Gia : KYOOOU-KUUUUN! XD

Yami : *Sweatdrop* Dia kenapa tuh?

Yugi : habis ngeliat gambar Anzu versi cowok gendong gue

Atem : Kok Kyou-kun manggilnya?

Anzu : Nama gue kan kanjinya bisa dibaca jadi Kyouku. Terus kalo versi cowo si Gia seenaknya ngilang-ngilangin 'Ko'nya jadi Kyou

Yurika : Gia! Gue belom sempet protes! Apa maksudnya Hikari keturunan Kul Elna!?

Yami : APA MAKSUDNYA INI THOR!? JANGAN BILANG LU MAU BIKIN BENIH-BENIH CINTA ANTARA SI PENCURI SAMA HIME!

Gia : KAGAAAAK! Ngapain coba!? Bakura udah ada Ryou tuh! *Nunjuk-nunjuk Ryou*

Jou : Peduli amat ah! Yang penting gue akan segera jadi cewe dan menderitaaa! QAQ

Seto : *Senyum licik* Akhirnya dateng juga kesempatan seperti ini...

Ryou : Happy Reading!

.

.

The Next Journey

.

By : Gia-XY

.

Previously :

"Apa? Dia sebenarnya apa Ishizu?" tanya Yami penasaran.

Ishizu lalu menghentikan langkahnya di depan sebuah batu tulis besar. Di batu tulis itu memang banyak tulisanhieroglyphyang sulit dimengerti, tapi Yami mengerti apa maksudnya. Matanya langsung terbelalak lebar begitu menangkap sederetan ukiran hurufhieroglyphdi sana. Untuk Yami yang dari dasarnya berdarah Mesir—sama seperti kembarannya—Atem, bukannya tidak mungkin membaca huruf Mesir itu—apalagi dia sebelum ini adalah Pharaoh yang memerintah Mesir Kuno dan pembuat dari batu tulis itu sendiri. Matanya menatap tidak percaya pada Ishizu yang ada di sebelahnya. Tatapannya seakan mengatakan'apa-ini-benar?'

"Ya, Pharaoh. Ini semua benar. Kau sendiri yang menulisnya. Hikari itu sebenarnya... Keturunan Kul Elna..."

.

Summary :

Sepertinya Yurika harus menyalahkan Eye of Anubis Kubikazari atas kejadian terkirimnya jiwanya ke dunia ingatan. Sedangkan karena pertanyaan bodohnya dan keingin tahuannya, Yami terkirim ke dunia ingatan sekali lagi / "Ta-tapi, apa Hikari tidak dendam padaku—seperti Bakura, karena pamanku telah membunuh semua orang sesukunya?"/

.

Disclaimer :

Yu-Gi-Oh! © Takahashi Kazuki

Story, Gia's OC : Kisaragi Yurika, Yukarina Hikari © Gia-XY

.

Warning :

OC, OOC, OC as main lead, genderbend, typo(s), misstypo(s), semi-canon, sedikit bahasa Jepang, krisis kosakata, DLDR, dll.

.

Journey 5

Is This Memory World?

.

.

~Domino Museum~

"Liat tuh Jou! Mummynya keren!" seru Yugi sambil menunjuk-nunjuk mummy yang ada di dalam tabung kaca dengan cengiran isengnya.

"HYA!" seru Jou kaget.

Jou langsung beranjak menjauh meninggalkan mummy itu sambil bersandar di dinding.

"Oh, ayolah, Jou. Ini kan tidak terlalu menyeramkan," kata Honda.

"Ini menjijikkan tahu!" seru Anzu pada Honda sambil menunjuk-nunjuk mummy tadi.

Wah-wah... Ternyata Anzu juga takut sama mummy nih—ralat, jijik, walaupun tidak separah takutnya Jou.

"Kita akan kena kutukaaaan! Tidaaaak!" seru Jou histeris.

"Tidak ada yang namanya kutukan di dunia ini, bonkotsu. Apa kau bodoh?" kata Seto dengan nada menyindir Jou.

"Sial! Aku tidak bodoh tahu!" seru Jou.

"Sekali bodoh tetap bodoh," kata Seto.

