Gia : YAP! HALO SEMUA! MAAF UPDATENYA TELAT BUANGEEET! MAKLUM ADA TO BEJIBUN! *Capslock to the jebol*
Yurika : BELAJAR LU! BISA-BISANYA GUNAIN WAKTU BIKIN TUGAS BUAT BIKIN FIC!
Gia : UDAAAH! NANTI AJAAAA!
Yami : AKHIRNYAAAAA!
Jou : WOI! Apaan nih judul chapternya!?
Seto : *smrik* Ternyata gue emang kagak gay...
Yugi : Happy reading!
.
.
The Next Journey
.
By : Gia-XY
.
Previously :
"HORE~! KALIAN YANG RAJIN-RAJIN DAN PINTER-PINTER INI MESTI NGAJARIN KAMI YANG KEREN-KEREN DAN BANYAK KERJAAN INI!" seru Yugi.
"Buat apa? Lebih baik aku bersenang-senang di kamarku sendiri," kata Yurika.
"Ayolah~ Onegai Yurika-sama~" kata Yugi sambil menarik lengan Yurika dan menatapnya dengan puppy eyes.
"Haaah, baiklah…" kata Yurika pasrah.
"OKE! AYO KITA MULAAAIII!" seru Yugi semangat.
Yurika lalu melirik Jou sekilas.
'Cuma perasaanku saja atau dia ini sebenarnya...'
"Yurika! Cepat! Tunggu apa lagi!? Ajari aku!" seru Yugi.
Yurika lalu memutar bola matanya.
"Iya, aku tahu," kata Yurika sambil mendengus kesal.
Ingatan Yurika dan Yami sudah mulai terkuak. Lalu, sebenarnya apa yang Yurika curigai dari seorang Jounouchi Katsuya? Apa ada yang aneh darinya? Yah, ternyata selama ini benar-benar tidak ada yang sadar, kalau sebenarnya... Jou menyimpan suatu rahasia...
.
Summary :
Jou ternyata memang punya rahasia!? / "Sepertinya aku memang harus jujur... Minna... Ore wa..." /"Marik, kau bisa kan mengembalikanku seperti semula?"/"Hikari itu sebenarnya..."/
.
Disclaimer :
Yu-Gi-Oh! © Takahashi Kazuki
Story, Gia's OC : Kisaragi Yurika, Yukarina Hikari, Kawasaki Mizumi © Gia-XY
.
Warning :
OC, OOC, OC as main lead, genderbend, typo(s), misstypo(s), semi-canon, sedikit bahasa Jepang, krisis kosakata, DLDR, dll.
.
Journey 4
Jou's Secret
.
.
~Living Room~
~05.00 Ρ.M.~
Akhirnya PR Biologi Yugi dan teman-temannya selesai dikerjakan—tentunya dengan bantuan para guru privat gratisan. Saat ini, di ruang tamu terlihat Yurika, Atem, Jou, Seto, Ryou, Bakura dan Anzu duduk sambil membicarakan sesuatu.
"Sebenarnya mereka ngapain sih di atas, Jou?" tanya Ryou penasaran pada Jou.
"Haaah, mereka pasti akan mengajari hal-hal tidak benar pada Yami," kata Jou sambil menghela nafas panjang.
"Hal-hal tidak benar? Maksudnya 'keMESUMan'?" tanya Anzu.
"He? Tumben kau tidak ikutan, bonkotsu. Bukannya kau itu senang dengan hal-hal yang begitu?" tanya Seto dengan nada mengejek.
"Sialan! Aku tidak separah Honda tahu, money bag!" seru Jou.
"Oi, minna! Sudah jam segini loh! Kalian tidak pulang?" tanya Yugi yang baru saja menuruni tangga.
"Kami menunggu Honda," jawab Anzu.
"Kami? Bonkontu ini akan ikut pulang denganku, jadi kalian bisa pulang berdua dan pacaran sepuasnya," kata Seto.
"Apa!? Enak saja pacaran! Si Honda itu udah sama Shizuka tahu!" seru Anzu protes.
"Dan siapa yang setuju untuk pulang bersamamu!?" tanya Jou kesal.
"Kau berani melawan majikanmu?" tanya Seto.
"AKU BUKAN PELIHARAANMU BAKA!" proteas Jou dengan suara menggelegar.
"Sudahlah, lebih baik kau ikut Kaiba-kun saja Jou. Kan lumayan naik Limo~" kata Yugi dengan santainya.
"Ngomong-ngomong, mana Yami-kun dan Honda?" tanya Yurika.
"Oh, mereka masih di atas," jawab Yugi.
"Kami sudah di sini," kata Honda yang baru saja menuruni tangga bersama Yami.
Yami langsung saja mengambil tempat duduk di sebelah Yurika. Sepertinya tempat itu sudah jadi tempat keramat baginya. Sedangkan Honda sendiri langsung mengambil tempat duduk di antara Anzu dan Yugi.
"Ngomong-ngomong, besok ada pameran di museum. Kalian mau datang bersama kami tidak?" tanya Yugi dengan cengiran khasnya.
"Pameran!? Jangan bilang ada mummynya lagi!" seru Jou ketakutan.
"Mana kami tahu. Tanya saja Ishizu, Malik, Marik atau Rishid," jawab Yami.
"Pokoknya kau harus ikut Jou! Wajib!" suruh Yugi.
"Haih! Terserahlah! Asal tidak ada mummy!" seru Jou.
"Jou... Maaf, mungkin sedikit menyinggung. Sebetulnya dari tadi aku mau bertanya, kau ini... Perempuan atau laki-laki?" tanya Atem tiba-tiba.
Yurika langsung terkesiap mendengar perkataan Atem.
'Dia juga sadar!?' pikir Yurika kaget.
