Nagi : Dengan terpaksa, karena permintaan fans yang banyak, kita akan melanjutkan kembali fic ini

Scarlet: Sebelumnya, kita baca review yang numpang lewat...

.

Dari Kaien-Aerknard :

Sekilas ada adegan yang mirip SAO atau Accel World...
*ngelirik ke bagian yang tiba-tiba ada life bar*
Ya ampun itu mobil di kasih gratis padahal baru lecet dikit ._.

.

Nagi : Wajar, mobil mewah kan mahal. Kalo lecet dikit, mana ada pelanggan yang mau?

Scarlet : Lagian itu mobil biasanya pelanggannya pembalap borju. Mesti kinclong di tangan konsumen!

Nagi : maaf kalo janji saya untuk keluarin keluarga Sun batal karena artblock. Kami berusaha untuk menyambungkan isi ceritanya...

Scarlet : CEKIDOT!


Dynasty Warriors series, belongs to Koei.

Rate : T

Genre : Humor/Adventure

Summary : Tak terasa, perjalanan mereka berakhir di Hiyoshi, lokasi markas besar Koei yang menjadi tujuan Jia Chong untuk bertemu penciptanya. Namun, mereka akan bertemu masalah baru yang lebih parah...

.

.

Nagi and Scarlet, presents...

.

.

Jia Chong : Back to Game

.

.

Welcome to Koei!

"Tak terasa, semuanya berjalan cepat. Apalagi setelah adanya kereta besi ini...", kata Jia Chong takjub dengan 'kereta kencana besi' yang ditumpanginya.

"Kaju-kun, sekali lagi aku katakan, ini mobil Corvette C6! Mobil spesies langka! Jangan sebut kereta terus!", kata Nagi-san melalui kaca spion, melihat dan mendengar seseorang seperti meledek mobilnya.

"Nagi-san, Jia Chong 'kan tidak bermaksud meledek. Lagipula, dia belum pernah merasakan naik mobil...", kataku kepada Nagi-san yang berada di kursi depan.

"Oh, jadi kereta besi ini namanya mobil ya?", kata Jia Chong sambil memasang tanda tanya di wajahnya.

"Bukan begitu. Mobil memang terlihat mirip kereta, tapi lebih rendah dan... tidak berisik seperti kereta kencana umumnya.", jelasku padanya.

Jia Chong segera mencerna kalimat yang kuucapkan. Lalu, matanya tertuju pada sebuah buku yang berada di dalam kantong kursi. Sebuah buku yang tipis dengan gambar dirinya sebagai sampul depan. Ia mengambil buku tersebut dan mendadak menjerit, "AKU PENJAHAT NEGARA! BAWA AKU KE PENJARA!"

Teriakan tersebut sempat membuat Nagi-san hilang kendali dari mobilnya dan sedikit ngepot dari jalan. Namun tetap berpegang denga setirnya, mobil Nagi-san kembali ke sisi jalan yang seharusnya.

"Ka Ju, tidak baik teriak-teriak di dalam mobil! Kau hampir membunuh kita semua!", bentak Nagi-san.

"Maaf, tapi aku adalah penjahat. Seharusnya aku tidak disini dan merepotkan kalian...", kata Jia Chong menyesali perbuatannya dan menjelaskan alasannya berteriak tadi.

"Tidak, Jia Chong bukan penjahat. Jia Chong adalah orang yang sedang terkenal di Jepang.", kataku menghiburnya sambil menunjukkan buku tipis yang ternyata sebuah majalah. "Ini namanya majalah, buku berisi berita hiburan tentang orang-orang terpandang. Kau adalah salah satu di dalamnya."

"Ma... majalah?", katanya bingung. Kemudian membuka buku yang disebut majalah itu dan membacanya. "Apakah majalah ini selalu ada seperti selebaran surat kabar?"

"Tentu saja. Bedanya, seluruh berita dirangkum dalam majalah, dan biasanya seputar bidang tertentu. Sebut saja, pendidikan atau olahraga...", kataku menjelaskan padanya panjang lebar tinggi.

Aku menatap wajahnya yang sibuk mencerna isi majalah. Kemudian, tergurat sebuah senyuman tipis dibalik wajahnya yang putih pucat dan dandanannya yang gelap.

