Gia : Akhirany update setelah ujian praktek berkepanjangan! YUHUUU!

Yurika : LU MASIH UJIAN PRAKTEK BAKA! HARUSNYA LU BELAJAR!

Yami : BAGUS! UPDATE JUGA AKHIRNYA!

Jou : Kok firasat gue jelek ya?

Gia : Oke, ane tahu ini pasti chapter yang rasanya paling gaje sepanjang masa! Dan untuk para pendukung Blindship, maaf di chap ini sedikit! Tapi janji deh chapter depan dibanyakin! HWAHAHA!

Atem : Happy reading!

.

.

The Next Journey

.

By : Gia-XY

.

Previously :

Mokuba lalu menoleh ke belakang, dan mendapati lelaki tadi menyeringai licik, walau tidak terlalu terlihat.

"Siapa kau?" tanya Mokuba dengan wajah kaget.

"Kaitou Noa, CEO Kaitou Corporation. Yoroshiku, KAIBA Mokuba," kata lelaki tadi dengan penekanan di nama Kaiba.

'Siapa sebenarnya lelaki ini? Kenapa dia mirip sekali dengan Noa?' pikir Mokuba.

Noa lalu berjalan pergi meninggalkan Mokuba yang sedang kebingungan di tempatnya.

'Apa dia benar-benar Noa?'

.

Summary :

Kenapa rasanya anak baru di kelas sebelah mengingatkan Yurika pada sesuatu? Jou tidaik masuk? Ada apa sebenarnya? /'Masutaa, kurasa... Aku mengenal lelaki tadi...'/'Kau telah... Mengecewakan nee-san, Jouno...'/'Aku akan kembali, Master—ah salah, maksudku, Jouno... Aku janji...'/

.

Disclaimer :

Yu-Gi-Oh! © Takahashi Kazuki

Story, Gia's OC : Kisaragi Yurika, Yukarina Hikari, Kirino Masahiro © Gia-XY

Ryo's OC : Kazami Ryo © Aertyu Ghfd

.

Warning :

OC, OOC, OC as main lead, genderbend, typo(s), misstypo(s), semi-canon, sedikit bahasa Jepang, krisis kosakata, DLDR, dll.

.

Journey 7

Jou's New Problem

.

.

~2nd Jule~

~Kitchen~

Di dapur, terlihat Yurika, Yami, Atem dan Yugi sudah memakai seragam sekolah mereka dan sedang memakan roti yang ada di tangan mereka masing-masing. Wajah Yurika terlihat sangat kusut, bahkan lebih kusut dari biasanya.

'ARGH! Kuso! Mimpi sialan! Bisa-bisanya aku bermimpi mengerikan seperti itu!' pikir Yurika sambil mengumpat kesal dalam hatinya.

Sebetulnya mimpi apa yang didapat Yurika semalam?

-Dream's Flashback-

"Tch! Bakura!" seru Atemu yang berpegang pada ujung jurang dengan nada kesal.

"Aku mendapatkannya," kata seorang lelaki berkulit tan berambut putih tersenyum licik sambil mengambil Sennen Puzzle yang tadinya tergantung di leher Atemu.

"Hehehe. Sayonara, Ousama," kata lelaki itu—Bakura Touzokuou masih sambil tersenyum licik penuh kemenangan lalu menghentakkan kakinya di dekat tebing tempat Atemu berpegang.

Hanya satu hentakan, tetapi dapat membuat tanah yang digenggam Atemu pecah dan jatuh ke dalam jurang bersama dengan Atemu.

"Aaaaahhhh!" teriak Atemu.

Tiba-tiba sebuah cahaya muncul.

Sring...

"Holy Elf!?" tanya Atemu tidak percaya.

Ya, cahaya itu berubah menjadi Holy Elf.

"Kh... Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan ousama! Aku tidak boleh gagal! Holy Barrier!" seru Hikari yang tidak jauh dari tempat Atemu dan Bakura sambil bersimpuh dan menyatukan kedua tangannya untuk mengendalikan Holy Elf.

Lalu muncul cahaya yang menyelimuti tubuh Atemu dan roh Hikari terbang mengikuti arah Atemu jatuh.

"Hikari!? Apa yang kau lakukan!?" seru Atemu dengan wajah shock.

"Aku... Hanya ingin menyelamatkanmu, Ousama," kata Hikari dengan nada lirih.

"Hikari! Apa maksudmu!? Kemana Bakura membawamu selama ini!?" tanya Atemu panik.

"Kul Elna... Di menyembunyikanku di ruang bawah tanah yang hanya bisa dimasuki orang-orang asli Kul Elna... Setelah ini, pergilah ke sana, Ousama. Hanya kau yang bisa menyelesaikan semuanya... Setelah ini, aku akan kembali ke sisi para dewa. Kumohon, ini permintaan terakhirku... Selamatkan semuanya...," kata Hikari dengan wajah sedih.

"Kembali ke sisi para dewa!? Jangan bercanda! Kau tidak boleh pergi! Ini perintah Hikari!" seru Atemu dengan nada memaksa.

"Gomen... Gomen... Aku tidak bisa menurutimu kali ini... Ini sudah tadir yang diberikan para dewa untukku... Kita pasti akan bertemu lagi... Pasti... Saat itu, aku akan tetap setia padamu dan menuruti semua perintahmu... Jadi kumohon, maafkan aku...," kata Hikari dengan nada memohon.

Air mata keluar dari kedua mata aquamarinenya. Atemu hanya bisa terdiam menatap Hikari, lalu mulai bicara lagi.

"Kalau begitu, ini perintah terakhirku sebelum kau pergi. Kau harus jawab pertanyaanku—tentunya kau harus menjawabnya dengan jujur. Apa kau marah atas perlakuanku selama ini—yah, kau tahu kan maksudku? Apa kau membenci perlakuanku selama ini?" tanya Atemu sambil menatap gadis itu dan berusaha meraih pipi gadis itu—walau dia tahu itu tidak mungkin, karena saat ini Hikari hanya berupa roh. Tapi, Atemu merasakan sebuah kehangatan di tangannya saat ini.

"Aku... Tidak... Aku tidak membencinya...," jawab Hikari pelan.

"Kalau begitu... Hikari, aishiteru... Apa kau juga punya perasaan yang sama denganku?" tanya Atemu sambil menatap gadis itu dengan tatapan serius.

Hikari menundukkan kepalanya. Apa ini saatnya dia menyatakan yang sabenarnya?

"Atashi... Ousama, aishiteru," kata Hikari sambil tersenyum kecil dan menatap Atemu dengan tatapan hangat.

Perlahan-lahan tubuh gadis itu mulai menghilang. Mata Atemu langsung terbelalak melihat hal itu.

"Hikari! Hikari! Kau kenapa!?" tanya Atemu panik.

"Waktuku habis... Ousama, berjanjilah kau akan mencintaiku sekali lagi saat kita bertemu lagi dan membalas perasaanku... Terima kasih untuk semuanya...," tutur Hikari sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Atemu.

Gadis itu mencium Atemu dengan lembut sebelum tubuhnya benar-benar hilang sepenuhnya.

"HIKARIII!"

-Dream's Flashback End-

Di sisi lain, Yami yang sepertinya juga mendapat mimpi yang sama, sepertinya lagi-lagi mulai sibuk dengan pikirannya sendiri.

'Jadi seperti itu yang sebenarnya terjadi...,' pikir Yami.

"Ah, Yurika, aku mau tanya tentang Kaitou Noa! Apa kau pikir, Noa akan bisa membahayakan Mokuba?" tanya Atem.

Yurika menggeleng pelan.

"Entahlah... Kuharap tidak... Ngomong-ngomong, kudengar dia akan pindah dari Domino International High ke Domino High. Kurasa dia benar-benar serius mengincar kedudukan Kaiba Corp," kata Yurika sambil memakan bagian terakhir dari rotinya.

"Kuharap tidak terjadi sesuatu pada Mokuba... Aku tahu Seto bisa menjaga dirinya, jadi mana mungkin Noa mengincar Seto. Tapi Mokuba... Mungkin dia masih terbawa oleh bayang-bayang Kaiba Noa," kata Yugi sambil beranjak dari kursinya.

"Ah, ayo berangkat. Kita bicarakan lagi nanti," kata Atem sambil berjalan keluar bersama Yugi meninggalkan dua orang di belakangnya.

"..."

Yurika terdiam. Ia bingung harus bertingkah seperti apa jika hanya berdua dengan Yami. Tanpa banyak basa-basi, ia lalu berdiri dari tempat duduknya.

"Kau terus menghindariku sejak kemarin. Apa yang membuatmu bertingkah seperti itu? Apa ada sesuatu yang terjadi? Atau ada yang salah denganku?" tanya Yami dengan nada tajam.

"Sudah kubilang kan? Tidak ada apapun yang terjadi," elak Yurika sambil berjalan menuju ke depan Game Shop diikuti Yami.

