Gia : YES! YES! UPDATE! Setelah writer's block berkepanjangan dan peneroran habis"an dari berbagai pihak, akhirnyaaa~~~
Yurika : Gila nih anak -A-"
Rikku : Akhirnya ada bagian gue~
Noa : Ada gue kan? *Nodongin pistol ke Gia*
Mokuba : Ehem! Noa!
Noa : *nurunin pistol* Gomen, Moku-chan...
Yugi : MANA BAGIAN GUE!? MANAAA!? KENAPAA!?
Jou : *Sweatdrop*
Atem : Happy reading!
.
.
The Next Journey
.
By : Gia-XY
.
Previously :
Tiba-tiba sesosok Red Eyes Black Dragon muncul sesaat menggantikan posisi Ryuuji. Setelah itu sosok lelaki berkulit tan berpakaian dengan pakaian Mesir Kuno yang mirip dengan Ryuuji muncul di kepala Jou.
'A-apa!? Kemarin di mimpi wanita berambut putih, sekarang kenapa aku melihat Ryuuji seperti melihat Red Eyes dan di kepalaku muncul sesosok lelaki yang mirip dengan Ryuuji!?' pikir Jou bingung.
"Hah... Sepertinya kau memang belum ingat... Ya sudahlah, aku tidak akan memaksamu juga kok. Oh ya, jangan bilang-bilang pada yang lain kalau aku sudah kembali ya! Biarkan saja mereka kaget nanti! Jaa!" seru Ryuuji sambil berjalan meninggalkan Jou.
Jou tiba-tiba langsung terduduk lemas di jalan. Wajahnya sangat pucat.
'Aku akan kembali, Master—ah salah, maksudku, Jouno... Aku janji...'
Itu kata-kata yang dikatakan lelaki di bayangan Jou tadi.
'Sebenarnya siapa lelaki yang kulihat tadi, dan ada hubungan apa Ryuuji dengan Red Eyes? Gah! Mimpiku semalam saja belum selesai dipecahkan sudah muncul masalah baru!? Kenapa masalahku complicated banget sih!?' pikir Jou stres.
Entahlah, semua masalah menjadi sangat banyak.
Tidak hanya masalah sang pharaoh dan servantnya, masalah teman-teman mereka pun sepertinya mulai bermunculan. Masalah baru... Siapa lelaki yang sempat Yurika lihat di masa lalunya? Apa hubungan Jou dengan Blue Eyes? Apa maksudnya Noa akan kembali? Siapa lelaki yang menelepon Yurika? Apa hubungan Ryuuji dengan Red Eyes? Dan siapa laki-laki yang sempat muncul di ingatan Jou tadi?
.
Summary :
Yugi dan Atem berusaha membantu Yami dan Yurika. Di sisi lain, seorang lelaki dari masa lalu Yurika muncul kembali. Apa dia akan menjadi masalah untuk Yami? /"Oh, lalu, apa ada cara untuk bisa membantu mengembalikan ingatan Yami, dan juga... Yah, kau tahu, Hikari...?"/"Kalau terjadi sesuatu yang aneh, katakan padaku."/"Aku benar-benar merasa aneh kalau memanggilmu dengan nama 'orang itu'..."
.
Disclaimer :
Yu-Gi-Oh! © Takahashi Kazuki
Story, Gia's OC : Kisaragi Yurika, Yukarina Hikari, Rikku, Suzuki Rei © Gia-XY
Ryo's OC : Kazami Ryo © Ryo Kazami
.
Warning :
OC, OOC, OC as main lead, genderbend, typo(s), misstypo(s), semi-canon, sedikit bahasa Jepang, krisis kosakata, DLDR, dll.
.
Journey 8
Avoiding The Truth
.
.
~2nd Jule~
~06.00 Ρ.M.~
~Domino Museum~
"Ah, ternyata benar... Kalian memang datang...," ucap Malik
Kedua sosok yang sedang berjalan masuk menghampiri Malik langsung berhenti. Mereka adalah Yugi dan Atem.
"Malik? Kau tahu kami akan datang? Bagaimana bisa?" tanya Yugi.
Malik menggangguk, lalu merogoh sesuatu dari kantong roknya—Sennen Tauk.
"Sennen Tauk, nee-san memberikannya padaku. Ah, kalian pasti mau bertemu nee-san kan? Sayangnya dia sedang ada urusan," ucap Malik.
Yugi dan Atem langsung menunjukkan wajah kecewa mendengar pernyataan Malik barusan. Malik lalu tersenyum kecil melihat mereka.
"Tetapi tenang saja. Aku bisa menjawab semua yang ingin kalian tanyak pada nee-san, karena aku sudah bertanya padanya kemarin," kata Malik.
"Hontou?" tanya Atem tidak percaya.
Malik lalu mengangguk.
"Langsung saja kujawab. Yukarina Hikari, personal servant dari pharaoh Atemu. Kedua orang tuanya yang berkulit hitam dipercaya menganut ajaran gelap, karena Hikari berkulit putih. Kau mengerti maksudku kan?" tanya Malik yang dengan lancarnya langsung menjawab semua yang ingin ditanyakan Yugi dan Atem.
Atem mengangguk-ngangguk mengerti, sedangkan Yugi hanya melirik Atem dengan tatapan bingung. Atem hanya menghela napas saja melihat Yugi.
"Jadi begini, Yug... Masyarakat Mesir Kuno mempunyai kepercayaan kalau orang berkulit putih membawa bencana. Coba kau bayangkan, kedua orang tua Hikari berkulit hitam, rasanya tidak mungkin kan kalau anak mereka berkulit putih. Tetapi kenyataannya, Hikari berkulit putih. Karena itu mereka menganggap orang tua Hikari menganut ajaran gelap, dan sebagai hukumannya, anak mereka berkulit putih," jelas Atem.