"Sekali lagi kukatakan ya, aku-tidak-bodoooh!" seru Jou kesal.

Di lain pihak, terlihat Ryou sedang menatap sebuah kalung di etalase pembelian souvenir. Kalung itu berwarna silver dengan bandul batu emerald berbentuk oval. Tampaknya Ryou tertarik dengan kalung itu.

Tiba-tiba Ryou merasa pundaknya ditepuk oleh seseorang dari belakang.

"Sedang melihat-lihat, partner?" tanya suara itu.

Ryou lalu menengok ke belakangnya. Dirinya mendapati sosok Marik di sana.

"Marik? Kau juga sedang melihat-lihat?" tanya Ryou.

"Sekitar begitulah. Kau mau kalung itu?" tanya Marik.

"Sebetulnya tidak juga, tapi entah kenapa aku tertarik dengan kalung itu," kata Ryou.

"Aku ambil kalung ini," kata Marik sambil menyerahkan beberapa lembar uang ke sang penjual.

"Silakan," kata sang penjual sambil menyerahkan kalung itu kepada Marik.

"Eh? Kau tertarik pada kalung itu juga ya?" tanya Ryou dengan polosnya.

"Tidak. Aku membelikannya untukmu," kata Marik sambil meraih tangan Ryou dan meletakkan kalung itu di tangan gadis itu.

"Eh? Biar kubayar!" seru Ryou sambil buru-buru merogoh tasnya.

Marik lalu menyentuh tangan Ryou dengan lembut.

"Tidak usah. Gratis untukmu. Aku memang berniat membelikannya untukmu," kata Marik.

Lelaki itu lalu pergi ke arah rombongan Yugi.

"Dia aneh...," gumam Ryou pelan sambil menatap kepergian Marik.

Dia lalu mengikuti Marik berjalan ke tempat teman-temannya.

"Hei, di mana Malik?" tanya Marik.

"Malik? Tadi dia masih di sini. Kok sekarang hilang?" tanya Yugi bingung.

"Yurika juga tidak ada," kata Seto.

"Yami dan Ishizu-san juga," kata Atem sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

"Kemana mereka?" tanya Ryou bingung.

"Ayo kita berpencar! Aku, Atem, dan Kaiba-kun akan mencari ke bagian dalam museum. Ryou dan Bakura mencari ke lantai bawah museum, berhubung orang-orang selain penyelenggara pameran dilarang memasuki lantai bawah, Marik ikut bersama kalian. Lalu Anzu, Honda, dan Jou mencari ke bagian luar museum. Nanti kita bertemu lagi di sini," jelas Yugi.

"Um! Baiklah kalau begitu! Ayo!" seru Jou.

Lalu mereka semua berpencar sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan.

Sedangkan di lantai bawah, terlihat Malik sedang kepayahan untuk menyenderkan tubuh Yurika di tembok. Tidak, mereka berada di ruangan yang berbeda dengan ruangan Yami dan Ishizu.

"Haah... Tadi mengagetkan sekali! Kalungnya tiba-tiba bersinar! Tapi kenapa Yurika pingsan? Apa mungkin jiwanya sedang ada di dunia ingatan?" tanya Malik berbicara sendiri.

Yap, tadi sebelum Ishizu dan Yami datang, Malik memang sempat membawa Yurika melihat batu tulis itu—sesuai perintah kakaknya.

-Flashback-

Di depan sebuah batu tulis besar, terlihat Malik dan Yurika berdiri sambil menatap batu tulis itu. Batu tulis itu penuh dengan tulisan hieroglyph yang pastinya tidak akan dimengerti oleh orang yang tidak mempelajari arti dari huruf-huruf itu.

Mata Yurika terbelalak melihat huruf-huruf itu.

"Mu-mustahil... Aku bisa membacanya?" tanya Yurika tidak percaya.

Tentu saja dia kaget, seumur-umur di hidupnya, dia belum pernah mempelajari untuk membaca huruf-huruf Mesir Kuno itu. Bahkan ini pertama kalinya gadis itu melihat batu tulis dengan huruf hieroglyph.

Jujur, dirinya memang bisa membaca tulisan-tulisan itu, tapi dia agak tidak mengerti dengan kata-kata yang dimaksud dalam batu tulis itu.