'Dia benar-benar menghindariku...,' pikir Yami sambil menghela napasnya.

Yami tiba-tiba teringat kata-kata Hikari yang ada di mimpinya.

"Saat itu, aku akan tetap setia dan menuruti semua perintahmu..."

Yami lalu tersenyum kecil melihat wanita yang saat itu berjalan di sampingnya.

'Tidak ada salahnya kucoba kan?' pikir Yami.

"Yurika, jawab pertanyaanku dengan jujur. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Yami lagi.

"Sudah kubilang tidak a—"

BRAK!

"Jawab dengan jujur! Ini perintah, bukan perminataan!" seru Yami dengan nada tegas sambil memojokkan wanita itu di dinding.

Yurika terhenyak. Badannya bergetar hebet. Takut, dia takut pada lelaki di depannya... Apa dia memang harus menuruti lelaki tiu dan mengatakan yang sebenarnya? Tidak! Dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya! Tapi, dirinya seakan tidak bisa melawan perintah itu. Tatapan tegas itu... Mirip sekali dengan Atemu... Ya, Hikari dulu tidak akan bisa melawan kalau Atemu sudah mengeluarkan tatapan seperti itu.

"A-aku... Aku... Sebenarnya—"

"Yurikaaaa! Yamiiii! Kalian ini lama sekali sih!" seru Atem sambil berlari menghampiri Yami dan Yurika bersama Yugi.

Yurika langsung sadar dengan apa yang baru saja akan dikatakannya langsung mendorong Yami.

"Sama sekali tidak terjadi apapun! Sungguh... Kenapa kau begitu bersikeras kalau ada sesuatu yang terjadi...?" tanya Yurika sebelum dirinya meninggalkan Yami dan berlari menghampiri Atem dan Yugi.

Sementara Yami hanya berdecih kesal saja begitu Yurika pergi meninggalkannya dengan tergesa-gesa.

'Tch! Timingmu tidak tepat Atem!' umpat Yami dalam hatinya.

Yami lalu berjalan menyusul ketiga orang di depannya.

~07.15 Ρ.M.~

~Domino High School~

~Class Corridor~

Di koridor kelas, terlihat Yurika sedang berlari tergesa-gesa sambil membawa beberapa lembar kertas di tangannya.

'GAH! Seenaknya saja guru itu menyuruhku mengambil laporan ini dalam waktu 5 MENIT!?' pikir Yurika kesal sambil terus berlari.

Yap, memang tadi Yurika disuruh mengambil contoh laporan laboratorium milik gurunya di ruang guru. Ckckckck, nasibmu memang malang nak! (Yurika : Ini kan semua gara-gara naskah kaga guna lu!)

Saat di belokan, tiba-tiba gadis itu tertabrak dengan seseorang sampai terjatuh dan kertas-kertas laporan yang dibawanya bertebaran di lantai.

"Aduh... I-itai... Ah, gomen! Aku benar-benar tidak sengaja! Aku sedang buru-buru," kata Yurika terburu-buru sambil mengumpulkan kertas-kertas laporan yang bertebaran karena bertabrakan tadi tanpa menatap korban yang ditabraknya tadi.

Saat akan mengambil kertas terakhir, tiba-tiba sebuah tangan menyantuh tangan Yurika. Yurika sontak menengok ke belakangnya. Terlihat wajah seorang lelaki beramata hijau dan berambut hitam kelam. Lelaki itu memakai headset yang terhubung dengan iPod yang ada di kantongnya di sebelah telinganya—tapi wajahnya menunjukkan ekspresi datar seolah tidak peduli pada lagu yang sedang diputar di iPod itu.

Lelaki itu lalu mengambil kertas itu dan memberikannya pada Yurika.

"Ini, aku juga minta maaf karena telah menabrakmu," kata lelaki itu dengan nada datar.

Deg!

Sekilas, sebuah bayangan seorang lelaki berkulit tan berambut hitam kelam beriris hijau muncul di kepala Yurika.

"Kau tahu, dia sangat mencintaimu. Semua pilihan ada di tanganmu. Kau pilih majikanmu itu, yang sampai sekarang memperlakukanmu seenaknya dengan parasaan yang tidak jelas, atau High Priest, yang sudah jelas-jelas mencintaimu?"

'Akh! Kenapa bayangan aneh itu muncul lagi di saat seperti ini!? Ah, laporan! Aku harus cepat sebelum nilaiku dimines!' pikir Yurika panik.

"A-ah! Arigatou! Gomen, aku harus cepat kembali!" kata Yurika terburu-buru sambil mengambil kertas tadi dari tangan lelaki di depannya.

Baru saja dia akan melangkahkan kakinya menjauh, sebuah suara sudah menghalangi niatnya.

"Siapa namamu?" tanya lelaki tadi.

Yurika lalu menegok sebentar dan berkata, "Kisaragi Yurika."

Gadis itu kembali berlari lagi menuju ke kelasnya. Lelaki tadi hanya menatap kepergian Yurika dengan senyum yang sangat tipis—bahkan terlalu tipis untuk dikatakan sebagai senyuman.

'Hikari...'

Di lain pihak, Yurika hanya terus berlari dengan perasaan panik saja.

'1 menit! Kuharap masih sempat! Atau tidak nilai Biologiku akan dikurangi!? HELL NO! Punya hak apa dia mengurangi nilai muridnya yang sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun!?' pikir Yurika kesal.

'Masutaa, kurasa... Aku mengenal lelaki tadi...,' kata Holy Elf tiba-tiba.

'Aku tidak peduli Holy Elf! Yang penting sekarang NILAIKUUU~~! Kalau aku telat sedetik saja, nilaiku akan dikurangi 10 point!' pikir Yurika sambil menghentikan langkahnya dan membuka pintu ruangan lab Biologi.

"Sensei, aku 30 detik lebih cepat dari batas waktu! Nilaiku tidak akan dikurangi kan?' tanya Yurika sambil berjalan masuk dan memberikan kertas-kertas laporan tadi ke lelaki setengah baya berwajah sangar yang ada di depan kelas.

Lelaki itu—Kirino Masahiro, sang guru Biologi, lalu mengecek kertas yang diserahkan Yurika tadi.

"Baiklah, lengkap, berarti nilaimu aman. Silahkan kembali ke tempatmu," kata Masahiro.

Yurika lalu kembali ke tempat duduknya—di sebelah Yami dan menempelkan kepalanya ke atas meja dengan malas.

Di sisi lain, Yami hanya bisa tertawa kecil melihat kelakuan Yurika yang tidak biasanya seperti itu. Ternyata gadis itu bisa lelah seperti itu juga kalau disuruh-suruh oleh guru. Yah, lumayan kasihan juga sih harus buru-buru membawa contoh laporan itu.

Tiba-tiba tawanya terhenti. Entah kenapa dia jadi mengingat sesuatu tiba-tiba...

"Cepat ambil buku pelajaran ouji-sama!"

"Ba-baik!"

"Kenapa kau lambat sekali hah!? Kau pikir sudah berapa lama kami menunggu!?"

"Go-gomen... Atashi..."

"Sudahlah! Kau memang tidak ada gunanya! Kau sebenarnya sama sekali tidak pantas untuk diberi kesempatan bekerja di sini, dasar gadis pembawa sial!"

Mata crimson itu terbelalak. Melihat bayangan-bayangan yang bermunculan di kepalanya. Lalu, tersirat kemarah di mata crimson milik Yami itu.

Kesal...

Ya, kesal...

Tangan lelaki itu mengepal kuat melihat orang yang ada di ingatannya itu. Rasanya ingin sekali dia mengarahkan tangannya ke arah orang itu sekarang juga.

Saat itu, dia benar-benar tidak bisa membela Hikari karena orang itu lebih tua darinya dan punya kedudukan penting di kerajaan.

Dia, Aknadin, sang Priest penjaga Sennen Eye, sekaligus saudara kembar ayahnya.

'Chikuso! Aku baru tahu aku seperti ini dulu! Kenapa aku bodoh sekali sampai membiarkan gadis yang kucintai menderita di depan mataku!?' pikir Yami stres.

Dirinya seakan-akan sudah mau memukul dirinya sendiri saat itu.

Dia lalu mengarahkan kepalanya ke sampinya dan mendapati Yurika saat ini tengah mencatat dengan sangat serius penjelasan guru Biologinya yang sempat membuat Yami medapat ingatan mengesalkan tadi. Well, sepertinya anda harus berterima kasih pada Masahiro-sensei, Yami.

"Hei, sampai kapan kau mau bengong begitu? Kalau kau tidak mencatat penjelasan Masahiro-sensei, kita tidak akan bisa membuat laporan gila itu! Atau kau mau membiarkanku kerja sendirian ya?" tanya Yurika sambil menatap lelaki di sebelahnya dengan tatapan kesal.

