Gia : ...
Yugi : Tumben nih anak diem
Yurika : Lagi bete sama kaa-sannya tuh
Yami : tahu! Kaga pentinglah! Ayo lanjut!
Atem : Happy reading!
.
.
The Next Journey
.
By : Gia-XY
.
Previously :
"Ano, kalau boleh tanya, untuk apa Yami-kun dan Ishizu-san di sini?" tanya Yurika masih sambil terus berjalan tanpa menengok ke belakang.
"Aku hanya menunjukkan sesuatu yang mungkin bisa membantunya mengembalikan ingatan masa lalunya yang hilang," jawab Ishizu.
"Hm, sou...," kata Yurika dengan nada tidak tertarik.
Tentu saja dia tidak peduli dengan ingatan masa lalu Yami. Mau Yami itu pharaoh atau apa pun dia tidak akan peduli, karena dia tidak tahu kalau Yami adalah Pharaoh ATEMU. Yah, mungkin gadis itu memang sadar kalau Atemu dan Yami memang mirip, tapi menurutnya itu bukan berarti Yami adalah Atemu. Reinkarnasi tidak menutup kemungkinan bahwa wujud seseorang akan berubah setelah hidup kembali. Lagipula, baginya, mimpi-mimpi itu tidak nyata, dan gadis itu juga menganggap bahwa dirinya peduli dengan mimpi-mimpi itu atau pun Atemu—walau sebenarnya dia peduli—karena sebenarnya secara tidak sadar gadis itu... Telah jatuh cinta pada Atemu... Bukan Yami...
.
Summary :
Ada suara yang tiba-tiba muncul di kepala Yurika? Seto sudah menyempurnakan sebuah alat yang dia ciptakan? /'Kalau kau terus bohong begitu, kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri dengan menyimpan rahasiamu sendirian, masutaa.'/"Sebenarnya apa maksudmu dengan menyempurnakan Virtual World, Seto? Dan apa Virtual World yang kau maksud itu adalah..."/
.
Disclaimer :
Yu-Gi-Oh! © Takahashi Kazuki
Story, Gia's OC : Kisaragi Yurika, Yukarina Hikari, Kisaragi Yuki © Gia-XY
.
Warning :
OC, OOC, OC as main lead, genderbend, typo(s), misstypo(s), semi-canon, sedikit bahasa Jepang, krisis kosakata, DLDR, dll.
.
Journey 6
Welcome To The New Problem
.
.
~Kame Game Shop~
Sesampainya ke rumah tercinta, Yugi langsung merebahkan dirinya ke sofa begitu sampai ke Game Shop.
"Aku capeeeeek!" seru Yugi dengan nada yang terdengar seperti orang bodoh. (Yugi : APA MAKSUD LU!? GUE PROTES! AYO DEMOOO!)
Yurika lalu langsung mengernyitkan alisnya sambil menatap Yugi.
'Capek? Dia pikir cuma dia yang capek apa!? Kupikir aku lebih capek darinya asal dia tahu saja! Akh! Semua ini lama-lama bisa membuatkua GILA!' pikir Yurika stres.
"Ano, Yugi, bukannya tadi kau bilang mau kuajari bikin PR?" tanya Atem.
"PR? Oh! PR Mat! AKH! Kalau boleh aku mau membakar PR itu!" oceh Yugi sambil naik ke lantai atas bersama Atem.
Yurika hanya melihat mereka dengan tatapan bingung, lalu ia tersenyum kecil. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
Gadis itu lalu melangkahkan kakinya menuju ke lantai atas, sayangnya langkahnya terhenti berkat suara seseorang.
"Apa yang terjadi di museum tadi?" tanya sebuah suara dari belakang.
Suara yang familiar, jujur suara ini membuat Yurika sedikit kaget. Perlahan-lahan gadis itu membalikkan badannya dan mendapati sosok yang sangat dikenalnya itu.
'Se-sejak kapan dia di sana!? Ck, Seto memang tidak bisa diharapkan untuk menahannya lebih lama,' pikir Yurika sambil menatap sosok di depannya itu—Yami.
Tadi saat pulang, mereka berempat plus Jou memang diantar oleh Seto, dan Yami sempat berbincang sebentar dengan Seto sebelum Seto melanjutkan perjalanannya untuk mengantar Jou. Yah, entah kenapa Seto akhir-akhir ini terlihat AKRAB sekali dengan Jou. (A/N : Yah, maksudnya akrab dalam arti lain~) Dan kalau kalian bertanya ke mana Sugoroku, dia pergi ke Mesir untuk menemui Mahaado.
Setidaknya Yurika sempat merasa lega karena Yami tidak ada di dalam rumah tadi dan itu berarti persentase kemungkinan bayangan-bayangan masa lalunya untuk muncul lebih kecil karena Yami tidak ada di dekatnya. (Yurika : Lu pikir Mat apa, persentase? -.-") Yah, tapi sepertinya Seto tidak bisa diharapkan untuk menahan Yami lebih lama di luar sampai gadis itu masuk ke kamarnya.
"Apa maksud—"
"Kau mengerti dan aku tahu itu. Pasti terjadi sesuatu kan? Mungkin semua orang tidak sadar, tapi aku sadar. Wajahmu terus terlihat gelisah sejak aku melihatmu di basement museum," jelas Yami dengan nada tajam.
Yurika membelalakkan matanya. Apa? Dirinya gelisah? Oh Ra! Dirinya sendiri saja tidak sadar!
"Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu. Pokoknya sama sekali tidak terjadi apa pun tadi... Sungguh...," jawab Yurika dengan nada lirih.
Tentu saja itu bohong, kita semua tahu itu. Tapi gadis ini sama sekali tidak mau berkata jujur.
'Kalau kau terus bohong begitu, kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri dengan menyimpan rahasiamu sendirian, masutaa.'
Yurika langsung terbelalak kaget. Suara apa yang ada di pikirannya tadi!?
"Ka-kau mengatakan sesuatu, Yami-kun?" tanya Yurika.
Yami mengernyitkan alisnya heran. Apa maksud dari gadis di depannya itu? Setahunya, dia belum mengatakan sepatah kata pun setelah Yurika terakhir kali bicara tadi.
"Tidak. Memangnya kenapa?" tanya Yami penasaran.
Yurika hanya memasang wajah bingung saja, lalu menggeleng pelan.
"Em, tidak, bukan apa-apa. Aku kembali dulu," kata Yurika sambil membalikkan badannya dan berjalan menaiki tangga meninggalkan Yami di sana.
Yami hanya bisa menghela nafas saja melihat gadis itu seperti sedang menjauhinya. Sebetulnya apa yang salah dengan dirinya?
Sedangkan saat ini, Yurika sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
'Aneh... Kalau begitu tadi itu apa?' pikir Yurika.
'Hah, masutaa memang masih keras kepala seperti dulu... Kenapa kau senang sekali berbohong dalam segala hal sih?'
Suara itu lagi. Suara itu muncul lagi.
"Si-siapa di sana!?" tanya Yurika takut-takut.
'Oh! Tenang masutaa! Aku tidak akan membunuhmu! Coba kau menengok ke samping.'
Yurika lalu menengokkan kepalanya ke samping. Terlihat sesosok wanita berkulit biru dengan rambut blonde dan gaun hijau beserta dengan mahkota berbentuk khas yang menghiasi kepalanya ada di sebelah Yurika.
"Kau siapa?" tanya Yurika.
'Aku ini ka milikmu—tepatnya roh sucimu, Holy Elf,' kata wanita itu—Holy Elf.
Tunggu, Holy Elf!? Oh ayolah! Monster yang ada dalam permainan Duel Monster yang sering diceritakan oleh Yugi padanya di chatting dulu sekarang ada di sebelahnya!?
'Jangan bilang ini tentang hal-hal mistis itu lagi!' pikir Yurika tidak percaya.
'Yah, aku memang ada hubungannya dengan masa lalumu dan kalung yang kau pakai itu,' kata Holy Elf lagi.
Mata Yurika kembali terbelalak lebar.
'Kau bisa membaca pikiranku!?' tanya Yurika pada Holy Elf dalam hatinya—mencoba memastikan kalau tebakannya tadi benar.
'Tentu, aku kan tinggal di dalam ruangan hatimu,' jawab Holy Elf.
'Lalu, apa maksudnya kau muncul tiba-tiba begini?' tanya Yurika sambil melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya yang diikuti oleh sang roh suci.
