Gia : Ukh... Akhirnya~ Setelah menghadapi sakit dan pusing yang berkepanjangan... CERITA INI UPDATE! *Sorak-sorai*

Yurika : HEH LU! LU KAN HARUSNYA BELAJAR BUAT TRY OUT HARI SENIN!

Gia : GAK MAOOOO! BESOK AJAAAAA!

Yami : Dasar *geleng-geleng kepala* Author males lu...

Gia : Biar aja! *Melet*

Atem : Kalau begitu, happy reading!

.

.

The Next Journey

.

By : Gia-XY

.

Previously :

"Kau mau membantu kembaranmu kan?" tanya Yugi lagi.

"Membantu? Tentu saja aku akan membantu kembaranku apapun yang terjadi. Memangnya kenapa?" tanya Atem.

"Ayo, kita bekerja sama untuk membuktikan apa Yurika benar-benar gadis yang dimaksud oleh Yami atau bukan," kata Yugi.

"Baiklah, aku setuju denganmu," kata Atem.

"WOI! YUU! KATANYA MAU BANTU!" teriak Yurika yang sudah ada di depan pintu kamar Yugi dan Yami bersama dengan Yami yang sedang membawa koper Yurika.

Teriakan Yurika itu sukses membuat Yugi dan Atem kaget.

"A-ah, iya, akan kubantu," kata Yugi sambil beranjak keluar dari kamar.

"Aku juga akan membantu," kata Atem sambil mengikuti Yugi keluar kamar.

.

Summary :

Apa? Sennen Item kembali? Dan ditemukan sebuah batu tulis yang berhubungan dengan pharaoh saat Ishizu dan Rishid melakukan penggalian? /"Penting, sangat penting. Ada sebuah batu tulis yang baru saja kami temukan baru-baru ini, tepatnya kemarin saat kami melakukan penggalian. Batu tulis ini dibuat oleh Namonaki Pharaoh—atau tepatnya, Pharaoh Atemu untuk menyatakan tentang perasaannya kepada gadis itu. Pharaoh dan gadis itu... Punya hubungan terlarang..."/"Kata Shadi, saat Sennen Item ini kembali lagi, aku harus mengembalikannya pada pemiliknya masing-masing."/

.

Disclaimer :

Yu-Gi-Oh! © Takahashi Kazuki

Story, Gia's OC : Kisaragi Yurika, Yukarina Hikari © Gia-XY

.

Warning :

OC, OOC, OC as main lead, genderbend, typo(s), misstypo(s), semi-canon, sedikit bahasa Jepang, krisis kosakata, DLDR, dll.

.

Journey 3

The Loyal Servant

.

.

~30th June~

~00.30 Ρ.M.~

~Ishtar's Residence in Japan~

~Living Room~

Di ruang tamu terlihat Malik, Marik, Ishizu dan Rishid berkumpul dan membiacarakan sesuatu.

"Ja-jadi, Marik ini tinggal rumah kita mulai sekarang?" tanya Malik tidak percaya sambil menunjuk Marik yang duduk di sebelahnya.

"Begitulah... Waktu itu aku memang sempat merasa Marik mirip denganmu, bahkan aku sempat teringat pada Yamimu. Dan ternyata memang benar... Dia memang Yamimu... Marik diberi role kehidupan oleh para dewa sebagai pengembara yang hidup sendiri. Shadi sudah mengatakan semuanya padaku...," kata Ishizu sambil menghela nafas.

"Ya, aku juga sudah mendapat ingatan tentang role hidupku. Aku yakin 2 Yami lainnya juga sudah tahu role kehidupannya," kata Marik.

"Hm... Souka... Lalu, nee-san, apa yang Shadi katakan padamu?" tanya Malik bingung.

"Dia bilang, para Yami sudah kembali... Dan pharaoh...," Ishizu menggantungkan kata-katanya.

"Ingatan pharaoh belum sepenuhnya kembali," kata Ishizu dan Marik bersamaan.

"A-apa!? Ingatan pharaoh belum sepenuhnya kembali!? Bagaimana bisa!?" tanya Malik tidak percaya.

"Ya, ingatannya belum sepenuhnya kembali. Ingatannya yang dia ingat hanya sekedar ingatan masa kecilnya bersama ayahnya dan ingatan saat dia menjadi pharaoh. Kalau tidak salah, waktu itu Obelisk bilang kalau pharaoh belum mengingat tentang seorang gadis yang merupaka pelayan pribadinya dan sebuah janji, yang aku juga tidak tahu maksudnya janji apa," jawab Marik.

"Dan ada lagi, katanya, saat ini gadis yang menjadi pelayan pribadinya itu sekarang sudah bereinkarnasi. Gadis itu juga sedang dalam perjalanan untuk mengingat kembali ingatannya sebagai pelayan pribadi sang pharaoh dulu," kata Ishizu menjelaskan.

"Apa!? Jadi dia juga sedang mencari ingatan masa lalunya!?" tanya Marik tidak percaya.

"Ya, dan tugas kita sebagai penjaga makam adalah... Mebantu gadis itu dan pharaoh," kata Ishizu.

"Memangnya apa sebegitu pentingnya pelayan itu untuk pharaoh?" tanya Malik.

"Penting, sangat penting. Ada sebuah batu tulis yang baru saja kami temukan baru-baru ini, tepatnya kemarin saat kami melakukan penggalian. Batu tulis ini dibuat oleh Namonaki Pharaoh—atau tepatnya, Pharaoh Atemu untuk menyatakan tentang perasaannya kepada gadis itu. Pharaoh dan gadis itu... Punya hubungan terlarang...," jelas Rishid.

"Perasaan Pharaoh Atemu kepada gadis itu? Hubungan terlarang? Apa maksudnya?" tanya Malik lagi.

"Di zaman Mesir Kuno, seorang pharaoh ataupun pangeran sangat dilarang untuk mempunyai perasaan, apalagi hubungan khusus, dengan pelayan, apalagi yang berkulit putih. Itu sangat dilarang. Saat zaman Pharaoh Aknamkanon memerintah, rakyat saja sudah menentang keras saat Pharaoh Aknamkanon mengizinkan gadis itu dan orang tuanya, yang saat itu merupakan pelayan kepercayaan Pharaoh Aknamkanon, tetap tinggal di istana dan menjadikannya gadis itu pelayan pribadi Pharaoh Atemu, atau tepatnya waktu itu, Atemu Ouji-sama. Rakyat menentang mereka tetap tinggal di istana karena gadis itu berkulit putih, sedangkan orang tuanya berkulit hitam. Rakyat menganggap kalau orang tua gadis itu menganut ajaran gelap karena anaknya berkulit putih, padahal orang tuanya berkulit hitam," jelas Rishid lagi.

Mata Malik dan Marik langsung tebelalak.

"Jadi maksudmu... Gadis itu berkulit putih dan rakyat saat itu menganggap kalau gadis itu berkulit putih sebagai hukuman dari dewa kepada orang tuanya karena mereka menganut ajaran gelap? Lalu... Pharaoh Atemu dan gadis itu... Punya hubungan diluar hubungan majikan dan pelayan?" tanya Marik tidak percaya.