Yami lalu langsung menatap gadis di sebelahnya itu dengan tatapan datar.

"Apa? Kenapa kau tiba-tiba menatapku seperti itu?" tanya Yurika bingung.

"Kau tahu, tidak ada gunanya kau terus berbohong seperti kemarin dan tadi pagi, karena aku tahu isi hatimu. Mungkin kau bisa menutupinya dari semua orang, tapi tidak denganku. Sebenarnya ada apa?" tanya Yami sambil mencatat tulisan yang ada di papan tulis.

Yurika terkesiap. Yami masih menyinggung soal itu? Yah, sebetulnya gadis itu sama sekali tidak mau membahas tentang hal itu lagi, karena bisa saja akhir-akhirnya malah berujung ke ingatan masa lalunya.

"Apa maksudmu?" tanya Yurika pura-pura tidak tahu.

Yami hanya bisa menghela napas saja mendengar jawaban gadis di sampingnya itu. Kenapa gadis itu masih saja menutupi semuanya?

"Aku yakin kau mengerti. Sudahlah, kalau kau tidak mau memberitahuku tidak apa," kata Yami.

'Aku tidak mengerti, apa dia sebegitu khawatirnya denganku?' pikir Yurika.

~Break Time~

"Hei-hei! Apa kalian tahu di kelas sebelah ada murid baru?" tanya Anzu pada teman-temannya.

Yurika yang hanya menatap Anzu sambil mematahkan pocky yang sedang digigitnya.

"Lalu?" tanya Yurika dengan nada bingung.

"Katanya dia keren loh! Baru hari pertama masuk sudah punya fans club!" seru Anzu dengan nada bersemangat.

"Ha! Kujamin dia akan menderita kalau punya fans club! Murid-murid di sini sebagian besar kan agak ganas," kata Yurika dengan cueknya.

Yah, mengingat para murid lelaki yang saat dulu bisa saja langsung menyerbunya setiap valentine dan white day, juga murid murid wanita yang selalu mengejar murie lelaki yang masuk ke dalam kategori populer setiap valentine, tidak aneh kalau gadis itu mengasumsikan murid-murid Domino High itu 'GANAS'.

"Entah kenapa aku jadi teringat Otogi. Dia dulu kan juga begitu. Saat pertama kali masuk sudah populer. Ngomong-ngomong kapan dia kembali ya?" tanya Honda.

"Entahlah. Dia tidak pernah menghubungi kita. Yang pernah dia hubungi hanya Jou," kata Yugi.

Otogi Ryuuji, dia mantan rival Jou. Yap, sepertinya Jou dan Ryuuji memang jadi sangat akrab. Yah, Jou itu satu-satunya yang berani menantang Ryuuji dulu, mungkin karena itu Ryuuji jadi senang berteman dengan Jou.

"Oh ya, memangnya siapa murid baru itu?" tanya Yami.

Anzu lalu bertopang dagu dan mengingat-ngingat.

"Em, entahlah. Tapi kalau kudengar kalau tidak salah namanya mirip denganmu Ryou. Em, siapa ya? Kizumi Ryo? Kakami Ryo? Oh! Kazami! Ya! Kazami! Kazami Ryo!" seru Anzu.

'Mau mirip juga lebih bagus nama yadounushi kemana-mana!' pikir Bakura.

"Hei, Yurika, bagi dong!" seru Yugi sambil mengambil pocky yang ada di dalam kotak yang dipegang Yurika dengan seenaknya.

"Hei! Apa-apaan itu!? Yuu! Kembalikaaan!" seru Yurika kesal.

Tapi Yugi malah memakan pocky yang tadi dicurinya dengan lahapnya.

"Ngomong-ngomong, Jou tidak masuk. Dia ke mana ya?" tanya Ryou tiba-tiba.

"Ah~ Kalau itu sih lebih baik sih kita tanya sang CEO~ Dia harusnya tahu~" kata Malik.

"Aku sama sekali tidak tahu apapun tentang anjing kampung itu!" seru Seto yang saat ini masih duduk di bangkunya sambil terus mengetik di atas keyboard laptopnya.

Semua hanya melongo mendengar perkataan Seto tadi. Entah kenapa kalau membicarakan Jou telinga CEO itu jadi lebih tajam ya?

"Yugi, bagaimana PR Matematikamu tadi? Biasanya kan Matematikamu selalu jeblok," sindir Honda.

"Enak saja! Aku lulus tahu! Nilainya 95~" kata Yugi sambil membentu huruf 'V' dengan jari tangan kanannya.

"Kalau tidak ada Atem pasti nilaimu 0," kata Yurika cuek dengan nada mengejek sambil terus memakan pockynya.

"Sial kau!" seru Yugi kesal.

Tiba-tiba saja, mereka semua dihampiri oleh seorang lelaki. Yurika dan Yami yang dari dasarnya memang tidak peduli keadaan sekitar, tidak sadar atas kehadiran orang itu. Sedangkan yang lainnya langsung menengok ke belakang mereka begitu menyadari kehadiran seseorang di sana.

"Maaf, Kisaragi Yurika, ini milikmu kan?" tanya lelaki itu sambil berjalan mendekati Yurika.

Merasa namanya disebut Yurika langsung menengokkan kepalanya.

"Kau... Yang tadi pagi kutabrak ya?" tanya Yurika.

"Ya, dan kurasa benda ini milikmu," kata lelaki itu sambil menunjukkan sebuah gelang pada Yurika.

Yurika terbelalak. Gelang itu memang miliknya. Yugi dan Anzu langsung tersenyum jahil melihat gelang di tangan lelaki itu.

"Nee, Yurika~ Ternyata gelangnya masih disimpan ya~?" goda Anzu pada Yurika.

"U-urusai! Ya, itu memang milikku. Terima kasih sudah mengembalikannya," kata Yurika sambil mengambil gelang itu.

Lelaki itu menatap Yurika sebentar, lalu pergi tanpa mengatakan apapun.

'Rasanya aku pernah melihat tatapan itu di suatu tempat...,' pikir Yurika.

'Sudah kukatakan kalau aku juga merasa pernah melihat lelaki itu kan, masutaa?' tanya Holy Elf.

'Yah, jadi maksudmu dia orang di masa lalu?' tanya Yurika.

'...Begitulah...'

"KYAAA~! KAZAMI-KUN~! KETEMUUU~! KAMI BELUM SELESAI MENGINTROGASIMU~!" seru sekelompok gadis dari luar kelas sambil menunjuk-nunjuk lelaki tadi.

GLEK!

Lelaki tadi—yang sudah bisa dipastikan kalau dia Kazami Ryo, langsung berlari menerobos rombongan wanita itu.

"AAH! DIA BERHASIL KABUR LAGI! KAZAMI-KUUUN!" seru gadis-gadis itu sambil mengejar Ryo yang berhasil kabur tadi disusul dengan gadis-gadis lainnya yang berasal dari kelas XII-A.

Sementara di dalam kelas XII-A, semua orang hanya bisa bengong melihat kejadian tadi. Yurika dalam hati bersyukur setidaknya dia bukan lelaki yang harus menghadapi wanita-wanita ganas itu. Sementara yang lelaki, dalam hati mereka bersyukur mereka tidak sepopuler itu, tapi mereka iri juga melihat seorang lelaki yang dipuja-puja wanita seperti itu. Haduh-haduh, kalian itu maunya apa sih cowok-cowok? Author bersedia jadi fans, bahkan pacar kalian kalau kaluan seganteng Yami, Bakura, atau mungkin Kyou—PLAK! Maaf, abaikan saja kalimat barusan!

"Ternyata itu yang namanya Kazami Ryo! Yah, lumayan keren juga~" kata Anzu sambil tersenyum-senyum sendiri.

"Sayangnya bukan typeku~" sahut Malik sambil melirik Marik yang saat ini sedang membahas tugas laporan Biologi bersama Ryou yang pastinya mendapat death glare dari Bakura.

Malik hanya menghela napas saja melihat Marik yang sepertinya sengaja mendekati Ryou.

Sedangkan Yami, entah kenapa daritadi pandangannya tertuju pada gelang yang sedang dipegang Yurika. Kenapa dia merasa sepertinya gelang itu sangat berarti untuk gadis di sampingnya?

"Hei, Hime, kalau boleh tanya, itu gelang apa ya?" tanya Yami sambil menunjuk gelang yang dipegang Yurika.

"I-itu bukan urusanmu!" seru Yurika sambil buru-buru memasukkan gelang itu ke dalan saku bajunya.

"Ah, itu~ Itu kan gelang dari man—"

Belum sempat Yugi selesai bicara, dirinya langsung menerima death glare hangat (?) dari Yurika. Gadis itu seakan sedang mengatakan 'kau berkata satu patah kata saja tentang hal itu, maka kau tidak akan selamat sampai ke rumah nanti!'

"Dari siapa?" tanya Yami sambil mengernyitkan alisnya.

