn (maaf apabila ada kesalahan penulisan nama)
Maafkan saya atas Panda's Note yang terlalu panjang ini. Kritik, tanggapan, dsb silahkan kirim melalui review.
Salam si ganteng Nicholas,
-seorang panda, gece-