Dia sang cahaya, ciptaan Ra yang paling sempurna.

Sayangnya, sang cahaya, tidak akan bisa bersatu dengan sang penguasa kegelapan.

Cahaya dan kegelapan, 2 unsur yang berbeda, tidak akan bisa bersatu karena kekangan semua yang ada di sekitarnya.

Bagi suku kegelapan, cahaya adalah sesuatu yang sangat mengganggu, terkutuk, begitu pula sebaliknya. Atas perlakuan yang tidak selayaknya dari suku kegelapan, bagi para cahaya, kegelapan itu sangat kejam.

Namun tidak untuk cahaya yang satu ini, dia menganggap kegelapan adalah temannya, walau apa pun yang terjadi...

'Apa maksudnya semua ini? 'Cahaya'? 'Kegelapan'? Apa mungkin maksudnya... Hikari, sang gadis berkulit putih, dan Atemu, sang pharaoh berkulit hitam? Ah! Kenapa aku langsung kepikiran ke sana!?' pikir Yurika stres.

"Apa kau tahu kenapa kau bisa membacanya?" tanya Malik pada gadis di sebelahnya.

Yurika hanya menatap Malik dengan tatapan masih tidak percaya sambil menggelengkan kepalanya pelan.

"Bagaimana kalau kubilang kau itu cahaya yang dimaksud di batu tulis ini?" tanya Malik.

"Jangan konyol Malik! Aku tidak percaya!" seru Yurika.

"Terserah kau, tapi aku tidak bohong. Buktinya Eye of Anubis Kubikazari menerimamu. Kalungmu itu sebelumnya dipakai oleh sang cahaya yang dimaksud dalam batu tulis itu. Sedangkan sang cahaya itu sendiri, kau pasti tahu kan dia siapa?" tanya Malik sambil tersenyum kecil.

"Tidak! Gadis itu bukan aku!" seru Yurika masih mengelak.

Tiba-tiba saja Eye of Anubis Kubikazari bersinar. Malik hanya menutup matanya karena kesilauan, sedangkan Yurika, tiba-tiba jiwa gadis itu ke luar dari tubuhnya.

'AAAAHH!'

Sinar kalung itu perlahan-lahan meredup. Tubuh Yurika lalu terjatuh ke lantai begitu saja.

"Yurika!" seru Malik sambil mengahampiri tubuh gadis itu.

"Tch! Sepertinya dia pingsan! Apa yang terjadi sebenarnya!? Lebih baik aku membawanya pergi dari sini," ucap Malik sambil merangkul tubuh Yurika keluar dari ruangan itu.

-Flashback End-

Sedangkan di ruangan lain, terlihat Yami masih shock dengan perkataan yang dikatakan Ishizu padanya.

"Hi-Hikari? Ke-keturunan Kul Elna?" tanya Yami tidak percaya.

Sang cahaya adalah generasi dari desa dari jiwa-jiwa orang mati yang isinya telah ditaklukkan demi sebuah keinginan jahat.

Jujur, Ishizu tidak menyangka Yami bisa dengan cepat memecahkan semua istilah-istilah yang ada di batu tulis itu. Yah, terbukti kalau Yami benar-benar seorang Prince of Games (A/N : Yah, berhubung Yugi sudah ngalahin Yami, Yami turun pangkat dari King ke Prince deh -w-) dan sang pembuat dari batu tulis itu.

"Ya, sebelum pindah ke kerajaanmu, orang tua Hikari tinggal di Kul Elna," jelas Ishizu.

"Ta-tapi, apa Hikari tidak dendam padaku—seperti Bakura, karena pamanku telah membunuh semua orang sesukunya?" tanya Yami.

"Lebih baik... Kau cari tahu sendiri, pharaoh...," ucap Ishizu.

Tiba-tiba saja Eye of Anubis di Sennen Puzzle bersinar.

'AAAKHH!'

Sinari itu kembali meredup dengan tubuh Yami terjatuh ke atas lantai.

"Selamat datang di dunia ingatan sekali lagi, pharaoh," ucap Ishizu pelan.

