Shion kecil tertawa senang ketika kupu-kupu kuning terbang menghingapi satu bunga ke bunga lain. Gadis itu pun ikut-ikutan mengejarnya dengan tetap tertawa.
Ibu Shion yang sama-sama berambut pirang mengawasi dari jauh sambil tersenyum. Sesekali wanita itu memperingati Shion agar hati-hati dalam langkahnya, "Hati-hati, Sayang."
Tapi apa mau dikata, baru saja terucap, Shion langsung terjatuh. Lututnya yang lecet segera mengeluarkan darah. Ibu Shiontergopoh-gopoh menghampiri anaknya dan membawa Shion menepi untuk diobati.
"Kan sudah ibu bilang agar Shion hati-hati! Tuh 'kan, jadi luka gini."
Wanita muda itu membersihkan luka Shion, memberinya obat dan menutupnya. Dari jatuh sampai selesai diobat, Shion sama sekali tidak menangis, ia cuma meringis. Padahal untuk anak seusia Shion, biasanya langsung menangis begitu jatuh atau diobati dengan obat yang membuat perih.
Ibu Shion tahu kalau anak perempuanya itu kuat.
"Shion tidak apa-apa, Bu," Shion tersenyum lebar, membuat mata kecilnya begitu sipit dan menunjukkan gigi seri bawahnya yang sudah tanggal satu, "Shion main lagi ya."
Shion kembali berlari kearah tumpukan bunga, mengejar kupu-kupu yang ia temukan di sana dan tertawa seperti tidak ada yang terjadi.
Sasuke mengambil sebuah potongan otak lagi, memakannya dengan begitu nikmat. Tak lama ia menutup mata, kilasan-kilasan memori berkelebat pada pandangannya. Ia sebenarnya tidak tega, sungguh tidak tega.
Shion yang kecil tumbuh jadi gadis remaja yang cantik dengan kepribadian kuat. Teman-temannya menghargainya sangat, namun tidak menakutinya.
Seragam seifuku sudah melekat dengan rapi dibadannya dan uwabaki di kaki. Seperti biasa, teman-temannya menyapanya ramah dan Shion juga membalasnya.
Shion terus berjalan hingga ia sampai di kursinya, tempatnya. Sebelum menduduki kursi, Shion meletakkan dulu tas hitam di atas meja. Seperti biasa, apabila bel mulai pelajaran belum berbunyi, Shion lebih memilih melihat ke arah jendela, memandang gumpalan awan-awan putih yang bergerak pelan.
Suara gesekan kursi membuyarkan lamunan Shion, ia menatap kedepan dan menemukan seorang pria berambut cokelat muda tersenyum padanya,"Ohayou, Kamikaro-san."
Shion memerah padam mendapat sapaan dari pemuda yang disukainya, "Ohayou."
Potongan otak yang Sasuke makan telah habis dimulutnya, ia mengambil yang lain lagi, namun sangat sedikit. Pemuda zombie itu ingin menyisakan makanan untuk hari-hari kedepan.
Shion menyandang backpack-nya, menunggu mobil yang akan membawanya ke kota terpencil yang katanya mempunyai wisata alam yang bagus. Beberapa turis lainnya pun berdiri tak jauh dari Shion, mereka membawa barang yang banyak, jauh lebih banyak daripada Shion. Diam-diam ia mengutuk dala mhati, karena sudah 30 menit mobil yang akan Shion tumpangi belum datang-datang.
TIIN! TIIIN!
Suara klakson mobil membelah kesunyian, seorang pria berjanggut dan merokok memperlihatkan wajahnya dari balik kemudi, "Maaf saya terlambat."
Shion segera masuk mobil, tidak mengomentari permintaan maaf pria itu. Mobil kembali melaju, memasuki hutan.
"Sekali lagi, saya minta maaf. Perkenalkan, nama saya Asuma. Kita sedang dalam perjalanan menuju Sunagakure."
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Make Me Alive
-Sadness-
.
Terinspirasi dari filem zombie dengan judul warm bodies yang ada si
ganteng R dan si cantik Julie #plak
Warning : Semi-M for this chappie, zombie fic, miss typos, OOC, alur
kecepatan, aneh, gaje, dan sobat-sobatnya
.
Memang, kematian Shion bukan kematian pertama yang dilihat oleh Hinata, ia sudah pernah melihat kematian sebelumnya. Sakura, ingat?
Walau kematian Sakura Hinata lihat secara langsung, tepat di depan matanya, tetapi Hinata merasa kematian Shion jauh lebih mengerikan... dan menyedihkan.
Hinata melipat kakinya, menyandarkan dagu diatas lutut, dan melihat keluar jendela. Entah sejak kapan hujan mulai turun, Hinata tidak menyadarinya. Hujan membuatnya terlihat begitu menyedihkan.