Yugi mengangguk-ngangguk mengerti mendengar penjelasan Atem. Malik tersenyum tipis lalu melanjutkan penjelasannya.
"Betul sekali Atem. Setelah Hikari lahir, para penduduk langsung mengucilkan keluarga Hikari dan terus-terusan berusha mengusir mereka. Tetapi untungnya, karena mereka pelayan kepercayaan Pharaoh Aknamkanon, mereka tetap diizinkan tinggal di istana, tetetapi dengan syarat, Hikari harus menjadi personal servant dari Pangeran Atemu. Pharaoh Aknankanon khawatir karena, walaupun pangeran sangat cerdas, tetetapi dia sangat keras kepala dan terus memberontak ayahnya saat itu, bahkan Mahaado dan Mana yang merupakan teman dekatnya pun tidak didengar olehnya. Karena kedua orang tua Hikari memiliki sikap yang baik, Pharaoh Aknamkanon percaya sikap yang sama juga dimiliki anak mereka. Pharaoh Aknamkanon hanya bisa berharap, dengan memiliki personal servant seperti Hikari, maka pangeran bisa berubah," ucap Malik.
"Eh, tunggu-tunggu! Maksudnya, Pharaoh—eh, maksudku, Pangeran—AH! Apa sajalah! Maksudnya, Atemu itu lebih tua dari Hikari!?" tanya Yugi.
Malik lalu mengangguk.
"Ya, benar. Dia lebih tua dari Hikari. Dia lebih tua 3 tahun dari Hikari. Dan kembali ke Hikari, dia melakukan sumpah Loyal Personal Servantnya pada umur 9 tahun, setelah orang tuanya meninggal, tetapi dia pertama kali bertemu dengan pangeran saat umur 12 tahun di luar istana. Bagaimana detail kejadiannya, aku, bahkan nee-san, tidak tahu. Orang yang paling dekat dengan Hikari selain pangeran adalah Priestess Aishisu, tepatnya reinkarnasi masa lalu nee-san. Nee-san bilang, sebelum Hikari bertemu pharaoh, dia sering sekali keluar istana sendirian, dan ujung-ujungnya malah... Ya... Begitulah... Dia kadang dihadang lalu disiksa, terutama oleh wanita yang seumuran dengannya," ucap Malik sambil menghela napas pelan.
"Eh, tidak ada yang menolongnya?" tanya Yugi.
Sebelum Malik sempat menjawab, Atem langsung menggantikan Malik menjawab pertanyaan Yugi.
"Mana mungkin ada. Mereka semua kan tidak peduli pada gadis 'pembawa bencana'. Malah mereka ada yang takut berdekatan dengan orang berkulit putih karena percaya mereka akan terkena kesialan kalau melakukan hal itu," balas Atem.
"Yah, sebelum dia terluka parah sih biasanya selalu ada pendeta yang lewat untuk menyelamatkannya," jawab Malik.
"Ano, lalu, aku mau tanya, apa Hikari itu... Punya perasaan pada Atemu?" tanya Atem.
Malik terdiam sebentar, lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada yang tahu. Yang kami tahu hanyalah Pharaoh Atemu menyukai personal servantnya—Hikari," jawab Malik.
"Lalu, bagaimana caranya Hikari baru bertemu Atemu saat umur 12 tahun? Padahal tempat tinggal mereka kan sama," ucap Yugi dengan nada bingung.
"Mudah saja, Atemu memiliki jadwal yang sangat ketat untuk belajar—walau terkadang dia suka kabur. Sedangkan Hikari, dia lebih suka berada di luar istana—walau itu membahayakannya," jelas Malik.
"Ah, terus, kalau Hikari sudah melakukan sumpah personal servantnya pada umur 9 tahun, kenapa dia tidak langsung menjadi personal servant pangeran saat itu?" tanya Atem.
"Bagaimana kalau kukatakan pangeran terus membangkang perintah ayahnya? Dia merasa tidak memerlukan personal servant karena dia tahu maksud dan tujuan ayahnya memberikan personal servant untuknya," jelas Malik.
"Eh, kalau begitu, seharusnya dia langsung menyuruh Hikari untuk tidak menuruti permohonan ayahnya dan berhenti jadi personal servantnya saat pertama kali bertemu kan?" tanya Atem.
Malik menghela napas pelan. Dia menggelengkan kepalanya.
"Kalau itu, kami tidak tahu...Hanya pharaoh yang tahu. Dengan kata lain, kalau kalian ingin mengetahuinya, ingatan pharaoh harus kembali," ucap Malik.
Yugi dan Atem mendesah kecewa mendengar jawaban Malik.
"Oh, lalu, apa ada cara untuk bisa membantu mengembalikan ingatan Yami, dan juga... Yah, kau tahu, Hikari...?" tanya Atem.
Malik tersenyum kecil. Dia kembali mengingat perkataan Ishizu.
"Seto. Kaiba Seto," ucap Malik.
Yugi dan Atem kembali memasang wajah bingung.
Seto? Memang kenapa Seto?
Yugi tiba-tiba mengingat sesuatu dan menjentikkan jarinya.
"PRIEST SETH! Oh, iya! Kenapa aku baru ingat!? Dia kan mirip sekali dengan Kaiba-kun! Pasti dia reinkarnasi masa lalu dari Kaiba-kun!" seru Yugi senang.
Atem hanya memandang Yugi dengan tatapan bingung.
"Priest Seth? Apa dia semirip itu dengan Seto?" tanya Atem.
Yugi lalu mengangguk-ngangguk dengan semangat. Tetapi tiba-tiba, Yugi langsung terdiam.
"Tunggu... Kaiba-kun kan orangnya keras kepala sekali... Apalagi dia sama seperti Yurika, tidak percaya pada hal-hal mistis. Apa dia mau mambantu?" tanya Yugi dengan nada putus asa.