"Benar sekali. Sebenarnya orang tua gadis itu bukan penganut ajaran gelap. Lalu soal tebakanmu tentang Pharaoh Atemu dan gadis itu... Kau benar. Mereka diam-diam punya hubungan khusus. Sebetulnya mereka belum berhubungan secara status, atau tepatnya, mereka tidak pacaran. Sang pharaoh sendiri bahkan tidak tahu bagaimana perasaan gadis itu padanya. Dapat dikatakan bahwa seakan-akan hubungan itu hanya hubungan sepihak saja. Tepatnya, gadis itu seperti tidak menganggap pharaoh. Dia memang menerima semua perlakuan Pharaoh Atemu yang melewati batas perlakuan dari seorang majikan ataupun teman padanya, tapi dia sama sekali tidak pernah mengatakan bagaimana perasaannya yang sesungguhnya pada Pharaoh Atemu. Hubungan mereka yang tidak jelas itu hanya diketahui oleh mereka sendiri dan sepupu Pharaoh Atemu, Priest Seth," jelas Ishizu.

"Tunggu-tunggu! Bukannya gadis itu juga mempunyai perasaan yang sama dengan Pharaoh Atemu?" tanya Marik.

"Kalau itu... Sampai sekarang tidak ada yang tahu bagaimana perasaan gadis itu. Gadis itu sama sekali tidak pernah mengatakan perasaannya dan di batu tulis itu juga tidak tertulis soal perasaan gadis itu," jelas Rishid.

"Ini memusingkan," kata Malik sambil memegang kepalanya.

"Lalu... Ada satu lagi yang ingin kami bicarakan. Coba kalian lihat ini," kata Ishizu sambil membuka tas yang ada di atas meja.

Di dalam tas itu, terlihat 5 buah barang yang yang terbuat dari bahan yang sama, emas, dan memiliki lambang yang sama di masing-masing benda itu—Eye of Anubis. Mata Malik dan Marik langsung terbelalak lebar melihat benda-benda di dalam tas itu.

"I-ini!" Seru Malik dan Marik bersamaan.

"Ya, ini Sennen Item... Kata Shadi, saat Sennen Item ini kembali lagi, aku harus mengembalikannya pada pemiliknya masing-masing," kata Ishizu.

"Eh, tunggu, Sennen Ankh dan Sennen Scale tidak ada di sini," kata Malik.

"Ya, kedua Sennen Item itu ada pada Shadi," jelas Rishid.

Ishizu lalu mengeluarkan Sennen Rod dari tas itu.

"Ini, milikmu," kata Ishizu sambil memberikan Sennen Rod pada Marik.

"Aku boleh mengambilnya?" tanya Marik.

"Ya, asal kau tidak memakainya untuk berusaha melakukan hal buruk lagi," kata Ishizu.

"Tidak akan," kata Marik sambil tersenyum kecil melihat Sennen Rod di tangannya.

"Lalu, Malik, kurasa aku sudah tidak membutuhkan ini dan lebih baik kau yang memegangnya," kata Ishizu sambil mengeluarkan Sennen Tauk dari tas itu dan memberikannya pada Malik.

"Nee-san serius?" tanya Malik tidak percaya.

"Ya, aku memberikannya untukmu," kata Ishizu.

"Arigatou, nee-san," kata Malik sambil mengambil Sennen tauk dari tangan Ishizu.

Ishizu lalu menutup resleting tas itu berdiri dari sofa tempatnya duduk sambil menenteng tas itu.

"Marik, Malik, kami berdua akan pergi ke kediaman Mutou sekarang. Apa kalian mau ikut?" tanya Ishizu.

"Kami ikut," jawab Malik dan Marik bersamaan sambil berdiri dari sofa.

"Baiklah, ayo," ajak Ishizu sambil berjalan keluar ruangan diikuti tiga orang lainnya.

~Kame Game Shop~

~Yurika's Room~

~01.15 Ρ.M.~

Yurika, Yami, Yugi dan Atem saat ini tengah membereskan kamar Yurika. Yugi lalu melihat sebuah bungkusan. Dia penasaran lalu berusaha membuka bungkusan itu.

"Jangan disentuh Yuu! Itu buat Seto!" seru Yurika sambil mengambil bungkusan tadi dari tangan Yugi.

"Buat Kaiba-kun!? Sebegitu pentingnya kah sampai-sampai aku dilarang menyentuhnya!? Tuh kan kau memang punya hubungan khusus dengannya!" seru Yugi.

"Apa? Seto!?" tanya Yami dan Atem bersamaan sambil menghampiri Yurika dan Yugi saat merasa nama yang familiar untuk mereka itu disebut.

"Bukan begitu Yuu! Dia kan temanku! Apa salah aku memberikan sesuatu untuknya?" tanya Yurika.

"Apa Seto yang kau maksud itu Kaiba Seto?" tanya Atem.

"Ya, dia! Kaiba Seto! Yurika, Aku tidak percaya kalau kalian cuma teman! Buktinya dulu kalian bisa hilang berdua saat istirahat!" seru Yugi seperti seakan-akan sedang memojokkan Yurika.

"Terserahmu kalau kau tidak percaya," kata Yurika kesal lalu kembali membereskan kamarnya.

"Erm, aibou, apa maksudmu Yurika dan Seto punya hubungan lebih dari teman?" tanya Yami.

"Dulu ada gosip kalau Yurika dan Seto pacaran," kata Yugi.

Atem mengernyitkan alisnya.

"Sepupuku si Seto itu? Pacaran? Ahaha! Mana mungkin! Serigala kesepian seperti itu!?" tanya Atem sambil tertawa terbahak-bahak.

"Memang mereka tidak pacaran. Itu cuma gosip. Yah, dulu aku, Yurika, Anzu dan Seto selalu ngegank berempat. Cuma entah kenapa, rasanya yang paling akrab di antara kami berempat adalah Yurika dan Seto. Makanya orang-orang mengatakan kalau mereka pacaran. Padahal mereka mungkin akrab karena memang mereka itu nasibnya mirip," jelas Yugi.

'Nasibnya sama?' pikir Yami bingung.

"Yuu! Jangan bicara macam-macam! Cepat bantu aku!" seru Yurika kesal.

"Ya-ya, aku tahu," kata Yugi.

Mereka semua lalu kembali ke perkerjaan mereka membereskan kamar Yurika.

"Ah, Yurika, ini kotak apa?" tanya Yami sambil mengambil sebuah kotak di dalam koper Yurika.

"Ah, ini kalung pembarian jii-chan," kata Yurika sambil mengambil kotak itu dari tangan Yami dan membukanya.

Di dalamnya, terlihat sebuah kalung dengan bandul berbentuk Eye of Anubis.

"Ini... Sennen Tauk? Ah, sepertinya bukan," kata Yami sambil menatap kalung itu dengan tatapan observatif.

"Ah, bukan, kata jii-chan kalung ini namanya Eyes of Anubis Kubikazari," kata Yurika.

"Hm, mirip dengan Sennen Tauk," kata Yami.

Tiba-tiba saja sebuah bayangan kembali muncul di kepala Yami.

"Kau serius, Atemu-san? Ini untukku?" tanya Hikari salam pikiran Yami sambil menunjukkan sebuah kalung dengan bandul Eye of Anubis.

Deg!

Lagi!

Mata Yami langsung terbelalak lebar. Lagi-lagi bayang Hikari muncul di pikiran Yami!

"Yami-kun? Daijoubu ka?" tanya Yurika khawatir.

"Ore wa daijoubu," kata Yami meyakinkan Yurika.