Ngomong-ngomong mengenai kematian, Hinata suatu saat akan mati juga kan?
Seperti Shion, seperti Sakura?
"Maafkan aku, Sakura-chan, Ino-chan, Shion-chan."
Hinata memejamkan mata, sekedar untuk mengingat kembali kenangan yang telah ia buat dengan ketiga gadis itu.
"Hinata-chan ayo kemari. Kita foto sama-sama dan buat mereka iri. Ayo!" Ucap Ino semangat sambil memegang kamera, "Memangnya hanya mereka saja yang bisa jalan-jalan, huh!"
"Ugh..." Entah sejak kapan, air mata mulai mengalir dari kedua mata Hinata. Ia mengusapnya, menghilangkan air mata itu.
Hinata tahu mengingat kembali kenangan orang yang kita sayangi begitu menyakitkan, tapi Hinata tidak mau berhenti, setidaknya belum.
Hinata mematut dirinya di depan cermin dengan malu-malu. Malam ini ada Summer Ball di asramanya dan Hinata harus ikut karena ia sudah termasuk senior di asrama. Sakura yang berada di samping cermin tersenyum manis pada Hinata.
"Sudah aku bilang bukan, kalau kau akan cantik dengan dress ini! Nah,ayo berputar."
Hinata berputar pelan, membuat rok dress-nya sedikit mengembang. Wajahnya memerah, "Terima kasih, Sakura-chan."
"Jangan lupakan aku yang membantumu merias, Hinata-chan," ucap Ino yang muncul entah dari sudut mana.
"Terima kasih juga, Ino-chan."
"Hiks..." Belum, Hinata belum mau memberhentikan kilasan memorinya. Belum mau. Tidak kalau itu berarti ia melupakan mereka.
"Hiks..."
Hinata menangis. Pemuda yang disukai Hinata dan menjadi kekasihnya ternyata bermain api di belakangnya. Hinata menangis bukan karena ia marah pada mantan kekasihnya itu, bukan. Hinata menangis karena ia marah pada dirinya sendiri yang tidak mendengar omongan Sakura dan Ino yang jelas-jelas melihat perselingkuhan itu. Dan sekarang, Sakura beserta Ino menjauhinya disaat Hinata membutuhkan sandaran.
"Hei, tenanglah Hinata. Kami disini."Ternyata mereka tidak pergi. Tidak meninggalkan Hinata sendiri.
"Hiks..."
Hinata memutuskan berhenti. Ia sudah lelah.
.
.
Sedari tadi Sasuke disana, di balik dinding tempat Hinata berada, menyandar dan mendengar tangisan memilukan gadis itu. Ingin rasanya Sasuke menerobos pintu, mengelap air mata yang jatuh dan menghibur Hinata walau ia tidak bisa merangkai kata-kata dengan bagus.
"Hiks..."
Sasuke tetap disana, tidak beranjak satu senti pun, karena memang ia harus berada disana.
Karena Sasuke berbeda.
"Hiks..."
Sasuke menyandarkan kepalanya ke dinding serta menutup mata. Meminimalisir seminimal mungkin tangisan yang masuk ke indera pendengarannya dan sanggup membuat hatinya terasa sakit.
Satu kenyataan membuat Sasuke tertegun, kenapa hatinya perlu merasa sakit sementara ia bukan manusia?
Sasuke mengarahkan tangannya pada dada sebelah kirinya, dimana tempat yang setahu Sasuke di dalamnya terdapat jantung. Pemuda itu meresapi benar-benar gerakan di dadanya, menunggu sesuatu berdetak di dalamnya.
Tidak bergerak.
Tangan Sasuke kembali ke posisi semula, tergeletak lemas di sisi tubuhnya. Pandangan Sasuke kosong, namun beberapa pertanyaan yang tidak akan mungkin terjawab berkeliaran dibenaknya.
Apa aku hidup kembali?
Sasuke mengabaikan pertanyaan itu. Ia kembali memfokuskan pikiran pada gadis yang berada di dalam sana, Hinata. Suara tangisan Hinata tidak terdengar lagi di telinganya.
Mungkin dia sudah tidur.
Pintu kamar yang terbuka sedikit menjadi celah bagi Sasuke untuk mengintip. Tidak apa kan? Hanya sekedar untuk memastikan.
Dan ternyata benar, Hinata telah tidur.
Sasuke segera pergi dari sana, ia menyusuri koridor yang berada di lantai atas, melewati kamar pemuda berambut pirang yang ia kenal sebagai Naruto.
Pintu kamar milik Naruto terbuka agak lebar, Sasuke dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan Naruto. Sasuke masuk ke kamar pemuda blond itu dan menutup pintunya. Naruto sedikit terkejut mendengar suara bantingan pintu, namun begitu melihat siapa pelakunya, ia kembali seperti biasa.