Mereka semua terdia beberapa saat, sebelum akhirnya Malik kembali angkat bicara.
"...Coba kalian berikan ini padanya..."
Malik lalu mengeluarkan Sennen Rod dari tas yang dibawanya dan menyerahkannya pada Atem dan Yugi.
"Kore wa... Sennen Rod...," ucap Atem tidak percaya.
Yugi dan Atem lalu tersenyum senang dan refleks saling berpegangan tangan.
"Kita harus mencari si sombong itu nanti!" seru mereka bersamaan dengan nada riang.
Malik yang melihat kelakuan mereka berdua hanya terkekeh kecil saja. Benar-benar kompak sekali...
~Kame Game Shop~
Di pintu depan, terlihat Yurika menoleh ke kanan kiri dan berjalan dengan sangat hati-hati.
'Fuh! Untunglah mereka semua pergi!' pikir Yurika sambil buru-buru melangkahkan kakinya dan membuka pintu.
"Hime? Mau ke mana?" tanya sebuah suara di belakang.
Yurika menengok, dirinya mendapati Yami sedang berdiri di sana.
'GAH! Dia di rumah!?' pikir Yurika.
"A-ah, ano, e-etto, atashi... Katakan pada yang lain aku akan pulang telat!" seru Yurika sambil buru-buru keluar dari rumah.
Sedangkan Yami hanya bisa bingung sambil diam di tempat saja melihat gadis itu keluar dengan panik seperti itu.
"Nani...?" tanya Yami pada dirinya sendiri dengan nada bingung.
~Domino Café~
Terlihat seorang lelaki berambut dark brown sedang duduk sambil meminum kopi di cangkir yang ada di tangannya. Dia lalu melihat ke jam tangan yang sedang dipakainya.
"3... 2... 1..."
Brak!
Kursi di depan lelaki itu lalu diduduki oleh seorang gadis berambut blonde. Lelaki itu tersenyum tipis melihat wanita itu.
"Maaf aku telat!" seru gadis itu—Yurika, sambil bernapas terengah-engah.
"Tepat waktu. Yah, seperti biasa," ucap lelaki itu sambil tersenyum kecil.
"Jadi... Ada apa?" tanya Yurika dengan nada cuek sambil mengeluarkan dan mengutak-atik handphonenya.
Lelaki itu menghela napas kecil. Kenapa gadis di depannya selalu bersikap seakan tidak peduli pada apapun?
"Aku, hanya ingin menemuimu...," ucap lelaki itu dengn nada lirih.
Yurika hanya bisa berdecak kesal. Dia lalu mengalihkan pandangannya menuju lelaki itu dan menunjukkan wajah marah.
"Apa maksudmu!? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau pikirkan!" seru Yurika kesal.
Keadaan hening sesaat, sebelum akhirnya lelaki itu kembali membuka mulutnya.
"Kioku..."
Yurika hanya terbelalak mendengar kata-kata lelaki itu.
"Nani?" tanya Yurika bingung.
Lelaki itu lalu tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya.
"Iie... Abaikan saja. Kalau terjadi sesuatu yang aneh, katakan padaku," ucap lelaki tadi sambil beranjak dari tempatnya.
"Matte! Re—iie, Rikku! Apa maksudmu sesuatu yang aneh!?" tanya Yurika.
Apa jangan-jangan... Lelaki itu—Rikku, tahu tentang kejadian yang menimpanya? Mulai dari munculnya ingatan-ingatan aneh, mimpi-mimpi aneh, sampai munculnya Holy Elf?
Rikku hanya tersenyum kecil saja melihat gadis itu.
"Kau akan mengerti nanti. Ah, karena aku yang memanggilmu dengan alasan tidak jelas ke sini, apa kau perlu kuantar pu—"
"Tidak usah, aku bukan anak kecil dan aku bisa pulang sendiri," ucap Yurika memotong perkataan Rikku dengan nada dingin sambil berjalan melewati lelaki itu.
Rikku menunduk pelan. Wajahnya tertunduk lesu. Entah apa yang ada di pikirannya.
~Outside~
Yurika terlihat sedang berjalan dengan kesal.
'Bagaimana bisa dia memanggilku tanpa alasan begitu!? Dasar lelaki aneh!' pikir Yurika kesal.
Dirinya lalu tertunduk lesu.
'Demo... Dia mengingatkanku pada seseorang... Sepertinya...'
Brak!
Tiba-tiba Yurika tertabrak dengan seseorang. Yurika hanya bisa mengelus punggungnya sambil mengerang kesakitan.
"I-ittai... Gomenasai!" seru yurika sambil buru-buru berdiri dan meminta maaf pada orang yang ditabraknya.
"Kau..."
Merasa mengenal suara barusan, Yurika mengarahkan pandangannya ke orang yang ditabraknya.
"Anata wa... Kazami... Ryo?"
~Kame Game Shop~
~Living Room~
"TADAIMAAA!" seru Yugi dengan semangat sambil mendobrak pintu.
"Hm, okaeri...," balas Yami dengan nada lesu.
"Ha? Yami, ada apa denganmu?" tanya Atem bingung,
Yami hanya tertunduk lesu saja.
"Iie, aku tidak apa-apa," ucap Yami sambil berdiri dan beranjak menaiki tangga.
Kedua orang yang baru pulang itu hanya bisa terdiam bingung saja melihat Yami. Yami lalu menghentikan langkahnya sebentar.
"Hhh, aku baru ingat... Hime—maksudku, Yurika tadi bilang, dia akan pulang agak telat," ucap Yami sembari melanjutkan kembali langkahnya menuju ke kamarnya.
Kedua orang itu lalu kembali bertatap-tatapan dengan wajah bingung. Demi Ra, ada apa dengan Yami sebenarnya?