~Memory World~

Di sebuah ruangan, terlihat seorang gadis berambut pirang tengah tertidur di atas kasur yang ada di ruangan itu. Gadis itu perlahan-lahan membuka matanya.

"Ngh... Ini... Di mana?" tanya gadis itu sambil menatap ke sekelilingnya.

Dirinya lalu perlahan mengubah posisinya menjadi duduk di atas ranjang itu.

"Mirip Mesir Kuno...," kata gadis itu—Yurika, sambil mengingat-ngingat mimpi yang pernah didapatnya.

Ya, jiwa Yurika saat ini ada di dalam tubuh Hikari.

"Kau sudah bangun, Hikari?" tanya sebuah suara.

Yurika lalu menolehkkan kepalanya ke arah suara itu.

"Kau..."

"Maaf karena aku membawamu ke luar istana tiba-tiba—apalagi aku membawamu dengan cara memaksa," kata lelaki itu—Pharaoh Atemu—ah salah, dia masih seorang pangeran saat ini, dengan nada bersalah.

Lelaki itu lalu berjalan menghampiri Yurika dan duduk di sebelahnya.

"Apa maksudmu?" tanya Yurika.

Kalau diperhatikan, ruangan itu memang berbeda dengan kamar yang biasa dia lihat di mimpinya.

"Kau tidak ingat apa yang terjadi kemarin?" tanya Atemu tidak percaya.

"Em, sepertinya ya," jawab Yurika ragu-ragu.

"Baiklah, kuceritakan semuanya... Kemarin aku melihatmu bicara dengan Bakura diam-diam, lalu... Yah, kau tahu, jadi atas faktor kecurigaan dan kecemburuan aku... Ya begitulah," kata Atemu sambil terkekeh kecil.

'Kecurigaan dan kecemburuan? Tunggu! Bakura!?' pikir Yurika kaget.

"Ba-Bakura!? Ma-maksudmu di sini ada orang bernama—"

"Tentu saja, kau tahu kan dia musuh kerajaan kita? Yah, maaf aku telah mencurigaimu kemarin, berhubung kau keturunan Kul Elna jadi aku agak curiga kalau dia menghasutmu agar kau membantunya. Jadi, begitu pencuri itu pergi aku memukul punggungmu dari belakang sampai kau pingsan dan membawamu ke sini," kata Atemu kesal.

'Aku—salah! Hikari? Keturunan apa tadi? Kul Elna?' pikir Yurika bingung.

Jujur, Yurika sama sekali tidak tahu apa itu Kul Elna. Yang dia tahu, itu pasti nama sebuah desa, suku, atau semacamnya.

"Kul Elna? Memang apa hubungannya?" tanya Yurika.

Dia tidak berani bertanya 'apa itu Kul Elna?' pada lelaki di depannya itu.

Atemu mengernyitkan alisnya. Ada apa dengan pelayan pribadinya ini sebenarnya? Kenapa tiba-tiba dia bertindak seperti bukan dirinya sendiri?

"Kau lupa? Bakura mengira chichi membunuh semua orang sesuku kalian untuk membuat Sennen Item dan dia ingin membalas dendam padaku dan chichi. Tapi sampai sekarang juga kita tidak tahu siapa yang membunuh orang-orang itu sebenarnya, dan aku percaya bukan chichi yang melakukannya," jelas Atemu samil menghela nafas sebentar.

Yurika terdiam. Ya, dia tahu Aknamkanon memang bukan orang sejahat itu—setidaknya begitulah yang selama itu ia lihat di mimpi dan bayangan-bayangan ingatannya.

"Aku percaya kalau Pharaoh Aknamkanon bukan orang sejahat itu," ucap Yurika sambil tersenyum kecil.

"Kau benar... Arigatou...," kata Atemu pelan sambil menyenderkan kepalanya ke bahu gadis itu.

'Jujur, aku jadi ingin tahu pencuri bernama Bakura itu seperti apa,' pikir Yurika.

"Lalu, untuk apa kau membawaku ke luar dari istana?" tanya Yurika.

"Supaya Bakura tidak menemukanmu, dan..." Atemu memutus perkataannya.

"Dan apa?" tanya Yurika sambil mengernyitkan alisnya.

