Kesepakatan telah dibuat. Dengan terpaksa, aku akan tinggal di Scarlet Devil Mansion. Orang-orang Eientei boleh mengunjungiku kalau diizinkan masuk oleh Remilia.
Pukul 11 malam, dengan tetap memakai celana pendek dan sarashi ditambah jaket hitam, aku berangkat ke Scarlet Devil Mansion diantar naik sapu terbang oleh teman Reimu, Marisa. "Marichan", kupanggil begitu. Tapi karena ternyata dingin, Marisa mampir dulu ke rumahnya yang ternyata adalah sebuah toko alat-alat sihir "Kirisame Magic Shop" di hutan untuk mengambil sebuah jubah hitam polos seperti jubah grim reaper dan memberikannya kepadaku. Ketika aku memakainya dan berkomentar "apakah aku terlihat seperti shinigami?" sebagai candaan, Marisa mengatakan bahwa shinigami di sini adalah perempuan malas dengan rambut twintail berwarna pink dan memakai baju dengan rok panjang mengembang. Apakah se-imut itukah seorang shinigami?
Kami berangkat lagi. Aku menikmati perjalanan dengan sapu ini. Aku bisa melihat Gensokyo dari atas sini. Kebanyakan hanya hutan, dengan rumah-rumah kecil yang berserakan. Ada sungai yang panjang. Dan dari kejauhan aku melihat pegunungan juga. Kami melewati danau yang sangat luas dan dingin sekali. Lalu aku melihat satu yang sangat menonjol di seberang danau; kastil berukuran sangaaat besar dan dikelilingi tembok. Jalan masuk hanya satu, karena hanya ada satu gerbang di situ. Kastil itu terdiri dari gedung utama yang ada menara jamnya. Di kanan-kirinya ada gedung yang sedikit lebih kecil, tapi tetap tersambung pada gedung pertama. Di belakang ketiga kedung itu juga ada beberapa rumah-rumah yang lebih mungil dan sebuah lapangan luas.
"Jangan bilang itu mansionnya." Kataku. Aneh, padahal saat di Eientei tadi aku mengucapkan namanya dengan benar. Tapi sekarang, entah kenapa lidahku tertahan karena nama Scarlet Devil terlalu sulit kuucapkan.
"Ini memang mansionnya." Marisa mendarat di depan gerbang. Aku turun dan membuka hoodie. "Perlu kuantar ke dalam?"
"Tidak, tidak usah. Aku akan masuk sendiri. Terima kasih banyak, Marichan." Aku melambai pada Marisa. Marisa adalah manusia, aku tak ingin dirinya celaka di dalam sana. Memang, saat di sapu terbang, bau darah Marisa yang terbawa angin benar-benar membuatku ingin memangsanya. Mengendalikannya amat teramat sangat sulit. Maka aku memakai hoodieku dan terus-terusan mencium bau debu dari jubah tersebut. Itu sedikit membantu.
"Baiklah, hati-hati ya!" Marisa dengan cepat pergi dari tempat itu. Orang-orang di Gensokyo, apakah semuanya secepat ini? Dan, mereka sangat baik. Apakah aku, sebagai vampire, harus terkurung di sini seumur hidupku yang abadi tanpa bisa merasakan kehangatan orang-orang di Gensokyo?
"Kyuchi ya? Silakan masuk." Kata sang penjaga gerbang, Hong Meiling. Ia membukakan gerbang, aku berterimakasih dan tersenyum padanya. Diantarnya aku ke dalam, dan disitu berdirilah Remilia dan Sakuya. Jantungku berdegup keras mengingat peristiwa mengerikan di sini kemarin malam.
"Selamat datang." Sambut Remilia dengan senyum simpul. Taringnya mencuat keluar. Matanya yang tajam itu memberikan kesan dewasa dan judes yang memiliki nilai seni. Indah sekali. Kedewasaannya terjaga di dalam tubuh dan wajah seorang anak berumur 7 tahun. Sejauh ini, Remilia adalah gadis tercantik yang pernah kulihat.
Remilia menghampiriku, melepas perban di leherku dengan jemarinya yang mungil nan lentik. "Tidak perlu pakai ini. Lihat, lukamu sudah sembuh." Ujarnya. Dan kalimat Remilia memang benar adanya.
"Kami akan bertanggung jawab atas kesalahan fatal yang telah kami perbuat, maafkan kami. Mulai sekarang, mansion ini tempat tinggalmu. Sebagai sesama vampire, kita adalah tuan rumah disini." Ucap Remilia. Ia berbalik dan berjalan menaiki tangga.