Ternyata sama halnya dengan Yurika, Atem juga sedari tadi menyadari kalau sepertinya tingkah Jou bukan seperti lelaki pada umumnya, tapi seperti seorang wanita yang tomboy di mata mereka berdua. Lagipula penampilan Jou itu manis, manisnya melebihi penampilan seorang lelaki. Bahkan melebihi kemanisan artis-artis lelaki di Korea. (A/N : Jangan bawa-bawa Korea napa!?)
"Ya ampun Atem! Dia ini cowok!" seru Yami.
"..."
Jou yang ditanya saat ini hanya diam saja. Wajahnya terlihat sangat gugup entah kenapa.
"Ano, Jou, kenapa diam saja?" tanya Yurika.
"Sepertinya aku memang harus jujur... Minna... Ore wa..."
Jou menelan ludah. Cukup berat baginya untuk membongkar sesuatu yang disembunyikannya selama ini.
"Kau ini apa?" tanya Anzu.
"A-aku... Aku ini... Perempuan...," jawab Jou takut-takut.
"APA!?" teriak semua orang di sana bersamaan kecuali Yurika dan Atem.
"Sudah kuduga...," kata Yurika.
"Pantas saja kau tidak ikutan dengan Yami, Yugi dan Honda tadi," kata Atem.
'Di-dia!? Bonkotsu ini!? Wanita!? Tidak mungkin!" pikir Seto shock.
"Ta-tapi... Tubuhku saat ini cowok...," sambung Jou.
"Bagaimana mungkin?" tanya Yami sambil mengernyitkan alisnya.
"Se-sepertinya ini efek dari Sennen Rod. Mungkin aku terkena efeknya saat Malik mengontrol pikiranku dulu," jelas Jou.
Yurika langsung memegang kepalanya mendengar kata-kata Sennen Rod.
"Lagi-lagi tentang Sennen Item itu lagi..." kata Yurika.
"Tunggu! Efek Sennen Rod!? Apa maksudmu!?" tanya Seto tiba-tiba.
Sepertinya dia sedikit tertarik dengan benda yang pernah dipakainya di masa lalu itu.
"Selain punya fungsi untuk mengendalikan pikiran orang lain dan memasukkan ka seseorang ke dalam batu tulis, Sennen Rod juga mempunyai suatu sihir untuk merubah fisik, bahkan gender seseorang. Mungkin dulu Malik memakaikannya padaku. Dan aku ingat, sepertinya Marik juga pernah memakainya karena muak memakai tubuh perempuan," jelas Jou panjang lebar.
"Aku baru tahu...," kata Atem.
"Lalu, bagaimana cara mengembalikan gendermu?" tanya Yurika.
"Mungkin aku harus minta bantuan Marik. Aku dulu memang sudah berniat untuk meminta padanya untuk mengembalikan genderku, tapi Marik sudah dikalahkan oleh Yugi dan menghilang entah ke mana. Aku sendiri tidak tahu kalau saat itu Marik sendiri masih ada di tubuh Malik, walaupun dia tidak bisa keluar dan mengambil alih tubuh Malik," jelas Jou.
"Lalu, sebelum kau dikendalikan oleh Malik, kita memang sudah mengenalmu sebagai lelaki kan?" tanya Yugi.
"Ah, itu, aku menyamar. Ayahku dulu sama sekali tidak mau aku tinggal bersamanya. Tapi aku terus memaksa karena takut tidak ada yang mengurusnya. Akhirnya dia menerimaku dengan syarat aku tidak boleh merengek deperti anak perempuan lainnya dan menyamar jadi lelaki. Yah, memang kurang masuk akal sih...," kata Jou.
"Ngomong-ngomong soal ayahmu, dia sudah berhenti mabuk-mabukan kan?" tanya Honda.
"Begitulah... Kaa-san juga sekarang sudah memaafkan tou-san dan tinggal bersama lagi dengan kami berdua, tentu dengan mambawa Shizuka," jelas Jou.
"Lalu, apa ibumu tidak kaget saat melihatmu berpenampilan lelaki?" tanya Anzu.
"Awalnya iya, tapi aku bilang saja aku memang tomboy dan suka berpenampilan seperti itu," jawab Jou.
"Kalau begitu kau memang harus ikut ke museum bersama kami. Kujamin Marik ada di sana besok," kata Yugi.
"Aku juga mau ke museum! Kalau ada mummy pasti seru!" seru Ryou—yang dari dasarnya suka dengan hal-hal berbau occult, dengan bersemangat.
"JANGAN! JANGAN SAMPAI ADA MUMMY!" seru Jou.
"Sudahlah... Kalian ini... Ada mummy atau tidak kan tidak masalah. Lebih baik kalian pulang karena sekarang sudah hampir jam 6 lewat," saran Yami.
"Bonkotsu, kau pulang bersamaku," perintah Seto sambil berdiri menarik gadis itu.
"Hei! Apa-apaan itu! Ah, minna! Aku duluan!" seru Jou yang pasrah karena tangannya ditarik Seto.
"He, sepertinya Seto jatuh cinta~" kata Yurika sambil terkekeh kecil.
"Benar sekali. Aku sangat setuju," kata Yami.
"Aku akan membukakan pintu depan," kata Yugi sambil menyusul mereka berdua.
"Ah, kami juga pulang deh! Jaa! Ayo Bakura, Anzu, Honda~" ajak Ryou pada ketiga temannya itu.
"Jaa!" Seru Anzu dan Honda bersamaan.
Mereka berempat lalu berjalan keluar mengikuti Seto, Jou dan Yugi.
"Kalau begitu, aku ke atas duluan," kata Yurika sambil beranjak menuju ke lantai 2.
"Yami, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Atem.
"Tentu, mau tanya apa?" tanya Yami.
"Kau itu... Ada 'something'nya ya sama Yurika?" tanya Atem curiga.
Yami langsung mengernyitkan alisnya mendengar perkataan Atem barusan.
