Sudah berkali-kali Hinata mengutak-atik ponselnya. Mematikan, lalu menghidupkan kembali jaringan yang ada di ponsel. Tapi tidak ada perubahan yang terjadi, kecuali baterainya yang semakin sedikit.

"Oh ayolah," ucap Hinata untuk yang sekian kalinya. Mati. Hidup. Mati. Hidup. "Bagaimana bisa tidak ada jaringan ponsel di Suna!"

Mati. Hidup. Mati. Hidup. Setelah beberapa menit, Hinata menghentikan aktivitas 'mematikan dan menghidupkan' koneksi jaringan ponselnya dan melempar benda elektronik kecil itu ke ranjang yang sudah ia tempati selama empat hari.

Gagal sudah rencana Hinata. Padahal, setelah ia dan Naruto –serta Sasuke yang berada jauh di belakang dan tidak membantu— berjuang menembus zombie-zombie hingga akhirnya mereka sampai di tempat mobil minibus. Hinata saja sudah tidak ingat berapa jumlah zombie yang mereka hadapi, sepuluh? Dua puluh? Atau mungkin tiga puluh? Entahlah.

Kalau misalnya saja ada sinyal walaupun sedikit, Hinata pasti bisa mengirim pesan kepada keluarganya yang ada di Jepang, meminta mereka untuk menyelamatkan Hinata. Yah, sayang ini hanya 'misalnya'.

Hinata menggeram kesal dan menggaruk kepalanya. Lama-lama Hinata bisa gila kalau sudah begini terus terlebih lagi, saat ini badannya terasa gatal. Sudah berapa lama ia tidak mandi?

Mungkin kalau ada heroin atau rokok atau vodka atau sesuatu yang bisa melupakan stressnya, Hinata akan melahapnya bulat-bulat. Sungguh.

"Tidak-tidak," gumam Hinata sambil menggeleng. "Lupakan pemikiran bodoh itu, Hinata."

Dan Hinata menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, menutup matanya,
dan menghirup udara banyak-banyak.

"Hinata-chan," Naruto memasuki kamar Hinata, mendorong pintu kamar dan menutupnya. "Kau sedang apa?"

Hinata buru-buru bangkit, memperbaiki sedikit penampilannya yang berantakan karena sempat berbaring, "Err... Tidak ada Naruto-kun. Ada apa?"

Naruto menggaruk rambutnya yang tidak gatal dan menyandarkan tubuhnya pada dinding di dekat pintu, "Um, terima kasih atas birnya, Hinata-chan. Cukup enak."

"T-tidak masalah. Lagipula, kau sudah banyak membantuku, Naruto-kun," Hinata tersenyum malu-malu. "Shion-chan mana?"

"Entahlah," Naruto mengerdikan bahu, "Aku rasa Shion pergi mandi. Aku pernah cerita padamu kalau ada sungai jernih di dalam hutan 'kan? Lagipula tadi pagi Shion-chan bilang tubuhnya sedikit gatal."

Hinata mengangguk mengerti. Beberapa saat sebuah pertanyaan terlintas dibenak Hinata, "Naruto-kun, apa di Sunagakure ini memang tidak ada... sinyal ponsel?"

"Ya."

"Apa kau yakin?"

"Tentu saja. Aku sudah berulang-ulang kali mencobanya dengan ponselku. Sampai aku rasa, ponsel ini sudah menjadi barang rongsokan. Walaupun aku sangat menjaga isinya," Naruto tersenyum kecut. Ia menunjukkan ponselnya yang berwarna hitam dan dimasukkan kembali ke dalam saku celana.

Hinata terdiam, tidak tahu harus membalas apa. Jadi, Hinata hanya duduk di atas ranjang dengan kepala menunduk menatap pangkuannya.

"Oke, aku turun dulu. Ada yang harus aku lakukan," kata Naruto. Ia
menghampiri Hinata, lalu mengacak sedikit rambut Hinata dan
menciumnya. "Sampai jumpa, Hinata-chan,"

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Make Me Alive

-Our Beloved Friend, Shion-

Terinspirasi dari filem zombie dengan judul warm badis yang ada si
ganteng R dan si cantik Julie #plak

Warning : zombie fic, typos, OOC, alur kecepatan, aneh, gaje, dan sobat-sobatnya

.

Special for Riyuu Kashima's and Lintang's Birthday

.