~Outside Kame Game Shop~
Di luar Game Shop, Yurika sedang beranjak membuka pintu, dengan lelaki berambut hitam legam yang berdiri di belakangnya. Baru saja dia akan membuk pintu, Yurika lalu berbalik menatap lelaki bermata hijau yang mengantarnya tadi.
"Arigatou... Maaf sudah membuatmu repot-repot mengantarku," ucap Yurika sambil membungkukkan badannya.
"Hn,tidak masalah. Lagipula aku tidak bisa membiarkanseorang wanita berjalan sendirian di malam hari," ucap lelaki itu—Kazami Ryo, dengan nada datar.
Yurika lalu kembali berbalik dan berniat masuk ke dalam rumah, tetapi...
"Semuanya telah kembali. Ingatan yang terlupakan akan bangkit. Jalan takdir akan segera ditunjukkan pada kita. Oboete oite, oretachi no... Kioku..."
"Eh!?"
Yurika baru saja berbalik—akan menanyakan maksud perkataan Ryo, tetetapi tidak ada siapapun di belakangnya.
"Ryo-kun...?"
"Maaf aku menyembunyikannya selama ini dan bersikap seakan mendukung High Priest... Ore wa... Omae ga suki, Hikari..."
~Someone's Residence~
"Tch! Pasti pharaoh sialan itu sudah muncul duluan dan menemuinya!" seru seorang lelaki bermata dark brown sambil melempar semua barang yang ada di kamarnya.
Wajahnya terlihat sangat kesal. Dirinya lalu mengambil sebuah barang dari atas meja dan bersiap melemparnya, tetapi tangannya terhenti begitu menyadari benda yang sedang digenggamnya itu. Perlahan-alahan lelaki itu membuka kepalan tangannya dan melihat benda yang ada di tangannya. Sebuah strap handphone... Matanya terbelalak melihat strap handphone itu. Dirinya kembali mengingat seorang gadis bermata blue aquamarine di kepalanya.
"Baiklah-baiklah. Aku menerima benda ini darimu hanya karena kau menemaniku hari ini. Huh, kenapa sih yang namanya orang pacaran itu harus ada satu saja barang yang sepasang?"
Tangannya menggenggam erat strap handphone itu.
"Kumohon, Rei... Cepat dapatkan semua ingatanmu... Kita tidak boleh membiarkan si sialan itu mendapatkannya lagi, kali ini..."
"Demo, arigatou, Rei—iie, Rikku..."
~Kame Game Shop~
~Dining Room~
Di ruang makan, Yurika, Yami, Yugi, dan Atem sedang memakan makanan mereka masing-masing sambil terdiam. Mereka terdiam dalam pikiran mereka masaing-masing.
"Gouchisousama," ucap Yurika sambil meletakkan sumpitnya dan membawa peralatan makannya ke dapur.
Yami yang dari tadi tidak fokus pada makan malamnya, langsung menengok ke arah Yurika begitu gadis itu mengeluarkan suara. Entah kenapa rasanya hari ini gadis ini benar-benar buru-buru dalam melakukan segala sesuatunya. Apa itu karena Yurika mau menghindari Yami?
'Tch! Bagaimana caranya aku membuktikan kalau dia benar-benar Hikari kalau dia menghindar terus!?' pikir Yami kesal sambil terus melanjutkan makannya.
Sedangkan di sisi lain, terlihat Yugi dan Atem tidak berani melirik satu sama lain. Masing-masing dari mereka sama-sama tidak menikmati makanannya.
'Ya ampun, kemarin pelukan, tadi pegangan tangan... Kenapa kau bisa melakukan hal memalukan seperti itu sih, Yugi!?' pikir Yugi sambil mempercepat makannya.
Ya, tidak aneh kalau dia salah tingkah begitu sih. Bayangkan saja, dia reflek memegang tangan, bahkan MEMELUK wanita yang baru dikenalnya! Sebelum ini saja dia tidak pernah refleks melakukan hal sememalukan itu pada Anzu. Yah, kalau Yurika sih dibegitukan biasa saja, baginya wanita ataupun lelaki sama saja—sama-sama manusia, apalagi dia tahu Yugi itu orangnya agak hyper.
Dan Atem, sepertinya dia benar-benar malu dan tidak tahu harus berkata apa sekarang. Apalagi tadi Malik sempat tertawa kecil melihat mereka—dan itu membuatnya semakin malu dan salah tingkah di museum tadi.
"Gochisousama," ucap Yami dengan nada datar sambil meletakkan sumpitnya dan membawa peralatan makannya ke dapur.
Atem dan Yugi kembali menatap Yami dengan tatapan bingung. Benar-benar... Sejak mereka berdua pulang dari museum tadi, Yami memang aneh. Rasanya dia seperti lemas sekali.
Di dapur, Yurika sedang mencuci peralatan makan dengan tatapan tidak fokus. Pikirannya sangat penuh dan membuatnya tidak bisa fokus pada apa yang tengah dilakukannya. Dia bahkan tidak sadar begitu sepasang tangan meletakkan piring di samping tempatnya mencuci.
"Em, halo, Yurika Hime?" panggil Yami pada Yurika.
Yurika terlonjak kaget, lalu tidak sengaja menusuk jarinya dengan pisau yang tenagh dicucinya.
"Ergh... I-ittai...," ringis Yurika sambil memegangi ujung jarinya yang berdarah.
Yami yang panik langsung menggenggam pergelangan tangan gadis itu.
"Kau tidak apa-apa!?" tanya Yami panik.
Baru saja Yurika akan membuka mulutnya, Yami sudah duluan membuatnya kembali kaget dengan menepelkan jari Yurika ke mulutnya. Lidahnya menjilat darah yang keluar dari ujung jari telunjuk Yurika.