'Membantu masutaa untuk mengingat masa lalu masutaa dan menerima kalau masutaa itu memang reinkarnasi dari YUKARINA HIKARI,' kata Holy Elf sambil memberi penekanan pada nama yang disebutkannya tadi.
'Kkh! Terserahmulah! Aku masih tidak percaya dengan masa lalu tidak jelas itu yang secara tidak langsung membenarkan teori reinkarnasi yang tidak kupercaya, ataupun KAU yang mengaku sebagai ka milikku! Pasti ini akal-akalan dari Seto! Aku tahu dia punya teknologi canggih!' pikir Yurika sambil mendengus kesal dan mempercepat langkahnya menuju ke kamarnya.
Holy Elf hanya menghela nafasnya lalu berkata, 'Terserah padamu masutaa kalau masutaa tidak percaya dengan masa lalu masutaa atau pun menganggap keberadaanku adalah hasil perbuatan dari reinkarnasi High Priest Seto, tapi aku tetap akan membuatmu mengingat masa lalumu apa pun yang terjadi, karena itu adalah tugasku.'
'High Priest Seto? Jangan bilang Seto itu bereinkarnasi juga...,' pikir Yurika.
'Sayangnya memang begitu kenyataannya,' kata Holy Elf.
Holy Elf lalu perlahan-lahan menghilang dari sana.
'Kau ke mana!?' tanya Yurika kaget.
'Oh, tenanglah masutaa, aku di dalam ruang hatimu,' jawab Holy Elf.
'Hmph, ya sudah, terserahmu saja.'
~Atem's Room~
Di kamar Atem terlihat Atem dan Yugi sedang duduk bersebelahan. Atem terlihat sedang menjelaskan sesuatu pada Yugi. Entah Cuma perasaan author atau apa, tapi kok kayaknya mereka lebih mirip lagi pacaran daripada ngerjain PR? (Yugi : LU NGELEDEK!? LU KIRA GUE KAGAK SERIUS BELAJAR APA!? *Bawa death scythe* ; Gia : WHOA! SABAR YUG! Cuma bercanda! Jangan jadi shinigami mendadak dong! OAO)
"Jadi yang ini dipindah ke ruas kiri, lalu baru kau bisa mendapatkan rumusnya," jelas Atem.
Tapi tetap saja Yugi hanya bisa cengo saat Atem menjelaskan. Bagaimana caranya tidak cengo, orang dianya saja tidak mengerti cara yang dijelaskan Atem itu cara apa! Wajahnya lalu menatap Atem dengan tatapan bingung.
"Jangan bilang kau tidak mengerti persamaan linear...," kata Atem tidak percaya.
Yugi hanya menggeleng pelan, lalu melemparkan tatapan yang seolah mengatakan 'Apa itu persamaan linear?'
Oh my! Yugi! Itu pelajaran SMP 1! Masa sampai sekarang kau tidak mengerti!? Kalau begitu bagaimana caranya kau lulus SMP!? Setiap pelajaran Matematika, persamaan linear itu pasti paling banyak digunakan! Ckckck... Author jadi bingung sendiri kenapa Yugi bisa lulus tanpa mengerti persamaan linear... (Yugi : Kenapa dari tadi lu mojokin gue mulu sih? =_= ; Gia : Em, karena lu cocok buat dipojokin?)
"Hah, sepertinya memang begitu... Baiklah akan kujelaskan. Setiap bilang yang pindah ruas dari kanan ke kiri atau sebaliknya, jika itu bilangan mines, maka akan menjadi plus, dan begitu pula sebaliknya. Jika bilangan itu berlambang kali, maka saat pindah akan menjadi bagi, dan begitu sebaliknya," jelas Atem.
Yugi masih tidak mengerti dengan apa yang Atem jelaskan. Lalu di menatap Atem dengan tatapan 'aku sama sekali tidak mengerti'. Heran deh author sama lu, Yug...
"Hah, akan kuberi contoh deh! Jadi 2(x+4)=10. 2 dipindah ke ruas kanan dan jadinya x+4=10/2, karena kali jika pindah ruas menjadi bagi. Maka jadinya x+4=5. Lalu 4 dipindah juga, jadinya x=5-4, karena plus jika dipindah ruas menjadi mines. Maka hasilnya x=1. Jadi x itu adalah angka 1," kata Atem mengakhiri penjelasannya.
Akhirnya! Setelah sekian lama Yugi 'ngeh' juga! Dia langsung menjentikkan jarinya dan berkata, "Oh, ternyata begitu toh! Aku ingat! Ini kan pelajaran SMP 1! Yurika sempat mengajariku, tapi setelah ulangan aku lupa semua! Hahaha!"
"Jadi, kau sudah bisa mengerjakan nomor terakhir kan?" tanya Atem.
"Tentu," kata Yugi sambil menulis jawaban dari nomor terakhir yang ada di PRnya itu.
"Ano, Yugi, yang ini salah," kata Atem sambil menunjuk sebuah angka di buku Yugi.
Tiba-tiba saja tangan Atem bersentuhan dengan tangan Yugi yang sedang menulis secara tidak sengaja. Yugi refleks langsung menarik tangannya menjauhi tangan Atem.
"Gomen! Aku tidak sengaja!" seru Yugi.
Wajahnya langsung memerah entah kenapa. Padahal kalau bersentuhan dengan Yurika juga dia biasa saja, tapi kenapa begini jadinya kalau dengan Atem?
"Tidak apa kok. Aku cuma mau bilang yang ini seharusnya 7, bukan 6," kata Atem sambil tersenyum kecil dan menunjuk sebuah angka 6 di buku Yugi.
"E-eh, i-iya, akan segera kuganti," kata Yugi gugup sambil menghapus angka yang ditunjuk Atem tadi.
Atem hanya heran saja melihat kelakuan Yugi.
"Ada apa Yugi? Sepertinya kau gugup sekali," kata Atem.
Yugi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menyangkal pernyataan Atem barusan.
"Ti-tidak kok! Sungguh!" kata Yugi.
"Ya sudahlah, sepertinya memang cuma perasaanku saja. Ngomong-ngomong, apa kau melihat suatu kemajuan yang berarti di antara 2 orang itu?" tanya Atem.
Yugi hanya bertopang dagu mendengar perkataan Atem barusan. Tentu saja dia tahu siapa 2 orang yang dimaksud Atem.
"Belum, tapi sepertinya Yurika itu... Menghindari Yami, entah aku sendiri tidak tahu alasannya. Sedangkan Yami, sepertinya dia terus berusaha mendekati Yurika apapun yang terjadi. Dan kita tahu kenapa Yami berusaha mendekati Yurika. Dia menyukai Yurika dan dia ingin membuktikan kalau Yurika benar-benar reinkarnasi dari otang yang dicintainya di masa lalu," jelas Yugi.
Atem hanya mengangguk-ngangguk mendengar perkataan Yugi.
"Kau benar... Aku juga merasa Yurika itu seperti menghindari Yami. Tapi kenapa? Itu yang jadi masalah," jelas Atem.
Mereka berdua lalu terdiam sejenak.
Benar juga, kenapa Yurika menghindari Yami? Padahal tidak ada yang salah pada lelaki itu. Pasti ada sesuatu yang menyebabkan Yurika menghindari Yami.
"Apa mungkin... Karena Yurika tahu kalau dia sebenarnya memang bagian dari kehidupan masa lalu Yami dan dia sadar kalau Yami ada hubungannya dengan masa lalunya?" tebak Yugi.
"Lalu kenapa? Kalau cuma karena Yami ada hubungan dengan masa lalunya itu tidak masalah kan?" tanya Atem.
Yugi terdiam sejenak. Dia lalu menggeleng pelan.
"Tidak, jelas itu masalah untuk Yurika. Semua tidak semudah yang kita bayangkan Atem. Pertama, Pharaoh Atemu dulu memperlakukan dirinya dengan seenaknya kan? Mungkin dia tidak suka dengan itu. Kedua, Yurika itu... Tidak percaya pada hal-hal mistis—apalagi teori reinkarnasi. Mungkin saja sebetulnya dia menghindari Yami karena Yami memang membuat ingatan masa lalunya kembali dan dia tidak ingin ingatan-ingatan yang jelas tidak logis untuknya terus muncul dan menghantuinya, cukup masuk akal kan?" tanya Yugi.