"Ti-tidak apa-apa! Tidak ada apa-apa kok!" seru Yugi buru-buru sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

'Mencurigakan... Mungkin aku harus mengintrogasi aibou di rumah...,' pikir Yami.

~Domino Apartement~

~Room 302~

Tok! Tok! Tok!

"Katsuya, kau tidak apa-apa kan?" tanya seorang lelaki berambut blond setengah baya sambil mengetuk pintu kamar Jou dari luar.

Keadaan hening sejenak sebelum sebuah suara muncul dari dalam kamar Jou.

"...Kumohon ayah... Aku perlu waktu sendiri...," kata seorang wanita berambut blonde sambil meringkuk di atas kasur milik Jou.

Sudah dipastikan kalau wanita itu adalah Jou. Kenapa Jou tidak masuk sekolah setelah kembali jadi wanita? Apa mungkin dia takut semua orang kaget dan akan menanyainya macam-macam? Tidak, bukan itu. Pikirannya sedang sangat penuh saat ini. Wajah Jou sempat sangat pucat pagi ini entah karena apa sehingga ayahnya mengira dirinya sakit dan memperbolehkannya tidak masuk sekolah. Tapi apa yang terjadi sebenarnya?

"Baiklah, tapi kalau ada apa-apa bilang saja, Katsuya," kata sang ayah sambil meninggalkan kamar putrinya itu.

"Aku tidak mengerti... Aku tidak mengerti... Apa salahku...? Apa...? Dan kenapa aku merasa sebersalah ini...?" tanya Jou pada dirinya sendiri sambil menenggelamkan kepalanya di bantal yang sedang dipegangnya.

Sebenarnya ada apa?

-Dream's Flashback-

Jou terbaring tidak sadarkan diri di sebuah tempat. Tidak ada apapun di tempat itu, hanya warna putih. Perlahan-lahan mata brown hazel Jou terbuka.

"Ngh... Di mana ini?" tanya Jou sambil berdiri dan mengucek-ngucek matanya.

Jou terkesiap melihat tubuhnya saat ini. Dia bertubuh wanita dan memakai pakaian Mesir Kuno. Tidak, bukan hanya itu. Bahkan lehernya saat ini dipasangi sesuatu seperti kalung anjing.

Perlahan-lahan, di depan Jou, muncul sosok seekor naga putih bermata biru. Blue Eyes, ya itu Blue Eyes White Dragon.

"Blue... Eyes...?" tanya Jou tidak percaya.

Blue Eyes perlahan-lahan mengeluarkan sebuah bola cahaya dari mulutnya dan mengarahkannya ke arah Jou.

"Na-nande!? Dia mau menyerangku!?" tanya Jou tidak percaya.

'Kau telah mengecewakanku... Jouno...,' kata sebuah suara yang berasal dari Blue Eyes.

"Apa!? Mengecewakan? Mengecewakan apa!? Apa salahku!?" tanya Jou bingung dengan nada kesal.

Rasanya dia tidak melakukan apapun, bagaimana bisa dia mengecewakan Blue Eyes?

'Kau... Mengambil Seto-sama dariku... Kenapa kau mengecewakan nee-san...?' tanya Blue Eyes dengan nada sedih.

Mata Jou terbelalak. Suara sedih ini... Rasanya dia mengenalnya...

Tunggu dulu! Seto!? Apa Seto yang dimaksud itu...

"A-apa maksudmu!? Apa maksudmu aku mengambil jamur jelek itu darimu dan apa maksudmu aku mengecewakan nee-san!? Aku bahkan tidak punya nee-san!" seru Jou.

'Kau telah... Mengecewakan nee-san, Jouno...'

Deg!

Lagi-lagi! Kepala Jou pusing. Rasanya dia pernah mendengar suara itu! Benar! Dia sangat yakin! Tapi suara siapa? Lalu siapa Jouno itu? Dan lagi, samar-samar terlihat bayangan seorang wanita berambut putih di tempat yang sama dengan Blue Eyes.

Lalu bola cahaya tadi berubah menjadi Horrible Burst Stream dan mengarah ke Jou. Blue Eyes menyerang Jou...

"TIDAAAK!"

-Dream's Flashback End-

"Apa? Sebenarnya apa maksudnya? Apa hubunganku dengan Blue Eyes? Kenapa aku merasa bersalah sekali? Kenapa? Aku tidak mengerti apapun...," kata Jou memegangi kepalanya.

Drrt... Drrt...

Handphone milik Jou tiba-tiba bergetar—ada e-mail yang masuk. Jou lalu mengambil handphonenya yang ada di atas meja dan membuka e-mail tadi. Matanya terbelalak melihat nama e-mail dari sang pengirim itu. E-mail tidak dikenal... Tapi dia tahu itu siapa. Orang yang mungkin adalah pertanda awal dari semua mimpi buruk itu...

From : Seto_Ka yahoo. co. jp

Sub : kau dimna BONKOTSU

Hei mutt! dimana kau!? apa kau tidak tahu sepanjang hari ini teman-temanmu yang merepotkan itu terus menanyai kenapa kau tidak masuk padaku sampai-sampai aku harus mengungsi ke mansion hari ini dan terpaksa tidak kerja hanya karena aku takut para pemandu sorak itu menghancurkan kantorku!?

cepat selesaikan semua masalah ini!

SEGERA!

-Kaiba Seto-

Kaiba?

Darimana dia tahu e-mailnya?

Yah, Jou memang tidak pernah bertukar e-mail dengan Seto. Dia rasa tidak penting untuk meminta e-mail rivalnya sendiri.

Jou lalu menutup layar handphonenya dan menggenggamnya erat.

'Maaf, aku tidak akan membalas apapun caramu mrnghubungiku. Aku janji besok aku akan menyelesaikan semua masalahmu, money bag... Tapi kumohon... Pergilah dari kehidupanku sehari ini saja... Aku butuh ketenangan...,' pikir Jou sambil menutup matanya kencang-kencang.

Padahal dia hanya mimpi diserang Blue Eyes, tapi kenapa dia bisa sampai sedepresi ini? Entahlah, dia sendiri tidak mengerti.

~Kaiba's Mansion~

"Grhh... Berhentilah menanyaiku pertanyaan yang sama karena aku tidak tahu dimana bonkontsu itu dan... BISAKAH KALIAN BERHENTI MENGIKUTI!?" seru Seto kesal sambil menunjuk serombongan orang yang sejak tadi terus mengikutinya dan menanyainya pertanyaan yang sama.

"Aku hanya ikut-ikutan saja karena ditarik Yuu," jawab Yurika dengan simpelnya sambil duduk di sofa kamar Seto bersama Yami dan Atem dan membaca majalah yang ada di atas meja.

"Sama, aku juga malas harus ke mansionmu, sepupu," kata Yami sambil memakan cemilan yang sempat disiapkan oleh pelayan Seto tadi.

"Er... Aku hanya tidak mau sendirian di rumah, jadi aku ikut saja...," jawab Atem sambil memainkan jarinya.

"Yadounushi! Cepatlah! Aku malas terus menunggu!" seru Bakura sambil memakan cemilan yang ada di atas meja bersama Yami.

"Malik, aku tidak tanggung kalau nanti Ishizu marah...," kata Marik sambil bersender di dinding kamar Seto dan menghela napas pelan.

"Jadi di mana Jou?" tanya Yugi, Ryou, Malik, Anzu dan Honda bersamaan.

"AKU TIDAK tahu! Aku terus menghubunginya dari tadi tapi dia sama sekali tidak menjawab! Dan kau Bakura Ryou! Kenapa kau tidak pulang saja bersama pencuri makam itu!? Berhubung kau satu apartemen dengan si bonkotsu itu, kau pasti bisa langsung mengunjungi kamarnya dan langsung bertanya padanya tanpa harus menyuruhku kan!?" tanya Seto kesal.

'Jawab aku anjing bodoh!' pikir Seto dalam hatinya sambil terus berusaha menghubungi Jou.

"Tapi aku tidak tahu nomor kamarnya. Walau aku tahu pun, aku juga tidak pernah mengunjunginya, jadi aku merasa tidak enak kalau tiba-tiba mengunjunginya," jawab Ryou dengan polosnya.

Seto hanya menggeram kesal dalam hatinya. Selain itu, Seto juga bingung, sebenarnya kenapa Jou terus tidak membalas usaha Seto menghubunginya dari tadi?

"Ngomong-ngomong, di mana Mokuba?" tanya Yurika.

Yah, entah kenapa Yurika akhir-akhir ini benar-benar khawatir pada Mokuba.

"Harusnya di kamarnya. Aku tadi menyuruh Isono langsung menjemputnya dan menyampaikan pesanku kalau dia dilarang keluar dari rumah," jawab Seto.

Yurika lalu langsung beranjak dari tempatnya dan berjalan keluar dari kamar Seto.

Tanpa basa-basi, Yami langsung mengikuti gadis itu.