"A-apa—"
"Diam! Jangan banyak protes!" seru Yami tegas dengan tatapan tajam.
Yurika kembali menutup mulutnya dan tanpa banyak protes menerima semua perlakuan lelaki itu padanya. Dirinya sedikit terangsang saat lidah lelaki itu menempel pada kulitnya. Rasanya dirinya seperti terangsang.
Tatapan tadi, benar-benar persis dengan...
"Turuti saja perkataanku dan jangan banyak protes, Hikari!"
...Pharaoh Atemu...
Tidak! Bukan! Di depannya itu bukan Atemu! Mana mungkin!
"Yami-kun, aku bisa mengobatinya sendiri," ucap Yurika dengan nada suara sedatar mungkin sambil menarik tangannya.
Yami ingin protes, tetetapi tidak jadi karena melihat wajah gadis itu yang sepertinya tidak nyaman diperlakukan seperti tadi. Yurika mengambil sebuah kotak P3K dari lemari dan mengambil sebuah plester dari dalamnya, lalu menempelkan plester tadi pada jarinya. Gadis itu lalu beranjak kembali mencuci peralatan makannya, tetapi sayangnya dihalangi oleh tarikan tangan Yami.
"Biar aku yang mencuci. Kau, kembali ke kamarmu," ucap Yami dengan nada memerintah.
"Tetapi ini kan tuga—"
"Aku tidak terima perlawanan. Turuti perintahku, sekarang," ucap Yami dengan nada tajam.
Mau tidak mau, gadis itu kembali ke kamarnya. Kalau Yami sudah memerintah seperti itu, dia benar-benar sudah tidak bisa melawan lagi.
Yugi yang sedang berjalan ke arah dapur bersama Atem, langkahnya terhenti melihat Yurika.
"Ada apa Yurika? Kok mukamu merah begitu?" tanya Yugi.
Yurika yang mukanya memang sejak tadi memerah, semakin memerah mengingat kejadian tadi.
"Cu-cuma perasaanmu kok! Le-lebih baik kalian bantu Yami-kun di dapur!" seru Yurika sambil buru-buru berlari ke lantai atas.
Atem dan Yugi lagi-lagi saling bertatapan bingung. Kenapa hari ini banyak sekali kejadian yang tidak mereka mengerti?
"Hah... Dasar pasangan muda...," ucap Yugi layaknya dia seorang kakek-kakek tua.
"Kau kan juga masih muda, Yugi," ucap Atem.
"Benar juga," balas Yugi sambil tertawa canggung dan menggaruk-garuk kepalanya.
~Yurika's Room~
Yurika saat ini sedang berbaring di kasurnya sambil menatap jarinya yang diplester. Wajahnya tiba-tiba saja kembali memanas.
"Ah! Aku sudah tidak mau tahu lagi!" seru Yurika sambil menutup kepalanya dengan bantal.
Dirinya benar-benar tidak bisa berpikir lagi. Pikirannya benar-benar penuh akan segala persoalan. Pertama tentang mimpi-mimpi dan pengelihatan-pengelihatannya, kedua tentang Holy Elf yang mengaku sebagai kanya, ketiga tentang beberapa orang yang membuatnya lebih sering melihat pengelihatan-pengelihatan aneh itu, keempat tentang Yami yang membuatnya merasakan sesuatu yang aneh setiap menyentuhnya, kelima tentang dirinya yang sepertinya terkadang tidak bisa melawan perkataan Yami, dan terakhir tentang dirinya yang entah kenapa terus menjauhi Yami. Apa mungkin karena Yami mirip dengan Pharaoh Atemu?
'Masutaa, apa anda baik-baik saja?' tanya Holy Elf sambil menampakkan dirinya di sebelah Yurika.
Yurika menyingkirkan bantalnya dan menatap Holy Elf, lalu mengangguk pelan.
"Aku baik-baik saja. Maaf membuatmu khawatir. Aku hanya perlu menenangkan pikiranku sebentar," ucap Yurika.
'Kenapa masutaa tidak coba menggambar saja. Bukankah itu biasanya membuatmu lebih tenang?' tanya Holy Elf.
Yurika terbelalak kaget. Bagaimana Holy Elf tahu tentang itu? Bukankah sejak kanya itu muncul, dia belum pernah menggambar sama sekali?
Holy Elf lalu terkekeh pelan melihat ekspresi Yurika.
'Masutaa pasti bingung bagaimana aku bisa tahu. Begini masutaa, memang anda baru bisa melihat dan mendengarku baru-baru ini, tetapi aku sudah ada di ruang hati masutaa sejak lama sekali. Jadi tidak aneh kalau aku tahu apapun tentang masutaa. Walau anda tidak bisa melihatku, aku bisa melihat apa yang anda lakukan, apa yang anda rasakan, dan yang lainnya,' jelas Holy Elf.
Yurika mengangguk-ngangguk tanda mengerti. Lalu tersenyum kecil melihat Holy Elf.
"Boleh juga idemu. Aku memang perlu mengalihkan pikiranku dari semua hal gila ini," ucap Yurika sambil beranjak ke meja belajarnya dan mengambil sebuah buku, pensil, dan penghapus.
Yurika lalu menggoreskan pensilnya ke atas kertas, membentuk sesuatu. Dirinya membiarkan tangannya bergerak secara alami. Dirinya merasakan kejenuhannya mulai menghilang sedikit demi sedikit.
Holy Elf tersenyum kecil. Dirinya senang dapat membantu majikannya, walau hanya dengan memberinya saran.
Yurika lalu meletakkan pensilnya ke atas meja dan menatap gambarnya dengan tidak percaya.
"A-apa?" tanya gadis itu sambil menyentuh pelan buku gambarnya dengan tangan gemetar.
'Masutaa, itu...'