Sasuke duduk sendiri di sofa, mendengarkan gramophone yang memutarkan lagu milik John Lennon, Imagine yang ia pilih secara acak. Ia sedang tidak ingin melakukan apa-apa, lagipula duduk di sofa yang empuk dan diiringi dengan lagu yang mengalun lembut bukan sesuatu yang buruk.

Namun, sebuah suara menginterupsinya, Hinata, "S-Sasuke, apa kau melihat Naruto-kun?"

Sasuke mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara. Hinata berada di tangga, dengan baju kaos yang mengekspos bahunya dan terlihat kedodoran. Tidak ketinggalan dengan rambut panjang Hinata yang gulung sehingga menampakkan tengkuknya dengan jelas.

Hinata memang menganggu Sasuke, tapi Sasuke tidak terasa terganggu.

Teringat akan pertanyaan Hinata sebelumnya, Sasuke segera menjawab, "Di dapur."

"Terima kasih," Hinata menuruni tangga dengan cepat, lalu berbelok ke dapur dan tiba-tiba berhenti. "Apa kau ada melihat Shion?"

Sasuke menggeleng, "Tidak."

"Terima kasih, sekali lagi," dan Hinata benar-benar pergi.

Sasuke sempat mendengar beberapa percakapan antara Naruto dan Hinata tapi Sasuke tidak memperdulikannya.

Ah, suara penyanyi memang lebih merdu daripada mereka.

'Imagine there's no countries. It isn't hard to do. Nothing to kill or die for. And no–'

"Sasuke?"

Kali ini suara Naruto yang menganggunya. Sasuke sedikit menyipitkan mata, menunggu Naruto melanjutkan perkataannya.

"Uhm..." Naruto terlihat ragu-ragu melanjutkannya, sesekali pemuda itu melirik Hinata dari sudut matanya. "Kau tahu, sudah beberapa jam ini Shion belum juga pulang. Sebelumnya dia bilang kalau ingin mandi di sungai. Jadi, aku dan Hinata-chan akan ke sana dan sekalian berenang, mungkin?"

Nada suara Naruto yang terdengar tidak yakin membuat Sasuke penasaran. Apa yang direncanakan pemuda berambut pirang itu?

Sasuke segera berdiri, mematikan piringan hitam, "Aku ikut."

Dan Sasuke pun tidak yakin dengan apa yang di ucapnya. Hell, ia sebelumnya belum pernah merendamkan tubuhnya ke dalam air dan Sasuke hanya sesekali terkena air, yaitu pada saat ia kehujanan. Sasuke tidak akan sakit jika ia kehujanan, ia sudah pernah mati sebelumnya.

Hinata terlihat kaget dengan jawaban Sasuke, namun beberapa detik kemudian ia kembali seperti biasa dan kembali ke kamarnya, "Aku akan siap-siap."

"Aku rasa, kau perlu mandi yang bersih, Sasuke," ucap Naruto tersenyum lebar.

.

.

Sasuke tidak pernah merasa lebih buruk dari ini sebelumnya –selama yang Sasuke ingat.

Ia ditelanjangkan serta dilecehkan oleh 'manusia' yang sudah Sasuke anggap sebagai teman. Sungguh terkutuklah tangan Sasuke yang begitu kaku sehingga tidak begitu cepat untuk membuka pakaian dan menggosok tubuhnya sendiri. Terkutuklah Dewa Yunani yang paling tampan!

Saat mereka sampai di sungai tadi, Naruto langsung membuka baju dan mencemplungkan diri ke dalam sungai. Hinata yang berada di belakang mereka malu-malu membuka pakaiannya sehingga hanya meninggalkan pakaian dalam berwarna hitam. Sasuke dapat melihat Naruto yang langsung memalingkan kepala begitu Hinata membuka baju.

Sasuke bahkan tidak yakin pernah melihat tubuh wanita lebih indah dari itu sebelumnya.

Dan Sasuke tidak melakukan apa-apa.

Lalu Naruto menepi, menghampiri Sasuke, dan membuka kemeja yang membalut tubuh pemuda zombie itu. Tentu saja ia melakukan perlawanan, tapi Naruto lebih gesit dan memanggil Hinata untuk membantu Naruto.

Seperti yang bisa ditebak, Sasuke 'ditelanjangi' dan 'dilecehkan' oleh Naruto dan Hinata. Sasuke kemudian di dorong hingga masuk ke dalam sungai lalu ia basah.