"Em, kau benar juga... Apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka?" tanya Atem.
Lagi-lagi keduanya terdiam. Bantuan? Bantuan macam apa yang bisa mereka berikan? Mereka sama sekali tidak ambil bagian dalam kehidupan masa lalu Yami dan Yurika kan? Berarti mereka hanya bisa menonton saat ini...
'Tunggu! Benar juga! Kami memang tidak bisa membantu karena kami tidak ada hubungannya dengan kehidupan masa lalu mereka kan? Kalau begitu... Cari saja orang yang berhubungan dengan mereka di masa lalu!' pikir Atem.
"Yugi, aku punya ide! Bagaimana kalau kita meminta bantuan orang yang juga ikut ambil peran dalam kehidupan mereka di masa lalu?" tanya Atem.
Yugi menaikkan alisnya. Meminta bantuan orang yang ikut ambil peran dalam kehidupan mereka di masa lalu? Tapi siapa?
'Oh! Aku tahu!' pikir Yugi.
"Ishizu! Dia yang paling tahu segalanya! Bagaimana kalau kita minta bantuannya?" tanya Yugi antusias.
"Ishizu-san? Dia juga orang yang bereinkarnasi kembali?" tanya Atem bingung.
Yugi lalu menganggukkan kepalanya dan berkata, "Ya, sebelum ini dia adalah Priestess Aishisu."
Atem lalu mengangguk-nganggukkan kepalanya.
"Akhirnya~ Berarti besok kita tinggal pergi menemui Ishizu-san sajaa~ Horeee!" sahut mereka bersamaan sambil berpelukan.
...
Hening sejenak...
...
"KYAH! Maafkan akuuu!" seru mereka berdua bersamaan sambil melepaskan pelukan mereka. (A/N : Yah~ Padahal baru mau difoto~)
Wajah mereka langsung memerah. Entah, mereka sangat bodoh sekali dengan gerakan refleks mereka tadi.
'Bodoh sekali kau Yugi! Bisa-bisanya kau memeluk Atem seperti itu! Baka! Baka! Baka!' pikir Yugi sambil mengutuki dirinya sendiri.
Sedangkan Atem, entah kenapa wajahnya memanas. Atem hanya bisa memegangi pipinya sendiri sambil berpikir, 'Sebetulnya aku kenapa? Aku... Rasanya wajahku memanas saat kami berpelukan dengan Yugi tadi...'
~Yami's Room~
Yami saat ini sedang merebahkan dirinya di atas kasur. Berhubung Yugi di kamar Atem, dia bisa memonopoli kasur sendirian. Bahagianya anda pharaoh~
Yami lalu meruba posisinya menjadi duduk di atas tempat tidur. Wajahnya terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
'Aku tahu pasti tadi ada sesuatu yang terjadi! Tapi apa!? Akh! Yami! Lama-lama kau akan menjadi orang bodoh kalau memikirkan gadis itu terus! Hah... Ternyata... Begini ya rasanya jatuh cinta sekali lagi?' pikir Yami dengan senyum miris.
'Aku tidak bisa hanya berdiam diri di sini! Aku harus melakukan sesuatu! Ayo usaha Yami!' pikir Yami.
Drrt... Drrt...
Handphone Yami tiba-tiba bergetar. Yami lagsung membuka handphonenya dan mendapati sebuah e-mail ada di inboxnya.
"Hm... Dari Seto...," kata Yami sambil membuka e-mail tadi.
From : Seto
Subject : Wajib dibaca atau kau mati
kau harus datang ke Kaiba Corp bersama Atem, Yurika & Yugi. aku sudah menyempurnakan alat yang bisa mengirim kita ke Virtual World. aku ingin kalian membantu meyakinkanku kalau alat itu benar-benar sudah sempurna
Yami hanya bisa sweatdrop saja membaca e-mail dari Seto.
"Subject yang mengerikan... Dan ini sama saja dia memaksa kami menjadi kelinci percobaan alatnya kan?" kata Yami sambil memasukkan handphonenya ke saku celananya dan berjalan ke luar dari kamarnya.
~Yurika's Room~
Yurika saat ini hanya duduk di depan meja belajarnya sambil membuka laptopnya.
'Em, hei, Holy Elf, kau masih di sana?' tanya Yurika memastikan keberadaan wanita yang mengaku-ngaku sebagai roh sucinya tadi.
'Ya, masutaa. Aku masih di sini. Ada apa?' tanya Holy Elf.
'Ano, bukannya aku percaya dengan semua lelucon dengan tidak jelas ini loh! Aku mau tanya, kenapa kau tidak muncul saja dari kemarin atau dari dulu saja kalau kau memang mau mengembalikan ingatan masa laluku itu?' tanya Yurika.
'Mudah saja, pertama, kekuatan roh masutaa sebelum ini masih belum cukup untuk membuatku muncul. Masutaa butuh kalung yang sedang masutaa pakai sekarang untuk dapat melihat, mendengar, atau bicara padaku. Kedua, aku tidak akan muncul untuk membantumu jika belum saatnya, tepatnya jika pharaoh belum menemukan sebagian ingatannya. Dan ketiga, setelah masutaa memakai kalung itu pun, kekuatan roh masutaa sebetulnya masih belum cukup karena masutaa masih menyangkal semua keberadaan masutaa di masa lalu. Tapi sepertinya setelah melihat batu tulis tadi dan masuk ke dunia ingatan, masutaa menjadi sedikit lebih menerima keberadaan ingatan-ingatan masutaa. Lalu, entah kenapa rasanya batu tulis tadi seperti memiliki kekuatan tersendiri untuk membuatku dan masutaa berhubungan,' jelas Holy Elf.
'Hm, sou...'
'Lalu masutaa, apa yang sedang anda lakukan?' tanya Holy Elf.
Yurika lalu kembali memfokuskan matanya ke layar laptop di depannya.
'Em, hanya sedikit mencari keberan tentang semua lelucon konyol ini dan membuktikan kalau kata-kata lelaki itu, Malik, dan kau memang tidak benar,' kata Yurika.
'Jadi, masutaa sudah mengerti arti kata-kata Shaadii?' tanya Holy Elf.
Yurika hanya memutar bola matanya.
'Yah, kira-kira begitulah. Maksudnya ingatan masa lalu yang seharusnya kucari ada di sini, tepatnya Domino City kan? Jadi, namanya Shaadii?' tanya Yurika sambil menggeser-geser mouse yang dicolokkan ke laptopnya sambil mengklik tombolnya.
'Ya, dia adalah roh penjaga makam. Dia meninggal karena dibunuh oleh Thief King Bakura Touzokuou. Sebelum ini namanya Hasan, bawahan pharaoh Mesir Kuno yang sudah setia selama berabad-abad,' jelas Holy Elf.
'Dia dibunuh Bakura? Haha, lucu sekali. Mungkin Bakura cocok jadi pembunuh bayaran?' kata Yurika sambil tertawa kering dalam hatinya.
Matanya lalu membaca artikel yang kini sudah terpampang di layar laptopnya.
Batu Tulis yang Baru Ditemukan!
Setelah melakukan penggalian selama beberapa minggu, akhirnya rombongan arkeolog dan beberapa penjaga makam berhasil menemukan batu tulis yang ditulis oleh Namonaki Pharaoh yang tergambar di batu tulis yang ditemukan setengah tahun lalu. Batu tulis ini lalu diserahkan pada penjaga makam bermarga Ishtar. Dikatakan bahwa mereka akan mengadakan pameran di museum Domino, tanpa mengikut sertakan batu tulis itu. Memang kita tidak dapat melihatnya secara langsung, tapi seorang penjaga makam bernama Ishizu memberikan foto dari batu tulis itu.
"Batu tulis ini akan membawa 2 orang ke jalan takdirnya," ucap Ishizu, sang penjaga makam. Entah apa arti kata-katanya, sampai saat ini tidak ada yang mengerti kata-kata sang penjaga makam misterius itu.
'Membawa 2 orang ke jalan takdirnya? Aku tidak mengerti,' pikir Yurika sambil memutar bola matanya.
Dirinya lalu melihat ke foto yang terdapat di bawah artikel itu. Foto batu tulis yang dia lihat di museum dari atas ke bawah.
'Aku ternyata memang benar-benar dapat membaca tulisan-tulisan tidak jelas ini? Aku pasti memang sedang bermimpi,' pikir Yurika stres.