"Kenapa aku menggambar Atemu...?" tanya Yurika tidak percaya.
Dirinya yakin tangannya benar-benar bergerak dengan sendirinya saat menggambar tadi, tetapi rasanya terlalu mustahil dia menggambar seseorang yang hanya ada di dalam mimpi—bahkan sosok Atemu sendiri belum pernah dilihatnya dengan jelas.
"Hal ini membuatku semakin lelah saja...," ucap Yurika sambil menutup bukunya dan merebahkankan badannya ke atas kasur.
'Masutaa... Apa anda masih tidak percaya dengan semua masa lalu anda...?' tanya Holy Elf.
Yurika terdiam. Dia harus menjawab apa?
Di satu sisi, ya, dia masih belum percaya dengan hal-hal seperti reinkarnasi dan Sennen Item yang tidak jelas itu. Tetetapi, di satu sisi, dirinya sedikit mempercayai akan masa lalunya. Saat-saat dia memimpikan dan membayangkan Atemu, semuanya terasa nyata. Sentuhannya, napasnya, aromanya, dia seperti bisa merasakannya, walau itu tidak nyata. Ya, walau tidak nyata, semua terasa nyata.
'Baiklah, tidak usah dijawab, masutaa. Aku yakin pertanyaanku malah akan membuat masutaa semakin stres, lagipula aku sudah tahu jawabannya. Oyasumi, masutaa...,' ucap Holy Elf sebelum sosoknya kembali menghilang dan dirinya kembali ke dalam ruang hati sang majikan.
~Kaiba Mansion~
Di kamar Mokuba, terlihat sang pemilik kamar sedang melihat ke luar jandela. Dirinya menolah-noleh ke kanan kiri dengan resah. Dia lalu menjuntaikan selimut-selimut yang sudah diikatnya menjadi satu seperti tali ke bawah dan mengikat ujung yang satunya ke tiang ranjang miliknya. Perlahan-lahan, gadis kecil itu mengeluarkan kakinya dan mulai memeluk selimut-selimut itu. Dirinya menengok ke bawah sebentar, lalu kembali menghadap ke atas sambil menutup matanya kuat-kuat.
'Oh Ra! Kenapa kau tidak mebiarkan nii-sama memanjangkan rambutku seperti Rapunzel? Jadi kan aku tidak perlu keluar dengan cara mengerikan seperti ini! Demi Ra, INI BENAR-BENAR MENGERIKAN! NOA-NII~! NII-SAMA~! HAHAUE~! CHICHIUE~! DASUKETTE~!' pikir Mokuba ketakutan.
Perlahan-lahan dia mulai menurunkan badannya sedikit demi sedikit, sambil berharap kakaknya belum pulang dan para penjaga itu tetap mengawasi depan gerbang dan tidak melihatnya. Demi Ra, hal ini benar-benar mengerikan! Semua orang kalau melihat Mokuba keluar dengan cara sepeti itu, pasti akan langsung berteriak histeris melihat seorang GADIS KECIL keluar dari kamarnya yang ada di LANTAI 3 lewat JENDELA menggunakan TALI yang dibuatnya dengan menggabungkan beberapa helai SELIMUT.
"HAHAUE DAN CHICHIUE DI SURGAAA! DOAKAN AKU AGAR SELAMAT DALAM PELARIAN INIII!" seru Mokuba sambil terus turun perlahan-lahan tanpa bearani melihat ke bawah.
Tidak terasa, akhirnya Mokuba berhasil mencapai ke tanah. Dia lalu menyembah sujud dan menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, sebelum akhirnya berlali menembus pepohonan di sekitar mansionnya dan memanjat tembok untuk keluar dari area mansion itu.
"Pokoknya laptopku harus kembali apapun risikonya! Aku tidak bisa hidup tanpa laptopkuuu!" seru Mokuba sambil berlari menuju ke arah toko perbaikan alat elektronik.
'Pokoknya aku tidak mau besok! Mau nii-sama marah atau apa, POKOKNYA AKU TETAP AKAN MENGAMBIL KEMBALI LAPTOPKU YANG SELESAI DIPERBAIKI HARI INI! BUKAN BESOK!" pikir Mokuba kesal.
Karena terus berlari tanpa melihat apa yang ada di sekitarnya, Mokuba tiba-tiba jatuh tertabrak dengan seseorang di pertigaan jalan.
"Adududuh! Kenapa harus jatuh lagi sih hari ini!? Gomen! Aku buru-buru ta—kau?" Mokuba menunjuk sosok yang jatuh terduduk di depannya dengan tatapan tidak percaya.
Kaitou Noa...
Lagi...
"Kukira siapa, ternyata Moku-chan lagi," ucap Noa sambil berdiri dan mengambil tas sekolahnya yang terjatuh tadi.
'Moku-chan?' pikir Mokuba bingung.
"Aku juga minta maaf, tadi aku tidak melihatmu berlari buru-buru," ucap Noa sambil menarik tangan Mokuba untuk membangunkannya dari posisinya.
Mokuba hanya terdiam bingung saja melihat sosok Noa—Kaitou Noa, di depannya. Kenapa mereka harus bertemu dengan BERTABRAKAN lagi?
Mokuba lalu menepuk keningnya mengingat sesuatu yang harus dilakukannya.
"Gomen, aku duluan! Aku harus pulang sebelum nii-sama pulang dan aku ketahuan kabur!" ucap Mokuba buru-buru.
"Memang kau mau ke mana?" tanya Noa bingung.
"Toko perbaikan alat elektronik. Kalau begitu, jaa, Kaitou-san!" pamit Mokuba sambil berlari pergi dari sana dan meninggalkan Noa sendirian.
Tetetapi tiba-tiba langkahnya terhenti begitu mendengar sebuah suara memanggil namanya.