"Hm, kalung ini ada fungsinya ya?" tanya Atem sambil ikut-ikutan menatap kalung itu.

"Apa maksudmu dengan fungsi?" tanya Yurika bingung.

"Aku rasa kalung ini mirip dengan Sennen Item. Kata chichi, Sennen Item itu punya fungsinya masing-masing. Jadi kupikir kalung itu juga," jelas Atem.

"Sennen Item? Maksudnya itu seperti Sennen Tauk yang tadi disebut-sebut Yami-kun dan Sennen Puzzle milik Yuu yang bentuknya kepingan-kepingan puzzle tidak jelas itu?" tanya Yurika.

"Iya itu!" seru Atem.

"Oh ya, Yuu, ngomong-ngomong Sennen Puzzle punyamu kemana? Apa kau membuangnya karena kau tidak bisa menyelesaikan puzzlenya?" tanya Yurika dengan nada sedikit mengejek.

"Kau menghinaku ya? Asal kau tahu saja, aku berhasil menyusun puzzle itu dua kali tahu! Dua kali!" seru Yugi yang merasa tersinggung dengan nada sebal.

"Hahaha, iya-iya. Lalu mana barangnya?" tanya Yurika.

"Kalau soal itu..."

Yugi terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Mana mungkin dia bilang bahwa Sennen Puzzle miliknya dan 6 Sennen Item yang lain masuk ke dalam perut bumi dan terkubur bersama dengan makam Namonaki Pharaoh alias Pharaoh Atemu di Mesir sana. Yurika pasti akan bertanya kenapa bisa begitu dan begitu Yugi menceritakan semuanya Yurika tidak akan percaya.

"Dia memberikannya padaku," jawab Yami menggantikan Yugi.

Yugi langsung menengok kearah Yami.

"He? Benarkah? Tumben kau murah hati sekali," kata Yurika lagi sambil mengejek Yugi sekali lagi.

Twitch!

Muncul empat siku-siku di kepala Yugi.

"Kau memang berniat menghinaku ya daritadi?" tanya Yugi sambil tersenyum kesal.

"Kalau tahu ngapain nanya? Ngomong-ngomong, kamarku sudah selesai dibereskan, lebih baik kita turun dan menemui jii-chan sekarang," kata Yurika.

Lalu mereka berempat berjalan turun ke ruang tamu.

~Living Room~

Baru saja Yami selesai menuruni tangga, matanya langsung terbelalak lebar melihat 4 sosok yang ada di ruang tamu.

"Marik? Malik? Ishizu? Rishid?" tanya Yugi yang turun menyusul Yami.

"Yo! Cebol! Pharaoh! Kenapa kau bengong begitu? Ternyata tebakanku benar ya, ternyata kau memang sudah ada di rumah Hikarimu. Lalu siapa dua wanita di belakang kalian itu? Kenapa yang satu mirip sekali denganmu, Pharaoh?" tanya Marik panjang lebar.

"Eh? Dia bukannya... Ishizu Ishtar yang penjaga makam itu? Chichi pernah cerita pada kita kan?" tanya Atem pada Yami.

"Ada tamu? Teman kalian ya?" tanya Yurika.

"Yah, bisa dibilang begitu," kata Yugi.

"Kalian berempat, ayo sini!" panggil Sugoroku kepada empat orang itu.

Mereka berempat lalu beranjak dari tempat mereka dan duduk di sofa ruang tamu itu.

"Tumben datang, ada apa?" tanya Yugi.

"Kami mau... Membahas sesuatu... Pharaoh, ini, milikmu," kata Ishizu sambil memberikan Sennen Puzzle kepada Yami.

"Ini... Sennen Puzzle? Kenapa bisa ada di sini?" tanya Yami bingung sambil mengambil Sennen Puzzle yang diberikan Ishizu.

Yurika langsung terbelalak melihat lambang Eye of Anubis yang ada di Sennen Puzzle itu.

"I-itu! Lambang yang sama dengan yang ada di kalungku!?" seru Yurika kaget.

"He? Kalung?" tanya Marik sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Maksudmu Eye of Anubis Kubikazari yang kuberikan padamu?" tanya Sugoroku pada Yurika.

Yurika hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya saja.

"Dan tadi kau bilang, Sennen Puzzle? Bukankah kata Yuu dia memberi pada Yami-kun? Kenapa bisa ada pada orang-orang ini?" tanya Yurika bingung.

"A-ah! I-itu! Mereka memakai Sennen Puzzlenya untuk pameran di museum sebentar! Ya kan, mou—maksudku, Yami, ya kan?" tanya Yugi berusaha mencari alasan yang masuk akal.

"I-iya, kau benar," jawab Yami agak gugup.

'Mencurigakan...' pikir Yurika curiga.

"Tadi kau bilang, Eye of Anubis Kubikazari? Kalung itu... Ada padamu?" tanya Ishizu sambil menatap Yurika.

"Ya, jii-chan yang memberikannya padaku," jawab Yurika.

"Ah, ngomong-ngomong, kami belum memperkenalkan diri. Namaku Ishtar Ishizu, yang bersamaku ini Ishtar Rishid, anikiku, Ishtar Malik, imoutoku, dan Ishtar Marik, orang yang menumpang tinggal di rumah kami. Lalu kalian berdua?" tanya Ishizu pada Yurika dan Atem.

'Menumpang tinggal? Berarti dia juga punya role di sini?' tanya Yami dalam hatinya.

"Aku Kisaragi Yurika, teman masa kecil Yugi," kata Yurika memperkenalkan dirinya.

"Dan aku Sennen Atemu, panggil saja Atem. Aku adik kembar dari Yami. Aku, Yami dan Yurika menumpang tinggal di sini," kata Atem.

'Yami? Nama baru Pharaoh?' pikir Malik dalam hatinya.

"Ngomong-ngomong soal Eye of Anubis Kubikazari, apa kau tahu fungsinya apa?" tanya Ishizu pada Yurika.

'Fungsi? Seperti yang dikatakan Atem barusan,' pikir Yurika.

Yurika hanya menggelang pelan mendengar pertanyaan Ishizu.

"Tidak, aku sendiri belum pernah memakai kalung itu. Ngomong-ngomong soal fungsi, memang kalung itu ada fungsinya?" tanya Yurika bingung.

"Yah, setiap benda-benda dari Mesir dipercayainya mempunyai sesuatu kekuatan spesial, semacam fungsi begitu lah," jelas Malik.

"Hm, aku mengerti. Memangnya apa fungsinya?" tanya Yurika.

"Kami juga tidak tahu. Sama seperti Sennen Item, hanya orang terpilih yang dapat menggunakan kekuatan dari Eye of Anubis Kubikazari. Seumur-umur, belum pernah ada yang tahu kekuatan kalung itu," jelas Ishizu.

'Dan sampai sekarang, hanya ada satu orang yang dapat menggunakan kekuatan dari Eye of Anubis Kubikazari... Gadis pelayan itu...,' pikir Rishid.

"He? Orang terpilih?" tanya Yurika bingung.

"Ya, orang yang terpilih oleh Eye of Anubis Kubikazari," kata Rishid.

"Ngomong-ngomong, soal Sennen Puzzle..." Yami menggantung kata-katanya.

"Semuanya ditemukan kembali saat penggalian kemarin," jelas Rishid yang sudah tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Yami.

