Nagi : Wuih, kita ngelawak bener yak?
Scarlet : kita sendiri juga ga percaya loh. Beneran, kita kehilangan inspirasi buat bikin si CHONGklak menderita...
Jia Chong : Lu mau apain gue lagi? Udah disiksa di fic, disiksa lagi disini!
Nagi : Kamu tuh cocoknya emang disiksa! Siapa suruh ga bisa bertarung, akhirnya jatuh korban!
Scarlet : kamu juga bisanya Cuma ngelempar kapak...
Jia Chong : aku tau kalian fansku juga. Jangan sok nyindir deh...
Nagi : lupakan! Kita baca dulu review dari pembaca!
.
Kita akan mulai review dari pembaca setia kita, xtreme guavaniko :
Sadar... walo ada sedikit keanehan dan bikin Aupu... AUPU! KAMU TIDAK APA-APA!? SADARLAH!
lupakan, wa emang kadang jadi sinting dan hilang kesadaran kalo Aupu gitu...
Okay, pengisi tawa seram Sima Yi sudah tidak ada lagi, wa ingin nangis rasanya...
lanjutkan!
keep writing!
Nagi : Aupu pingsan! Cepat ambil P3K!
Scarlet : Ocre! *ambil kotak P3K*
Nagi : *ambil kejut listrik* Aupu, sadarlah!
Scarlet : sambil menunggu Aupu sadar, kita lihat review berikutnya!
.
Kedua, review dari Nakamura Aihara :
Aiyaa, ternyata kalian bikin cerita baru lagi toh! Maap baru review soalnya baru ngecek fandom DW lagi.
Dulu Nagi-san, sekarang Scarlet-san toh! Dari chapter 1 sampai chapter 2 aku ngakak beneran wkwkwk. Ga garing kok. Apalagi liat Jia Chong yang aslinya keren jadi mahluk katrok gitu.
Men, tarungnya bener2 mengakibatkan satu orang meninggal, yah walau aslinya saya pundung lagi karena ga bakal denger ketawa iblis Sima Yi lagi.
Kalau saran saya sih mungkin sama kayak reader lain. Buat aja si Jia Chong menderita gara2 liat teknologi jaman sekarang. Bayangin aja, dia kan hidup ber-abad2 yang lalu. Nah tiba2 nyasar ke tahun 2013. Pasti dia jadi kampungan banget kan. Kayak pertama kali baru liat teknologi gitu. Mpftt*nahan ketawa lagi gara2 aksi Jia Chong pas liat kompor sama Sabun*
Segitu deh wkwkwk
Keep Writings and Update yay!
.
Nagi : Dia lebih tepatnya berasal dari abad ketiga, 19 abad yang lalu...
Scarlet : Sebenarnya kita tahu kalau Cina terkenal dengan peradaban tingginya, apalagi baru dua abad sudah kenal berbagai teknologi terutama senjata.
Nagi : khusus disini, karena 2013 terkenal dengan hi-tech yang super sekali, dia seakan-akan menjadi orang wong ndeso! Harusnya sih, chap 2 itu kita bikin mobil polisinya ngegiles mayat si eMCi, tapi ane takut rate-nya berubah jadi M karena matinya detail banget.
Scarlet : chap berikutnya, kita akan memfokuskan pada action yang menghentak dan bumbu canda tentunya. Cekidot!
Dynasty Warriors series, belongs to Koei.
Rate : T
Genre : Humor/Adventure
Summary : Nagi dan Scarlet menjadi buronan polisi akibat kapak nyasar Jia Chong, sedangkan mereka harus mengantarnya sampai ke Yokohama dengan selamat. Perjalanan mereka ke stasiun kereta juga tak semulus yang dikira. Bagaimanakah Nagi dan Scarlet bekerjasama?
.
.
Nagi and Scarlet, presents...
.
.
Jia Chong : Back to Game
.
.
Chapter 2 : The Most Wanted Undercover
"Oke, sekarang kita butuh sebuah penyamaran. Tapi sebelumnya, kita harus sembunyi dulu...", kataku kepada dua orang yang sedang asik sendiri.
Nagi-san, seseorang yang seharusnya adalah seniorku, sedang membaca majalah Dengeki. Sedangkan Jia Chong, kalian tahu jika dia sedang belajar membaca. Entah mengapa dua orang itu terlihat sangat serasi...