"Dan juga... Supaya aku bisa melakukan ini," kata Atemu.

Pangeran itu lalu menarik tangan pelayannya sampai wajahnya mendekat pada wajah sang majikan. Atemu menatap lekat wajah gadis di depannya itu.

"A-Atemu-san?" panggil Yurika.

"Kau milikku... Hanya milikku... Jangan biarkan orang lain selain aku menyentuhmu...," kata Atemu sambil mencium wajah gadis itu dengan lembut.

'A-apa!? Hei! Apa-apaan ini!?' pikir Yurika kaget.

PLAK!

Tangan gadis itu lalu melayang ke arah pipi sang pangeran—tepatnya, Yurika menampar Atemu.

"Apa yang kau lakukan bodoh!?" seru Yurika.

Ya ampun! Apa gadis itu tidak sadar siapa yang ditamparnya tadi!? Dia menampar seorang pangeran!? Bayangkan saja! Pangeran! Kalau dia menampar reinkarnasi dari sang pengeran sih tidak apa-apa! (Yami : Maksud lu apa!?)

Atemu hanya terbelalak saja. Hikari menamparnya? Hikari saja selama ini tidak pernah berani menyentuh pangeran itu, apalagi menamparnya!

Yurika yang sadar akan perbuatannya langsung panik.

'Ga-gawat! Aduh! Bagaimana kalau setelah ini aku—maksudku, Hikari, langsung diasingkan? Atau malah dibunuh!? HYAAA! Kau bodoh sekali Yurikaaa!' pikir gadis itu.

Sedangkan tidak jauh dari sana, terlihat jiwa Yami sedari tadi melayang memperhatikan semua yang terjadi di sana. Lalu tiba-tiba jiwa Yami seakan ditarik masuk ke dalam tubuh Atemu.

Tiba-tiba seulas senyuman kecil terlukis di wajah Atemu—tepatnya Yami yang jiwanya sudah memasuki tubuh pangeran itu.

"He? Kau berani melawanku ya, Hikari?" tanya Atemu—tepatnya Yami sekarang.

Tiba-tiba saja seringi licik muncul di wajah Yami.

'GLEK! Oh Ra! Tuh kan benar! Pasti dia akan membunuhkuuu! Tidaaaak!' pikir gadis itu sambil berusaha menjauh dari sosok yang diketahuinya sebagai Atemu.

Yurika lalu merasa sebuah tangan menyentuh kepalanya.

"Tidak usah ketakutan begitu. Aku tidak akan membunuhmu kok," kata Yami.

"E-eh?

"Kau tahu, kalau kau bersikap seperti tadi, kau malah mirip dengannya," kata Yami sambil terkekeh kecil.

"Mirip siapa?" tanya Yurika penasaran.

Dia benar-benar tidak sadar kalau yang di depannya ini adalah seorang Sennen Yami!? Heiii! Apa kau tidak lihat seringai licik ala Yaminya tadi!? (Yami : APA SALAH GUE GIA!? Dari tadi lu ngehina gue mulu!)

"Seseorang, bagian dari dirimu," kata Yami dengan nada misterius.

'Bagian dari diriku—maksudku bukan aku, tapi Hikari?' pikir Yurika.

"Aku tidak mengerti," ucap Yurika.

"Kau memang tidak mengerti sekarang, tapi suatu saat kau akan mengerti. Hikari, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Yami.

"Tentu, apapun untukmu, ouji-sama," kata Yurika layaknya serang pelayan.

'Ya, bertindaklah sebagai Hikari di sini Yurika! Itu lebih baik!' pikir Yurika.

"Kenapa kau tidak dendam padaku? Padahal, bisa saja kau percaya pada Bakura dan membalas dendam padaku. Bisa saja chichi yang membantai teman-teman sesukumu," kata Yami sambil menatap Yurika.

"Eh? E-etto..."

'Argh Yurika! Pikirkan! Pikirkan! Apa yang akan dijawab oleh Hikari di saat seperti ini!?" pikir Yurika.

"Ah, kita tidak bisa menuduh seseorang tanpa bukti kan? Lagipula aku tahu Pharaoh Aknamkanon tidak sejahat itu," kata Yurika.