"Mokuba! Stop di sana!" seru Noa sambil berlari menghampiri Mokuba.
Mokuba lalu menolehkan kepalanya dengan wajah bingung.
"Aku akan menemanimu ke sana. Kau itu wanita, dan wanita tidak boleh pergi sendirian malam-malam," ucap Noa sambil menarik tangan Mokuba untuk kembali berjalan.
Mokuba hanya menurut dengan apa yang dilkukan Noa. Dirinya bingung, apa yang sedang bersamanya ini benar-benar musuh perusahaan kakaknya? Lalu kalau iya, seharusnya orang itu tidak peduli padanya kan? Apa orang itu kelewat baik atau apa?
"Ano, Kaitou-san—"
"Noa. Jangan panggil aku dengan panggilan formal seperti itu," ucap Noa.
Mokuba terdiam sebentar. Menyebut nama 'Noa'? Tidak, itu hanya akan membuatnya kembali mengingat tentang kakak angkatnya.
"Shi-shikasi—"
"Kau merasa enggan dengan panggilan itu karena kakak angkatmu? Dengar baik-baik, aku ini Kaitou Noa, musuh perusahaan kakakmu, bukan Kaiba Noa, kakak angkatmu," ucap Noa memotong perkataan Mokuba dengan nada kesal.
Kesal? Tentu. Bagaimana dia tidak kesal kalau tahu dirinya disamakan orang lain? Atau, ada alasan lainkah...?
"Noa-san, kau benar-benar musuh perusahaan nii-sama kan? Kalau begitu, kenapa kau peduli padaku?" tanya Mokuba dengan nada bingung sekaligus takut.
Noa menghela napas mendengar perkataan Mokuba.
"Memang iya, tetapi aku tetap tidak bisa membiarkan wanita yang kukenal berjalan sendirian saat malam hari. Dan lagi, jangan pakai suffix san. Aku sedikit merasa tidak nyaman dengan itu," ucap Noa.
"Go-gomen... Aku benar-benar merasa aneh kalau memanggilmu dengan nama 'orang itu'...," ucap Mokuba dengan nada sedih.
Noa tersenyum miris mendengar perkataan Mokuba itu. 'Orang itu'? Kenapa dia berkata seakan-akan tidak menganggap Kaiba Noa sebagai saudaranya? Yah, walau cuma saudara angkat, mereka tetap berstatus saudara kan?
Ngomong-ngomong, bagaimana Kaitou Noa tahu tentang Kaiba Noa. Hmph, jangan anggap dia orang bodoh! Begini-begini, dia itu Kaitou Noa, si jenius yang sudah menjadi vice CEO Kaitou Corporation sejak umur 5 tahun dan menjadi CEO menggantikan ayahnya yang wafat saat masih duduk di bangku 1 SMA. Bukannya mustahil baginya untuk mencari segala informasi yang dia inginkan.
'Sepertinya masih banyak yang harus kucari tahu tentang keluarga... Kazunari...,' pikir Noa dengan tersenyum licik yang tersembunyi oleh gelapnya malam.
.
.
Tsuzuku
.
.
Gia : Well, lagi-lagi penutupnya Stepshipping~
Yami : Loh, bukannya Kazunari itu—
Gia *Ngebekep mulut Yami* NO SPOILER HERE! SHUT UP YOUR MOUTH, BAKA!
Bakura & Yugi : MANA BAGIAN GUE!?
Gia : Er, Yug, punya lu masih keliatan dikit kok~ Kalo Bakura... Tunggu di chapter-chapter depen ya~ Love lu terlalu complicated sih, sama kaya punya si Seto~
Seto : *Natep tajem* Apa kata lu? Dan... BERANINYA LU BIKIN ADEGAN LAKNAT DI SCENE TERAKHIR-TERAKHIR!
Mokuba : *merinding* *Mundur ngejauh dari Seto* (HAHAUE! CHICHIUE! MOGA-MOGA GUE GAK DIMARAIN NII-SAMA GARA-GARA KABUR TADI!)
Atem : Er, baiklah. Ayo balas review...
.
Ruega Kaiba :
Yurika : *lirik Yami* Sama dia? Kaga sudi! DAN KENAPA GUE MESTI NURUTIN PERINTAH DIA!?
Gia : Itu kan gara-gara sumpahnya si Hikari
Yami : HUAHAHA! GUE BERKUASA DI SINI! *Hepi abis*
Yurika : *Bawa besi* Kalau boleh... GUE MAU NGEHAJAR TUH GURU SIALAN!
Masahiro : *Mundur menjauh dari Yurika* Gu-gue Cuma nurutin naskah...
Gia : Eh, sriusan tuh, Run? OAO Ada komen, Yuri-chan?
Yurika : Gue KAPOK BANGET hidup di masa lalu! Udah jadi servant si mesum, dihina-hina sama si munafik lagi! *Lirik tajem ke Yami sama Aknadin*
Aknadin : Gue kan nyuruh lu cuma buat ngambil barang-barangnya si pangeran doang
Yurika : APANYA!? BUKAN CUMA ITU! MASIH BANYAK LAGI! MANA LU NGATAIN GUE LELET LAGI!
Yami : *Nahan Yurika* Tenang, Hime, tenang...
Ryo : *Nongol* Jauh-jauh lu dari Yurika *Natep tajem ke Yami*
Gia : Perang dingin nih...
Yurika : Soal dari siapa... *Lirik Gia*
Gia : Hi-mit-suuu~ Intinya dari mantannya~
Yurika : BEGO! NAPA MALAH KASIH SPOILER!? *Guncang-guncang Gia*
Rei : *Nongol* Oi, bego, kapan bagian gue dibanyakin!? Gue termasuk peran penting, setidaknya untuk konflik yang ini...
Yurika : KAGA USAH NONGOL SEKALIAN! Udah ada orang mesum satu, masa gue mesti ngurus playboy juga!?