"Zhe... Zhen... Ji. Oh, Zhen Ji?", kata Jia Chong yang membaca majalah yang dibaca Nagi-san bak anak TK yang polos, padahal mukanya sudah sebelas duabelas dengan Gaara dari fandom sebelah.
"Kalian dari tadi ngapain sih? Ayo masuk!", kataku sambil menarik kerah baju mereka.
Aku membawa mereka masuk ke kamarku, kemudian kukunci pintunya dan kututup semua jendela agar tak ada yang tahu dimana persembunyian asliku.
"Hei, kenapa dikunci dan ditutup?" tanya Jia Chong.
"Kau sudah membuat kita jadi buronan polisi. Sekarang, hanya kamarku satu-satunya tempat sembunyi!", jawabku sambil membuka lemari kayu.
Aku menyingkirkan pakaian yang menghalangi punggung lemari tersebut. Lalu, kupegang gagang pintu geser di sudut dalam lemari. Maka, terbukalah sebuah pintu menuju sebuah ruangan.
"Scarlet-chan, sejak kapan kau punya kamar rahasia?", tanya Nagi-san takjub.
"Sudah lama sekali, sejak pertama aku tinggal disini. Seharusnya, rumah ini bergaya Jepang. Tapi, almarhum ayahku mengubah rumahnya menjadi bergaya Eropa minimalis dan melupakan kamar dibalik kamarku. Daripada tak terpakai, kuatur saja sendiri sebagai ruang pribadiku. Ayo masuk!", jelasku sambil mengajak mereka berdua memasuki kamar tersembunyi itu.
Betapa takjubnya mereka ketika sejauh mata memandang, tampak ruangan dengan perlengkapan salon di sudut kanan, berbagai koleksi kostum cosplay di sudut kiri, serta terdapat televisi, bermacam-macam konsol game, dan rak buku. Yang jelas, kamar itu bagaikan kamar yang merangkap salon, perpustakaan, dan rental. Tak hanya itu, mesin jahitpun juga ada untuk desain pakaian cosplay.
Nagi-san hanya kaget sambil jawdrop melihat kamar yang penuh dengan berbagai koleksi. Kemudian ia bertanya,"Seharusnya kau membuka bisnin untuk semua ini. Sia-sia saja jika kau menyimpannya sendiri..."
"Nagi-san, ini juga udah mulai bisnis. Cuma baru tertutup alias door to door. Bisnisnnya pun juga bukanya sambil begadang, soalnya yang mau nyewa baju cosplay sekalian minta didandanin..."
Sementara itu...
.
Jia Chong merasa semakin bingung dengan keberadaan kamar tersebut. Matanya tertuju pada sebuah benda tipis berbentuk kotak yang terpasang di dinding. Ia memencet tombol yang ada di tengahnya, kemudian muncul sosok yang bergerak sendiri. Jia Chong yang melihatnya sangat kaget dan hampir ketakutan.
Agar yang baca makin penasaran, kita kembali melihat Nagi-san yang sedang mengobrak-abrik lemari.
"Scarlet, gimana kalau kita kasi dia baju ini?", kata Nagi-san sambil mengambil jubah hitam dengan aksen awan merah.
"Plis deh, Nagi-san. Itu baju Akatsuki waktu aku cosplay jadi Itachi! Dia jadi mirip Hidan tauk!", komentarku karena baju itu membuat Jia Chong mengingatkanku pada si penyembah dewa Jashin.
Akupun langsung mengambil sebuah kotak besar dan segera mengacak-acak isinya. Kutemukan sebuah kaos berwarna hitam dan kemeja biru. Kemudian kuambil sarung tangan hitam di kotak aksesoris cosplay di lemari tersebut.
"Aku yakin Jia Chong akan sangat cocok dengan pakaian ini...", kataku sambil menunjukkan pakaian yang kuambil, hingga mataku tertuju pada benda kotak yang telah terbelah dua dan sebuah kapak yang masih menancap di benda kotak itu.
Aku terjatuh hingga terduduk. Perasaan sedih tak bisa kubendung lagi. Kemudian kupanggil Jia Chong yang terengah-engah di hadapan benda itu. Jia Chong langsung menghampiriku dan membantuku berdiri. Namun, perasaan sedih dan marah tak bisa kuhalangi. Aku sudah tak sabar ingin melakukannya...