'Tapi ini bukan mimpi, masutaa. Kau memang bisa membaca tulisan-tulisan itu karena sebelum ini kau memang bisa membacanya, di masa lalu tentunya,' kata Holy Elf.
'Walau aku bisa membacanya pun, aku sama sekali tidak mengerti apa maksud dari kata-kata ini. Yah, lagi pula kan bukan aku yang membuat batu tulis ini, jadi tidak aneh kalau aku tidak mengerti apa yang dimaksud dalam batu tulis ini,' pikir Yurika.
Tapi sayangnya, yang ingin memonopoli sang cahaya, bukan hanya aku, sang penguasa kegelapan, tapi juga sang pendeta kegelapan, sang pendeta berkedudukan paling tinggi di antara pendeta lainnya yang menjaga salah satu alat kegelapan yang diciptakan karena sebuah keinginan jahat
'Apalagi yang ini, artinya saja aku tidak mengerti. Masa maksudnya priest penjaga Sennen Item?' pikir Yurika.
'Benar, masutaa. Yang dimaksud memang salah satu priest penjaga Sennen Item. Tapi sayangnya... Priest itu sudah meninggal sebelum peperangan pharaoh dengan Zorc dimulai,' jelas Holy Elf.
Yurika mengernyitkan alisnya. Setahunya para priest itu baru meninggal satu demi satu saat peperangan itu. Apa mungkin ada priest lain yang belum diketahuinya? Apa mungkin Priest di bawah kepemimpinan Pharaoh Akanamkanon?
'Siapa dia, Holy Elf?' tanya Yurika.
'Aku tidak bisa memberitahu semuanya karena pada dasarnya masutaa harus mencari tahu sendiri. Yang pasti dia adalah priest yang menjaga Sennen Rod sebelum Priest Seto,' kata Holy Elf.
Yurika hanya menghela napasnya mendengar perkataan Holy Elf.
'Baiklah, tidak apa-apa. Terima kasih sudah memban—tunggu! Kenapa aku malah mencari tahu tentang masa lalu tidak jelas itu!?' pikir Yurika sambil mengacak-ngacak rambut pirangnya.
Holy Elf hanya tertawa kecil saja melihat kelakuan majikannya itu.
'Tuh kan, ternyata masutaa memang penasaran~' goda Holy Elf masih sambil terkekeh kecil.
'Tidak! Tidak! Aku tadi cuma, cuma—Ah! Pokoknya aku tidak tertarik dengan masa lalu tidak jelas ituuu!' seru Yurika menyangkal perkataan Holy Elf.
'Yah, mungkin masutaa tidak sadar, tapi masutaa sebenarnya perlahan-lahan mulai tertarik pada masa lalu masutaa, dan aku yakin itu,' kata Holy Elf.
'Pokoknya aku tidak tertarik dengan bayangan-bayangan itu! Ah, ya, Ano, boleh aku bertanya sesuatu lagi?' tanya Yurika.
'Tentu, apapun untukmu, masutaa,' kata Holy Elf.
'Jadi, saat itu, setelah aku meninggal, kudengar dari cerita Yami-kun dan saat itu kalau priestess Aishisu sempat memakaimu untuk memulihkan ba milik Yami-kun saat itu. Kenapa bisa? Bukankah kau ini ka milikku?' tanya Yurika.
Holy Elf terdiam sebentar. Dia lalu mulai angkat bicara kembali.
'Sebelum masutaa meninggal, masutaa sempat memerintahkanku untuk membantu pharaoh dan para priest. Saat itu masutaa juga mengatakan pada priestess Aishisu kalau dia dapat menggunakan kekuatanku, walau hanya sekali,' jelas Holy Elf.
'Oh, sou...'
Yurika lalu kembali fokus ke laptopnya. Sepertinya gadis itu berusaha membaca huruf hieroglyph yang ada di batu tulis di dalam foto itu dan memecahkan arti dari kalimat-kalimat yang ditulis oleh sang pharaoh.
'Sebenarnya siapa sih pharaoh yang menulis batu tulis ini!? Rasanya aku ingin memarahinya sekarang juga karena membuat kata-kata sesuah ini!' pikir Yurika kesal.
Apa gadis itu sama sekali lupa kalau pharaoh yang sedang dikutukinya sekarang adalah mantan majikannya di masa lalu, ditambah lagi dia tidak sadar kalau pharaoh itu sedang berada di bangunan yang sama dengannya!?
Tok! Tok!
Seseorang mengetuk pintu kamar Yurika. Yurika lalu buru-buru meminimize artikel tadi dan membukakan pintu kamarnya. Lalu, sesosok Yugi terlihat berdiri di depan pintu kamarnya.
"Yurika, aku, Atem, dan Yami akan pergi ke Kaiba Corp. Kaiba-kun menawarkan untuk mencoba alat yang baru saja dia sempurnakan. Apa kau mau ik—"
"Ya, jaa. Aku akan jaga rumah sendirian," kata Yurika memotong perkataan Yugi.
'Ya, ampun. Sepertinya dia benar-benar tidak tertarik untuk ikut...,' pikir Yugi sambil bersweatdrop ria mendengar perkataan teman masa kecilnya itu.
"Ehem, maaf Yurika, tapi KAU WAJIB IKUT. Kalau tidak semua coklatmu akan kuhabiskan. Asal kau tahu saja, semua coklat di kulkas bawah sudah kusandera~" kata Yugi denga tatapan 'bagaimana? Kau ikut kan?'
"Ugh... Kau menyebalkan Yuu... Baik, aku ikut. Tapi kau tidak boleh menyentuh coklatku sama sekali!" seru Yurika kesal.
Kesal? Tentu saja! Sebagai informasi, coklat itu makanan kesukaan Yurika!
"Baiklah-baiklah, kami akan menunggumu di bawah," kata Yugi sambil pergi meninggalkan kamar gadis itu.
Yurika lalu menutup pintu kamarnya sambil menghela napas pasrah. Jujur, gadis itu sama sekali tidak suka untuk pergi-pergi lagi—karena dia sudah cukup lelah dengan kejadian tadi, apalagi YAMI ikut pergi bersama mereka. Oh, no, ini tentu saja sanget buruk untuknya. Bayangan-bayangan aneh itu bisa saja muncul dan menghantuinya lagi. Oke, Yurika memang mempunyai prediksi kalau mungkin saja Yami itu reinkarnasi dari Pharaoh Atemu, dan dia beranggapan mungkin itu yang menyebabkan ingatan-ingatan masa lalu gadis itu muncul kalau di dekat Yami.
Tidak! Tidak! Tapi gadis itu tetap tidak percaya dengan hal itu! Dia lebih menganggap mereka berdua bukan orang yang sama! Bahkan dia menganggap Yami bukanlah reinkarnasi dari Atemu. Lebih parahnya lagi gadis itu tetap masih menyangkal kalau dirinya sebenarnya sudah sedikit mempercayai ingatan-ingatannya itu.
'Oh, Yurika! Kali ini tidak akan terjadi apapun! Lagipula kalau bayangan-bayangan itu muncul lagi, tidak usah dipedulikan! Ya benar! Abaikan saja bayangan-bayangan itu! Lagipula mana mungkin ada yang namanya reinkarnasi!' pikir Yurika sambil memakai jaket hitamnya dan berjalan ke luar dari kamarnya.
'Masutaa memang keras kepala... Aku tahu sebenarnya masutaa sudah mulai percaya dengan semua ingatan masutaa itu kan?' tanya Holy Elf.
'Tidak! Aku sama sekali tidak mempercayainya!' sangkal Yurika sambil buru-buru turun ke lantai bawah.
'Terserah masutaa mau berkata apa, tapi aku tahu isi hati masutaa yang sebenarnya,' kata Holy Elf.
~Downstairs~
"Jadi, kau sudah mengajaknya kan?" tanya Atem yang saat ini sedang duduk di sofa bersama Yugi.
Yami yang duduk di sofa di depan mereka hanya bisa diam saja. Pikirannya penuh dengan masalah ingatan masa lalunya dan gadis yang dicintainya saat ini.
"Maaf lama~" seru Yurika sambil berjalan menghampiri mereka bertiga.
"Kau ngapain saja sih di atas? Dandan ya?" tanya Yugi dengan nada setengah menyindir.