"Ah, lalu, besok akan ada pameran di museum. Kuharap kalian mau datang ke Museum Domino besok," kata Ishizu buru-buru mengalihkan topik sebelum Yurika bertanya lebih jauh tentang Sennen Item.

"Pameran? Tentu saja aku akan datang," kata Sugoroku.

"He? Pameran lagi? Jam berapa?" tanya Yugi.

"Jam 11 pamerannya dibuka. Dan Kau! Pharaoh! Kau harus datang besok! Ini sangat penting!" seru Malik.

"Malik, jangan panggil aku dengan sebutan Pharaoh, panggil saja Yami," kata Yami yang merasa agak keberatan dengan panggilan 'Pharaoh'.

"Oh, iya, maksudku Yami," kata Malik.

"Yami? Nama barumu, Pharaoh?" tanya Marik.

"Begitulah. Lalu memang ada apa dengan pameran besok?" tanya Yami.

"Pameran besok itu... Kurasa dapat membantumu," kata Rishid.

"Membantu? Membantu apa?" tanya Yami bingung.

"Datang saja besok, dan kau akan tahu," jawab Ishizu.

"Kalau begitu, kami pamit dulu. Banyak yang harus kami persiapkan," kata Rishid.

"Baiklah, akan kuantar sampai pintu depan. Oh ya, Yugi, Yurika, Yami, Atem, tolong jaga rumah sebentar ya. Aku akan pergi sebentar," kata Sugoroku sambil berdiri dari tempat duduknya.

"Baiklah," jawab Yurika.

"Jaa, Yugi, Yami, Yurika, Atem!" pamit Malik.

"Semoga berhasil menemukan apa yang kau cari, 'Yami'," kata Marik dengan memberikan penekanan pada kata 'Yami' seaka-akan mengejek mantan Pharaoh itu dengan nama barunya.

"Terima kasih atas dukunganmu," balas Yami dengan nada sarkatis.

"Jaa! Sampai ketemu besok di museum!" kata Yugi.

Lalu Malik, Marik, Ishizu, dan Rishid mengikuti Sugoroku menuju ke pintu depan.

'Kata-kata Marik tadi membuatku jadi teringat pada kata-kata lelaki misterius itu...,' pikir Yurika.

Yurika lalu mencoba mengingat-ngingat perkataan lelaki misterius yang dimaksud olehnya itu.

"Apa yang kau cari ada di Domino..."

'Ya, begitu kalau tidak salah kata-kata lelaki itu. Sebetulnya, apa maksudnya?' pikir Yurika lagi.

"Hm, kalau begitu, aku ke kamar dulu ya," kata Atem lalu naik ke kamarnya.

"Aku juga, aku masih ada PR yang harus dikerjakan," kata Yugi.

Yurika lalu mengernyitkan alisnya.

"PR? Sejak kapan kau mengerjakan yang namanya 'PEKERJAAN RUMAH'?" tanya Yurika dengan nada menyindir sambil memberi penekanan pada kata 'Pekerjaan Rumah'.

"Sejak ada pemaksaan dari Anzu mungkin? Ahaha! Kalau begitu, aku naik dulu!" kata Yugi sambil menaiki tangga menuju kamarnya.

Sekarang hanya tersisa Yurika dan Yami yang duduk bersebelahan di sofa.

Hening.

Mereka tidak tahu apa yang harus mereka katakan.

Yami lalu berdiri dari tempat duduknya dan melihat-lihat buku yang ada di rak buku. Sedangkan Yurika, entah kenapa rasanya matanya terasa sangat berat. Mungkin dia masih lelah dengan penerbangan tadi.

'Engh, aku ngantuk sekali... Ya sudahlah, aku akan tidur sebentar,' pikir Yurika.

Dia lalu akhirnya membiarkan matanya tertutup.

"Yurika?" panggil Yami yang melihat Yurika sedang tertidur dengan damainya sambil terduduk di atas sofa.

'Dia tidur...,' pikir Yami.

Yami lalu mendekati Yurika dan menatap wajah gadis itu dengan tatapan observatif.

"Benar-benar mirip..." kata Yami.

Ia lalu duduk di samping Yurika dan mengelus kepala gadis itu.

"Atemu-san menyukaiku?"

Mata Yami langsung terbelalak lebar setelah melihat bayangan yang muncul tiba-tiba di kepalanya.

'Apa itu tadi?' Pikir Yami sambil memegangi kepalanya.

Yami lalu mengalihkan pandangannya kembali ke wajah Yurika. Wajah yang tadinya tertidur dengan begitu damai, sekarang berubah menjadi ketakutan. Entahlah, apa yang membuatnya ketakutan. Mimpi buruk mungkin?

Sementara di lain pihak, Yurika masih ada di alam mimpinya.

-Yurika's Dream-

"Gadis berkulit putih begini jadi pelayan pribadi ouji-sama!? Apa mata Pharaoh Aknamkanon sedang bermasalah sampai-sampai memilih gadis berkulit putih begini!?" tanya seorang gadis berkulit tan berumur sekitar 12 tahun sambil melempar tatapan sinis kearah gadis berkulit putih susu yang terduduk di depannya dengan wajah ketakutan.

"Apa tidak ada orang lain yang bisa diangkat menjadi pelayan pribadi ouji-sama sampai-sampai pharaoh harus memilih gadis ini!?" tanya gadis lainnya dengan nada kesal.

"Dia sama sekali tidak layak untuk tinggal di istana, bahkan menjadi pelayan pribadi ouji-sama! Lebih baik kau mati daripada membuat semua orang menjadi sial karena warna kulitmu yang membawa sial itu!" seru gadis lainnya yang bersiap mengangkat tangannya untuk memukul gadis berkulit putih susu dengan surai pirang di depannya itu.

Gadis berkulit putih itu hanya bisa menutup mata Aquamarinenya saking ketakutannya.

'Haha! Chichi! Dasukette!' seru gadis itu ketakutan dalam hatinya.

Gadis berkulit tan itu baru saja akan melayangkan tangannya untuk memukul gadis itu, tapi sayangnya sebuah tangan menghentikan menahan tangannya dan niatnya.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya pemilik tangan tadi.

"Ouji-sama! Ayo kabur teman-teman!" Seru gadis tadi.

Lalu 3 gadis tadi berlari meninggalkan gadis itu dan lelaki yang menyelamatkannya tadi.

"Kau tidak apa-apa?" tanya lelaki tadi—Sang pangeran, pada gadis berkulit putih tadi.

Gadis itu lalu perlahan-lahan membuka matanya dan mendapati sosok penyelamatnya di depannya. Lelaki berkulit tan dengan iris dan crimson berambut bintang berwarna dasar hitam dengan warna merah di pinggirannya dan poni pirang keemasan yang membingkai wajahnya. Bagi gadis itu, sosok di depannya benar-benar seperti sosok seorang pangeran penyelamat yang dikirimkan dewa untuknya.

"Kau tidak apa-apa kan?" tanya sang pangeran lagi.

"A-aku... Aku tidak apa-apa... Te-terima kasih sudah menyelamatkanku...," kata gadis itu dengan gugup.

Bukan, dia bukan gugup karena berhadapan dengan sang pangeran, bahkan dia masih tidak sadar bahwa lelaki di depannya itu adalah seorang pangeran. Dia gugup, karena memang dia sangat canggung untuk berbicara pada orang lain.

