A/N: WARNING! Mulai dari sini, cerita akan menjerumus ke tema shoujo-ai. DLDR, R&R and no flame please ^^
"Nona? Apa nona baik-baik saja?" Sakuya mengetuk pintu kamarku. Uh, pertanyaan macam apa itu? Jelas aku tidak "baik-baik saja". "Baiklah, saya masuk." Sakuya membuka pintu kamarku. Aku memang tidak menguncinya. Aku duduk di kasur, tidak melihat ke arah Sakuya.
"Makan malam tadi ribut sekali. Ada apa?"
Aku percaya pada Sakuya, pembawaannya yang dewasa membuatku membuka mulut dan berterus terang padanya. Meskipun aku sempat berfikir ia akan membela Remi, karena Sakuya memang dekat dengannya.
"Sepertinya Remiyan tidak menyukaiku. Aku jadi dekat dengan Flan-chan dan Sakunyan. Dan aku tidak tahu table manner. Untuk ukuran seorang Remiyan yang elegan, anggun, perfeksionis, aku dapat memakluminya. Tapi, ia tidak harus mengatakan hal sekejam itu, 'kan."
"Ia mengatakan apa?"
"Katanya, 'kalau tidak suka disini, aku dapat menjadi kanibal jika kau memaksa.' Begitu. Jika kau tahu maksudku, sih, Sakuya. Ia seakan-akan kesal tidak dapat memangsaku dan tetap menginginkanku mati meskipun aku sudah menjadi vampire."
Sakuya menghela nafas.
"Begini, kalau nona bilang nona Remilia adalah orang yang elegan, anggun, dan perfeksionis, nona salah besar. Saya bocorkan sedikit ya, nona Remilia hanya menjaga imagenya. Ia yang sebenarnya adalah wanita yang rapuh dan kekanakan, tapi ia menutupinya dengan keangkuhan dan keanggunan. Jadi, saya harap nona dapat memaklumi sifat nona Remilia. Ia hanya tersulut emosi sesaat yang cenderung bersifat labil. Saya yakin nona Remilia tidak benar-benar mengatakannya dengan serius. Saya hanya minta nona memakluminya, maka semua akan beres." Sakuya, dengan bicaranya yang dewasa, dapat menenangkan hatiku untuk saat ini. Aku percaya Sakuya yang sudah sekian lama mengenal Remi. Lalu, Sakuya mohon undur diri karena harus melayani Remi.
Remi ternyata adalah orang yang begitu. Istilahnya, tsundere. Maka aku menuruti nasihat Sakuya untuk mencoba maklum.
Beberapa hari setelah insiden itu, aku tetap canggung dengan Remi. Apalagi setelah aku mendengar sendiri percakapan mereka berdua. Aku memang sengaja menguping, karena pada dasarnya rasa penasaranku sangat besar.
"Pertama, aku jadi tidak bisa makan manusia. Kedua, dia tak tahu table manner. Ketiga, Flan jadi cenderung lebih condong ke Kyuchi. Keempat, kau jadi tidak punya waktu untukku sesering dulu. Terakhir.. Aku merasa dia cuek sekali denganku. ..Kalau kau perhatikan, ia terus menunduk kalau bertemu diriku. Dia bisa akrab dengan Flan, tapi kenapa tidak denganku?"
Kira-kira itulah yang Remi ucapkan pada Sakuya. Setelah itu, aku tidak mendengarkan lagi, aku tidak mendengarkan jawaban Sakuya. Yang jelas, kalau Sakuya mengatakan sesuatu, kami pasti sudah berbaikan sekarang.
Aktivitas sehari-hariku adalah bermain dengan Flan. Hal ini membawa banyak dampak baik. Meiling tidak pernah tertidur lagi saat bertugas, karena ia tidak perlu menyita waktu istirahatnya dengan bermain bersama Flan sampai subuh. Flan mendapat teman bermain baru dan tidak kesepian lagi. Aku, tentu saja Flan membuatku bisa menikmati hidup disini.
Aku sering tertidur di kamar Flan. Flan sendiri bilang kalau aku hangat. Ah, masa? Vampire kan berdarah dingin. Selain itu, Flan juga sangat menyukai kemampuan mochi dan dango milikku. Ah, aku memilikki dua weapon lho. Belum tahu kan? Weapon pertama namanya Tsukihanna, palu serupa yang dipakai untuk membuat mochi. Yang kedua sangat berbeda jauh dari diriku. Senjata ini sebuah chain saw yang kunamai Tsukinokogiri, gergaji mesin yang hanya aku yang bisa menggunakannya. Tsukihanna dan Tsukinokogiri, keduanya terbuat dari berlian bulan yang tidak bisa hancur atau meleleh. Bahan yang sama untuk membuat giring-giring mungilku ini.