"Tidak! Hanya saja tadi... Er... Ada barang yang harus kubereskan sebentar! Ya benar! Ada yang harus kubereskan tadi!" kata Yurika dengan nada gugup.
Mana mungkin dia bilang dia tadi memang sengaja turun lama karena sebenernya dia memang enggan untuk ikut pergi.
'Mencurigakan...,' pikir Yugi dan Atem bersamaan.
"Ya sudahlah. Ayo kita pergi. Kasihan kalau Seto harus menunggu lama," kata Atem.
Lalu mereka berempat berjalan ke luar Game Shop menuju ke halte bis.
~Kaiba Corporation~
BRAK!
Sesosok gadis kecil berwajah manis bermata sebiru langit malam dengan rambut yang sewarna dengan matanya mendobrak pintu ruangan Seto. Gadis itu tampak tergesa-gesa menghampiri Seto yang sedang duduk di belakang meja kerjanya sambil mengetik di laptopnya.
Seto lalu mengalihkan pandangannya dari laptopnya dan menatap gadis kecil itu—Kaiba Mokuba, adik perempuan kesayangannya.
"Cepat sekali Mokuba...," kata Seto sambil beranjak dari kursinya.
Mokuba lalu mengatur napasnya yang terengah-engah, lalu mulai angkat bicara lagi.
"A-ano, a-aku tadi me-meminta Isono ngebut mengantarku! La-lalu, Vi-Virtual World! Apa nii-sama benar-benar sudah menyempurnakannya!?" tanya Mokuba terburu-buru dengan napas terengah-engah.
"Tentu. Apa kau benar-benar ingin memastikan hal itu sampai kau terburu-buru begini, Mokuba?" tanya Seto sambil menaikkan alisnya.
"Tentu saja! Lalu, mana yang lain!?" tanya Mokuba sambil menolah-nolehkan kepalanya ke sekitarnya.
"Belum datang. Mungkin sebentar la—"
"MAAF KAMI TELAT!" seru Atem yang baru saja memasuki ruangan Seto dengan ketiga orang lainnya.
"Ini salahmu karena kau lama, Yur," kata Yugi dengan nada memojokkan Yurika.
Sedangkan Yurika tidak merespon apapun. Pikiran terlalu penuh untuk mencerna semua kata-kata Yugi.
'Semoga tidak ada lagi bayangan-bayangan aneh yang muncul!' pikir Yurika.
"Akhirnya kalian datang! Jou! Mana Jou, nii-sama!?" tanya Mokuba buru-buru.
"Sudah menunggu di ruangan itu," jawab Seto sambil melewati orang-orang di depannya itu dan berjalan menuju ke lift diikuti yang lainnya.
Seto lalu menekan tombol untuk membawa lift menuju ke basement. Pintu lift kemudian tertutup secara otomatis dan lift itu membawa mereka menuju ke basement.
"Sebenarnya apa maksudmu dengan menyempurnakan Virtual World, Seto? Dan apa Virtual World yang kau maksud itu adalah...," Yami memutus perkataannya.
Seto hanya menghela nafas sebentar.
"Ya, tebakanmu benar. Ini Virtual World yang sama dengan Virtual World tempat tinggal si bocah tengil itu. Anggap saja alat yang baru kuciptakan ini dapat menghubungkan kita dengan Virtual World itu. Sebetulnya sejak sebelum Battle city, alat ini sudah bisa menghubungkan dunia ini dengan Virtual World. Hanya saja saat itu alat ini belum bisa mengirim jiwa kita ke sana," jelas Seto.
Yurika hanya mengernyitkan alisnya mendengar perkataan Seto. Siapa bocah tengil yang dimaksud Seto? Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?
~Basement~
Seto memasukkan password untuk membuka pintu yang kini ada di depan 6 orang itu. Pintu itu lalu terbuka begitu Seto menarik tangannya setelah selesai mengetik passwordnya. Mereka berenam lalu berjalan masuk ke dalam ruangan di balik pintu itu.
Di sana, terlihat Jou sedang berdiri menunggu kehadiran seseorang di sana. Jou lalu menengok ke arah keenam orang itu.
"Akhirnya! Kalian datang juga! Apa kalian tidak tahu betapa mengerikannya basement ini!?" tanya Jou kesal.
"Hmph, dasar penakut. Minggir, Bonkotsu. Aku harus segera mengoperasikan alatnya," kata Seto sambil mendorong tubuh Jou menjauh dari alat di belakangnya.
"Hei! Sopanlah sedikit! Kau kan bisa minta tolong agar aku minggir!" seru Jou kesal.
Seto tidak mempedulikan perkataan Jou. Tatapannya terus tertuju ke layar mesin di depannya, sedangkan tangannya sibuk menghidupkan alat yang dimaksud olehnya tadi.
"Kalian, masuk ke dalam kapsul di sana," perintah Seto sambil menunjuk sederetan tempat berbentuk kapsul di belakang mereka.
Tanpa banyak basa-basi, mereka semua—termasuk Seto, berjalan masuk ke dalam kapsul itu. Setelah sepuluh detik, kapsul itu tertutup secara otomatis dan alat-alatnya mulai berfungsi dan membawa jiwa mereka ke Virtual World.
~Virtual World~
Di sebuah hamparan padang rumput, terlihat Yurika terbaring tidak sadarkan diri bersama Yami di sebelahnya. Gadis itu perlahan-lahan mulai membuka matanya.
"Ngh, di mana ini?" tanya Yurika sambil membetulkan posisinya dan duduk memandang apa yang ada di sekelilingnya.
'Oh ya, ini pasti dunia bernama Virtual World itu,' pikir Yurika.
Yurika lalu memandang ke sebelahnya, dan mendapati Yami terbaring di sana. Matanya langsung terbelalak lebar begitu melihat sosok Yami di sana.
Sekilas, bayang-bayang seorang lelaki yang terbaring demgan perut tertusuk anak panah muncul di kepala gadis itu. Yurika penik dan langsung mengguncang-guncangkan tubuh Yami saking paniknya.
"Ya-Yami-kun!? Yami-kun! Bangun!" seru Yurika sambil mengguncang-guncang tubuh Yami.
Gelisah, takut, khawatir, panik, semuanya bercampura menjadi satu. Air mata mulai keluar dari kedua mata Yurika. Entahlah, gadis itu sendiri juga tidak tahu apa yang menyebabkannya menjadi seperti ini.
Perlahan-lahan, mata Yami mulai terbuka dan samar-sama mendapati bersurai pirang di depannya.
"Hime...?" panggil Yami pelan.
"Ka-kau tidak kenapa-napa kan!? Yami-kun!" teriak Yurika masih dengan nada khawatir—seakan benar-benar takut sesuatu terjadi pada lelaki di depannya itu.
"Tentu saja aku baik-baik saja. Pingsan sebentar saat baru masuk ke Virtual World itu tidak aneh," jelas Yami sambil mengubah posisinya menjadi posisi duduk.
"Cih! Kenapa tidak kau katakan dari tadi sih!? Kau membuatku khawatir saja!" kata Yurika kesal.
"Hahaha, maaf, aku lupa memberitahumu sebelum kita pergi ke Virtual World. Lalu, apa kau tahu di mana yang lainnya?" tanya Yami sambil memandang sekelilingnya—mencari teman-temannya yang lain.
Yurika menghela nafas panjang, lalu menggeleng pelan.
"Mereka tidak ada di sini. Saat aku sadar, aku melihat hanya kau yang ada di sini," kata Yurika.
Yami lalu berdiri dan berkata, "Hem, kalau begitu, ayo kita pergi. Kita cari mereka."
Mereka berdua lalu berjalan meninggalkan tempat itu.
~Virtual Forest~
Di sebuah hutan, terlihat Atem dan Yugi sedang berjalan bersama. Mereka sepertinya sedang mencari teman-teman mereka yang lain.
"Kita harus ke mana, Yugi?" tanya Atem.
Yugi hanya menggeleng pelan saja.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Kita jalan saja terus. Nanti kita juga pasti ketemu sendiri dengan yang lainnya," kata Yugi.
"Semoga saja kau benar...," kata Atem dengan nada pasrah.
~Virtual Castle~
Di sebuah istana, terlihat Jou sedang berjalan bersama Seto sambil mengumpat kesal.
"Kenapa aku harus di sini bersamamu sih? Pasti ini akal-akalanmu untuk mengerjaiku," kata Jou kesal.