"Siapa namamu?" tanya sang pangeran.

"A-ah! Namaku Yukarina Hikari! Maaf kalau aku merepotkanmu tadi!" kata gadis itu—Hikari, masih dengan nada gugup.

Pangeran itu hanya tersenyum tipis melihat gadis itu.

"Tidak usah gugup begitu. Ngomong-ngomong, kau gadis yang tinggal di istana kan?" tanya pangeran itu.

Hikari hanya mengangguk pelan.

"Lalu, kalau boleh tahu, apa yang gadis-gadis itu lakukan padamu tadi?" kata pangeran.

"A-ah, i-itu... Mereka kesal karena gadis berkulit putih sepertiku diperbolehkan untuk tinggal di istana dan akan dijadikan pelayan pribadi dari ouji-sama... Yah, aku mengerti kalau mereka marah. Aku memang tidak layak. Gadis berkulit putih sepertiku memang seharusnya diisolasi kan?" kata Hikari dengan nada sedih.

"Jangan berkata seperti itu. Kupikir malah orang-orang yang aneh. Memang apa bedanya kulit putih dan kulit hitam. Kupikir sama saja kok. Dan soal pelayan pribadi, kau pelayan pribadiku?" tanya sang pangeran.

"Ka-kau... Ouji... Sama?" tanya Hikari tidak percaya.

"Ternyata benar. Aku belum memperkenalkan diri ya? Aku pangeran di sini, anak dari Pharaoh Aknamkanon. Lalu namaku... Dengarkan aku baik-baik, aku hanya akan memberitahumu saja. Namaku Atemu," kata pangeran itu—Atemu.

"Ate... Mu?" tanya Hikari.

"Ya, Atemu. Itu namaku. Salam kenal Hikari. Dan, ayo kita kembali," kata Atemu sambil tersenyum lembut pada Hikari dan mengulurkan tangannya pada gadis itu.

Lalu tiba-tiba sebuah cahaya muncul dan menghilangkan semua pemandangan itu. Semua menjadi putih. Hanya tersisa Yurika seorang diri di sana. Ya, sendirian.

"Ini, dimana?" tanya Yurika sambil menolehkan kepalanya untuk menengok ke kanan dan ke kiri.

'Ayo, ingat kembali saat-saat di mana kita bersama-sama, dan juga... Janji kita Hikari. Terimalah uluran tanganku ini,' kata sebuah suara baritone yang sama persis dengan suara Atemu.

"Siapa? Siapa? Siapa kau?" tanya Yurika berusaha mencari sosok yang mengajaknya bicara itu.

Tapi percuma saja, dia tidak melihat orang lain di sana. Hanya ada dirinya sendiri, dan cahaya yang kembali muncul dan menyilaukan mata seorang Kisaragi Yurika.

-Dream's End-

Mata Yurika langsung terbuka lebar.

'Mi-mimpi itu lagi!?' pikir Yurika kaget.

"Kau sudah bangun?" tanya sebuah suara baritone yang mengagetkan Yurika.

Yurika lalu menengok ke atasnya. Terlihat wajah Yami dengan sebuah senyum kecil di sana. Yurika langsung buru-buru membetulkan posisinya begitu sadar bahwa dari tadi dia tidur dengan posisi bersender pada pundak Yami.

"Berapa menit aku tertidur?" tanya Yurika panik.

"Sekitar 35 menit," kata Yami.

"A-apa aku mengigau aneh-aneh?" tanya Yurika takut-takut.

"Bagaimana kalau kubilang ya?" tanya Yami sambil tersenyum iseng.

"Kau serius? Aku mengigau apa?" tanya Yurika panik.

Yami hanya tertawa saja melihat tingkah Yurika.

"Hahaha! Ya ampun! Kau benar-benar percaya dengan kata-kataku barusan ya?" tanya Yami sambil tertawa-tawa.

Yurika langsung memasang wajah kesal.

"Jangan bilang kalau tadi kau cuma bohong," kata Yurika kesal.

"Memang aku bohong," kata Yami sambil tersenyum penuh kemenangan.

"Cih, menyebalkan! Aku kena tipu!" seru Yurika kesal.

"Kau manis juga kalau marah begitu, Hime-sama," kata Yami dengan nada menggoda.

"Lalu, kenapa aku bisa berakhir dengan bersender di pundakmu? Bukannya tadi kau sedang berada di depan rak buku?" tanya Yurika dengan nada sinis.

"Tadi aku kembali duduk di sofa. Lalu tiba-tiba kau bersender di pundakku," kata Yami.

"Kau serius?" tanya Yurika.

"Ya, kali ini aku serius. Dan wajahmu tadi sempat kelihatan ketakutan. Kau mimpi buruk?" tanya Yami agak khawatir.

"Tidak, bukan mimpi buruk juga sih," kata Yurika sambil bersender di sofa.

'Tapi, mimpi ini terus menghampiriku akhir-akhir ini,' pikir Yurika.

"Kalau kau mimpu buruk, kau bisa cerita padaku. Aku tidak keberatan mendengarkan ceritamu," kata Yami sambil mengelus kepala gadis di sampingnya itu.

Seklias, Yami terlihat seperti Atemu di mata Yurika. Mata Yurika langsung terbelalak.

"Kenapa wajahmu kaget begitu?" tanya Yami sambil menaikkan sebelah alisnya.

'Ya ampun! Yurika! Mana mungkin Yami adalah Atemu! Aku tahu mereka mirip, tapi tetap saja, Atemu itu TIDAK NYATA!' pikir Yurika.

"Iie! Itu hanya perasaanmu saja," kata Yurika.

"YURIKAAAAA! BANTU AKUUUU!"teriak Yugi buru-buru menuruni tangga dengan membawa buku dan pensil di tangannya.

"Ck! Jangan bilang kau mau menyuruhku membantumu mengerjakan PR," kata Yurika sambil berdecak kesal dan menengok kearah Yugi.

"Nah! Itu tahu! BANTUUU!" seru Yugi.

"PR apa?" tanya Yurika.

"Biologi," kata Yugi sambil membuka-buka bukunya.

"Kau ini bagaimana sih? Kenapa kau tidak mengerjakan PRnya dari kemarin!?" tanya Yurika kesal.

"Aku sibuk! Sibuk! Kau tahu kan aku orangnya sibuk!?" tanya Yugi.

"Alasan!" seru Yurika kesal.

Kring! Kring!

Suara telepon yang berbunyi membuat Yugi dan Yurika menghentikan perdebatan maut mereka. Yurika lalu mengangkat telepon itu.

"Halo, di sini kediam Mutou," kata Yurika.

/Ah, iya! Halo! Maaf, ini siapa ya?/ tanya sebuah suara di ujung telepon.

'Laki-laki? Atau perempuan?' pikir Yurika bingung.

Di telinganya, suara itu terdengar seperti suara lelaki, tapi juga terdengar seperti suara seorang perempuan.

"Aku Kisaragi Yurika, orang yang baru pindah ke Kame Game Shop kemarin. Kalau boleh tahu, kau siapa dan mau mencari siapa?" tanya Yurika.

/Aku mau mencari Mutou Yuugi, apa dia di rumah? Aku teman sekolahnya, Jounouchi Katsuya,/ kata pemilik suara itu—Jounouchi Katsuya.