Tiba-tiba, pipiku sedikit basah. Tak terasa aku telah menitikkan air mata. Aku tidak mengerti semua ini. Aku tidak akan pernah memiliki momen seindah ini dalam hidupku. Momen dimana sesosok tokoh bersejarah yang keluar dari sebuah permainan, tersenyum seperti memberi senyuman untukku. Kapan lagi aku akan merasakan seperti ini? Benarkah kata orang jika aku hanya mencintai sosok tokoh fiksi? TIDAK! Dia adalah tokoh bersejarah yang dilupakan.

Tetapi, melihat hari-hari yang kulalui bersamanya, dan melihatnya akan meninggalkanku, mereka benar. Kenapa aku harus mencintai sosok yang sudah jelas asalnya dari sebuah permainan? Dimensi kita saja sudah sangat berbeda...

"Kenapa? Seharusnya aku tidak mencintai tokoh yang asalnya dari permainan!", kataku menangis di pundak Jia Chong.

Kemudian, Jia Chong merasakan pundaknya yang basah oleh air mata. Kemudian ia memelukku dan berkata, "Nona Scarlet, anda kenapa?"

"Aku salah telah melakukan ini. Kenapa harus rumahku? Dan kenapa... aku harus mencintaimu? Kita baru kenal dua hari yang lalu dengan cara yang gila. Aku benar-benar hidup dan tinggal disini, sedangkan kau... Kau seharusnya tidak ada!", rengekku di pelukannya.

"A-aku tidak mengerti maksudmu...", kata Jia Chong terkejut.

"Kaju-kun, maksud Scarlet-chan tadi adalah bahwa kau hanyalah sebuah tokoh fiksi dari video game!", jawab Nagi-san ketus.

"TIDAK! JIA GONGLU BUKAN KARAKTER FIKSI!", teriakku. "DIA HANYA TOKOH BERSEJARAH YANG MENCOBA UNTUK TERKENAL DI WIKIPEDIA! SEKARANG DIAM DAN TETAP MENYETIR!"

Seusai teriakan yang cukup keras itu, Nagi-san terdiam dan melanjutkan aktivitas menyetirnya. Tampak wajahnya dari kaca spion, wajah menyesal karena ucapan yang menyakitkan itu.

"Nona... maksudku, Scarlet, apa yang kau lakukan? Kau bilang tidak sopan untuk berteriak di dalam... mobil.", kata Jia Chong ikut kaget.

Mendengar ucapannya, aku kembali mendekatinya, lalu memeluknya dengan erat seraya berkata, "Aku begini karena aku tidak mau kehilanganmu. Aku yakin kau pasti akan kembali..."

"Entahlah. Itupun bergantung dengan kejadian yang akan kita hadapi berikutnya. Sekarang, tenangkan dirimu...", kata Jia Chong seraya mengelus punggungku dan mengusap rambutku.

.

Saat ini, kami berada di mobil Corvette C6 idaman Nagi-san. Dia bilang Ia mendapatkannya secara gratis karena Lu Bu telah merusak mobil itu. Meski hanya terdapat sedikit lecet di bagian atap dan sisi pintunya. Kami sedang dalam perjalanan menuju Hiyoshi, Yokohama. Kalian pasti sudah tahu kalau itu adalah lokasi markas besar Koei di Jepang. Sebelum pertengkaran tadi, kami sempat berdebat tentang siapa yang akan ditemui Kou-sensei dan Miyauchi-sensei. Untunglah Jia Chong sebagai penengah memiliki keputusan adil dengan menemui Kou-sensei terlebih dahulu. Kami sepakat dan langsung berangkat kesana.

.

.

.

"Baiklah, kita sudah sampai", kata Nagi-san keluar dari mobil. "Semuanya, selamat datang di Koei Production!"

Aku pun ikut keluar dari mobil merah tersebut, disusul Jia Chong yang sedikit bingung dengan mekanisme pintu mobil. Tampak di hadapan kami bertiga, sebuah gedung besar berwarna putih dengan plang raksasa bertuliskan "KOEI" itu terlihat megah sejauh mata memandang. Aku yakin ini semua karena hasil kesuksesan besar Koei dalam menciptakan Dynasty Warriors. Aku sangat takjub bahkan terkagum-kagum dengan gedung tersebut.

"Inikah istana yang bernama Koei itu? Megah sekali...", kata Jia Chong ikut takjub dengan "istana" di depannya.

"Ini bukan istana, tapi namanya kantor.", jelasku. "Ayo masuk!"

