Gia : Yay! AKHIRNYA! Maaf saya updatenya telat tiga hari! TTATT
Yurika : BURUAN SLESAIN SEMUA FIC LU YANG BEJIBUN! GUE UDAH CAPEK MENDERITA!
Gia : Si-siap. Nona!
Yami : Kali ini, tanpa banyak basa-basi, Happy reading!
.
.
The Next Journey
.
By : Gia-XY
.
Previously :
"Ano, Kaitou-san—"
"Noa. Jangan panggil aku dengan panggilan formal seperti itu," ucap Noa.
Mokuba terdiam sebentar. Menyebut nama 'Noa'? Tidak, itu hanya akan membuatnya kembali mengingat tentang kakak angkatnya.
"Shi-shikasi—"
"Kau merasa enggan dengan panggilan itu karena kakak angkatmu? Dengar baik-baik, aku ini Kaitou Noa, musuh perusahaan kakakmu, bukan Kaiba Noa, kakak angkatmu," ucap Noa memotong perkataan Mokuba dengan nada kesal.
Kesal? Tentu. Bagaimana dia tidak kesal kalau tahu dirinya disamakan orang lain? Atau, ada alasan lainkah...?
"Noa-san, kau benar-benar musuh perusahaan nii-sama kan? Kalau begitu, kenapa kau peduli padaku?" tanya Mokuba dengan nada bingung sekaligus takut.
Noa menghela napas mendengar perkataan Mokuba.
"Memang iya, tetapi aku tetap tidak bisa membiarkan wanita yang kukenal berjalan sendirian saat malam hari. Dan lagi, jangan pakai suffix san. Aku sedikit merasa tidak nyaman dengan itu," ucap Noa.
"Go-gomen... Aku benar-benar merasa aneh kalau memanggilmu dengan nama 'orang itu'...," ucap Mokuba dengan nada sedih.
Noa tersenyum miris mendengar perkataan Mokuba itu. 'Orang itu'? Kenapa dia berkata seakan-akan tidak menganggap Kaiba Noa sebagai saudaranya? Yah, walau cuma saudara angkat, mereka tetap berstatus saudara kan?
Ngomong-ngomong, bagaimana Kaitou Noa tahu tentang Kaiba Noa. Hmph, jangan anggap dia orang bodoh! Begini-begini, dia itu Kaitou Noa, si jenius yang sudah menjadi vice CEOKaitou Corporation sejak umur 5 tahun dan menjadi CEO menggantikan ayahnya yang wafat saat masih duduk di bangku 1 SMA. Bukannya mustahil baginya untuk mencari segala informasi yang dia inginkan.
'Sepertinya masih banyak yang harus kucari tahu tentang keluarga... Kazunari...,' pikir Noa dengan tersenyum licik yang tersembunyi oleh gelapnya malam.
.
Summary :
Hari Minggu kembali datang. Hei, apa-apaan ini?! Yurika ditinggal berdua denagn Yami di rumah?! Bakura dan Ryou bertengkar?! Dan lagi, ke mana Yugi dan Atem sebenarnya?! /'Mereka... BAGAIMANA BISA MEREKA MENINGGALKANKU BERDUA DENGAN LELAKI INI?!'/"Ukh... Maafkan aku, Bakura... Aku sama sekali tidak bermaksud untuk memarahimu seperti itu..."/
.
Disclaimer :
Yu-Gi-Oh! © Takahashi Kazuki
Story, Gia's OC : Kisaragi Yurika, Yukarina Hikari © Gia-XY
Ryo's OC : Kazami Ryo © Aertyu Ghfd
Erlangga's OC : Kazami Shun © Erlangga186
.
Warning :
OC, OOC, OC as main lead, genderbend, typo(s), misstypo(s), semi-canon, sedikit bahasa Jepang, krisis kosakata, DLDR, dll.
.
Journey 9
New Rival?
.
.
-Dreams-
"Khh! Aku tidak akan membantumu! Hanya orang bodoh yang akan percaya padamu!"
Suasana menjadi hening sejenak. Seorang gadis berambut blonde menatap lelaki berambut putih berkulit tan di depannya dengan tatapan marah. Lelaki itu lalu menampakkan sebuah senyuman mengejek pada sang gadis berambut blonde berkulit seputih susu itu yang sempat membentaknya tadi.
"He? Kau lebih percaya pada Ousama itu dari pada aku? Kau tidak dendam padanya? HIKARI! SADARAH! DIA SUDAH MENGHANCURKAN SUKU KITA! DESA KITA! BUKA MATAMU, HIKARI!"
Sang lelaki berambut putih itu mengguncang-guncang bahu gadis di depannya. Sang gadis berambut blonde itu menutup telinganya dengan kedua tangannya sambil memejamkan matanya kencang-kencang.
Tidak! Dia tidak mau mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut lelaki itu!
"Yamero! Aku tidak mau dengar lagi! Hentikan semua omong kosongmu! Ousama tidak sejahat itu! Dia orang baik!"
Sang lelaki berambut putih itu lalu tertegun mendengar seruan gadis berambut blonde itu dan melepaskan bahu gadis itu. Dia lalu berdecih kesal dan menampakkan sebuah senyuman licik pada wanita itu.
Gadis itu lalu perlahan mundur dengan wajah ketakutan melihat senyuman licik lelaki itu. Tubuhnya bergetar ketakutan. Sang lelaki beriris purple violet itu perlahan mendekati gadis itu dengan langkah pasti. Lama-lama langkah lelaki itu semakin cepat dan...
Buk!
Lelaki berjubah merah itu memukul punggung gadis itu. Sang gadis beriris blue aquamarine terjatuh tidak sadarkan diri. Sang lelaki beriris violet itu dengan sigap menangkap tubuh gadis itu dengan sebelah tangannya.