"Ha! Aku? Sengaja mengatur agar aku muncul di Virtual World si tempat yang sama denganmu? Kau bercanda? Aturan alatnya memang begini tahu! Kita akan dipisah-pisah ke tempat yang berbeda secara acak. Lagipula siapa yang sudi bersama dengan bonkotsu sepertimu?" kata Seto menyangkal perkataan Jou tadi.
"Kuso! Aku juga tidak mau bersama dengan jamur sombong yang kerjaannya hanya mengatai orang lain!" seru Jou kesal.
Mereka lalu terus berjalan sambil terus mengatai satu sama lain.
~Virtual Cave~
Di sebuah gua, terlihat Mokuba terus berlari terburu-buru ke dalam gua itu. Napasnya terengah-engah karena sudah berlari dari tadi. Tak jarang dia terjatuh karena tersandung bebatuan di dalam gua itu.
Setelah sekian lama berlari, akhirnya Mokuba sampai ke bagian paling dalam dari gua itu. Terlihat empat layar tersusun dua di atas dan dua yang lainnya di bawahnya dan alat-alat yang sepertinya digunakan untuk mengatur Virtual World.
Melihat sebuah tombol menyala-nyala sendiri, Mokuba langsung memencet tombol tersebut. Entah apa yang akan terjadi setelah itu, Mokuba juga tidak tahu. Ia hanya ingin menghilangkan rasa penasarannya sebelum ia kembali mencari apa yang ingin dibuktikannya.
Tak lama setelah Mokuba menekan tombol itu, di keempat layar tadi, muncul sesosok lelaki berambut hijau bermata blue lazuli muncul dengan ukuran close up. Mata Mokuba langsung terbelalak lebar melihat sosok itu tiba-tiba muncul di layar.
"No-NOA!?" seru Mokuba kaget.
Sosok di dalam layar itu—Kaiba Noa, lalu tersenyum tipis, seakan-akan dia dia bisa melihat wajah kaget Mokuba.
/Mungkin aku tidak bisa melihat siapa yang mendapat pesanku sekarang, tapi aku yakin, kau ada di sana kan Mokuba? Oke-oke, aku tahu pasti kau sedang kaget sekarang,/ kata Noa sambil terkekeh kecil.
"A-apa maksudnya ini!? Noa! Kau di mana!?" tanya Mokuba dengan setengah berteriak.
/Mokuba, tolong dengarkan aku baik-baik. Aku mau cerita tentang kejadian setelah kalian pergi dari Virtual World. Kalian pasti saat itu mengira Virtual World menghilang bersamaan dengan hancurnya alat-alat yang menghubungkan dunia nyata dengan Virtual World. Awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi, ternyata tidak. Virtual World masih ada karena alat lain yang juga menghubungkan dunia nyata dengan Vitual World—alat yang diciptakan Seto. Karena masih adanya jembatan lain yang menghubungkan dunia nyata dengan Virtual World, maka Virtual World belum menghilang, dan jiwaku juga masih di sini. Tapi... Jiwa chichiue tidak terselamatkan. Dia terlalu banyak memakai kekuatannya dan akhirnya jiwanya menghilang dari Virtual World dan terkirim kembali ke alam barzah, dan aku... Kembali sendirian...,/ cerita Noa dengan nada sendu.
Noa menundukkan kepalanya. Sepertinya dia tidak mau saat ini Mokuba melihat sisi lemahnya.
"Aku tidak peduli dengan Gouzaburou! Aku hanya mau tahu kau di mana! Kau di mana!? Di mana!?" seru Mokuba kesal setengah menangis.
/Tidak lama sebelum ini, aku melihat sebuah cahaya muncul dari langit. Bersamaan dengan itu, sebuah suara mengatakan bahwa dia adalah Ra, dan dia memerintahkanku untuk melepaskan jiwaku dari Virtual World dan kembali ke alam barzah. Mungkin memang aneh, mengingat ini adalah dunia komputer, bukan dunia nyata. Tapi sepertinya yang namanya mujizat juga dapat terjadi di sini. Awalnya aku menolak perintah Ra, karena aku berharap mungkin saja kau dan Seto akan mengeluarkanku dari sini. Tapi kemudian dia memberikanku suatu penawaran yang membuatku memutuskan untuk kembali ke alam barzah,/ kata Noa.
Mokuba hanya dapat berekspresi bingung saja.
"Penawaran? Penawaran apa? Lalu apa mungkin... Pesan ini... Pesanmu sebelum kau pergi ke alam barzah?" tebak Mokuba takut-takut.
Kalau benar Noa kembali ke alam barzah, itu berarti dia tidak akan bisa bertemu lagi dengan Noa bukan? Mokuba sangat takut jika itu benar-benar terjadi.
/Soal penawaran itu, aku tidak bisa mengatakannya padamu. Dan soal di mana aku, mungkin kau sudah bisa menebak, aku mungkin ada di alam barzah sekarang. Ini adalah pesan terakhirku sebelum aku pergi dari sini...,/ kata Noa dengan nada lirih.
Air mata Mokuba langsung mengalir deras dari kedua matanya yang segelap langit malam itu.
Bohong. Noa, kakak angkat yang sudah disayanginya layaknya saudara kandung, sudah tidak mungkin lagi bertemu dengannya?
"Katakan kalau ini bohong Noa! Ini bohong kan, Noa!? Noa... Ini bohong kan...?" tanya Mokuba sambil terisak pelan.
/Mokuba, apa kau ingat saat kau berkata kalau kita adalah saudara? Aku... Aku memang merasakan sesuatu yang lebih padamu. Aku memang tidak menganggapmu sebagai adik dari orang yang kubenci... Rasanya lebih dari itu... Hanya saja, aku tidak tahu apa. Dan kurasa itu bukan perasaan sebagai saudara...,/ kata Noa dengan nada serius.
"A-apa maksudmu? Kalau kau tidak menganggapku sebagai saudara, kau anggap aku apa?" tanya Mokuba dengan nada sedikit kesal.
Sakit. Rasanya sakit. Tidak dianggap orang yang dianggapnya sebagai saudara itu sangat sakit...
/Dan juga, aku memang berterima kasih padamu karena kau mengembalikan perasaan dan pola pikirku sebagai manusia. Tapi, itu bukan berarti aku sudah tidak dendam pada Seto. Aku masih benci padanya, walau tidak separah dulu. Lalu Mokuba, aku mau mengatakan kalau aku sebenarnya—bzzt! Zzt!/
Mata Mokuba terbelalak. Sosok Noa di dalam layar itu kemudian menghilang. Mesin itu rusak... Tampilan di layar itu kemudian menjadi hitam.
"Noa? Noa! NOA! Apa yang mau kau katakan!? Noa! Kembali! NOAAA!" seru Mokuba sambil memukul-mukul mesin itu—berharap mesin itu akan kembali menyala setelah dia memukul-mukul mesin itu.
Sayangnya, mesin itu sama sekali tidak menyala. Mokuba lalu hanya bisa berlutut sambil menangis dan membenamkan wajanya di atas tombol-tombol alat tadi.
"MOKUBA!" teriak sebuah suara.
Lalu terdengar langkah kaki dua orang menghampiri Mokuba.
Kedua orang itu—Seto dan Jou, terbelalak kaget begitu melihat gadis kecil itu menangis.
"Mokie! Kau kenapa!?" tanya Jou panik.
"Ada apa!? Siapa yang menyakitimu!? Biar kuberi pelajaran pada orang itu!" seru Seto sambil mengguncang-guncang bahu adiknya itu.
"Ukh... Nii-sama... Noa...," kata Mokuba masih sambil terisak pelan.
"Apa apa dengan Noa!? Kau sudah menemukannya!? Dia benar-benar ada di sini!? Dia menyakitimu!?" tanya Seto panik.
"Tidak... Bukan... Bukan itu... Noa sudah... Noa sudah pergi dari sini! Dia melepaskan jiwanya dari sini dan kembali ke alam barzah!" seru Mokuba sambil memeluk Seto dan menangis sekeras-kerasnya.
Seto hanya bisa mengelus kepala gadis itu saja. Dia tidak tahu harus melakukan apa lagi. Seto dan Jou hanya bisa terdiam seribu kata saja melihat Mokuba menangis.