Terkadang, kami berdua pergi ke halaman belakang dan berlatih bersama-sama. Laevateinn diadu dengan Tsukihanna. Untuk Tsukinokogiri, weapon ini hanya bisa dipakai dengan tiga macam spell card saja. Tiga spell card ini mempunyai taruhan nyawa jika pemakainya tidak siap atau dipakai disaat yang tidak tepat. Dari keseluruhan spell card, secara garis besar ada lima sign, yaitu Sweet Sign, Salt Sign, Sour Sign, Bitter Sign, dan Spice Sign. Untuk sweet, salt, dan sour, didominasi oleh spell yang cenderung mengganggu konsentrasi lawan lan menggunakan ilusi. Sedangkan untuk bitter dan spice, ini serangan yang menyerang langsung ke fisik. Tiga spell yang menggunakan Tsukinogiri berada di kedua sign ini. Dan di setiap spell, selalu ada unsur mochi, dango, dan kecepatan.
Malam itu, aku memperkenalkan permainan yang biasa kumainkan bersama Kaguya pada Flan. Permainan membentuk mochi. Flan langsung menyukai permainan ini. Bahkan, ia menggunakan choco chips dan menggambarnya dengan spidol juga. Ah, seandainya ia tidak pakai spidol…
Flan selalu mengaku mochi yang dibuatnya berbentuk kepalanya Sakuya, bukunya Patchy, atau topinya Meiling. Tapi di mataku, mochi-mochi itu bentuknya tidak lebih dari bentuk abstrak yang awut-awutan. Namun aku tetap menghargainya.
"Oh ya, Kyukyu kenapa bermusuhan dengan Remi? Kyukyu tidak suka disini?" Tanya Flan tiba-tiba.
"Remiyan yang tidak mau baikan sama aku. Aku sih sudah mau damai."
Flan tampak bingung. Ia meninggalkan mochinya dan menarik tanganku. "Kyukyu harus baikan sama Remi sekarang."
Flan, yang digosipkan berbahaya ini, Flan yang ingin memakanku hidup-hidup, Flan yang mengubahku jadi vampire… Dia.. Sebenarnya berusaha berbuat baik dan merupakan anak yang manis.
"Remi!"
"Oh, Flan. Ada apa?"
"Kyukyu ingin berbaikan denganmu." Flan mendorongku mendekat pada Remi.
"Masa? Bukankah Kyuchi tidak menyukaiku?" Lagi-lagi Remi memalingkan wajahnya, tapi kini wajahnya memerah.
"Justru aku yang merasa tidak disukai. Satu, Remiyan jadi tidak bisa makan manusia. Dua, aku tidak tahu etika table manner. Tiga, Flan-chan jadi cenderung lebih dekat denganku. Empat, Sakunyan jadi tidak punya waktu untuk Remiyan." Remi terlihat kaget begitu mendengar aku mengatakan hal yang seharusnya aku tidak tahu. "Remiyan dingin sekali denganku, aku jadi sungkan dan merasa tidak enak. Makanya aku tidak berani melihat Remiyan. Dan lagi, adaptasi itu sulit. Jadi ini hanya salah paham."
Remi diam. "Bo-Bodoh!" Remi hanya mengatakan itu. Wajahnya merah merona. "Seandainya berterus terang dari awal, kita sudah berbaikan, 'kan!"
Aku hanya tersenyum dan tertawa. Malam itu berlalu dan aku resmi berdamai dengan Remi.
Setelah itupun, aku dan Remi tidak canggung lagi. Tetapi aku tetap jauh lebih dekat dengan Flan. Sudah sebulan berlalu, dan Flan-lah alasanku betah tinggal di rumah baruku. Hampir setiap hari kami bermain dan tidur bersama, melakukan hal bersama, kami sangat dekat.
Suatu malam sebelum tidur, aku menelepon ke Eientei. Semua hadir disitu dan sangat antusias mendengarkan cerita-ceritaku. Mulai dari seperti apa mansion itu, seperti apa kamarku, sampai perpustakaan Patchouli juga aku ceritakan.
"Aku awalnya bertengkar dengan Remiyan, tapi sudah kelar masalahnya karena dibantu Sakunyan dan Flan-chan. Ya, aku dan Flan-chan sangat dekat. Aku teman bermainnya dan yang tidur bersamanya. Dia sangat antusias dengan mochi dan suka sekali memelukku, karena dadaku empuk katanya. Jauh dari kesan berbahaya dan ganas seperti yang digosipka, Flan-chan sebenarnya sangat imut dan manis."
"Syukurlah. Jadi, sudah mulai nyaman disitu?" Reisen bersemangat. Ia lega kalau aku senang tinggal disini.
"Ya! Aku punya pelayan dan hidup mewah. Dan lagi, aku, menemukan orang yang begitu kusayangi dan kucintai sepenuh hati…"
Begitulah. Aku begitu menyukai Flandre. Dengannyalah, aku bisa tertawa dan berbahagia.
~Fin~
A/N: My New Life sudah complete. Dan, perlu diketahui, dalam Touhou semua karakternya adalah perempuan. Mereka tidak tahu apa itu laki-laki. Karena itu, fanfiction dengan fandom Touhou buatanku akan banyak memuat shoujo-ai. Harap maklum. Arigatou gozaimasu ne