"Hmph, aku tidak tahu apa yang dilakukan Ousama itu sampai-sampai kau membelanya. Tetaoi akan kupastikan kalau aku akan membuka matamu—sehingga kau tahu apa yang telah dilakukannya pada kita—beserta dengan teman-teman sesuku kita, dan kita akan menghancurkan pharaoh itu. Kita akan menghancurkan Ousama bersama-sama, Hikari... Kita, keturunan suku Kul Elna yang tersisa... Ya, kita, kita akan menghancurkan sang Ousama! Ahahahaha! Hahahahaha!"
-Dreams End-
"TIDAAAK!"
Yurika terbangun dari tidurnya. Napasnya memburu, matanya terbelalak lebar.
Lagi-lagi mimpi tentang masa lalu itu lagi...
"Khh! Akh! Lama-lama aku bisa gila kalau begini terus!" seru Yurika sambil mengacak-ngacak rambutnya.
Hari Minggu kembali datang. Yurika menghela napas panjang. Berarti sudah hampir seminggu dia menghindari 'orang itu'.
Yurika lalu beranjak dari kasurnya.
Tidak, dia tidak boleh memikirkan masalah ini terus! Di harus fokus pada kehidupannya, bukan masa lalu tidak jelas itu!
Holy Elf hanya menghela napas saja begitu merasakan tekad gadis itu. Masternya memang keras kepala...
~Dining Room~
Sehabis mandi, berganti baju, dan merapikan penampilannya, Yurika turun menuju ke ruang makan. Dia menolah-nolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri—mencari orang-orang yang tinggal bersamanya di rumah itu.
"Aneh... Sepi sekali... Apa mungkin mereka pergi? Yah, tidak aneh sih, ini kan hari Minggu," ucap Yurika sambil berjalan menuju meja makan—mengecek apa ada pesan yang ditinggalkan untuknya atau tidak.
Benar saja, di atas meja terlihat sebuah kertas. Yurika lalu mengambil kertas itu dan membaca isinya.
Aku dan Atem pergi untuk berbelanja. Makanan di kulkas sudah menipis. Aku yakin kalian tidak mau kita mati kelaparan karena kehabisan bahan makanan kan? Mungkin kami akan pulang agak sedikit telat. Kalau kau mau makan, masih ada mi instan di lemari.
-Mutou Yuugi-
Yurika tertawa kecil melihat pesan dari Yugi.
Berbelanja? Kau yakin? Bukannya kencan?
Menyadari sesuatu, Yurika lalu menghentikan tawanya. Dia kembali membaca pesan itu dengan wajah tidak percaya.
'Aku and Atem'?! APA?! Cuma Yugi dan Atem?! Berarti...
"O-orang itu masih ada di—"
"Yurika?"
Yurika lalu membatu. Perlahan dirinya menengokkan kepalanya ke belakang. Dirinya terbelalak mendapati sosok Yami yang sedang menguap sambil mengucek-ngucek matanya.
'Mereka... BAGAIMANA BISA MEREKA MENINGGALKANKU BERDUA DENGAN LELAKI INI?!' pikir Yurika panik.
Yah, sepertinya memang nasibmu, Nak Yurika~ Ahahaha! Author sangat menikmati penderitaanmu—PLAK! Eh, ehem! Baiklah, lanjut ke scene selanjutnya.
~Domino Apartment~
~209 Room~
Beralih ke sebuah kamar apartemen di Apartemen Domino. Di kamar milik Ryou, terlihat Bakura dengan santainya duduk di atas sofa sambil membolak-balik halaman sebuah buku.
Oh My Ra! Apa kita tidak salah lihat?! Bakura?! Bakura membaca... Buku Fisika?!
Bakura lalu melempar buku itu ke atas meja dengan wajah kesal. Dia lalu langsung membaringkan tubuhnya di kasur.
"Yadounushi! Kau harus mengajariku Fisika nanti! Harus!" seru Bakura dengan nada memaksa.
Ryou yang sedang berada di dapur, langsung terkiki geli membayangkan Bakura yang sedang kesal pada pelajaran FISIKA yang baru saja berusaha di dalami oleh lelaki itu tadi. Yah, saat dulu masih menjadi sisi gelap Ryou, Bakura juga selalu mengomel pada Ryou untuk membakar buku berjudulkan 'IPA : Fisika SMA' itu, dari seri SMA 1 sampai seri SMA 3, karena Bakura selalu pusing melihat rumus-rumus dan bacaan-bacaan tidak jelas yang ada di dalamnya. Melihat cover bukunya saja sudah enggan. Tetapi entah kenapa, Ryou selalu menyimpan buku itu. Katanya sih untuk jaga-jaga kalau saja nanti ada rumus yang diperlukan dan rumus itu tidak ada di buku SMA 3. Sedangkan Bakura hanya bisa mendengus kesal setiap kali mendengar jawaban Ryou itu. Benar saja, seperti kata orang, 'Kalau kau benci pelajarannya, maka akan sangat sulit untuk mengerti pelajaran itu.'
"Kenapa tidak minta Malik untuk mengajarimu? Dia partner belajarmu kan?" tanya Ryou.
Bakura lalu mendengus kesal mengingat hal bernama 'Partner belajar' itu. Lebih tepatnya dia kesal tentang dirinya yang tidak berpartner dengan Ryou.
"Oh ayolah, lebih mudah untuk meminta pertolonganmu yang ada di dekatku dari pada Malik yang entah mungkin masih di rumahnya sekarang," ucap Bakura sambil seenaknya mengutak-atik handphone Ryou yang diambilnya dari atas meja.