"Sudah kau makan, Sasuke?"
"Sudah." Sasuke beranjak mendekati Naruto, menyandar pada dinding yang berada dekat dengan kepala ranjang, "Maaf."
"Tidak apa. Lebih baik kau memakannya daripada Shion-chan menjadi zombie dan kau kelaparan, lalu memakan kami," Naruto sedikit terkekeh diakhir perkataannya, "Bagaimana dengan Hinata-chan?"
"Sedikit terguncang."
Naruto meluruskan punggungnya, "Sudah kuduga. Wajar dia sedih."
Hening untuk beberapa saat. Naruto tampak menimbang-nimbang kalimat yang akan ia ucapkan selanjutnya, "Sasuke?"
Dan Sasuke penasaran, "Apa?"
"Apa kau mau memberitahu memori terakhir Shion?"
Sasuke tertegun, tapi ia tidak terlalu kaget, karena Sasuke sudah menduga ini sebelumnya, "Tidak."
"Kenapa?"
Rintik air hujan diluar lebih menarik perhatian Sasuke, "Ada beberapa hal di dunia yang sebaiknya tidak diketahui."
"Tapi aku sudah tahu beberapa," Naruto memberi jeda sedikit. Ini akan sulit. "Shion dibunuh."
Sasuke tersenyum diam-diam, ia tidak menanggapi.
"Aku akan mencari tahu pembunuh itu dan akan aku bunuh dia. Ada manusia lain disini. Zombie tidak mungkin bisa menarik pelatuk, jari mereka terlalu kaku."
Sasuke tersenyum diam-diam, lagi.
"Hinata?"
Sasuke diam dan menyeringai kecil, menunggu respon balasan. Naruto tertunduk, pandangannya berubah sulit.
"Maaf, tapi... dia termasuk juga. Namun aku yakin, bukan dia. Kuharap tidak."
Dan seringai Sasuke benar-benar hilang. Pemuda zombie itu melirik Naruto dari sudut matanya dan memilih keluar dari ruangan menyesakkan itu.
.
.
Naruto terpekur di atas ranjangnya. Ia sudah menduga bahwa Sasuke tidak mau membocorkan memori Shion, berarti Naruto harus bekerja ekstra keras untuk mengetahui pelakunya.
Pemuda pirang itu mulai bangkit dari posisinya, matanya tidak menatap fokus pada satu titik. Naruto mengarahkan kakinya menuju kamar seorang gadis, Hinata.
Pintu Hinata yang tidak tertutup rapat langsung diterobos Naruto. Ranjang yang satu-satunya ada di sana menjadi tujuan Naruto. Gadis itu, Hinata, tidur dengan tidak nyaman, bekas-bekas air mata terlihat jelas. Naruto membiarkan gadis itu tidur dan memilih duduk di pinggir ranjang.
"Hai," Naruto menyapa, Hinata tidak bergeming, "Sepertinya kau begitu lelah."
Naruto kembali melamun. Memikirkan semua yang telah terjadi dan mencoba menyusunnya satu persatu dan urut, tapi dia tidak menemukan ujungnya.
Rambut Naruto menjadi lebih berantahkan dari sebelumnya.
"Engh," Hinata mengeluh, Naruto memberikan perhatian sepenuhnya pada Hinata. Gadis itu mulai bangkit dari tidurnya, menggosok kedua mata, lalu menatap Naruto.
"Naruto-kun?" Gumam Hinata lirih.
Naruto menyunggingkan sebuah senyuman, walau ia yakin pasti senyumnya terlihat aneh, "Sudah lebih baik?"
Hinata mengangguk, kini ia merapikan sedikit bajunya, "Naruto-kun sendiri?"
Gadis itu tahu, diantara dia dan Naruto, pemuda itu yang paling terluka.
"Tidak apa."
Keduanya lalu terdiam untuk beberapa menit. Naruto menarik napasnya pelan, menyemangati dirinya sendiri, "Apa kau ingin membaginya denganku, tentang masalahmu?"
Lagi-lagi kediaman menyapa. Hinata belum mengucapkan kalimat balasan, namun tangisannya menjawab semuanya.
"A-aku sendiri, Naruto-kun. H-hanya tinggal k-kita saja, Naruto-kun."
Ini dia yang Naruto tunggu-tunggu. Informasi dari Hinata.
"Kau tidak sendiri, masih ada aku."
Hinata menggeleng, menjambak rambutnya, "Karena a-aku datang kesialan menimpamu dan S-Shion-chan, Naruto-kun. Karena aku!"
"Bukan karenamu. Shion-chan yang saat itu tidak waspad—"
"—Diantara kita, yang p-paling lemah itu a-aku, Naruto-kun!"