"Sakuya, siapkan kamar mandi dan kamar tidurnya. Beri dia gaun yang sudah kupilihkan. Setelah semua beres, kau boleh istirahat." Perintah Remilia yang segera hilang dari pandangan. Sakuya menunduk hormat dan kembali tegak. Remilia, begitu diseganinyakah ia?
"Mari." Sakuya mengatakannya tanpa menoleh ke arahku. Aku mengikutinya dari belakang. Lalu Sakuya mulai berbicara.
"Maafkan kelakuan saya. Sebelum menjadi vampire pun, nona adalah seorang puteri. Sekarang nona adalah bagian dari nona Remilia dan nona Flandre, maka saya pun akan mengabdi seumur hidup kepada nona sebagai tanda permintaan maaf."
Aku sungkan. Tidak pernah ada yang begini menghormatiku. "Tidak usah begitu, Sakunyan."
"Saku- apa?" Sakuya tersenyum mendengar namanya disebut dengan nama yang berbeda. Aku hanya menunduk malu. Mulutku terkunci dengan sendirinya.
"Ini kamar nona. Di lemari sudah tersedia beberapa terusan. Silakan melihat-lihat sementara saya menyiapkan air hangatnya." Sakuya membuka pintu besar dengan ukiran-ukiran yang indah. Aku takjub begitu masuk ke dalam kamar yang luas dan gelap ini. Aku yang biasa tidur di futon, kini tidur di spring bed besar dengan pilar dan tirai. Lemarinya juga besar sampai-sampai aku bisa masuk di dalamnya. Ada sebuah meja rias. Dan ada balkon juga. Setelah melihat-lihat, aku memilih baju dari lemari. Semua gaun ini terlalu indah, sampai-sampai aku minder memakainya.
"Perlu kubantu?" Sakuya melihatku yang kebingungan. Aku hanya mengangguk.
"Aku pernah melihat warna rambut ini. Rambut putih dengan shade biru. Lalu, mata ini agak berbeda. Tidak scarlet seperti milik nona Flandre dan nona Remilia. Milik nona Kyuchi lebih gelap, crimson. Jadi, baju yang tepat adalah…" Sakuya terus mengoceh sambil membongkar isi lemari.
"Ada dua pilihan; merah atau hitam?" Sakuya mengangkat dua gaun. Satu berwarna hitam dengan kombinasi merah maroon, satu lagi berwarna merah menyala dengan kombinasi merah kecokelatan.
"Yang hitam bagus." Jawabku. Lalu Sakuya membereskan semua baju, memasukkannya kembali ke dalam lemari, dan meninggalkan satu gaun pilihanku di atas kasur.
"Air hangatnya sudah siap."
"Baiklah, terima kasih."
Aku masuk ke kamar mandi melalui sebuah pintu di sebelah meja rias. Kamar mandinya aneh, tidak seperti onsen yang biasa kupakai. Tapi tetap ada tempat untuk berendam air hangat. Langsung saja aku mandi, karenat tadi di Eientei aku tidak jadi mandi. Ingat?
Kebiasaanku bernyanyi belum hilang. Aku bersenandung lagu Kagome Kagome yang sering kunyanyikan bersama Kaguya.
"Lagu yang bagus." Kata Sakuya dari luar. Hmph, dia menungguku di luar rupanya! Aku membisu. Sakuya seperti mengisyaratkan agar aku terus bernyanyi, karena ia pun menggumamkan sebuah lagu yang kukenal. Maka kami, bernyanyi bersama. Sakuya mempunyai karakter suara seorang wanita dewasa yang agak serak-gelap-lembut, merdu sekali. Berbeda jauh dengan suaraku yang nyaring seperti suara anak kecil. Hampir mirip Flandre, tapi suara Flandre jauh lebih melengking.
Selesai mandi, aku yang hanya berbalut handuk ini meminta Sakuya untuk meninggalkanku sebentar. Ia menurut.
Nah, aku mendapat masalah disini. Bagaimana cara pakainya ini? Aku berusaha memakai terusan itu sendiri. Dan, aku berhasil! Aku bisa pakai gaun. Aku tetap mengenakan pita rambutku, dan giring-giring tetap bersemayam disitu. Di dalam mansion sebesar ini, bukan tidak mungkin aku akan tersesat. Aku berkaca, melihat taring-taringku mulai tumbuh. Sudahlah, aku vampire. Setelah selesai, aku keluar kamar dan mendapati Sakuya tertidur dalam posisi berdiri sambil bersandar pada tembok.
"Sakunyan?"