Satu yang ada di pikiran Seto dan Jou, kenapa Mokuba begitu peduli pada Noa—orang yang jelas-jelas benci pada Seto dan hampir membuat mereka berada di Virtual World untuk selamanya? Padahal Mokuba jelas-jelas pasti akan kesal pada orang yang membenci Seto dan dia biasanya pasti akan lebih membela Seto tanpa berpikir panjang.
Sebenarnya apa Mokuba benar-benar menyayangi Noa hanya karena dia saudara angkatnya yang turut menderita di bawah penyiksaan Gouzaburou—ayah angkatnya?
Ingin rasanya mereka berdua bertanya pada Mokuba, hanya saja waktunya tidak tepat. Mana mungkin mereka bertanya saat Mokuba masih menangis sedih seperti ini.
Tapi, apa sebenarnya penawaran yang dibuat oleh Ra kepada Noa?
~In Front of Virtual Cave~
Di depan gua itu sendiri, terlihat Yurika dan Yami sedang berdiri dan terdiam menatap ke dalam gua itu.
"..."
Yurika hanya bisa terdiam. Sejak tadi, dia sama sekali tidak percaya dia ada di Virtual World. Semua pemandangan di sekelilingnnya dan sentuhannya terhadap suatu benda terasa sangat nyata.
"Ini benar-benar Virtual World kan?" tanya Yurika masih bingung.
"Tentu saja, kalau tidak ini apa? Dunia nyata? Tidak mungkin dunia nyata itu sepi dan tidak ada banyak orang begini," kata Yami.
"OI! YURIKA, YAMI! ITU KALIAN KAN!?" teriak Yugi dari kejauhan sambil berlari menghampiri mereka dan menarik Atem.
"Tentu saja bodoh, kalau tidak kita siapa?" tanya Yurika dengan nada ketus.
"Ano, Yugi, bi-bisa lepaskan tanganku?" tanya Atem sambil menunjuk tangannya yang masih digenggam oleh Yugi.
"Ah, gomen!" kata Yugi sambil melepaskan tangan Atem dengan wajah memerah.
Yurika dan Yani hanya bisa terdiam melihat mereka berdua. Satu yang ada di pikiran mereka, jangan-jangan Yugi dan Atem berdua itu lagi tanda-tanda jatuh cinta...
Tiba-tiba cahaya putih menyelemuti mereka. Entah apa yang terjadi, tapi mereka merasa kalau jiwa mereka sudah tidak ada di Virtual World.
~Real World~
~Kaiba Corporation~
~Basement~
Kapsul tempat mereka bertujuh tidur tadi lalu terbuka bersamaan dengan non-aktifnya alat yang membawa merek ke Virtual World. Mereka bertuju lalu perlahan-lahan membuka matanya dan keluar dari kapsul itu.
"Noa...," ucap Mokuba pelan.
Dirinya masih mengingat jelas pesan Noa di Virtual World tadi. Noa... Sudah tidak ada di Virtual World lagi...
"Mokuba...," panggil Jou dengan nada khawatir.
"Kenapa tiba-tiba kita bisa kembali ke dunia nyata?" tanya Yugi.
"Aku yang mengatur semuanya. Aku bisa membuat kita kembali kapan pun," kata Seto.
"Kenapa!? KENAPA!? KENAPA NOA HARUS PERGI!?" teriak Mokuba dengan nada tidak terima.
Dia kembali menangis sejadi-jadinya sambil memeluk Jou.
Sedangkan di lain pihak, Yurika terbelalak mendengar perkataan Mokuba tadi.
"Ka-kau bilang apa tadi Mokuba? No-Noa?" tanya Yurika masih dengan wajah kaget.
"Kaiba Noa, saudara angkat Mokuba dan Seto yang sudah meninggal sebelum Gouzaburou mengangkat mereka sebagai anaknya. Tapi setelah meninggal, Gouzaburou memasukkan jiwa Noa ke dalam Virtual World tadi. Terakhir yang kami tahu, Noa meninggal bersamaan dengan hancurnya alat yang menghubungkan dunia nyata dan Virtual World yang ada di dekat Alcatraz," jelas Yami.
"Tidak, kau salah, Yami. Kami menyelidiki bahwa Noa seharusnya belum meninggal, karena Virtual World masih ada saat itu. Aku sempat membuat alat yang secara tidak sengaja menghubungkan dunia nyata dengan Virtual World yang sama dengan milik Noa. Ya, inilah alatnya. Mungkin saja jika jiwanya kembali ke Virtual World dan belum kembali ke alam barzah sebelum ini," jelas Seto.
"Bi-bisa tolong jelaskan ciri-ciri fisiknya?" tanya Yurika terbata-bata.
"Dia berambut hijau dan bermata biru lazuli seperti Seto," kata Yugi.
Yurika menelan ludahnya. Ini tidak mungkin...
"Kaitou... Noa...," kata Yurika pelan.
Semua pandangan langsung tertuju ke Yurika. Semua memandangnya dengan tatapan binngung.
"Apa? Tadi kau bilang apa Yurika?" tanya Atem.
"Seto, apa kau tahu Kaitou Corporation?" tanya Yurika.
Seto hanya mengernyitkan alisnya mendengar perkataan Yurika.
"Tentu saja. Itu perusahaan yang terbesar keempat di dunia kan? Kenapa kau bertanya begitu?" tanya Seto bingung.
"Kau tahu CEOnya?" tanya Yurika lagi.
"Tentu, Kaitou Kirito kan? Memangnya kenapa?" tanya Seto.
Yurika menggeleng pelan mendengar perkataan Seto.
"Salah, bukan dia. Sebulan lalu memang dia, tapi sekarang bukan. Kirito tahun lalu mengalami kecelakaan dan meninggal. Lalu, jabatannya diserahkan pada anaknya yang masih kelas 1 SMA saat ini. Dan nama anak itu... Kaitou Noa... Kudengar dia saat ini berniat untuk mengalahkan Kaiba Corp...," kata Yurika.
Mokuba langsung kaget begitu nama Noa disebut oleh Yurika. Gadis itu langsung menghampiri Yurika dan mengguncang-guncang bahu gadis bersurai pirang itu.
"Yurika-nee tidak bercanda kan!? Katakan, di mana Kaitou Noa!? Di mana!?" tanya Mokuba dengan nada memaksa.
"Aku tidak tahu, Mokuba... Aku tidak tahu dia saudaramu itu atau bukan, tapi cepat atau lambat kau pasti akan bertemu dengannya, karena dia sedang mengincar Kaiba Corp... Hati-hatilah Mokuba, kau bisa jadi sasarannya juga. Kudengar Kaitou Noa itu kejam yang berhati dingin dan rela melakukan apapun demi apa yang dia inginkan," kata Yurika sambil menatap Mokuba dengan tatapan serius.
"A-apa? Kau bercanda kan, Yurika-nee?" tanya Mokuba tidak percaya.
Yurika menggeleng pelan.
"Aku serius. Berhubung Yuki adalah CEO dari Kisaragi Corp, jadi aku bisa mendapat semua informasi sebagai adik dari sang CEO. Dan dari semua data yang kudapat, Kaitou Corp memang sepertinya mengincar kedudukan Kaiba Corp sebagai perusahaan tersukses di dunia. Lalu, ini., Data Kaitou Corp beserta dengan data Kaitou Noa," kata Yurika sambil mengambil sebuah bungkusan dari tasnya—bungkusan yang sama dengan bungkusan yang Yugi temukan di koper Yurika waktu itu.
Mokuba lalu membuka bungkusan itu. Isinya terdapat banyak buku dan berkas-berkas tentang Kaitou Corporation dan sang CEO dari perusahaan itu, Kaitou Noa. Mokuba menatap Yurika dengan tatapan 'ini tidak mungkin kan?'
"Noa? Noa mengincar Kaiba Corp? Ini tidak mungkin! Dia pasti bukan Noa! Noa tidak mungkin mengincar Kaiba Corp! DIA BUKAN NOA KAKAKKU!" seru Mokuba sambil berlari keluar dari sana.
"MOKUBA!" seru Seto sambil berusaha mengejar Mokuba.
Mokuba langsung berlari menuju ke lift begitu ia selesai memencet password untuk membuka pintu depannya. Seto tetap berusaha berlari mengejar Mokuba, hanya saja terlambat, pintu lift sudah terburu tertutup dan lift sudah bergera membawa Mokuba kembali ke lantai atas. Seto hanya bisa menonjok pintu lift itu dengan kesal.
"Kuso! MOKUBA!" seru Seto.