"Bagaimana kalau ternyata yang membunuh mereka... Pamaku sendiri? Apa kau akan membenciku?" tanya Yami.

Yurika sampat kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan Yami tadi, tapi gadis itu lalu tersenyum kecil.

"Tentu tidak, Atemu-san. Kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Yang melakukan itu pamamu, bukan kau kan?" tanya Yurika.

'Oh bagus Yurika! Kata-katamu sekarang benar-benar mirip dengan kata-kata Hikari,' pikir Yurika sambil menyindir dirinya sendiri.

"Kau memang terlalu baik. Dan aku yakin dia juga pasti memiliki sifat seperti ini juga sebenarnya," kata Yami sambil tersenyum tipis.

Tiba-tiba saja, Eye of Anubis Kubikazari dan Eyes of Anubis yang ada di Sennen Puzzle bersinar lagi. Entah apa yang terjadi, tapi Yurika dan Yami yakin bahwa mereka sudah tidak berada di tempat tadi lagi.

~Real World~

Yurika perlahan-lahan membuka matanya dan lagi-lagi gadis itu mendapati baying-bayang ruangan museum di matanya. Yurika lalu berusaha berdiri, namun tiba-tiba dia merasa punggungnya diterjang oleh rasa sakit.

"I-itai! Aduh! Sepertinya aku terlalu lama bersender di dinding," ucap Yurika sambil mengelus-ngelus punggungnya sendiri.

"Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?" tanya Malik.

"Lebih dari buruk. Kau tidak tahu mimpi apa yang kualami tadi!" seru Yurika kesal.

"Kuberi tahu ya Yurika, itu bukan mimpi. Kurasa kau pergi ke dunia ingatan masa lalumu, seperti yang dulu pernah dialami Yami," jelas Malik.

"Haha, pasti tentang Sennen Item dan yang semacamnya itu lagi," kata Yurika sambil tertawa kering.

"Ada hubungannya sih, tapi yang mau kubicarakan tentang dunia ingatan itu," kata Malik.

"Lalu?"

"Apa kau pernah melihat pemandangan seperti yang tadi kau lihat sebelumnya—misalnya di mimpi begitu?" tanya Malik.

"Emm... Aku..."

Yurika memutus perkataannya.

Mana yang harus dilakukan olehnya, memberitahu yang benar—dengan kata lain secara tidak langsung mengakui kalau dia memang percaya dengan mimpi-mimpi itu, atau dia harus berbohong?

"Aku—"

"Malik!" seru Marik sambil berlari menghampiri Malik.

Yurika menghela napas lega. Marik benar-benar datang dan memanggil Malik tepat pada waktunya, jadi Yurika tidak perlu menjawab pertanyaan Malik tadi.

"Marik!" sahut Malik sambil tersenyum lebar saat menengok ke arah Marik yang berlari ke arahnya sambil menggandeng Ryou.

Tapi, wajah Malik perlahan-lahan langsung berubah menjadi murung begitu melihat Marik menggandeng—tepatnya menarik, tangan Ryou tadi. Sedangkan di belakang Marik dan Ryou, terlihat Bakura berjalan dengan kesal. Bakura lalu menatap Malik seakan mau mengatakan 'tuh kan benar apa yang kutakutkan' pada Malik.

"Ada apa?" tanya Yurika mewakili Malik bertanya pada Marik.

"Semua orang mencari kalian, Yami dan Ishizu," kata Marik.

"Apa? Ada yang menyebut namaku?" tanya Yami yang baru masuk ke ruangan itu diikuti oleh Ishizu.

"Ya, pharaoh bego. Semua mencari kalian," kata Bakura dengan nada kesal.

"Hei Bakura! Mukamu jelek sekali! Kau lagi bad mood ya?" tanya Yami—yang sepertinya kurang peka dengan apa yang terjadi di sana, dengan nada menyindir.

"Urusai! Diam saja kau bodoh!" seru Bakura dengan nada ketus.

Yami hanya bisa menaikkan sebelah alisnya dan menatap Bakura dengan tatapan bingung saja.

'Apa dia sedang PMS ya?' pikir Yami.