"Ng.. Ah, Eh!" Sakuya kaget dan bangun. "Ma-maafkan saya."
"Tidak apa-apa. Kamu kelihatan lelah, istirahatlah." Aku tersenyum ramah padanya.
"Baiklah kalau begitu. Kalau nona butuh apa-apa, kamar saya ada di lantai paling atas gedung utama. Tepat di menara jam." Sakuya pun menunduk dan berbalik pergi. Gedung utama, sejauh ini aku melihat di gedung ini adalah tempat menjamu tamu. Dapur, kamar tamu, ruang makan, dan kamar-kamar kosong lainnya terletak di gedung utama yang memiliki menara jam ini. Tepat di jam besar, paling atas, itu adalah kamar Sakuya dan Meiling.
Lalu… Sekarang aku akan melakukan apa? Berkeliling sajalah. Oh, iya, disini ada perpustakaan, 'kan? Maka bertanyalah aku kepada seorang peri yang juga maid di situ, dimana tempat perpustakaan itu berada. Peri tersebut seperti robot. Ia menunjukkan jalannya padaku. Aku melewati sebuah koridor yang terkesan angker. Koridor itu menghubungkan gedung utama dengan gedung yang lebih kecil di sebelah kiri yang ternyata adalah perpustakaan.
Setelah sampai, aku berterimakasih pada peri itu dan masuk ke dalam perpustakaan. Luar biasa. Tembok tidak terlihat. Sejauh mata memandang hanya ada rak buku, tangga-tangga, buku, buku, buku, dan buku.
"Kyuchi?" Seseorang memanggil namaku. Aku menoleh. Ia gadis dengan rambut ungu dan gaun seperti baju tidur berwarna senada. Gadis itu wajahnya datar, dan kakinya tidak menyentuh tanah.
"Selamat datang. Namaku Patchouli Knowledge." Masih berwajah tanpa ekspresi.
"Pa.. Pa… sho.." Aku kesulitan mengucap namanya. "Pashorrii", kataku.
"Patchouli." Ia mengoreksi
"Pachorin?" Ia tidak mengoreksi lagi. Kemudian ia berbalik dan meninggalkanku begitu saja. "Pachorin, anu, apa disini ada buku dongeng bergambar?" bagus, Patchouli pasti berfikir diriku sangat bodoh.
"Koakuma, ia mencari buku dongeng." Kata Patchouli pada seorang rekannya yang bersayap mirip Remilia dan rambutnya persis seperti rambut Meiling. Ia pergi dan kembali membawa sebuah buku tebal. "Buku sejarah", kata perempuan yang bernama Koakuma itu.
"Tidak, tidak. Tidak jadi. Terima kasih." Sudah kuduga. Disini buku dongeng adalah buku sejarah dan buku belajar menulis A-B-C adalah buku belajar menulis aksara kuno.
Aku merasa tidak nyaman, dan aku kembali ke gedung utama, terus lurus ke arah gedung sisi sebelah kanan gedung utama. Disini adalah tempat tinggal para peri yang menjadi maid, tempat kamarku dan kamar Remilia berada. Dan, gedung ini memiliki ruang bawah tanah, tidak lain adalah tempat tinggal Flandre. Mansion ini besar karena ruangan-ruangannya yang luas, tapi jumlahnya tidak seberapa banyak dan lokasinya pun tidak begitu rumit.
Di atrium yang terletak di lantai dasar, aku melihat Remilia dengan Flandre sedang duduk di atas karpet dan bercanda ria. Aku ingin bergabung, tapi aku malah hanya mengintip saja dari jauh. Hingga akhirnya Flandre melihatku.
"Manusia!" dia menunjukku dengan wajah kaget. Akupun tersentak, masa dia tetap akan memakanku? "Ah, bukan. Sudah bukan manusia. Ayo bergabung kesini!" Flan, dengan ceria melambai padaku. Oh, aku lega sekali. Sesuai ajakannya, aku menghampiri mereka. Dan entah kenapa aku merasakan sebuah atmosfer yang agak canggung. Remilia, dia tidak banyak menatapku. Apa dia tidak menyukaiku?
Aku duduk di antara Flandre dan Remilia. Flandre menyodoriku dengan kue warna-warni. "Mau macaroon?" Ia mengambilkanku yang berwarna pink. Kue itu namanya macaroon.
"Tunggu, Flan! Itu macaroon strawberry terakhirku!" Remilia menarik tangan Flan.
"Remi sudah banyak makan yang strawberry, Kyukyu belum!" Flan berontak.