"Memang kelihatannya seperti itu?" tanya Yami.
"Kalau kubilang ya?" tanya Atem lagi.
"Entah... Bisa iya, bisa juga tidak... Mungkin hanya kecanggungan karen berbeda gender dan baru kenal," jawab Atem.
"Tapi sikap dia dan kau itu tidak sepertinya dia dan Honda ataupun Jou," kata Atem.
"Jou kan beda. Dia memang merasa Jou itu cewek sejak awal. Kalau Honda... Yah, memang sepertinya kata-katamu benar... Kau tahu, aku berpikir kalau dia itu... Gadis penting yang ada di masa laluku...," jawab Yami.
"Apa kau... Benar-benar yakin...?" tanya Atem.
"Aku juga tidak tahu, Atem. Kuharap memang benar karena aku sepertinya... Sudah jatuh cinta pada gadis itu... Bukan Hikari...," jawab Yami lirih.
"Kurasa pameran besok bisa membantumu Yami. Seperti kata Malik," hibur Atem sambil tersenyum kecil.
"Ya, arigatou, Atem," kata Yami pada saudara kembarnya itu.
~Yugi and Yami's Room~
~08.00 P.M.~
Di kamarnya, terlihat Yami duduk di atas kasur sambil memainkan jari-jarinya di atas laptop dan matanya menatap laptop dengan serius, sedangkan Yugi sendiri sedang berbaring di samping komik sambil membaca komik. Yugi sih tidak bingung melihat kelakuan Yami, karena Yami mirip dengannya, sangat serius kalau sedang chatting.
Dark_Pharaoh
-konbawa
-kau belum tidur?
Kirei_Ririi
-belum
Dark_Pharaoh
-ada apa?
-tumben akhir-akhir ini kau tidur malam
Hikari_Ririi
-aku akhir-akhir ini sering mimpi buruk
-makanya aku jadi enggan untuk tidur
Dark_Pharaoh
-mimpi buruk?
-mimpi buruk seperti apa?
Kirei_Ririi
-bukan mimpi buruk juga sih
-hanya saja mimpi itu terus terulang setiap malam dan itu membuatku muak
Dark_Pharaoh
-terus terulang?
-biasanya mimpi yang terus terulang akan terjadi di kehidupan nyata (itu kata ayahku)
Kirei_Ririi
-masalahnya mimpi ini bukan mimpi tentangku atau hal-hal yang ada di sekitarku
-apa kau percaya reinkarnasi?
Dark_Pharaoh
-reinkarnasi?
-ya, aku percaya
-memangnya kenapa?
-ada hubungannya dengan mimpimu?
Kirei_Ririi
-begitulah...
-maaf aku malah curhat padamu
-padahal kita tidak saling kenal
Dark_Pharaoh
-tidak apa
-walau hanya teman chatting setidaknya kau sudah kuanggap teman
-teman harus saling membantu kan?
Kirei_Ririi
-arigatou
-kau baik sekali
Dark_Pharaoh
-tidak masalah
Kirei_Ririi
-ah, sudah jam segini
-aku harus tidur
-oyasumi Dark-kun~
Dark_Pharaoh
-oyasumi Ririi
"Chatting dengan siapa?" tanya Yugi.
"Teman chatting," jawab Yami sambil menutup laptopnya.
"Sayang program chattingmu beda denganku... Nanti aku bikin account di sana juga ah!" seru Yugi bersemangat.
"Kalau sudah buat, beritahu aku usernamemu," kata Yami.
"Tentu!" jawab Yugi.
~Yurika's Room~
~08.30 P.M.~
Yurika sedang duduk di kursi meja belajarnya sambil menatap laptop yang ada di atas meja belajarnya dengan wajah serius. Tampaknya dia sedang membaca sesuatu di sana.
Sennen Item
7 benda misterius ini berasal dari Mesir. Ada batu tulis yang mengatakan bahwa ketujuh benda misterius ini dibuat di zaman pemerintahan Pharaoh Aknamkanon. Konon, orang yang bisa mengumpulkan ketujuh benda ini dipercaya dapat menguasai dunia. Sennen Item terdiri dari 7 jenis, Sennen Puzzle, Sennen Ring, Sennen Rod, Sennen Tauk, Sennen Eye, Sennen Ankh, dan Sennen Scale. Ada mitos yang mengatakan kalau orang-orang yang terpilih oleh Sennen Item akan dikabulkan satu keinginannya.
Yurika mengernyitkan alisnya membaca artikel barusan.
"Kau bercanda? Satu keinginamu akan dikabulkan? Menguasai dunia? Yang benar saja! Mana mungkin!" kata Yurika sambil menggerak-gerakkan mouse yang dicolokkan ke laptopnya. Yurika mengclose artikel barusan dan mematikan laptopnya.
"Sudah malam, sudah saatnya aku tidaur. Bisa-bisa aku mimpi aneh lagi kalau membaca artikel seperti ini lagi," kata gadis itu sambil menutup layar laptopnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Yurika lalu memejamkan matanya, dan perlahan-lahan dirinya tertidur di atas kasurnya yang empuk itu.
-Yurika's Dream-
Di sebuah padang luas, terlihat Hikari sedang duduk menemani Atemu yang sedang berbaring di bawah pohon.
"Atemu-san, kenapa kau mengajakku ke sini?" tanya Hikari.
Atemu-san? Bukannya tidak ada orang yang boleh menyebut nama Pharaoh sembarangan? Ya, benar, tapi Atemu bilang jika tidak ada orang selain mereka, Hikari tidak boleh memanggilnya dengan sebutan Ouji-sama dan harus memanggilnya dengan namanya.
"Hikari...," panggil Atemu dengan nada pelan.
"Ada apa?" tanya Hikari.
Atem lalu mengubah posisinya. Dia duduk di sebelah Hikari dan menatap gadis itu dengan serius.