"Tapi, apa boleh?", kata Jia Chong ragu-ragu.

"Sudahlah, jangan berpikir macam-macam!", sahutku sambil menarik tangan Jia Chong yang saat itu dingin sekali. Mungkin karena AC mobil.

Kami bertiga memasuki gedung putih tersebut dengan perasaan kagum yang luar biasa. Wajar, ini pertama kalinya bagi kami memasuki tempat yang menjadi asal mula permainan kawakan itu. Aku memandangi berbagai koleksi yang terpajang di etalase, termasuk poster Zhao Yun dan seorang lelaki Jepang yang diakui bernama Yukimura Sanada berkolaborasi dalam permainan Warriors Orochi. Nagi-san melihat koleksi action figure yang juga dipajang disana. Sementara Jia Chong sedang memandangi sebuah patung ukuran life size yang mirip dengannya, namun lebih pendek dari tinggi badannya saat itu.

"Sejak kapan aku menjadi sependek ini?", kata Jia Chong heran dengan patung yang di depannya. "Ini pembohongan publik!"

Nagi-san yang selesai memandangi berbagai etalase, segera berjalan menuju meja resepsionis di tengah ruangan utama yang kami masuki.

"Permisi, apakah ada jadwal luang untuk pertemuan dengan Shibusawa Kou?", tanya Nagi-san kepada salah seorang resepsionis.

"Maaf, tapi jadwal untuk hari ini dan berikutnya sudah penuh. Datanglah lain waktu...", jawab si resepsionis.

Aku yang melihat Nagi-san ikut nimbrung dengan berkata, "Lalu, kapan lagi ada waktu luang?".

"Tahun depan..."

"UAPA? TAHUN DEPAN?", kata kami berdua serentak.

Jia Chong yang mendengar teriakan tersebut juga ikut nimbrung dengan berkata, "Aku tidak bisa berlama-lama disini!"

Aku jatuh terduduk, menyesali usahaku ke Koei yang berakhir sia-sia. Kurogoh tas selempangku, dan kubaca lagi majalah Famitsu yang kuambil dari mobilnya Nagi-san. Karakter ketiga pun kembali menghilang. Tapi ini berasal dari tempat yang sama dengan tempat asal Jia Chong, Jin. Dari bentuk kepala, gaya rambutnya hampir mirip dengan lelaki berdandan gelap itu. Jangan-jangan...

"Teman-teman...", terdengar sebuah suara dari belakangku.

Nagi-san berbalik dan membantuku berdiri, kemudian mengikuti arah suara itu. Ternyata, itu adalah suaranya Jia Chong. Aku seperti memiliki firasat buruk...

"Nona Scarlet, kita kedatangan tamu...", kata Jia Chong seraya menunjuk seorang lelaki rambut klimis berkostum marching band, lengkap dengan baton di tangannya. Aku seperti mengenal orang ini, dia salah satu karakter yang kubenci dalam permainan itu...

"Zhuge Dan... Pengkhianat Negeri Wei...", kataku bernada sinis, memandang sosok lelaki yang kupanggil Zhuge Dan dengan sorotan tajam. "Ngapain kamu bawa baton? Mau main marching band?"

"Kamu bilang apa? Apa itu... terserahlah...", katanya menantangku. "Jangan sembarangan ya! Aku jenderal terkenal!"

"Terkenal apanya? Terkenal menipu perwira-perwira yang membesarkan namamu? Menipu Yang Mulia Sima Zhao yang bersabar menghadapimu? Jia Chong sudah melihat semua itu darimu!", kataku sambil menunjukkan jariku ke dada Zhuge Dan, kemudian mendorongnya.

"Nona Scarlet, apa kata-katamu itu benar? Aku pernah melakukan itu?", kata Jia Chong dengan muka bodohnya.

GUBRAK!

"Dia benar, Jia Chong sebagai penasehat Sima Zhao sangat curiga dengan Zhuge Dan, sehingga melacak keterpihakannya. Kau memang melakukan itu, Kaju-kun...", bela Nagi-san sambil memegang buku cerita ukuran kecil di tangannya. "Kau yang tahu lebih dulu bahwa Zhuge Dan adalah seorang pengkhianat yang bekerjasama dengan saudaranya di Wu, dengan menjadi "intel" di Wei. Dia adalah sepupu penasehat militer terkenal, Zhuge Liang."