Bakura membuka-buka inbox e-mail Ryou. Tiba-tiba sebuah e-mail masuk ke inbox. Bakura terbelalak melihat nama pengirim e-mail itu..
'Ishtar Marik'...
Bakura lalu membuka e-mail itu tanpa meminta izin dari Ryou.
From : Ishtar Marik
Subject : just remind you, Angel
hei, Ryou. aku akan ke kamar apartemenmu nanti jam 11 siang. kuharap kau tidak lupa kalau kau hari ini harus mengajariku pelajaran Fisika yang menyusahkan itu
Bakura lalu menatap layar handphone itu dengan tatapan kesal. Dia lalu membuka e-mail lain yang bertuliskan nama Ishtar Marik, mau itu e-mail yang dikirim atau diterima. Cukup banyak e-mail yang diterima Ryou dari Marik, dan biasanya bukan hanya membahas seputar pelajaran, tetapi membahas hal lain juga—mungkin hal privasi?
"Tetapi aku ada janji untuk mengajari Marik hari ini," ucap Ryou.
Bakura terdiam sebentar, sebelum akhirnya membuka mulut dan bertanya pada Ryou.
"Yadounushi, sejak kapan kau tahu e-mail Marik?" tanya Bakura sambil menahan rasa kesalnya.
Ryou yang baru saja keluar dari dapur, lalu menaruh sebuah mangkuk berisi popcorn di atas meja dan duduk di atas sofa sambil memasang pose berpikir.
"Em, kalau tidak salah sejak kami duduk satu meja...," ucap Ryou sambil memakan popcorn dengan santainya.
Bakura lalu dengan kasar memencet tombol back dan meletakkan handphone itu ke atas meja dengan kasar. Ryou langsung mengambil handphone itu dan memarahi Bakura.
"Bakura! Apa yang kau lakukan?! Jangan bilang kalau kau mengintip isi handphoneku! Ah! Jangan-jangan kau mengintip isi e-mailku dan Marik! Kau tahu kan kalau mengintip handphone seseorang tanpa izin itu bukan hal yang baik?! Lagipula kau pikir aku membahas apa dengan Marik di e-mail sampai kau harus memeriksanya segala?!" seru Ryou kesal.
Bakura tidak mempedulikan ocehan Ryou yang terus-terus membahas tentang e-mailnya dan Marik. Dia hanya memakan popcorn yang dibawa Ryou tadi dengan cueknya. Persetan dengan Marik atau Ryou yang memarahinya!
"Bakura! Apa kau mendengarku?!" tanya Ryou kesal sambil menarik kerah baju Bakura dengan kedua tangannya.
Wajah Bakura langsung memerah menyadari jarak wajahnya dan Ryou yang hanya beda beberapa centi saja. Di lain pihak, sepertinya Ryou malah tidak peduli dan menunggu Bakura menjawabnya.
"Ukh! Marik, Marik, dan Marik terus sejak kemarin! Sebenarnya kau ini kenapa membahas Marik terus?! Kau suka padanya?!" tanya Bakura kesal sambil mendorong Ryou menjauh darinya dan bernjak pergi menuju ke kamarnya.
Ryou hanya terdiam. Dia menundukkan kepalanya.
Menyesal. Ya, dia menyesal telah memarahi Bakura. Memang benar kata Bakura, dari kemarin yang ada di pikirannya hanya Marik, dan Marik terus. Mungkin ini karena dirinya yang senang mendapat seorang teman baru.
Yah, kita semua tahu kan kalau Ryou sama sekali belum pernah bertemu Marik. Bahkan saat Marik masih berada di dalam diri Malik, dia juga belum pernah mengenal Marik sama sekali. Karena itu Ryou ingin tahu banyak tentang teman barunya itu, dan terus-terusan bertanya pada Bakura. Bagaimanapun Bakura kan sebelum ini adalah 'teman seperjuangan' Marik dan Malik. Tetapi sepertinya Bakura malah salah paham dan menganggap Ryou lebih memperhatikan Marik dari pada dirinya.
"Ukh... Maafkan aku, Bakura... Aku sama sekali tidak bermaksud untuk memarahimu seperti itu...," ucap Ryou sambil memegang handphonenya erat-erat.
Ryou lalu melirik jam alarm di samping televisi.
10 : 45
Marik bilang dia akan datang jam sebelas. Berarti lima belas menit lagi.
Ting! Tong!
Oh, nice. Ini belum jam sebelas dan bel kamarnya sudah berbunyi. Apa Marik tipe orang yang suka datang sebelum waktu yang ditentukan? Well, tidak apa sih, itu malah lebih baik. Semoga saja benar kalau itu Marik.
Ryou lalu beranjak menuju ke pintu depan dan membukanya. Terlihat sosok Marik dan Malik berdiri di sana.
"Hai, Ryou. Sepertinya aku lima belas menit lebih cepat ya?" ucap Marik sambil terkekeh kecil.
Ryou tersenyum kecil melihat kedua sosok yang ada di depannya.
"Yah, itu lebih baik. Oh, kau benar-benar membawa Malik? Malik, maaf merepotkan! Sejak kemarin Bakura terlihat kesulitan dengan tugas Fisikanya, kuharap kau bersedia membantunya," ucap Ryou.
Malik lalu tersenyum lebar dan berkata, "Serahkan saja padaku! Akan kupastikan dia dapat mengerjakan tugasnya dengan baik."
Ryou lalu membuka pintu kamar apartemennya semakin lebar dan mempesilahkan kedua orang itu untuk masuk.
"Ayo masuk. Ah, Malik, Bakura ada di kamarnya. Kau tahu ruangan yang dulu sempat kosong di sini kan? Itu kamar Bakura," ucap Ryou.