Atem lalu menatap kepergian kedua orang itu.

'Kurasa mereka perlu waktu untuk bicara berdua,' pikir Atem.

~With Yurika and Yami~

"Kenapa kau menghindariku terus?" tanya Yami sambil berjalan mengikuti gadis di depannya.

Deg!

Tepat sasaran!

Ya, seperti yang kita semua tahu, Yurika memang terus berusaha menghindari Yami. Dia berpikir untuk menenangkan pikirannya dulu.

Yurika menghentikan langkahnya, lalu menundukkan kepalanya.

"Kenapa kau beranggapan begitu...?" tanya gadis itu dengan nada lirih.

"Karena memang itu kenyataannya," kata Yami.

"Hanya perasaanmu," kata Yurika sambil lanjut berjalan menuju ke kamar Mokuba.

'Dasar tukang bohong. Kapan dia bisa jujur padaku?' pikir Yami kesal.

Di depan pintu kamar Mokuba, Yurika mengetuk pintu kamar itu.

Tok! Tok!

"Mokuba, kau di dalam?" tanya Yurika.

Hening...

Tidak ada jawaban.

Tok! Tok! Tok!

"Mokuba! Apa kau mendengarku!?" tanya Yurika mulai panik.

Yami yang ada belakang pun mulai merasa ada yang aneh. Yami lalu mulai berjalan mendekati pintu kamar Mokuba.

"Mokie! Ini Yami dan Yurika! Kau di dalam!?" tanya Yami sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Mokuba.

Tapi sayangnya masih tidak ada jawaban.

Yami lalu langsung membuka gagang pintu kamar Mokuba. Ternyata kamar itu tidak dikunci.

Yurika masuk dan mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, sayangnya Mokuba tidak ada di sana.

Kalau Mokuba tidak di sana, di mana dia sebenarnya?

~Seto's Room~

Yah, sepertinya Yugi dan teman-temannya lelah setelah terus mengintrogasi Seto dan menyuruhnya menghubungi Jou.

"Jadi, Yugi, apa kalian sudah tahu kenapa hari ini Jou tidak masuk?" tanya Atem sambil membolak-balik halaman majalah yang sedang ada di tangannya.

Yugi menghela napas, lalu menggelengkan kepalanya.

"Tidak, dia sama sekali tidak membalas e-mail Seto. Teleponnya juga tidak diangkat," jawab Yugi.

"Kau tidak coba menghubunginya?" tanya Atem sambil sebelah menaikkan alisnya.

"Tidak, kan sudah ada Seto yang menghubugninya," jelas Yugi.

"Oh, sou...," kata Atem sambil mengangguk-ngangguk paham.

Brak!

Pintu kamar Seto langsung didobrak oleh Yurika dan Yami. Ekspresi kekhawatiran dan kelelahan—karena terus berlari, jelas tersirat di wajah mereka. Entah sadar atau tidak, tangan Yami menggenggam tangan Yurika.

"Se-Seto! Mokuba! Mokuba tidak ada di kamarnya!" seru Yami dengan nada panik.

"Apa!?" teriak Seto sambil berjalan menghampiri kedua orang itu.

"Isono! Coba tanya Isono! Siapa tahu dia tahu sesuatu!" seru Yurika.

Seto langsung mengeluarkan handphonenya dan menekan sederetan angka di sana. Seto lalu menempelkan handphonenya ke telinganya.

"Halo? Isono! Apa kau tahu Mokuba ada di mana!?" tanya Seto buru-buru.

/Maaf Seto-sama! Saya tidak bisa menjalankan perintah tuan! Nona muda tadi memaksa saya untuk mengantarnya ke Kaiba Corporation!/ lapor Isono dengan nada bersalah.

"Ck! Merepotkan! Baiklah, cepat siapkan limo!" perintah Seto sebelum dia menutup teleponnya.

"Jadi, bagaimana!?" tanya Atem dengan nada khawatir.

"Kaiba Corp, Mokuba di sana," kata Seto sambil keluar kamar diikuti oleh yang lainnya.

"Ehem, Yami, Yurika, tumben kalian gandengan begitu," kata Atem sambil tersenyum jahil.

Yurika langsung buru-buru melepaskan tangannya yang digenggam oleh Yami. Wajahnya sedikit memerah menyadari tangannya terus digenggam oleh lelaki itu sejak mereka berlari dari kamar Mokuba.

Entah sadar atau tidak, sepertinya Yugi sejak tadi terlihat agak murung. Tapi memang sepertinya sejak tadi memang tidak ada yang sadar.

"Aku akan menyuruh Isono mengantar kalian semua pulang. Kalau aku dapat kabar tentang anjing jelek itu akan menghubungimu nanti, Atem," kata Seto.

"Apa kami tidak bisa ikut ke Kaiba Corp?" tanya Atem.

"Tidak bisa. Ini masalah yang harus kuselesaikan berdua dengan Mokuba," jawab Seto.

~Kaiba Corporation~

~Basement~

Di basement, terlihat Mokuba sedang mengutak-atik alat yang mengatur kerja dari Vitual World. Di belakangnya, terlihat Jou sedang berdiri dengan wajah murung. Apa dia masih depresi dengan mimpinya?

Tunggu! Kenapa ada Jou di sini?

Rupanya sebelum ke Kaiba Corp tadi, Mokuba sempat mengajak Jou untuk ikut dengannya. Mokuba berpikir kalau kakaknya tidak akan mengizinkan apalagi menemaninya ke Kaiba Corp, karena itu dia mengajak Jou. Jou berpikir mungkin lebih baik dia keluar untuk mengistirahatkan pikirannya dari pada terus-terusan stres di rumah.

"Ck! Harusnya bisa! Aku harus mendengar pesan Noa sampai selesai!" kata Mokuba sambil terus mengutak-atik alat di depannya.

Jou lalu melihat Mokuba dengan tatapan bingung.

"Mokuba... Kenapa kau terus bersikeras untuk mendengar pesan dari Noa?" tanya Jou tiba-tiba.

Mokuba terkesiap mendengar pertanyaan Jou. Tangannya terhenti sebentar dari pekerjaannya.

"Kenapa? Entahlah... Aku tidak tahu... Mungkin karena dia saudara berharga bagiku... Walau mungkin tidak sepenuhnya karena itu...," kata Mokuba sambil memaksakan dirinya tersenyum.

Tangannya lalu kembali mengutak-ngatik alat di depannya.

'Benar juga... Kenapa ya? Saudara? Apa benar-benar hanya karena alasan itu?' pikir Mokuba.

Jou hanya bisa terdiam mendengar pernyataan Mokuba barusan. Saudara? Apa benar hanya karena status 'saudara'? Tidak lebih? Apa itu artinya, Mokuba akan melakukan apapun demi saudaranya, meski orang itu bukan Noa dan orang itu saudara angkat yang tidak dikenalnya dengan baik?

"Apa... Kau akan melakukan apapun demi Noa, saudara yang bahkan tidak ada hubungan darah denganmu?" tanya Jou lagi.

"Aku... Sepertinya begitu... Walau tidak ada hubungan darah, kami tetap saudara kan?" kata Mokuba.

Jou terdiam sekali lagi. Entahlah, dirinya tidak tahu kenapa dia bertanya seperti itu tadi. Mungkin dia kepikiran tentang mimpinya.

Jou tiba-tiba terpikir suatu yang lain. Bukan, bukan tentang mimpi itu.

"Bagaimana kalau orang itu bukan Noa? Maksudku, bagaimana kalau saudaramu itu bukan Noa? Bagaimana kalau dia orang lain?" tanya Jou dengan nada penasaran.

Kali ini Mokuba yang terdiam. Kalau bukan Noa? Apa mungkin kalau orang itu bukan Noa, dia akan melakukan hal yang sama?

"Aku... Tidak tahu... Kurasa tidak... Kalau begitu, kenapa aku melakukan ini hanya demi mendengar pesannya? Padahal bisa saja aku mengabaikan pesan Noa, walau pesan itu memang ditujukan untukku...," kata Mokuba sambil menundukkan kepalanya.

Jou tersenyum kecil mendengar jawaban Mokuba. Seperti Jou tahu kenapa Mokuba sampai rela susah-susah seperti ini hanya untuk mendengar pesan Noa.

"Mokuba, suatu saat pasti kau mengerti kenapa kau melakukan ini," kata Jou.

Mokuba mengangguk kecil mendengar perkataan Jou.

"Jounouchi, kau benar... Yosh! Aku akan melanjutkan pekerjaanku ini sampai aku mendapat pesan Noa yang sempat putus kemarin!" seru Mokuba sambil memainkan jarinya kembali di atas alat di depannya.

Tiba-tiba, sebuah senyuman terlukis di wajah Mokuba.

"Berhasil!" seru Mokuba sambil menekan sebuah tombol.