"Hikari... Hikari...," panggil Atemu terus-terusan sambil mememojokkan Hikari di pohon di belakangnya.
"Atemu-san, ada apa denganmu?" tanya Hikari sambil mengernyitkan alisnya.
Atemu tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepalanya sejenak.
"Atemu-san?" panggil Hikari.
Tiba-tiba saja, Hikari merasakan sesuatu mengunci bibirnya. Matanya langsung terbelalak.
Atemu menciumnya...
Atemu? Majikannya? Menciumnya? Tentu saja ini tidak mungkin! Apa yang terjadi dengan majikannya ini sebenarnya!?
Hikari berusaha berontak, tapi percuma saja, dia terlalu lemah—bahkan lebih lemah daripada gadis-gadis sesusianya.
Atemu akhirnya melepaskan ciumannya. Hikari hanya bisa bernafas terengah-engah saja.
"A-apa yang Atemu-san lakukan barusan!?" tanya Hikari masih shock.
"Sstt... Diam saja. Jangan melawan," kata Atemu.
"A-apa maksudnya Atemu-san?" tanya Hikari bingung.
"Kalau kau mesih menganggapku sebagai majikanmu, jangan melawanku, hime," kata Atemu sambil memeluk gadis di depannya itu, gadis yang selalu menghantuinya setiap malam, gadis yang selalu menjadi hime di hatinya.
Tidak, dia tidak bisa mengatakan perasaannya yang sesungguhnya. Itu dilarang baginya...
Kali ini Hikari sama sekali tidak memberontak. Dia membiarkan lelaki yang jelas lebih kuat darinya itu memeluk tubuhnya. Gadis itu hanya bersandar di dada bidang majikannya itu.
'Atemu-san, kenapa kau membuatku berharap?'
-Dream End-
~1st Jule~
~05.40 Α.M.~
Yurika terbangun dari tidurnya dengan wajah shock dan keringat bercucuran. Dia lalu duduk bertekuk lutut dan menenggelamkan kepalanya di antara tubuh dan lututnya.
'Kenapa aku bermimpi tentang hal itu lagi? Yang benar saja! Mana mungkin ada yang namanya reinkarnasi! Gadis bernama Hikari itu bukan aku!' pikir Yurika berusaha mengelak dari semua kenyataan yang ada.
Yurika lalu beranjak keluar dari kamarnya sambil membawa seragam sekolahnya untuk beranjak mandi.
~Dinning Room~
~06.15 Α.M.~
Yurika saat ini sedang duduk di kursi meja makan sambil memakan roti isi selai strawberry. Di sebelahnya terlihat Yami—yang sepertinya bangun pagi sama sepertinya, sedang memakan roti isi selai strawberry, sama seperti Yurika.
"Ano, Yami-kun, Yuu di mana sekarang?" tanya Yurika.
"Mandi. Lalu, apa kau tahu di mana jii-chan?" tanya Yami.
Yurika mengangguk pelan.
"Dia pergi ke museum, membantu Ishizu-san," jawab Yurika.
"Hm, souka... Hei, yang di lehermu itu kalung kemarin kan?" tanya Yami sambil menunjuk sebuah kalung yang tergantung di leher Yurika.
"Ah, iya," jawab Yurika.
'Agak berbeda dari yang kulihat di ingatanku...,' pikir Yami.
"Apa memang dari awalnya kalung itu bertali tipis seperti itu atau bagaimana?" tanya Yami.
"Erm, tidak. Yah, tadinya kalung ini semacam choker, tapi kuganti dengan tali, supaya tidak terlalu mencolok. Tali yang lama masih ada di kamarku," jawab Yurika santai sambil terus melahap rotinya.
"Hei, bagaimana kalau kita berangkat duluan saja? Kurasa aibou dan Atem masih lama," ajak Yami setelah melihat Yurika telah selesai memakan rotinya.
"Em, kau yakin?" tanya Yurika.
"Tentu saja," jawab Yami sambil berdiri dari kursinya.
"Baiklah... Terserah kau saja. Tapi kita harus memberitahu mereka dulu," kata Yurika sambil berdiri mengikuti Yami.
"Tidak perlu, aku sudah mengirim e-mail ke Atem," kata Yami sambil menunjukkan handphone yang ada di tangannya.
"Well, baiklah kalau begitu. Ayo berangkat," ajak Yurika sambil beranjak mengambil tasnya.
Yami tersenyum puas melihat gadis itu. Rencana untuk mengajak gadis itu berangkat berdua berhasil. Sepertinya dia harus berterima kasih pada Yugi dan Atem yang agak lama hari ini.
~On the way to Domino High School~
Yami sedari tadi terus berjalan sampai menatap gadis di sebelahnya. Entah Yurika sadar atau tidak kalau sepasang mata crimson itu terus menatapnya sejak tadi, tapi gadis itu kelihatan sangat gelisah sejak tadi.
'Jujur, mimpi kali ini aneh sekali! Gah! Kenapa aku harus memikirkan mimpi aneh itu sih!?" pikir Yurika stres.
'Ada apa dengannya? Sepertinya dari tadi pagi wajahnya gelisah...,' pikir Yami.
"Yurika, ada apa? Wajahmu kelihatan gelisah sejak tadi," kata Yami.
"Eh! Ah! Tidak kok! Mungkin hanya perasaanmu!" seru Yurika mengelak.
"Apa kau serius, hime?" tanya Yami khawatir.
DEG!
Tiba-tiba saja sebuah bayangan kembali menghantui kepala Yurika begitu ia mendengar Yami mengucapkan kata 'hime'.
"Aku serius Hikari, ore no hime...Aishiteru, hime..."
Gadis itu meremas kepalanya dengan kedua tangannya. Wajahnya terlihat sengat ketakutan.
'Hentikan!' teriak Yurika dalam hatinya.
"Hime? Kau tidak apa-apa?"