"Ah, ada. Sebentar, biar kupanggilkan," kata Yurika lalu menyingkirkan gagang telepon itu dari telinganya.

"Yuu, ada yang mencarimu! Katanya dari Jounouchi Katsuya!" seru Yurika.

"Jou? Oke-oke," kata Yugi sambil menuju ke tempat Yurika dan mengambil gagang telepon itu dari tangan Yurika.

"Halo, Jou?" panggil Yugi sambil meletakkan gagang telepon itu di telinganya.

/Yugi! Kau harus membantuku! Harus! PR Biologinya sangat susaaaah!/ seru Jou dari ujung telepon.

"Aduh! Jou! Masalahnya aku juga tidak bisa! Kenapa kau tidak minta bantuan Kaiba-kun saja!?" tanya Yugi.

/APA!? MINTA BANTUAN MONEY BAG ITU!? TIDAK AKAN!/ seru Jou sambil berteriak kesal di ujung telepon.

"Begini deh! Karena aku juga tidak bisa, bagaimana kalau kita kerjakan bersama saja? Kau telepon Anzu, Honda-kun, Kaiba-kun dan Ryou!" perintah Yugi.

"Kenapa aku harus menelepon semuanyaaaa!? Dan kenapa harus ada Money Bag itu!?" protes Jou.

"Kau mau atau tidak? Kalau tidak ya tidak usah," kata Yugi.

/Cih! FINE! Akan kutelepon!/ seru Jou kesal.

"Bagus... Kalau begitu, langsung saja suruh semua ke rumahku! Sampai ketemu!" seru Yugi dengan nada riang.

/Ya, sampai ketemu nanti,/ kata Jou dengan nada pasrah lalu mematikan teleponnya.

Yugi lalu menutup teleponnya dan duduk dengan tenang di sofa sambil bersiul-siul.

"Dapat bala bantuan Yuu?" tanya Yurika.

"Begitulah~" kata Yugi dengan nada puas.

"Ngomong-ngomong, Yami-kun, apa kau dan Atem masuk ke Domino High juga?" tanya Yurika.

"Begitulah. Mahaado yang mendaftarkan kami di sana dengan bantuan jii-chan," kata Yami.

"Hm... Souka..." kata Yurika sambil mengangguk-ngangguk mengerti.

"Kau sendiri?" tanya Yami.

"Sama, aku masuk Domino High," kata Yurika.

"Ngomong-ngomong, kalian masuk kelas mana?" tanya Yugi.

"XII-A," sahut mereka bersamaan.

"He? Sama denganku. Lalu, Atem?" tanya Yugi.

"Sama dengan kita," kata Yami.

"Oh ya, Yuu, kau tahu jii-chan pergi ke mana?" tanya Yurika.

"Entahlah, dia tidak memberitahuku," kata Yugi.

Hening sejenak, lalu Yugi kembali angkat suara.

"Yurika, sebetulnya aku mau menanyakan soal ini sejak tadi... Apa kau pernah memakai Eye of Anubis Kubikazari sekali saja?" tanya Yugi dengan nada observatif.

"Tidak," jawab Yurika singkat sambil merebahkan dirinya di sofa sebelah Yami.

"Kenapa tidak dipakai?" tanya Yugi.

"Dilarang memakai perhiasan selain anting di Symphonia High, sekolahku di Inggris," kata Yurika.

"Souka... Lalu, kau tidak berniat memakainya?" tanya Yugi lagi.

"Mungkin nanti aku akan memakainya. Aku tidak mau jii-chan mengira aku tidak menghargai pemberiannya," kata Yurika.

"Kalian ini... Sudah berteman berapa tahun sih?" tanya Yami tiba-tiba.

"Eh? Tidak tahu juga deh," jawab Yugi.

"11 tahun," jawab Yurika.

"Lalu, kau benar-benar menyukai Seto?" tanya Yami sambil menatap Yurika.

"APA!? TIDAK! MANA MUNGKIN!" seru Yurika membantah perkataan Yami.

"He? Benarkah?" tanya Yami lagi.

"Ya ampun! Kau menyebar gosip apa ke dia Yuu!? Aku tahu kau ini raja gosip, tapi jangan sebar gosip aneh-aneh dong!" seru Yurika kesal.

"Enak saja! Aku kan cuma menceritakan gosip-gosip waktu kita SMP doang!" seru Yugi.

Ting Tong! Ting Tong!

Bel pintu lalu berbunyi dan lagi-lagi menginterupsi perdebatan antara dua orang itu. Sepertinya alat-alat elektronik di rumah itu juga terganggu dengan perdebatan Yurika dan Yuugi sampai-sampai mereka bisa terus menginterupsi semua perdebatan Yurika dan Yuugi di saat yang tepat.

Yugi hanya mendengus kesal mendengar suara bel pintu itu.

"Cepat sekali. Aku buka pintu dulu," kata Yugi sambil beranjak pergi membuka pintu depan.

Lagi-lagi hening sejenak. Kali ini Yami lagi yang angkat suara duluan saat mereka hanya berdua.

"Jadi, kau tidak pacaran dengan sepupuku itu kan?" tanya Yami.

"Sepupumu? Seto itu sepupumu?" tanya Yurika.

"Ah, begitulah," jawab Yami.

"Ah, dan soal pacaran, tidak. Dia cuma teman dekatku," kata Yurika.

"Yah, semoga kata-katamu benar," kata Yami sambil bersender di sofa dan menyatukan tangannya lalu meletakkannya di belakang kepalanya.

"Maksudmu apa? Memangnya kau tidak percaya padaku?" tanya Yurika kesal.

"Kita kan tidak tahu kebenaran pastinya sampai kita melihat dan mendengar sendiri," kata Yami sambil tersenyum iseng.

"Aku tidak tahu kau lebih menyebalkan daripada yang kubayangkan," kata Yurika sebal.

"Hahaha. Benarkah? Seumur-umur tidak ada orang yang pernah bilang begitu sebelumnya," kata Yami.

"Berarti mereka tidak menyadarinya," kata Yurika.

"DIAM KAU RICH BOY! AKU TIDAK SEBODOH YANG KAU BAYANGKAN!" seru sebuah suara dari luar.

"Ah... Sepertinya teman-teman Yuu sudah datang," kata Yurika yang mengenal suara yang barusan terdengar sampai ke telinganya itu.

Lalu terlihat serombongan orang masuk ke dalam ruang tamu dengan Yugi memandu di depannya.

"Sekali bodoh tetap bodoh, bonkotsu," kata seorang lelaki berambut brunet beriris biru lazuli pada lelaki berambut pirang beriiris coklat hazel yang berjalan di sebelahnya.

"Aku-tidak-bodoh! Camkan itu!" seru sang lelaki berambut pirang dengan nada kesal.

"Seto? An-chan?" tanya Yurika sambil menunjuk sang lelaki berambut brunet tadi—Kaiba Seto, dan seorang wanita berambut brunette beriris biru sapphire—Mazaki Anzu.

"Yurika? Atemu?" sahut Seto dan Anzu bersamaan.

"He? Yami-kun? Kenapa mereka memanggilmu Atemu?" tanya Yurika.

"Ah! Gomen, maksudku, Yami," kata Seto meralat kata-katanya tadi.

'Kenapa aku bisa salah membedakan sepupuku sendiri dengan roh bodoh itu? Dan kenapa Yami ada di sini!?' tanya Seto dalam hatinya.