Lalu, di layar besar yang ada di depan mereka, muncul wajah Noa, sama dengan yang dilihat Mokuba di Vitual World.

Pesan yang sama kembali terulang, sampai ke bagian yang kemarin sempat putus karena suatu kesalahan yang terjadi di alat pengatur Virtual World kemarin.

/Mokuba, apa kau ingat saat kau berkata kalau kita adalah saudara? Aku... Aku memang merasakan sesuatu yang lebih padamu. Aku memang tidak menganggapmu sebagai adik dari orang yang kubenci... Rasanya lebih dari itu... Hanya saja, aku tidak tahu apa. Dan kurasa itu bukan perasaan sebagai saudara... Dan juga, aku memang berterima kasih padamu karena kau mengembalikan perasaan dan pola pikirku sebagai manusia. Tapi, itu bukan berarti aku sudah tidak dendam pada Seto. Aku masih benci padanya, walau tidak separah dulu. Lalu Mokuba, aku mau mengatakan kalau aku sebenarnya... Mencintaimu, lebih dari saudara angkat... Jujur aku juga kurang mengerti perasaanku ini. Mungkin suatu saat nanti aku akan mengerti. Mokuba, dengar aku baik-baik! Aku pasti akan kembali, jadi kumohon, tunggu aku. Jika sudah saatnya aku pasti akan kembali dan menjelaskan semuanya yang ingin kau tahu padamu. Pokoknya aku pasti akan kembali lagi. Daisuki da yo, Imouto,/ tutur Noa dalam layar itu sambil tersenyum lembut sebelum wajahnya menghilang dari layar besar itu.

'Pokoknya aku pasti akan kembali lagi. Daisuki da yo, Imouto.'

"Noa... Akan kembali...?" tanya Mokuba tidak percaya.

'Dan lagi, apa maksudnya dia mencintaiku lebih dari saudara angkat?' pikir Mokuba dalam hatinya.

"Kau pasti senang kan Mokuba~?" tanya Jou sambil memeluk gadis kecil itu.

Mokuba terdiam sebentar.

"...Jujur, di satu sisi, aku senang, karena Noa akan kembali. Tapi di satu sisi, aku juga takut. Jangan-jangan Noa kembali sebagai... Kaitou Noa? Berarti... Dia musuh nii-sama dan secara tidak langsung musuhku kan...? Aku takut Jounouchi...," kata Mokuba sambil balas memeluk Jou.

Badannya bergetar, lalu air mata keluar dari kedua matanya.

'Kenapa aku... Seperti mengerti perasaan Mokuba? Seakan aku pernah mengalaminya sebelumnya...,' pikir Jou sambil mengelus kepala Mokuba.

Perasaan senang... Dan takut...

Perasaan apa sebenarnya itu?

'Aku senang kalau nee-san menemuiku... Tapi kenapa badanku bergetar begini...? Apa aku takut nee-san akan... Mengambil pharaoh dariku...?'

Deg!

'Su-suara siapa itu!? Gah! Apa aku salah dengar atau apa!?' pikir Jou.

"Mokuba!"

Jou terhenyak mendengar suara itu.

Suara ini... Suara yang familiar di telinga Jou... Jou menutup kedua mata hazelnya kencang-kencang—seakan dia tidak mau melihat sosok dari pemilik suara itu sekarang.

Kaiba Seto, ya, itu suara dari seorang Kaiba Seto.

"Nii-sama... A-ano... Maaf aku ke luar rumah seenaknya...," kata Mokuba dengan nada menyesal sambil menghapus air matanya.

"BODOH! Sudah kubilang kan kau harus hati-hati mulai sekarang! Bisa saja kau diincar oleh CEO Kaitou Corp itu!" seru Seto.

"A-aku tidak akan mengulanginya lagi nii-sama! Janji!" kata Mokuba sambil berdiri tegap layaknya orang yang sedang upacara.

"Hah... Baiklah... Awas saja kau melanggar janjimu," kata Seto dengan nada mengancam.

Seto lalu melirik Jou yang membelakanginya. Seto terkesiap melihat sosok gadis itu.

"Kau... Kau bonkotsu kan!?" seru Seto sambil terburu-buru menghampiri Jou.

Memang sosok Jou sekarang agak sedikit berbeda dari sosok laki-lakinya. Tapi, walau begitu, Seto masih bisa mengenalinya walau hanya melihat dari belakang.

Seto menyentuh pundak wanita itu.

"Jangan sentuh aku," kata Jou dengan nada serak sambil menepis tangan Seto.

"Ada apa denganmu anjing bodoh? Baru saja kau berubah jadi wanita kau sudah PMS?" sindir Seto dengan nada kesal setengah mengejek.

"Kumohon... Hari ini saja... Jangan mencari masalah denganku...," kata Jou dengan wajah terlihat seperti mau menangis.

Seto mengernyitkan alisnya. Tidak biasanya Jou berkata seperti itu setelah dihina olehnya. Demi Ra, ada apa dengannya?

'Ada apa dengannya sebenarnya?' pikir Seto dalam hatinya.

'Kenapa rasanya mimpi itu seperti benar-benar mempengaruhi pikiranku hari ini? Lagipula kan belum tentu Seto yang dimaksud itu si money bag ini! Sebenarnya apa masalah Blue Eyes denganku?' pikir Jou.

"Apa kau sakit? Kurasa kau harus pulang, Bonkotsu. Huh, akhirnya aku tahu kenapa kau hari ini tidak masuk sampai aku harus dikejar-kejar oleh teman-temanmu. Kau sakit kan? Anjing kecil sepertimu memang gampang sakit," ejek Seto sambil menarik tangan gadis itu.

Walau terdengar seperti mengejek, tapi sebenarnya Seto khawatir dengan Jou. Benar-benar tidak biasanya gadis itu seperti ini.

Tapi sayangnya Jou langsung menepis tangan Seto.

"Jangan sentuh aku! Kau hanya akan membuat pikiranku tambah penuh!" seru Jou dengan nada kesal sekaligus depresi.

Seto terkesiap melihat gadis itu. Apa salahnya? Seingatnya gadis itu sama sekali tidak pernah marah dengan wajah depresi seperti itu setiap kali Seto mengejeknya.

"A-ano, Jounouchi... Kau tidak apa-apa kan...?" tanya Mokuba dengan nada khawatir.

Jou menggeleng pelan.

"Tidak, aku tidak apa-apa... Maafkan aku, Kaiba. Aku sama sekali tidak bermasud meneriakimu seperti itu tadi... Pikiranku hanya sedang kacau dan sangat penuh hari ini," jelas Jou sambil menundukkan kepalanya.

"Ternyata bonkotsu sepertimu bisa punya pikiran juga ya?" sindir Seto sambil menyeringai kecil.

Twitch!

"Tch! Ternyata memang tidak ada gunanya minta maaf padamu, Rich bastard!" seru Jou kesal sambil menunjuk-nunjuk wajah Seto.

'Mungkin lebih baik dia seperti ini daripada tadi,' pikir Seto sambil tersenyum kecil melihat Jou.

"Apa kau senyum-senyum begitu hah jamur!?" seru Jou kesal.

Mokuba hanya tertawa kecil saja melihat pertengkaran kakaknya dengan teman—lebih tepatnya, rivalnya itu.

Yah, setidaknya dengan itu Jou sedikit teralih dari masalahnya untuk sementara. Ya... Mungkin hanya untuk sementara...

~Kame Game Shop~

~Atem's Room~

Atem saat ini sedang memainkan handphone. Sedangkan Yugi yang ada di ruangan sama dengannya, hanya bisa menunggu Atem selesai memainkan handphonenya itu.

Atem lalu meletakkan handphonenya ke meja sambil tersenyum kecil.

"Ada apa? Itu tadi e-mail dari siapa?" tanya Yugi.

"Seto. Katanya dia sudah bertemu dengan Jou. Mokuba mengajak Jou ikut ke Kaiba Corp dengannya tadi," kata Atem.

"Lalu, apa kau tahu kenapa dia tidak masuk tadi!?" tanya Yugi dengan antusias.

Atem menggeleng pelan.

"Tidak. Seto bilang soal kenapa Jou tidak masuk, mungkin dia punya alasan sendiri entah apa itu," kata Atem.

Yugi tiba-tiba menghela napasnya, lalu tertunduk lesu. Atem mengernyitkan alisnya melihat Yugi.

"Ada apa, Yugi? Kau sepertinya lemas sekali," kata Atem.

"Hanya cemburu sedikit... Soal yang tadi di mansion Seto," kata Yugi dengan nada tidak mementingkan masalah yang dimaksud.

Atem menaikkan alisnya. Soal yang tadi di mansion Seto? Memang ada apa tadi?

"Memang ada masalah apa? Kurasa tidak apa-apa," kata Atem dengan nada bingung.

Yugi terdiam sebentar, lalu dia kembali angkat bicara.