.
.
PLAK!
.
.
"Nona, anda menampar saya? Tapi, kenapa?", tanya Jia Chong binggung sambil mengusap-usap pipinya.
"KAMAR GUA ANCUR, OKE! DAPUR GUA ANCUR, OKE! TAPI ITU TIPI SEMINGGU LAGI KREDITNYA LUNAS! TEGA BANGET SIH LO! HUWAAAAAAAAAA...!", kataku sambil menangis meraung-raung di pelukan Jia Chong.
Lelaki berjubah hitam itu mengelus kepalaku dan berkata, "Aku tidak bermaksud untuk melakukannya. Tenanglah, ini semua bukan salahmu. Aku tak mau melihat perempuan seperti dirimu menangis..."
Aku terdiam sejenak dan mencerna perkataannya. "Kau benar, Jia Chong. Ini bukan salahku..."
Aku merasa yang dikatakannya benar. Percuma jika aku hanya meratapinya saja. Aku bangkit dari kejatuhanku dan memojokkan lelaki itu.
"INI SEMUA SALAHMU! JIKA SAJA KAU TIDAK PERNAH KELUAR DARI GAME ITU DAN MEMINTA BANTUANKU, KITA SEMUA PASTI TIDAK AKAN PERNAH MENJADI BURONAN YANG DIINCAR POLISI! KAU KESINI HANYA KARENA INGIN MEWUJUDKAN KHAYALANMU KE PERUSAHAAN KOEI DAN MEMINTA PEKERJAAN DISANA! DAN SEHARUSNYA AKU TAHU BAHWA SEMUA OBROLAN TENTANG KEBERADAANMU ITU HANYA OMONG KOSONG! ALL THE F*CK THAT YOU'RE TALKING ABOUT IS ONLY A PIECE OF SH*T!"
Oh tidak. Jangan lagi, aku sudah tidak mau memaki dengan bahasa Inggris lagi. Aku baru ingat jika seri "Dynasty Warriors" juga menggunakan bahasa Inggris.
"Maafkan aku, Jia Chong. Aku tidak bermaksud memakimu...", kataku sambil menutup mulutku. Aku merasa bersalah telah memaki orang yang melakukan itu secara tak sengaja.
"Sudahlah, Scarlet-chan. Lebih baik, kita apakan Edward Cullen versi Cina ini?", kata Nagi-san sambil menunjuk Jia Chong.
"Urusan itu, aku punya ide. Pertama, dia harus pakai baju yang kuambil tadi, kemudian aku akan menghapus riasan gothic di wajahnya itu", jawabku sambil mengambil lagi pakaian yang sempat terjatuh, kemudian menyerahkannya pada lelaki berjubah hitam tersebut. "Setelah kau kenakan baju ini, akan ada kejutan yang menanti..."
Tak lama kemudian, Jia Chong sudah mengenakan baju tersebut. Sekarang dia mengenakan kaos hitam, celana jeans disertai kemeja lengan pendek warna biru dan sarung tangan hitam.
"Gila, cepet banget...", kata Nagi-san yang tidak melihat kapan Jia Chong berganti baju.
Aku terus memandangi Jia Chong, dari atas ke bawah, kiri ke kanan, serong kanan serong kiri, lalala...
Loh, malah jadi Potong Bebek Angsa. Bektustori.
"Lalu, kalian mau apa? Aku masih bingung dengan tingkah aneh kalian...", kata Jia Chong kebingungan melihat ekspresi Nagi-san jawdrop dan aku yang masih melongo ke hadapannya.
Itu dia! Aku akan mencoba model rambut itu! Mungkin saja jika dandanan itu dihapus, mukanya kelihatan lebih unyu dari dia!
"Nagi-san!", sahutku pada Nagi-san yang masih jawdrop.
"Eh, iya, Scarlet-chan?", kata Nagi-san kaget dan terlepas dari lamunannya.
"Maukah Nagi-san membantuku?", tanyaku.
Aku berbisik pada Nagi-san. Kalian mau tahu apa bisikannya? KEPOOOO!
.
Oke, lupakan. Bektustori.
.
Nagi-san mendadak meraih pundak Jia Chong seraya berkata, "Maafkan aku, Kaju-kun. Aku harus melakukan ini..."