"Sudah sebulan ya, minna," kata Yami sambil tersenyum tipis.

"Kau benar-benar Atemu!?" tanya Jou tidak percaya.

"Ma-matte! Apa maksud semua ini Yami?" tanya Seto bingung.

"SETO!" seru Atem yang baru saja turun dari lantai 2 sambil berlari menghampiri Seto.

"Oi-oi! Apa maksudnya ini!? Kenapa di sini ada dua Atemu!? Dan yang satunya cewek!?" tanya Honda bingung.

"Atem, Yami, sejak kapan kalian ada di Jepang?" tanya Seto.

"Kemarin, sepupuku," kata Yami.

"Dan kenapa kalian tidak memberitahuku? Kau juga Yurika, bukannya kau harusnya di Inggris?" tanya Seto lagi.

"Ah, urusanku di sana sudah selesai~" kata Yurika dengan santainya.

'Lagipula ada yang harus kucari di sini,' pikir Yurika.

"Kalau kami, kami hanya ingin membuatmu kaget. Apa salah?" tanya Atem.

"Jangan bilang ini semua ulah Mahaado... Jangan bilang Mahaado yang menitipkan kalian di sini," kata Seto.

"Kalau iya? Mahaado menitipkan kita ke sini atas permintaan terakhir chichi," kata Yami.

"OI-OI! APA MAKSUD SEMUA INI!?" tanya Jou bingung.

"MAAF AKU TELATTTT~~!" seru Ryou sambil berlari ke dalam bersama Bakura.

"BAKURA!?" teriak Jou, Anzu dan Honda bersamaan dengan nada kaget.

"Yo! Pharaoh!" Panggil Bakura.

"Ck! Jangan panggil aku seperti itu pencuri payah! Namaku Yami sekarang!" seru Yami sambil berdecak kesal.

"He? Kenapa kalian bisa masuk? Bukannya pintunya sudah kukunci tadi?" tanya Yugi sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Aku yang membukakan pintu untuk mereka," kata Sugoroku yang menyusul masuk ke ruang tamu sambil membawa kunci pintu rumah.

"Sepertinya mereka perlu penjelasan. Kenapa tidak kau suruh mereka ke kamarmu dulu dan menceritakan semuanya di sana?" tanya Sugoroku sambil tersenyum ramah.

"Kau benar jii-chan! Minna, ayo kita ke kamarku dulu!" kata Yugi.

~Yugi's Room~

"Hah, sebelum penjelasan dimulai, perkenalkan, ini Kisaragi Yurika, teman masa kecilku, Sennen Yami dan Atemu, sepupu Seto yang menumpang tinggal di tempatku. Lalu, Yurika dan Atem, ini Jounouchi Katsuya, Honda Hiroto, Bakura Ryou dan... Bakura, nama panjangmu apa?" tanya Yugi pada Bakura.

"Touzokuou Bakura. Salam kenal, pelayan bodoh," kata Bakura dengan nada menyindir kepada Yurika.

"Apa maksudmu dengan 'pelayan bodoh'?" tanya Yurika dengan nada sinis.

"Oh, bukan apa-apa. Kau akan tahu sendiri nanti," kata Bakura dengan santainya seakan dia tidak melakukan kesalahan apapun.

'Bahkan Bakura yang tidak mendapat pengelihatan masa lalu sepertiku juga merasa kalau Yurika itu Hikari?' tanya Yami dalam hatinya.

"Oh ya, dan Yuu, aku juga perlu penjelasan! Sebetulnya apa yang kalian bertiga sembunyikan dariku sejak tadi aku datang tadi!?" tanya Yurika kesal.

"A-ah! Justru itu! Aku akan menjelaskannya padamu juga! Tapi aku tidak yakin kau akan percaya dengan ceritaku!" seru Yugi gugup.

"Ya sudah! Cepat cerita! Dan apa maksudmu dengan lelaki bernama Yami dan perempuan bernama Atemu yang mirip dengan Pharaoh Atemu ini adalah sepupu si Money Bag sialan ini!?" seru Jou.

"Makanya itu! Aku juga lagi mau cerita nih!" seru Yugi dengan nada kesal karena dari tadi dirinya terus yang dipojokkan di sana.

~1 hour later~

"Huft! Jadi, begitulah... Ada yang mau bertanya?" tanya Yugi setelah mengakhiri ceritanya.

"Yuu, kau benar-benar... Mana mungkin! Mana mungkin Yami-kun itu sebelum ini adalah Pharaoh yang memerintah di Mesir 3000 tahun yang lalu! Lalu Bakura ini mantan raja pencuri dan Seto adalah mantan priest yang mengendalikan Sennen Rod dan juga mantan Pharaoh yang memerintah setelah masa Yami-kun memerintah! Kau bohong kan!?" tanya Yurika tidak percaya.

"Aibou benar Yurika, dan aku bersama Bakura dan Marik yang tadi baru saja datang itu baru saja direinkarnasi kembali oleh para dewa dan diberi role kehidupan di sini," jelas Yami.

"Aku juga awalnya tidak percaya saat mereka menceritakan hal ini padaku kemarin," kata Atem.

"Tapi! Tapi! Memang ada yang namanya reinkarnasi!?" tanya Yurika.

"Akhirnya ada yang sependapat denganku," kata Seto sambil tersenyum tipis.

"Tuh kan! Kalian pasti ada apa-apanya! Apa-apa pasti selalu sependapat!" seru Anzu sambil menunjuk-nunjuk Seto dan Yurika.

Twitch!

Muncul 4 siku-siku di kepala Yurika.

"An-chan... Tolong jangan mengikuti jejak Yuu," kata Yurika dengan senyum kesal.

"Yurika benar, kamu tidak ada hubungan apapun," kata Seto dengan nada dingin.

"Uso~" kata Yugi dengan nada iseng.

"Aku tidak bohong! Sudahlah! Kembali ke topik! Jadi, kau ini kenapa membohongiku dengan cerita tidak jelas seperti itu, hah!?" tanya Yurika kesal, masih tidak percaya dengan semua yang diceritakan teman masa kecilntya itu.

"Itu serius! Aku tidak bohong!" seru Yugi membela diri.

"Lalu, kenapa kalian bisa kembali lagi?" tanya Anzu pada Yami dan Bakura.

"Kata para dewa karena mereka tidak mau kami masuk alam barzah dengan penuh penyesalan. Tapi di sisi lain mungkin karena mereka ingin Pharaoh mencari reinkarnasi dari gadis yang menjadi loyal servantnya si Pharaoh geblek ini agar ingatannya dapat kembali sepenuhnya," kata Bakura.

"Sebetulnya tidak masalah kalau aku tidak mencari ingatan itu, karena aku kan sudah hidup di sini sebagai Sennen Yami, jadi tidak masalah kalau aku tidak punya ingatan sebagai Pharaoh Atemu," jelas Yami.

"Ya sudah. Kalau begitu semua masalah selesai kan? Berarti Yami bisa hidup bersama kita," kata Honda dengan santainya.

"Tidak, aku masih mau mencari ingatan masa laluku," jawab Yami dengan nada serius.

"He? Kau ini bodoh ya? Buat apalagi kau mencari ingatan itu? Baiklah, aku memang tidak percaya pada cerita yang barusan diceritakan Yuu, tapi kalau memang benar kejadiannya seperti itu, kalau aku jadi kau pasti aku tidak akan mencari ingatan tentang kehidupanku yang sebelumnya. Itu kan sudah tidak penting lagi," kata Yurika.