"Baiklah, aku masuk duluan ya!" seru Malik sambil melepaskan sepatunya dan berjalan masuk menuju ke kamar Bakura.
Suasana kembali hening.
"He, setahuku Bakura bukan tipe orang yang suka mengurung diri di kamar, kecuali dia sedang tidur. Apa ada sesuatu yang terjadi padanya ya?" tanya Marik sambil tersenyum menyindir.
Sepertinya Marik memang tahu kalau Ryou dan Bakura sedang ada masalah dan sengaja berkata seperti itu di depan Ryou.
Ryou semakin tertunduk murung. Dia semakin merasa bersalah atas kejadian tadi.
"Hei, Ryou, sepertinya kau murung sekali sejak tadi. Ada apa?" tanya Marik.
Ryou tertunduk murung. Kenapa Marik selalu tahu segalanya?
"Aku... Ah, tidak apa-apa kok! Lebih baik kita masuk dulu!" ucap Ryou sambil berusaha tersenyum.
Marik lalu berjalan masuk dan melepaskan sepatunya. Mereka lalu berjalan menuju ke ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, Ryou langsung mempersilakan Marik untuk duduk di atas sofa.
"Aku akan mengambil bukuku sebentar," ucap Ryou masih berusaha tersenyum kepada Marik.
Sebelum Ryou sempat melangkahkan kakinya menuju kamarnya, tangan Marik sudah lebih dulu menarik pergelangan tangan gadis itu.
"Hentikan. Jangan tersenyum kalau kau memang tidak bisa tersenyum," ucap Marik dengan nada serius.
Ryou tersentak kaget. Sejak kapan Marik bisa bicara dengan nada serius seperti itu?
"Ada apa? Kau bisa cerita padaku kalau terjadi sesuatu. Tenang saja, aku tidak akan membocorkannya pada siapapun," ucap Marik.
Ryou terlihat ragu. Dia lalu menghela napasnya dan duduk di sebelah Marik. Dirinya membnuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu, tetapi dia menahannya. Apa tidak apa kalau dia mengatakan hal ini pada Marik?
"Ayolah Ryou, kau tidak percaya padaku? Tidak baik kalau masalah ditahan-tahan seperti itu terus. Terkadang kau perlu membaginya pada orang lain, setidaknya untuk mengurangi beban," ucap Marik.
Ryou tertegun. Dia menatap Marik dengan tatapan tidak percaya.
Kalau dia tidak salah dengar, teman-temannya dulu selalu berkata kalau Marik berniat menguasai dunia dan dapat dikatakan kalau Marik itu agak... Er... Psycho... Atau biasa orang sebut sebagai gila. Tetapi Marik yang ada di hadapannya saat ini tidak seperti itu. Marik yang ada di hadapannya sangat dewasa, bahkan mungkin terlihat agak... Bijaksana...?
Marik lalu tertawa kecil melihat wajah Ryou yang kebingungan.
"Kau pasti bingung karena apa yang dikatakan teman-temanmu tentangku berbeda dengan apa yang kau lihat selama ini. Oke, dulu aku memang sedikit... Er, atau mungkin banyak? Oke, yang pasti teman-temanmu berkata kalau aku gila, jahat, stres, licik, dan semacamnya. Tetaoi aku melakukan itu karena hasutan seseorang. Dan kau tahu siapa yang menghasutku untuk melakukan itu?" tanya Marik sambil menatap Ryou.
Ryou lalu menggeleng. Senyuman Marik semakin lebar.
"Bakura..."
Kali ini Ryou terbelalak. Bakura? Bakura menghasut Marik untuk menyakiti teman-temannya? Bakura yang melakukannya? Bakura?
"Ya, Bakura yang menghasutku, Ryou. Dan aku tidak bohong. Kau tahu? Aku selalu ingin bertemu denganmu. Selalu. Sayangnya aku tidak bisa keluar dan menemuimu karena ukiran yang ada di wajah Rishid. Selama Rishid masih dalam kesadarannya, aku tidak akan bisa mengambil alih tubuh Malik. Tetapi saat itu Bakura datang. Dia bilang, aku bisa menemuimu, dia akan membantuku. Tetapi dengan syarat aku membantunya menghancurkan Yami," ucap Marik.
Ryou benar-benar tidak percaya dengan apa yang diucapkan Marik. Bakura, Bakura sejahat itu?
"Ah, sudahlah, itu tidak penting. Ngomong-ngomong, bagaimana denganmu? Kau ada masalah apa?" tanya Marik.
Ryou lalu kembali menundukkan kepalanya.
"Aku... Bertengkar dengan Bakura... Ah! Tetapi tidak apa-apa kok! Itu cuma masalah kecil! Nanti kami juga baikan lagi. Semuanya akan baik-baik saja!" ucap Ryou sambil berusaha tersenyum.
Marik menunjukkan wajah kecewa, lalu mengelus pelan kepala gadis itu.
"Ya sudah, tidak apa kalau kau tidak ingin cerita. Tetapi kuharap kau jujur saa kau berkata semuanya akan baik-baik saja," ucap Marik.
Ryou tersenyum kecil. Baru kali ini ada lelaki selain Bakura yang benar-benar dapat mengerti dirinya. Mungkin dirinya memang tidak salah saat menganggap Marik sebagai teman yang baik.
~Bakura's Room~
Di kamarnya, terlihat Bakura sedang bertopang dagu sengan wajah kesal. Malik yang sedari tadi mengoceh tentang pelajaran Fisika, yang tentunya tidak dimengerti Bakura, hanya bisa mengetuk kepala Bakura dengan buku tulis yang sudah digulungkan oleh Malik sendiri saat mengetahui Bakura sejak tadi tidak memperhatikan penjelasannya.