Jadi, nama kecil mereka adalah Remi dan Flan. Dan, Flan, kamu memanggilku Kyukyu?
KRAK! Macaroon itu hancur. Itu kue yang rapuh. Remi, mengernyitkan dahinya dan meminum cairan merah dari gelas kecil. Aku yakin itu bukan darah. Kalau iya, baunya pasti sudah tercium.
"Flan, kau TIDAK BOLEH makan macaroon lagi." Remi menekankan kalimatnya. Flan menangis sambil membawa toples macaroonnya. Oke, aku benar-benar merasa tidak enak. Spontan aku menciptakan dua buah mochi, warna pink, rasa strawberry dan isi krim strawberry. Aku berikan pada Flan dan Remi.
"Ini namanya mochi, kue yang terbuat dari tepung beras." Kataku. "Rasa strawberry."
Flan dan Remi memakannya, dan wajah mereka aneh. Tekstur mochi sepertinya belum akrab di lidah mereka. Tapi aku yakin mereka suka rasanya. Flan berseri-seri, sedangkan Remi hanya mengangguk dan menaikkan alisnya.
Aku sangat kaget saat Flan memelukku, membenamkan wajahnya di dadaku. Well, anu, aku dan Reisen mempunyai postur tubuh yang mirip. Tinggi, ramping, dan dada kami…
"Mochi raksasa!" teriak Flan. Astaga, ini dadaku, bukan mochi! Aku dan Flan tertawa-tawa akrab. Kalau Remi adalah perempuan dengan wajah paling cantik dan anggun, Flan adalah perempuan dengan wajah yang paling imut dan menggemaskan. Remi memalingkan wajahnya, berdiri, pergi dari tempat ini. Sesaat aku merasa Remi memang tidak menyukaiku.
"Tenang saja, Remi selalu begitu saat ngambek." Kata Flan.
Malam pertamaku disini, aku dapat memahami isi mansion dan dekat dengan Flan yang mengubahku dari seorang manusia bulan menjadi vampire. Awal yang bagus.
Malam kedua, kali pertama aku memasuki dan makan di ruang makan. Ruang makan yang juga berukuran luas dan langit-langit yang tinggi. Ada 15 kursi di sisi kanan, dan aku duduk di kursi kedelapan. Jarakku antara Flan dan Remi sama-sama 7 kursi.
Sakuya masuk dengan mendorong sebuah meja dengan roda yang biasa digunakan untuk mengantarkan makanan oleh orang Barat. Ia menaruh hidangan kami masing-masing di depan kami. Begitu kubuka tutupnya, aku tidak melihat tanda-tanda adanya masakan Jepang. Nasi dan sumpit pun tidak ada. Hanya ada daging dengan saus dan sayur-sayuran, dilengkapi kentang. Yang paling parah, aku tidak tahu cara menggunakan garpu dan pisau. Sesuatu yang dinamakan table manner juga aku tidak tahu.
Aku berusaha mencontoh Remi dan Flan saat makan. Hasilnya; suara berisik dari pisau dan piring, daging dan saus berceceran, hingga piring yang akhirnya pecah. Flan tampak menikmati makanannya. Tapi Remi, Ia memandangku tajam-tajam.
"Tidak bisakah kau tenang?" Suaranya menggelap dan menggelegar. Mendengarnya saja bikin merinding. Gawat, Remi pasti sedang marah.
"Maaf, aku.. Aku… Tidak bisa mencontoh kalian dengan baik." Aku terbata-bata sambil membereskan kotoran yang kubuat.
"Kalau tidak suka disini…" Remi berdiri dan meremas tisu. "Aku bisa jadi kanibal jika kau memaksaku."
Flan berhenti makan. Aku menaruh tisu yang kupakai untuk membersihkan meja. Hening, aku menunduk. Bagaimana mungkin Remi bisa mengatakan hal seperti itu? Ia masih menginginkanku untuk mati, meskipun aku satu spesies dengannya, begitu? Sekarang, salahku apa padanya?!
"Dari awal aku juga tidak menginginkan hal ini!" Aku berlari keluar, masuk ke kamar. Kesal, tapi tidak menangis. Apa-apaan itu? Memangnya beradaptasi itu mudah?!
Aku merasa tidak diinginkan. Apa aku benar-benar harus hidup abadi dengan orang yang membenciku?
To be continued...
A/N: Yak, seperti biasa; R&R~ Ini chapter kedua dan masalah yang dihadapi mulai memuncak. Rencananya, chapter ketiga adalah yang terakhir. Jadi, baca terus ya~ Arigatou!