Pemuda blond itu terdiam, bingung untuk membalas apa, "Kau tidak lemah. Kalau kau lemah, temanmu tidak akan mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanmu, Hinata."
Wajah Hinata memuram.
"Bagaimana caranya kau sampai ke sini?" Naruto bertanya dengan hati-hati.
"Menggunakan paket tur bersama Ino-chan dan Sakura-chan."
"Apa... kau tahu supirnya?"
Hinata tersenyum lirih, "Tentu saja. Namanya Asuma-ji."
Dan satu kenyataan ini membuat Naruto terdiam.
Hinata sadar Naruto sedikit menegang ketika mendengar nama Asuma. Memang ada apa dengan Asuma?
"Naruto-kun?"
Naruto tersadar, lalu ia mengacak sedikit rambutnya, "Aku baik-baik saja."
"S-sejak dulu, aku selalu tertimpa kesialan, N-Naruto-kun," Hinata menghapus air matanya, "Tidak ada orang yang benar-benar mencintaiku, menyayangiku dan menganggapku ada, kecuali sahabatku dan keluargaku."
"Tidak! Aku menyayangimu dan menganggapmu ada! Kau tidak sial, Hinata-chan."
Hinata yang menunduk seketika menatap Naruto, tepat ke arah mata pemuda itu, "Kalau begitu, apa kau mencintaiku?"
"A-aku..."
Hinata tersenyum miris, "Aku mencintaimu, Naruto-kun."
Dan Naruto tidak tahu akan mengucapkan apa pada Hinata. Membalas mencintainya? Namun Naruto tahu kalau ia tidak mencintai Hinata, sama sekali. Ia hanya menganggap Hinata seperti adiknya, tidak lebih.
Gadis itu beranjak dari tempat tidurnya, "Aku ke bawah dulu, Naruto-kun."
Tidak, Naruto tidak ingin melepaskan Hinata kali ini.
"Tunggu," Maka, Naruto melingkarkan kedua tangannya di perut Hinata dan menyandarkan tubuhnya di punggung, "Jangan pergi dulu, kita belum selesai."
Hinata terlihat kaget sejenak, namun gadis itu mampu mengendalikan dirinya. Punggung tangan Naruto yang ada di perutnya Hinata usap pelan, membuat Naruto sedikit merasa hangat, "Jangan mengkhawatirkanku."
Tangan-tangan Hinata mulai melepas tautan jari Naruto, namun kegiatan itu berhenti ketika ucapan Naruto yang agak serak menginterupsi.
"Bersamalah denganku malam ini."
Dan tangan-tangan Naruto membawa Hinata terjatuh ke pelukan pemuda itu, seperti nyanyian para dewa yang menjerat dewi-dewi yang tidak bersalah. Begitu memabukkan.
"N-Naruto-k-kun."
"Ssttt..."
Hinata tahu, Naruto sama sekali tidak mencintainya. Ia kalah dari Shion, sedari dulu.
Biarkan Hinata merasakan cinta semu ini, yang belum pernah dicicipinya selama 18 tahun hidupnya, yang penuh dengan lumuran dosa.
"N-Nar-ruto-k-k-un..."
Biarkan Hinata kali ini merasa bahagia, karena ia tak pernah sebahagia ini.
Walau itu hanya untuk satu malam.
.
-TBC-
.
P/N : Halo~ saya kembali lagi~
Sebelumnya, saya ingin menuliskan (?) Happy Bday buat Kate-nee xD
Ide tentang ini lagi cukup lancar... kemarin #plak. Sedangkan yang untuk Dosa yang Manis sedang ngadat, malah macet, atau ga ada #plak. Jadi kalau itu sampai setahun baru saya update maaf ya, WB ^^ #alasan #curcol
Lagi-lagi NaruHina yang dominasi, maaf ya. ^o^
Terima kasih yang udah sudi membaca, meninggalkan jejak, fav, follow, dan kamu yang membacanya m(_ _)m
Big thanks to : Mbik Si Kambing | Bluerose : Siapa ya yang dicari? ;) Sankyuu senpai udah ngereview! | Dewi Natalia | Gyuururu-kun | Natsuno Ocean : wah! Makasih xD #terharu. Warm bodiesnya keren kan? xD Sakyuu senpai karena udah ngereview! ^^ Anne Garbo | gui gui M.I.T |Syura : hohoho, sankyuu senpai! xD
Silahkan tinggalkan jejak, dapat berupa kritik, saran, masukan, bahkan flame sekalipun! (NB: flame bukan untuk plot dan tokoh beserta saya(?))
Thanks! ;)
Salam Si Ganteng pacar Julie,
-Seorang Panda, Gece-