Yurika lalu mengeluarkan handphonenya dan mengirim e-mail ke Seto yang menyatakan bahwa keempat orang yang dicarinya—tentunya termasuk dirinya, ada di lantai bawah dan akan segera naik ke lantai atas.

"Lebih baik kita ke atas saja," kata Yurika sambil berjalan menuju ke tangga diikuti oleh yang lainnya.

'Tunggu! Kenapa Yami-kun bisa di sini!? Kalau tadi dia muncul belakangan bersama dengan Ishizu-san berarti sejak awal dia memang di lantai bawah kan!?' tanya Yurika dalam hatinya.

"Ano, kalau boleh tanya, untuk apa Yami-kun dan Ishizu-san di sini?" tanya Yurika masih sambil terus berjalan tanpa menengok ke belakang.

"Aku hanya menunjukkan sesuatu yang mungkin bisa membantunya mengembalikan ingatan masa lalunya yang hilang," jawab Ishizu.

"Hm, sou...," kata Yurika dengan nada tidak tertarik.

Tentu saja dia tidak peduli dengan ingatan masa lalu Yami. Mau Yami itu pharaoh atau apa pun dia tidak akan peduli, karena dia tidak tahu kalau Yami adalah Pharaoh ATEMU. Yah, mungkin gadis itu memang sadar kalau Atemu dan Yami memang mirip, tapi menurutnya itu bukan berarti Yami adalah Atemu. Reinkarnasi tidak menutup kemungkinan bahwa wujud seseorang akan berubah setelah hidup kembali. Lagipula, baginya, mimpi-mimpi itu tidak nyata, dan gadis itu juga menganggap bahwa dirinya peduli dengan mimpi-mimpi itu atau pun Atemu—walau sebenarnya dia peduli—karena sebenarnya secara tidak sadar gadis itu... Telah jatuh cinta pada Atemu... Bukan Yami...

.

.

Tsuzuku

.

.

Gia : AMIN! SLESAI!

Yurika : Sampai kapan lu mau malu-maluin gue hah? *Aura mematikan*

Gia : /Glek!/ E-eh, i-itu, gu-gue cuma ngikutin alur cerita kok...

Bakura : ...

Malik : ...

Ryou : ?

Marik : *Senyum penuh kemenangan* (Akhirnya gue bisa nyiksa Bakura~)

Gia : Ini dua orang napa? *Nunjuk-nunjuk Bakura sama Malik

Bakura & Malik : KENAPA ADA DEATHSHIPPING DI SINI!?

Gia : KARENA GUE NGEFANS SAMA DEATHSHIPPING! Entah kenapa gara-gara gue mikir kok Thiefshipping itu rada apa gitu pas liat MEP di Youtube, terus kepikiran kalo Deathshipping gimana ya? Eh, entah kenapa setelah mikir-mikir nih shipping bagus! Dan jadilah begini! Deathshipping gue masukin ke fic! XD

Ryou : Yaah... Padahal awalnya kukira Marik suka sama Malik! PJnya gak jadi gue tagih deh! *Innocent*

All(-Ryou) : (Ya ampun... Polos banget nih anak...)

Bakura : gue tetap gak terima!

Gia : daripada Kleptoshipping! Hayoloh! Mau kaga?

Yugi : GUE YANG GAK MAU! Nanti nasib gue gimana!?

Bakura : GUE JUGA KAGA SUDI SAMA SI CEBOL!

Atem : Ehem, ngomong-ngomong, Gia, happy first year anniversary at FFn

Gia : *Meluk-meluk Atem* Makasih Ateeem! Chapter depan gue tambain deh bagian lu!

All(-Yurika and all Hikari) : HAPPY FIRST YEAR ANNIVERSARY AT FFN GIA! (Tambain bagian gueeeee!)

Gia : Yap, atas hadiah satu tahunan gue, gue update TNJ chapter 5 hari ini buat lu-lu pade yang ngucapinnya habis Atem! MWAHAHA!

All(-Yurika and all Hikari) : NOOOO!

Yurika : Ayo bales review dulu

.

Tanigawa Rizumi no Sari-chan :

Gia : SAYA STREES! *A* BUKU-BUKU ITU TERUS MENGHANTUIKU!