"A-ano, maafkan aku, harusnya aku tidak membicarkan tentang hal itu di depan Noa... Tadinya aku hanya berniat memberitahumu saja Seto," kata Yurika dengan nada menyesal.
"Tenanglah, Hime. Ini bukan salahmu. Kau hanya berusaha memperingatkan Mokuba untuk hati-hati pada orang bernama Kaitou Noa itu," kata Yami sambil mengelus pelan kepala Yurika.
"Semoga Mokuba langsung pulang ke rumahnya...," kata Jou.
~Ground Floor~
Mokuba terus berlari sambil menangis tanpa melihat ke depan. Mungkin orang bernama Kaitou Noa itu belum terbukti kalau dia adalah Kaiba Noa—kakak angkatnya. Tapi entah kenapa Mokuba rasanya sakit kalau mendengar seseorang bernama Noa, mengincar Kaiba Corp. Dia seakan-akan kembali mengingat saat Noa mengincar Seto dan ingin merebut kembali Kaiba Corp.
'Dia pasti bukan Noa! Orang itu pasti bukan Noa!' pikir Mokuba.
Bruk!
Sebelum mencapai pintu depan tiba-tiba saja Mokuba tertabrak dengan seseorang.
"I-itai... Gomen... Aku tidak memperhatikan jalan tadi," kata Mokuba sambil menghapus air matanya dan mendongakkan kepalanya ke arah orang yang ditabraknya tadi.
Mata Mokuba langsung terbelalak lebar. Sesosok lelaki yang terlihat lebih tua dari Mokuba berambut hijau dengan mata blue lazuli menatapnya dengan tatapan datar.
"No-Noa...," bisik Mokuba pelan.
"Lain kali, hati-hati kalau jalan, Kaiba Mokuba," kata lelaki itu dengan nada tajam.
'Bukan, dia bukan Noa! Noa tidak sedingin ini padaku!" pikir Mokuba sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mokuba lalu berdiri dan membungkuk minta maaf pada lelaki tadi.
"Gomen! Hontou ni gomenasai! Aku benar-benar tidak sengaja!" kata Mokuba.
Rasanya air matanya ingin mengalir keluar lagi begitu melihat wajah lelaki di depannya itu.
"Kumaafkan," kata lelaki itu.
"A-aku duluan!" kata Mokuba sebelum melanjutkan melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.
Sayangnya, baru saja selangkah Mokuba berjalan, pergelangan tangannya sudah ditari oleh lelaki tadi. Lelaki tadi lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Mokuba.
"Katakan pada kakakmu, aku pasti akan merebut apa yang jadi milikku, Mokuba," bisik lelaki tadi.
Mata Mokuba membulat. Sekilas tadi, terdengar nada licik dari suara lelaki itu. Nada itu persis dengan cara Noa bicara saat masih dendam dengan Seto pertama kali.
'Mokuba.'
Suara itu juga, persis dengan cara Noa memanggilnya.
Mokuba lalu menoleh ke belakang, dan mendapati lelaki tadi menyeringai licik, walau tidak terlalu terlihat.
"Siapa kau?" tanya Mokuba dengan wajah kaget.
"Kaitou Noa, CEO Kaitou Corporation. Yoroshiku, KAIBA Mokuba," kata lelaki tadi dengan penekanan di nama Kaiba.
'Siapa sebenarnya lelaki ini? Kenapa dia mirip sekali dengan Noa?' pikir Mokuba.
Noa lalu berjalan pergi meninggalkan Mokuba yang sedang kebingungan di tempatnya.
'Apa dia benar-benar Noa?'
.
.
Tsuzuku
.
.
Gia : STEPSHIPPING! YEEEEI!
Bakura : MANA BAGIAN GUE!?
Gia : Wuah! Sabar bang! Gantian dulu!
Yami : *Sweatdrop* Udah kaga ngambek dia?
Yurika : Dia emang gampang berubah...
Seto : MANA BOCAH TENGIL ITU!?
Gia : Em, udah pergi duluan habis syuting buat ngurusin Gouzaburou yang ngamuk~
Mokuba : Bagianku lumayan banyak juga di sini
Holy Elf : Masutaa memang tidak pernah jujur...
Yurika : *Ketawa kering* Hahaha, bahkan kau bilang seperti itu?
Jou : Ayo bales review~
.
Ruega Kaiba :
Gia : SIAP BOS~! *Hormat* Semoga chap ini gak separah kemaren...
Yami : MAUNYA JUGA BEGITU! CUMA NASKAHNYA! NASKAAAH!
Seto : Huft, nih anak udah sering banget bikin syuting gagal. Sampe harus take berapa kali coba? Dan apa maksudmu aku edan? Rasanya aku tetap seperti biasa... Kalau memang terlihat seperti itu, salahin dia *Nunjuk Gia*
Yurika : Tuh, Blindshipping udah ada~ Berarti bagian gue makin dikit~ Hwahaha!
Bakura : Kalau Cuma nunggu sih, gue udah biasa. Liat aja tuh, gue udah cukup sabar karena mesti nunggu 3000 tahun buat keluar dari Sennen Ring
Marik : Gua sih terserah saja
Gia : THANKS FOR REVIEW~!
.
Litte Yagami Osanowa :
Gia : INI DIA! BLINDSHIPPING! *Nunjuk-nunjuk Atem sama Yugi*
Yugi : Akhirnya gue dapet bagian *Nangis terharu*
Atem : Aku juga! Ahaha!
Yurika : WHAT!? NIKAH!? SAMA DIA!? OGA—
Gia : Diem OC, nasib lu gue yang nentuin~
Yami : RATED M!? BOLEH BANGET!
Gia : GUE YANG MENDERITA KALI YAM! TANGAN GUE YANG KEJANG-KEJANG BIKIN RATED M LAMA-LAMA!
Yurika : GAK ADA LEMON!
Yami : HARUS ADA! HIDUP LEMOOON!
Atem : Err... Kalian mau LEMON? Perlu kubeliin di pasar?
Gia : BUKAN LEMON YANG BUAH NAK ATEM! TTATT
Atem : Jadi?
Yami : (Kenapa kembaran gue polos amat? TT-TT)
Yugi : Thanks for review!
.
Ryo Kagami :
Gia : Ane sih ijinin aja, tapi nanti ada Yami yang gerak duluan kalo cewenya direbut -w-
Yami : KAGAK BOLEH! HIME PUNYA GUEEE!
Yurika : Ada yang bilang kalau gue punya lu ya emang?
Yami : Ada, gue yang bilang!
Gia : WHAT!? Benarkah!? Tapi kurasa belom Rated M kok~ Belom ada LIMEnya~ Hwahaha~
Yurika : Gue yang bakal gerak duluan kalo lu anti nih fic jadi Rated M -_-
Yami : Hime gue emang terlalu menarik~ Hwahaha~
Gia : Em, boleh jadi apa aja kan? Tapi aku butuh data ciri fisik, kepribadian, dan lain-lainnya dulu~
Yami : WHAT!? HIMEEE! JANGAN BALIK LAGI LUUU!
Gia : JANGAN NGUSIR-NGUSIR ORANG WOI RAMBUT BINTANG!
Yugi : Thanks for review!
.
Erlangga186 :
Gia : Eh? Berani apanya kah? *A*
Yurika : Tenang aja, author ini pasti update paling lambat sebulan sekali
Seto : Doakan saja nih author kaga HIATUS 3 bulan gara-gara ujian
Gia : Gue juga kaga mau HIATUS TTwTT Makasih banget reviewnya! XD
.
Yurika : Semoga Gia HIATUS gara-gara ujian
Gia : KEJAM LU OC! TTATT
Mokuba : Er, ngomong-ngomong, chapter ini agak panjang ya?
Yami : Iya, gara-gara bagianmu sama Noa, makanya panjang
Seto : *Aura gelap*
Jou : Jangan ngeluarin aura gelap begitu kenapa!?
Bakura : CHAPTER DEPEN MESTI ADA GUE!
Gia : Kagak janji -w- Doa aja beneran ada
Yami : Maaf atas semua typo dan kecacatan yang ada
Yurika : Makasih udah mau baca chapter ini dan mengisi kotak review
Gia : DOAIN SAYA CEPET DAPET LAPTOP YA! MPPH!
-Gia dibungkem rame-rame sama para Yami-
Atem : Selamat menunggu chapter 7! Semoga author cepet dapet ilham!