DEG!
Lagi-lagi, tiba-tiba sebuah ingatan lain muncul di kepalanya. Ingatan yang baru...
"Jangan melawanku, hime. Percuma, kau tidak akan menang..."
Lelaki berkulit tan diingatannya itu terlihat menyeringai licik dan wajahnya tampak sangat percaya diri.
'Kumohon! Hentikan! Hentikan! Aku sudah muak dengan semuanya! Cukup!'
Entahlah, suara itu seakan-akan benar-benar sedang berbicara padanya.
"Hi—maksudku, Yurika! Kau tidak apa!?" tanya Yami dengan nada panik.
Dirinya langsung menghentikan panggilan 'hime'nya kepada Yurika saat menyadari seperti panggilan itulah sumber keanehan Yurika.
Yurika perlahan-lahan mulai tenang dan mengendurkan pegangan di kepalanya.
"Hah... Hah... A-aku, sama sekali tidak apa-apa...," kata Yurika dengan nafas terengah-engah.
"Kau yakin? Kau tidak sakit kan?" tanya Yami.
"Aku sehat-sehat saja. Lebih baik kita cepat berangkat ke sekolah," kata Yurika sambil berusaha bersikap senormal-normalnya.
"Hm... Ayo," kata Yami sambil berdehem pelan dan menggandeng tangan gadis itu untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ke seolah.
'Eh? Ada apa dengannya?' pikir Yurika dalam hatinya.
"Ano, Yami-kun, tanganku..."
"Biarkan aku begini sebentar...," kata Yami pelan.
Yurika hanya diam dan menurut saja. Dalam hati, gadis itu bingung dengan sikap lelaki di sampingnya itu.
Tiba-tiba sebuah ingatan muncul lagi di kepalanya.
"Hikari, aishiteru. Ingat kata-kataku baik-baik, tidak pernah menyesal mencintaimu, Hikari Hime... Ingatlah kalau kau cuma milikku... Apapun yang akan terjadi, kau harus tetap setia padaku. Walau aku meninggal sekalipun, kau tidak boleh berhubungan dengan orang selain aku. Hanya aku majikanmu, satu-satunya, tidak ada orang lain yang boleh menjadi majikanmu selain aku."
'Ingatan itu lagi...,' pikir Yurika sambil tersenyum miris saat melihat bayangan lelaki dengan tatapan posesif di ingatannya itu—jelas itu adalah Atemu.
"Hei, Yami-kun, kau tidak apa-apa?" tanya Yurika yang sadar kalau sejak tadi Yami terus menggenggam tangannya dengan erat dalam diam.
"Tidak apa-apa. Ada apa hime, kau khawatir~?" tanya Yami dengan nada iseng.
Yurika langsung berdecih kesal mendengar perkataan Yami.
"Cih! Aku menyesal bertanya padamu!" seru Yurika dengan nada kesal.
"Hahaha! Gomen hime! Aku kan cuma bercanda," kata Yami sambil tertawa-tawa.
"Kau memang menyebalkan," kata Yurika dengan nada kesal.
'Setidaknya ekspresinya tidak seperti tadi. Entah kenapa ekspresinya saat menggenggam tanganku tadi... Terlihat sangat serius... Entah kenapa dadaku sesak melihat ekspresinya seperti itu. Seperti mengingatkanku pada sesuatu,' pikir Yurika.
~With Yugi & Atem~
"Cih! Bisa-bisanya mereka meninggalkan kita! Pasti mereka mau pacaran! Pacaran!" seru Yugi kesal.
Atem yang sedari tadi berjalan di sampingnya hanya terkekeh-kekeh kecil melihat sikap lelaki itu.
"Hihihi. Ada yang lagi mau PDKT, Yug," kata Atem masih dengan tertawa kecil.
"Siapa?" tanya Yugi yang masih belum mengerti dengan maksud Atem.
"Yami. Dia jatuh cinta sama Yurika tuh," jelas Atem.
"Huapa!? Dia naksir Yurika tapi tidak minta restuku!? Wah! Begini-begini Yurika sudah seperti imoutoku tahu!" seru Yugi sambil mengoceh sendiri layaknya dia adalah ayah Yurika yang overprotective pada anaknya.
"Ahaha! Tenang saja, dia tidak akan macam-macam kok sebelum dia benar-benar dekat dengan Yurika!" kata Atem menenangkan Yugi.
"Huft! Semoga saja begitu...," kata Yugi.
~Domino High~
~07.00 Α.M.~
"Ohayou! Nah, anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru. Ayo masuk!" kata Mizumi—wali kelas XII-A, sambil mempersilahkan 5 orang yang ada di luar masuk ke dalam kelas.
Terlihat Yurika, Yami, Atem, Bakura, Malik dan Marik masuk ke dalam kelas.
Ya, Bakura, Malik dan Marik juga mulai sekolah di Domino High mulai hari ini.
"Yap, silahkan perkenalkan diri kalian," kata Mizumi.
"Aku Sennen Yami, pindahan dari Mesir—tepatnya Kairo. Hajimemameshite," kata Yami dengan nada datar.
"Aku Sennen Atemu, panggil saja Atem. Aku kembaran Yami. Yoroshiku, minna!" kata Atem dengan nada ceria.
"Aku Kisaragi Yurika, pindahan dari London. Douzo yoroshiku," kata Yurika sambil tersenyum manis.
"Namaku Ishtar Malik! Yoroshiku~!" kata Malik.
"Namaku Ishtar Marik. Dan ingat, aku bukan keluarga dari Malik," kata Marik.
"Namaku Touzokuou Bakura. Hajimemameshite," kata Bakura.
"Ah, Kisaragi ini dulu sempat berseholah di Domino High saat SMP, jadi mungkin ada yang mengenalnya. Ada yang mau bertanya pada mereka?" tanya Mizumi.