"Ayo Sasuke! Ke sini!" Teriak Naruto. Pemuda blond itu melambaikan tangannya dengan tersenyum lebar, sementara itu Hinata yang ada di samping Naruto tersenyum.

Sasuke mendekati mereka. Sasuke menyesali kalau ia menyadari bahwa Naruto dan Hinata terlihat begitu serasi dari tempat Sasuke berdiri.

Oh tidak, apa yang baru saja Sasuke pikirkan?

Begitu Sasuke tiba di tempat Naruto dan Hinata, mereka langsung menahan Sasuke dan menggosok punggung zombie itu. Jujur saja, Sasuke tidak suka diperlakukan seperti itu, tapi... ia sangat menikmatinya.

"N-Naruto-kun, badan S-Sasuke dingin ya?" Hinata sedikit berbisik, takut apabila Sasuke mendengarnya.

"Sasuke memang dingin. Benar kan?" Ucap Naruto semangat sambil menepuk pundak Sasuke kuat. Sasuke tidak bereaksi banyak, ia hanya menatap Naruto dengan pandangan datarnya. Naruto kembali melanjutkan aksi menggosok punggung Sasuke.

"Ne, Hinata-chan," Naruto tersenyum misterius, wajahnya memerah, "Bagaimana kalau aku menggosok punggungmu?"

Sekali lagi, Naruto flirting.

Hinata sontak merona padam, ia menyilangkan kedua tangan di depan dada dan berlari menjauhi Naruto serta Sasuke.

Naruto tertawa terbahak-bahak dan berlari mengejar Hinata, "Tunggu aku, Hinata-chan!~"

Mereka kejar-kejaran, tertawa, saling menyirami air satu sama lain dan akhirnya Naruto berhasil menangkap Hinata serta memeluk gadis itu...

Meninggalkan Sasuke sendiri.

Sasuke berbalik, mendekati pinggiran sungai dan berusaha memakai kembali pakaiannya walaupun pakaian yang Sasuke kenakan sekarang kurang nyaman dan tidak terpasang pas.

Bahkan Naruto dan Hinata pun tidak menyadari Sasuke yang sudah beranjak dari sana, kembali kepada yang seharusnya. Pemandangan terakhir yang Sasuke lihat tentang manusia-manusia itu adalah Naruto sedang memeluk Hinata dari belakang dan tertawa bersama.

Ah, mungkin memang sebaiknya Sasuke tidak usah terlalu dekat dengan manusia, sebab mereka berada di alam yang berbeda.

Sasuke memegang dadanya, kenapa rasanya sesak?

.

.

"N-Naruto-kun, Sasuke mana?"

Hinata yang pertama kali menyadari kalau Sasuke sudah tidak ada bersama mereka. Gadis itu menolehkan kepalanya kesana-kemari yang diikuti oleh Naruto.

"Benar juga, Hinata-chan. Sasuke dimana ya? Apa dia sudah kembali?" Ucap Naruto seraya memakai bajunya asal.

Hinata ikut buru-buru merapikan bajunya. Selesai mandi sekaligus berenang tadi, ia langsung mengganti baju di dalam semak-semak, setelah sebelumnya Hinata memastikan kalau Naruto tidak mengintip. Bagaimanapun juga, Hinata adalah seorang wanita dan Naruto seorang pria.

"Hinata-chan, ayo kita kembali."

Gadis itu segera mengikuti Naruto, menempus hutan hingga mereka kembali ke tempat mereka, di rumah dekat hutan.

Hinata mendorong pintu, mengedarkan pandangannya keseliling ruangan, dan menemukan Sasuke yang duduk di sofa favoritnya serta di sebelah gramophone-nya. Naruto yang berada di belakang Hinata masuk lalu menghampiri Sasuke.

"Kenapa kau kembali tidak bilang-bilang, Sasuke?" Naruto memasuki dapur dan kembali ke depan Sasuke dengan kaleng bir di tangan, "Kau tahu, tadi kami mencari-carimu."

Sasuke tidak membalas, ia terlihat asik menikmati lagu yang mengalun lembut dari gramophone tua itu. Naruto sedikit memainkan kaleng birnya lalu meminum isinya. Hanya itu yang Naruto lakukan hingga isi birnya habis dan Hinata memutuskan untuk ke kamar yang ditempatinya.

"Aku ke kamar dulu, Naruto-kun, Sasuke."