.
.
DEBUAK!
.
.
Sebuah tabokan meluncur di kepala orang disangka vampir itu. Ia jatuh tersungkur sambil berkejang ria karena dipukul di bagian perutnya. Kemudian Nagi-san menyeret Jia Chong yang tak sadarkan diri untuk duduk di sebuah kursi di depan meja rias dengan alat-alat rias, wig, dan bahan kue yang berserakan.
"Jadi, mau kau apakan rambutnya?", tanya Nagi-san melihat kondisi lelaki yang tak dapat dideskripsikan itu.
"Aku masih belum begitu yakin. Aku harus menghapus riasan di wajahnya dulu", kataku sambil mengambil sebuah botol berwarna biru dan segenggam kapas, menghapus lingkar hitam yang menciptakan kesan suram dalam sorotan matanya.
Nagi-san yang saat itu penasaran dengan rambut yang dibentuk ke belakang itu mulai mengacak-acak rambutnya menjadi berponi ala Justin Bieber, hanya rambutnya sedikit lebih panjang.
"Scarlet, sepertinya dia cocok sekali bila disampingkan dengan Xiahou Ba...", kata Nagi-san melihat rambut yang diacak-acaknya itu.
"Bukan Xiahou Ba, Nagi-san. Coba lihat mukanya setelah riasannya dihapus...", kataku sambil menegakkan kepala Jia Chong yang kini bukan terlihat sebagai Jia Chong.
Sosok yang kami lihat saat itu adalah seorang lelaki dengan poni Justin Bieber, rambut hitam kelam yang lurus dan rada gondrong bak seleb Jepang, dan wajah polos nan unyu ala Xiahou Ba yang bukan Xiahou Ba. Loh? Jadi dia mirip siapa?
"Scarlet, menurutmu, dia lebih mirip siapa?", tanya Nagi-san yang silau melihat kegantengan lelaki itu setelah di make over habis-habisan.
"Menurutku? Berdasarkan majalah Famitsu setelah memperlihatkan sosok para lelaki berhelm, dia sangat mirip dengan Wen Yang...", kataku semakin takjub setelah mengubah riasan suramnya menjadi riasan minimalis.
Tak lama kemudian, lelaki itu terbangun dari tidurnya. Betapa terkejutnya dia ketika menemukan dirinya berbeda dari sebelumnya.
"Apa-apaan ini? Aku...", katanya bingung.
"Benar, Jia Chong. Ini penyamaran paling keren yang pernah dibuat kami berdua. Sejujurnya, kau sangat mirip dengannya, hanya dandananmu saja yang kuhapus", kataku menjalaskan kejadiannya.
"Ini... Aku... Tidak mungkin...", katanya heran hingga membuatnya terdiam duapuluh ribu bahasa.
Suasana menjadi hening sejenak. Jia Chong terus saja memandangi wajahnya di sebuah cermin besar di hadapannya. Aku merasa bangga dengan kerja kerasku menciptakan penampilan baru yang lebih cocok untuknya.
2 Jam telah berlalu, dan dia masih memandangi cermin itu...
.
.
.
5 Jam telah berlalu, ternyata Jia Chong adu mata dengan bayangan dalam cermin hingga matanya merah karena tak berkedip sedikitpun.
.
.
.
Aku yang menunggunya hingga selesai berdandan penyamaran untuk kami bertiga hanya cengo karena bisa selama itu disana.
"Hei, kau mau pergi ke stasiun kereta atau tidak?", kataku kepada Jia Chong.
Jia Chong hanya diam saja sebagai responnya.
.
.
.
"AKU GANTENG!"
GUBRAK!
.
.
.
.
.
Dari tadi di-make over, baru sekarang jawabnya... *facepalm*
Aku membawa (baca : seret) Jia Chong dengan menarik kerah bajunya. Aku takut dia semakin gila berada di tempat ini.
"Tunggu! Aku lupa kalungku!", kata Jia Chong menyuruhku berhenti.
Jia Chong berlari ke dalam rumahku, mengambil sebuah kalung bermatakan batu giok yang bundar berukir dan mengalungkan benda itu di lehernya. Kami pun segera berjalan kaki menuju sebuah toko emas dekat stasiun kereta.
.
.