"Adaw! Malik! Kenapa kau memukul kepalaku?!" seru Bakura sambil memegang kepalanya.
Malik hanya mendengus kesal saja pada Bakura yang tidak menyadari kesalahannya.
"Baka! Terang saja aku marah, kamu saja sejak tadi tidak fokus pada penjelasanku! Kau ini kenapa sih?! Dari tadi kelihatannya sedang kesal! Sedang ada masalah?" tanya Malik yang mencoba menurunkan nada suaranya.
Bakura malah berdecih kesal dan memalingkan wajahnya dari Malik.
Twitch!
Karena kesal, Malik pun akhirnya memukul Bakura berkali-kali. Yah, dia memukul masih dengan menggunakan buku tulisnya.
"He-hei! Apa-apaan kau?!" tanya Bakura yang kewalahan menahan semua serangan Malik.
"Kau yang apa-apaan?! Aku sudah menjelaskan rumus tidak jelas ini panjang lebar, tetapi kau malah tidak mendengarkan!" seru Malik kesal.
Bakura hanya bisa sweatdrop di tempat. 'Rumus tidak jelas'? Apa benar kalau Malik mengerti rumus itu?
Bakura menghela napas pelan lalu beranjak menuju ke pintu kamar. Malik yang merasa tidak dihiraukan dari tadi lalu ikut berdiri mrnghampiri dengan wajah kesal.
"Hei, Bakura kau ini apa-apa—"
Malik terdiam saat Bakura membuka pintu kamar. Tidak, Bakura tidak membukanya dengan lebar, dia sepertinya hanya berniat mengintip. Mata Bakura dan Malik langsung terbelalak lebar melihat pemandangan di ruang tamu.
"Ma-Marik dan Ryou? Mereka..."
Malik terdiam.
Bayangkan saja bagaimana kagetnya dirimu kalau kau melihat lelaki yang kau cintai tengah memeluk seorang wanita yang merupakan wanita yang dicintai temanmu.
Sekilas, Bakura menyadari kalau Marik sedang menatapnya dengan senyuman puas penuh kemenangan yang membuat Bakura bertambah kesal.
Bakura langsung buru-buru menutup pintu.
"Chikuso! Rupanya dia mengajakku berperang!" seru Bakura kesal.
"Rupanya begitu... Kupikir ini hanya dugaanku, tetapi aku salah... Marik sepertinya memang benar-benar tertarik pada Ryou," ucap Malik sambil menghela napas.
"GAH! Apa yang bisa kulakukan untuk merebut yadounushi?! Kalau dilihat dari keadaan, jelas dia menang untuk saat ini karena aku sedang bertengkar dengan yadounushi dan dia adalah partner belajar yadounushi!" seru Bakura kesal sambil duduk dan mengacvak-ngacak rambutnya.
Malik terkekeh kecil melihat kelakuan Bakura. Bakura hanya menatap Malik dengan tatapan 'apa yang lucu?'
"Hahaha, sepertinya lagi-lagi kita harus bekerja sama, Bakura..."
~Kame Game Shop~
Di Kame Game Shop, terlihat Yurika sedang duduk di atas sofa sambil mengerjakan tugas Fisikanya bersama Yami yang sedang duduk di sebelahnya sambil memakai kacamata dan membolak-balik buku Fisiknya.
"Che, Masahiro sialan! Bisa-bisanya dia memberi tugas seperti ini!" ucap Yami sambil terus membolak-balik bukunya dengan kesal.
Yurika sendiri sepertinya sangat serius menatap buku tugas Fisiknya. Entahlah, dia sedang berpikir keras.
"Kenapa? Ada yang tidak kau mengerti?" tanya Yami.
Yurika terdiam. Dia lalu menggeleng pelan.
Yami menghela napas pelan. Kenapa rasanya gadis itu seperti sengaja tidak mau bicara padanya?
Yami lalu menutup buku Fisikanya.
"Huft, aku sudah selesai," ucap Yami sambil melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas buku tugasnya.
Dia lalu mendekat pada Yurika dan mengintip isi bukunya. Tampak sebuah nomor terakhir kini kosong tidak terisi dan Yurika sendiri sepertinya sedang mengingat-ngingat cara mengerjakan soal itu.
"Kau tidak mengerti yang ini?" tanya Yami.
Yurika terdiam. Dia harus menjawab apa? Dia memang tidak mengerti soal itu, tetapi dia enggan meminta bantuan lelaki di sebelahnya.
Tanpa menunggu jawaban Yurika, Yami langsung menuliskan sesuatu di atas buku gadis itu.
"Itu rumusnya. Tidak ada di buku. Masahiro baru saja menjelaskannya kemarin Jumat, tetapi sepertinya kau tidak memperhatikan pelajaran saat itu, ya?" ucap Yami sambil menyeringai.
Yurika langsung menoleh pada lelaki itu. Seringai lelaki itu semakin lebar.
"Akhirnya kau menoleh juga. Kupikir kau akan selamanya terpaku pada bukumu itu dan menghindariku," ucap Yami.
Memang benar, sedari tadi gadis itu berusaha menghindari kontak mata dengan Yami. Dia berusaha menenangkan dirinya dan melupakan semua masalah tentang masa lalu tidak jelas itu.
"A-apa maksudmu? Aku sama sekali tidak menghindarimu. Terima kasih atas rumusnya," ucap Yurika sambil kembali menulis di bukunya.
Yurika lalu menutup bukunya dan beranjak dari sofa.
"Mau ke mana?" tanya Yami.