Tak lama erdengar bunyi langkah yang pelan dan pintu tertutup. Setelah memastikan Hinata benar-benar berada di kamarnya, Naruto duduk di sebelah Sasuke sambil memperhatikan ruangan yang ia tempati.

"Hinata-chan gadis yang seksi kan, Sasuke?" Naruto terkekeh, kembali membayangkan bentuk tubuh Hinataa yang berhasil ia lihat berpuluh menit yang lalu, "Tapi menurutku, Shion sedikit 'lebih' daripada Hinata. Mungkin karena Shion lebih berani, mungkin?"

Sasuke tetap diam, tapi ia mendengarkan semua perkataan Naruto yang benar-benar mesum. Dalam hati Sasuke mengiyakan kalau Hinata itu memang seksi tapi menidakan Shion yang 'lebih' daripada Hinata. Bagi Sasuke, Hinata yang malu-malu lebih manis daripada Naruto yang malu-malu.

"Oh ya, apa kau ada melihat Shion seharian ini?" Naruto memasang raut wajah bingung, "Aku takut saja ia nanti menjadi sejenis denganmu, Sasuke."

Jeda selama beberapa saat sebelum Naruto melanjutkan ucapannya, "Terkadang aku berpikir, kapan giliranku akan datang. Aku tahu cepat atau lambat aku akan mati, di tanganmu atau ditangan zombie lain. Aku jadi ingat saat pertama kali bertemu denganmu, kau begitu busuk."

Sasuke tidak mengatakan apapun, ia hanya menatap Naruto dan mendengar apa saja yang diucapkan pemuda berambut blond itu. Mungkin saja Naruto sedang mabuk sehingga ucapannya melantur.

Naruto bangkit dari sofa lalu merapikan sedikit pakaiannya, "Terima kasih, Sasuke."

Sasuke terus menatap Naruto yang menaiki tangga hingga tidak tampak lagi. Tetap tidak ada satu kata pun yang Sasuke ucapkan untuk Naruto.

"Aku ingin tidur," ucap Sasuke pelan. Tapi sayangnya Sasuke tidak akan pernah tidur dengan wujudnya yang sekarang.

.

.

Hari sudah melewati tengah malam. Bagi manusia 'normal' tengah malam itu mereka seharusnya sudah berada di atas ranjang dan di bawah selimut. Seharusnya.

Shion perlahan memanjat pagar besi yang ada di depannya. Begitu berhasil, ia segera berjalan pelan menjauhi pagar tersebut. Dalam hati Shion berdoa agar ia tidak bertemu dengan zombie kali ini, Shion sudah begitu lelah. Pintu rumah yang sudah beberapa bulan ini ia tinggali terlihat, Shion segera mengulurkan tangannya untuk membuka pintu tersebut.

Naruto dan Hinata langsung menyambut Shion, sementara Sasuke masih duduk di sofa favoritnya. Raut wajah Naruto dan Hinata terlihat cemas, namun Shion tidak memperdulikannya.

"Kau dari mana saja, Shion?" Ucap Naruto. "Kami sangat cemas. Aku takut kalau kau..."

Shion segera memotong kata-kata Naruto, "Takut aku mati? Begitu? Kalian jangan terlalu mencemaskanku. Lihatlah, aku masih hidup kan?" Dan Shion tergelak.

"Ini t-tidak lucu, Shion-chan."

"Tidak, tidak. Bagiku ini sangat lucu. Sudahlah, aku ingin tidur. Selamat malam. Oh ya, jangan terlalu mencemaskan aku."

Shion masuk ke kamar, lalu mengunci pintunya. Tubuhnya langsung dijatuhkan di atas ranjang. Shion benar-benar lelah, mencari seorang 'manusia' diantara manusia mati memang sulit. Tidak, Shion tidak akan menyerah mencari orang itu, karena hanya dialah satu-satunya kunci bagaimana ia bisa keluar dan orang yang bisa memuaskan napsu ingin tahunya.

Ia teringat kembali bagaimana bisa sampai di Sunagakure, terjebak tanpa bisa keluar. Bertahan hidup diantara lautan zombie, membunuh, memakan apa saja. Hampir setiap malam Shion menangis kala itu dan meringkuk kedingingan serta ketakutan. Shion merasa ia hampir sama dengan zombie-zombie yang dilihatnya.

"Hei, mau bergabung denganku?"

Lalu Naruto datang.