"Apa aku sudah bilang kalau sempat menyukai Yurika dulu?" tanya Yugi tiba-tiba.

Atem terkesiap. Yurika? Dia pikir selama ini Yugi menyukai Anzu, karena Yami bilang begitu.

"Kau tidak salah? Yurika? Bukan Anzu?" tanya Atem mencoba meyakinkan dirinya dengan apa yang di dengarnya.

Yugi menggeleng pelan.

"Tidak, aku tidak salah. Aku memang menyukai Anzu, tapi itu sejak SMA, bukan SMP. Saat SMP, yang kusukai Yurika," jelas Yugi.

"Lalu, jangan bilang kau cemburu saat... Yurika dan Yami kembali dari kamar Mokuba tadi... Jangan-jangan, kau masih menyukai Yurika...?" tanya Atem takut-takut.

Takut? Tentu saja! Kalau Yugi menyukai Yurika berarti secara otomatis akan ada kemungkinan kalau Yugi tidak akan mendukung Yami untuk mendekati Yurika ataupun mencari ingatan tentang Hikari, gadis yang dicintainya Yami saat dulu sekaligus reinkarnasi masa lalu Yurika.

"Wow! Wow! Bukan itu Atem! Tentu saja aku sudah tidak menyukainya! Tapi... Rasanya aku sedikit cemburu melihat mereka bergandengan seperti itu tadi. Padahal kupikir perasaan ini sudah hilang sepenuhnya setelah aku berusaha menghilangkannya sejak 2 SMP—tepatnya sejak Yurika pacaran dengan si playboy sialan itu! Tapi ternyata perasaan itu masih tertinggal, walau hanya sedikit...," kata Yugi sambil tersenyum miris.

"Lalu... Apa kau pernah mengatakan perasaanmu pada Yurika?" tanya Atem.

Yugi mengadahkan kepalanya menengok ke atas sambil tersenyum kecil.

"Tidak, aku tidak pernah menyatakannya. Kalau menyatakannya sekarang pun... Rasanya tidak berguna... Aku hanya tidak ingin membuat pikirannya tambah penuh. Entah kenapa rasanya akhir-akhir ini dia kelihatan stres. Lagipula sudah ada Yami yang jelas-jelas mencintainya secara tulus selama lebih dari 3000 tahun kan?" kata Yugi.

"Oh, ya! Lalu, aku mau tanya, siapa yang kau maksud 'playboy sialan' itu?" tanya Atem.

Wajah Yugi lalu langsung berubah menjadi kesal.

"Tch! Dia itu..."

~Yurika's Room~

Yurika sedang membuka-buka sebuah buku tebal yang ada di tangannya, tiba-tiba saja handphonenya berdering. Dengan malas, Yurika langsung mengangkan panggilan telepon itu tanpa melihat nama peneleponnya.

"Moshi-moshi," jawab Yurika dengan masih terus fokus ke buku miliknya.

/Konichiwa, Yuri...,/ sahut sebuah suara di seberang.

Tangan Yurika yang tadinya sedang membalik halaman buku langsung terhenti. Matanya terbelalak mendengar suara di seberang telepon itu. Kedua tangannya langsung bergetar takut mendengar suara itu.

Suara ini... Dia kenal suara ini...

"Re-Rei?" tanya Yurika tidak percaya.

Takut, badannya bergetar. Bagaimana bisa lelaki itu meneleponnya lagi?

Sedangkan di lain pihak, Holy Elf merasa pernah mendengar suara itu. Dia mau memberitahu Yurika, hanya saja mengetahui Yurika mendadak menjadi takut dan pikirannya buyar, mungkin saja Yurika tidak akan bisa menangkap perkataan Holy Elf dengan baik.

/Nope, you wrong. It's almost right, Yuri-chan,/ kata suara itu lagi.

Mata Yurika terbelalak semakin lebar. Hatinya semakin takut mendengar pernyataan barusan.

'Tidak, ini bukan suara si berengsek itu! Ini suara orang yang sempat hampir saja membuatku...'

Yurika menelan ludahnya, sebelum dia kembali menyebut sebuah nama dengan nada bergetar.

"Ri-Rikku?"

~Street~

'Kaiba jelek, sialan, kepala jamur, kantung uang, bocah kaya tidak tahu diri, pangeran es, serigala kesepian, pintar keterlaluan, wajah cool menyebalkan, penolong tidak tahu di—tu-tunggu! Tadi aku mau bilang apa!? Penolong tidak tahu diri? Hei! Itu tidak ada hubungannya dengan si jamur sialan itu kan!? Memang kapan dia pernah menolongku!?' pikir Jou sambil mengacak-ngacak rambutnya dan terus berjalan masuk ke gang menuju ke apartemennya.

Jou tiba-tiba saja menunduk lesu.

'Tapi, entah kenapa dia ada hubungannya dengan kata-kata itu... Tapi memang dia pernah menolongku?' pikir Jou bingung.

Jou sepertinya terus berjalan tanpa melihat ke depan karena sibuk dengan pikirnnya sendiri. Dan akhirnya di malah...

Bruk!

...Tertabrak dengan seseorang...

"A-aduh! Maaf! Aku tidak sengaja!" seru Jou sambil menengok ke sosok yang terduduk di depannya.

"Aku juga salah. Maaf aku menabrakmu... Jou...," kata sesosok lelaki berambut hitam bermata crimson red.

Mata Jou terbelalak melihat sosok itu. Tidak mungkin, seharusnya dia masih di Amerika kan?

"Ry-RYUUJI!?" tanya Jou tidak percaya sambil menunjuk sosok itu.

"Katsu! Baru saja aku mau menemuimu tadi, dan kau tidak ada di rumahmu!" kata Ryuuji sambil terkekeh kecil.

'Eh tunggu! Warna matanya beda? Mata Ryuuji bukan merah kan?' pikir Jou.

Jou lalu memperhatikan wajah lelaki tadi—Otogi Ryuuji lekat-lekat. Benar juga, ke mana mata Green Emerald lelaki itu? Apa mata crimsonnya ini cuma lensa kontak? Tapi rasanya tidak mungkin.

"Kau tidak pakai lensa kontak kan, Ryuuji? Masa matamu bisa berubah begitu?" tanya Jou sambil mengernyitkan alisnya.

"Tentu saja tidak, Little puppy. Warna mataku sebenarnya memang bedini. Tapi aku biasanya memakai lensa kontak," kata Ryuuji sambil terkekeh kecil.

Jou hanya menggembungkan pipinya.

"Ukh! Jangan mengingatkanku pada jamur sialan itu lagi karena kau memanggilku dengan sebutan anjing juga!" seru Jou kesal.

Ryuuji lalu mencubit pipi Jou dengan gemas. Dirinya masih tertawa-tawa melihat Jou.

"Tapi kau memang anjing kecilku kan? Siapa yang menyuruhmu kalah duel saat dulu? Oh ya, dan sejak kapan kau punya badan wanita begini? Kau pakai ilmu apa?" tanya Ryuuji dengan nada menyindir sambil melihat tubuh Jou dari atas sampai bawah.

Jou langsung gelagapan.

Benar juga, yang sudah melihat tubuhnya kembali menjadi wanita selain keluarganya kan hanya Mokuba dan Seto. Masa sekarang dia harus menjelaskan semuanya ke Ryuuji? Tadi menjelaskan ke Mokuba saat Mokuba menjemputnya saja sudah susahnya minta ampun.

"A-ano, Ryuuji, ini, em... Bagaimana menjelaskannya ya?" kata Jou gugup.

Ryuuji lalu tersenyum tipis saja melihat Jou.

"Kau tidak usah menjelaskan apapun. Aku sudah bisa menebak apa yang terjadi kok. Ternyata benar, kau memang kembali lagi sebagai perempuan, bukan laki-laki...," kata Ryuuji sambil mengelus kepala wanita itu.

Jou hanya kabingungan saja mendengar kata-kata terakhir Ryuuji. Apa maksudnya dia kembali lagi sebagai perempuan.

"Apa maksudmu Ryuuji? 'Kembali lagi'?" tanya Jou bingung.

"Kau tidak mengenaliku? Kau benar-benar tidak mengingatku?" tanya Ryuuji sambil memegang wajah kecil Jou dengan kedua tangannya dan mengadahkan wajah Jou untuk menatapnya.

Jou menatap lekat-lekat wajah Ryuuji.

Deg!

Tiba-tiba sesosok Red Eyes Black Dragon muncul sesaat menggantikan posisi Ryuuji. Setelah itu sosok lelaki berkulit tan berpakaian dengan pakaian Mesir Kuno yang mirip dengan Ryuuji muncul di kepala Jou.

'A-apa!? Kemarin di mimpi wanita berambut putih, sekarang kenapa aku melihat Ryuuji seperti melihat Red Eyes dan di kepalaku muncul sesosok lelaki yang mirip dengan Ryuuji!?' pikir Jou bingung.