"Aku hanya ingin jalan-jalan sebenatar," ucap Yurika sambil meletakkan bukunya di atas meja dan beranjak menuju ke luar rumah.
"Aku ikut," ucap Yami sambil mengikuti gadis itu berjalan ke luar rumah.
Dalam hatinya, Yurika mendengus kesal. Dia keluar rumah untuk menghindari Yami. Kalau Yami ikut pergi dengannya, jadinya sama saja kan?
'Aku tahu kau menghindariku. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu,' pikir Yami.
~Domino Park~
Yami dan Yurika terus berjalan sampai ke taman. Mereka terus duduk tenpa berbicara satu patah katapun di kursi taman.
"Jangan pergi kemana-mana, aku hanya akan pergi sebentar," ucap Yami sambil berdiri dan menatap gadis itu.
Yurika mengangguk pelan, lalu Yami beranjak meninggalkan gadis itu.
Yurika menghela napas pelan. Dia bisa saja kabur saat itu, tetapi dia tidak enak pada Yami. Dan kalaupun dia kabur, Yami pasti akan menginterogasinya di rumah.
"Kau sendirian, Nona?" tanya seorang lelaki berambut coklat acak-acakan sambil tersenyum pada Yurika.
Yurika hanya diam saja, tidak menanggapi lelaki itu.
"Oke, sepertinya kau sendirian ya? Bagaimana kalau ikut saja denganku?" tanya lelaki itu lagi.
Yurika masih tidak bergeming. Dia sengaja membiarkan lelaki itu sampai lelaki itu bosan sendiri dan meninggalkannya sendirian.
"He, cantik-cantik tetapi bisu. Tidak masalah, ayo ikut denganku," ucap lelaki itu sambil menarik pergelangan tangan Yurika.
Yurika terbelalak. Dia baru saja akan menendang lelaki itu, tetapi seseorang sudah lebih dulu memukul lelaki itu sampai terjatuh ke tanah.
"Dia bersamaku. Rupanya kau mau cari ribut di daerah kekuasaanku ya?" tanya seseorang sambil menatap lelaki berambut coklat tadi dengan tatapan tajam.
Lelaki berambut coklat itu langsung buru-buru pergi dari sana dengan pekspresi ketakutan.
Sosok yang menyelmatkan Yurika itu lalu menoleh ke arah Yurika.
"Terima kasih sudah menolongku," ucap Yurika.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya orang itu.
"Ya, aku tidak apa-apa. Sekali lagi, terima kasih sudah menolongku," ucap Yurika.
Yurika menatap sosok penyelamatnya itu. Lelaki dengan surai hitam dan bermata hijau itu, rasanya Yurika pernah melihat wajahnya. Mirip dengan seseorang...
"Siapa namamu, Nona? Sepertinya kau masih SMA ya?" tanya lelaki itu sambil menatap Yurika dengan tatapan observatif.
"Namaku Yurika, Kisaragi Yurika. Ya, aku memang masih SMA," ucap Yurika.
Lelaki itu tehenyak mendengar jawaban Yurika. Lalu dia berusaha kembali tenang.
"Ah, namaku Shun, Kazami Shun. Anggap saja aku penguasa daerah ini. Aku seorang mahasiswa di Domino University," ucap lelaki itu.
Yurika lalu tertegun. Kazami...?
"Apa kau kerabat Kazami Ryo?" tanya Yurika tanpa basa-basi.
Lelaki itu mengangguk.
"Ya, dia adik sepupuku yang baru saja pindah dari Amerika," ucap Shun.
Yurika lalu mengangguk-ngangguk. Pantas saja rasanya dia pernah melihat wajah Shun entah di mana. Ternyata dia sepupu dari Ryo.
Dari jauh, Yami terkaget-kaget melihat Yurika kini sedang mengobrol dengan Shun. Pertama kali, dia mengira Shun adalah Ryo. Tetapi dia salah, itu bukan Ryo.
Yami lalu menghampiri kedua orang itu.
"Hime, dia siapa?" tanya Yami sambil menunjuk sosok Shun.
Yurika lalu menghela napas pelan.
Yami sudah kembali...
"Dia... Kau ingat Kazami Ryo? Dia sepupu dari Ryo, sekaligus orang yang menyelamatkanku tadi," ucap Yurika.
Yami tehenyak. 'Menyelamatkan'? Apa maksudnya?
Menyadari Yami yang kebingungan, Shun langsung menjelaskan kepada Yami.
"Tadi Yuri-chan digoda oleh seorang lelaki, entah siapa, aku juga tidak tahu," ucap Shun.
Yami sempat cemburu dan kesal mendengar paggilan yang dilontarkan lelaki itu untuk Yurika. Tetapi dia kemudian berusaha menepis perasaan itu mengingat lelaki di depannya itu telh menyelamatkan gadis yang dicintainya.
"Ah, terima kasih sudah menolong hime—maksudku, Yurika!" ucap Yami.
Shun tersenyum kecil. Dia lalu meraih tangan Yurika dan mencium punggung tangannya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu, Yuri-chan. Semoga kita bertemu lagi lain kali," ucap Shun sambil meninggalkan tempat itu.
Yurika hanya terdiam saja menerima aksi Shun barusan, sedangkan Yami, dia terlihat semakin cemburu pada lelaki itu.
"Kau tidak ada hubungan apa-apa dengannya kan?" tanya Yami dengan nada terdengar kesal.
Yurika menggeleng pelan.
Yami lalu meraih tangan Yurika. Yurika terlihat kaget dengan perlakuan Yami. Yami lalu meletakkan sesuatu di telapak tangan Yurika.
Yurika melihat benda pemberian Yami itu dengan tatapan tidak percaya.