Shion yang waktu itu sendirian segera menerima ajakan Naruto. Mereka lalu mencari tempat yang aman, saling bercengkrama satu sama lain, saling berbagi, sehingga Shion jatuh cinta dengan Naruto. Walau kesannya sesederhana itu, tapi kenyataannya tidak.

Naruto memang pria yang baik.

.

.

"Naruto-kun, apa kau melihat Shion?"

"Dia hilang lagi?" Ucap Naruto tidak percaya. Oh, ayolah! Kemarin seharian Shion tidak ada di rumah, dan hari ini tidak ada lagi?

Hinata mengangguk kecil, "Waktu aku ke kamarnya, Shion sudah tidak ada."

Naruto mengalihkan pandangannya pada Sasuke yang ada duduk di kursi meja makan, "Apa kau melihatnya, Sasuke?"

"Ya. Dia keluar." Sasuke berhenti sejenak, "Entah kemana."

"Bagaimana kalau kita cari Shion? Aku sedikit cemas, lebih-lebih dia berkata seperti itu," ucap Hinata sambil menghabiskan kopi kalengnya.

"Baiklah," Naruto kembali menatap Sasuke, "Kau mau ikut?"

Sasuke berdiri, mengambil langkah menuju pintu dengan cepat, tanpa menoleh. Seketika, raut wajah Hinata menunjukkan penyesalan. Naruto segera menyadari itu, ia menepuk kepala Hinata pelan.

"Ayo kita cari Shion bersama."

Naruto menarik tangan Hinata keluar, menyuruh Hinata secara tidak langsung untuk mengikuti pemuda itu. Mereka berjalan dalam diam, tanpa menyadari Sasuke mengikuti mereka diam-diam, lagi. Langkah-langkah kaki Naruto dan Hinata menuju kota, lebih tepatnya tempat-tempat yang banyak barang rongsokan, karena biasanya zombie di tempat itu lebih sedikit dibandingkan yang lainnya.

Saat sudah cukup jauh mereka berjalan, Hinata tiba-tiba berhenti, membuat Naruto ikut berhenti. Hinata menunjuk sebuah titik dengan tangan gemetar dan tatapan tidak percaya, "N-Naruto-kun apa kau lihat di depan sana, yang terbaring di atas tanah? I-itu seperti S-Shion-chan..."

Air muka Naruto berubah seketika, ia menatap kearah yang diberitahu Hinata dan mendesis, "Tidak mungkin."

Naruto segera berlari. Hati Naruto bergejolak, ia berusaha untuk tidak mempercayai ucapan Hinata yang ikut berlari mengikuti Naruto dari belakang. Naruto yakin, Shion tidak akan mati semudah itu. Tidak selama Naruto hidup dan mereka belum keluar dari Sunagakure.

Tapi ucapan Hinata benar. Itu Shion dan dia mati.

"S-Shion-chan..."

Pemuda blond itu terdiam menatap tubuh Shion yang terbujur kaku dengan kepala yang telah bolong dengan peluru dan sebuah gigitan di tangan.

Kamikaro Shion, pergi selama-lamanya dari mereka.

.

-TBC-

.


P/N: Yee~ akhiirnya update~

UKK membuat saja harus menyelesaikan chapter ini disela-sela ujian. Jadi maaf kalo misalnya bahasanya berubah-ubah dan aneh dan gantung dan gaje. Salahkan saja pemerintah yang mengadakan ujian #plak

Oh ya, saya rasa disini NaruHina semua ya? ._.v oke, maaf kan saya. mungkin chapter depan masih NaruHina yang mendominasi dan SasuHina baru keluar di akhir #plak #bocoor

Terima kasih yang sudah membaca dan mereview chapter kemaren : bluerose : sasuke belum tentu suka sama hinata loh #plak. Terima kasiiih | Dewi Natalia | Anne Garbo | nurul wn | Lovehime : maaf ya kalo seram. Padahal akunya ga suka yang seram ._.v sankyuuu | Moku-chan | Guest : ini sudah lanjut. Makasiih :D | Noal Hoshino | FP GUDANG FANFIC SasuHina-Indo | livylaval | keiKo-buu89

Ada yang ingin lagu kesayangannya menjadi daftar lagu Sasuke-nyan? Tapi lagunya lagu jadul dan ada piringan hitamnya :D #plak

Numpang nanya, pada satu piringan hitam, itu isinya per album atau perlagu?

RnR, CnC. Silahkan tinggalkan jejak. Thanks ;)

Salam si cantik Teresa Palmer,

-Seorang Panda, Gece-