Kami sampai di sebuah toko emas, kemudian Nagi-san bertanya pada penjaga toko tersebut, "Permisi, apakah anda membeli emas yang berbentuk sederhana?"
"Benar. Bisakah anda tunjukkan seperti apa emasnya?", kata si penjaga toko sambil menyiapkan timbangan dan segepok uang.
Aku langsung mengeluarkan tujuh tael emas yang sempat diberikan oleh Jia Chong kemarin. Penjaga toko itu menimbang, mengukur, menggigit, menjilat, bahkan mencelupkan emas itu seperti di iklan Or*o.
"Ini emas murni. Aku akan berikan kalian 1530 yen", kata penjaga toko itu langsung menyiapkan uang untuk membayarnya."Tapi, aku butuh bukti bahwa kalian memiliki emas ini. Aku bisa menghubungi polisi dan mengatakan bahwa ini barang curian"
"Tidak, ini benar-benar milikku. Apa yang kau butuhkan selain itu?", tanya Jia Chong bingung.
"Tidak perlu repot. Aku saja yang akan menangkap mereka", kata sebuah suara di belakangku.
Tampak sesosok lelaki berkacamata hitam dan berseragam polisi. Menunjukkan tampang yang megerikan bagi siapapun yang merasa dirinya penjahat. Lelaki itu berjalan mendekati kami bertiga sambil membuka tabir dibalik kacamata hitam itu.
"Kau...", kataku kaget melihat wajah sangar polisi itu.
Bersamaan dengan itu, Nagi-san kaget melihat satu orang di majalah Famitsu menghilang tiba-tiba selain Jia Chong sendiri.
"Aku mengenalmu...", kata Nagi-san ikut melihat polisi yang mengerikan itu.
"Kau itu...", Jia Chong juga sadar karena pernah mengenali wajahnya.
Semuanya berubah menjadi hening sejak kedatangan polisi yang berwajah sangar tersebut. Tidak salah lagi. Dia itu...
.
.
.
.
"Sun Quan!", kataku dan Jia Chong serempak.
GUBRAK!
"Scarlet-chan, menurutku ini bukan Sun Quan. Sejak kapan Sun Quan memiliki topi dengan antena kecoa di kepalanya?", kata Nagi-san meyakinkanku.
"Aku tahu, Nagi-san. Tapi mukanya memang mirip Sun Quan!", kataku pada Nagi-san.
"Tapi dia memang bukan Sun Quan. Rambutnya Sun Quan itu lebih pendek, dan dia tidak pernah memakai antena kecoa!", kata Nagi-san.
"Tunggu, jika dia bukan Sun Quan, dia siapa dong?", tanya Jia Chong makin bingung.
"Tidak salah lagi. Dia adalah ksatria semua ksatria...", kata Nagi-san.
"Dengan antena kecoa yang rasanya ingin diinjak-injak, namun paling ditakuti...", sambungku.
"Jangan bilang dia itu... Lu Bu...", kata Jia Chong mulai ketakutan.
"Kamu takut?", tanyaku heran melihat Jia Chong yang gemetar ketakutan.
"Jelas saja. Dia adalah ksatria terkuat yang paling sulit dihancurkan sepanjang sejarah!", kata Jia Chong.
"Maksudmu?", kata Nagi-san.
"Aku saja tidak bisa... Er...", kata Jia Chong mulai gugup.
Jia Chong mulai gugup. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan olehnya. Sesuatu yang membuatnya takut untuk melawannya. Padahal, satu-satunya kelemahan Lu Bu adalah tokoh yang bersenjata kapak seperti Dian Wei atau Jia Chong sendiri. Ada apa dengannya? Ada apa dengan tokoh yang sering kupakai untuk melawan Lu Bu ini? Aku masih yakin bahwa Jia Chong adalah orang yang cerdas, tapi kenapa sekarang jadi begini?
.
.
.
~TBC~
Nagi : maaf ya kalau lama...
Scarlet : Selamat ngeripiu ya!
Sun Quan : napa gue Cuma numpang nama?
Scarlet : rambut sama muke lo mirip Lu Bu sih. Harusnya gue keluarin keluarga Sun, tapi ga imbang sama kita betiga yang gatau apa-apa, Bro...
Sun Quan : *musou Scarlet*
Nagi : silahka mengisi review, Kawan-kawan!