"Kau suka permen kan? Kalau tidak salah Yugi bilang begitu," ucap Yami sambil menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal.
Yurika lalu tersenyum kecil melihat permen lollipop rasa strawberry yang diberikan Yami padanya.
"Arigatou, Yami-kun," ucap Yurika sambil tersenyum tulus.
Wajah Yami memerah, lalu dia berjalan meninggalkan taman itu sambil menarik tangan Yurika .
"Sudah saatnya pulang. Kalau Yugi dan Atem sudah pulang dan tidak menemukan kita, mereka bisa khawatir nanti," ucap Yami.
Tanpa disadari oleh Yurika, Yami tersenyum kecil. Sudah ada sedikit kemajuan dalam usahanya. Setidaknya 'sedikit' lebih baik dari pada tidak sama sekali. Tetapi kabar buruknya, mungkin saja saingannya bertambah?!
~Kaiba Corporation~
Dia ruang kerjanya, terlihat Seto sedang menatap sebuah tongkat di tangannya dengan tatapan datar.
"Membantu ya...? Tetapi bagaimana caranya?" ucap Seto sambil menatap tongkat itu—Sennen Rod.
-Flashback-
"Kumohon, Seto! Kata Ishizu dan Malik, mungkin saja kau bisa membantu kedua orang itu! Kami tidak tahu lagi harus minta tolong pada siapa lagi! Demi Yami, Seto!" seru Atem.
Atem dan Yugi kini diuduk di hadapan Seto dengan tatapan memohon. Seto hanya menatap kedua orang itu dengan tatapan tidak percaya. Dia lalu menghela napas pelan.
"Walau kalian bilang seperti itu, aku tidak bisa melakukan apapun... Memang benar, aku sudah menerima kalau aku memang High Priest Seth di kehidupan masa laluku, tetapi aku sendiri tidak ingat sepenuhnya tentang kehidupanku di masa lalu," ucap Seto.
Tanpa pikir panjang, Yugi langsung mengeluarkan Sennen Rod yang dibawanya. Dia lalu menyerahkan Sennen Rod itu pada Seto.
"Sepertinya Marik tidak keberatan untuk meminjamkannya sementara padamu," ucap Yugi sambil tersenyum kecil dan meletakkan Sennen Rod itu di atas meja.
Seto tertegun melihat tongkat berbahan dasar emas dengan lambang eye of horus itu.
Yugi lalu menarik tangan Atem beranjak keluar dari ruangan Seto.
"Ingat saja pelan-pelan. Kalau kau sudah mengingat semuanya, bantulah mereka," ucap Yugi sambil menutup pintu ruang kerja Seto.
Seto hanya menatap datar kepergian mereka.
-Flashback end-
Seto menghela napas pelan. Baru saja dia membuka lacinya—untuk menyimpan tongkat itu, tetapi tiba-tiba saja matanya terbelalak dan tangannya terhenti.
Sebuah bayangan mulai bermunculan di kepalanya.
"Kau... Kau membunuh kakakku! DASAR PEMBUNUH!"
Seorang gadis berambut blonde dengn kulit seputih susu tampak ditahan oleh dua orang pengawal Mesir Kuno berkulit tan. Gadis it uterus memberontak dan berteriakdengan wajah marah pada seorang lelaki berkulit tan bermata blue lazuli yang duduk di atas singgasananya sambil memegang sebuah tongkat berwarna keemasan—Sennen Rod.
"Jangan kurang ajar pada Pharaoh, Penyusup! Dasar gadis pembawa sial!" ucap salah seorang pengawal dengan nada marah sambil terus menahan gadis itu.
"KAU PEMBUNUH! KEMBALIKAN KAKAKKU!" teriak sang gadis bersuari pirang itu pada lelaki pemilik Sennen Rod itu—sang pharaoh yang memerintah Mesir Kuno saat itu.
Kedua mata red crimsonnya menyiratkan kemarahan yang begitu mendalam pada sang pharaoh beriris blue lazuli yang masih duduk di atas singgasananya dengan wajah datar.
Sang pharaoh hanya terdiam di atas singgasananya. Dia lalu menatap datar para pengawal yang menahan gadis itu.
"Bawa dia ke kamarku...," titah sang pharaoh dengan nada datar.
Kedua pengawal itu terhenyak sesaat, lalu mereka mengiyakan titah sang pharaoh.
"Baik, Pharaoh!"
Kedua pengawal itu, lalu menyeret gadis itu keluar dari ruangan itu. Gadis itu masih saja terus memberontak sambil terus berteriak pada sang pharaoh.
"LEPASKAN AKUUU! KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB, SETH! KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB! SEEEEETH!"
Bayangan itu lalu menghilang dari kepalanya. Seto meletakkan sebelah tangannya di atas meja—menahan tubuhnya yang melemas.
"A-apa itu...? Jounouchi...?"
.
.
Tsuzuku
.
.
Gia : BANZAI! CHAPTER INI SELE—
Bakura : APA MAKSUDNYA ITUUU?! Gue muncul lagi sih iya! Cuma, MANA BAGIAN GUE SAMA YADOUNUSHI?!
Gia : Seperti kata pepatah, Nak Bakura, 'Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian'
Marik : *Puas* Akhirnya gue bisa nyiksa mitra gue! BWAHAHAHA!
Shun : Apa maksudnya 'penguasa daerah'? Gue preman?
Jou : HUAPA?! MIRIP GUE DONG?! *berbinar-binar natap Shun* BERARTI LU ANAK BUAH GUE?!
Gia : Hem, anggep aja begitu~ Lu itu preman iya, tapi juga bukan. Pokoknya semacam penjaga kedamaian deh~
All : *Sweatdrop* Emang ada yang begitu?