Jou : Ahahaha *Ketawa kering* Nasib gue dapet peran kaya gitu... Soal Kisara... *Lirik Kisara*
Kisara : Eh? Mungkin?
Seto : Dapet dari sumber terpercaya...
Jou : Sumber terpercaya apanya? BERKHIANAT LU YUG! KOK LU KASIH E-MAIL GUE!?
Yugi : Apa yah~? *Sok kaga tau*
Mokuba : Pengennya sih gue kabur sampe ke ujung benua sono, Ru, tetapi si nii-sama ngetemuin gue di ujung jalanaaan! QAQ
Noa : MOKUBA PUNYA GUE! *Meluk-meluk Mokuba*
Mokuba : *Cengo* Bukan gue yang ngedeketin atuh, liat aja scene di atas! ADA GUE YANG DIDEKETIN! *Merinding* Rasanya kaya dihampirin sama setan tau kaga! *Nginget Noa yang udah mati*
Rikku : Waduh! OAO Ada apaan nih? Ada yang salah sama nama gue?
Gia : Spoiler inih, aslinya namanya bukan Rikku
Rikku : Nama asli gue emang apaan?
Yurika : *Ngehela napas* Lu mesti baca naskah nanti sama si Rei...
Atem : Thanks for review!
Bakura & Yugi : *Pake Toa* DOAIN BAGIAN KITA BERDUA NANTI LEBIH BANYAK LAGI DI CHAP DEPEN!
.
Erlangga186 :
Gia : Hie! Mamih! *Sembunyi di belakang Yurika* Ada yang perang!
Ryo : *Tatap-tatapan dama Yami*
Yami : *Mandang kesel ke Ryo*
Yurika : Hah... Biarin aja tuh pada perang... Shun, bisa urus tuh dua orang kaga? Bisa nambah kerjaan gue kalo si Rei nongol juga nanti... *Geleng-geleng kepala*
Gia : Soal marga... Tanya aja orangnya sendiri~ *Senyum innocent*
Atem : Thanks for review!
Gia : Yah, karena saya udah update... JANGAN KEJAR-KEJAR SAYA DENGAN TEROR SI AYU LAGI YA! Gue ampe kaga bisa tidur tuh gegara mikirin nih fic! TTATT
All : Dasar... *Sweatdrop*
.
rani. amelia83 :
Yurika : Er... Mungkin gara-gara faktor kaga percaya sama hal-hal yang tidak mungkin...
Yami : Nah, Tem! Kenapa lu dateng!? KAGA TEPAT TIMING LO!
Atem : Aku kan Cuma ngikut naskah~ Salahin authornya~
Gia : Jangan ngelempar kesalahan sama gue dong! TTATT
Yami : KENAPA, GI!? GUE PROTES!
Gia : Emang kaya begitu, Yami! TTATT
Yurika : Emang, banyak banget... Malah menurut gue kebanyakan *Lirik Gia kesel*
Gia : Gomen, Yur~ TTwTT
Yugi : Thanks for review! XD
.
MaYa ChaN23598 :
Gia : Yah, di sini ada Kiokushipping (Shipping buatan author sendiri), Blindshipping, Tendershipping, Deathshipping, Bronzeshipping, Puppyshipping, Snareshipping, Stepshipping, dan shipping lainnya yang masih menunggu~
Jou : BUSET! Banyak amat!
Seto : Kebanyakan malah... HILANGIN SNARESHIPPING!
Ryuuji : KAGA BISA! GUE MESTI SAMA KATSUYA!
Seto : BERANINYA LU MANGGIL PELIHARAAN GUE PAKE NAMA KECILNYA!
Ryuuji : SESUKA GUE DONG!
Gia : Haduh, ribut deh... Rate M? Sekarang sih kaga, Cuma liat aja nanti~ Ehehehe!
Yami : BIKIN! MESTI!
Yurika : GAK ADA! LU BIKIN, DOUJIN LU—
Yami : Hime... *Natep tajem*
Yurika : *Merinding*
Atem : Thanks for review!
.
Shun Kazami :
Ryo : Jadi, Gia, apa jawabanmu?
Gia ; Er... Yah, begitulah~ Bisa dibilang lu itu dapet menyelesaikan semua keeping puzzle ingatan lu duluan dari yang lain
Yami : APAAN TUH! GUE KAGA BOLEH NGASIH SPOILER TETAPI LU BOLEH KASIH SPOILER!
Gia : GUE KAN AUTHORNYA! SUKA-SUKA GUE!
Yami : NANTANG LO!? Dan lagi... GUE KAGA TERIMA SAINGAN GUE BEJIBUN BEGITU!
Yurika : GUE JUGA! MALES GUE NGURUS COWO BANYAK-BANYAK! ILANGIN REI DARI DAFTAR!
Rei : *Tersinggung* Maksud lu apa?
Rikku : Sabar aja deh...
Yami E : *Nongol* Bukannya semakin banyak tantangan semakin bagus, Yami G?
Yami G : APANYA!? SEMAKIN SUSAH JUGA GUE DAPETIN HIME!
Gia : HUE! KENAPA DARITADI ADA PERANG TERUS!? UDAH WOI! SETOOOOP!
Yugi : Er... Thanks for review!
.
Gia : KAGA TAHAAAN! TTATT JANGAN OMELIN GUEEEE!
Yurika : GIMANA CARANYA GUE KAGA NGOMELIN LU HAH!?
Atem : Langsung closing aja...
Bakura : Maaf buat segala typo, misstypo, kesalahan tanda baca, ketidak nyambungan cerita, dan kecacatan lainnya
Yugi : Terima kasih buat yang udah review, favorite, follow, dan baca cerita ini!
Jou : Selamat menunggu chapter 9!