"Kau tidak tahu Hime, ada sesuatu yang penting yang kulupakan dan aku harus tahu apa itu karena aku merasa sesuatu yang kulupakan itu penting," kata Yami sambil tersenyum misterius.

Deg!

Mata Yurika terbelalak lebar

Nostalgia... Entah kenapa Yurika merasa dia pernah melihat senyuman itu di suatu tempat.

'Kau tidak akan pernah mengerti, Hime-sama. Perasaanku tidak semudah itu.'

'Atemu...' pikir Yurika.

"Jadi, kau tetap akan mencari ingatan bodohmu itu, Yami?" tanya Seto dengan nada sinis.

"Ya, dan menurutku ingatan itu tidak bodoh, sepupu," jawab Yami.

"Kau memang aneh. Ya sudahlah, itu hakmu. Dan soal semua ini, aku masih butuh waktu untuk percaya," kata Yurika dengan nada dingin.

"Jadi, selamat datang kembali Yami dan Bakura! Dan selamat datang Atem dan Yurika!" seru Jou, Anzu dan Honda bersamaan.

"Hei, lalu, bukannya kalian mau mengerjakan PR?" tanya Yurika.

Hening sejenak...

"OH YA! PR!" seru Yugi, Jou dan Honda bersamaan.

"Ah, PRku baru jadi setengah...," kata Ryou.

'Aku terlalu banyak menghabiskan waktuku dengan Bakura kemarin...,' pikir Ryou.

"PRku sudah selesai, aku diseret ke sini oleh bonkotsu ini," kata Seto sambil menunjuk Jou.

"Enak saja! Bukannya begitu kutelepon kau langsung datang dengan limousine dan menjemputku!?" seru Jou membela diri.

"Tapi sebelum itu kau memaksaku di telepon," kata Seto masih dengan nada datar.

"Itu karena Yugi menyuruhku meneleponmu! Dan aku kan tidak memintamu menjemputku!" seru Jou membantah.

"Hei! Kalian! Sudah! Kalian tidak capek ya setiap ketemu berantem terus!?" tanya Anzu kesal.

"Sudah kuduga, Kaiba-kun pasti sudah menyelesaikan PRnya~ Kalau begitu, kau juga sudah selesai kan Anzu~?" tanya Yugi sambil tersenyum penuh harap.

"Tentu saja! memangnya kenapa?" tanya Anzu.

"HORE~! KALIAN YANG RAJIN-RAJIN DAN PINTER-PINTER INI MESTI NGAJARIN KAMI YANG KEREN-KEREN DAN BANYAK KERJAAN INI!" seru Yugi.

"Buat apa? Lebih baik aku bersenang-senang di kamarku sendiri," kata Yurika.

"Ayolah~ Onegai Yurika-sama~" kata Yugi sambil menarik lengan Yurika dan menatapnya dengan puppy eyes.

"Haaah, baiklah…" kata Yurika pasrah.

"OKE! AYO KITA MULAAAIII!" seru Yugi semangat.

Yurika lalu melirik Jou sekilas.

'Cuma perasaanku saja atau dia ini sebenarnya...'

"Yurika! Cepat! Tunggu apa lagi!? Ajari aku!" seru Yugi.

Yurika lalu memutar bola matanya.

"Iya, aku tahu," kata Yurika sambil mendengus kesal.

Ingatan Yurika dan Yami sudah mulai terkuak. Lalu, sebenarnya apa yang Yurika curigai dari seorang Jounouchi Katsuya? Apa ada yang aneh darinya? Yah, ternyata selama ini benar-benar tidak ada yang sadar, kalau sebenarnya... Jou menyimpan suatu rahasia...

.

.

Tsuzuku

.

.

Yurika : *Deathglare* APA MAKSUD LU MEMBUAT GUE KAYA ANAK TERTINDAS BEGITU DI MIMPI HAH!?

Gia : Kan gue cuma ngikutin jalan cerita doang!

Yugi : Wow! Yami mulai iseng!

Atem : Eh, Jou punya rahasia?

Jou : Emang ada apaan sama gue? Dan gue di sini cowok?

Gia : Ahaha, gitu deh~ Pokoknya nanti gue bakal ngebuka rahasia Jou di chap depan atau kaga 2 chap depan *Senyum licik*

Seto : *Suram* Gue juga cowok?

Gia : Loh? Tumben lu kaga seneng jadi cowok

Anzu : Haiah! Bagemana seh lo Gia? Dia sedih gara-gara gebetannya cowo juga!

Gia : Oh! Tenang aja Seto! Gue udah ada rencana buat lu berdua *Senyum misterius*

Seto : Jangan bilang shounen-ai... *Senyum miris*

Gia : Oh! Bukan-bukan! tenang aja nak!

Yurika : Terserahlah, ayo balas review

.

Runa-chan Ryuuokami :

Gia : Em, soal kata 'tapi', shikashi itu semacam model formalnya. Yang demo itu sih ane denger sendiri dari pilemnya~ Setahu ane sih begitu~

Yurika : Dan soal e-mail, author ini keterusan nulisnya SMS

Gia : Maklum Run, kebiasaan~ Mwahaha

Marik : APA!? DOA LU GAK AKAN GUE RESTUIN!

Gia : SETUJU RUN! SEMOGA PARA YAMI TERSIKSA OLEH KITA BERTIGA!

Bakura : DIEM LU BAKA! GAK GUE IJININ LU!

Atem : A-ah! Thanks for favorite and review again!

.

LalaNur Aprilia :

Gia : Oh iya! *Nepok kepala* Udah kuduga banyak yang lolos *Mundung*

Yurika : Gia, kayanya nama yang lu buat ini kampungan banget sampe ada yang punya. Lagi kurang ide buat nyari nama ya waktu itu?

Gia : Sialan lo... *Senyum kesel*

Seto : Yah, soal hubunganku dan Yurika, sudah dijelakan di atas

Yugi : Thanks for review again!

.

Tanigawa Rizumi no Sari-chan :

Gia : Wuoh! Akhirnya saya panjangin di chap ini loh! *Nari-nari kesenengan*

Yami : Ada aja orang yang bilang gue mesum, LAGI!? Gara-gara lu nih Gia!

Gia : Tapi itu kenyataan. Soal kemesuman nih anak, belom keliatan di sini. Baru isengnya aja muncul~ Ahahaha~ Diusahakan akan cepet dibikin keliatan mesumnya~

Yurika : Dan soal update, berhubung si author udah mulai sekolah dan Try Out jadi mungkin update agak lama. Tapi diusahakn gak akan lewat dari sebulan updatenya

Jou : Thanks for review again!

.

Marik : So? Belajar lu sono! Lu ada Try Out kan senin!?

Gia : KAGAK MAOOOO! NANTI AJA SENIN BARU BELAJAAAAR! GUE YANG TRY OUT KOK LU YANG PROTES!?

Yurika : Diem! Ikut gue lu! *Narik Gia pergi*

Ryou : Terima kasih telah membaca chapter ini, apalagi yang mereview!

Bakura : Maaf atas semua kecacatan dan semua typo dari baka author ini

Seto : Doakan saja nih author dapet banya ide biar cepet update

Atem : Sampai jumpa di chapter depan~