Seorang murid lelaki mengangkat tangannya.
"Ano, Kisaragi-san, kenapa kembali ke Domino?" tanya lelaki itu.
"Hei! Buat apa tanya lagi? Jelas saja untuk menemui Seto!" seru seorang murid wanita.
Yurika langsung melancarkan death glare mematikan ke wanita tadi.
"Aku ke sini bukan karena Seto. Aku kembali karena urusanku di London sudah selesai," kata Yurika dengan nada dingin.
"A-aku mengerti...," kata wanita tadi dengan nada ketakutan.
'Princess of Death kembali...,' pikir wanita itu sambil bergidik ngeri.
Yap, saat SMP, Yurika dijuluki Princess of Death, karena gadis itu selalu melancarkan death glare mematikan jika kau mengatakan sesuatu yang menyinggungnya. Jujur, tatapan mematikan Yurika itu sangat mengerikan, hanya Yugi, Anzu, dan Seto saja yang sudah biasa menghadapi death glare dari gadis itu.
"Oke, cukup dengan pertanyaan. Kita harus melanjutkan pelajaran. Kalian berenam boleh du—"
BRAK!
Pintu kelas digeser dengan keras oleh seseorang. Terlihat Seto dan Jou masuk bersamaan ke kelas.
"MAAF KAMI TELAT!" seru Jou.
"Kenapa kalian terlambat?" tanya Mizumi.
"Macet di jalan," jawab Seto dengan santainya.
"Dan lagi, setahuku kalian beda rumah, kenapa bisa telat dan datang bersamaan?" tanya Mizumi lagi.
Jou langsung gelagapan mendengar pertanyaan Mizumi. Apa dia harus menjawab yang sebenarnya?
"Ano, itu—"
Kata-kata Jou terputus karena Seto memotong perkataannya.
"Dia menginap di rumahku kemarin," jawab Seto.
Padahal jelas sekali bohong. Jou tadi pagi dijemput oleh CEO Kaiba Corp itu, bukannya mebnginap di Kaiba Mansion semalam.
"Apa kalian sudah melapor?" tanya Mizumi.
"Sudah," jawab Jou dan Seto bersamaan.
"Oke, kalian berdelapan boleh duduk," kata Mizumi.
Jou baru menyadari ada 6 orang di depan kelas itu saat Mizumi mangatakan 'berdelapan'.
Seto dan Jou berjalan menuju ke tempat duduk mereka masing-masing. Yurika mengambil tempat di depan Jou. Yami mengambil di sebelah Yurika. Atem mengambil tempat di sebelah Yugi.
"Baiklah, karena kalian sekarang sudah kelas 3 SMA, dan kalian akan memiliki partner belajar. Aku tahu kalau aku membiarkan kalian memilih sendiri, kalian pasti akan seenaknya memilih dan mengucilkan anak-anak yang kurang diperhatikan di kelas. Jadi, aku mau kalian mengambil undian yang ada di dalan kotak ini. Nah, orang yang mendapat nomor yang sama akan menjadi partner dan mereka akan pindah tempat duduk sesuai dengan denah. Di denah yang sudah kubuat, sudah ada nomornya. Jadi, duduklah sesuai nomor. Nanti masing-masing setiap 2 meja akan digabung-gabungkan, sesuai dengan keputusan kepala sekolah. Silahkan kalian maju berbaris mengambil undiannya," kata Mizumi sambil mengambil sebuah kotak dan meletakkannya di atas meja guru.
Satu per satu murid mengambil kertas yang ada di dalam kotak itu.
Akhirnya, setelas semua selesai mengambil kertas mereka, Mizumi mulai kembali angkat bicara.
"Yap, jadi, sekarang silahkan duduk sesuai denah. Denahnya sudah kugambar di depan, dan jangan lupa untuk menggabungkan mejanya," kata Mizumi.
Lalu semua murid berdiri. Yap, jadi ternyata hasil yang didapatkan adalah, Yurika dengan Yami, Atem dengan Yugi, Jou dengan Seto, Ryou dengan Marik, dan Malik dengan Bakura. Aww! Sayang sekali untuk pasangan Bakura-Ryou dan Marik-Malik~! Kalian tidak beruntung karena terturkar~ (Bakura : AUTHOR SIALAN! GUE MAU SAMA YADOUNUSHI! *Nendang Gia*)
"Er, mohon bantuannya, Marik," kata Ryou gugup sambil duduk di sebelah Marik.
"Hei, tidak usah gugup begitu. Aku tidak akan memakanmu. Jadi, santai saja," kata Marik.
"Iya, terima kasih," kata Ryou sambil tersenyum manis.
Sedangkan di lain pihak, terlihat Bakura duduk di sebelah Malik dengan aura gelap di sekitarnya. Cemburu, ya, Bakura cemburu pada Marik yang duduk dua baris di depannya.
"Wow! Kura! Kau mengerikan sekali!" kata Malik dengan nada menyindir.
"Diam kau penjaga makam! Kau tidak mengerti kenapa aku begini!" seru Bakura kesal.
"Hei, apa itu yang kau katakan pada mantan partner yang membantumu saat Battle City?" tanya Malik sambil mendengus kesal.
"Itu sudah lewat, sudah tidak penting. Malah gara-gara kau, aku dibenci yadounushi saat itu karena ketahuan sedang merencanakan sesuatu," kata Bakura.
"Hei, jujur, aku salut padamu waktu itu, kau berani mengorbankan dirimu demi Ryou," kata Malik.
"Aku hanya tidak mau dia terluka. Dia bisa mengalami tekanan batin kalau menerima serangan Osiris waktu itu," kata Bakura.
"Kalau boleh tanya, kenapa kau kesal begitu?" tanya Malik.
"Tentu saja karena pasanganku bukan yadounushi!" seru Bakura yang lagi-lagi teringat tentang kekesalannya karena dia tidak berpasangan dengan mantan Hikarinya itu.