Yurika : Noh! Lambatin alurnya tuh!

Gia : Maaf-maaf, chap lalu saya lagi stres, makanya entah kenapa jadi kecepetan *A*

Atem : Noh Yam, dapet salam, katanya 'ai'

Yami : Makasih, nona~ *Cium punggung tangan Rizu*

Jou : Thanks for review!

Bakura : DOAIN TUH MARIK CEPET-CEPET MATI BIAR GUE BISA BERJAYA YA!

BLETAK!

Gia : Psst! Kagak sopan lu!

Seto : Maaf atas singa yang lepas tadi

Bakura : hei apa maksud lu!?

.

Ruega Kaiba :

Yugi : Ohoho, gue emang pinter~ *Bangga*

Yurika : Iya pinter, saking pinternya sampe hampir semua nilai merah

Yugi : WEH! AIB TUH!

Yami : Kuapain ya~? Begitu deh~ Apa aku perlu cerita di sini?

Yurika : JANGAN BAKA!

Gia : SPOILER LAGI NANTI KALO LU CERITA DI SINI!

Seto : Hmph, masalahnya anjing ini selalu mengajak adu debat

Jou : APA KATA LU!? Lu yang duluan bikin gue emosi!

Yugi : Mau sih... Cuma katanya belom saatnya TTATT

Gia : Soalnya lu sendiri belom ada tanda-tanda lope-lopenya Yug! Tapi nanti gue bikin lu PDKT deh~ *Ngedipin sebelah mata*

Yugi : POKOKNYA BURUAN BIKIN BAGIAN GUE!

Bakura : BENERAN!? Apa pake cara sadis!?

Gia : *Sweatdrop* Ternyata lu kaga ada bedanya sama Marik... Gue kira lu lebih normal... Untung lu tsundere, bukan yandere...

Bakura : GUE NORMAL! KAGA TSUNDE ATAUPUN YANDE!

Malik : Thanks for review!

.

Litte Yagami Osanowa :

Gia : *Sweatdrop* Kata-kata indah sekali Lit...

Yami : BOLEH! Seret aja dia suruh ketik lagi!

Yurika : *Sweatdrop sambil liat Yami* Kok malah dia yang semangat?

Gia : BENER TUH LAKSMI! Ane doain tanggal 15 atau 16 Februari 2013 beneran update lu Lit!

Atem : *Sweatdrop* lengkap amat sampe disebut bulan sama tahunnya

Marik : Seret aja dia ke depan laptop suruh ngetik lagi, jadi gue bisa nyiksa Bakura dan bikin mukanya tambah bad mood lagi *Contoh-contoh orang yang bahagia di atas penderitaan orang lain*

Gia : Jangan dong! TTATT Ane juga punya hal-hal lain untuk dikerjakan~

Atem : Hal-hal lain? Maksudnya browsing internet?

Gia : Wa! Wa! Wa! Jangan dibocorin! Pake No Drop Tem! Biar kaga bocor!

Jou : *Sweatdrop* Iklan itu lagi...

Seto : Thanks for review...

.

Gia : HURAY! Tugas dan kewajiban update chap 5 slesai!

Yami : *Seret Gia ke depen komputer* Ketik chap 6

Gia : GAAAK! Maleees! Kalo lu mau gue semangat lanjut doain gue cepet-cepet beli laptop dong, jadi bisa ngetik tanpa gangguan

Yurika : Bermimpilah. Cap go masih lama, setidaknya menurut lu masih lama kan?

Gia : IYA! Ada alat Doraemon yang buat nyepetin waktu kaga sih!? Ang pao udah memohon-mohon untung dihitung tuh!

Malik : Maaf atas semua typo dan kecacatan yang ada

Ryou : Terima kasih bagi yang sudah mengisi kotak review dan mau mengisinya sekali lagi!

Bakura : DOAIN NIH AUTHOR KAGA DAPET IDE LAKNAT BUAT NYIKSA GUE LAGI—MMPPH!

-Dan Bakura pun diiket rame-rame-

Jou : Selamat menunggu chapter depan! Doain aja tugas author yang bikin stres itu kaga banyak!

~Happy First Year Anniversary At FFn Gia-XY!~

~12 February 2013~