Atem : Baiklah, balas review~
.
Ruega Kaiba :
Gia : Ahaha, seperti motto sehari-hari Yurika...
Yurika : 'Yang namanya Gia gak akan lepas dari typo'
Gia : Dan gue merasa motto lu itu kejam banget, Yurika TTwTT WOI! CARI-CARI KESEMPATAN SONO! *Nunjuk-nunjuk Yura*
Yami : Er, itu..
Seto : Adegan itu sampe diulang sampe 37 kali karena pihak lelaki yang kaga bisa nahan diri...
Yugi : Untung Gia nyewa security -w- *Nunjuk Shun*
Shun : *Senyum miris* Security ya...?
Seto : Gue sama si anjing kampong ka—
Malik : Adu bacot tiap hari, bisa sampe lempar-lemparan barang kadang-kadang... Setiap di sekolah pasti gak lepas dari acara adu bacot tak berujung *Baca laporan selama syuting TNJ*
Jou : *Ngedengus* Dia duluan yang cari ribut! *Nunjuk-nunjuk Seto*
Noa : Oh? Bener nih? OKE! AYO KITA PERGI! *ngegendong Mokuba*
Mokuba : HYA! MAU KE MANA INI?!
Seto : HEH! RAMBUT LUMUT! JANGAN KABUR! *Ngejarin Noa sama Mokuba*
Yami : Ya iyalaah gue kaga kaya dia, gue kan bukan tukang colong kesempa—
Gia : setiap kali break syuting minimal ada 5 kali keributan yang disebabkan oleh Yami yang cari kesempata *liat laporan*
Yami : *speechless*
Yugi : Thanks for review!
.
Erlangga186 :
Yami : *Ketawa penuh kemenangan* MAKAN TUH! LU KAGA MUNCUL DI CHAP INI, RYO! BUAHAHAHA!
Ryo : *Sweatdrop* Seenggaknya nama gue muncul
Gia : Oke, ini udap diupdate kok neng! TTATT
Shun : *Hela napas* Kayaknya gue bakal jadi security di sini... *Geleng-geleng kepala* Ini baru chara YGO, belom lagi chara GX yang tidap hari ada aja adu mulut sama perangnya... *Lirik Jun, Johan, sama Edo yang lagi perang*
Gia : *Nyengir* Ada untungnya juga gue nyeret Shun ke sini~
Yami & Ryo : SAMA SEKALI KAGA ADA UNTUNGNYA!
Yugi : Sebelum keributan dimulai lagi... THANKS FOR REVIEW!
.
Ryo kazami :
Gia : Soal Rikku—
Rikku : Yah, itu rahasia~
Yurika : Pokoknya peran yang bikin Yami super kesel deh...
Yami : Seenggaknya masih lebih nyebelin kembaran lu tuh, Rikku!
Rikku : Heh? Kembaran?
Gia : *Ngakak* Yah, emang sih, tuh orang terlalu agresif sih, mirip lu Yam. Cuma lebih parah kayaknya...
Shun : Yap, dan kita jadi sepupu~ Tapi... Gue lebih tua dari lu di sini!
Yami : JAUH-JAUH DARI HIME GUE LU SEMUA! *Narik Yurika pergi menjauh dari cowok-cowok*
Atem : Dasar cemburuan *Geleng-geleng kepala*
Ryou : Thanks for review! *Senyum malaikat*
Bakura : *Pingsan nosebleed*
Gia : HUA! Shikari shiro, Bakura!
.
evilblueclouds :
Gia : Huft! Bakura sudah diamankan!
Yami : Gue udah cukup sabar tiap hari...
Yurika : Huft, kalo gue kaga nurut apa kata author ada juga gue dikasih peran yang tambah malu-maluin...
Ryuuji : Seto jamur itu mah gak sebanding sama gue~
Jou : HO! BARU KALI INI ADA YANG SETUJU KALO SETO JAMUR! *Genggam tangan Ryuuji*
Seto : *Nyamperin dari kejauhan* MENYINGKIR LU DADU!
Gia : /Glek!/ Perang... *Dorong semuanya menjauh dari lokasi perang*
/BAK! BUK! CTANG!/
Yami : Itu masih mending, coba pake lakban! Pas dicabutnya sakit pake banget kalo udah nempel!
Yurika : Lakban mah masih banyak di belakang -w-
Gia : Thanks for review~!
.
Malik : Jadi, kayanya masih banyak draft fic yang belom lu slesain... Tuh yang GX masih numpuk *Nunjuk fic yang numpuk*
Johan : *nongol* KAPAN GILIRAN GUE NAMPANG?! MANA JANJI LO?!
Gia : KENAPA LU DI SINI, JO?! OAO
Juudai : Em, sedikit pemisahan dari Jun... Kalo kaga satu Academi langsung ancur semua...
Jun : *Jauh-jauh dari Johan* Gue kaga mau cari ribut lagi! Percuma buang tenaga buat ngeladenin tuh rambut biru!
Yurika : *Sweatdrop* Sepertinya kita melewatkan perang hebat, Gia...
Gia : Setuju, Yur...
Johan : *Nyeret Gia* KITA MASIH ADA URUSAN!
Gia : HUE! KAGAAAA! DASUKETTE! QAQ
Atem : Maaf buat segala typo, misstypo, kesalahan tanda baca, ketidak nyambungan cerita, dan kecacatan lainnya
Marik : Makasih yang buat yang udah baca nih chapter! MAKASIH TELAH MEMBACA PENDERITAAN BAKURA! AHAHAHA!
Yurika : *Sweatdrop* Selmat menunggu chapter 10...