"Hei, aku juga tidak berpasangan dengan Marik, tapi setidaknya auraku tidak semenyeramkan kau. Kau lihat saja, hampir semua orang di sekitar kita ketakutan melihatmu," kata Malik.
"Che! Apa peduliku!" seru Bakura.
Malik hanya bisa menghela nafas saja mendengar perkataan Bakura. Dia memang keras kepala. Mungkin hanya Ryou yang bisa menenangkannya.
Di 2 baris di belakang Bakura dan Malik, terlihat Yurika yang mendengus kesal melihat orang di sebelahnya.
"Kenapa pasanganku harus kau?" tanya Yurika kesal.
"Karena kau sudah ditakdirkan untuk menjadi pasanganku," kata Yami dengan santainya.
Yurika hanya bisa menahan kekesalan saja. Kenapa? Pasalnya, si Yami ini kan orang yang berpotensi untuk membuat pengelihatan-pengelihatan masa lalu gadis ini muncul, berarti kalo Yami jadi partnernya, persentase ingatan-ingatan itu untuk muncul jadi lebih besar.
Sementara, di sebelah tempat duduk Yurika dan Yami, terlihat 2 orang pasangan sejoli kita sedang bertengkar hebat. Yap! Siapa lagi kalau bukan Kaiba Seto dan Jounouchi Katsuya?
"Berhentilah mengejekku money bag! Kau belum melihat kemampuanku yang sebenarnya!" seru Jou.
"Hmph! Kemampuan yang sebenarnya? Aku tahu kemampuanmu itu selevel dengan level anjing kampungan," balas Seto dengan nada menghina.
"Apa!? Dasar kau CEO pintar yang sombong dan tidak tahu diri!" seru Jou.
"Ha! Ternyata kau sadar juga kalau aku pintar, berandalan gender tidak jelas yang bodoh dan selevel dengan ikan teri," balas Seto.
"CEO sok sibuk!"
"Bonkotsu otak udang."
"Sister complex jaim!"
"Banci payah."
"Money bag sok kaya!"
"Apanya yang sok? Aku memang kaya baka!"
"Jangan mengkomen ledekanku, money bag!"
"Mengakulah kalau kau sudah kalah."
"Aku belum menyerah!"
"Ehem! Kaiba, Jounouchi!" panggil Mizumi.
"A-ah! Maaf sensei!" seru Jou yang sadar kalau Mizumi sudah mulai terganggu dengan pertengkarannya dan Seto.
"Kalian, kenapa kalian terus bertengkar kalau dibiarkan bersama sih?" tanya Mizumi kesal.
"Salahkan anjing ini. Kenapa dia terlalu bodoh?" kata Seto dengan nada cuek.
"Apa!? Aku tidak sebodoh yang kau bayangkan tahu!" seru Jou.
"Kalau kalian masih mau melanjutkan pertengkaran kalian, pergilah ke lapangan dan berteriaklah di sana!" seru Mizumi kesal dengan aura mengerikan di sekitarnya.
"A-ah, gomen sensei...,"kata Jou lagi.
"Siapa juga yang mau bertengkar? Aku hanya menanggapi kata-kata bonkotsu ini," kata Seto.
Jou sebenarnya ingin sekali membalas—tapi berhubung dia takut Mizumi marah, ya tidak jadi.
'Liat saja nanti kau, rich bastard!' pikir Jou dalam hatinya.
Sementara di sisi lain, terlihat Atem dan Yugi yang duduk di belakang dua orang tadi.
"Baguslah kita jadi partner, kerja sama kita yang kemarin juga jadi lebih mudah," kata Yugi.
"Kau benar. Pokoknya kita harus membantu Yami," balas Atem.
"Aku mengerti," jawab Yugi.
~After School~
~Domino Museum~
Saat ini, Yugi dan rombongannya terlihat sedang berjalan memasuki museum Domino.
"Hahaha! Aku ingat dulu Yuu paling tidak suka ke museum saat aku dan An-chan mengajaknya," kata Yurika sambil terkekeh kecil.
"Jangan dibahas dong," kata Yugi dengan wajah cemberut.
"Ah, kalian... Selamat datang," sambut Ishizu saat melihat rombongan itu.
"Yugi!" panggil Sugoroku sambil berjalan mendekati Yugi.
"Jii-chan!"
Lalu terlihatlah scene slow motion adegan Yugi dan Sugoroku yang saling menghampiri dan terlihat akan saling memeluk. Tapi ternyata...
BLETAK!
Yugi malah memukul kepala Sugoroku...
"JII-CHAN BAKA! KALAU MAU PERGI PAGI INI BILANG DARI KEMARIN KEK!" seru Yugi kesal.
"Aduh! Itai... Kau kejam sekali sih!" seru Sugoroku sambil memegangi kepalanya.
"Jadi, Yugi, ayo kita keliling museum," ajak Honda.
Mereka semua lalu menjelahi seisi museum itu. Tapi di sisi lain, Jou...
"Marik, kau bisa kan mengembalikanku seperti semula?" tanya Jou dengan nada penuh harap pada lelaki berkulit tan di depannya itu.
"Tentu," ucap Marik penuh keyakinan sambil mengarahkan Sennen Rod ke arah Jou.
Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari Eyes of Anubis yang ada di Sennen Rod.
"Nanti jam 12 malam, tubuhmu akan kembali seperti semula," kata Marik.
"Hontou? Awas saja kalau kau bohong," kata Jou sambil berjalan kembali ke tempat Yugi.
"Aku tidak mungkin bohong, mademoiselle," ucap Marik sambil tersenyum kecil menatap kepergian Jou.
Sedangkan di sisi lain, Ishizu sedang menghampiri Yami.
"Pharaoh, bisa ikut aku sebentar? Ada sesuatu yang harus kutunjukkan," kata Ishizu.