"Fufufu, sepertinya kalian sudah tahu hal itu. Karena itulah aku kesini untuk mencegah kalian menyebarkannya...", kata Zhuge Dan mendekati Jia Chong dan Nagi-san, membawa baton-nya yang dialiri listrik.

Aku merogoh tas selempangku, kemudian kuambil sepasang cakar dan kupasang ditanganku. Aku berlari mendekati Nagi-san dan Jia Chong seraya berkata, "Tidak akan kubiarkan tangan dan tongkatmu yang bengis itu mendekati teman-temanku!".

.

.

.

BZZZZZT!

Zhuge Dan mendadak pingsan secara aneh. Seperti ada sesuatu yang menghajar dari belakangnya tanpa dia sadari. Tampak seorang lelaki berjas hitam dengan sebuah alat kejut listrik dan gaya rambut berantakan memandangi Zhuge Dan yang jatuh pingsan seraya berkata, "Sekali lagi kamu coba kabur, aku bisa bikin kamu jadi NPC lagi!"

Aku memandangi wajah orang itu, dengan kalimat yang berusaha kucerna. Nagi-san berkata dengan spontan, "Anda... Apakah anda Shibusawa Kou dari Koei?"

Orang itu membawa Zhuge Dan dengan berkata, "Bukan, namaku Jun Miyauchi. Aku pembuat asli dari seri Shin Sangoku Musou 7. Memangnya ada apa?"

"Shin Sangoku Musou... Itu nama Jepangnya Dynasty Warriors! Dia Miyauchi-sensei!", kaaku mendadak semangat dan menunduk kepada orang yang kupanggil Miyauchi-sensei. "Namaku Scarlet. Aku penggemar berat semua permainan buatanmu."

"Oh, kalau begitu senang bertemu denganmu...", kata Miyauchi-sensei ramah. "Oh, iya. Siapa lelaki yang bersamamu itu? Aku seperti mengenalnya..."

Otomatis, Jia Chong langsung menghampiri Miyauchi-sensei dan berkata, "Nama saya Jia Chong. Tapi Anda memanggil saya Ka Ju dalam bahasa Jepang. Maukah anda membantu saya untuk kembali?"

"Ah, kamu...", kata Miyauchi-sensei baru ingat dengan sosok lelaki di depannya.

Aku hanya bisa menghela napas panjang. Merelakan detik-detik terakhirku untuk bertemu dengannya...

Tiba-tiba, sesuatu yang aneh terjadi pada Jia Chong. Tangan kanannya perlahan menghilang, menyusul sebagian tubuhnya sedikit demi sedikit.

"Miyauchi-sensei, apa yang terjadi padanya?", tanya Nagi-san ketakutan.

"Berapa lama dia tinggal di sini?", kata Miyauchi-sensei balik bertanya.

"Loh, kok balik nanya?", kataku ikut panik. "Tapi seingatku, dia baru disini dua hari. Ini hari ketiganya..."

"Gawat! Dia mulai memudar!", kata Miyauchi-sensei. " Karakter yang berada disini lebih dari dua hari akan memudar saat matahari ketiga tenggelam!"

"Lalu, apa yang terjadi jika dia memudar?", tanyaku yang semakin panik dengan membopong Jia Chong yang kehilangan sebagian tubuhnya.

"Jika dia memudar seluruhnya, aku khawatir kalau dia akan menghilang dari permainan. Bahkan ingatanmu tentang keberadaannya juga akan menghilang! Singkat cerita, dia akan kembali menjadi NPC!", kata Miyauchi-sensei ikut panik. "Cepat ikut ke kantor saya dan masukkan mereka!"

"Nona Scarlet... Ada apa... Tubuhku...", kata Jia Chong lirih.

"Bertahanlah, aku akan berusaha mengembalikanmu. Aku tidak mau kehilangan dirimu sekarang...", kataku panik sambil berlari membopong Jia Chong bersama Nagi-san. Sementara Miyauchi-sensei masih menyeret Zhuge Dan.

Jia Chong, aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkanmu. Aku memang ingin kau hidup bersamaku lebih lama, tapi aku tidak mau kau menghilang begitu saja...

.

.

~TBC~

Nagi : Terima kasih sudah numpang lewat!

Scarlet : jangan lupa, layangkan review pada kotak di bawah ini bagi pengguna PC. Atau klik "Review" untuk pengguna telepon...

Nagi : Kami tunggu saran kalian!