"Hah... Sepertinya kau memang belum ingat... Ya sudahlah, aku tidak akan memaksamu juga kok. Oh ya, jangan bilang-bilang pada yang lain kalau aku sudah kembali ya! Biarkan saja mereka kaget nanti! Jaa!" seru Ryuuji sambil berjalan meninggalkan Jou.

Jou tiba-tiba langsung terduduk lemas di jalan. Wajahnya sangat pucat.

'Aku akan kembali, Master—ah salah, maksudku, Jouno... Aku janji...'

Itu kata-kata yang dikatakan lelaki di bayangan Jou tadi.

'Sebenarnya siapa lelaki yang kulihat tadi, dan ada hubungan apa Ryuuji dengan Red Eyes? Gah! Mimpiku semalam saja belum selesai dipecahkan sudah muncul masalah baru!? Kenapa masalahku complicated banget sih!?' pikir Jou stres.

Entahlah, semua masalah menjadi sangat banyak.

Tidak hanya masalah sang pharaoh dan servantnya, masalah teman-teman mereka pun sepertinya mulai bermunculan. Masalah baru... Siapa lelaki yang sempat Yurika lihat di masa lalunya? Apa hubungan Jou dengan Blue Eyes? Apa maksudnya Noa akan kembali? Siapa lelaki yang menelepon Yurika? Apa hubungan Ryuuji dengan Red Eyes? Dan siapa laki-laki yang sempat muncul di ingatan Jou tadi?

.

.

Tsuzuku

.

.

Jou : Gue punya pertanyaan tambahan, Gia... And the biggest question for author is... KAPAN SEMUA MASALAH INI BERAKHIR!? *Stres*

Gia : *Sok gak tahu* Kapan yaaa?

Yurika : Lu mending Jou, lu baru mulai muncul masalah chapter ini. Nah gue yang dari kemaren!? Gak enak kan Jou!? AYO KITA PROTES!

Jou : AYO!

Gia : E-eh!? OAO JANGAN DONG!

Yugi : MANA BAGIAN GUE!? *guncang" Gia*

Gia : Wa! Wa! Sa-sabar Yug! Gantiaaan! Chapter ini fokusnya ke Jou!

Ryo : ...

Ryou : Er, boleh tanya gak? Dia siapa? *Nunjuk Ryo*

Gia : Chara baru. Dan disclaimer! KAZAMI RYO Α.К.Α RYO KAZAMI ADALAH MILIK RYO KAGAMI! *Teriak pake toa*

Yurika : WOI! Sadar dong suara udah cempreng gitu, lu malah pake TOA!?

Yami : Biarin aja si baka ini Hime~ ayo kita ken—

Ryo : *Bawa Yurika menjauh* Jangan macam-macam padanya, pharaoh mesum... *Natep dingin*

Yami : Hei! Apa-apaan ini!? Dasar penga—

Gia : HYA! HYA! JANGAN NYEBAR SPOILER DULU YAMI! \(A)/

Bakura : MANA BAGIAN GUE!?

Marik : DAN BAGIAN DEATHSHIP OR BRONZESHIP GUE!?

Bakura : DIEM LU MARUK! JANGAN AMBIL YADOUNUSHI GUE!

Malik : Mana bagian gueeeee? *Mewek*

Seto : Aku belum puas ngatain anjing ini! *Nunjuk-nunjuk Jou*

Jou : HEI! Apa maksudmu!?

Noa : Kapan Stepship muncul hah!? *Nodongin pisau ke Gia*

Gia : HYA! Sabar Noaaa! Nanti pasti adaaa! (Kenapa dia kaga sekalem Noa L!? LADY LITTEEE! RUNAAAA! RU-CHAAAN! GUE MAU TUKERAN NOA!? TTATT #plak)

Mokuba : Noa! Turunin tuh pisau! *Nunjuk-nunjuk pisau di tangan Noa*

Noa : Tapi Mokie...

Mokuba : Noa... *Nada tajam*

Noa : *Ciut* Okelah... *Smirk* Tapi besok kita kencan ya?

Seto : *Sister Complex kambuh* GAK ADA KENCAN-KENCANAN!

Atem : Ano, ayo bales review...

.

Ruega Kaiba :

Yugi : NOH DENGER! TAMBAH LAGI BAGIAN GUE DI CHAPTER DEPAN!

Gia : WA! WA! IYAAA! OAO

Jou : Gue juga sebenernya kaga mau sama nih CEO sombong... -_-

Ryuuji : Harusnya kau itu bersamaku, Little puppy~

Seto : *aura gelap* *nunjuk Ryuuji* Bawa pergi si bocah dadu itu!

Jou : APA!? Enak saja! Jangan macam-macam dengan temanku, Rich bastard!

Gia : perang cinta? -.-"

Noa : Ada juga yang senang aku di sini *Smirk lirik Seto*

Seto : JANGAN BIKIN MOODKU TAMBAH JELEK BOCAH HIJAU!

Mokuba : Nii-sama! Jangan begitu pada Noa

Seto : *Kesel* KENAPA TIDAK ADA YANG MEMBELAKU DARI TADI!?

Atem : Nasibmu sepupu...

Yami & Yurika : *Ngangguk-ngangguk* Setuju...

Ryou : Thanks for review Run! XD

.

Ryo Kagami :

Gia : Perebutan cewek nih!? OAO

Yurika : Nasib gue deh... -w-

Ryo : Pergi kau pharaoh mesum!

Yami : DIEM LU! GUE LEBIH BERKUASA DARI LU! GUE PHARAOH!

Seto : Bisa kalian diam? *Aura gelap* Jangan membuatku tambah bad mood...

Jou : HWAHAHA! CEO sombong bad mood!

Gia : Nah, soal peran Ryo, masih terselubung (?) Tapi pastinya akan diperjelas kok~

Yurika : Oh, lupa gue, Ryo itu kok gue liat-liat jadi kaya semacem pendukunya R—

Gia : WHA! WHA! DIEM! NANTI SPOILER! JANGAN KETULARAN YAMI JADI SUKA NYEBAR SPOILER YUR! OAO

Yurika : Siapa yang sudi ketularan sama nih orang? *Nunjuk Yami*

Mokuba : Thanks for review!

.

Erlangga186 :

Yugi : Gue ngelawan secara jantan? -.-" Kayanya kaga mungkin deh berhubung gue critanya udah menyerahkan tuh cewek garang dan nanti bakal ada—

Gia : YUG! LU JUGA JANGAN NYEBAR SPOILER! OAO

Yugi : *Sweatdrop*

Noa : Yah, walaupun Yugi perannya di sini bantu Yami, tapi nanti tetap bakal ada pengganggu kok~ Seperti Seto yang kisah-kasihnya diganggu sama Ryuuji *Smirk*

Seto : SIALAN KAU BOCAH! BALIK SAJA KE ALAM BAKA!

Jou : Sebenernya nih jamur dari tadi kenapa sih? -.-"

Yami : Lagi PMS kali -A-

Atem : Thanks for review!

.

Yami : Nah, gue mau nanya sekarang! SIAPA YANG NELPON HIME TADI!?

Gia : Itu rahasia~

Yurika : *Stres* Pokoknya jangan ingatkan aku tentang hal itu lagi...

Atem : Nee, bukannya Gia harus belajar buat UP?

Gia : Ah~ tenang~ tinggal UP Bio nanti hari Kamis sama UP Seni hari Jumat~

Yurika : TOnya gimana?

Gia : Uh... Nanti gue blajar kok...

Bakura : BANYAKIN TENDERSHIP LU!

Marik : BANYAKIN BAGIAN GUE!

Malik : GUE JUGA!

Gia : WOI! SATU-SATU! SEMUA ADA BAGIANNYA!

Noa : Maaf atas semua typo dan kecacatan yang ada

Mokuba : Makasih udah mau baca chapter ini dan mengisi kotak review

Yurika : Doain author lama update dan stres belajar biar penderitaan gue berku—HMPH!

Yami : *Bekep Yurika* DOAIN SI AUTHOR CEPET DAPET LAPTOP DAN ILHAM BIAR CEPET UPDATE YA! SURUH DIA BQANYAKIN KIOKUSHIPPING! KIOKUSHIPPING BERJAYAAAA!

Bakura : GAK! TENDERSHIPPING BERJAYA!

Malik : KAGA! BRONZESHIP!

Ryuuji : ckck, kalian ini... Dimana-mana Snareship itu paling berjaya~

Seto : DIAM KAU DADU!

Noa : Orang-orang bodoh... Tanpa bicara apapun Stepship tetap paling berjaya~ *Peluk-peluk Mokuba*

Seto : MENJAUH DARI ADIKKU KAU BEDEBAH!

Gia : WOI! JANGAN MALAH PADA PROMO DONG! OAO

Yurika : *Nendang Yami* Hah! Hah! Yah! Pokoknya! Silahkan menunggu chapter 8!