"Sesuatu? Baiklah," kata Yami sambil berjalan mengikuti Ishizu.
Yang lainnya tidak sadar bahwa Yami sudah meninggalkan mereka di sana.
"Pharaoh, kau ingat jalan ini?" tanya Ishizu sambil berjalan menuruni tangga.
"Ini... Tangga yang kulalui sebelum aku menemukan batu tulis ingatan itu," kata Yami.
"Benar sekali. Tapi, batu tulis itu sekarang sudah kuganti dengan yang baru. Batu tulis tentang ingatanmu yang lain...," kata Ishizu.
"Maksudmu... Apa ada hubungannya dengan Hikari?" tanya Yami.
"Sepertinya kau sudah mengingatnya ya? Ya, itu tentang dia," jawab Ishizu.
"Apa batu tulis itu mengatakan sesuatu tentang Hikari?" tanya Yami lagi.
"Ya. Batu tulis itu ditulis olehmu—Pharaoh Atemu. Kau mengatakan kalau kau saat itu telah jatuh cinta pada pelayanmu sendiri, dan kau tidak pernah menyatakannya. Tapi kau memperlakukan Hikari di luar batas perlakuan dari majikan ke pelayan pribadinya. Lalu soal perasaan Hikari, sampai sekarang tidak ada yang tahu perasaannya yang sebenarnya. Lalu ada lagi fakta yang hanya diketahui olehmu, Hikari, dan orang tuanya. Hikari itu sebenarnya...," Ishizu memutus perkataannya.
"Apa? Dia sebenarnya apa Ishizu?" tanya Yami penasaran.
Ishizu lalu menghentikan langkahnya di depan sebuah batu tulis besar. Di batu tulis itu memang banyak tulisan hieroglyph yang sulit dimengerti, tapi Yami mengerti apa maksudnya. Matanya langsung terbelalak lebar begitu menangkap sederetan ukiran huruf hieroglyph di sana. Untuk Yami yang dari dasarnya berdarah Mesir, sama seperti kembarannya—Atem, bukannya tidak mungkin membaca huruf Mesir itu—apalagi dia sebelum ini adalah Pharaoh yang memerintah Mesir Kuno dan pembuat dari batu tulis itu sendiri. Matanya menatap tidak percaya pada Ishizu yang ada di sebelahnya. Tatapannya seakan mengatakan 'apa-ini-benar?'
"Ya, Pharaoh. Ini semua benar. Kau sendiri yang menulisnya. Hikari itu sebenarnya... Keturunan Kul Elna..."
.
.
Tsuzuku
.
.
Gia : *Senyum-senyum*
Bakura : APAAN INI!? KENAPA GUE KAGAK SAMA YADOUNUSHI!? JADI INI MAKSUDNYA PETAKA MARIK!? *Nunjuk-nunjuk scene di kelas*
Marik : enak aja nama gue dijadiin nama petaka!
Malik : *Mewek* Gue mau sama Marik!
Gia : Petakanya bukan Cuma di sini doang luh Kura~
Yurika : Oke, bales review dulu
.
Ruega Kaiba :
Gia : Maklum Run, dia udah ketularan sama pengaruh dari sifat bawaan sang 'Sennen Yami', jadi kagak terlalu alim lagi
Atem : Yami itu alim dari mana!? Sebelum dateng ke Jepang, tapatnya sebelum ingetannya itu ilang kagak jelas, cerewetnya minta ampun! Ngaco kalo lu bilang dia alim, Gi!
Yurika : A-a... Itu... Gue kagak tahu! Ingetan gue kan belom balik semua!
Gia : Susah amat! Bayangin aja lu Hikari!
Seto : Kejam amat lu Ru...
Gia : PASTI! GUE BIKIN LU MENGALAMI COMPLICATED LOVE DEH SET! *Spoiler*
Yurika : Bener Runa-san, keren dan sibuk itu kan cuma semacam buat nutup-nutupin kesintingan mereka aja
Yugi : Kejamnya! Padahal gue keren!
Marik : Kejam sekali lu Run! TT^TT
Bakura : Che! Silahkan! Akan kubalas kau nanti!
Gia : Thanks for review!
.
Tanigawa Rizumi no Sari-chan :
Gia : Arigatou TT^TT Pasti saya kencan dengan buku kok! Buku komik! #GUBRAK!
Yurika : Erm, mungkin dikarenakan faktor reinkarnasi dan penyiksaan di masa lalu...
Yami : YA KAN! MANA MESUM GUE! SEMUA ORANG MENUDUH GUE MESUM!
Gia : Lu mesum, cuma di sembunyiin aja di depen orang lain~
Atem : Yap, ini sudah update! Doakan author cepet-cepet dapet ilham biar bisa update lagi ya!
Seto : Thanks for review
.
Zaky UzuMo :
Gia : Oh tenang! Bukan kok! Mana mungkin Jou sekejam itu!
Jou : Bener banget! Gue kag sekejam itu! TTATT
Seto : Ah, tidak kok! Saya masih setia dengan puppyku ini~ *ngerangkul pundak Jou*
Jou : *Blush*
Yurika : Ini sudah update
Gia : Thanks for review!
.
Gia : Fiuh! Belajar lagi sebelum dibanting Yurika! *Ngeluarin buku pelajaran*
Yurika : Apa maksudnya gue keturunan Kul Elna hah!? Lu nyamain gue sama nih maling!? *nunjuk-nunjuk Bakura*
Gia : Oh! Kaga! Bukan itu! Liat aja nanti!
Yami : Thanks for reading!
Atem : Maaf atas semua typo dan misstypo, kekurangan deskripsi, ketidak nyambungan, dan semua kekurangan yang ada!
Yugi : Dan terima kasih sekali sudah ada yng mau mengisi kotak review!
Jou : Doakan author cepet-cepet dapet ilham ya! ;)
